Ermayanty et al. / Journal of Entrepreneurial Studies (JES) Vol. 1 No. 2 pp. Uji Eksperimental Respon Konsumen terhadap Penerimaan Produk Cookies Sorgum Mauurasa Ermayanty1. Agatha Liney Simamora2*. Diyah Tulipa3 *Email Penulis Penghubung: agathasimamora@ukwms. PT. Davinovanno Bhakta Lestantun1 Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya2,3 Prosesi Artikel Diunggah: 12-11-2024 Direvisi: 23-11-2024 Diterima: 27-11-2024 Abstract: This study aims to evaluate consumer responses to Sorghum Cookies "Mauurasa," a healthy snack alternative based on local food ingredients. Sorghum was chosen as the main ingredient due to its high carbohydrate-replacing capacity, as well as its Aber and protein content. To enhance nutritional value, the product is also enriched with oat Cour and chia seeds. The study employs a quantitative experimental method involving 100 students from Widya Mandala Catholic University Surabaya as respondents. Data were collected through observation, interviews, and questionnaires, and analyzed using organoleptic tests and consumer acceptability evaluation. The results show that the majority of respondents gave positive responses to the taste, aroma, and texture of Sorghum Cookies Mauurasa. The aroma indicator recorded the highest score, with an average of 382. followed by taste at 376. 40, and texture at 366. However, the color indicator received a neutral assessment, with an average score of 331. This neutral response was identiAed as a result of suboptimal baking processes and less appealing packaging design. Respondents also appreciated the one-bite size concept but suggested diversifying packaging sizes to cater to a wider range of consumer Keywords: Sorghum-based Products. Healthy snacks. Consumer preferences. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi respon konsumen terhadap Cookies Sorgum "Mauurasa", sebuah alternatif camilan sehat yang berbasis bahan pangan lokal. Sorgum dipilih sebagai bahan utama ka-rena kandungan utamannya bisa menggantikan karbohidrat serta mengandung serat, dan protein. Untuk meningkatkan nilai gizi, produk ini juga diperkaya dengan tepung oat dan chia seed. Penelitian menggunakan metode eksperimen kuantitatif dengan melibatkan 100 mahasiswa Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya sebagai re-sponden. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan kuesioner, yang kemudian dianalisis menggunakan uji organoleptik dan daya terima konsumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden memberikan respon positif terhadap rasa, aroma, dan tek-stur Cookies Sorgum Mauurasa. Indikator aroma mencatat skor tertinggi dengan rata-rata 382,60, diikuti rasa sebesar 376,40, dan tek-stur sebesar 366,60. Namun, indikator warna memperoleh penilaian netral dengan rata-rata skor 331,00. Respon netral ini diidentiAkasi sebagai hasil dari proses pemanggangan yang belum optimal dan desain kemasan yang kurang menarik. Responden juga mengapresiasi konsep ukuran one-bite, tetapi menyarankan adanya diversiAkasi ukuran kemasan untuk memenuhi preferensi konsumen yang lebih luas. Kata Kunci: Produk berbasis sorgum, camilan sehat, preferensi konsumen. PENDAHULUAN Indonesia, sebagai negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia, memiliki tantangan dalam pemenuhan kebutuhan pangan. Gandum, yang banyak digunakan sebagai bahan dasar tepung terigu untuk berbagai produk makanan, masih harus diimpor karena tidak dapat tumbuh DOI: https://doi. org/10. 