JURNAL PENDIDIKAN KARAKTER Volume 15 Nomor 2 Tahun 2024 p-ISSN: 2089-5003 Halaman. e-ISSN: 2527-7014 DOI. 21831/jpka. Submitted: 25-04-2024 | Revised: 08-10-2024 | Accepted: 11-12-2024 | Published : 23-12-2024 Kajian Pemikiran Tokoh Pendidikan Dunia Endang Supriatna Universitas Linggabuana PGRI Sukabumi. Indonesia supriatna@unlip. *Corresponding Author Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk memahami perkembangan pendidikan secara historis dan pemikiran tokoh pendidikan dalam konteks ontologi, epistemologi, aksiologi, serta implikasinya bagi pendidikan di Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi literatur dan analisis konten. Dengan mengumpulkan dan menganalisis sumber-sumber tertulis yang relevan tentang perkembangan pendidikan dunia dari masa ke masa, serta pemikiran tokoh-tokoh pendidikan dunia. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang mendalam tentang topik tersebut. Pendidikan merupakan bagian integral dari perjalanan sejarah manusia yang telah mengalami perkembangan pesat sejak zaman kuno hingga modern. masa peradaban kuno, pendidikan lebih menekankan pada pembentukan manusia ideal dengan nilai-nilai seperti keberanian dan kebaikan, serta visi masyarakat yang diwariskan melalui cerita lisan. Pada era Islam, pendidikan diarahkan pada pemahaman psikologis subjek didik, usia yang tepat untuk pembelajaran, pemahaman tentang subjek didik, penekanan pada keadilan dalam perlakuan, dan sanksi edukatif. Hasil penelitian ini memberikan pemahaman mendalam tentang garis waktu historis pendidikan dunia dan pemikiran tokoh pendidikan, serta implikasinya bagi pendidikan di Indonesia Kata Kunci: Tokoh pendidikan dunia, pemikiran, ontologi, epistemologi, aksiologi. Abstract: This research aims to understand the historical development of education and the thoughts of educational figures in the context of ontology, epistemology, axiology, and their implications for education in Indonesia. This research uses a literature study and content analysis approach. By collecting and analyzing relevant written sources about the development of world education from time to time, as well as the thoughts of world education figures. This research aims to provide an in-depth understanding of the Education is an integral part of the journey of human history which has experienced rapid development from ancient to modern times. In ancient civilizations, education emphasized more on forming ideal humans with values such as courage and kindness, as well as a vision of society that was passed down through oral stories. In the Islamic era, education was directed at psychological understanding of students' subjects, the right age for learning, understanding of students' subjects, emphasis on fairness in treatment, and educational sanctions. The results of this research provide an in-depth understanding of the historical timeline of world education and the thoughts of educational figures, as well as the implications for education in Indonesia Keywords: World education figures, thought, ontology, epistemology, axiology Pendahuluan Manusia berada dan diciptakan dalam sejarah. Di satu sisi, manusia menentukan perjalanan sejarah tetapi di sini lain, dalam arti khusus, manusia juga diciptakan oleh sejarah. Manusia tidak bisa berada di luar dari sejarah, sebaliknya, ia selalu berada bersama dengan perjalanan sejarah. Agar perjalanan sejarah dapat bernilai maka, pertama-tama ia harus membuat dirinya bernilai di dalam dan di hadapan sejarah. Demi pencapaian tujuan inilah maka banyak orang dalam perjalanan sejarah telah terlibat dalam memikirkan, bagaimana membuat diri manusia bernilai, bermoral dan baik sehingga mengakibatkan dunia yang bernilai, bermoral dan baik. Munculah para ahli filsafat. Pertanyaan tentang filsafat dari masa ke masa menimbulkan perkembangan dan pertumbuhan yang sangat pesat, sampai menimbulkan munculnya ilmu-ilmu baru. mulai dari teologi dan sampai kepada teknologi. Salah satu ilmu yang cukup berkembang yaitu pedagogi atau yang sering disebut juga dengan edukasi