https://jurnal. UPAYA MENGONTROL PERILAKU AGRESIF PADA PERILAKU KEKERASAN DENGAN PEMBERIAN RATIONAL EMOTIVE BEHAVIOR THERAPY Hanna Maria Siregar . Erita Gustina . Resmi Pangaribuan * Diploma i Keperawatan. Akademi Keperawatan Kesdam I/Bukit Barisan Medan. Indonesia *Email Korespondensi: resmi. pangaribuan131417@gmail. Abstract Mental disorders are complex conditions consisting of various problems and symptoms that can cause significant changes in an individual's thinking, emotions, and behavior. Aggressive behavior in violent behavior is one of the mental disorders that can trigger physical harm to oneself and others accompanied by uncontrolled emotional outbursts, tending to show hostility, quick anger, and having irrational beliefs. Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) is a method for understanding and overcoming emotional and behavioral problems, eliminating illogical thoughts to become rational. The main goal of REBT is to eliminate emotional disorders that can be self-destructive. A descriptive method with a case study was used, involving 2 patients who experienced nursing problems of aggressive behavior in violent behavior at Prof. DR. Muhammad Ildrem Mental Hospital. Medan. The results obtained from both respondents during REBT for 3 days with 6 meetings showed that both respondents managed to control their emotions and reduce violent behavior after being given therapy from SP 1 to SP 5. It was concluded that the administration of REBT can control the emotions of patients with violent behavior. The suggestions of this study are expected to be used as a reference for further research in mental health nursing, especially for efforts to control aggressive behavior in violent behavior with the administration of REBT. Keywords: Aggressive Behavior. Violent Behavior. Rational Emotive Behavior Therapy (REBT). Abstrak Gangguan jiwa adalah kondisi yang kompleks terdiri dari berbagai masalah dan gejala yang dapat menyebabkan perubahan signifikan dalam berpikir, emosi dan perilaku individu. Perilaku agresif pada perilaku kekerasan adalah salah satu gangguan jiwa yang dapat memicu bahaya secara fisik pada diri sendiri dan orang lain yang disertai dengan luapan emosi yang tidak terkontrol, cenderung memperlihatkan sikap bermusuhan, cepat marah dan memiliki keyakinan yang tidak rasional. Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) adalah metode untuk memahami dan mengatasi masalah emosi serta perilaku, menghilangkan pikiran tidak logis agar menjadi rasional. Tujuan utama REBT adalah menghilangkan gangguan emosional yang dapat merusak diri. Metode deskriptif dengan studi kasus digunakan, melibatkan 2 pasien yang mengalami masalah keperawatan perilaku agresif pada perilaku kekerasan di Rumah Sakit Jiwa Prof. DR. Muhammad Ildrem Medan. Didapatkan hasil dari kedua responden selama menjalani REBT selama 3 hari dengan 6 kali pertemuan didapatkan kedua responden berhasil mengontrol emosi dan menurunkan perilaku kekerasan setelah diberikan terapi dari SP 1 hingga SP 5. Disimpulkan bahwa pemberian REBT dapat mengontrol emosional pasien perilaku kekerasan. Saran penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai acuan untuk penelitian lanjut dalam keperawatan jiwa, terutama untuk upaya mengontrol perilaku agresif pada perilaku kekerasan dengan pemberian REBT. Kata Kunci: Perilaku Agresif. Perilaku Kekerasan. Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) Vol 1. No 2. Juli, 2025 *Corresponding author email : pangaribuan131417@gmail Page 73 of 84 PENDAHULUAN Gangguan jiwa adalah kondisi yang kompleks terdiri dari berbagai masalah dan gejala yang dapat menyebabkan perubahan signifikan dalam berpikir, emosi dan perilaku Kondisi ini seringkali mengakibatkan penderitaan psikologis dan interferensi yang signifikan terhadap kemampuan seseorang untuk menjalani kehidupan sehari-hari dengan baik (Arhan & As, 2. Perilaku kekerasan adalah salah satu gangguan jiwa yang dapat memicu bahaya secara fisik pada diri sendiri dan orang lain yang disertai dengan luapan emosi yang tidak terkontrol (Siregar. Effendi and Mardiyah. Perilaku kekerasan ditandai dengan munculnya beberapa gejala seperti pasien akan sering berbicara kasar dengan nada suara tinggi, mata melotot dengan pandangan yang sangat tajam, muka memerah, otot-otot tampak tegang, suka berdebat, memaksakan kehendak hingga melakukan kekerasan fisik seperti menciderai diri sendiri maupun orang lain (Malfasari et al, 2. Perilaku kekerasan dapat juga terjadi karena rasa frustasi yang berkepanjangan serta tidak terwujudnya harapan terhadap suatu hal atau kegagalan sehingga memicu seseorang berperilaku agresif (Suerni dan PH, 2. Seseorang yang memiliki perilaku agresif cenderung memperlihatkan sikap bermusuhan, cepat marah dan memiliki keyakinan yang