33508/jes. optimal di iklim tropis. Ketergantungan pada impor gandum membuat Indonesia rentan terhadap Cuktuasi harga pangan global. Krisis diperburuk oleh invasi Rusia ke Ukraina, telah menyebabkan lonjakan harga gandum hingga tiga kali lipat (FAO, 2. Untuk mengurangi ketergantungan terhadap Ermayanty et al. / Journal of Entrepreneurial Studies (JES) Vol. 1 No. 2 pp. gandum, diperlukan substitusi bahan baku dengan sorgum. Sorgum, sebagai komoditas pangan lokal dengan nilai ekonomis tinggi, memiliki manfaat yang besar. Sorgum mengandung 83% karbohidrat, 3,5% lemak, dan 10% protein (Siregar & Mardiyah, 2. , sehingga sangat baik untuk memenuhi kebutuhan nutrisi masyarakat. Kecenderungan masyarakat modern untuk mengonsumsi makanan praktis telah meningkatkan popularitas camilan berbahan dasar tepung, termasuk cookies. Cookies sering disajikan bersama teh atau kopi, menjadikannya camilan favorit di berbagai kesempatan (Syafutri & Indriana, 2. Berdasarkan survei Jakpat, nastar menempati posisi pertama sebagai kue lebaran favorit dengan 67,3% responden, diikuti oleh chocochip cookies . ,1%) dan putri salju . ,1%) (Sadya, 2. Gambar 1. GraAk Kue lebaran Favorite Masyarakat Indonesia Sumber: Sadya . Bisnis cookies sangat potensial untuk dijalankan baik dalam skala kecil maupun Selain itu, cookies Indonesia yang unik dalam rasa dan tekstur memiliki peluang besar untuk menarik perhatian pasar internasional (Santoso, 2. Dengan meningkatnya kesadaran akan kesehatan, terdapat peluang untuk mengembangkan cookies yang lebih sehat, seperti rendah gula atau rendah gluten, guna memenuhi kebutuhan konsumen dengan diet khusus. Mauurasa berdiri pada tahun 2022 sebagai brand yang menghadirkan produk cookies yang menggunakan sorgum sebagai bahan utama. Sorgum dipilih karena memiliki manfaat dan kandungan serat yang lebih tinggi dibandingkan dengan gandum. Selain sorgum. Mauurasa juga menambahkan bahan-bahan seperti tepung oat dan chia seed untuk meningkatkan kandungan serat harian. Setelah melalui proses pengujian dengan berbagai komposisi bahan, akhirnya diperoleh resep yang sesuai untuk dijadikan produk unggulan. Produksi cookies Mauurasa dapat disesuaikan dengan permintaan konsumen. Untuk konsumen terhadap produk, dilakukan survei dengan metode uji organoleptik. Hal ini bertujuan untuk mengukur preferensi konsumen terhadap rasa, aroma, dan tekstur Dalam menjaga kualitas produk, kemasan Mauurasa dirancang dengan memperhatikan berbagai aspek penting, seperti logo, nama merek, label, informasi bahan, dan izin yang diperlukan. Kemasan ini diharapkan dapat menyampaikan pesan yang tepat kepada konsumen sekaligus menjaga kualitas cookies. Dalam penerimaan konsumen terhadap cookies Mauurasa, eksperimental untuk mengukur preferensi konsumen berdasarkan rasa, tekstur, aroma, dan nilai gizi. Menurut Meilgaard & Civille . , perilaku konsumen dipengaruhi oleh preferensi individu, pengalaman sebelumnya, dan asosiasi merek. Faktor-faktor seperti kerenyahan, kemudahan menelan, aftertaste, harga, promosi, dan kemasan juga menjadi pertimbangan penting dalam keputusan pembelian (Hanifa et al. , 2023. Nuraliyah et , 2. Sorgum sebagai bahan baku utama tidak hanya kaya akan kandungan gizi, tetapi juga berpotensi menjadi alternatif pangan Berdasarkan sebelumnya, sorgum memiliki manfaat kesehatan yang signiAkan dan dapat menjadi daya tarik bagi konsumen yang mencari camilan sehat (Suarni, 2. Berdasarkan fenomena, teori, dan penelitian terdahulu, penulis berupaya memahami faktor-faktor yang memengaruhi penerimaan konsumen terhadap cookies Mauurasa. Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimalkan produk sesuai dengan preferensi dan kebutuhan konsumen melalui uji eksperimental terhadap produk cookies sorgum Mauurasa. Ermayanty et al. / Journal of Entrepreneurial Studies (JES) Vol. 1 No. 2 pp. KAJIAN PUSTAKA Perilaku dan Preferensi Konsumen Konsumen merupakan individu atau entitas yang menggunakan barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhan atau keinginan Konsep konsumen mencakup tidak hanya individu, tetapi juga kelompok, organisasi, atau institusi yang membeli atau menggunakan produk dan layanan. Menurut Tri . , konsumen memiliki peran penting dalam perekonomian karena keputusan pembelian mereka memengaruhi permintaan, penawaran, serta harga barang dan jasa. Perusahaan perlu memahami siapa konsumen mereka, apa yang mereka butuhkan dan