atau pendidikan. Perkembangan ilmu ini juga sebenarnya telah ada sejak manusia memikirkan tentang dirinya di hadapan dirinya, alam, lingkungan dan bahkan Tuhan. Tetapi secara perlahan, menjadi suatu ilmu yang berdiri sendiri, otonom. Pada masa peradaban tua, tekanan utama pendidikan kepada manusia ialah bagaimana cara berusaha agar manusia tidak lupa akan segala norma yang berlaku secara lisan di tengah-tengah Jurnal Pendidikan Karakter by Institute of Research and Community Service (LPPM - UNY) is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Endang Supriatna Ini berlaku untuk semua peradaban tradisional sebelum manusia mengenal alfabet . uruf-huru. Dan cara yang paling ampuh untuk mengatasi kelupaan ialah melalui cerita lisan yang diteruskan kepada anak atau cucu, tentang segala aturan dan norma hidup, manusia mendidik generasi berikutnya dengan cara bercerita. Pada masa ini, pendidikan dibagi dalam 2 bagian, menurut Homeros dan Hesiodos. yang semuanya berkembang di Yunani. Pendidikan ala Homeros . alam Illiad dan Odise. menekankan pada menjadi manusia ideal. Manusia ideal dalam manusia yang memiliki Arete. Orang yang memiliki Arete ialah orang yang memiliki kekuatan fisik seperti keberanian dan juga kehebatan untuk meraih kegemilangan dan hormat. Ini dicirikan dengan menang dalam perang, kuat, besar, tampan, bicara sopan dan baik, punya nasehat yang masuk akal, kaya dan berkuasa . de kepahlawana. Tujuan pendidikan ialah membuat manusia memiliki kualitas-kualitas tersebut. Selain ada dua hal yang ditekankan juga dalam Arete yaitu: kemampuan dalam hal gymnastik dan musik, serta memiliki kebaikan dan keindahan. Hal yang kedua yaitu pendidikan ala Hesiodos. Pendidikan yang ditekankan Hesiodos ialah pendidikan yang membuat mereka yang dididik memiliki visi popolis . isi publik-umum-masyaraka. Konsep Arete dalam Homeros berkembang dari ide kepahlawanan menjadi keutamaan dalam pergulatan hidup seharihari yang dialami kaum tani. Para ahli pendidikan muslim membedakan secara tegas antara pendidikan . l- tarbiya. dan pengajaran . l-taAoli. Pendidikan mempunyai ruang lingkup luas dari pada pengajaran. Al-Ghazali dalam M. Jawwad Ridla . menyatakan bahwa: Pendidikan tidak hanya terbatas pada pengajaran semata. Si penanggungjawab berkewajiban mengawasi anak dari hal sekecil dan sedini Ia jangan sampai menyerahkan anak yang berada di bawah tanggungjawabnya untuk diasuh dan disusui kecuali oleh perempuan yang baik, agamis, dan hanya memakan sesuatu yang Al-Ghazali juga menambahkan bahwa pendidikan itu mirip seperti pekerjaan seorang petani yang menyiangi duri dan rerumputan agar tanamannya bisa tumbuh dan berkembang dengan baik. Penelitian ini dibangun atas 3 asusmsi dasar, pertama Perkembangan Pendidikan Dunia. Kedua, diversitas Pemikiran Tokoh Pendidikan. Ketiga Implikasi untuk Pendidikan di Indonesia. Dengan demikian, pemahaman tentang garis waktu historis pendidikan dunia dan pemikiran tokoh pendidikan memiliki nilai penting dalam merumuskan kebijakan dan praktik pendidikan yang lebih baik di Indonesia dan juga di seluruh dunia. Metode Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi literatur dan analisis Dengan menggunakan studi literatur, penelitian mengumpulkan informasi dari sumbersumber tertulis yang relevan seperti buku, jurnal, artikel, dan dokumen historis tentang perkembangan pendidikan dunia dan pemikiran tokoh pendidikan. Kemudian, dengan menggunakan analisis konten, data dari sumber-sumber literatur tersebut dianalisis untuk mengidentifikasi tema-tema utama, pola-pola, dan tren dalam perkembangan pendidikan dunia serta pemikiran tokoh pendidikan. Dengan menggunakan kedua metode ini, penelitian dapat memberikan pemahaman yang mendalam dan komprehensif tentang topik yang diteliti. Hasil dan Pembahasan Kepercayaan yang dianut masyarakat antara lain animisme dan dinamisme. Namun di beberapa Negara seperti Mesir. Tiongkok. Arab. India, masyarakatnya sudah mempercayai akan kekuatan diluar nalar manusia. Yang menciptakan alam beserta isinya. Kekuatan itu adalah Tuhan. Mereka