Jurnal Abdimas Indonesia Volume 7 Nomor 2 . 142-154 | 142 pISSN 2654-4822, eISSN 2654-2544 PEMBERDAYAAN KADER PEDULI DEMENSIA DALAM UPAYA PROMOSI DAN DETEKSI DINI DEMENSIA MELALUI PEMANFAATAN APLIKASI TELEPON PINTAR DAN MEDIA AUDIOVISUAL Muhamad Jauhara. Edi Wibowo Suwandib. Ashri Maulida Rahmawatic,*. Edita Pusparatrid. Fitriana Kartikasarie a,b,c,d,e Fakultas Ilmu Kesehatan. Universitas Muhammadiyah Kudus Jl. Ganesha Raya No. Purwosari. Kec. Kota Kudus. Kabupaten Kudus. Jawa Tengah. Indonesia *Corresponding author: arahmawati@umkudus. Info Artikel DOI : https://doi. org/10. 26751/jai Article history: Received 2025-06-02 Revised 2025-07-24 Accepted 2025-09-05 Kata kunci: Aplikasi Telepon Pintar. Demensia. Deteksi Dini Demensia. Media Audiovisual. Pemberdayaan Kader. Keywords: Audiovisual Media. Dementia. Early Detection of Dementia. Empowerment of Cadres. Smartphone Application. Abstrak Demensia menjadi salah satu ancaman Kesehatan masyarakat baik secara global maupun nasional. Hal ini didukung dengan meningkatnya angka morbiditas dan mortalitas khususnya pada kelompok usia lanjut. Penyakit tidak menular menjadi penyebab utama munculnya demensia pada hamper seluruh kelompok usia dan social Hal ini berdampak pada menurunnya kualitas hidup dan terganggungnya aktivitas sehati-hari. Perlu adanya partisipasi aktif dari masyarakat dalam menangani masalah ini. Tujuan kegiatan ini yaitu mendeskripsikan pengetahuan masyarakat tentang demensia dan fungsi intelektual pada kelompok risiko melalui pemberdayaan masyarakat. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini menerapkan pendekatan model ABCD (Asset-Based Community Developmen. Bentuk kegiatan ini yaitu edukasi Kesehatan berbasis media audiovisual dan skrining demensia berbasis aplikasi telepon pintar. Kegiatan ini dilakukan di 12 cabang aisyiyah di Kabupaten Kudus pada bulan Januari-Februari Sasaran kegiatan yaitu anggota aisyiyah di Kabupaten Kudus sebanyak 300 orang. Kegiatan ini dilakukan melalui pemberdayaan kader demensia yang terlatih. Aspek yang diukur yaitu pengetahuan tentang demensia dan fungsi intelektual menggunakan kuesioner dan formulir skrining yang tersedia di telepon pintar. Analisis data menggunakan deskriptif kuantitatif. Hasil kegiatan menunjukkan mayoritas peserta memiliki fungsi intelektual utuh sebanyak 282 peserta . %) dan setengahnya peserta memiliki pengetahuan baik tentang demensia sebanyak 162 peserta . %). Pengetahuan yang baik dan fungsi intelektual utuh menjadi hal penting dalam upaya pencegahan demensia di masyarakat. Model intervensi dan media edukasi ini dapat dikembangkan oleh fasilitas pelayanan Kesehatan. Abstract Dementia is a threat to public health both globally and This is supported by increasing morbidity and mortality rates, especially in the elderly group. Non-communicable diseases are the main cause of dementia in almost all age and social groups. This impacts the quality of life and disrupts daily activities. There needs to be active participation from the community in dealing with this This activity aims to describe community knowledge about dementia and intellectual function in risk groups through community This community service activity applies the ABCD (Asset-Based Community Developmen. model approach. The form of this activity is audiovisual media-based health education and smartphone application-based dementia screening. This activity was carried out in 12 Aisyiyah branches in Kudus Regency in January- A 2024-LPPMAeUniversitas Muhammadiyah Kudus All rights reserved Jurnal Abdimas Indonesia Volume 7 Nomor 2 . 