inginkan, serta cara terbaik untuk memenuhi kebutuhan tersebut (Santi & Novitaningtyas, 2. Perilaku konsumen mengacu pada serangkaian aktivitas mental dan Asik yang dilakukan individu atau menggunakan, dan mengevaluasi produk atau layanan. Studi ini juga mengeksplorasi berbagai aspek yang memengaruhi preferensi dan keputusan pembelian konsumen (Peter & Olson, 2. Aspek psikologis dan emosional, seperti persepsi, sikap, motivasi, serta kepribadian, memainkan peran signiAkan dalam perilaku konsumen. Faktor eksternal seperti teknologi, tren pasar, dan situasi politik juga dapat memengaruhi keputusan konsumen (Sangadji, 2. Oleh karena itu, perusahaan perlu memahami bagaimana konsumen berpikir, merasa, dan bertindak dalam berbagai situasi untuk merancang strategi pemasaran yang efektif (Menitulo et , 2. Dalam evaluasi produk seperti cookies sorgum Mauurasa, teori konsumen dan preferensi konsumen menjadi alat penting untuk memahami perilaku pasar. Teori konsumen memberikan wawasan tentang bagaimana individu membuat keputusan pembelian berdasarkan preferensi Di sisi lain, penelitian preferensi bagaimana cita rasa, tekstur, nilai gizi, dan faktor lainnya memengaruhi evaluasi produk (Pangestu, 2. Teori ini memungkinkan produsen memahami faktor-faktor penting dalam keputusan pembelian, seperti harga, kualitas, merek, dan preferensi pribadi. Dengan memahami elemen-elemen ini, produsen dapat memperbaiki produk mereka agar lebih sesuai dengan keinginan pasar (Musa & NiAta, 2. Melalui penelitian pasar dan studi konsumen, produsen dapat mengumpulkan data yang relevan tentang preferensi konsumen terhadap cookies sorgum Mauurasa. Metode seperti survei dan pengujian produk dapat membantu produsen dalam meningkatkan strategi pemasaran, pengembangan produk, serta pengambilan keputusan bisnis. Hal ini akan memastikan bahwa produk dapat diterima dengan baik di pasar dan memenuhi kebutuhan konsumen secara efektif. Dengan pendekatan yang tepat, cookies sorgum Mauurasa memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu pilihan utama konsumen, terutama dengan peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya konsumsi makanan sehat dan Kemasan Produk Kemasan memiliki peran penting dalam membangun identitas sebuah produk. Selain mencerminkan penampilan Asik produk, kemasan juga memberikan kesan awal kepada konsumen terhadap produk yang dijual. Secara umum, kemasan berfungsi sebagai wadah, pembungkus, pelindung, sekaligus elemen estetika yang dapat mencegah kerusakan dan memperindah tampilan produk. Menurut Kotler . , kemasan melibatkan proses desain dan produksi sehingga dapat memberikan perlindungan optimal bagi produk di dalamnya. Desain kemasan yang baik tidak hanya memastikan produk tetap aman, tetapi juga dapat menarik perhatian konsumen dan mencerminkan nilai produk itu sendiri. Berdasarkan hal tersebut, desain kemasan untuk produk Cookies Sorgum Mauurasa telah dirancang agar dapat mencerminkan identitas produk sekaligus memberikan manfaat, baik secara fungsional maupun estetis. Ermayanty et al. / Journal of Entrepreneurial Studies (JES) Vol. 1 No. 2 pp. Mauurasa pada segi rasa, aroma, tekstur, warna dan penampilan Asik. Gambar 2. Kerangka Berpikir Sumber: Olah data peneliti . METODE PENELITIAN Desain Penelitian Penelitian pendekatan kuantitatif. Penelitian kuantitatif yaitu penelitian yang mementingkan kedalaman data dan dapat merekam data sebanyak-banyaknya dari populasi yang luas (Masyhuri & Zainuddin, 2. Pendekatan kuantitatif merupakan salah satu jenis kegiatan penelitian yang spesiAkasinya adalah sistematis terencana dan terstruktur dengan jelas sejak awal hingga pembuatan desain penelitian (Sugiyono, 2. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian Eksperimental. Penelitian merupakan salah satu jenis penelitian kuantitatif yang sangat kuat mengukur hubungan sebab akibat. Penelitian ini disebut penelitian eksperimen lapangan (Prasetyo dan Jannah, 2. Desain penelitian eksperimen yang digunakan adalah jenis Quasi Eksperimental atau disebut juga ekperimen semu yang menguji variable bebas dengan variabel terikat yang dilakukan terhadap partisipan. Eksperimentasi yang dilakukan berbentuk uji organoleptik dan uji daya terima konsumen. Partisipan akan dikumpulkan didalam satu tempat dan diberikan penjelasan terkait dengan maksud dan tujuan penelitian ini. Lebih lanjut dilakukan pembagian sampel produk atau tester untuk kebutuhan pelaksanaan uji organoleptik dan uji daya terima konsumen terhadap cookies sorgum Populasi dan Sampel Menurut Sugiyono . , deAnisi populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk Berkenaan dengan itu, maka populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya. Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi Bila populasi besar, dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi, misalnya keterbatasan dana, tenaga dan waktu, maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi itu. Apa yang dipelajari dari sampel itu, kesimpulannya akan dapat diberlakukan untuk populasi. Untuk itu sampel yang betul-betul representative (Sugiyono, 2. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sampel adalah sumber data yang diambil dari menggambarkan sifat populasi yang Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik simplerandom sampling. Dimana maksud dari simplerandom sampling yaitu teknik pengambilan sampel yang dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam Adapun yang menjadi sampel pada penelitian ini yaitu sebanyak 100 Mahasiswa Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya. Jumlah data yang telah terkumpul sebanyak 156 respons, namun terdapat kekosongan data pada 56 respons yang telah terkumpul dari partisipan. Data yang tidak terisi tidak di gunakan dalam pengolahan Ermayanty et al. / Journal of Entrepreneurial Studies (JES) Vol. 1 No. 2 pp. Tabel 1. Deskripsi Kuesioner Responden Uraian Frekuensi Persentase Kuesioner Kuesioner yang diisi Kuesioner yang gugur Kuesioner Sumber: Data Primer yang diolah . Teknik Pengumpulan Data Observasi konsumen terhadap penerimaan produk cookies sorgum Mauurasa akan melibatkan pengamatan langsung terhadap interaksi konsumen dengan produk tersebut di berbagai konteks, mulai dari pengalaman berbelanja di toko hingga penggunaan produk di rumah (Fitri, 2. Observasi ini dapat mencakup reaksi konsumen terhadap kemasan produk, perilaku saat memilih produk di rak, ekspresi wajah dan bahasa tubuh saat mencoba produk, serta cara mengonsumsi cookies sorgum Mauurasa. Melalui observasi yang cermat dan sistematis ini, peneliti dapat memperoleh pemahaman konsumen bereaksi terhadap produk tersebut dalam situasi nyata, serta faktor-faktor yang memengaruhi persepsi dan penerimaan mereka terhadap cookies sorgum Mauurasa. Teknik menggunakan kuesioner dengan google form sebagai media evaluasi, dapat diketahui bahwa penggunaan google form dapat membantu dalam penilaian test yang tepat dan efektif juga digunakan karena dapat membantu dalam penilaian secara tidak langsung dan mengakses yang tidak rumit (Talakua et al. , 2. Pembagian kuesioner dengan google form menggunakan kode batang yang bisa di akses langsung. Data pada google form dari responden berisikan jenis kelamin, usia, waktu, tingkat pengeluaran, kepedulian terhadap kesehatan, serta uji organoleptik yang jadi bagian kuesioner. Variabel yang di gunakan dalam menilai makanan yang dapat di terima oleh konsumen, seperti ukuran, bentuk, warna tekstur dan rasa memainkan peranan penting berdasarkan definisi tersebut di atas dapat di jelaskan bahwa kualitas makanan yaitu kesesuain makanan yang di terima dan di konsumsi (Widayanti et al. , 2. , adapun variabel yang digunakan: Warna: Warna dari bahan-bahan makanan harus di kombinasikan sedemikian rupa supaya tidak terlihat pucat atau warnanya tidak serasi. kombinasi warna sangat membantu dalam selera makan konsumen. Tekstur: Ada