JURNAL SAINS & TEKNOLOGI Vol 01 No. 02 Juli - Desember 2025 https://ojs. id/index. php/univsm/index UNIVERSITAS SAPTA MANDIRI DAN PERANANNYA DALAM EKOSISTEM INOVASI DAERAH: MENGGAGAS SINERGI AKADEMIK DAN TEKNOLOGI Ahmad Munir Al Mubarak1 Muliyadi Saputra2 1Universitas Sapta Mandiri. Jl. Yani KM. RT. Kelurahan Batupiring. Kecamatan Paringin Selatan. Kabupaten Balangan. Kalimantan Selatan. Kode Pos 71618, . 2 Universitas Sapta Mandiri. Jl. Yani KM. RT. Kelurahan Batupiring. Kecamatan Paringin Selatan. Kabupaten Balangan. Kalimantan Selatan. Kode Pos 71618, . Pos-el : ahmadmunir@univsm. muliyadisaputra@univsm. Received 14 May 2025. Received in revised form 02 June 2025. Accepted 15 June 2025 Abstrak Penelitian ini mengkaji peran strategis Universitas Sapta Mandiri (Univs. dalam memperkuat ekosistem inovasi daerah di Kabupaten Balangan. Kalimantan Selatan. Sebagai satu-satunya perguruan tinggi di wilayah tersebut. Univsm dihadapkan pada tantangan geografis dan struktural yang kompleks. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana Univsm membangun sinergi antara akademik dan teknologi yang adaptif terhadap konteks lokal. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif dengan strategi studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Univsm tidak hanya berperan sebagai pusat pendidikan, tetapi juga sebagai penggerak inovasi sosial dan teknologi melalui kolaborasi lintas sektor dengan pemerintah daerah, pelaku industri, dan Sinergi tersebut tampak dalam kurikulum berbasis lokal, program riset terapan, serta pemanfaatan teknologi digital untuk menjangkau komunitas terpencil. Kendati dihadapkan pada keterbatasan infrastruktur dan pendanaan. Univsm mampu membangun model inovasi kontekstual yang fleksibel dan inklusif. Kesimpulan dari penelitian ini menegaskan pentingnya pendekatan adaptif dan kolaboratif dalam mengembangkan ekosistem inovasi berbasis daerah, serta memperlihatkan bahwa inovasi tidak hanya dapat berkembang di pusat-pusat urban, tetapi juga dari daerah melalui kekuatan lokal yang diorganisasi secara sistematis. Kata kunci: ekosistem inovasi. sinergi akademik-teknologi. universitas daerah. Abstract This study examines the strategic role of Universitas Sapta Mandiri (Univs. in strengthening the regional innovation ecosystem in Balangan Regency. South Kalimantan. As the only higher education institution in the area. Univsm faces complex geographical and structural The research aims to explore how Univsm establishes adaptive academicAe technology synergy tailored to the local context. This study uses a qualitative descriptive approach with a case study strategy. Data were collected through in-depth interviews, participatory observation, and document analysis. The findings show that Univsm functions not only as an academic center but also as a driver of social and technological innovation through cross-sectoral collaboration with local governments, industry actors, and Such synergy is reflected in a locally-oriented curriculum, applied research programs, and the use of digital technologies to reach remote communities. Despite limitations in infrastructure and funding. Univsm has developed a contextual innovation model that is Jurnal Sains & Teknologi. Volume 01. No. Juli-Desember 2025. Hal. both flexible and inclusive. This research concludes that adaptive and collaborative approaches are essential for developing a sustainable regional innovation ecosystem and confirms that innovation can grow not only in urban centers but also from rural areas through organized local capabilities. Keywords: academic-technology synergy. innovation ecosystem. regional university PENDAHULUAN Dalam era globalisasi dan revolusi industri 4. 