sudah menyadari bahwa manusia diciptakan oleh Tuhan. Sehingga pendidikan pada zaman kuno lebih identik mempelajari tentang ajaran-ajaran Tuhan. Masyarakat pada zaman kuno dipimpin oleh pemimpin yang kharismatik. Seorang pemimpin, tokoh agama, atau tokoh yang memiliki kemampuan untuk mendidik. Ada pula tokoh yang dipilih berdasarkan kekuasaannya. Maka pendidikan pun disesuaikan dengan kondisi di masing-masing Negara dengan tujuan yang berbeda, terkadang sesuai dengan tujuan agama. Sebagai contoh Pendidikan di Arab Islam kuno dimana Nabi Muhammad S. W merupakan tokoh yang harus dianut oleh para pengikutnya, serta sebagai sumber pendidikan agama Islam. Sedangkan Pendidikan di Tiongkok. India, dan Mesir, lebih mengedepankan bagaimana menjadi manusia yang berguna bagi duniawi, namun tidak melanggar norma-norma kepercayaan. Anak-anak di didik agar menjadi manusia yang berguna Tujuan pendidikan pada zaman ini adalah agar generasi muda dapat mencari nafkah, membela diri, hidup bermasyarakat, taat terhadap adab dan terhadap nilai-nilai religi . yang mereka yakini. Karena kebudayaan masyarakat masih bersahaja, pada zaman ini belum ada lembaga pendidikan formal . Pendidikan dilaksanakan di dalam lingkungan keluarga dan 74 https://journal. id/index. php/jpka/ Kajian Pemikiran Tokoh Pendidikan Dunia dalam kehidupan keseharian masyarakat yang alamiah. Kurikulum pendidikannya meliputi pengetahuan, sikap dan nilai mengenai kepercayaan melalui upacara upacara keagamaan dalam rangka menyembah nenek moyang, pendidikan keterampilan mencari nafkah . hususnya bagi anak laki-lak. dan pendidikan hidup bermasyarakat serta bergotong royong melalui kehidupan riil dalam Pendidiknya terutama adalah para orangtua . yah dan ib. , dan secara tidak langsung adalah para orang dewasa di dalam masyarakatnya. Sekalipun ada yang belajar kepada empu, apakah kepada pandai besi atau kepada dukun jumlahnya sangat terbatas, utamanya adalah anak-anak mereka sendiri. Perkembangan pendidikan Barat di Eropa harus dimulai dari Yunani, itu karena kebudayaan Yunani dapat dianggap sebagai dasar pokok dari kebudayaan Eropa. Yunanilah yang mewariskan unsur-unsur kebudayaan yang berharga bagi perkembangan kebudayaan Eropa sekarang. Dari Yunani. Eropa menerima filsafat, kesenian, ilmu pengetahuan, kesustraan dan olahraga. Perkembangan pendidikan barat memang tidak bias lepas dari kebudayaan Yunani. Namun yang lebih menarik adalah reaksi pemikiran dari masing-masing masa yang penuh gejolak sehingga melahirkan aliran-aliran pemikiran baru sebagai wujud reaksi atas pemikiran yang sebelumnya. Tokoh-tokoh pendidikan barat seperti Socrates. Plato. Aristotels merupakan tokoh yang pemikiranpemikirannya melahirkan sebuah reaksi pemikiran dari tokoh-tokoh lain. Namun tidak hanya itu. Eropa yang pernah memasuki masa AuDark AgeAy melahirkan babak baru bagi pendidikan barat. Masa kegelapan di Eropa sangat merugikan bagi dunia pendidikan, dimana pemikiran ditekan, kebebasan berpendapat dibungkam, serta harus menerima doktrin-doktrin gereja yang dirasa tidak sesuai dengan nilai kemanusiaan. Hal ini menimbulkan reaksi yang sangat keras dari para tokoh-tokoh pemikiran di Eropa. Sehingga mereka membuat paradigma sendiri mengenai pendidikan yang Pendidikan yang bebas, pendidikan yang menjadikan manusia menjadi sebagaimana manusia yang seharusnya. Reaksi-reaksi ini melahirkan sebuah masa di Eropa, seperti masa Rennaissance, masa Realisme, dan masa Pencerahan. Masing-masing masa memiliki sumbangsih pemikiran dari para tokoh-tokoh yang membentuk sebuah aliran pendidikan atau aliran pemikiran, yang memiliki tujuan yaitu menjadikan manusia menjadi baik. Pidarta . 