PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 6 No. Februari 2024 ISSN . ISSN . HARDINESS PADA WANITA YANG DIASUH OLEH IBU TUNGGAL HARDINESS IN WOMEN RAISED BY SINGLE MOTHER Haira Salva Dhea & Andhita Dyorita Khoiryasdien Universitas AoAisyiyah Yogyakarta hairasalvad02@gmail. com*, dyorita. kh@unisayogya. ABSTRAK Anak dari ibu tunggal sering dihadapkan pada pandangan buruk masyarakat dan kesulitan ekonomi. Anak-anak yang tumbuh tanpa ayah dapat menunjukkan hardiness yang tinggi dalam mengatasi tantangan kehidupan. Transformasi dari masa kanak-kanak ke fase dewasa tanpa ayah, anak-anak ini menunjukkan kemampuan untuk menghindari kenakalan remaja dan memandang kehidupan sebagai tanggung jawab pribadi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologi untuk memahami aspek hardiness pada anak yang dibesarkan oleh ibu tunggal. Data dikumpulkan melalui observasi dan wawancara mendalam dengan panduan wawancara yang didasarkan pada teori hardiness dari Kobassa . alam Herliany, 2. Analisis data dilakukan dengan teknik reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan, dan analisis data yang didapatkan. Hardiness pada wanita yang diasuh oleh single mother ini tercermin dalam tanggung jawab, penyelesaian konflik, dan kemampuan mengatasi stress. Faktor seperti kemampuan kognitif, strategi koping, dan gaya optimis juga mempengaruhi hardiness. Meskipun perpisahan orang tua dapat berdampak negatif, namun anak yang diasuh ibu tunggal dengan hardiness yang tinggi dapat menghadapi kehidupan dengan optimisme. Kata Kunci: Hardiness. Ibu Tunggal. Wanita ABSTRACT Children of single mothers are often faced with negative views of society and economic Children who grow up without a father can show high levels of hardiness in overcoming life's challenges. Transforming from childhood to an adult phase without a father, these children demonstrate the ability to avoid juvenile delinquency and view life as a personal responsibility. This research uses a qualitative phenomenological approach to understand aspects of hardiness in children raised by single mothers. Data was collected through observation and in-depth interviews with an interview guide based on Kobassa's . rom Herliany, 2. hardiness theory. Data analysis was carried out using techniques of reduction, presentation, and drawing conclusions, and analysis of the data obtained. Hardiness in women raised by single mothers is reflected in responsibility, conflict resolution, and the ability to deal with stress. Factors such as cognitive ability, coping strategies, and optimistic style also influence hardiness. Even though parental separation can have a negative impact, children raised by single mothers with high hardiness can face life with optimism. Keywords: Hardiness. Single Mother. Women http://journal. id/TIT PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 6 No. Februari 2024 ISSN . ISSN . PENDAHULUAN Single mother adalah ibu sebagai orang tua tunggal harus menggantikan peran ayah sebagai kepala keluarga, pengambil keputusan, pencari nafkah disamping perannya mengurus rumah tangga, membesarkan, membimbing dan memenuhi kebutuhan psikis anak (Rahman, 2. Seorang single mother adalah satu-satunya orang tua yang paling dibutuhkan dan paling berperan penting bagi anak-anaknya. Seorang single mother menjalankan kehidupan berkeluarga tanpa bantuan suami, jadi harus secara mandiri menjalankan fungsi serta perannya sebagai seorang single mother. Fungsi single mother dapat dijabarkan dalam beberapa fungsi: fungsi melanjutkan keturunan atau reproduksi, fungsi afeksi, fungsi sosialisasi, fungsi edukatif, fungsi ekonomi, fungsi pengawasan atau kontrol, fungsi religius, fungsi proteksi, fungsi rekreatif Hariani . alam Rahman, 2. Selama ibu tidak menikah atau menjadi seorang single mother anak hanya akan memiliki ibu dalam proses kehidupannya menghidupi keluarga, anak hanya melihat peran ganda pada ibu yang menjadi ayah sekaligus ibu dalam satu waktu. Belum selesai dengan persoalan proses kehidupan, tidak jarang anak yang memiliki ibu dengan status single mother sering kali dihadapkan dengan kenyataan bagaimana pandangan buruk dari masyarakat, adanya berbagai pandangan buruk yang diberikan masyarakat serta kesulitan ekonomi yang dialami sebab hanya ibu yang bekerja, membuat keluarga single mother mengalami berbagai persoalan (Maulida & Kahija, 2. Bagaimana anak berperilaku dalam masyarakat tentunya kembali kepada pribadi anak, selain itu bagaimana pola asuh yang diterima anak juga yang menjadi bagian penentu bahwa tidak semua anak, akan dipandang buruk, atau menjadi sampah masyarakat, (Adristi, 2. menyatakan masyarakat masih berpendapat anak dari keluarga broken home adalah anak yang nakal dan tidak dapat diatur hingga akhirnya menjadi sampah masyarakat. Meski pada kenyataanya itu tidak sepenuhnya benar (Adristi, 2. melanjutkan bahwa cukup banyak juga anak yang broken home dapat mengukir prestasi di sekolah. Bagaimana sikap anak tergantung pada kepribadian anak tersebut dan peran keluarga yang telah terpisah. Adapun menurut Gardner . alam Nirwana et al. , 2. ciri dari seorang yang memiliki kepribadian atau jiwa