banyak macam tektur makanan ada yang halus atau kasar, keras atau lembut, renyah atau padat. Aroma: Aroma adalah bagian reaksi yang dapat di cium dari panca indra hidung yang di hasilkan dari makanan yang bisa menggugah selera. Bentuk: Bentuk yang di hasilkan bisa berupa kesesuaian hasil dari pengamatan cookies yang bisa di liat langsung. Rasa: Rasa yang di hasilkan dari titik perasa lidah yang memiliki kemampuan mendeteksi dasar rasa makanan yaitu manis, asam, asin, pahit. Makanan tertentu sering kali menggabungkan empat rasa yang unik dan menarik untuk di Pengujian Data Pengujian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah uji organoleptik dan uji daya terima konsumen. Organoleptik adalah sebuah uji bahan makanan berdasarkan kesukaan dan keinginan pada suatu produk. Uji organoleptik biasa disebut juga uji indera atau uji sensori merupakan cara pengujian dengan menggunakan indera manusia sebagai alat utama untuk pengukuran daya penerimaan terhadap Indera yang dipakai dalam uji organoleptik adalah indera penglihat/mata, penciuman/hidung, pengecap/lidah, indera peraba/tangan. Kemampuan alat indera inilah yang akan Ermayanty et al. / Journal of Entrepreneurial Studies (JES) Vol. 1 No. 2 pp. menjadi kesan yang nantinya akan menjadi penilaian terhadap produk yang diuji sesuai dengan sensor atau rangsangan yang diterima oleh indera. Uji Organoleptik Deskriptif mengindetiAkasi karakteristik sensori yang penting pada suatu produk dan memberikan informasi mengenai drajat atau karakterisitik tersebut. Pengujian deskriptif terdiri atas uji scoring atau skaling. Cavor proAle & texture proAle dan Qualitative Descriptive Analysis (QDA) (Ayustaningwarno, 2. Kemampuan indera dalam menilai meliputi kemampuan mendeteksi, mengenali, kemampuan menilai suka atau tidak suka (Saleh, 2. Pengujian sensoris ini bertujuan untuk mengetahui tingkat penerimaan konsumen terhadap Cookies Sorgum Mauurasa pada segi Rasa. Aroma. Tekstur. Warna dan penampilan Asik. Skala yang digunakan dengan pengujian hedonic scale scoring yang mana terdiri dari 1 hingga 5 yang menunjukkan tingkat kesukaan, mulai dari Tingkat sangat tidak suka hingga sangat suka berdasarkan indikator Rasa. Aroma. Tekstur. Warna dan Penampilan Fisik. Daya terima konsumen adalah tingkat kesukaan konsumen terhadap Daya terima konsumen yang dimaksud adalah sikap konsumen terhadap warna, aroma, tekstur, dan rasa pada suatu (Ganjar, 2003 dalam Gusnadi, 2. Daya terima konsumen dalam penelitian ini diukur menggunakan pembobotan dan perangkingan dari hasil uji organoleptik. Pembobotan dilakukan dengan mengalikan jumlah respoden dengan tingkat kesukaan sesuai dengan skala kesukaan. Berdasarkan perangkingan dan pembagian kriteria kemudian diplotkan ke dalam spider web graph guna membandingkan daya terima konsumen berdasarkan tingkat kesukaan. HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Responden Respoden dalam penelitian ini adalah 154 orang mahasiswa Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya. Responden merupakan mahasiswa yang terdiri dari sebanyak 75 berjenis kelamin laki-laki dan sebanyak 79 berjenis kelamin perempuan Kuesioner telah diisi oleh 156 orang kemudian dikompilasi dan diolah menjadi data penelitian dan data yang digunakan berjumlah 100 orang, karena sebanyak 56 orang data tidak terisi dengan lengkap. Berdasarkan data yang diperoleh maka diketahui bahwa jumlah pada semua indikator lengkap dan sesuai sejumlah 100 Responden dalam penelitian ini dikelompokkan berdasarkan 4 . kriteria utama yaitu Jenis Kelamin. Usia. Pengeluaran perbulan untuk konsumsi camilan dan tingkat konsumsi cookies. Berdasarkan kriteria dimaksud, peneliti memperoleh hasil bahwa 57 orang atau 57% responden berjenis kelamin laki-laki dan 43 orang atau 43% responden berjenis kelamin Responden terbanyak adalah responden dengan usia diatas/ sama dengan 21 tahun dimana 50 orang berjenis kelamin laki-laki dan 36 orang berjenis kelamin