7: . menjelaskan tentang perjalanan pendidikan dunia yang telah berlangsung mulai dari zaman Hellenisme . SM -. , zaman pertengahan . , zaman Humanisme atau Renaissance serta zaman Reformasi . Namun pendidikan pada zaman ini belum cukup memberikan kontribusinya. Sejarah pendidikan dunia yang banyak dibahas dalam beberapa literatur mengemukakan tentang periodisasi pendidikan dunia yang terdiri dari: Zaman Realisme A Tokoh-tokoh zaman ini ialah Francis Bacon dan Johann Amos Comenius. A Menurut aliran ini, pengetahuan yang benar diperoleh tidak hanya melalui penginderaan semata tetapi juga melalui persepsi penginderaan (Mudyahardjo, 2008: . Zaman Rasionalisme A Tokoh pada zaman ini adalah John Locke A Aliran ini memberikan kekuasaan kepada manusia untuk berpikir sendiri dan bertindak untuk dirinya, karena itu latihan sangat diperlukan pengetahuannya sendiri dan bertindak untuk . Zaman Naturalisme A Tokoh pendidikan pada zaman ini ialah J. Rousseau A Aliran ini menentang kehidupan yang tidak wajar seperti korupsi, gaya hidup yang dibuat-buat dan sebagainya. A Aliran ini menyatakan bahwa manusia didorong oleh kebutuhan-kebutuhannya, dan dapat menemukan jalan kebenaran di dalam dirinya sendiri. Zaman Developmentalisme A Aliran ini memandang pendidikan sebagai suatu proses perkembangan jiwa sehingga sering disebut sebagai gerakan psikologis dalam Pendidikan https://journal. id/index. php/jpka/ 75 Endang Supriatna A Tokohnya ialah Pestalozzi. Johan Frederich Herbart. Stanley Hall . Zaman Nasionalisme A Dibentuk sebagai upaya membentuk patriot bangsa dalam mempertahankan bangsa dari kaum imperialis A Tokohnya adalah La Chatolais. Fichte, dan Jefferson . Zaman Liberalisme. Positivisme, dan Individualisme A Liberalisme berpendapat bahwa pendidikan adalah alat untuk memperkuat kedudukan penguasa/pemerintahan, dipelopori oleh Adam Smith A Positivisme percaya kebenaran yang dapat diamati oleh panca indera sehingga kepercayaan terhadap agama semakin melemah, tokohnya August Comte . Zaman Sosialisme A Aliran ini berpendapat bahwa masyarakat memiliki arti yang lebih penting daripada individu. Oleh karena itu pendidikan harus diabdikan untuk tujuan-tujuan social A Tokohnya Paul Nartrop. George Kerchensteiner, dan John Dewey Tokoh-Tokoh Pendidikan Dunia Para tokoh pendidikan dunia memberikan sumbangsih yang banyak terhadap perkembangan pendidikan pada saat ini mereka memberikan pandangan pendidikan secara filosofis, yuridis, hingga sosiologis baik secara teoretis maupun praktis dengan pandangan yang berbeda-beda. Plato Plato adalah seorang filsuf yang lahir sekitar 427 SM dari keluarga terkemuka di Athena, ayahnya bernama Ariston dan ibunya bernama Periktione. Saat ayahnya meninggal ibunya menikah kembali dengan adik ayahnya Plato yang bernama Pyrilampes yang tidak lain adalah seorang politikus, dan Plato banyak terpengaruh dengan kehadiran pamannya ini. Karena sejak kehadiran pamannya ini ia banyak bergaul dengan para politikus Athena (Heckel, 2. Plato adalah filsuf Yunani yang sangat berpengaruh, murid Socrates dan guru dari Aristoteles. Karya 8 Plato yang paling terkenal ialah Republik, di mana ia menguraikan garis besar pandangannya tentang keadaan AuIdealAy. Pemikiran Plato tentang pendidikan yang terkenal adalah munculnya mengenai filsafat pandangannya yang merupakan filsafat pendidikan yang lahir pada abad kedua puluh, sebagai suatu kritik terhadap pendidikan progresif. Perenialisme menentang pandangan progresivisme yang menekankan perubahan dan sesuatu yang baru (Jack & Hamshire, 2. Teori dan konsep pendidikan perenialisme dilatarbelakangi oleh filsafat-filsafat Plato sebagai Bapak Realisme Klasik. Plato berpandangan bahwa realitas yang hakiki itu tetap tidak berubah. Realitas atau kenyataankenyataan itu telah ada pada diri manusia sejak dari asalnya, yang berasal dari realitas yang hakiki. Menurut Plato. Audunia idealAy, bersumber dari ide mutlak, yaitu Tuhan. Kebenaran, pengetahuan, dan nilai sudah ada sebelum manusia lahir yang semuanya bersumber dari ide yang mutlak tadi. Manusia tidak mengusahakan dalam arti menciptakan kebenaran. Dalam pendidikan, perenialisme berpandangan bahwa dalam dunia yang tidak menentu, penuh kekacauan, serta membahayakan (Putri, 2. , seperti yang kita hadapi dewasa ini, tidak ada satu pun yang lebih bermanfaat daripada kepastian tujuan pendidikan, serta kestabilan dalam perilaku pendidikan. Menurut Plato, pendidikan didasarkan pada pengertian logis