Jurnal Keperawatan I CARE. Vol. 6 No. 1 Tahun 2025 HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN TERHADAP KEPATUHAN MINUM OBAT ANTIHIPERTENSI PADA LANSIA DI KAMPUNG PENUMPING, KELURAHAN GOWONGAN. KECAMATAN JETIS YOGYAKARTA Angelina Clara Dwi Putri1. Suparmi2 . Cornelia Dede Yoshima Nekada3 STIKes Panti Rapih Yogyakarta. Jl. Tantular 401. Pringwulung. Condongcatur. Depok. Sleman. Yogyakarta. Indonesia. Email: angelinaclaradwiputri@gmail. STIKes Panti Rapih Yogyakarta. Jl. Tantular 401. Pringwulung. Condongcatur. Depok. Sleman. Yogyakarta. Indonesia. Email: lucilla_suparmi@stikespantirapih. Universitas Respati Yogyakarta. Jl. Laksda Adisucipto KM. 6,3. Ambarukmo. Caturtunggal. Depok. Sleman. Yogyakarta. Indonesia. Email: cornelia. nekada@gmail. ABSTRAK Latar belakang: Penyakit hipertensi merupakan masalah yang sangat umum yang diderita di seluruh dunia, dan sering disebut sebagai Authe silent killerAy karena penyakit ini sering tidak dilaporkan sehingga penderita tidak tahu bahwa mereka menderita hipertensi. Data terbaru menunjukkan bahwa pada tahun 2023, sekitar 1,28 miliar orang dewasa berusia 30 hingga 79 tahun mengalami hipertensi. Berdasarkan data tersebut menunjukkan bahwa prevalensi hipertensi tertinggi pada kelompok umur 55-64 tahun sebesar 55,2%. Salah satu penatalaksanaan penyakit hipertensi adalah minum obat rutin Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan terhadap kepatuhan minum obat antihipertensi pada lansia di Kampung Penumping. Kelurahan Gowongan. Kecamatan Jetis Yogyakarta. Metode: Desain penelitian yang digunakan deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Penelitian ini dilakukan di Kampung Penumping. Kelurahan Gowongan. Kecamatan Jetis Yogyakarta dan dilaksanakan dari tanggal 5-23 Juni 2024. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling berjumlah 103 lansia hipertensi yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi. Instrumen yang digunakan dalam penelitian adalah HFQ (Hypertension Fact Questionnair. dan MMAS (Morisky Medication Adherence Scal. Hasil: Hasil penelitian didapatkan bahwa responden dengan pengetahuan sedang sebanyak 54 responden . ,4%), pengetahuan tinggi sebanyak 23 responden . ,3%) dan pengetahuan rendah sebanyak 26 responden . ,2%). Sedangkan kepatuhan responden tidak patuh sebanyak 66 responden . ,1%) dan patuh sebanyak 37 responden . ,9%). Hasil uji Chi square menunjukkan terdapat hubungan tingkat pengetahuan terhadap kepatuhan minum obat antihipertensi pada lansia di Kampung Penumping. Kelurahan Gowongan. Kecamatan Jetis Yogyakarta (P value 0. Simpulan: Terdapat hubungan tingkat pengetahuan terhadap kepatuhan minum obat antihipertensi pada lansia di Kampung Penumping. Kelurahan Gowongan. Kecamatan Jetis Yogyakarta. Disarankan bagi peneliti selanjutnya melakukan penelitian yang berkaitan dengan faktor-faktor lainnya yang dapat mempengaruhi kepatuhan minum obat antihipertensi seperti motivasi, perilaku, dukungan dari tenaga kesehatan, dukungan keluarga, jumlah obat yang dikonsumsi dan pemberian edukasi kesehatan pada lansia hipertensi. Kata kunci: hipertensi, kepatuhan minum obat, lansia, pengetahuan ABSTRACT Background: Hypertension is a highly common health issue worldwide and is often referred to as "the silent killer" because it is frequently underreported, leaving sufferers unaware of their condition. Recent data from 2023 indicate that approximately 1. 28 billion adults aged 30 to 79 years suffer from Angelina Clara Dwi Putri. Suparmi . Cornelia Dede Yoshima Nekada Hubungan Tingkat Pengetahuan Terhadap Kepatuhan Minum Obat Antihipertensi Pada Lansia di Kampung Penumping. Kelurahan Gowongan,Kecamatan Jetis Yogyakarta This data also shows that the highest prevalence of hypertension is in the 55-64 age group, at 55. One of the main management strategies for hypertension is routine adherence to antihypertensive medication. Objective: This study aims to determine the relationship between knowledge levels and adherence to antihypertensive medication among the elderly in Penumping Village. Gowongan Subdistrict. Jetis District. Yogyakarta. Methods: The research design used is descriptive with a cross-sectional approach. This research was conducted in Penumping Village. Gowongan Village. Jetis District. Yogyakarta and was implemented from June 5-23, 2024. Sampling was carried out using a purposive sampling technique, involving 103 elderly individuals with hypertension who met the inclusion and exclusion criteria. The instruments used were the Hypertension Fact Questionnaire (HFQ) and the Morisky Medication Adherence Scale (MMAS). Results: The study found that 54 respondents . 