hardiness adalah memiliki responsibility tanggung jawab terhadap tugas atau kewajiban tertentu, maka pada penelitian ini kewajibannya yang dimaksud kewajiban anak terhadap orang tuanya, bagaimanapun keadaan keluarganya, http://journal. id/TIT PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 6 No. Februari 2024 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 selain itu ciri lainnya adalah kemampuan anak dalam Conflict Resolution/ Confrontation, yaitu kemampuan dalam menemukan cara untuk mengatasi serta menyelesaikan konflik pada saat situasi konfrontas, yang dimana anak dapat memilih cara mereka untuk mengatasi atau menyelesaikan konflik yang mereka hadapi bagaimanapun keadaannya. Yang tentunya cara tersebut tidak dengan cara yang dapat merugikan diri mereka serta masa depan mereka. Selain ciri hardiness yang terdapat dalam pribadi anak itu sendiri, ini juga berkaitan dengan bagaimana sebenarnya kognitif anak, serta bagaimana anak merespon stres dan cara mengatasinya, serta kemampuan anak dalam meyakini dirinya dapat mengatasi situasi yang menyebabkan dirinya tidak terkendali yang dapat terus mempengaruhi hardiness anak. Menurut Bissonnette . alam (Saputri, 2. faktor yang mempengaruhi hardiness adalah kemampuan kognitif . ognitiveAos individual. , strategi koping dan gaya optimis yang jelas . ptimistic explanatory styl. Penemuan BKBN sepanjang tahun 2023 mengenai keluarga tidak harmonis atau keluarga broken home dengan situasi di dalam rumah tidak nyaman yang berujung pertengkaran orang tua atau perceraian menyumbang 60% pada kasus kenakalan remaja salah satunya yaitu kasus hubungan seksual pra nikah dengan rentang usia anak 16-17 tahun (Arifati, 2. Tidak hanya kasus seksual pra nikah, akibat lainnya sebab keluarga tidak harmonis pada anak adalah, dalam penelitian yang dilakukan di Sumatera Utara di Kabupaten Karo pada anak broken home yang salah satu anak tinggal dengan salah satu orang tuanya dan salah satu anak memiliki orang tua yang belum menikah lagi. Didapati perilaku anak rentan mengalami gangguan psikis, perasaan benci terhadap orang tua, mudahnya lingkungan memberikan pengaruh buruk, timbul pandangan hidup adalah hal yang sia-sia, tidak mudah bergaul, dan memiliki masalah moral (Ginting. Dari penemuan (Ginting, 2. menunjukkan jika perpisahan orang tua tentunya sangat berdampak pada kehidupan anak, sebab menurut (Adristi, 2. keadaan tersebut menuntut anak untuk bisa mengembangkan kemampuannya agar dapat beradaptasi pada situasi setelah keadaan dalam keluarganya yaitu setelah perceraian orang tuanya. Apabila anak gagal, maka yang ada adalah dampak negative terhadap anak seperti kenakalan remaja hingga gangguan psikis. Namun, secara bersamaan apabila anak berhasil, hal ini menunjukkan bahwa anak yang diasuh oleh single parent atau dalam http://journal. id/TIT PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 6 No. Februari 2024 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 penelitian ini yaitu single mother, yang tidak melakukan dan mengalami hal yang telah dipaparkan seperti kenakalan remaja dan gangguan psikis, menandakan kepribadian anak yang lebih mampu mengendalikan diri dalam menghadapi sebuah situasi pasca perpisahan orang tuanya. Murry . alam Dewi, 2. menjelaskan masalah lain seperti kenakalan remaja karena kurangnya mendapat perhatian dan pengawasan dari keluarga terutama ibu karena sibuk bekerja sangat banyak terjadi dan dialami oleh keluarga single Di sekolah, anak-anak menjadi nakal dan tidak terkendali, serta sering mencaricari perhatian guru, serta melakukan kenakalan lainnya. Masalah kesulitan ekonomi yang dialami membuat anak menjadi malas utuk bersekolah dan merasa tidak percaya diri ketika bergaul dengan teman-temannya. Kemampuan anak untuk mampu tetap kuat secara psikis dan fisik, tetap memiliki perasaan cinta dan berusaha untuk menerima keadaan kedua orang tuanya pasca perpisahan, serta terus berusaha melanjutkan hidup ini adalah hal yang menarik, sebab saat maraknya kasus kenakalan remaja dan stigma masyarakat terhadap anak single mother namun mereka mampu berusaha melawan stigma tersebut tanpa mereka sadari mereka melakukan itu. (Dewi, 2. menjelaskan bahkan, ada keluarga single mother lebih sukses dibandingkan dengan keluarga yang utuh. Hal ini tentu saja tergantung kepada pola asuh dan juga keterampilan dari sang ibu untuk mengelola keluarganya dan memberikan motivasi serta dukungan penuh kepada anak-anaknya agar tidak gagal dan terjerumus kepada pergaulan yang salah. Dan pribadi anak juga berperan penting dalam menerima segala upaya ibu single dalam menerapkan pola asuh dan mengelola Tentunya agar tetap bisa menjalani kehidupan seperti tidak ada yang berbeda, antara mereka yang diasuh oleh single mother dengan mereka yang memiliki orang tua lengkap, tetap memandang kehidupan adalah sesuatu yang pantas diperjuangkan, berusaha berpikir tidak ada yang sia-sia yang menjadikan harapan untuk mereka agar bisa mewujudkan keluarga versi mereka yang utuh rukun dan tanpa perpisahan di dalamnya, namun tetap berperilaku baik sesuai dengan norma moral di Berdasarkan hal yang telah dijelaskan di