Hal ini berarti 86 orang atau 86% berusia diatas/ sama dengan 21 tahun dan sisanya sebanyak 14 orang atau 14% berusia kurang/ sama dengan 20 tahun. Lebih lanjut, data responden juga tercatat bahwa 82 orang atau 82% orang dalam sebulan mencatatkan pengeluaran sebesar Rp. 000,- s. Rp. 000,untuk membeli camilan. Sedangkan hanya 4 orang atau 4% mencatatkan pengeluaran lebih dari Rp. 000,- dan sisanya mencatatkan pengeluaran Rp. 000,sampai Rp. 000,- untuk konsumsi camilan selama satu bulan. Ermayanty et al. / Journal of Entrepreneurial Studies (JES) Vol. 1 No. 2 pp. Tabel 2. Jawaban Responden Pernyataan A1. Rasa [Saya menyukai rasa Cookies Mauuras. A2. Rasa [Cookies Mauurasa Mani. A3. Rasa [Cookies Mauurasa Guri. A4. Rasa [Cookies Mauurasa Asi. A5. Rasa [Rasa Cookies Mauurasa sesuai dengan selera say. B1. Aroma [Saya menyukai aroma Cookies Mauuras. B2. Aroma [Cookies Mauurasa Haru. B3. Aroma [Cookies Mauurasa tidak B4. Aroma [Cookies Mauurasa beraroma kej. B5. Aroma [Cookies Mauurasa memiliki aroma menggugah seler. C1. Tekstur [Saya menyukai tekstur Cookies Mauuras. C2. Tekstur [Tekstur Cookies Mauurasa Kera. C3. Tekstur [Tekstur Cookies Mauurasa lembu. C4. Tekstur [Tekstur Cookies Mauurasa renya. C5. Tekstur [Tekstur Cookies Mauurasa sesuai dengan seler. D1. Warna [Warna Cookies Mauurasa menari. D2. Warna [Warna Cookies Mauurasa Coklat keemasa. D3. Warna [Warna Cookies Mauurasa menggugah seler. D4. Warna [Warna Cookies Mauurasa puca. D5. Warna [Warna Cookies Mauurasa Terlihat Fres. E1. Bentuk dan Ukuran [Bentuk Cookies Mauurasa menari. E2. Bentuk dan Ukuran [Ukuran terlalu besa. E3. Bentuk dan Ukuran [Ukuran terlalu keci. E4. Bentuk dan Ukuran [Sekali gigit . ne bit. ] Sangat Tidak Suka Tidak Suka Netral Suka Sangat Suka Ermayanty et al. / Journal of Entrepreneurial Studies (JES) Vol. 1 No. 2 pp. Pernyataan Sangat Tidak Suka Tidak Suka Netral Suka Sangat Suka E5. Bentuk dan Ukuran [Ukuran Cookies Mauurasa sesuai dengan keinginan say. Sumber: Data Primer yang diolah . Berdasarkan hasil kuesioner yang diberikan, dari 100 orang responden diperoleh hasil sebagai berikut: Pernyataan A1: sebanyak 86 orang (Suka dan Sangat Suk. atau 86% menyatakan menyukai rasa dari cookies mauurasa. Pernyataan B1: sebanyak 80 orang (Suka dan Sangat Suk. atau 80% menyatakan menyukai aroma dari cookies mauurasa. Pernyataan C1: sebanyak 76 orang (Suka dan Sangat Suk. atau 76% menyatakan menyukai tekstur dari cookies mauurasa. Pernyataan D1: sebanyak 66 orang (Suka dan Sangat Suk. atau 66% menyatakan menyukai warna dari cookies mauurasa. Pernyataan E1: sebanyak 63 orang (Suka dan Sangat Suk. atau 63% menyatakan menyukai bentuk dan ukuran dari cookies Lebih lanjut responden juga diminta memberikan pernyataan terkait dengan kemasan produk cookies mauurasa dan hasilnya sebagai berikut: Apakah tampilanA Apakah Harga per Kemasan dirasa sesuai? (Rp. 000,-) Tidak Apakah tampilan Apakah Berat Bersih Kemasan Sesuai? Tidak Gambar 3. Pernyataan Kemasan Sumber: Data Primer yang diolah . Bahwa 91 orang atau 91% orang menyatakan kemasan cookies maurasa menarik, juga untuk ukuran kemasan . erat bersi. sebanyak 89 orang menyatakan ukuran kemasan sudah sesuai dengan yang Terdapat sebanyak 77 orang menyatakan bahwa harga per kemasan dirasa sudah sesuai. Adapun berdasarkan hasil kuesioner tercatat bahwa sebanyak 56 responden mengingikan kemasan yang lebih besar yaitu 200 gr, 300 gr dan >300 gr. Uji Organoleptik Berdasarkan hasil pengujian, dilakukan analisa atas kelima indikator melalui tabel rerata sebagai berikut:] ycu = Interval rerata (Poin paling besar Oe poin paling keci. Oe . ycu= ycu = 0,8 ycu= Terhadap interval diatas, maka peneliti membuat kategori terhadap rata-rata kriteria menjadi sebagai berikut: Tabel 3. Kriteria Interval Interval rata-rata 1,00 Ae 1,80 Sangat tidak suka 1,81 Ae 2,60 Tidak suka 2,61 Ae 3,40 Netral 3,41 Ae 4,20 Suka 4,21 Ae 5,00 Sangat Suka Hasil Pengujian Rasa Berdasarkan hasil kuesioner dari 100 responden, untuk varibel rasa tercatat ratarata sebesar 3,76 dimana hal ini berdasarkan interval maka dinyatakan bahwa responden suka dengan variabel rasa. Bahwa hasil responden menyatakan sebagian besar menyukai cookies mauurasa atas variabel A1 (Sangat Suk. A3 . dan A5 . esuai Jika dilihat pada tabel 4. 