0, inovasi menjadi salah satu faktor kunci dalam mendorong daya saing bangsa. Perubahan yang cepat dalam bidang teknologi, ekonomi, dan sosial menuntut setiap daerah untuk memiliki strategi pembangunan yang berbasis pada kreativitas dan inovasi. Di tengah arus perubahan tersebut, peran institusi pendidikan tinggi semakin dituntut untuk tidak hanya berfungsi sebagai pusat pendidikan, tetapi juga sebagai motor penggerak pembangunan yang relevan dengan kebutuhan lokal maupun global. Universitas yang berlokasi di daerah memiliki potensi besar dalam menjembatani ilmu pengetahuan dengan realitas sosial-ekonomi masyarakat setempat. Kehadiran universitas di daerah bukan hanya sekadar simbol penyedia pendidikan tinggi, melainkan juga representasi dari pusat pengembangan pengetahuan yang dapat memberikan solusi nyata atas berbagai tantangan pembangunan. Peran ini akan semakin signifikan jika universitas mampu bersinergi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah daerah, industri lokal, serta komunitas masyarakat. Oleh karena itu, universitas perlu ditempatkan sebagai aktor kunci dalam menciptakan ekosistem inovasi daerah. Lembaga pendidikan tinggi tidak hanya berfokus pada pengembangan aspek akademik, tetapi juga berperan sebagai penghubung antara riset ilmiah dengan kebutuhan praktis masyarakat. Kolaborasi yang terbangun dengan dunia industri, pemerintah, dan komunitas akan membuka peluang terciptanya inovasi berkelanjutan yang mendorong transformasi sosial, ekonomi, dan teknologi secara lebih Ekosistem inovasi di tingkat daerah merupakan suatu sistem yang bersifat dinamis, di mana berbagai aktor seperti institusi pendidikan tinggi, pemerintah, dunia industri, dan masyarakat saling berinteraksi dan berkontribusi dalam mendorong terciptanya inovasi yang relevan dengan kebutuhan lokal. Dalam konteks ini, universitas memainkan peran yang sangat strategis sebagai pusat penelitian dan diseminasi pengetahuan. Peran tersebut tidak hanya terbatas pada aspek akademik semata, tetapi juga meluas pada kontribusi nyata sebagai agen transformasi sosial dan ekonomi, khususnya melalui pengembangan teknologi serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Hal ini sejalan dengan pandangan Etzkowitz . dan Guerrero et al. yang menempatkan universitas sebagai aktor kunci dalam ekosistem inovasi yang berkelanjutan. Berbagai kajian literatur sebelumnya telah menunjukkan bahwa keterlibatan universitas dalam ekosistem inovasi telah banyak diteliti, terutama melalui pendekatan Triple Helix yang menggabungkan sinergi antara universitas, industri, dan pemerintah sebagai pendorong utama terciptanya inovasi berkelanjutan. Konsep ini, sebagaimana dijelaskan oleh Carayannis dan Campbell . , menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk mendorong pertumbuhan inovasi. Di samping itu, perkembangan terbaru dalam dunia akademik juga menggarisbawahi pentingnya integrasi antara ilmu Copyright A 2025. Universitas Sapta Mandiri Balangan Al Mubarak & Saputra. Universitas Sapta Mandiri. pengetahuan dan teknologi, terlebih di era revolusi industri 4. 