atas, adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat bagaimana sebenarnya aspek-aspek hardiness pada anak wanita yang diasuh oleh single mother yang tidak menikah lagi selama bertahun-tahun dalam http://journal. id/TIT PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 6 No. Februari 2024 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 kehidupan sehari-harinya. Selain itu, penelitian ini juga akan menggali faktor-faktor apa saja yang yang membuat anak single mother memiliki hardiness yang diharapkan. METODE PENELITIAN Penelitian ini akan mengadopsi pendekatan kualitatif, yang memungkinkan peneliti untuk memahami dan menggambarkan fenomena yang diamati dengan lebih mendalam. Penelitian ini akan menggunakan metode fenomenologi, yang bertujuan untuk memahami makna yang diberikan oleh individu terhadap pengalaman mereka. Dalam hal inipun fenemonologi yang digunakan adalah fenomenologi deskriptif. Teknik sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling. Memilki karakteristik subjek yaitu berjenis . kelamin wanita, . berusia 23 tahun - 26 tahun . diasuh oleh single mother yang tidak menikah lagi, . menyelesaikan Pendidikan Menangah Atas. Data akan dikumpulkan melalui metode observasi, dimana peneliti akan mengamati subjek penelitian secara langsung untuk memahami perilaku dan pengalaman mereka. Selain itu, metode wawancara akan digunakan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam dari sudut pandang partisipan melalui dialog dan tanya jawab. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, metode observasi dan wawancara akan digunakan untuk mengumpulkan data yang relevan untuk analisis Peneliti menggunakan panduan wawancara untuk melihat aspek-aspek hardiness serta faktor yang mempengaruhi munculnya hardiness, pertanyaan aspek hardiness disusun berdasarkan teori dari Kobassa . alam Herliany, 2. Wawancara yang dilakukan adalah wawancara jenis wawancara semi terstruktur. Sebelum melakukan wawancara dengan panduan pertanyaan, peneliti melakukan wawancara awal terlebih dahulu terhadap subjek VW . dan SR . untuk mendapatkan gambaran umum guna memahami latar belakang subjek tanpa batasan khusus dari panduan. Dan untuk analisis data yang digunakan adalah menurut Miles dan Huberman . alam Hartono M, 2. yang menyatakan bahwa ada 4 langkah proses iteratif yaitu pengumpulan data, pereduksian data, penyajian data, dan penarikan/pemverifikasian simpulan. http://journal. id/TIT PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 6 No. Februari 2024 ISSN . ISSN . HASIL PENELITIAN Berikut merupakan gambaran tentang latar belakang situasi keluarga dari tiga subjek yang diasuh oleh single mother. Tabel 1. Profile Subjek Hasil data Usia Anak Status Pernikahan Anak Usia Ibu Jenis Kelamin Pendidikan Anak Pendidikan Ibu SES Keluarga Lama Ibu menjadi Single Mother Subjek I (VW) Subjek II (SR) Menikah Perempuan SMA Menengah Belum menikah Perempuan Sarjana Menengah Hasil dari penelitian menunjukan bahwa adanya aspek hardiness pada wanita yang diasuh oleh single mother yang mana aspek yang digunakan pada penelitian ini adalah aspek hardiness dari Kobassa . alam Herliany, 2. Control Control merujuk pada keyakinan individu bahwa mereka memiliki kemampuan untuk memengaruhi atau mengatur peristiwa yang terjadi dalam kehidupan mereka. Ini mencerminkan kecenderungan seseorang untuk menerima dan meyakini bahwa mereka memiliki kemampuan untuk mengendalikan dan memengaruhi perkembangan suatu situasi, terutama saat mereka dihadapkan pada hal-hal yang tidak terduga. Control adalah keyakinan dalam diri seseorang bahwa mereka dapat mengendalikan atau mengatur apa yang terjadi dalam hidup mereka. Control melibatkan keyakinan individu bahwa ia mampu mempengaruhi kejadian dalam hidupnya. http://journal. id/TIT PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 6 No. Februari 2024 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 Tabel 2. Hasil pada aspek Control Control Subjek I (VW) Subjek II (SR) AuAMisalnya nih pas aku slekan sama mamak ku, nah kalau aku sama mamak ku, kalau dia marah ya biar masalahnya ga gede ya aku diem, entah aku berkurung lah dikamar. Soalnya kalau aku ngomong, nanti ga abis, karena aku kan orang nya keras, terus mamak ku tuh namanya orang tua kan, kalau kita ngelawan ya nanti sakit hati kan, jadi kek gitu, kalau aku ada masalah sama mamakku. Terus ada lah masalah kemaren sama mbak, sampe kek udahlah kamu gausah kuliah aja, gitu. Tapi aku ngelawan sih, ngelawannya sih kek aku tetep mau gitu. Tapi ujung-ujungnya dikasih juga. Tapi itu karena ulah ku sendiri sihA. Ay (VW . AuAKalau permasalahan ya, ee kalau aku tuh sebenarnya lebih ke diam dulu sih, diam. Terus kalau ee misalkan kayak nyari waktu aja bisa diselesaikan kayak Terus kalau itu kalau permasalahannya tuh kayak misalkan sama orang yaAo, itu emang orangnya gak bisa mengungkapin sih, lebih ke diam Kayak pengen dipekain tapi sebenarnya gak bisa kayak gitu juga kayak gitu. Tapi ya emang kayak gitu. Emang kayak gitu, ceritanya gak bisa akuAAy(SR . AuAAku tuh gini, problem nih kalau aku yang buat sendiri, aku berani bertanggung jawab, aku gabisa lari, mau gamau aku harus hadapi permasalahan