4%) had moderate knowledge, 23 respondents . 3%) had high knowledge, and 26 respondents . 2%) had low knowledge. Regarding medication adherence, 66 respondents . 1%) were non-adherent, while 37 respondents . 9%) were adherent. The Chi square test results show that there is a relationship between the level of knowledge and compliance with taking antihypertensive drugs in the elderly in Penumping Village. Gowongan Village. Jetis District Yogyakarta (P value 0. Conclusion: There is a relationship between knowledge levels and adherence to antihypertensive medication among the elderly in Penumping Village. Gowongan Subdistrict. Jetis District. Yogyakarta. Future researchers are encouraged to conduct studies related to other factors that may influence adherence to antihypertensive medication, such as motivation, behavior, support from healthcare providers, family support, the number of medications consumed, and health education provided to elderly individuals with hypertension. Keywords: hypertension, medication adherence, elderly, knowledge PENDAHULUAN Hipertensi atau tekanan darah tinggi, merupakan masalah kesehatan yang sering Hanya sekitar 21% dari penderita hipertensi dijumpai di seluruh dunia. Karena hipertensi yang berhasil mengontrol tekanan darah biasanya tidak menunjukkan gejala hingga masalah serius muncul, penyakit ini sering diperkirakan akan terus meningkat hingga disebut sebagai "pembunuh diam-diam". mencapai 1,5 miliar orang pada tahun 2025. Data terbaru WHO menunjukkan bahwa dengan sekitar 10,44 juta kematian tahunan pada tahun 2023, sekitar 1,28 miliar orang akibat komplikasi hipertensi dan hipertensi (Kemenkes RI, 2. mengalami hipertensi. Sekitar dua pertiga Jumlah Menurut Riskesdas . , dari mereka hidup di negara-negara dengan menunjukkan bahwa prevalensi hipertensi di pendapatan rendah dan menengah. Sekitar Indonesia adalah 34,1%, meningkat dari 46% dari mereka tidak mengetahui bahwa 25,8% pada tahun 2013. Penyakit ini paling mereka menderita kondisi mereka, dan umum ditemukan pada kelompok usia 55-64 kurang dari separuhnya . %) telah tahun, dengan prevalensi tertinggi 55,2%. Selanjutnya, kelompok usia 45-54 tahun Jurnal Keperawatan I CARE. Vol. 6 No. 1 Tahun 2025 memiliki prevalensi 45,3%, dan kelompok Kemenkes . berdasarkan Laporan Surveilans Penyakit sebesar 31,6%. Dari total kasus hipertensi. Berbasis Puskesmas Terpadu Tahun 2021, hipertensi menjadi penyakit terbesar di DIY dari tahun ke tahun yang menyebabkan 848 kematian pada tahun tersebut. Di daerah pengobatan, sementara 13,3% masih belum perkotaan, prevalensi sedikit lebih tinggi, 38,11%, dibandingkan dengan 37,01% di 34,1% 8,8% Menurut Hipertensi Prevalensi hipertensi di DIY seseorang berusia lanjut. 32,86% lebih rendah dibandingkan dengan Usia lanjut adalah fase kehidupan 34,11%. Angka setelah masa muda yang biasanya lebih aktif prevalensi hipertensi di DIY menyebabkan atau menyenangkan. Penuaan adalah proses provinsi ini berada di peringkat ke-12 alami yang tak terhindarkan dan berlangsung dengan prevalensi tertinggi di Indonesia terus-menerus, (Riskesdas, 2. Gunung Kidul memiliki perubahan pada struktur, fungsi, dan kimia prevalensi hipertensi tertinggi di Yogyakarta. Proses ini mempengaruhi kondisi dan mencapai 39,25%. Angka ini diikuti oleh kapasitas tubuh secara menyeluruh. Setiap Kulon Progo dengan prevalensi 34,70%, orang mengalami penuaan dengan cara yang Sleman sebesar 32,01%. Bantul dengan unik dipengaruhi oleh macam-macam faktor 29,89%, dan Kota Yogyakarta dengan seperti pola makan, latar belakang sosial dan 29,28% (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2. lingkungan, kondisi ekonomi, dukungan Salah satu metode untuk mengelola keluarga, serta adanya penyakit infeksi atau hipertensi adalah dengan secara teratur Selain itu, faktor psikologis mengonsumsi obat antihipertensi (Le Mone, seperti perasaan terasing sosial, perubahan , 2. Namun, kepatuhan yang rendah dalam status sosial, kesedihan dan kesepian dalam mengonsumsi obat dapat menjadi juga dapat memengaruhi penuaan (Adriani masalah dalam mencapai dan menjaga dkk, 2. Karena proses penuaan dapat tekanan darah yang normal. Beberapa alasan mengurangi fungsi tubuh, orang