0 yang menuntut kecepatan adaptasi terhadap kemajuan teknologi digital dan otomatisasi. Nambisan et al. menekankan bahwa sinergi antara dunia akademik dan teknologi merupakan elemen penting dalam menciptakan inovasi yang responsif dan berdaya saing. Namun demikian, masih terdapat kekosongan dalam kajian-kajian tersebut, terutama terkait peran universitas yang berada di wilayah daerah atau luar pusat-pusat pertumbuhan nasional. Salah satu contoh yang relevan adalah Universitas Sapta Mandiri yang berlokasi di Kabupaten Balangan. Hingga saat ini, kajian yang secara khusus mengangkat bagaimana universitas ini menggagas bentuk sinergi yang unik dan sesuai dengan kebutuhan lokal serta arah pembangunan daerah masih sangat terbatas. Penelitian yang dilakukan oleh Slametno . dan Hamid . memang telah mulai menyentuh tema tersebut, namun belum menggambarkan secara menyeluruh bagaimana universitas tersebut memainkan peran strategis dalam membangun ekosistem inovasi yang Berangkat dari latar belakang tersebut, penelitian ini berupaya untuk menghadirkan kontribusi ilmiah yang bersifat orisinal dengan mengkaji secara mendalam peran strategis Universitas Sapta Mandiri dalam konteks pembangunan daerah melalui penguatan ekosistem inovasi lokal. Penelitian ini menempatkan universitas sebagai penghubung utama antara domain akademik dan teknologi, serta menyoroti model sinergi yang bersifat adaptif terhadap dinamika kebutuhan lokal. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk mengisi kekosongan dalam literatur akademik yang selama ini masih didominasi oleh kajian di wilayah perkotaan atau pusat-pusat industri, dan sekaligus memperkenalkan pendekatan kontekstual yang relevan untuk diterapkan di daerah-daerah Adapun fokus utama dari penelitian ini diarahkan pada dua pertanyaan kunci, yakni bagaimana peran yang dijalankan oleh Universitas Sapta Mandiri dalam membentuk dan memperkuat ekosistem inovasi di tingkat daerah, serta bagaimana bentuk sinergi antara akademik dan teknologi digagas dan diterapkan untuk meningkatkan kapasitas inovatif serta kontribusi universitas terhadap pembangunan daerah secara berkelanjutan. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi kasus sebagai strategi utama dalam memahami secara mendalam peran strategis Universitas Sapta Mandiri dalam pengembangan ekosistem inovasi di Kabupaten Balangan. Pemilihan studi kasus memungkinkan peneliti untuk mengeksplorasi dinamika yang kompleks dan kontekstual antara berbagai aktor dalam ekosistem tersebut, termasuk universitas, sektor teknologi, pemerintah daerah, pelaku industri, dan masyarakat lokal. Dengan pendekatan ini, interaksi antar-aktor dapat dianalisis secara holistik guna mengungkap bentuk sinergi yang adaptif terhadap kebutuhan dan potensi daerah, sebagaimana telah dikemukakan oleh Sari . dan Rahmawati . Proses pengumpulan data dilakukan melalui berbagai teknik yang saling Wawancara mendalam menjadi salah satu metode utama yang dilakukan terhadap informan kunci, seperti pejabat universitas, pengelola riset, pelaku industri lokal, dan perwakilan dari pemerintah daerah. Selain itu, observasi partisipatif dilakukan untuk mengamati langsung aktivitas akademik dan kegiatan inovatif yang diselenggarakan oleh Jurnal Sains & Teknologi. Volume 01. No. Juli-Desember 2025. Hal. Data tambahan diperoleh melalui studi dokumentasi yang mencakup laporan internal, dokumen kebijakan, dan berbagai publikasi yang berkaitan dengan pengembangan ekosistem inovasi di daerah ini. Peneliti juga memanfaatkan sumber data sekunder dari literatur ilmiah, kebijakan nasional dan daerah, serta dokumen internal universitas yang relevan dengan topik penelitian. Dalam menganalisis data yang terkumpul, peneliti menerapkan analisis tematik dan kontekstual yang merujuk pada kerangka teori Triple Helix serta konsep integrasi akademik dan teknologi dalam inovasi. Analisis ini digunakan untuk mengidentifikasi pola-pola sinergi yang muncul, hambatan yang dihadapi, serta peluang yang dapat dimanfaatkan dalam membangun ekosistem