psikologi manusia. memberikan ilustrasi logis psikologi manusia. Ia memberikan ilustrasi : pengalaman bayi atas segala sesuatu bermula dengan sensasi kenikmatan dan rasa sakit. Anak harus belajar merasakan kenikmatan dan rasa sakit, mencintai dan membenci secara tepat (Ibrahim, 2. Ketika tumbuh mereka akan memahami alasan yang mendasari latihan yang telah diterima. Sistem pendidikan yang logis memerlukan integrasi intelek dan emosi. Cita-cita pendidikan plato dalam (Diener, 2. adalah: . Tugas individu mengutamakan kepentingan Negara di atas kepentingan pribadi. Pendidikan harus diselenggarakan untuk dan oleh Negara. Jenis pedagogisnya adalah pedagogik Negara yang diarahkan kepada Negara yang susila. Plato membedakan tiga fungsi pada manusia: pikiran, keinginan, dan kemauan. Di mana ketiga fungsi itu disejajarkan dengan tiga golongan dalam masyarakat, yaitu : . golongan yang mengutamakan pikiran yaitu golongan pengajar, . golongan 76 https://journal. id/index. php/jpka/ Kajian Pemikiran Tokoh Pendidikan Dunia yang mengutamakan keinginan yaitu golongan pengusaha, . golongan yang mengutamakan kemauan yang membawa mereka pada keberanian yaitu golongan militer. Melalui pendidikan. Plato bermaksud mendapatkan . orang-orang yang baik, . orang orang yang baik itu untuk menduduki tempatnya . he right men in the right plac. dalam golongannya masing-masing. Menurut Plato, dalam pendidikan bisa membuka pengertian kebijakan yang baik membawa akibat perbuatan yang baik pula (Jack & Hamshire, 2. Perbuatan yang tidak baik adalah akibat dari pengertian yang Plato menempatkan kebijakan intelektual di tempat tertinggi. Dalam rencana-rencana pendidikannya dikemukakan, ditekankan pula kebijakan moral dan Latihan kemauan. Juga pendidikan-pendidikan fisik dan jasmani seperti gimnastik, menari dan permainan-permainan sebab mereka berpendapat bahwa kekuatan jasmani membantu kekuatan moral dan intelektual. Karena, semuanya berhubungan dengan kebaikan, disiplin dan keselarasan dalam pikiran dan tabiat dengan keutamaan yang sama dalam tubuh manusia. Di antara kebijakan-kebijakan intelektualnya. Plato memasukkan juga kepandaian . esanggupan untuk membuat baran. dan kebijakan praktis . esanggupan menimbang secara tepat terutama dalam mencapai tujuan-tujuan yang baik dalam kehidupan sehari-har. Kebijakan praktis atau prudensial merupakan hal yang esensial dalam kehidupan moral dan dalam diri seorang warga negara yang bertanggung jawab. Jhon Locke John Locke lahir pada tanggal 29 Agustus 1632 di sebuah kota Wrington . Somersetshire kira-kira dua belas mil dari Bristol Inggris, sebagai anak seorang sarjana hukum bernama Locke (Muslim, 2. , ayahnya seorang pengacara Negara dan pegawai kepada Hakim perdamaian di Chew Magna yang pernah menjabat sebagai kapten kavaleri untuk parlemen pasukan pada awal bagian dari perang saudara Inggris. John Locke adalah filsuf dari Inggris dengan pandangan empirisme (Sholichah, 2. Ia sering disebut sebagai tokoh yang memberikan titik terang dalam perkembangan psikologi. Menurut empirisme, yang menjadi sumber pengetahuan adalah empiri, atau pengalaman, baik pengalaman batiniah maupun pengalaman lahiriah. Pengikut empirisme tidak puas dengan teori pengetahuan rasionalis, mereka mencoba untuk mencari teori pengetahuan lainnya yang konsisten dengan pengalaman manusia dalam kehidupannya sehari-hari. Kaum empiris bertitik tolak dari pengalaman alat dirinya sebagai sumber dan dasar bagi apa yang kita ketahui. Selanjutnya pengalaman mengajarkan bahwa prinsip-prinsip moral tertentu dan pengertian tentang Allah (Djamaluddin, 2. , jauh dari bawaan, berbeda dengan orang yang berbeda dan pada waktu yang Oleh karena itu tidak terdapat ide bawaan. intelek kita, pada saat pertama keberadaannya adalah sebuah tabularasa, sebuah kertas bersih yang belum ditulis. Locke menjelaskan bahwa pengalaman ada dua yaitu eksternal dan internal. Pengalaman eksternal, yang disebut sensasi, memberi kita ide-ide yang seharusnya obyek eksternal , seperti warna, suara, ekstensi, gerak . Locke mengatakan Au seharusnya