142-154 | 143 pISSN 2654-4822, eISSN 2654-2544 February 2025. The target of the activity was 300 Aisyiyah members in Kudus Regency. This activity is carried out through the empowerment of trained dementia cadres. The aspects measured were knowledge about dementia and intellectual function using questionnaires and screening forms available on smartphones. Data analysis uses quantitative descriptives. The activity results showed that most participants had intact intellectual function, 282 participants . %), and half had good knowledge about dementia, 162 participants . %). Good knowledge and intact intellectual function are important in preventing dementia in society. Health service facilities can develop this intervention model and educational media. This is an open access article under the CC BY-SA license. PENDAHULUAN Risiko terdampak demensia meningkat secara signifikan seiring bertambahnya usia, dengan satu kasus baru terjadi setiap tiga detik (H. Wang et al. , 2. Pada tahun 2022. Kabupaten Kudus, yang terletak di Jawa Tengah, memiliki jumlah penduduk 243 jiwa dengan luas wilayah 515 kmA, di mana 41. 336 di antaranya merupakan lansia (BPS Kabupaten Kudus. Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko demensia pada lansia meliputi diabetes mellitus, hipertensi, dan (Situmorang. Berdasarkan Profil Kesehatan Kabupaten Kudus tahun 2022, cakupan pelayanan kesehatan lansia yang mendapatkan skrining penyakit tidak menular dan kesehatan jiwa hanya mencapai 78,1% (DKK Kudus, 2. Demensia menjadi salah satu penyebab utama ketergantungan dan penurunan kualitas hidup pada lansia. Kondisi ini merupakan sindrom atau penyakit yang ditandai dengan penurunan fungsi kognitif secara menyeluruh namun tidak diikuti dengan penurunan kesadaran (C. Wang et al. Gambar 1. Peta Kabupaten Kudus A 2024-LPPMAeUniversitas Muhammadiyah Kudus All rights reserved Gambar 2. Sebaran Penduduk Berdasarkan Kelompok Usia dan Jenis Kelamin Penanganan demensia saat ini, masih berpusat pada tenaga kesehatan tanpa mengoptimalkan keterlibatan masyarakat dalam perawatan demensia. Untuk mencegah dan menangani kondisi ini, masyarakat perlu diberikan upaya peningkatan pemahaman mengenai deteksi dini dan perawatan demensia, meningkatkan kepedulian terhadap isu ini, menyadari risikonya, serta memberikan perawatan yang sesuai bagi penderita demensia (Muliatie et al. , 2. Penelitian terdahulu mengungkapkan bahwa edukasi kesehatan dapat berkontribusi dalam masyarakat dalam menghadapi demensia (D. Lestari et al. , 2023. Rahmawati et al. Organisasi Aisyiyah, yang merupakan organisasi otonom khusus perempuan Muhammadiyah Di Kabupaten Kudus, aktif dalam kegiatan sosial dan kesejahteraan Anggota seluruhnya perempuan dengan usia di atas empat puluh tahun. Mengingat bahwa Jurnal Abdimas Indonesia Volume 7 Nomor 2 . 