inovasi lokal. Untuk memperkuat pemahaman terhadap kondisi internal dan eksternal yang mempengaruhi peran universitas dalam konteks daerah, digunakan pula analisis SWOT sebagai alat untuk mengevaluasi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman yang dihadapi oleh Universitas Sapta Mandiri dalam mendorong inovasi berbasis lokal. Keunikan konteks geografis dan sosial Kabupaten Balangan juga menjadi pertimbangan penting dalam penelitian ini, terutama dalam memahami posisi universitas sebagai aktor inovasi yang berada di luar pusat-pusat urban dan industri nasional. Dengan pendekatan ini, penelitian diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan teori dan praktik ekosistem inovasi di daerah berkembang, khususnya yang berkaitan dengan adaptasi model sinergi antara akademik dan teknologi. Kerangka metode dan analisis yang digunakan dalam studi ini disusun dengan mengacu pada berbagai penelitian sebelumnya mengenai penguatan riset dan inovasi lokal, strategi pembangunan berbasis daerah, serta dinamika kolaborasi Triple Helix dalam konteks inovasi berkelanjutan (Sari, 2024. Rahmawati, 2025. Carayannis & Campbell, 2019. Nambisan et al. HASIL DAN PEMBAHASAN Peran Sentral Universitas dalam Membangun Ekosistem Inovasi Daerah Universitas Sapta Mandiri (Univs. memiliki posisi penting dalam membangun ekosistem inovasi di Kabupaten Balangan. Sebagai satu-satunya perguruan tinggi di wilayah Banua Anam. Univsm menjadi pusat utama dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia, riset, dan perubahan sosial berbasis inovasi. Peran ini menjadi semakin krusial di tengah keterbatasan akses pendidikan tinggi di daerah tersebut, sehingga kampus ini bukan hanya tempat belajar, tetapi juga ruang tumbuhnya gagasan inovatif yang kontekstual dan Perubahan status dari institut menjadi universitas membuka peluang lebih besar bagi Univsm untuk menjawab tantangan daerah. Dengan adanya peningkatan kapasitas kelembagaan. Univsm mampu mengembangkan program-program lintas disiplin ilmu yang dirancang untuk menjawab permasalahan nyata di masyarakat. Transformasi ini menunjukkan bahwa universitas tidak hanya berevolusi secara administratif, tetapi juga memperluas cakupan tanggung jawabnya sebagai penggerak pembangunan berbasis Melalui pendekatan Triple Helix (Carayannis & Campbell, 2. Univsm berperan sebagai jembatan penghubung antara dunia akademik, pemerintah daerah, dan sektor industri lokal. Kolaborasi ini tidak hanya bersifat simbolik, tetapi benar-benar diwujudkan Copyright A 2025. Universitas Sapta Mandiri Balangan Al Mubarak & Saputra. Universitas Sapta Mandiri. dalam bentuk forum, program, dan kebijakan bersama yang diarahkan untuk merespon kebutuhan daerah. Univsm menunjukkan bahwa kerja sama antarsektor sangat mungkin dibangun, bahkan di daerah yang belum memiliki infrastruktur pendukung yang lengkap. Kontribusi Univsm terlihat jelas melalui kegiatan seperti pelatihan keterampilan, magang mahasiswa di industri lokal, serta program pengabdian masyarakat yang difokuskan pada inovasi sosial. Kegiatan ini bukan hanya memperkuat fungsi tridharma perguruan tinggi, tetapi juga menjadi bukti bahwa universitas mampu menghadirkan solusi konkret bagi berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat Balangan, seperti pertanian modern, energi terbarukan, dan UMKM berbasis teknologi. Riset-riset terapan yang dilakukan juga diarahkan untuk menghasilkan teknologi tepat guna yang sesuai dengan kondisi lapangan. Tidak berhenti di laboratorium, hasil penelitian ini didorong untuk dapat langsung dimanfaatkan oleh masyarakat dan pemerintah