objek Au karena keberadaan mereka belum terbukti 2. Pengalaman internal, yang disebut refleksi, membuat kita memahami pengoperasian sangat pada objek sensasi, seperti tahu, ragu, percaya dsb. Bagi Locke , sensasi dan refleksi diklasifikasikan sebagai sederhana dan kompleks, menurutnya dapat diminimalkan unsur, seperti warna putih , kugendutkan atau dikembalikan pada elemen lebih sederhana. Dengan demikian gagasan mengenai sebuah apel itu kompleks karena merupakan kombinasi dari ide-ide sederhana warna, bulat, rasa dan sebagainya. Semangat regas pasif sebagai ide sederhana, tidak ada yang bias memiliki ide suara, misalnya, jika tidak dilengkapi kepadanya. Sebaliknya, semangat aktif tentang ideAe ide kompleks karena dapat mengurangi mereka untuk unsur-unsur yang sederhana dan dapat membuat ide-ide kompleks baru dari elemen-elemen ini. John Locke mengutamakan pendidikan jasmani. Dia juga menganjurkan pakaian yang cocok , tidak terlalu panas dan tidak terlalu sempit , makanan sehat tanpa pedas, sering menghirup udara segar, melakukan gerak olah raga , serta kepala dan kaki harus selalu dingin. John Locke mengutamakan pendidikan di rumah daripada di sekolah, karena pendidikan di rumah member kesempatan mengenal dari dekat kepribadian anak (Asih, 2. Ciri didaktik John Locke adalah: 1. Belajar seperti bermain, 2. Mengajarkan mata pelajaran berturut-turut, tidak sama , 3. Mengutamakan pengalaman dan pengamatan, 4. Mengutamakan pendidikan budi pekerti Perihal pendidikan budi pekerti . John Locke menekankan soal menahan diri dan membangkitkan rasa harga diri, pendapat orang harus menjadi salah satu alasan penting untuk perbuatan susila . Selain itu anak harus memperhatikan apakah orang lain menyetujui atau mencela. John Locke mementingkan kepatuhan si anak. Dari permulaan anak harus dibiasakan kepada yang baik Ae baik. Pendidikan harus dapat mempertahankan kewibawaannya. Ia menolak hukuman Ae hukuman dan https://journal. id/index. php/jpka/ 77 Endang Supriatna Ia pun menolak pendidikan agama yang berlebihan. John Locke tidak setuju anak diberi Kitab Injil. Menurutnya, anak lebih baik disuruh membaca cerita-cerita Bibel. John Locke adalah filsuf yang mengabdikan dirinya bukan hanya kepada dunia kedokteran tetapi ia juga pakar dalam pendidikan (Nuzulah et al. , 1. , ia sangat tertarik dalam pembentukan kemampuan yang dimiliki oleh anak, bahwa segala sesuatu sangat dipengaruhi oleh lingkungan yang memadai baik dari sarana maupun oleh latih yang terus menerus. Itu semua dianggap benar karena tanpa ada lingkungan luar anak tidak akan kelihatan kemampuan baik kemampuan nyata . ctualty abilit. yang langsung dapat diketahui pada saat individu telah mengalami proses belajar. Benjamin S. Bloom Benjamin S. Bloom lahir pada 21 Februari 1913 di Lansford Pennsylvania, dan meninggal pada tanggal 13 September 1999. Dia menerima gelar sarjana dan gelar master dari Pennsylvania State University (Aziz et al. , 2. pada tahun 1935 dan Ph. Pendidikan dari University of Chicago Maret 1942. Ia menjadi anggota staf Board of Examinations di University of Chicago pada tahun 1940 dan bertugas sampai 1959. Ia juga adalah seorang guru, penasihat pendidikan dan psikologi Penunjukan awalnya sebagai instruktur di Departemen Pendidikan University of Chicago dimulai tahun 1944 dan akhirnya ia ditunjuk Charles H. Swift Distinguished Service sebagai Profesor pada tahun 1970. Ia menjabat sebagai penasihat pendidikan pemerintah Israel. India dan banyak negara lain. Pada tahun 2001 Lorin W. Anderson mantan siswa Bloom bekerja sama dengan salah satu mitra Bloom yaitu David Krathwohl menulis A Taxonomy for Learning. Teaching, and Assessing (A Revision of BloomAos Taxonomy of Educational Objective. Mereka adalah orang-orang yang ahli di bidang psikologi kognitif, kurikulum dan pengajaran, dan pendidikan pengujian, pengukuran, dan penilaian. Taksonomi berasal dari bahasa Yunani tassein berarti untuk mengklasifikasi dan nomos yang berarti aturan. Taksonomi berarti klasifikasi berhierarkis dari sesuatu atau prinsip yang mendasari