tidak rasional. Perilaku agresif yaitu tingkah laku destruktif yang menimbulkan beban signifikan pada seseorang, keluarga maupun Perilaku agresif terjadi karena adanya ganguan pada struktur fungsi otak (Aroviani and Niman 2021 dalam Thalib. Perilaku ini dapat diidentifikasi dari respon kognitif, afektif, fisiologis, dan respon sosial pada pasien (Sarfika. Afriyeni, and Fernandes, 2. Apabila perilaku agresif ini tidak ditangani dengan tepat, maka akan berdampak mencederai diri sendiri, orang lain maupun lingkungannya (Pardede et al, 2. Oleh karena itu penatalaksanaan yang tepat untuk mengontrol atau menghilangkan perasaanperasaan negatif pada pasien sangat diperlukan dengan tujuan agar pasien mampu membentuk pikiran yang logis dan rasional sehingga ia dapat mengemukakannya secara verbal dengan baik (Aroviani and Niman 2021dalam Thalib. Penatalaksanaan utama pada pasien gangguan jiwa dengan perilaku agresif adalah penatalaksanaan farmakoterapi yaitu dengan memberikan obat-obatan seperti atypical antipsychotic, clozapine, dan olanzapine sebagai resptor dopamine yang berperan dalam aktivasi dan pencetus perilaku, serta menghambat serotonin sehingga dapat mengatasi munculnya perilaku agresif. Namun demikian, meskipun pemberian farmakoterapi tersebut dapat mengatasi pemicu perilaku agresif pada pasien, akan tetapi obat-obatan ini juga memiliki efek samping. Atypical extrapyramidal side effect (EPS) karena memblok reseptor D2 di nigrostriatal, disfungsi seksual dan masalah kulit, sedangkan clozapine dan olanzapine dapat menyebabkan efek anticholinergic, peningkatan berat badan dan gangguan toleransi glukosa (Maria, 2. Selain penatalaksanaan farmakoterapi, pasien juga dapat juga diberikan terapi non farmakoterapi salah satunya adalah pemberian REBT. Menurut Gerald Corey terapi rasional emotif behaviour therapy adalah pemecahan masalah yang fokus pada aspek berpikir, menilai, memutuskan, direktif tanpa lebih banyak berurusan dengan dimensi-dimensi pikiran ketimbang dengan dimensi-dimensi REBT pada masanya berbeda dari terapi utama lainnya, terutama dalam hal pentingnya membahas menempatkan dan mengadaptasi bagaimana klien berpikir (Corey, 2012: 189 dalam Siauta, 2. REBT dapat mengubah pola perilaku maladaptif menjadi adaptif, meningkatkan kemampuan pasien dalam mengontrol perilaku agresif yang sebelumnya tidak dapat dikendalikan, mampu berfikir yang rasional, memahami rentang dari perasaan senang sampai marah yang dirasakannya, mampu membedakan antara kenyataan dengan persepsi terhadap suatu kondisi atau peristiwa, sehingga pasien dapat melakukan koping yang adaptif terhadap suatu peristiwa dalam jangka waktu lama (Pardede et al, 2. Secara global. Prevalensi pasien perilaku kekerasan di seluruh dunia sekitar 24 juta Copyright: @ 2025 Authors kasus dan >50 % diantaranya tidak mendapatkan penanganan menurut World Health Organization (WHO, 2. Data Nasional Indonesia . prevalensi pasien dengan perilaku kekerasan dilaporkan sekitar 0,8% per 10. 000 penduduk atau 2 juta orang (Pardede et al. , 2020. Siauta et al. , 2. Penelitian yang dilakukan oleh Siau ta. Moomina. Hani Tuasikal . , melibatkan 6 orang responden melaporkan bahwa setelah diberikan Rational Emotive Behavior Therapy pasien dapat mengontrol perilaku agresifnya sehingga perilaku kekerasan yang dilakukan pasien berkurang. Pada studi yang dilakukan oleh (Pardede et , 2. , pada 13 responden menunjukkan kemampuan, mengontrol peerilaku kekerasan sebagian besar dalam kategori kurang, namun setelah diberikan terapi Rational Emotive Behavior Therapy kemampuan pasien mengontrol kekerasan meningkat, dimana mayoritas pasien mengemukakan bahwa ketika sedang marah karena aktivitasnya terganggu mereka tidak langsung membalas tetapi berusaha melihat hal positif dalam dirinya serta berusaha lebih rileks. Selain itu, pasien juga menjadi lebih tenang dalam berfikir dan dapat mengelola stress dan pernapasannya dengan baik. Kondisi ini dialami pasien karena pemberian Rational Emotive Behavior Therapy dapat membantu pasien memusatkan fokus dan kemampuan untuk berpikir logis. Dari data yang diperoleh peneliti berdasarkan survey awal di Rumah Sakit Jiwa Prof. DR. Muhammad Ildrem Medan, diperoleh dalam Rekam Medis pada tahun 2021 sekitar 1. 384 orang mengalami gangguan jiwa, dengan 12 diagnosa berbeda. Kemudian terhitung dari bulan Januari-Desember di tahun 2022 mengalami peningkatan jumlah 568 orang, dan pada tahun 2023 sendiri tercatat dari bulan Januari-September 174 orang dengan diagnosa tertinggi pertahun adalah skizofrenia sekitar 97,5% . 