itu. Event aku sampe nangis-nangis ya gapapa, tetep aja aku jalani Itu kan ulah aku sendiri gituAAy (VW . AuAIntinya prinsip ku aku berani berbuat berani bertanggung jawabAAy (VW . http://journal. id/TIT AuASalah duanya salah satunya itu Kalau aku kayak ngerasa tadi kan aku bilang aku gak mau. Takutnya aku malah sebenarnya aku salah. Tapi aku gak tahu kalau aku itu salah. Tapi kalau misalkan aku memang benar ya. Ini salah duanya. Kalau aku mengungkapin sihAAy(SR . AuAKonsep pernikahan sih. Konsep pernikahan menurut aku sih. Aku ee Apa ya. Bukan aku. Merasa kayak aku agamis banget Cuman memang. Kalo menurutku sih aku pengennya Dari awal sampe akhir. Kita tuh tetap berada di jalan agama. Aku sih pengen kayak gitu. rumah tangga kita tuh harus. Berpondasikan agama. Kalo menurut aku sih kayak gitu. Supaya gak mudah. kaku lah ceritanya gituAAy (SR . PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 6 No. Februari 2024 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 Subjek VW dalam aspek kontrol diri, berdasarkan data yang telah di dapatkan, subjek memiliki sikap kontrol diri dalam pribadinya, ditunjukkan dengan bagaimana VW berusaha untuk tetap berperilaku baik dengan sang ibu meski mengakui menjadi seorang pribadi yang keras, namun terhadap ibu berusaha untuk tidak mengatas namakan Aumenjadi pribadi yang kerasAy untuk dapat berprilaku yang tidak baik terhadap ibu, selain itu, dari hasil wawancara subjek juga menyadari betul bahwa konsekuensi dari apa yang ia lakukan dari setiap tindakannya adalah hal yang harus ia pertanggung jawabkan. Karena hal tersebutlah yang membuatnya menyadari bahwa dalam bertindak harus memiliki kontrol diri, karena ia memiliki prinsip berani berbuat berani bertanggung Yang artinya, ini menjadi sebuah kontrol diri bagi dirinya, bahwa konsekuensi atas apapun yang ia lakukan adalah hal yang semestinya diperhitungkan dalam bertindak Pada subjek SR juga didapati aspek kontrol diri pada subjek, subjek adalah pribadi yang memiliki sikap kontrol diri, dimana sering kali ia mengungkapkan apabila ia tidak mampu menangani sesuatu maka akan lebih memilih diam, dan juga akan memilih menangis dan bersabar. Selain itu usaha subjek terhadap kegiatan spiritual seperti berdoa adalah bagaimana subjek menjadikan agama sebagai bagian kontrol dirinya juga. Mengingat apa yang diungkapkan subjek dalam pemilihan pasangan atau bagaimana melihat konsep pernikahan hal utama yang harus diperhatikan. Bagaimana agama adalah sebagai pondasi dalam pernikahan, dan seperti yang diketahui pula, bahwa sebaiknya terutama umat beragama Islam, sebaiknya agama adalah pondasi untuk mengkontrol diri terhadap sesuatu. Commitment Komitmen adalah keyakinan seseorang terhadap suatu tujuan atau partisipasi dalam peristiwa, aktivitas, dan hubungan dalam kehidupannya. Orang yang memiliki tingkat komitmen yang tinggi menemukan makna. Dalam hal ini sehubungan dengan nilai-nilai, kepercayaan, identitas pribadi, pekerjaan, dan kehidupan keluarga mereka. Mereka cenderung berkontribusi secara aktif dalam semua yang mereka lakukan karena mereka meyakini bahwa tindakan mereka memiliki makna dan tujuan yang jelas. Orang yang komitmen tidak mudah menyerah pada tekanan. Ketika menghadapi stres, mereka menggunakan strategi penanganan yang selaras dengan nilai-nilai inti, tujuan, dan kapasitas mereka. http://journal. id/TIT PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 6 No. Februari 2024 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 Tabel 3. Hasil pada aspek Commitment Subjek I (VW) Commitment AuASebenarnya planning nya kan nunggu wisuda dulu, soalnya perjanjian sama orang tuanya si pasangan ku yang sekarang nih dilamar nya ntar setelah wisuda, tapi karena itu, ya sudah. Tibatiba keluarga ini mau datang gitu. Aku kaget, terus kek sebenarnya uda lama mental ku uda siap, uda siap jadi istri tuh uda dari sejak jauh-jauh hariAAy (VR . AuAIya, dan pembahasannya tuh uda ga kaya pembahasan yang ke cinta monyet gitu, tapi ke jenjang yang lebih serius gitu, jadi kek pas dikabarin mau dilamar gitu ga kaget, karena emang uda sesering itu bahas soal lamaran tu. Jadi kek, gatau ya aku uda siap aja, kaya perasaan takut itu ga aday(VW . AuAEngga. Sebenarnya keinginan menikah itu ada, cuma kalau sebelum yang dilamar ya. Tapi lebih besar kek udalah aku selesaikan pendidikan aku dulu, tapi menikah itu uda ada. Kaya aku ngomong sebelumnya, untuk menikah lahir batin tuh aku uda siap, untuk menjalankan tugas sebagai istri tuh aku uda siapAAy (VW http://journal. id/TIT Subjek II (SR) AuADoa sih biasay (SR . AuAKonsep pernikahan sih. Konsep pernikahan menurut aku sih. Aku lebih. ee Apa ya. Bukan aku. Merasa kayak aku agamis banget ya. Cuman Kalo pengennya yang. Dari awal sampe akhir. Kita tuh tetap berada di jalan agama. Aku sih pengen kayak gitu. rumah tangga kita tuh Berpondasikan Kalo menurut aku sih kayak gitu. Supaya gak kaku lah ceritanya gituAAy (SR . AuAIya. Paling waktu kuliah sih dulu kan. Soalnya kan. Kaya perasaanku berat banget aja lah. Waktu itu Aku udah gak sanggup lagi ma. Aku udah nangis-nangis kan. Nggak apa-apa Dilanjutin ya namanya kita Mau gimana lagi orang. Lu dibiayain sama