tua menjadi lebih rentan terhadap berbagai penyakit. mengonsumsi obat secara teratur sepeti Menurut data Riskesdas . , hipertensi merasa sehat . ,8%), jarang mengunjungi adalah penyakit tidak menular yang paling fasilitas kesehatan . ,3%), menggunakan sering diderita oleh lansia. obat tradisional . ,5%), menjalani terapi Angelina Clara Dwi Putri. Suparmi . Cornelia Dede Yoshima Nekada Hubungan Tingkat Pengetahuan Terhadap Kepatuhan Minum Obat Antihipertensi Pada Lansia di Kampung Penumping. Kelurahan Gowongan,Kecamatan Jetis Yogyakarta lain . ,5%), lupa minum obat . ,5%), pengetahuan dapat diperoleh melalui dua kesulitan membeli obat . ,1%), mengalami jalur pendidikan, yaitu formal dan nonformal. efek samping obat . ,5%) dan keterbatasan Pendidikan formal mencakup pendidikan di ketersediaan obat di fasilitas kesehatan . %) sekolah, yang mencakup tingkat dasar, (Kemenkes RI, 2. Menurut Ariyanti . , hampir 70% pendidikan nonformal mencakup berbagai pasien lansia dengan hipertensi mengalami bentuk pendidikan di luar sistem formal, kesulitan dalam pengendalian tekanan darah seperti di masjid, pondok pesantren, sekolah minggu, gereja, dll yang penyakit yang diderita. Ketidakpedulian ini sering kali disebabkan oleh kurangnya masyarakat tertentu. Putri dan Sunarti . pengetahuan dan ketidakmampuan lansia dalam menyesuaikan diri dengan perubahan nonformal memiliki peran penting dalam Perilaku yang berbahaya bagi mengatasi kesenjangan yang ada dalam lansia termasuk kebiasaan makan yang tidak pendidikan formal. Keterlibatan masyarakat sehat, gaya hidup yang tidak sehat, merokok, dan konsumsi garam yang berlebihan. Selain dukungan materi, tetapi juga partisipasi aktif itu, lansia yang tidak terlalu memikirkan dalam menyelenggarakan dan berkontribusi kematian mungkin menunjukkan perilaku tenaga serta pemikiran untuk kesejahteraan acuh tak acuh atau putus asa, yang Oleh karena itu, penting bagi lansia berdampak negatif pada kepatuhan terhadap untuk ikut serta dalam pendidikan nonformal Untuk meningkatkan kepatuhan sosialisasi kesehatan dan kegiatan lain yang PKK, penting untuk meningkatkan pengetahuan mereka tentang hipertensi, sehingga mereka Apabila dapat lebih disiplin dalam mengonsumsi obat antihipertensi secara teratur. pengalaman, maka semakin banyak pula Menurut WHO . , pengetahuan pengetahuan yang dikumpulkannya. merupakan pemahaman dan kemampuan Pengetahuan merupakan faktor kunci untuk bertindak yang tersimpan dalam yang memengaruhi kepatuhan pasien dalam Sistem mengonsumsi obat. Harahap dkk . Pendidikan Nasional dalam Undang-Undang menjelaskan bahwa tingkat pengetahuan Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003. Berdasarkan Jurnal Keperawatan I CARE. Vol. 6 No. 1 Tahun 2025 Namun, begitu tekanan darah dalam mengikuti pengobatan sesuai dengan mereka turun, banyak dari mereka yang saran dari dokter atau pihak lainnya. Untuk berhenti mengonsumsi obat. Pengetahuan memahami apa itu hipertensi, termasuk tingkat pendidikan yang dimilikinya. Orang- orang dengan pendidikan yang lebih tinggi pentingnya pengobatan yang konsisten dan biasanya memiliki pengetahuan yang lebih Mengetahui dan memahami Berdasarkan data jumlah penduduk alasan di balik pengobatan yang diterima Kampung Penumping, jenjang pendidikan dapat meningkatkan motivasi pasien untuk terakhir yang ditempuh oleh warga desa ini mengikuti pengobatan tersebut. Hasil studi pendahuluan yang telah pendidikan SD dan SMP. Menurut Berlian dilakukan oleh peneliti pada tanggal 5 Mei . , tingkat pendidikan dapat menjadi 2024 di Kampung Penumping. Kelurahan Gowongan. Kecamatan Jetis. Yogyakarta Ini menunjukkan bahwa tingkat dengan jumlah lansia sebanyak 198 orang. pengetahuan masyarakat tentang pengobatan Data pemeriksaan kesehatan terakhir yang akan meningkat dengan jenjang pendidikan diperoleh menunjukkan bahwa lansia yang yang lebih tinggi. Oleh karena itu, banyak menderita hipertensi dengan tekanan darah lansia yang masih memiliki pengetahuan di atas 130/80 mmHg sebanyak 139 orang. Berdasarkan beberapa lansia saat pra survei, sebagian mengonsumsi obat secara teratur. Kepatuhan pasien dalam mengonsumsi obat tidak hanya hipertensi, tidak mengetahui dipengaruhi oleh pengetahuan dan tingkat penyebab hipertensi dan penatalaksanaan pendidikan, tetapi juga oleh faktor lain jika mengalami hipertensi. Sebagian lansia seperti kurangnya dukungan dari tenaga Hal mengonsumsi obat antihipertensi