478 oran. (Medical Record RS. Jiwa Prof. DR. Muhammad Ildrem 20212. Berdasakan dari data diatas peneliti tertarik Upaya Mengontrol Perilaku Agresif Pada Perilaku Kekerasan dengan Pemberian Rational Emotive Behavior Therapy di Rumah Sakit Jiwa Prof. DR. Muhammad Ildrem Medan. METODE Desain Penelitian Desain penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan jenis penelitian studi kasus. Studi kasus pada penelitian ini merupakan proses asuhan keperawatan jiwa yang meliputi pengkajian dengan pengumpulan data yang bersumber dari responden atau keluarga maupun lembar status. Diagnosa keperawatan berdasarkan analisis terhadap data yang dikumpulkan dari hasil pengkajian yang keperawatan yang dialnjutkan dengan prioritas diagnosa keperawatan. Intervensi Menyusun keperawatan prioritas masalah yang diperoleh untuk mengatasi masalah keperawatan yang dialami pasien. Implementasi yaitu melakukan tindakan sesuai dengan rencana tindakan yang telah direncanakan serta melakukan evaluasi tindakan keperawatan yang telah dilakukan. Subjek pada studi kasus ini adalah pasien dewasa dengan masalah keperawatan yang sama yaitu pasien dengan perilaku agresif pada perilaku kekerasan di RS Jiwa Prof. DR. Muhammad Ildrem Medan. Kriteria Inklusi: Pasien perilaku agresif pada perilaku Pasien berjenis kelamin laki-laki dan Pasien yang bersedia menjadi subjek penelitian atau responden. Kriteria eksklusi: Pasien bukan perilaku agresif pada perilaku kekerasan Pasien perilaku kekerasan yang belum Pasien yang tidak bersedia menjadi Fokus studi: Upaya mengontrol perilaku agresif pada perilaku kekerasan dengan pemberian Rational Emotive Behavior Therapy di Rumah Sakit Jiwa Prof DR. Muhammad Ilham Medan. Copyright: @ 2025 Authors Metode Pengumpulan Data: Untuk terpenuhinya data dalam studi kasus ini penelitian menggunakan dua sumber data yaitu data primer dan data sekunder. Data primer dikumpulkan dengan menggunakan Wawancara Hasil anamnesis berisi tentang identitas responden, keluhan utama. Riwayat penyakit sekarang-dahulu-keluarga. Sumber data dari responden dan keluargadan perawat lainnya. Observasi dan pemeriksaan fisik Observasi dan pemeriksaan fisik dilakukan dengan cara inspeksi untuk mengamati pasien perilaku kekekerasan. Metode Analisa Data Metode analisa data meliputi data subjektif dan data objektif dalam bentuk tabel dan bentuk narasi untuk menjelaskan hasil studi kasus agar mudah dipahami oleh pembaca. Etika penelitian Penelitin ini dilakukan setelah melakukan persetujuan dari Akademi Keperawatan Kesdam I/BB Medan. Selanjutnya mengirim surat survey awal dan izin penelitian ke RS Jiwa Prof. DR. Muhammad Ildrem Medan. Setelah mendapat izin untuk meneliti, kemudian peneliti mencari responden yang kriterianya sesuai dengan peneliti harapkan. Lalu setelah terbina saling percaya antara peneliti dengan partisipan, kuisioner data demografi diberikan kepada responden dengan menekan masalah etik yang meliputi: Informed consent (Persetujuan Menjadi Responde. Anonimity (Tanpa Nam. Confidentiality (Kerahasiaa. HASIL Pengkajian Tabel 1. Identitas Pasien dan Hasil Anamnesa Pasien Identitas Pasien I Pasien II Pasien Nama Tn. Tn. Umur 27 Tahun 31 Tahun Jenis kelamin Laki-laki Laki-laki Pekerjaan Serabutan Status Belum menikah Menikah Agama Islam Kristen Suku bangsa Melayu Simalungun Alamat Desa Daluh Desa Pagar Jati No rekam Sepuluh 25 Januari 2023 Identitas Pasien Tanggal Masuk Tanggal Pengkajian Diagnosa Keperawatan Sumber Informasi Pasien I Pasien II 25 Agustus 05 Februari Perilaku Kekerasan 05 Februari Perilaku Kekerasan Alloanamnesa Alloanamnesa Berdasarkan tabel 1. Identitas pasien didapatkan beberapa kesamaan dari kedua pasien yaitu sama-sama berjenis kelamin lakilaki, diagnosa yang sama yaitu perilaku kekerasan dan dikaji pada tanggal yang sama pada tanggal 05 Februari 2024, namun perbedaan dari kedua pasien tersebut yaitu pasien 1 berusia 27 tahun, pengangguran, belum menikah, agama Islam dan bersuku Melayu, sedangkan pada pasien 2 berusia 31 tahun, menikah dan memiliki 4 orang anak, bekerja sebagai serabutan, agama Kristen dan bersuku Simalungun. Tabel 2. Alasan Masuk Alasan Pasien I Masuk Keluhan Pasien Utama marah-marah, melempar barangbarang, tidak bisa sabu-sabu dari SMP. Keluhan Pasien saat ini gelisah dan sulit Pasien sering marah-marah, untuk keluar dari RSJ ingin pulang kerumahnya, suka Tabel 3. Faktor predisposisi Faktor Pasien 1 Predisposisi Pasien II Pasien bingung dan susah tidur, ingin membunuh ibunya apabila Pasien sabu-sabu selama 1 tahun yang Pasien gelisah, ingin keluar dari RSJ, memaksa untuk membeli rokok. Pasien mengatakan jika tidak diberikan maka dia akan mengamuk dan akan memukul Pasien 2 Copyright: @ 2025 Authors Faktor Predisposisi Pernah jiwa dimasa Riwayat Keluarga Pasien 1 Pasien 2 Pasien dirawat di RSJ setahun yang lalu, berhasil, namun tidak rutin minum Pada usia 26 pernah memukul melempar barangbarang orangtuanya tidak Pasien diwarat di RSJ beberapa tahun berhasil namun setelah pulang, pasien tidak rutin Pasien kekerasan pada usia 30 tahun, orangtuanya