kakak lu. lu kalau misalkan gak kuliah, gak kuliah lagiAAy (SR PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 6 No. Februari 2024 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 Pada aspek komitmen subjek VW menunjukkan bahwa ia adalah pribadi yang memiliki sikap berkomitmen pada hal-hal yang sudah ia pilih dan ia putuskan. Subjek menunjukkan usahanya dalam berusaha tetap berkuliah, meski ditengah hamilnya, namun berusaha untuk tidak cuti agar bisa menyelesaikan perkuliahannya tepat waktu, tetapi juga tidak menunda dalam memiliki anak. Dalam menjalin sebuah hubungan subjek adalah pribadi yang berusaha untuk berkomitmen pada siapa yang ia pilih sedari awal hingga kejenjang pernikahan. Meski dalam prosesnya subjek menyadari betul bahwa menikah dan memiliki anak disituasi berkuliah di semester akhir itu tidak mudah. Membuatnya overthinking dan down namun kekuatan dukungan dari orang-orang disekitarnya yang menjadikan subjek yakin untuk dapat menlanjutkan semua hal yang ia pilih dan ia putuskan adalah sesuatu yang harus terus diperjuangkan. Sedangkan bentuk komitmen pada subjek SR adalah agama, agama adalah perwujudan dari sebuah komitmen itu sendiri. Berusaha memperbaiki hubungan spiritual dengan Tuhan sebagai jalan untuk berkomitmen pada apa saja yang ia hadapi. Ketika mengalami kesulitan SR berusaha dengan berikhitiar melalui doa-doa sambil berusaha mendekatkan diri kembali kepada Tuhan. Ketika berbicara bagaimana memandang konsep sebuah pernikahan, lagi-lagi SR berusaha mengkaitkannya dengan agama, komitmen pernikahan harus juga dilandaskan dengan agama, bagaimana subjek menerangkan berusaha untuk sedari awal hingga akhir ketika memikirkan sebuah pernikahan harus di jalan agama, berpondasikan agama. Selain itu. SR juga menerangkan, berusaha mengingat perjuangan orang tua dan kakak adalah sesuatu yang juga membuat ia terus berkomitmen, terutama soal Pendidikan. Ketika ingin menyerah dengan perkuliahannya, subjek berusaha mengingat apa saja yang telah diusahakan oleh orang tua dan kakaknya. Dengan begitu subjek berusaha untuk bisa menyelesaikan Challenges Challenges, dalam konteks ini, mengacu pada kecenderungan untuk menganggap perubahan sebagai kesempatan pertumbuhan dari pada sebagai ancaman terhadap Orang yang memiliki kecenderungan ini melihat perubahan dalam kehidupan sebagai hal yang wajar dan mereka cenderung memandang perubahan tersebut sebagai http://journal. id/TIT PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 6 No. Februari 2024 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 rangsangan yang bermanfaat bagi perkembangan mereka. Mereka melihat hidup sebagai serangkaian tantangan yang menarik dan positif. Tabel 4. Hasil pada aspek Challenges Challenges Subjek I (VW) Subjek II (SR) AuAUda siap sih, pas uda nikah tuh kek discuss nya yauda lah nanti aja aku lulus kuliah dulu, tapi apa ya tapi disatu sisi kalau langsung dikasih ya Alhamdulillah, kalau rezeki nya nanti ya gapapa. Tapi kalau setelah nikah ditanya siap atau engganya ya siap. Jadi ga kaget. Malah uda terpikirkan malah, kek kalau ini langsung jadi gimana ya, kek misalnya pas walaupun kaya semakin kesini semakin ribet harus nanyain dosen satu-satu ini kuliah nya gimana mohon-mohon biar di toleransi, ribet nya disitu, tapi kalau kaya ga ada yang nyesel uda isi atau kesel uda dikasih anak secepat itu ga ada, kaya marah-marah nangis itu ga Ga kaget gitu pas uda dikasih tau hamil tuh ga kagetAAy (VW . AuATapi takut. Karena yang aku takutkan itu ketika aku ngeluarin ya. Misalkan aku tuh gak suka nih misalkan. Aku dibalikin gitu kayak. kamu juga salah gitu loh. Nah itu sebenernya. Kayak gitu akuAAy (SR. AuANah itu aja masih stress, nah aku tuh sempet galau kek aku tuh bisa ga ada jalani, karena aku kan gamau cuti yaa. Terus aku mikir gitu, nyiapin mental gitu aku pasti bisa. Soalnya aku juga punya teman yang selama dia kuliah itu dia juga hamil, nah sekarang dia uda mau Jadi aku mikirnya ngambil yang baik nya kek ah dia aja bisa masa aku engga. Kaya gitu. Syukurnya mama aku itu masih ada kek waktu itu http://journal. id/TIT AuATapi takut. Karena yang aku takutkan itu ketika aku ngeluarin ya. Misalkan aku tuh gak suka nih misalkan. Aku dibalikin gitu kayak. kamu juga salah gitu loh. Nah itu sebenernya. Kayak gitu akuAAy(SR. AuAIya. Tapi. Tapi gak semudah itu sih. Dari yang Bicarakan Soalnya kita harus juga. Ya. Sesuaikan dengan diri kita. Karena kita pengennya itu. Ya kita juga harus. agama kita juga harus ini Itulah. Sambil memperbaiki diri gitu. Ceritanya kakAAy (SR. AuAAku kalo kegagalan itu Kalo kegagalan itu. Tidak terlalu kehidupanku selanjutnya. Aku sih biasa aja. Tapi kalo Ada sedikit. Sedikit aja nih. Aku PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 6 No. Februari 2024 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 aku lahiran aja ngejaga. Khawatiran ku tuh berkurang lah ada mamak ku, ada mertuaku gitu. Intinya gitu sih, siapin mental ajay (VW. AuAAku tuh tipikal yangA ya aku punya banyak kekurangan, aku kekurangan kek ga ada gitu manusia yang ga punya kekurangan, tapi aku ga pernah jadiin kekurangan aku kek aku galau terus gitu. Yauda aku jalani