karena ketidakaktifan posyandu lansia di Kampung menganggap hipertensi merupakan penyakit Penumping yang umum dan bukan penyakit yang serius. mengakibatkan lansia kurang menyadari Beberapa masalah kesehatan mereka dan tidak rutin mengonsumsi obat saat tekanan darah mereka meningkat atau ketika merasakan Pemeriksaan kesehatan hanya dilakukan gejala seperti pusing, kelelahan, nyeri, atau Angelina Clara Dwi Putri. Suparmi . Cornelia Dede Yoshima Nekada Hubungan Tingkat Pengetahuan Terhadap Kepatuhan Minum Obat Antihipertensi Pada Lansia di Kampung Penumping. Kelurahan Gowongan,Kecamatan Jetis Yogyakarta langsung oleh petugas puskesmas setempat. kuantitatif dengan menggunakan pendekatan Selain itu, di Kampung Penumping masih hubungan kausalitas yang bersifat deskriptif minimnya sosialisasi tentang jenis penyakit cross-sectional. Penelitian ini dilakukan di dan penatalaksanaan penyakit tersebut. Kampung Penumping. Kelurahan Gowongan. Jika hipertensi tidak diatasi dan tidak Kecamatan Jetis Yogyakarta mendapatkan penanganan yang tepat, risiko dilaksanakan dari tanggal 05-23 Juni 2024. komplikasi serius dan bahkan kematian bisa Pengambilan Oleh karena itu, mengonsumsi obat secara teratur sangat penting bagi berjumlah 103 lansia hipertensi. Adapun penderita hipertensi untuk menjaga tekanan kriteria inklusi yang ditetapkan adalah lansia darah mereka dalam rentang yang sehat dan dalam rentang usia 60-90 tahun, yang mengurangi risiko kerusakan pada ginjal, sedang atau pernah mendapat terapi obat jantung dan otak (Suprayitno & Huzaimah, antihipertensi dan bersedia untuk menjadi Selain itu, hipertensi di Indonesia responden penelitian. Sedangkan kriteria berdampak pada pertumbuhan ekonomi dan ekslusi adalah lansia yang tidak kooperatif dan memiliki gangguan . enyakit mental, pengobatan yang tinggi dan berkepanjangan. demensia, komunikas. Biaya perawatan hipertensi terus meningkat. Instrumen menurut data dari Badan Penyelenggara penelitian adalah HFQ (Hypertension Fact Jaminan Sosial (BPJS) dalam Kemenkes RI Questionnair. yang telah telah menjalani . Pada tahun 2016, pengeluaran uji validitas dan reliabilitas sebelumnya. mencapai 2,8 triliun rupiah, tetapi akan Saleem . di Pakistan melakukan uji meningkat menjadi 3 triliun rupiah pada Cronbach's Penelitian 0,70, menunjukkan validitas kuesioner tersebut. tingkat pengetahuan terhadap kepatuhan Kemudian, kuesioner HFQ diadaptasi ke minum obat antihipertensi pada lansia di dalam bahasa Indonesia dan divalidasi ulang Kampung Penumping. Kelurahan Gowongan, oleh Presticasari . di Yogyakarta. Kecamatan Jetis Yogyakarta. memperoleh nilai Cronbach's alpha sebesar 0,707. METODE PENELITIAN Penelitian kuesioner karena nilai Cronbach's alpha > 0,6. Kuesioner HFQ ini telah dikutip sebagai Jurnal Keperawatan I CARE. Vol. 6 No. 1 Tahun 2025 instrumen yang dapat digunakan untuk Panti Rapih Yogyakarta pada tanggal 31 Mei Untuk No. 054/SKEPK-KKE/V/2024. Semua data pengelompokkan kategori hasil skor O 7 yang telah dikumpulkan akan diproses oleh pengetahuan rendah, skor 8-12 pengetahuan peneliti menggunakan teknik analisis data sedang dan skor Ou 13 pengetahuan tinggi. yang telah ditetapkan yaitu uji Chi-Square Sedangkan untuk mengetahui hubungan antara tingkat menggunakan MMAS (Morisky Medication pengetahuan dan kepatuhan dalam minum Adherence Dewi . Scal. obat antihipertensi pada lansia di Kampung validitasnya di Yogyakarta dan dinyatakan Penumping, valid dengan nilai Cronbach's alpha sebesar Kecamatan Jetis. Yogyakarta. Pengambilan 0,71, hasil keputusan hipotesis berdasarkan: (Jasmine. Untuk pengelompokkan kategori hasil skor Ou 6 Kelurahan Gowongan. Nilai Sig. -taile. < 0,05 atau 0,01 maka H0 ditolak dan Ha diterima. patuh dan skor O 5 tidak patuh. Peneliti mendapatkan surat keterangan Nilai Sig. -taile. > 0,05 maka H0 diterima dan Ha ditolak kelaikan etik dari Komite Etik Rumah Sakit HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 1. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Karakteristik Responden Di Kampung Penumping. Kelurahan Gowongan. Kecamatan Jetis Yogyakarta 5-23 Juni 2024 . No. Karakteristik Responden Kelompok Frekuensi Presentase (%) Umur 78,6 % 21,4 % Total Jenis kelamin Laki-laki 37,9 % Perempuan 62,1 % Total Pendidikan terakhir 26,2 % SMP 21,4 % SMA 44,7 % DIPLOMA SARJANA 6,8 % Total Lama menderita hipertensi < 5 tahun 42,7 % Ou 5 tahun 57,3 % Total Sumber: Data Primer . Angelina Clara Dwi Putri. Suparmi . Cornelia Dede Yoshima Nekada Hubungan Tingkat Pengetahuan Terhadap Kepatuhan Minum Obat Antihipertensi Pada Lansia di Kampung Penumping. Kelurahan Gowongan,Kecamatan Jetis Yogyakarta Berdasarkan ada hubungan yang signifikan antara usia karakteristik usia responden yang menderita dan risiko kejadian hipertensi. hipertensi mayoritas berada dalam rentang Dari tabel 1, menunjukan karakteristik usia 60-74 tahun, sebanyak 81 responden jenis kelamin responden yang mengalami . ,6%). Sedangkan 22 responden . ,4%) berada dalam rentang usia 75-90 tahun. perempuan dan sebanyak 39 responden Maulidina dkk . menambahkan bahwa . ,9%) adalah laki-laki. Hal ini dapat usia memiliki pengaruh signifikan terhadap dijelaskan oleh fakta bahwa perempuan cenderung mengalami penurunan sistem hipertensi cenderung meningkat seiring kekebalan tubuh lebih cepat dan sering bertambahnya usia. Proses penuaan alami menghadapi beban tambahan sebagai ibu dapat merusak elastisitas pembuluh darah, rumah tangga, yang dapat menyebabkan menurunkan daya tahan tubuh, dan membuat kelelahan dan penurunan kekebalan tubuh individu lebih rentan terhadap penyakit. (Pujiasih dkk, 2. Penelitian ini sejalan Setelah usia 45 tahun, pembuluh darah dengan penelitian Yunus dkk . , yang menjadi lebih sempit dan kaku karena menunjukkan adanya hubungan signifikan penumpukan kolagen pada lapisan otot antara jenis kelamin dan kejadian hipertensi. dinding arteri dan penurunan kapasitas dan Saat daya tampung pembuluh darah (Yanita, 2. Dengan bertambahnya usia, pembuluh darah meningkat. Hal ini juga didukung oleh mengakibatkan peningkatan tekanan darah. pernyataan Nurhayati dkk . , yang Menurut Nuraeni menyebutkan bahwa perempuan menopause mengalami penurunan kadar estrogen yang bertambahnya usia, mengurangi kapasitas berdampak pada penurunan kadar High dan daya tampung pembuluh darah untuk Density Lipoprotein (HDL) sehingga terjadi . Akibatnya, . ,1%) Aterosklerosis darah cenderung meningkat karena arteri suatu proses yang menimbulkan kekakuan pada pembuluh darah, sehingga pembuluh menyerap perubahan tekanan dengan efektif. Penelitian ini serupa dengan penelitian yang memperbesar diameternya sehingga tekanan dilakukan oleh Nurhayati dkk . bahwa darah meningkat. Jurnal Keperawatan I CARE. Vol. 6 No. 1 Tahun 2025 Tabel makanan yang tinggi natrium dan kolesterol. karakteristik pendidikan terakhir responden Namun pada kenyataannya masih banyak mayoritas . ,7%) berpendidikan terakhir responden yang melanggarnya sehingga SMA, 27 responden . ,2%) berpendidikan mengakibatkan dirinya menderita hipertensi ,4%) dan tekanan darah tidak terkontrol. Menurut berpendidikan terakhir SMP, 1 responden Podungge . , pendidikan merupakan . %) alat penting untuk mempengaruhi perilaku responden . ,8%) berpendidikan terakhir individu dan kelompok agar melakukan Sarjana. Individu dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi cenderung memiliki kesehatan bertujuan untuk meningkatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang faktor-faktor pentingnya pola hidup sehat, yang pada tanda-tanda nilai-nilai Hal Namun, pendidikan saja mungkin membuat mereka lebih berhati-hati dalam tidak cukup untuk memotivasi perubahan menghindari faktor risiko hipertensi seperti jika tidak disertai dengan dukungan yang merokok, konsumsi kopi berlebihan, dan memadai dan intervensi yang lebih praktis. Sebaliknya, pendidikan yang lebih Penelitian ini sejalan dengan penelitian Nugroho dan Sari . , yang menemukan hipertensi yang lebih tinggi. Ini mungkin adanya hubungan antara tingkat pendidikan disebabkan oleh kurangnya pengetahuan dengan kejadian hipertensi. Hipertensi lebih tentang kesehatan pada individu dengan sering terjadi pada individu dengan tingkat tingkat pendidikan rendah, serta kesulitan pendidikan yang rendah karena mereka SD. Diploma sering dikaitkan dengan Pendidikan Hal Akibatnya, pola hidup dan perilaku sehat berkontribusi pada pemahaman yang kurang mereka kurang optimal (Taiso dkk, 2. optimal tentang faktor-faktor risiko dan Tabel sebagian besar responden memiliki tingkat pendidikan yang relatif tinggi (SMA), individu tidak sepenuhnya memahami risiko banyak di antara mereka masih mengalami Banyak responden menyadari pentingnya menjaga pola hidup sehat. Orang faktor risiko hipertensi, terutama pentingnya yang berpendidikan rendah akan lebih sulit atau lambat dalam memperoleh informasi Kurangnya Angelina