dan barang-barang, saat ini pasien Saat ini pasien keluar dan suka mengganggu dan memukul teman Masalah Keperawatan: - Perilaku Kekerasan pada orang lain dan - Regimen Teraupetik - Koping Individu Inefektif Pada usia 26 tahun sabu sabu dan membuat pasien sabu- sabu pasien suka marah-marah orang tuanya. Masalah Keperawatan: - Perilaku Kekerasan marahmarah di RSJ, memaksa untuk keluar dan selalu meminta rokok dia mengancam akan memukul tembok jika tidak Masalah Keperawatan: - Perilaku Kekerasan - Regimen Teraupetik Inefektif - Koping Usia 30 tahun hartanya untuk sabu, sehingga ditinggalkan oleh anak dan istrinya, marah marah dan orang tuanya jika tidak diberikan. Masalah Keperawatan: - Perilaku Faktor Predisposisi Pasien 1 Pasien 2 Kekerasan Pengalaman yang tidak Sejak SMP pasien sabu sabu dan membuat pasien sabu- sabu pasien suka marah-marah orang tuanya. Masalah Keperawatan: Usia 30 tahun hartanya untuk sabu, sehingga ditinggalkan oleh anak dan istrinya, marah marah dan orang tuanya jika tidak diberikan. - Perilaku Kekerasan Masalah - Resiko Keperawatan: menciderai diri sendiri, orang - Perilaku Kekerasan - Resiko menciderai diri sendiri, orang Dari tabel 3 Faktor predisposisi dapat dijekaskan bahwa. Pasien 1 dan 2 pernah mengalami gangguan jiwa dimasa lalu. Pengobatan berhasil namun setelah pulang kerumah tidak rutin minum obat. Pada pasien 1 pernah melakukan kekerasan pada usia 26 tahun, pasien pernah memukul orang tuanya dan melemparkan barang-barang disekitarnya karena orang tuanya tidak menuruti menghabiskan uang untuk membeli sabu-sabu. Saat ini pasien sering marah-marah, suka memaksa untuk keluar dan memukul teman menyenangkan yaitu saat pasien berusia 26 tahun sudah mengkonsumsi sabu-sabu dan mengkonsumsi sabu-sabu, pasien suka marahmarah dan memukul orang tuanya. Sedangkan pada pasien 2 pelaku kekerasan pada usia 30 tahun, hampir memukul Copyright: @ 2025 Authors orangtuanya dan melempar barang-barang, saat ini pasien sering marah-marah di RSJ, memaksa untuk keluar dan selalu memaksa meminta rokok dia mengancam akan memukul tembok jika tidak diberikan, pengalaman yang tidak menyenangkan pada usia 30 tahun, pasien suka menghabiskan hartanya untuk membeli sabu-sabu, sehingga ditinggalkan anak dan istrinya. Pasien suka marah-marah dan mengancam orang tuanya jika permintaan tidak diberikan. Tabel 4. Masalah Keperawatan Data Pasien 1 Data Subjektif: Pasien mengalami gangguan jiwa, pada usia 26 riwayat pemakai sabusabu melemparkan barangbarang disekitarnya. Data Objektif : Pasien tampak marahmarah dan memaksa RSJ. Pasien 2 Data Subjektif Pasien mengalami gangguan jiwa dimasa lalu, sabu-sabu, untuk membeli rokok memukul tembok. Data Objektif Pasien marah-marah dan memaksa untuk keluar, gelisah dan Masalah Keperawatan Perilaku Kekerasan Data Masalah Keperawatan untuk membeli rokok merokok, mengancam tembok jika rokok tidak diberikan. Tabel 5. Diagnosa keperawatan Pasien 1 Perilaku Kekerasan dengan harga diri marah, memaksa keluar dari RSJ. Pasien 2 Perilaku Kekerasan dengan ketidakmampuan mengendalikan dorongan marah, pasien marahmarah perawat untuk membeli rokok dan mengancam memukul tembok jika tidak dituruti. PEMBAHASAN Perilaku Kekerasan Setelah peneliti melakukan studi kasus tentang upaya mengontrol perilaku kekerasan dengan pemberian rational emotive behavior therapy, peneliti memulai pengkajian pada Tn. K dan Tn. D dimulai pada tanggal 05 Februari 2024 s/d 07 Februari 2024 selama 3 hari dengan 6 kali pertemuan dengan jadwal dinas 00 WIB. Maka, pada bab ini penulis akan membahas kesenjangan antara pasien 1 dan pasien 2. Adapun kesenjangan yang akan dibahas yaitu mulai dari pengkajian, diagnosa keperawatan, intervensi keperawatan, implementasi sampai evaluasi yang telah dilakukan pada pasien. Pengkajian Pengkajian adalah proses pengumpulan data secara sistematis untuk menentukan status kesehatan dan fungsional kerja serta respon pasien saat ini dan untuk menyusun database dasar mengenai kebutuhan, masalah kesehatan dan respon pasien terhadap masalah kesehatan pasien (Muhith, 2. Berdasarkan hasil pengkajian didapatkan beberapa kesamaan dari kedua pasien yaitu sama-sama berjenis laki-laki, diagnosa yang sama yaitu perilaku kekerasan Copyright: @ 2025 Authors dan dikaji pada tanggal yang sama pada tanggal 05 Februari 2024, namun perbedaan dari kedua pasien tersebut yaitu pasien 1 berusia 27 tahun, pengangguran, belum menikah, agama Islam dan bersuku Melayu dengan latar belakang sering marah-marah, mengamuk, mengancam orang tua, berbicara sendiri, melempar barang-barang, tidak bisa tidur, memaksa keluar dari RSJ ingin pulang kerumahnya, suka mengganggu dan memukul teman sekamarnya. Sedangkan pada pasien 2 berusia 31 tahun, menikah dan memiliki 4 orang anak, bekerja sebagai serabutan, agama Kristen