3 maka secara berturut-turut menyatakan suka dan sangat suka yaitu A1 sejumlah 86 Orang. A3 sejumlah 78 Orang dan A5 sejumlah 73 Ermayanty et al. / Journal of Entrepreneurial Studies (JES) Vol. 1 No. 2 pp. Tabel 4. Indikator Rasa Pernyataan RataKeterangan 4,25 Sangat suka 3,67 3,92 3,07 netral . 3,91 sesuai selera Rata-rata 3,76 Suka Sumber: Data Primer yang diolah . Hasil Pengujian Aroma Berdasarkan hasil kuesioner dari 100 responden, untuk varibel aroma tercatat ratarata sebesar 3,82 dimana hal ini berdasarkan interval maka dinyatakan bahwa responden suka dengan variabel aroma. Bahwa hasil responden menyatakan sebagian besar menyukai cookies mauurasa atas variabel B1 (Suk. B5 . enggugah seler. B4 . eraroma kej. dan B2 . Jika dilihat pada tabel 3 maka secara berturut-turut menyatakan suka dan sangat suka yaitu B1 sejumlah 80 Orang. B5 sejumlah 79 Orang. B4 sejumlah 72 orang dan B2 sejumlah 75 orang. Tabel 5. Indikator Aroma Pernyataan RataKeterangan 4,07 Suka 3,91 Harum 3,18 Netral 3,95 beraroma keju 4,02 Rata-rata 3,82 Suka Sumber: Data Primer yang diolah . Hasil Pengujian Tekstur Berdasarkan hasil kuesioner dari 100 responden, untuk varibel tekstur tercatat rata-rata sebesar 3,66 dimana hal ini berdasarkan interval maka dinyatakan bahwa responden suka dengan variabel tekstur. Bahwa hasil responden menyatakan sebagian besar menyukai cookies mauurasa atas variabel C4 . C5 . esuai seler. dan C1 . angat suk. Jika dilihat pada tabel 4. maka secara berturut-turut menyatakan suka dan sangat suka yaitu C4 sejumlah 78 Orang. C5 sejumlah 75 Orang dan C1 sejumlah 76 Tabel 6. Indikator Tekstur Pernyataan RataKeterangan 3,94 Sangat suka 2,88 Keras 3,46 Lembut 4,04 4,01 sesuai selera Rata-rata 3,666 Sumber: Data Primer yang diolah . Hasil Pengujian Warna Berdasarkan hasil kuesioner dari 100 responden, untuk varibel warna tercatat ratarata sebesar 3,31 dimana hal ini berdasarkan interval maka dinyatakan bahwa responden netral dengan variabel warna. Bahwa hasil responden menyatakan rata-rata tertinggi cookies mauurasa atas variabel D3 . enggugah seler. D1 . dan D2 . oklat keemasa. Jika dilihat pada tabel 4. maka secara berturut-turut menyatakan suka dan sangat suka yaitu D3 sejumlah 68 Orang. D1 sejumlah 66 Orang dan D2 sejumlah 67 Berdasarkan pengamatan warna cookies kurang disukai dapat disebabkan beberapa hal yaitu: Adonan yang kurang merata. Proses pemanggangan yang tidak merata atau belum mencapai suhu yang ditentukan. Proses pengemasan yang tidak tersegel dengan baik. Penggunaan peralatan dan perlengkapan yang standar memasak rumah. Hasil Pengujian Bentuk dan Ukuran Berdasarkan hasil kuesioner dari 100 responden, untuk varibel bentuk dan ukuran tercatat rata-rata sebesar 3,46 dimana hal ini berdasarkan interval maka dinyatakan bahwa responden suka dengan variabel bentuk dan Bahwa hasil responden menyatakan sebagian besar menyukai cookies mauurasa atas variabel E5 . esuai keingina. E1 . dan E4 . ne-bit. Jika dilihat pada tabel 4. maka secara berturut-turut menyatakan suka Ermayanty et al. / Journal of Entrepreneurial Studies (JES) Vol. 1 No. 2 pp. dan sangat suka yaitu E5 sejumlah 72 Orang. E1 sejumlah 63 Orang dan E4 sejumlah 60 Bahwa dari beberapa indikator menandakan terdapat hasil yang belum Perlu adanya perbaikan dari proses memasak dan penggunaan perlengkapan/ peralatan dengan standar industri. Adapun untuk perbaikan indikator rasa mempertimbangkan sorgum telah memiliki rasa pedas secara natural maka penulis menambahkan coklat untuk menetralisir, tetapi penambahan coklat perlu dilakukan penyesuaian mengingat sebagian besar orang yang tidak menyukai ada rasa pahit pada cookies. Sehingga perlu dilakukan uji coba lanjutan menggunakan white chocolate atau penambahan bahan pemanis saat proses pencampuran adonan. Tabel 7. Indikator Bentuk dan Ukuran Pernyataan RataKeterangan 3,81 Suka 2,86 netral . 