daerah. Respons positif dari pemerintah terhadap hasil-hasil riset Univsm mulai terlihat dalam bentuk dukungan kebijakan dan sinergi program, yang menunjukkan terbentuknya pola hubungan yang saling memperkuat. Dengan pendekatan yang kontekstual dan berbasis lokal. Univsm membuktikan bahwa inovasi tidak harus tumbuh di kota-kota besar. Bahkan, inovasi yang dibangun dari daerah sering kali lebih tepat sasaran karena lahir dari pemahaman mendalam terhadap kondisi sosial dan ekonomi masyarakat. Pendekatan yang digunakan Univsm dapat menjadi model bagi perguruan tinggi lain di wilayah non-perkotaan yang ingin menjadi katalisator Selain itu. Univsm juga mengembangkan mekanisme kolaborasi riset dan inkubasi bisnis yang memungkinkan mahasiswa maupun dosen untuk mengimplementasikan hasil penelitian dalam bentuk produk atau layanan inovatif. Keberadaan inkubator ini mendorong lahirnya wirausaha baru berbasis teknologi lokal, yang pada gilirannya dapat memperkuat struktur ekonomi daerah. Dengan demikian, universitas tidak hanya menghasilkan lulusan siap kerja, tetapi juga mencetak pencipta lapangan kerja baru yang relevan dengan potensi daerah. Lebih jauh, keterlibatan Univsm dalam jaringan akademik regional maupun nasional membuka peluang transfer pengetahuan yang lebih luas. Partisipasi dalam konferensi, kolaborasi riset antaruniversitas, serta publikasi ilmiah menjadi sarana untuk meningkatkan reputasi sekaligus memperkenalkan potensi daerah Balangan di kancah yang lebih luas. Hal ini memperlihatkan bahwa universitas daerah dapat berfungsi sebagai duta pengetahuan yang memperkuat posisi daerah dalam ekosistem inovasi nasional. Dengan demikian, peran sentral Univsm dalam membangun ekosistem inovasi daerah tidak hanya terletak pada penyediaan pendidikan, tetapi juga pada fungsi strategis sebagai katalisator pembangunan. Melalui riset terapan, kemitraan lintas sektor, dan pemberdayaan masyarakat. Univsm telah menunjukkan model integrasi akademik dan teknologi yang adaptif terhadap kebutuhan lokal. Pola ini menegaskan bahwa universitas daerah memiliki kapasitas untuk menjadi aktor penting dalam mewujudkan inovasi yang berkelanjutan dan berdaya saing. Jurnal Sains & Teknologi. Volume 01. No. Juli-Desember 2025. Hal. Sinergi Akademik-Teknologi yang Adaptif terhadap Konteks Lokal Sinergi antara dunia akademik dan teknologi di Univsm dibangun dengan memahami kondisi riil Kabupaten Balangan. Wilayah ini memiliki tantangan geografis, sumber daya manusia yang masih terbatas, dan mayoritas masyarakatnya bergerak di sektor pertanian dan usaha kecil. Oleh karena itu, sinergi yang dikembangkan tidak bersifat generik, melainkan disesuaikan dengan kebutuhan serta potensi lokal yang ada. Pendekatan seperti ini menjadikan inovasi tidak hanya relevan secara teknologi, tetapi juga kontekstual secara sosial. Kurikulum dan riset yang dikembangkan oleh Univsm diarahkan untuk menghasilkan solusi yang langsung dapat diterapkan di masyarakat. Program studi seperti Teknik Sipil. Teknologi Informasi, dan Sistem Informasi diarahkan untuk menjawab tantangan infrastruktur, pengolahan data wilayah, serta pelayanan publik berbasis Salah satu contoh nyata adalah proyek pengembangan sistem pemantauan irigasi berbasis sensor, hasil kolaborasi antara mahasiswa dan dosen, yang langsung diuji di lahan pertanian milik warga. Kolaborasi eksternal yang dilakukan Univsm tidak berhenti di ruang kelas, tetapi diterjemahkan dalam berbagai bentuk program seperti pelatihan keterampilan teknis bagi masyarakat, magang mahasiswa di instansi lokal, hingga pendanaan bersama melalui skema matching fund. Dengan