Semua hal yang bergerak, benda diam, tempat, dan kejadian sampai pada kemampuan berpikir dapat diklasifikasikan menurut beberapa skema taksonomi. Konsep Taksonomi Bloom dikembangkan pada tahun 1956 oleh Benjamin S. Bloom, seorang psikolog bidang pendidikan (Sun et al. , 2. Konsep ini mengklasifikasikan tujuan pendidikan dalam tiga ranah, yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik. Konsep tersebut mengalami perbaikan seiring dengan perkembangan dan kemajuan jaman serta teknologi. Salah seorang murid Bloom yang bernama Lorin Anderson merevisi taksonomi Bloom pada tahun 1990. Hasil perbaikannya dipublikasikan pada tahun 2001 dengan nama Revisi Taksonomi Bloom, dalam revisi ini ada perubahan kata kunci, pada kategori dari kata benda menjadi kata kerja. Masing-masing kategori masih diurutkan secara hierarkis, dari urutan terendah ke yang lebih tinggi (Setiyowati & Arifianto, 2. Pada ranah kognitif kemampuan berpikir analisis dan sintesis diintegrasikan menjadi analisis saja. Dari jumlah enam kategori pada konsep terdahulu tidak berubah jumlahnya karena Lorin memasukkan kategori baru yaitu creating yang sebelumnya tidak ada. Jika sebelumnya. Bloom mengklasifikasi tujuan kognitif dalam enam level, yaitu pengetahuan . , pemahaman . , aplikasi . , analisis . , sintesis . , dan evaluasi . dalam satu dimensi, maka Anderson dan Kratwohl merevisinya menjadi dua dimensi, yaitu proses dan isi atau jenis. Pada dimensi proses, terdiri atas mengingat . , memahami . , menerapkan . , menganalisis . , menilai . , dan berkreasi . Sedangkan pada dimensi isinya terdiri atas pengetahuan faktual . actual knowlwdg. ,pengetahuan konseptual . onceptual knowledg. , pengetahuan prosedural . rocedural knowledg. , dan pengetahuan metakognitif . etacognitive knowledg. Taksonomi Bloom tetap menggambarkan suatu proses pembelajaran, cara kita memproses suatu informasi sehingga dapat dimanfaat dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa prinsip didalamnnya adalah : 1. Sebelum kita memahami sebuah konsep maka kita harus mengingatnya terlebih dahulu 2. Sebelum kita menerapkan maka kita harus memahaminya terlebih dahulu 3. Sebelum kita mengevaluasi dampaknya maka kita harus mengukur atau menilai 4. Sebelum kita berkreasi sesuatu maka kita harus mengingat, memahami, mengaplikasikan, menganalisis dan mengevaluasi, serta memperbaharui. Penahapan berpikir seperti itu mendapat sanggahan dari sebagian orang, karena tidak semua tahap tersebut diperlukan. Contohnya dalam menciptakan sesuatu tidak harus melalui semua tahapan tersebut. Hal itu tergantung pada kreativitas individu. Proses pembelajaran dapat dimulai dari tahap mana saja. Pada kenyataannya peserta didik seharusnya berpikir secara holistik, tapi ketika kemampuan itu dipisah-pisah maka peserta didik dapat kehilangan kemampuannya untuk menyatukan kembali komponen-komponen yang sudah 78 https://journal. id/index. php/jpka/ Kajian Pemikiran Tokoh Pendidikan Dunia Pembuatan suatu produk baru atau dalam menyelesaikan suatu proyek tertentu, peserta didik lebih baik diberikan tantangan terpadu yang dapat mendorong peserta didik untuk berpikir secara kritis (L. , 2. Untuk membantu pengembangan kognitif, anak perlu dibekali dengan pengalaman belajar yang dirancang melalui kegiatan mengobservasi dan mendengarkan dengan Macam-macam metode yang dapat digunakan untuk pengembangan kognitif anak: 1. Bermain Pemberian tugas 3. Demonstrasi 4. Tanya jawab 5. Mengucapkan syair 6. Percobaan atau Bercerita 8. Karyawisata 9. Dramatisasi Taksonomi Bloom mengenai sasaran pendidikan ranah kognitif merupakan model yang relatif sederhana untuk diterapkan dan sangat bermanfaat bagi yang menggunakannya. Anak dapat mengembangkan dan menggunakan keterampilan berpikir mereka dan guru dapat mendiferensiasikan pembelajaran tanpa perlu memisahkan anak berbakat dari anak yang lain. Guru hanya perlu menyesuaikan jumlah waktu untuk setiap tingkat taksonomi dengan tingkat kemampuan anak. Anak yang cepat menguasai tingkat tingkat rendah taksonomi dapat menggunakan lebih banyak waktu