142-154 | 144 pISSN 2654-4822, eISSN 2654-2544 penurunan fungsi kognitif, yang berpotensi berkembang menjadi demensia, lebih sering terjadi pada perempuan yang lebih tua, perhatian terhadap kelompok ini menjadi semakin penting (Indanah et al. , 2022. Pratama et al. , 2. Berdasarkan wawancara dengan Majelis Kesehatan PDA Kabupaten Kudus, diketahui bahwa anggota mitra belum pernah menjalani skrining Beberapa di antara mereka memiliki riwayat penyakit kronis tidak menular, seperti hipertensi, diabetes mellitus, hiperkolesterolemia, dan arthritis, yang merupakan faktor risiko demensia. Gerakan Desa Qoryah Toyyibah dan Desa Siaga merupakan salah satu program dari Organisasi Aisyiyah, peningkatan status desa dengan menciptakan lingkungan yang harmonis, tenteram, serta sejahtera secara fisik dan mental bagi setiap Kondisi ini diharapkan akan berdampak positif pada masyarakat secara Selain terlibat dalam berbagai kegiatan sosial. Aisyiyah juga memiliki Majelis Kesehatan yang aktif dalam upaya peningkatan kesehatan masyarakat, termasuk kesejahteraan lansia. Gambar 3. Kegiatan Peduli Kesejahteraan Sosial dan Kesehatan oleh Organisasi Aisyiyah Gambar 4. Kegiatan Peduli Kesejahteraan Sosial dan Kesehatan oleh Organisasi Aisyiyah A 2024-LPPMAeUniversitas Muhammadiyah Kudus All rights reserved Organisasi Aisyiyah berpotensi besar untuk mampu berperan aktif dalam upaya penemuan kasus serta pencegahan demensia di Kabupaten Kudus. Namun, tantangan utama yang dihadapi adalah rendahnya pengetahuan dan keterampilan anggota dalam mendeteksi dini serta mencegah Diharapkan, promosi dan deteksi dini demensia berbasis komunitas dengan memanfaatkan aplikasi telepon pintar dapat membantu anggota mengenali risiko demensia pada diri mereka sendiri maupun orang terdekat, serta memahami langkahlangkah pencegahannya. Peningkatan akses terhadap internet dan penggunaan telepon pintar di kalangan masyarakat menciptakan peluang untuk mengembangkan program berbasis teknologi. Berdasarkan wawancara, sekitar 90% anggota mitra menggunakan telepon pintar setiap hari. Beberapa aspek telah dibahas untuk mengatasi tantangan yang dihadapi anggota mitra, yaitu, kurangnya kesadaran masyarakat mengenai bahaya demensia disebabkan oleh anggapan bahwa kondisi ini hanyalah kepikunan yang wajar dialami oleh lansia. Hal ini terjadi akibat minimnya pemahaman tentang pentingnya deteksi dini dan pencegahan Kurangnya pemahaman tersebut berakibat pada rendahnya kemampuan masyarakat dalam melakukan langkahlangkah deteksi dini dan pencegahan demensia secara efektif. Saat ini, belum ada upaya khusus yang ditujukan untuk deteksi dini dan pencegahan demensia di kalangan masyarakat umum. Saat ini, hanya tenaga kesehatan yang terlibat Berdasarkan wawancara dengan mitra, diketahui bahwa upaya kesehatan yang selama ini dilakukan mitra Majelis Kesehatan Aisyiyah lebih berfokus pada penanganan stunting dan pencegahan pernikahan dini. Mitra belum Saat ini sudah terdapat kader demensia yang terlatih tersebar di 12 PCA namun belum dilakukan pemberdayaan kader demensia dalam upaya deteksi dini dan pemberian edukasi berbasis aplikasi telepon pintar dan media audiovisual. Jurnal Abdimas Indonesia Volume 7 Nomor 2 . 142-154 | 145 pISSN 2654-4822, eISSN 2654-2544 Tim PKM menawarkan solusi untuk meningkatkan pemahaman anggota Aisyiyah Kabupaten Kudus melalui promosi dan deteksi dini demensia berbasis aplikasi telepon pintar dan media audiovisual. Materi yang disampaikan difokuskan pada upaya pencegahan serta deteksi dini demensia, khususnya bagi kelompok dengan risiko Selain itu, pemberdayaan kader peduli demensia yang telah dibentuk sebelumnya dapat berperan dalam mendukung promosi dan deteksi dini demensia di masyarakat. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa kader kesehatan telah berkontribusi dalam deteksi dini berbagai masalah kesehatan (Ghazi Pratama et al. , 2. Beberapa studi juga telah mengembangkan aplikasi telepon pintar sebagai sarana promosi dan deteksi dini untuk berbagai kondisi kesehatan, kehamilan berisiko tinggi, serta pemantauan kepatuhan pengobatan tuberkulosis, stunting, autisme, dan kanker serviks. Aplikasi telepon pintar memiliki keunggulan, seperti fitur yang menarik, kemudahan penggunaan, aksesibilitas yang luas, serta biaya yang relatif terjangkau (Jauhar & Widhi Astuti. Lestari et al. , 2. Selain itu, media audiovisual dalam bentuk video edukasi juga dapat menjadi alat pendukung yang lebih interaktif dan komunikatif. Program PKM ini bertujuan untuk tentang pencegahan dan deteksi dini demensia (Rahmawati et al. , 2. Tujuan dari kegiatan PKM untuk meningkatkan pengetahuan anggota Aisyiyah Kabupaten Kudus tentang demensia melalui kegiatan promosi dan deteksi dini berbasis masyarakat pada kelompok risiko tinggi dengan media audiovisual dan aplikasi telepon pintar. Hasil pengabdian ini diharapkan dapat mengembangkan ilmu keperawatan promotif dan preventif tentang demensia, serta memperluas kompetensi perawat pengabdi dalam pemanfaatan teknologi digital. Pendekatan ini memperkuat peran perawat sebagai edukator dan agen perubahan di komunitas, meningkatkan kualitas pelayanan keperawatan berbasis bukti, dan menjadi model intervensi yang dapat diadaptasi untuk A 2024-LPPMAeUniversitas Muhammadiyah Kudus All rights reserved komunitas dan penelitian selanjutnya. METODE PELAKSANAAN Pengabdian kepada masyarakat dilakukan oleh tiga dosen keperawatan dengan keperawatan, dua mahasiswa keperawatan, dan seluruh anggota Ayisiyah Kabupaten Kudus dengan menggunakan berbagai pendekatan, seperti difusi teknologi dan transfer pengetahuan. Untuk melaksanakan program deteksi dini dan pencegahan demensia di kelompok risiko tinggi, ada dua indikator yang diukur. Yang pertama adalah pemahaman deteksi dini dan pencegahan demensia pada kelompok risiko tinggi. Yang kedua adalah kemampuan anggota mitra dalam melakukan deteksi dini demensia menggunakan aplikasi telepon pintar PEDEKATE. Proses pelaksanaan kegiatan terdiri dari beberapa langkah, seperti: Tahap sosialisasi dan persiapan Tim Organisasi Otonomi Asiyiyah Kabupaten Kudus tentang tujuan, manfaat, prosedur, hak dan kewajiban, dan rencana tindak lanjut setelah kegiatan untuk memastikan bahwa program ini dapat dilaksanakan secara Aplikasi telepon pintar PEDEKATE sebagai media promosi dan deteksi dini demensia telah dikembangkan oleh pengabdi. Tahap pelaksanaan Kegiatan deteksi dini dan pencegahan demensia pada kelompok risiko tinggi dilaksanakan selama 6 . bulan Transfer pengetahuan Metode ini melibatkan promosi dan deteksi dini demensia menggunakan aplikasi telepon pintar PEDEKATE dan video edukasi demensia. Promosi dan deteksi dini demensia dilakukan Kementerian Kesehatan RI atau Lembaga lain. Transfer teknologi Jurnal Abdimas Indonesia Volume 7 Nomor 2 . 142-154 | 146 pISSN 2654-4822, eISSN 2654-2544 Metode pengembangan aplikasi telepon pintar PEDEKATE yang digunakan oleh anggota Asiyiyah Kabupaten Kudus untuk melakukan deteksi dini demensia secara mandiri dan mendapatkan informasi tentang upaya pencegahan meminimalkan risiko demensia pada kelompok yang memiliki risiko tinggi. Difusi teknologi Anggota mitra menggunakan aplikasi telepon pintar PEDEKATE untuk deteksi dini demensia secara mandiri. Selain itu terdapat beberapan informasi tentang demensia yang dapat diakses di aplikasi tersebut dan pemanfaatan media audiovisual. Partisipasi Mitra dalam Pelaksanaan Program Organisasi