model kolaborasi seperti ini, terjadi pertukaran pengetahuan dua arah dari kampus ke masyarakat, dan sebaliknya. Hal ini memperkuat posisi universitas sebagai simpul dari ekosistem inovasi lokal. Dalam menghadapi tantangan revolusi industri 4. Univsm menunjukkan respons adaptif melalui digitalisasi proses belajar dan riset. Penggunaan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI), pembelajaran daring, dan platform kolaboratif menjadi upaya untuk menjawab keterbatasan infrastruktur fisik. Bahkan, pendekatan digital ini memungkinkan inovasi menjangkau komunitas-komunitas terpencil yang sebelumnya sulit dijangkau oleh program universitas. Tabel 1. Sinergi Univsm dengan Pemangku Kepentingan Lokal Aktor Terlibat Bentuk Sinergi Dampak Langsung terhadap Inovasi Lokal Pemerintah Daerah Dukungan kebijakan, pendanaan bersama program riset Meningkatnya kolaborasi riset terapan dan program daerah UMKM Lokal Program inkubasi bisnis, pelatihan digitalisasi Terbentuknya UMKM berbasis teknologi Masyarakat Pertanian Pengembangan sistem irigasi berbasis sensor Efisiensi penggunaan air dan produktivitas pertanian naik Copyright A 2025. Universitas Sapta Mandiri Balangan Al Mubarak & Saputra. Universitas Sapta Mandiri. Sekolah-sekolah Mitra Pelatihan guru dan pemanfaatan platform pembelajaran jarak jauh Peningkatan kualitas pembelajaran daring Komunitas Inovasi (LSM. Orma. Fasilitasi lokakarya inovasi sosial dan teknologi Tercipta solusi lokal berbasis kebutuhan (Sumber: Dokumentasi Lapangan dan Wawancara, 2. Univsm tidak memaknai inovasi semata sebagai pengembangan teknologi canggih, tetapi sebagai proses transformasi sosial yang menjawab kebutuhan sehari-hari Oleh karena itu, inovasi yang dihasilkan bersifat inklusif, dapat digunakan oleh berbagai kalangan, dan menyentuh dimensi budaya, ekonomi, dan kelembagaan Ini memperlihatkan bahwa sinergi akademik-teknologi tidak hanya soal kecanggihan, tetapi juga soal kebermanfaatan nyata. Dengan model sinergi yang fleksibel, berbasis kolaborasi, dan sensitif terhadap konteks lokal. Univsm berhasil membangun pendekatan inovasi yang berbeda dari universitas di kawasan urban. Pendekatan ini bisa dijadikan rujukan dalam membangun inovasi berbasis daerah yang berkelanjutan dan tidak bergantung pada infrastruktur besar atau dukungan industri skala nasional. Ini mempertegas bahwa inovasi bisa lahir dari daerah, dengan cara yang membumi dan aplikatif (Carayannis & Campbell, 2019. Nambisan et al. , 2. Dinamika Tantangan dan Peluang: Mewujudkan Inovasi Kontekstual Mewujudkan ekosistem inovasi di daerah seperti Kabupaten Balangan tentu tidak lepas dari berbagai tantangan struktural dan kultural. Beberapa kendala utama yang dihadapi Universitas Sapta Mandiri (Univs. antara lain keterbatasan infrastruktur teknologi, jumlah sumber daya manusia yang berpengalaman di bidang riset yang masih terbatas, serta kurangnya akses terhadap jejaring kolaborasi nasional maupun Tantangan ini memperlambat akselerasi inovasi dan menjadi hambatan dalam penyebaran pengetahuan secara lebih luas. Letak geografis Balangan yang relatif jauh dari pusat pertumbuhan ekonomi dan teknologi nasional juga menjadi faktor pembatas. Jarak ini menyulitkan universitas untuk membangun kemitraan dengan industri berskala besar yang biasanya berlokasi di kawasan Selain itu, keterbatasan dana riset dan minimnya kebijakan nasional yang berpihak pada inovasi daerah menjadi tantangan tersendiri yang membutuhkan solusi inovatif dan kolaboratif (Rahmawati, 2. Namun, keterbatasan yang dihadapi justru menjadi pemicu munculnya pendekatan baru yang lebih adaptif dan