untuk tingkat- 15 tingkat pemikiran yang lebih tinggi. Dengan demikian, semua anak memperoleh pembelajaran yang sesuai dalam kerangka kerja yang sama. Adapun manfaat Model Taksonomi Bloom yaitu: 1. Sebagai sistem klasifikasi sasaran belajar 2. Cara untuk mengembangkan dan mengevaluasi pertanyaan yang diajukan guru kepada anak 3. Untuk mengembangkan kegiatan serta menulis soal-soal ujian 4. Guru dapat mendiferensiasikan pembelajaran tanpa perlu memisahkan siswa berbakat dan anak yang Perkembangan pendidikan dalam sejarah dunia telah mengalami perubahan yang signifikan, dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti kebudayaan, agama, dan pemikiran tokoh-tokoh pendidikan yang berpengaruh. Di zaman kuno, pendidikan cenderung lebih didasarkan pada ajaranajaran agama dan kepercayaan masyarakat, dengan pendidikan dilakukan dalam lingkungan keluarga dan masyarakat serta kurikulum yang meliputi pengetahuan, keterampilan mencari nafkah, dan nilai-nilai sosial. Sementara itu, perkembangan pendidikan Barat di Eropa dipengaruhi oleh pemikiran filosofis dan pemikiran-pemikiran baru yang muncul sebagai reaksi terhadap kondisi zaman yang berubah-ubah. Tokoh-tokoh seperti Plato. John Locke, dan Benjamin S. Bloom memiliki pandangan yang berbeda namun memberikan sumbangan yang besar terhadap perkembangan pendidikan. Plato dengan konsep perenialismenya. Locke dengan pandangan empirismenya, dan Bloom dengan taksonomi pendidikannya, semuanya memberikan pandangan yang beragam tentang tujuan, metode, dan implikasi pendidikan. Dari pandangan-pandangan ini, kita bisa melihat bagaimana pendidikan tidak hanya menjadi sarana untuk memperoleh pengetahuan, tetapi juga untuk membentuk karakter, keterampilan, dan kemampuan berpikir kritis. Dengan memahami perkembangan pendidikan dan pemikiran para tokoh pendidikan, kita dapat lebih baik memahami dinamika dan evolusi sistem pendidikan serta menerapkan pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan zaman dan nilai-nilai yang dipegang oleh masyarakat. Simpulan Pandangan dan kontribusi dari berbagai tokoh Pendidikan sepanjang Sejarah, dari Plato yang menekankan keberanian dan kebijaksanaan dalam pendidikan, hingga John Locke yang memperhatikan pendidikan jasmani dan peran lingkungan dalam pembentukan individu, dan Benjamin S. Bloom yang mengeksplorasi taksonomi pembelajaran. Penelitian ini menyoroti evolusi pendidikan dari masa ke masa dan pengaruhnya terhadap pemikiran dan praktek pendidikan saat Penelitian ini mengeksplorasi sejarah perkembangan pendidikan dunia dan pemikiran tokohtokoh kunci dalam pendidikan. Ada penjelasan yang komprehensif tentang berbagai perspektif pendidikan, mulai dari zaman kuno hingga pemikiran kontemporer. Metode penelitian yang digunakan, yaitu studi literatur dan analisis konten, juga memberikan pendekatan yang kuat untuk memahami perkembangan ini secara mendalam. Dalam konteks pendidikan Indonesia, pemahaman terhadap sejarah dan perkembangan pendidikan dunia dapat memberikan wawasan tentang berbagai teori, metode, dan praktik yang telah diuji coba dan diterapkan di berbagai negara. Ini dapat menjadi landasan untuk memahami kebijakan pendidikan di Indonesia serta merumuskan praktik-praktik terbaik yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan lokal. Selain itu, pembahasan tentang tokoh-tokoh pendidikan dunia, seperti Plato. John Locke, dan Benjamin S. Bloom, dapat memberikan inspirasi dan pandangan yang berharga bagi praktisi pendidikan di Indonesia. Pemikiran mereka tentang tujuan, proses, dan prinsip pendidikan bisa diadaptasi sesuai dengan konteks dan tantangan pendidikan di Indonesia https://journal. id/index. php/jpka/ 79 Endang Supriatna Ucapan Terima Kasih Penulis mengucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam penelitian hingga penulisan artikel ini, terutama para guru, sahabat yang memberikan referensi untuk penelitian ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada para anggota dewan redaksi Jurnal Pendidikan Karakter yang menerima hingga menerbitkan artikel ini Referensi