2,96 netral . 3,73 suka sekali gigit . ne bit. 3,95 Sesuai Rata-rata 3,462 Suka Sumber: Data Primer yang diolah . Uji Daya Terima Konsumen Berdasarkan hasil daya terima konsumen yang disebar pada 100 responden, didapatkan hasil bahwa skor dari seluruh indikator, aroma memiliki skor tertinggi yaitu rata-rata 382,60, diikuti rasa dengan skor 376,40 dan tekstur dengan skor 366,60. Sedangkan indikator warna mendapat skor paling rendah. Tabel 8. Daya Terima Konsumen Indikator Kisaran Kisaran Skor Min. Max. Ratarata Rasa 376,40 Aroma 382,60 Tekstur 366,60 Indikator Kisaran Kisaran Min. Max. Skor Ratarata 331,00 Warna Bentuk 346,20 Ukuran Sumber: Data Primer yang diolah . Terhadap data diatas, dapat disimpulkan bahwa responden memiliki minat positif atas cookies sorgum mauurasa, hal ini dapat dilihat dari seluruh skor indikator mencatatkan hasil mendekati kisaran maksimal skor. Adapun untuk memperjelas gambaran posisi daya terima konsumen atas cookies sorgum mauurasa terhadap skor maksimal dan skor minimal, peneliti menjelaskan dengan gambar 3 berupa graAk radar dibawah ini. RADAR KARAKTERISTIK MAUURASA BENTUK DAN UKURAN WARNA RASA AROMA TEKSTUR Gambar 3. Radar Karakteristik Mauurasa Sumber: Olah data peneliti . KESIMPULAN Kesimpulan dari hasil analisis dan pembahasan mengenai Uji experimental Respon Konsumen terhadap Penerimaan Produk Cookies Sorgum Mauurasa, yaitu sebagai berikut : Responden dari penelitian ini sebagian besar berjenis kelamin laki-laki dimana banyak yang meng-konsumsi cookies minimal 2 kali dalam seminggu. Bahwa responden rela mengeluarkan uang dengan kisaran Rp. 000,- s. Rp. 000,- per bulan guna membeli Ermayanty et al. / Journal of Entrepreneurial Studies (JES) Vol. 1 No. 2 pp. Berdasarkan pernyataan responden, indikator Rasa. Aroman. Tekstur. Warna. Bentuk dan Ukuran disimpulkan menyatakan suka atas cookies mauurasa, sedangkan indikator warna menunjukkan rata-rata yang masuk interval netral. Berdasarkan uji organoleptik, didapat hasil sebagai berikut: Seluruh indikator . asa, aroma, menandakan produk Cookies Sorgum Mauurasa banyak disukai konsumen. Indikator warna memiliki termasuk dalam kategori netral. Warna termasuk dalam kategori Indikator yang memiliki nilai tertinggi dicatatkan indikator aroma dan rasa, sedangkan yang terendah warna dan bentuk & ukuran. Secara keseluruhan berdasarkan uji daya terima konsumen, seluruh indikator mencatatkan skor mendekati nilai Hal ini menandakan bahwa cookies sorgum mauurasa telah sesuai SARAN Saran Akademis Pengujian organoleptik dapat digunakan sebagai referensi dapat menguji selera konsumen untuk produk cookies. Perlu dilakukan pengujian terhadap produk olahan sorgum dalam rangka ketahanan pangan nasional. Saran Praktis Hasil menunjukkan dari 5 karakteristik mauurasa yang diuji, terdapat 2 karakteristik dengan poin terendah yaitu warna, bentuk dan ukuran. Perlu perbaikan dari segi warna perlu adanya penambahan pewarna makanan atau topping di atas cookies yang bisa menambah daya tarik secara visual, juga bisa menambahkan atau mengurangi komposisi bahan penunjang yang dapat mempengaruhi warna pada cookies. Perlu dilakukan perbaikan produk Mauurasa dari sisi bentuk dan ukuran,perlu perubahan ukuran lebih besar dari ukuran sekarang agar dalam pemanggangan dengan suhu yang sudah di atur cookies matang dengan merata dan Keterbatasan Penelitian Penelitian responden yang hanya diambil dari lingkungan UKWMS, khususnya mahasiswa Prodi Teknologi Pangan. Adapun uji organoleptik yang dilakukan tidak untuk menggeneralisir karakteristik maupun hasil apapun yang menjadi kesimpulan penelitian Sehingga hasil penelitian ini hanya diimplementasikan untuk Cookies Mauurasa DAFTAR PUSTAKA