aja, maksudnya aku ga pernah overthingkingin kekuranganku, malah kaya contoh nih kaya kekurangan finansial, pasti kan ada problem nya? Kan ada daunnya kan, kadang kalau ngeluh gitu kaya aku harus liat dibawah, ada orang yang lebih susah dari aku itu banyak, jadinya kalau gitu kita jadi bersyukur cok. Maksudnya kalau kita dan jangan bandingbanding kan hidup kita sama orang lain, itu sih. kau ga harus kek temenmu nih dia enak betul ya hidupnya, nah aku ga pernah iri sama hidup orang lain gitu, aku tipikal orang yang keluarga aku tuh kan bukan tipikal orang yang kaya sering qualty time gitu tapi lebih sering sibuk cari uang gitu terus, jadi keluarga ku tuh orang-orang weekend ke pantai, bakarbakar, camping gitu-gitu, kalau keluarga aku tuh jarang, tapi pernahA maksudnya tuh kaya ya aku tuh iri tuh kek lebih kepengen aja, tapi aku ga pernah iri yang ih http://journal. id/TIT mungkin awalnya. Mungkin Aku bakal. Aku yang sebelumnya nih ada kejadian di aku. Aku tuh Lebih ke nangis. Kepikiran. Nangis. Terus Satu hari setelahnya. Setelah nangis. Beruraian air mata satu hari itu. Setelah satu malem itu. Aku lebih lega loh. kayak Terus sambil doa gitu kan. Terus ya udahlah. Berarti emang udah hikmahnya. Kamu belum dapet kan ini. Mungkin nanti di tahun Atau tahun Ke depannya. Kayak gitu kan. Paling kayak gitu sih aku. Lebih kayak nangis. Kan setelah nangis itu. Besoknya udah yang mulai legowoAAy(SR. AuAHm. kekurangan itu. Sedikit demi sedikit. Walaupun sebenarnya agak susah Memperbaiki. Atau bahkan kekurangan itu ya. Soalnya. ya apa ya? Kalo menurutku Belajar itu. Belajar sabar kalau aku. Karena Kalo misalnya ada masalah itu Langsung panas kepalaku ya. Langsung panas kepalaku. Tapi aku Ketika ada masalah itu aku emang lagi panas nih. Aku gak Anu ke orangnya. Tapi yang kayak. Aku Pada saat aku sendiri aja. Maksudnya PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 6 No. Februari 2024 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 keluarga nya bapaknya gini gini, aku ga pernah kaya gitu Jadi aku tuh ga pernah bandingin hidup aku dengan orang lain, terus kaya misalkan aku pernah ada problem, misal kekuranganku di keuangan lah, nah event aku sesusah apapun ya ngeluh pasti, tapi aku lebih sering diajarin mamak kek kalau kamu merasa lagi susah dibawahmu, bahkan kek kamu tuh masih mending loh masih bisa tidur dirumah, itu loh yang masih banyak hidup di jembatan, yang masih kita liat itu lah kek yang didepan-depan indomaret, gitu Aegitu lah. Kalau untuk terus maju kedepan tuh aku ga pernah kek, aku ga pernah jadikan kekurangan ku tuh kaya untuk aku stak disitu aja gitu, malahan kalau aku stuck aja kita ga akan pernah sejauh ini gituAAy(VW. yang denger itu aku sendiri. Kaya gitu. Kaya gitu sih. sabarAAy(SR. AuAEe Diri sendiri. Orang ee Kaya gak boleh, sabar kamu tuh udah Apa kelemahan yang dulu dulu. Maksudnya kita yang gak punya apaapa dulu. Kaya gitu. Kaya gitu sih. Kaya apa. kehidupan waktu kecil lah Kaya gitu sama orang tuay (SR. Dalam aspek challenges atau menghadapi tantangan, subjek VW menunjukkan bahwa ia pribadi yang siap terhadap segala hal yang akan terjadi, baik yang ia memang pilih itu terjadi ataupun tidak. Dalam menghadapi tantangan dari sebelum menikah, hingga hamil pada saat kuliah adalah hal yang memang ia siap untuk hadapi karena itu adalah hal yang ia pilih terjadi. Meski kesulitan dalam menghadapinya ditemani rasa khawatir, overthinking dan ketakutan dalam setiap tindakan yang akan ia ambil, namun VW menunjukkan sikap bahwa apapun itu harus AudihadapiAy dan AudiselesaikanAy. Selain itu terlihat subjek berusaha untuk menyadari bahwa kekurangan hari ini adalah hal yang tidak seharusnya dijadikan sebuah penghalang bagi VW untuk melanjutkan hidup meski tanpa ayah , atau meski dengan kondisi keluarga yang tidak bisa senantiasa menghabiskan waktu bersama . ebab masing-masing sibuk bekerj. namun subjek senantiasa berusaha bersyukur dengan apa yang ia miliki hari ini. Kesulitan di hari ini dijadikannya sebuah dorongan untuk terus melanjutkan apa yang http://journal. id/TIT PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 6 No. Februari 2024 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 seharusnya ia jalani. Meski ia juga mengalami masa-masa yang membuat dirinya down tapi tidak membuatnya berlarut-larut, sebab baginya masa sulit itu ada , tetapi ada keluarga dan orang terdekat yang membuatnya yakin bahwa jika mereka saja percaya VW bisa, berarti dirinya harus percaya juga bahwa ia bisa. Untuk subjek SR sendiri dalam menghadapi tantangan, seperti dikehidupan sehariharinya dengan lingkungan sosialnya, seperti saat berkonflik dengan rekannya, subjek cenderung takut dalam berusaha asertif. Sebab subjek takut jika sebenarnya kesalahan sesungguhnya muncul karena dirinya sendiri. Namun walaupun begitu SR berusaha untuk beradaptasi kembali dengan situasi pasca konflik. Dengan berusaha biasa saja, ditambah lagi jika persoalan tersebut telah terjadi dan sudah berlalu satu atau dua bulan Selain persoalan dengan rekannya, tantangan lainnya adalah ketika SR menginginkan pasangan yang AobaikAo bagi SR. Tentunya itu juga menjadi tantangan untuk