Otonomi Aisyiyah Kabupaten Kudus bersedia berpartisipasi dalam program promosi dan deteksi dini demensia dengan mengatur seluruh anggota organisasi untuk kegiatan ini. Selama kegiatan PKM. Mitra bersedia menyediakan tempat dan seluruh fasilitas yang diperlukan. Kegiatan PKM ini dilakukan melalui pendekatan tindakan program berpartisipasi, di mana anggota mitra terlibat dalam kegiatan promosi dan deteksi dini demensia. Aplikasi telepon pintar PEDEKATE yang dikembangkan oleh tim pengbadi digunakan oleh anggota mitra untuk melakukan deteksi dini dan promosi kesehatan demensia pada kelompok risiko Aplikasi ini diberikan secara langsung kepada masyarakat di seluruh wilayah ranting dan atau cabang mitra serta kepada anggota mitra lainnya. Evaluasi Keberlanjutan Program Evaluasi program dilakukan secara bertahap dengan tujuan menentukan tujuan eksternal berdasarkan indikator keberhasilan masing-masing yang telah ditetapkan. Setelah mendapatkan promosi dan deteksi dini demensia, pengabdi melakukan penilaian pengetahuan tentang demensia. Selama promosi dan deteksi dini demensia. Keberlanjutan program kegiatan pengabdian masyarakat ini yaitu kader peduli demensia melakukan deteksi dini dan promosi A 2024-LPPMAeUniversitas Muhammadiyah Kudus All rights reserved Kesehatan tentang pencegahan demensia menggunakan aplikasi telepon pintar PEDEKATE di seluruh ranting Aisyiyah di masing-masing wilayah cabang Asiyiyah. Kegiatan lanjutan ini dimonitoring oleh Majelis Kesehatan Pengurus Daerah dan Cabang Asiyiyah Kabupaten Kudus. Gambar 5. Tahapan Program Pengabdian Kepada Masyarakat HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Kegiatan Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini menerapkan pendekatan model ABCD (Asset-Based Community Developmen. dengan mengoptimalkan kekuatan yang ada serta membangun kolaborasi dalam upaya pencegahan demensia. Salah satu keunggulan Organisasi Aisyiyah Kabupaten Kudus adalah keberadaan Majelis Kesehatan, yang terdiri dari berbagai tenaga kesehatan yang aktif dalam promosi Selain itu, telah terbentuk kader demensia terlatih dari kegiatan pengabdian Pada tahap persiapan, tim pengabdi bekerja sama dengan Pimpinan Aisyiyah Kabupaten Kudus mengadakan Focus Group Discussion (FGD). Kegiatan menyiapkan sarana dan prasarana yang diperlukan, serta menyusun media edukasi Selama pelaksanaan, tim pengabdi bersama kader demensia memberikan edukasi menggunakan media audiovisual yang mencakup aspek pengenalan, pencegahan, perawatan, serta deteksi dini demensia. Selain itu, skrining deteksi dini demensia dilakukan dengan menggunakan aplikasi PEDEKATE. Pada tahap evaluasi, dilakukan monitoring dan evaluasi guna mengukur peningkatan pengetahuan peserta terkait demensia. Jurnal Abdimas Indonesia Volume 7 Nomor 2 . 142-154 | 147 pISSN 2654-4822, eISSN 2654-2544 Berdasarkan hasil skrining yang dilakukan melalui pemberdayaan kader demensia, diperoleh identifikasi sebagai berikut: Tabel 1. Karakteristik Peserta . Karakteristik Mean Umur 50,67 12,26 Berat Badan . 57,25 12,59 Tinggi Badan . 153,42 9,26 Jenis Kelamin Perempuan Status Pernikahan Belum Menikah Menikah 229 76,3 Janda/duda Tingkat Pendidikan Tidak Sekolah SD/sederajat SMP/sederajat 52 17,3 SMA/sederajat 95 31,7 Diploma 38 12,7 Sarjana 55 18,3 Pascasarjana Pekerjaan Tidak bekerja 43 14,3 Ibu rumah tangga 86 28,7 Pegawai Swasta 41 13,7 Wiraswasta Pedagang Buruh Guru/Dosen 34 11,3 Lain-lain Pendapatan Tidak memiliki 112 37,3