dan bersuku Simalungun dengan latar belakang sering bingung, mengancam ingin membunuh ibunya jika keinginannya tidak dituruti, ingin keluar dari RSJ, ingin merokok dan memaksa perawat untuk membeli rokok, jika tidak diberikan maka pasien akan mengamuk dan akan memukul tembok. Berdasarkan teori penelitian (Sitorus, 2. bahwa alasan masuk pasien dengan alasan sering mengamuk tanpa sebab, memukul, membanting, mengancam, menyerang orang lain, melukai diri sendiri, mengganggu lingkungan, bersifat kasar dan pernah mengalami gangguan jiwa dimasa lalu, kambuh karena tidak mau minum obat secara Diagnosa Keperawatan Berdasarkan dari hasil pengkajian dari kasus 1 memiliki 7 masalah keperawatan yaitu, perilaku kekerasan, gangguan konsep diri: harga diri rendah, defisit perawatan diri, isolasi sosial: menarik diri, regimen teraupetik inefektif, koping individu inefektif dan resiko menciderai diri sendiri, orang lain dan Sedangkan pada pasien 2 memiliki 6 masalah keperawatan yaitu: perilaku kekerasan, gangguan konsep diri: harga diri rendah, defisit perawatan diri, regimen teraupetik inefektif, koping individu inefektif dan resiko menciderai diri sendiri, orang lain dan lingkungan. Maka hasil diagnosa yang didapatkan dari kedua pasien memiliki diagnosa medis yang sama yaitu perilaku kekerasan. Dari data diagnosa pada kedua pasien tersebut tersebut yang akan menjadi fokus penelitian. Dimana dari data kedua pasien menunjukkan perilaku Pada pasien 1 menunjukkan perilaku kekerasan yang berhubungan dengan memaksa keluar dari RSJ, memukul teman Sedangkan, pada pasien 2 menunjukkan perilaku kekerasan yang juga berhubungan dengan harga diri rendah ditandai dorongan marah, pasien marah-marah dan memaksa perawat untuk membeli rokok dan mengancam memukul tembok jika tidak Diagnosa tersebut sesuai dengan diagnosa menurut Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI, Diagnosis keperawatan merupakan dasar pemilihan intervensi dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan oleh perawat yang bertanggung jawab (Muhith, 2. Intervensi Keperawatan Rencana tindakan keperawatan yang akan diberikan pada pasien 1 dan 2 adalah dengan membuat strategi pelaksanaan (SP). Pada SP 1 bina hubungan saling percaya menggunakan komunikasi teraupetik dengan pasien. Pada SP 2 mengontrol perilaku kekerasan dengan latihan fisik yaitu dengan memukul bantal atau kasur. SP 3 yaitu mengotrol perilaku kekerasan dengan teknik REBT. SP 4 Mengontrol Perilaku kekerasan dengan Spritual. SP 5 bantu pasien dalam kepatuhan minum obat (Nurul, 2. Implementasi Keperawatan Pada dilakukan, akan dijelaskan mengenai tahapan implementasi atau pelaksanaan dan hasil yang diperoleh dari pasien 1 dan pasien 2 dengan dilakukannya SP 1-SP 5 untuk menjelaskan secara rinci gambaran menyeluruh mengenai proses penelitian yang dilakukan. Dalam tindakan keperawatan ini, peneliti bekerja sama dengan perawat ruangan. Adapun tindakan keperawatan yang dilakukan yaitu dengan strategi pelaksanaan (SP). Pada pasien 1 melakukan SP 1 bina hubungan saling percaya yang dilakukan pada hari senin 05 Februari 2024 jam 09. 20 diperoleh hasil bahwa pasien mampu melakukan bina Copyright: @ 2025 Authors hubungan percaya, dimana pasien mau memperkenalkan diri pada perawat dan mau menceritakan latar belakang alasan masuk ke RSJ. SP 2 mengontrol perilaku kekerasan dengan latihan fisik memukul bantal atau kasur yang dilakukan pada jam 13. pasien mampu melakukan latihan fisik dengan memukul bantal yang bertujuan untuk mengontrol emosi supaya tidak menciderai Tindakan selanjutnya yang dilakukan adalah SP 3 mengontrol perilaku kekerasan dengan rational emotive behavior therapy pada hari selasa 06 Februari 2024 jam 09. 20 pasien dapat diajak bekerja sama dengan perawat untuk membahas hal-hal positif yang dapat dilakukan untuk mengontrol emosi yang dirasakan pasien. Pasien mau mendengarkan perawat ketika perawat menjelaskan tentang ratoinal emotive behavior therapy. SP 4 mengontrol perilaku kekeradan dengan kegiatan spritual pada jam 13. 25, hal pertama yang dialakukan yaitu perawat mengkaji kembali mengenai SP3 yang telah dilakukan sebelumnya, maka didapatkan hasil bahwa pasien mampu menjelaskan kembali mengenai rational emotive behavior therapy dan mulai bersikap lebih baik dari sebelumnya, pasien mampu menjelaskan bahwa sudah mulai berpikir positif dan berpikir lebih tenang. Selanjutnya pasien mau melakukan kegiatan spritual dengan beribadah sesuai dengan kepercayaan yang dianut yaitu agama Kemudian dilanjutkan dengan SP 5 membantu pasien dalam kepatuhan minum obat pada hari rabu 07 Februari 2024 jam 20, mengakaji kembali SP 3 dan SP 4 maka hasil yang didapatkan yaitu pasien sudah mampu berpikir rilkes dan dapat melihat halhal positif dari dirinya, emosi pasien sudah dapat terkontrol dan pasien sudah melakukan ibadah sesuai dengan agama yang dianut. Selanjutnya pada kepatuhan minum obat, pasien diajarkan untuk rutin minum obat. Adapun obat yang diberikan yaitu risperidone 2 mg x 1, trehexilphenidil 25 mg x 1 dan chlorpomazim 1 mg x 1. Adapun tindakan yang dilakukan pada pasien 2 melakukan SP 1 bina hubungan saling percaya yang dilakukan pada hari senin 05 Februari 2024 jam 11. 