dirinya, karena SR meyakini jika ia ingin sesuatu yang baik, ia juga harus berusaha menjadi baik dengan memperbaiki diri terutama memperbaiki pemahaman agamanya. Dalam memandang kegagalan. SR adalah pribadi yang berusaha AomengukurAo seberapa jauh sebenarnya kegagalan itu berdampak bagi dirinya, jika permasalahan tersebut tidak begitu AoberatAo, reaksi SR seperti manusia pada umumnya, sedih dan menangis namun akan segera bangkit lagi tetapi sebelum bangkit, ia membiarkan dirinya menangis dengan berurai air mata semalaman. Namun tetap sambil berdoa. Dan keesokannya ia akan merasa lega dan berusaha mengambil hikmah dari segala kejadian yang semalam ia tangisi. Dari pengalamannya subjek SR setelah ia menangis, ia akan membiarkan dirinya menerima emosi yang ia rasakan. Lalu setelahnya, bangkit lagi, hal ini dilakukan untuk menghadapi tantangan hidup dalam sebuah kegagalan. Tetapi meski begitu ia akan berusaha untuk legowo setelahnya. Dari apa yang sudah subjek alami. SR tidak hanya berhenti menjadi legowo saja, tetapi SR akan belajar dari hal tersebut untuk menghadapi permasalahan lainnya, kekurangan yang ada pada dirinya ia usahakan untuk menjadi sebuah pelajaran bagi Sedikit demi sedikit walaupun sebenarnya SR juga merasa itu tidak mudah. Tapi ia akan berusaha untuk belajar, meski secara psikis akan bereaksi seperti merasa kepala panas, namun ia beruasaha untuk tidak menunjukkan ke orang lain. SR akan berusaha Kesadaran SR pada apa yang orang lain alami, adalah apa yang ia pernah alami juga, menurutnya ketika ia sudah merasakan Aoketidak nyamananAo itu lebih dulu, harusnya http://journal. id/TIT PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 6 No. Februari 2024 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 ia akan menjadi pribadi yang semakin mengerti. Karena sudah pernah melalui dan merasakan lebih dulu. DISKUSI Perpisahan kedua orang tua adalah hal yang pastinya tidak diharapkan oleh setiap Namun, pada kenyataanya tidak sedikit anak yang mengalami keadaan kedua orang tuanya harus berpisah baik karena bercerai atau ibu ditinggal wafat. Dengan kondisi seperti ini terutama wanita, yang hidup bertahun-tahun dengan single mother. Pastinya ini akan sedikit banyak memberikan dampak pada cara pandang mereka terhadap kehidupan mereka, dan bagaimana cara menghadapi kehidupan. Dengan adanya hardiness pada diri wanita yang telah diasuh oleh single mother, yang menjadi prinsip yang ditunjukkan dengan sikap mereka dalam mengambil keputusan, bertindak, menyesuaikan diri dan beradaptasi dan berusaha menyelesaikan apa yang menjadi suatu persoalan adalah fungsi dari hardiness sesungguhnya. Kobassa dan Maddi . alam Herliany, 2. menjelaskan bahwa kepribadian hardiness memiliki beberapa fungsi yaitu untuk membantu adaptasi individu, toleransi terhadap frustasi, meminimalkan dampak negative dan stress, mengurangi penilaian negative, kepemimpinan dalam pengambilan keputusan. Dari penelitian ini didapatkan hasil bagaimana sebenarnya aspek-aspek hardiness dari wanita-wanita yang telah diasuh oleh single mother. Baik karena ibu bercerai ataupun ibu ditinggal wafat, selama bertahun-tahun dan menjadi single mother tanpa menikah lagi. Wanita-wanita memiliki aspek hardiness menurut Kobassa . alam Herliany, 2. mencakup control, commitmen dan challenges. Dalam kehidupan sehari-hari wanita yang merupakan anak dari single mother terkadang merasakan kesulitan, dan juga tantangan yang membuat mereka memerlukan sosok yang dapat membantu mereka seperti ayah mereka, menurut (Istiyati. Nuzuliana. Shalihah, 2. keterlibatan ayah mempunyai makna berulang dan berkesinambungan dari satu tahap ke tahap perkembangan berikutnya. Keterlibatan ayah juga terjadi pada frekuensi yang panjang dan intensif dalam menjalin hubungan dan memanfaatkan segalah sumber daya baik afeksi, fisik, dan kognisinya. Peran http://journal. id/TIT PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 6 No. Februari 2024 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 ayah dalam proses pengasuhan sangatlah diperlukan. Namun karena adanya hardiness mereka terbiasa untuk tidak banyak mengandalkan orang lain. Terutama tentang kesulitan mereka dalam menjalani Pendidikan menyelesaikan Sekolah Menengah atas, dan juga menempuh Pendidikan Sarjana. Tetapi mereka menjadikan keluarga dan orangorang yang mendukungnya sebagi penguat mereka. Hal ini karena mereka dapat mengontrol diri mereka terhadap segala sesuatu apa yang bisa dan tidak bisa mereka control, seperti takdir yang telah terjadi, ataupun keputusan mereka dalam bertindak. Selain control, yaitu commitmen, komitmen yang mereka pegang terhadap segala sesuatu yang mereka inginkan, atau yang menjadi AojembatanAo mereka dalam menggapai sesuatu. Komitmen dengan apa saja, seperti VW komitmen dengan Pendidikannya dan juga hubungan asmaranya dan memilih menikah ditengah-tengah perjalanan perkuliahannya tanpa berpikir untuk berhenti dari perkuliahannya dan berusaha untuk bisa untuk pernikahan dan perkuliahannya bisa berjalan beriringan. Atau SR yang berusaha bangkit meski lelah menghadapi perkuliahan jurusan Farmasi namun ingat atas komitmennya terhadap kakak dan ibunya yang