realistis. Univsm mulai menjalin kemitraan horizontal dengan UKM lokal, sekolah, serta organisasi masyarakat sipil, dan kemitraan vertikal dengan pemerintah daerah. Kemitraan ini difokuskan pada isu-isu nyata seperti pengolahan hasil pertanian, pengelolaan air bersih, serta sistem pembelajaran jarak jauh yang relevan dengan kebutuhan daerah (Slametno, 2. Peluang besar juga hadir dari meningkatnya kesadaran para pemangku kepentingan lokal akan pentingnya inovasi dalam pembangunan. Pemerintah daerah mulai Jurnal Sains & Teknologi. Volume 01. No. Juli-Desember 2025. Hal. menunjukkan dukungan terhadap program-program berbasis riset universitas, baik melalui penyediaan anggaran bersama maupun dukungan kebijakan yang membuka ruang Ini menjadi sinyal positif bagi terbentuknya tata kelola inovasi yang inklusif dan Kemajuan teknologi digital turut memperkuat kemampuan Univsm dalam menghadapi keterbatasan. Pemanfaatan platform daring, kecerdasan buatan, serta sistem informasi berbasis data membuka peluang baru dalam pengelolaan program inovasi. Digitalisasi ini tidak hanya mempercepat distribusi pengetahuan, tetapi juga memungkinkan partisipasi masyarakat yang lebih luas, termasuk di wilayah yang sulit dijangkau secara fisik (Nambisan et al. , 2. Tabel 2. Tantangan dan Peluang Penguatan Inovasi Kontekstual di Univsm Aspek Tantangan Utama Peluang Strategis Infrastruktur Terbatasnya laboratorium dan akses internet di beberapa titik Pemanfaatan platform daring dan cloud-based SDM Kurangnya peneliti senior dan teknolog daerah Pelatihan dosen & mahasiswa melalui kolaborasi eksternal Geografis Jarak jauh dari pusat industri dan teknologi Fokus pada pengembangan teknologi tepat guna untuk kebutuhan lokal Kebijakan Minimnya regulasi daerah tentang insentif inovasi Peluang advokasi kebijakan berbasis riset kolaboratif Sosial-Budaya Rendahnya literasi digital masyarakat pedesaan Penguatan peran mahasiswa sebagai agen inovasi di masyarakat (Sumber: Analisis SWOT Penelitian Lapangan, 2. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa dinamika antara tantangan dan peluang yang dihadapi Univsm menunjukkan bahwa inovasi di daerah bisa tumbuh secara berkelanjutan. Dengan strategi yang adaptif, sinergi lintas sektor, dan pemanfaatan teknologi digital. Univsm berhasil membangun model inovasi kontekstual yang relevan, inklusif, dan dapat menjadi acuan bagi perguruan tinggi lain di wilayah Copyright A 2025. Universitas Sapta Mandiri Balangan Al Mubarak & Saputra. Universitas Sapta Mandiri. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa Universitas Sapta Mandiri (USM) memiliki peran strategis dalam ekosistem inovasi daerah melalui penguatan fungsi tridharma perguruan tinggi, terutama dalam aspek pengembangan teknologi terapan, kolaborasi dengan pemerintah daerah, dan peningkatan kapasitas SDM lokal. USM telah memposisikan diri sebagai motor penggerak sinergi antara aktor-aktor inovasi seperti dunia usaha, pemerintah, dan Temuan ini memperkuat teori triple helix dalam konteks regional, di mana perguruan tinggi bukan hanya sebagai pusat pengetahuan, tetapi juga sebagai fasilitator transformasi sosial dan ekonomi berbasis inovasi. Namun demikian, implementasi peran tersebut masih menghadapi tantangan berupa keterbatasan dukungan kebijakan lokal, keterpaduan antar pemangku kepentingan, serta minimnya infrastruktur pendukung inovasi. Oleh karena itu, refleksi teoritis atas posisi USM mengindikasikan perlunya pendekatan sistemik dan kolaboratif untuk memperkuat daya dorong perguruan tinggi dalam mengembangkan ekosistem inovasi yang berkelanjutan dan inklusif. Saran