Clara Dwi Putri. Suparmi . Cornelia Dede Yoshima Nekada Hubungan Tingkat Pengetahuan Terhadap Kepatuhan Minum Obat Antihipertensi Pada Lansia di Kampung Penumping. Kelurahan Gowongan,Kecamatan Jetis Yogyakarta tentang hipertensi beserta bahayanya dan Ketika seseorang sudah lama menderita cara pencegahannya dan hal tersebut akan hipertensi, maka potensi ketidakpatuhan berdampak pada pola hidup dan perilaku terhadap pengobatan cenderung meningkat dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan karena rasa bosan atau kejenuhan yang dapat orang yang berpendidikan tinggi akan Sebagian besar penderita merasa dengan lebih baik. Karakteristik lama menderita hipertensi Penderita hipertensi yang telah mengalami berdasarkan hasil analis data dari tabel 4. kondisi ini selama satu hingga lima tahun diperoleh bahwa sebanyak 44 responden cenderung lebih aktif mencari pengobatan . ,7%) menderita hipertensi < 5 tahun dan karena mereka memiliki motivasi yang lebih . ,3%) telah tinggi untuk mematuhi pengobatan. Rasa menderita hipertensi Ou 5 tahun. Menurut ingin tahu tentang penyakit dan harapan Indriana untuk sembuh mendorong mereka untuk memiliki pengalaman yang lama sehingga mencari pengobatan yang lebih banyak dan mengikuti regimen pengobatan dengan lebih penggunaan obat. Pengalaman dan tingkat Sebaliknya, penderita hipertensi yang pendidikan merupakan komponen yang telah mengalami kondisi ini lebih dari lima tahun mungkin merasakan kelelahan atau Pengalaman seseorang terhadap kejenuhan dalam menjalani pengobatan. Pengalaman lama dengan hasil yang kurang pengetahuannya seiring dengan lamanya memuaskan atau kesulitan dalam mengelola hipertensi bisa membuat mereka merasa pengetahuan akan meningkat seiring dengan frustrasi atau bosan. Penderita mungkin Penelitian ini sejalan dengan mulai merasa bahwa pengobatan tidak penelitian yang dilakukan oleh Balqis . efektif, sehingga mereka mungkin menjadi . , kurang patuh. Kekecewaan dengan hasil hipertensi dengan kepatuhan minum obat. untuk terus mengikuti regimen pengobatan. Tabel 2 Distribusi Tingkat Pengetahuan Tentang Hipertensi Di Kampung Penumping. Kelurahan Gowongan. Kecamatan Jetis Yogyakarta 5-23 Juni 2024 . Jumlah Jurnal Keperawatan I CARE. Vol. 6 No. 1 Tahun 2025 Tingkat Pengetahuan Rendah Sedang Tinggi Total Sumber: Data Primer . Berdasarkan Tabel 2, menunjukkan tanda-tanda Dengan pengetahuan sedang, yaitu sebanyak 54 langkah yang diperlukan untuk mengelola Pujiasih kondisi ini, seperti perubahan gaya hidup . , pengetahuan tentang hipertensi atau pengobatan, hal ini dapat mengurangi . ,4%). Menurut pengelolaan penyakit ini. Pasien dengan kualitas hidup. Selain itu, sebagian besar pengetahuan yang baik tentang hipertensi termasuk pemahaman tentang pengertian, mengonsumsi garam berlebihan tidak dapat penyebab, gejala, dan pentingnya kepatuhan meningkatkan tekanan darah dan daging terhadap pengobatan yang konsisten dan kambing serta sapi baik untuk penderita berkesinambungan dalam jangka panjang. Menurut Manuntung . , maka pasien akan lebih termotivasi untuk mengikuti pengobatan yang diberikan. hipertensi karena meningkatkan volume Berdasarkan plasma, curah jantung, dan tekanan darah. kuesioner tentang pengetahuan hipertensi Konsumsi berlebihan garam atau makanan mayoritas responden memiliki pengetahuan yang diasinkan dapat meningkatkan tekanan yang rendah dan tidak mengetahui tentang Oleh karena itu, penderita hipertensi nilai tekanan darah normal yang tinggi, sebaiknya tidak mengonsumsi makanan padahal sangat penting bagi penderita yang diasinkan atau terlalu asin atau hipertensi untuk mengetahui klasifikasi membatasi asupan natrium hingga 1,5 g tekanan darah. Menurut Nofalia dkk . atau 3,5 - 4 g garam per hari. Menurut penting untuk meningkatkan pemahaman Wade lansia tentang klasifikasi tekanan darah dan memiliki kandungan protein tinggi dapat meningkatkan tekanan darah karena dapat hipertensi sangat krusial untuk mencegah menyebabkan penambahan berat badan, komplikasi serius yang dapat timbul pada sehingga meningkatkan risiko peningkatan Mengetahui nilai tekanan darah tekanan darah. Penumpukan lemak jenuh normal dan secara rutin memantau tekanan dalam tubuh dapat meningkatkan risiko aterosklerosis, kondisi di mana tekanan Deteksi Angelina Clara Dwi Putri. Suparmi . Cornelia Dede Yoshima Nekada Hubungan Tingkat Pengetahuan Terhadap Kepatuhan Minum Obat Antihipertensi Pada Lansia di Kampung