sudah berusaha menguliahkan dirinya. Bagaimana mereka menghadapi challenges atau tantangan hidup, berusaha untuk menghadapi tantangan bukan menghindarinya, berusaha untuk menjadikan tantangan adalah sebuah pelajaran agar terus membuat mereka jadi lebih baik, berusaha melihat kekurangan yang ada adalah sebuah anugerah, yang pasti ada hikmahnya. Tentunya ini tidak mudah namun mereka bisa menerima bahwa apa yang terjadi pasti ada hikmahnya. Hardiness tidak hanya dibutuhkan oleh anak dari seorang single mother saja. Tapi dibutuhkan oleh siapa saja yang terus ingin survive dalam kehidupannya. Berusaha meyakini bahwa hidup memiliki AoaturanAo dan harus dapat bisa mengontrol diri meski dalam keadaan Aomode surviveAo sebab adanya AoaturanAo dalam hidup ini, dan tidak bisa bertindak sesuka hati. Komitmen untuk terus survive atau berjuang hingga keadaan menjadi lebih baik, dari yang terpuruk, dari yang menderita dari yang hina hingga menjadi bersinar dan akhirnya menggapai apa yang telah di usahakan dengan berusaha dengan memegang teguh komitmen. Dan sebesar apapun tantangan yang dihadapi. Dapat meyakini bahwa ini adalah pelajaran, ini adalah cara untuk bisa lebih tangguh lagi, ini adalah cara agar lebih baik lagi. Untuk bisa menerima keadaan dan menerima segala sesuatu yang sudah terjadi dalam hidup ini. http://journal. id/TIT PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 6 No. Februari 2024 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 Selain aspek-aspek hardiness adapun faktor-faktor pendukung yang mempengaruhi hardiness pada anak yang diasuh oleh single mother adalah: Ibu Sebagai Role Model Adapun faktor pendukung hardiness pada anak yang diasuh oleh single mother adalah menganggap ibu adalah role model. Ibu adalah wanita yang Tangguh dan dapat menghidupi anak-anaknya tanpa bantuan orang lain. Ibu tetap bisa kuat menjalani kehidupan meski tidak menikah lagi, meski telah berpisah dari ayah selama bertahuntahun. Hidup menjadi Aojanda tangguhAo tidak membuat anak yang diasuh oleh single mother bahkan takut untuk memikirkan sebuah konsep pernikahan. Dari hasil yang didapat bahwa salah satu subjek bahkan menyebutkan tidak akan begitu khawatir jika suatu saat ia akan mengalami hal yang serupa, seperti yang dialami ibunya yaitu menjada sebab Subjek yang satu mengungkapkan tidak takut apabila menikah dan ditinggal suami wafat, namun lebih takut terhadap perselingkuhan, atau lebih takut ditinggalkan dalam keadaan hidup. Keluarga Anak yang diasuh oleh single mother memiliki bounding keluarga yang baik satu sama Meski dari pengakuan keduanya tidak menunjukan keakraban yang solid. Namun peran keluarga terutama saudara kandung yang banyak juga berperan besar terhadap diri mereka dalam menjalani kehidupan mereka. Bagaimana saudara menjadi bagian penguat diri mereka, dan menjadi tempat mereka untuk bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan yang tidak bisa mereka dapatkan dari ayah, seperti biaya Pendidikan ataupun nafkah lainnya. Religusitas Adanya keyakinan pada diri mereka, bahwa apa yang telah terjadi ini adalah suratan takdir yang maha kuasa. Jika ingin melaluinya subjek berusaha untuk mendekatkan diri kepada yang maha kuasa. Bagaimana subjek juga berusaha apapun yang mereka alami saat ini, kesulitan dan kesedihan datangnya dari Tuhan untuk menjadikan mereka pribadi yang lebih baik. Sikap optimis pada subjek terhadap hidupnya didasarkan penguatan-penguatan religusitas http://journal. id/TIT PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 6 No. Februari 2024 ISSN . ISSN . KESIMPULAN DAN SARAN Penelitian ini menunjukkan bahwa kedua subjek memiliki tingkat hardiness tinggi. Sehingga kedua subjek menjadi individu-individu yang hardiness, hal tersebut dapat terlihat dalam aspek-aspek seperti kontrol diri . , komitmen terhadap tujuan . , dan kemampuan menghadapi tantangan . Sumber hardiness yang berasal dari faktor pengalaman dan nilai-nilai yang diterima, seperti faktor ibu sebagai role model, faktor dukungan keluarga dan faktor religiusitas pada subjek. Peran ibu sebagai role model dan sumber kekuatan sangat penting bagi kedua subjek. Dukungan keluarga, terutama dari saudara-saudara yang hangat dan sikap religius yang ditanamkan juga sangat berperan dalam membentuk hardiness. Sehingga hardiness dapat berkembang melalui pengalaman dan nilai-nilai dari lingkungan, yaitu keluarga, pengaruh positif ibu dan dukungan keluarga, dan bersama nilai-nilai keagamaan, serta faktor yang mempengaruhi hardiness seperti kemampuan kognitif . ognitiveAos individual. , strategi koping dan gaya optimis yang jelas . ptimistic explanatory styl. yang akhirnya membentuk hardiness . etahanan menta. pada kedua subjek yaitu wanita yang diasuh oleh single mother. Saran penelitian selanjutnya adalah penelitian yang mencakup untuk mendalami pola pengasuhan single mother dan menjelajahi bagaimana ketahanan keluarga single mother yang tetap kokoh dalam situasi sulit meski keadaan keluarga tidak lengkap. Juga, penelitian dalam bagaimana single mother melibatkan penanaman nilai agama pada anak-anaknya dan dampaknya pada pembentukan ketahanan mental, hardiness. DAFTAR PUSTAKA