25 diperoleh hasil bahwa pasien mampu melakukan bina hubungan percaya, dimana pasien mau memperkenalkan diri pada perawat dan mau menceritakan latar belakang alasan masuk ke RSJ. SP 2 mengontrol perilaku kekerasan dengan latihan fisik memukul bantal atau kasur yang dilakukan pada jam 15. 30 pasien mampu melakukan latihan fisik dengan memukul bantal yang bertujuan untuk mengontrol emosi supaya tidak menciderai Tindakan selanjutnya yang dilakukan adalah SP 3 mengontrol perilaku kekerasan dengan rational emotive behavior therapy pada hari selasa 06 Februari 2024 jam 11. 35 pasien dapat diajak bekerja sama dengan perawat untuk membahas hal-hal positif yang dapat dilakukan untuk mengontrol emosi yang dirasakan pasien. Pasien mau mendengarkan perawat ketika perawat menjelaskan tentang ratoinal emotive behavior therapy. SP 4 mengontrol perilaku kekeradan dengan kegiatan spritual pada jam 15. 25, hal pertama yang dilakukan yaitu perawat mengkaji kembali mengenai SP3 yang telah dilakukan sebelumnya, maka didapatkan hasil bahwa pasien mampu menjelaskan kembali mengenai rational emotive behavior therapy dan mulai bersikap lebih baik dari sebelumnya, pasien mampu menjelaskan bahwa sudah mulai berpikir positif dan berpikir lebih tenang. Selanjutnya pasien mau melakukan kegiatan spritual dengan beribadah sesuai dengan kepercayaan yang dianut yaitu agama kristen. Kemudian dilanjutkan dengan SP 5 membantu pasien dalam kepatuhan minum obat pada hari rabu 07 Februari 2024 jam 20, mengakaji kembali SP 3 dan SP 4 maka hasil yang didapatkan yaitu pasien sudah mampu berpikir rilkes dan dapat melihat halhal positif dari dirinya, emosi pasien sudah dapat terkontrol dan pasien sudah melakukan ibadah sesuai dengan agama yang dianut. Selanjutnya pada kepatuhan minum obat, pasien diajarkan untuk rutin minum obat. Adapun obat yang diberikan yaitu risperidone Copyright: @ 2025 Authors 2 mg x 1, trehexilphenidil 25 mg x 1 dan chlorpomazim 1 mg x 1. Rational emotive behavior therapy dapat mengubah pola perilaku maladaptif menjadi adaptif, meningkatkan kemampuan pasien dalam mengontrol perilaku agresif yang sebelumnya tidak dapat dikendalikan, mampu berfikir yang rasional, memahami rentang perasaan senang samapai marah yang dirasakannya, mampu membedakan suatu kondisi atau peristiwa, sehingga pasien dapat melakukan koping yang adaptif terhadap suatu peristiwa dalam jangka waktu lama (Pardede et al, 2. Evaluasi Pada hasil evaluasi yang didapatkan dari kedua responden didapatkan hasil bahwa pada pasien 1, perilaku kekerasan dapat diatasi dengan pemberian rational emotive behavior therapy, pasien mengatakan perilaku marah berkurang saat pasien mengubah pemikiran menjadi lebih positif. Selama pelaksanan keperawatan yang dilakukan, pada SP 1 diperoleh evaluasi bahwa pasien mampu melakukan bina hubungan saling percaya dengan perawat. SP 2 evaluasi yang didapatkan yaitu pasien mampu melakukan latihan fisik dengan memukul bantal atau kasur untuk mengurangi tindakan menciderai diri sendiri, orang lain maupun lingkungan, pada SP 3 pasien dapat mengontrol marah dan perilaku kekerasan dengan melakukan rational emotive behavior therapy, dimana pasien dapat mengubah pola pikir yang tidak rasional menjadi leboih positif sehingga perilaku kekerasan dan emosi pasien dapat menurun. SP 4 dilanjutkan dengan membantu pasien untuk meningkatkan spiritual dan terakhir pada SP 5 yaitu pasien mengetahui manfaat obat dan cara minum obat yang benar dan rutin minum obat. Sama halnya dengan hasil yang diperoleh dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Siauta. Moomina. Hani Tuasikal . , melibatkan 6 orang responden melaporkan bahwa setelah diberikan Rational Emotive Behavior Therapy pasien dapat mengontrol kekerasan yang dilakukan pasien berkurang. Pada pasien 2, didapatkan perubahan perilaku dimana perilaku kekerasan berkurang setelah dilakukan SP 1 diperoleh evaluasi bahwa pasien mampu melakukan bina hubungan saling percaya dengan perawat. SP 2 evaluasi yang didapatkan yaitu pasien mampu melakukan latihan fisik dengan memukul bantal atau kasur untuk mengurangi tindakan menciderai diri sendiri, orang lain maupun lingkungan, pada SP 3 pasien dapat mengontrol marah dan perilaku kekerasan dengan melakukan rational emotive behavior therapy, dimana pasien dapat mengubah pola pikir yang tidak rasional menjadi leboih positif sehingga perilaku kekerasan dan emosi pasien dapat menurun. Pada