Penumping. Kelurahan Gowongan,Kecamatan Jetis Yogyakarta darah meningkat. Oleh karena itu, penderita hipertensi disarankan untuk menghindari perempuan sering kali unggul dibandingkan konsumsi daging sapi atau kambing yang laki-laki dalam berbagai jenjang pendidikan, tinggi lemak jenuh. Selain itu, banyak mulai dari sekolah dasar hingga perguruan hipertensi hanya perlu minum obat secara Selain faktor jenis kelamin, pendidikan teratur tanpa melakukan perubahan gaya Namun, kenyataannya, tidak semua tingkat pengetahuan. Menurut Mulyani kasus hipertensi memerlukan pengobatan . , ada hubungan erat antara tingkat obat saja. Untuk mengontrol tekanan darah pendidikan dan pengetahuan. Pendidikan tinggi, penting untuk menjalani gaya hidup yang lebih tinggi memungkinkan individu dikonsumsi setiap hari. informasi, yang dapat membantu mencegah Menurut asumsi peneliti dan hasil jenis kelamin tampaknya Orang dengan pendidikan mempengaruhi tingkat pengetahuan, di lebih tinggi umumnya lebih baik dalam mana perempuan menunjukkan tingkat pengetahuan yang lebih tinggi dibandingkan dibandingkan mereka dengan pendidikan laki-laki. Hal ini mungkin dipengaruhi oleh yang lebih rendah. Selain faktor pendidikan, usia dapat mempengaruhi pengetahuan. Penelitian Anwar dkk . Adriani dkk . menjelaskan bahwa menunjukkan bahwa perempuan cenderung kondisi, fungsi, dan kemampuan tubuh memiliki tingkat kecerdasan yang lebih secara keseluruhan, termasuk kapasitas tinggi dibandingkan laki-laki. Perbedaan ini Seiring fisiologis otak antara pria dan wanita, yang dapat memengaruhi kecerdasan. Meskipun aspek kognitif, yang dapat berdampak pada demikian, perbedaan ini tidak selalu secara tingkat pengetahuan mereka. Faktor internal langsung memengaruhi kecerdasan individu. dan eksternal juga dapat memengaruhi Sebuah meta-analisis tahun 2014 mengenai Faktor internal mencakup pencapaian akademik berdasarkan jenis unsur-unsur fisiologis dan psikologis yang Jurnal Keperawatan I CARE. Vol. 6 No. 1 Tahun 2025 berasal dari dalam diri seseorang, seperti informasi, dukungan sosial, dan kesempatan keadaan kesehatan dan keinginan pribadi. Faktor eksternal meliputi lingkungan sosial pelatihan (Pratiwi, 2. dan non-lingkungan, seperti akses terhadap Tabel 3 Distribusi Tingkat Kepatuhan Minum Obat Antihipertensi Di Kampung Penumping. Kelurahan Gowongan. Kecamatan Jetis Yogyakarta 5-23 Juni 2024 . Jumlah Kategori Kepatuhan Tidak patuh Patuh Total Sumber: Data Primer . Berdasarkan penyebab utama kegagalan terapi (Juniarti bahwa mayoritas responden yaitu sebanyak 66 orang . ,1%) dalam kategori tidak patuh. mengakibatkan kontrol tekanan darah yang Menurut buruk dan meningkatkan risiko komplikasi pengobatan mengacu pada sejauh mana terkait hipertensi. Oleh karena itu, sangat penting bagi pasien untuk meningkatkan pengobatan, perawatan dan tindakan yang kesadaran dan motivasi dalam mematuhi dianjurkan oleh tenaga kesehatan. Dalam regimen pengobatan. konteks hipertensi, kepatuhan pengobatan Berdasarkan Pakpahan . Ketidakpatuhan sangat penting karena hipertensi adalah responden yang tidak patuh minum obat anti sepenuhnya dan memerlukan pengelolaan jangka panjang. Kepatuhan dalam konsumsi Beberapa alasan umum yang dilaporkan termasuk sering lupa minum obat, baik saat di rumah maupun ketika sedang bepergian. Hasil serta merasa repot dengan kewajiban minum pengobatan pasien yang mematuhi petunjuk obat setiap hari. Menurut asumsi peneliti dan pengobatan cenderung lebih baik, yang berarti kualitas hidup mereka lebih baik. merupakan komponen yang mempengaruhi Sebaliknya, kepatuhan dalam minum obat. Menurut Taiso . , risiko tinggi hipertensi sering kali penyembuhan dan sering kali menjadi berhubungan dengan kurangnya pengetahuan Angelina Clara Dwi Putri. Suparmi . Cornelia Dede Yoshima Nekada Hubungan Tingkat Pengetahuan Terhadap Kepatuhan Minum Obat Antihipertensi Pada Lansia di Kampung Penumping. Kelurahan Gowongan,Kecamatan Jetis Yogyakarta tentang kesehatan. Penelitian menunjukkan Kekurangan dukungan ini dapat mengurangi kepatuhan penderita hipertensi (Nuratiqa, pengobatan disebabkan oleh berbagai faktor. Pujiasih . menambahkan bahwa seperti pengetahuan yang terbatas, motivasi ketidakpatuhan dalam konsumsi obat dapat yang rendah untuk berobat, kurangnya mengakibatkan penderita hipertensi tidak dapat mengontrol tekanan darah mereka dengan baik, yang dapat menyebabkan komplikasi serius atau bahkan kematian. kesehatan