SP 4 dilanjutkan dengan membantu pasien untuk meningkatkan spiritual dan terakhir pada SP 5 yaitu pasien mengetahui manfaat obat dan cara minum obat yang benar dan rutin minum obat. Dengan diberikannya Rational Emotive Behavior Therapy, evaluasi yang didapatkan dari hasil tindakan yang dilakukan, didapatkan hasil bahwa perilaku pasien dapat berubah setelah diberikan penjelasan mengenai rational emotive behavior Sesuai dengan hasil studi yang dilakukan oleh (Pardede et al. , 2. menunjukkan bahwa sebelum diberikan intervensi, kemampuan mengontrol peerilaku kekerasan sebagian besar dalam kategori kurang, namun setelah diberikan terapi Rational Emotive Behavior Therapy kemampuan pasien mengontrol kekerasan mengemukakan bahwa ketika sedang marah karena aktivitasnya terganggu mereka tidak langsung membalas tetapi berusaha melihat hal positif dalam dirinya serta berusaha lebih Selain itu, pasien juga menjadi lebih tenang dalam berfikir dan dapat mengelola stress dan pernapasannya dengan baik. Kondisi ini dialami pasien karena pemberian Rational Emotive Behavior Therapy dapat membantu pasien memusatkan fokus dan kemampuan untuk berpikir logis. Evaluasi adalah kegiatan yang dilakukan secara terus menerus untuk mengetahui respon pasien terhadap tindakan keperawatan yang telah dilakukan untuk mengetahui apakah tindakan yang dilakukan berhasil. Adapun evaluasi pada pasien dengan diagnosa perilaku kekerasan dapat dilakukan Copyright: @ 2025 Authors pada pasien yaitu: Pasien mampu menyebutkan penyebab, tanda dan gejala perilaku kekerasan, perilaku kekerasan yang biasa dilakukan, serta akibat dari perilaku kekerasan yang dilakukan. Pasien mengontrol perilaku kekererasan secara teratur sesuai jadwal, yang meliputi: 1. Secara Secara sosial/ verbal Secara spiritual Secara psikofarma (Yusuf. Ah 2. Setelah dilakukan tindakan keperawatan pada pasien 1 dan 2, maka tahap evaluasi masalah teratasi pada pertemuan ke 5 pada kedua kasus yaitu mengontrol perilaku kekerasan dengan rational emotive behavior Setelah dilakukan komunikasi dengan pasien dan mengajarkan untuk rajin beribadah dan rutin minum obat, pasien mampu mengubah perilaku yang tidak rasional atau perilaku-perilaku yang negatif menjadi perilaku yang rasional atau positif. Kedua pasien dapat mengurangi perilaku marah setelah diajarkan terapi rational emotive KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Setelah peneliti melaksanakan asuhan keperawatan pada pasien perilaku kekerasan di Rumah Sakit Jiwa Prof. DR. Muhammad Ildrem tahun 2024 yaitu pada kedua pasien pada tanggal 05 Februari 2024 - 07 Februari 2024 dengan 6 kali pertemuan, peneliti dapat menarik kesimpulan dan dapat memberikan saran yang mungkin dapat bermanfaat bagi pembaca maupun paramedis lainnya. Adapun kesimpulan tersebut adalah: Pengkajian Berdasarkan hasil pengkajian kedua responden memiliki beberapa kesamaan yaitu pada pasien 1 dan 2 adalah berjenis kelamin laki-laki, diagnosa yang sama yaitu perilaku kekerasan dan dikaji pada tanggal yang sama pada tanggal 05 Februari 2024, namun perbedaan dari kedua pasien tersebut yaitu pasien 1 berusia 27 tahun, pengangguran, belum menikah, agama Islam dan bersuku Melayu dengan latar belakang sering marahmarah, mengamuk, mengancam orang tua, berbicara sendiri, melempar barang-barang, tidak bisa tidur, memaksa keluar dari RSJ ingin pulang kerumahnya, suka mengganggu dan memukul teman sekamarnya. Sedangkan pada pasien 2 berusia 31 tahun, menikah dan memiliki 4 orang anak, bekerja sebagai serabutan, agama Kristen dan bersuku Simalungun dengan latar belakang sering bingung, mengancam ingin membunuh ibunya jika keinginannya tidak dituruti, ingin keluar dari RSJ, ingin merokok dan memaksa perawat untuk membeli rokok, jika tidak diberikan maka pasien akan mengamuk dan akan memukul tembok. Diagnosa Keperawatan Diagnosis keperawatan merupakan dasar pemilihan intervensi dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan oleh perawat yang bertanggung jawab (Muhith, 2. Secara umum berdasarkkan yang ditentukan dalam SDKI . , diagnosa yang ditentukan adalah 0123 Perilaku Kekerasan. Diagnosa keperawatan yang didapatkan dari kedua responden adalah memiliki diagnosa keperawatan yang sama yaitu perilaku Pada pasien 1 menunjukkan perilaku kekerasan yang berhubungan dengan harga diri rendah ditandai dengan ketidakmampuan mengendalikan marah, memaksa keluar dari RSJ, memukul teman sekamarnya. Sedangkan, pada pasien 2 menunjukkan perilaku kekerasan yang juga berhubungan dengan harga diri rendah ditandai dengan ketidakmampuan mengendalikan dorongan marah, pasien marahmarah dan memaksa perawat untuk membeli rokok dan mengancam memukul tembok jika tidak dituruti. Rencana Keperawatan Rencana tindakan keperawatan yang telah dilakukan yaitu pada kedua responden memiliki rencana tindakan keperawatan yang sama yaitu dengan strategi pelaksanaan (SP). Pada SP 1 bina hubungan saling percaya menggunakan komunikasi teraupetik dengan pasien. Pada SP 2 mengontrol perilaku kekerasan dengan latihan fisik yaitu dengan memukul bantal atau kasur. SP 3 yaitu mengotrol perilaku kekerasan dengan teknik Rational Emotive Behavior Copyright: @ 2025 Authors Therapy. SP 4 Mengontrol Perilaku kekerasan dengan Spritual. SP 5 bantu pasien dalam kepatuhan minum obat. Rational Emotive Behavior Therapy dapat mengubah pola perilaku maladaptif menjadi adaptif, meningkatkan kemampuan pasien dalam mengontrol perilaku agresif yang sebelumnya tidak dapat dikendalikan, mampu berfikir yang rasional, memahami rentang dari perasaan senang sampai marah yang dirasakannya, mampu membedakan antara kenyataan dengan persepsi terhadap suatu kondisi atau peristiwa, sehingga pasien dapat melakukan koping yang adaptif terhadap suatu peristiwa dalam jangka waktu lama (Pardede et al, 2. Tindakan Keperawatan Implementasi dalam pemberian asuhan keperawatan yaitu dengan strategi pelaksanaan (SP), yaitu SP 1-SP 5 pada pasien. Pada SP 1 bina hubungan saling percaya menggunakan komunikasi teraupetik dengan pasien. Pada SP 2 mengontrol perilaku kekerasan dengan latihan fisik yaitu dengan memukul bantal atau kasur. SP 3 yaitu mengotrol perilaku kekerasan dengan teknik Rational Emotive Behavior Therapy dan melatih dengan cara spiritual dan berdoa sesuai dengan agama yang dianut SP 4 Mengontrol Perilaku kekerasan dengan cara berdoa atau beribadah sesuai kepercayaan pasien. SP 5 bantu pasien dalam kepatuhan minum obat secara teratur. Dengan diberikannya SP pada pasien perilaku agresif pada perilaku kekerasan diharapkan pasien dapat mengontrol perilaku kekerasan agar tidak merugikan diri sendiri, orang lain dan lingkungan (Nurul, 2. Rational emotive behavior therapy dapat mengubah pola perilaku maladaptif menjadi adaptif, meningkatkan kemampuan pasien dalam mengontrol perilaku agresif yang sebelumnya tidak dapat dikendalikan, mampu berfikir yang rasional, memahami rentang perasaan senang samapai marah yang dirasakannya, mampu membedakan suatu kondisi atau peristiwa, sehingga pasien dapat melakukan koping yang adaptif terhadap suatu peristiwa dalam jangka waktu lama (Pardede et al, 2. Evaluasi Pada hasil evaluasi yang didapatkan dari kedua responden yaitu pasien 1 dan 2 didapatkan hasil bahwa pada pasien 1 dengan perilaku kekerasan dapat diatasi dengan pemberian rational emotive behavior therapy, pasien mengatakan perilaku marah dan emosi berkurang saat pasien mengubah pemikiran menjadi lebih positif. Selama pelaksanan keperawatan yang dilakukan. Sama halnya dengan hasil yang diperoleh dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Siauta. Moomina. Hani Tuasikal . , melaporkan bahwa setelah diberikan Rational Emotive Behavior Therapy pasien dapat mengontrol kekerasan yang dilakukan pasien berkurang. Pada pasien 2, didapatkan perubahan perilaku dimana perilaku marah dan emosi pada perilaku kekerasan berkurang setelah diberikan Rational Emotive Behavior Therapy, evaluasi yang didapatkan dari hasil tindakan yang dilakukan, didapatkan hasil bahwa perilaku pasien dapat berubah setelah diberikan penjelasan mengenai rational emotive behavior Sesuai dengan hasil studi yang dilakukan oleh (Pardede et al. , 2. menunjukkan bahwa sebelum diberikan intervensi, kemampuan mengontrol perilaku kekerasan sebagian besar dalam kategori kurang, namun setelah diberikan terapi Rational Emotive Behavior Therapy kemampuan pasien mengontrol kekerasan mengemukakan bahwa ketika sedang marah karena aktivitasnya terganggu mereka tidak langsung membalas tetapi berusaha melihat hal positif dalam dirinya serta berusaha lebih Selain itu, pasien juga menjadi lebih tenang dalam berfikir dan dapat mengelola stress dan pernapasannya dengan baik. Kondisi ini dialami pasien karena pemberian Rational Emotive Behavior Therapy dapat membantu pasien memusatkan fokus dan kemampuan untuk berpikir logis. Saran Bagi Rumah Sakit Jiwa Prof. DR. Muhammad Ildrem Diharapkan menjadi panduan dalam pemberian asuhan keperawatan pada pasien perilaku kekerasan untuk mengontrol emosi Copyright: @ 2025 Authors Bagi Institusi Pendidikan Muhith, . Pendidikan Menjadi acuan bagi mahasiswa dalam Keperawatan Jiwa (Teori dan Aplikas. melakukan penelitian dengan studi kasus Yogyakarta: Andi. asuhan keperawatan jiwa pada perilaku Pardede. Jek Amidos. LauraMariati kekerasan dan dapat menambah literatur Siregar, and Efendi Putra Hulu. bagi institusi. Efektifitas Behaviour Therapy Terhadap Bagi Peneliti Risiko Perilaku Kekerasan Pada Pasien Sebagai referensi untuk melakukan Skizofrenia. Jurnal Mutiara Ners 3. :8-14. penelitian lanjutan dalam pemberian asuhan keperawatan jiwa dengan masalah perilaku DAFTAR PUSTAKA