khususnya untuk lansia. Ketika Selain motivasi penderita rendah, tingkat kepatuhan mereka dalam mengikuti pengobatan juga banyak obat yang harus diambil, semakin tinggi kemungkinan penderita tidak patuh. Oleh karena itu, penderita hipertensi harus dipantau dan dikontrol secara teratur selama Dukungan meningkatkan kepatuhan dalam minum obat. pengobatan untuk mencegah komplikasi. Tabel 4 Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan Terhadap Kepatuhan Minum Obat Antihipertensi Di Kampung Penumping. Kelurahan Gowongan. Kecamatan Jetis Yogyakarta 5-23 Juni 2024 . Kategori Kepatuhan Total (%) P-value Tidak patuh Patuh Tingkat Rendah ,7%) ,35%) Pengetahuan 0,001 Sedang 41 . ,6%) 13 . ,4%) Tinggi 5 . ,7%) 18 . ,3%) Total (%) Sumber: Data Primer . Berdasarkan Tabel 4, hasil analisa data kepatuhan tinggi, sebanyak 18 responden dengan uji Chi Square menunjukkan ada . ,3%). Bila dilihat dari tingkat pengetahuan hubungan antara tingkat pengetahuan dan responden, sebagian besar responden . ,6%) kepatuhan dalam minum obat antihipertensi memiliki tingkat pengetahuan sedang. Hal Penumping, ini menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan Kelurahan Gowongan. Kecamatan Jetis, yang baik tidak selalu sejalan dengan Yogyakarta (P value sebesar 0. kepatuhan dalam minum obat antihipertensi. Berdasarkan Kampung Tabel 4 menunjukkan Menurut Mulyani . , bahwa responden dengan tingkat kepatuhan sedang, sebanyak 41 responden . ,6%), terhadap pengobatan, pengetahuan saja tidak menjamin kepatuhan. Pengetahuan yang Jurnal Keperawatan I CARE. Vol. 6 No. 1 Tahun 2025 pengobatan yang direkomendasikan. mengendalikan tekanan darah, mencegah SIMPULAN DAN SARAN kualitas hidup. Hal ini sejalan dengan teori Lawrence Berdasarkan penelitian yang berjudul Syamsudin dkk . , yang menyatakan hubungan tingkat pengetahuan terhadap bahwa pengetahuan dapat memengaruhi kepatuhan minum obat antihipertensi pada perilaku kepatuhan. Pengetahuan yang baik lansia di Kampung Penumping. Kelurahan dapat mendorong pasien untuk menjaga Gowongan. Kecamatan Jetis Yogyakarta, kesehatan mereka dengan lebih baik. Selain maka dapat disimpulkan: itu, pengetahuan yang baik sangat penting Green Simpulan usia paling banyak terjadi pada rentang terhadap pengobatan hipertensi mereka. usia 60-74 tahun sebanyak 78,6%. Dengan Mayoritas responden berjenis kelamin Karakteristik mengenai manfaat dan pentingnya minum 62,1%. obat secara teratur, pasien cenderung lebih Karakteristik patuh dalam menjalani regimen pengobatan tertinggi yaitu SMA sebanyak 44,7%. Kepatuhan ini sangat penting untuk Mayoritas responden sebanyak 57,3% menstabilkan tekanan darah dan mencegah telah menderita hipertensi lebih dari 5 komplikasi serius yang dapat timbul dari hipertensi yang tidak terkelola dengan baik. Tingkat pengetahuan responden paling Sebaliknya, ketidakpatuhan dalam minum tinggi pada kategori sedang sebanyak obat dapat mengakibatkan dampak negatif 52,4%. Sedangkan pengetahuan rendah pada kondisi klinis pasien, termasuk risiko sebanyak 25,2% dan pengetahuan tinggi komplikasi yang tidak diinginkan. Penelitian sebanyak 22,3%. ini sejalan dengan penelitian yang telah Tingkat dilakukan oleh Juniarti dkk . yang persentase tertinggi pada kategori tidak menunjukkan adanya hubungan signifikan antara tingkat pengetahuan pasien dan kategori patuh sebanyak 35,9%. kepatuhan dalam minum obat. Hal ini 64,1%. Sedangkan Terdapat hubungan tingkat pengetahuan menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat pengetahuan pasien tentang pengobatan dan antihipertensi pada lansia di Kampung manajemen hipertensi, semakin tinggi pula Penumping. Kecamatan Jetis Yogyakarta. Kelurahan Gowongan. Angelina Clara Dwi Putri. Suparmi . Cornelia Dede Yoshima Nekada Hubungan Tingkat Pengetahuan Terhadap Kepatuhan Minum Obat Antihipertensi Pada Lansia di Kampung Penumping. Kelurahan Gowongan,Kecamatan Jetis Yogyakarta Saran Bagi mengonsumsi obat antihipertensi secara menerapkan gaya hidup sehat untuk hasil terapi yang optimal. Bagi melakukan monitoring dan evaluasi berkala, termasuk kunjungan rumah kepatuhan pasien dalam konsumsi obat. Bagi peneliti selanjutnya yang ingin meneliti kembali terkait penelitian ini, mempertimbangkan faktor lain yang motivasi, perilaku, dukungan tenaga kesehatan dan keluarga, jumlah obat. Jika meneliti perilaku, sebaiknya ada data pendukung dari keluarga atau orang terdekat pasien. DAFTAR PUSTAKA