ZONA KEDOKTERAN VOL 15 NO 3 SEPTEMBER 2025 HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN PERILAKU VAGINAL HYGINE DENGAN KEJADIAN KEPUTIHAN PADA REMAJA PUTRI DI SMA KARTINI BATAM Acholder T Perdoman Sirait1. Nopri Esmiralda2. Ance Purnama3 Fakultas Kedokteran Universitas Batam Email: acholder@univbatam. id, dr. nopri@gmail. com, 61121004@univbatam. ABSTRACT Background: Vaginal discharge is a common condition experienced by young women and can be physiological or pathological. The main factor that contributes to the incidence of vaginal discharge is knowledge and vaginal hygiene behavior. This study aims to determine the relationship between the level of knowledge and vaginal hygiene behavior and the incidence of vaginal discharge in adolescent girls at SMA Kartini Batam. Methods: This research uses quantitative methods with a cross-sectional design. The research sample consisted of 129 female students selected using simple random sampling techniques. Data was collected using a structured questionnaire and analyzed using the Chi-Square test. Results: The results showed that the majority of respondents had a good level of knowledge . 6%) and good vaginal hygiene behavior . %). Pathological vaginal discharge was found 6% of respondents. Bivariate analysis showed that there was no significant relationship between knowledge and the incidence of vaginal discharge . -value = 0. However, there is a significant relationship between vaginal hygiene behavior and the incidence of vaginal discharge . -value = 0. Conclusion: The conclusion of this study is that although a good level of knowledge is not directly related to the incidence of vaginal discharge, poor vaginal hygiene behavior increases the risk of pathological vaginal discharge. Keywords: Knowledge. Behavior. Vaginal Hygiene. Vaginal Discharge ABSTRAK Latar Belakang: Keputihan merupakan kondisi umum yang dialami oleh remaja putri dan dapat bersifat fisiologis maupun patologis. Faktor utama yang berkontribusi terhadap kejadian keputihan adalah pengetahuan dan perilaku vaginal hygiene. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan dan perilaku vaginal hygiene dengan kejadian keputihan pada remaja putri di SMA Kartini Batam. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 129 siswi yang dipilih melalui teknik simple random sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur dan dianalisis menggunakan uji Chi-Square. Hasil: Penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan yang baik . ,6%) dan perilaku vaginal hygiene yang baik . %). Kejadian keputihan patologis ditemukan pada 56,6% responden. Analisis bivariat menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan kejadian keputihan . -value = 0,. Namun, terdapat hubungan yang signifikan antara perilaku vaginal hygiene dengan kejadian keputihan . -value = 0,. Kesimpulan: Meskipun tingkat pengetahuan yang baik tidak berhubungan langsung dengan kejadian keputihan, perilaku vaginal hygiene yang buruk meningkatkan risiko keputihan Kata kunci: Pengetahuan. Perilaku. Vaginal Hygiene. Keputihan PENDAHULUAN Masa remaja adalah tahap peralihan dari masa kanak-kanak menuju dewasa Universitas Batam Batam Batam yang ditandai dengan berbagai perubahan, baik fisik maupun psikologis. Salah satu aspek yang paling signifikan dalam proses Page 245 ZONA KEDOKTERAN VOL 15 NO 3 SEPTEMBER 2025 ini adalah perkembangan organ reproduksi, yang memerlukan perhatian khusus dalam hal perawatan dan kesehatan. Pemahaman yang baik mengenai kesehatan reproduksi menjadi kunci utama dalam menjaga keseimbangan fungsi tubuh, terutama pada remaja putri (Pradnyandari dkk, 2. Pubertas pada remaja putri dimulai (Luteinizing Hormon. dan FSH (Follicle Stimulating Hormon. , yang berperan dalam pematangan organ reproduksi. Salah satu kondisi yang sering terjadi selama masa ini adalah keputihan. Jika tidak ditangani dengan baik, keputihan bisa menjadi pemicu infeksi pada saluran reproduksi dan organ kelamin, bahkan berisiko menyebabkan peradangan panggul. Sayangnya, masih banyak remaja yang kurang memahami penyebab serta cara mencegah kondisi ini (Rahma. Keputihan, atau fluor albus, merupakan keluarnya cairan atau lendir dari vagina maupun leher rahim . Kondisi ini sebenarnya merupakan proses alami tubuh dalam menjaga kelembaban dan kebersihan area intim serta mencegah infeksi. Keputihan dapat dikategorikan menjadi dua jenis: fisiologis . dan patologis . idak norma. Keputihan fisiologis umumnya terjadi sebelum atau sesudah menstruasi serta saat masa subur. Ciricirinya meliputi cairan bening atau putih menimbulkan rasa gatal atau perih. Sebaliknya, keputihan patologis sering kali disebabkan oleh infeksi, ditandai dengan cairan berwarna putih pekat, kekuningan, atau kehijauan, berbau tidak sedap, serta disertai rasa gatal dan nyeri (Hoerunnisa et al, 2019 Suminar, 2. Menurut WHO, perempuan di seluruh dunia mengalami keputihan, dengan prevalensi tertinggi pada kelompok usia 15-22 tahun . %) dan 2345 tahun . %). Di Indonesia, kasus keputihan lebih tinggi dibandingkan angka global, yaitu mencapai 90% akibat kondisi pertumbuhan jamur dan bakteri penyebab Setiap tahunnya, angka kejadian Universitas Batam Batam Batam keputihan terus meningkat hingga mencapai 70% (Melina, 2. Kurangnya reproduksi menjadi salah satu faktor utama yang memicu infeksi. Oleh karena itu, menjaga kebersihan area genital atau vulva hygiene sangat penting. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain menggunakan kain yang bersih, kering, dan lembut, mengganti celana dalam minimal dua kali sehari, memilih bahan pakaian dalam yang dapat menyerap keringat dengan baik, serta membasuh area kewanitaan dari arah depan ke belakang agar bakteri dari anus tidak berpindah ke vagina (Darma. , 2. Selain faktor kebersihan, keputihan patologis juga bisa disebabkan oleh infeksi jamur, bakteri, atau virus. Beberapa penyebab yang umum ditemukan meliputi bakterial vaginosis (BV). Trichomonas vaginalis, dan Candida albicans. Infeksi dari patogen seperti Neisseria gonorrhoeae. Chlamydia Mycoplasma genitalium, serta virus herpes simplex (HSV) tipe 1 dan 2 juga dapat memicu gangguan pada organ reproduksi. Jika tidak segera ditangani, infeksi ini bisa menyebar hingga ke rahim, saluran tuba, dan ovarium, menyebabkan peradangan panggul dan (Maulidia. , 2. Penting bagi setiap remaja putri untuk mengenali tanda-tanda keputihan serta membedakan mana yang bersifat normal dan mana yang tidak. Dengan memiliki pengetahuan yang cukup, mereka dapat mencegah serta mengambil langkah berkonsultasi dengan tenaga medis jika mengalami gejala keputihan yang tidak Minimnya akses terhadap informasi mengenai kesehatan reproduksi menjadi salah satu penyebab tingginya angka kejadian keputihan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa banyak remaja masih memiliki tingkat pemahaman yang rendah terkait perawatan organ intim. Berdasarkan wawancara dengan sepuluh siswi SMA Kartini Batam, seluruhnya pernah mengalami keputihan. Page 246 ZONA KEDOKTERAN VOL 15 NO 3 SEPTEMBER 2025 dan tujuh di antaranya memiliki pengetahuan yang kurang tentang kondisi METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif jenis deskriptif analitik dengan cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh Siswi SMA Kartini Batam. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah Peneliti mendapatkan sampel sebanyak 129 responden yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Data penelitian dikumpulkan dengan Analisis data menggunakan uji Chi-square Test. Tingkat signifikansi yang digunakan adalah p-value 0. Penelitian ini telah mendapat persetujuan etik dari Komite Etik Penelitian Kesehatan dengan No. 015/LPPM-UNIBA/PI-EC/I/2025. HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Univariat Distribusi Frekuensi Berdasarkan Pengetahuan Responden Tabel 1. Distribusi Frekuensi Pengetahuan Pengetahuan Baik Buruk Total Frekuensi . Persentase (%) Berdasarkan data dalam tabel 1 mengenai distribusi frekuensi berdasarkan tingkat pengetahuan, dari 129 responden yang diteliti, sebanyak 122 orang . ,6%) memiliki pengetahuan yang baik mengenai kesehatan reproduksi. Sementara itu, hanya 7 orang . ,4%) yang memiliki tingkat pengetahuan yang kurang memadai. Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Risna Sri Wahyuni. dan rekan-rekannya pada tahun 2023 dalam studi berjudul Hubungan Pengetahuan. Sikap, dan Perilaku Vaginal Hygiene terhadap Kejadian Fluor Albus pada Siswi SMAN 17 Makassar. Dalam penelitian tersebut, ditemukan bahwa mayoritas siswi memiliki tingkat pengetahuan yang cukup, yakni sebanyak 91 orang . %), sementara Universitas Batam Batam Batam 19 orang . %) memiliki pengetahuan yang Menariknya, tidak ditemukan responden dengan tingkat pengetahuan yang tergolong rendah dalam studi tersebut. Tingginya tingkat pengetahuan di kalangan responden dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti jenjang pendidikan, akses terhadap informasi, pengalaman pribadi, budaya, serta kondisi sosial Faktor-faktor ini berperan besar dalam membentuk pemahaman seseorang mengenai pentingnya menjaga kebersihan area kewanitaan atau vaginal hygiene untuk mencegah kejadian keputihan. Semakin luas informasi yang diperoleh seseorang, semakin baik pula kesadaran dan pemahamannya dalam menerapkan praktik perawatan diri yang tepat (Fatimah. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Perilaku Responden Tabel 2. Distribusi Frekuensi Perilaku Perilaku Baik Kurang Total Frekuensi . Persentase (%) Berdasarkan data dalam Tabel 2, mengenai distribusi frekuensi berdasarkan perilaku, dari 129 responden yang diteliti, sebanyak 80 orang . ,0%) memiliki perilaku yang baik dalam menjaga kebersihan organ reproduksi. Sementara itu, 49 orang lainnya . ,0%) menunjukkan perilaku yang kurang dalam aspek ini. Temuan ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Mutiara Andjani Arsyat pada tahun 2023 dalam studinya yang berjudul Hubungan Perilaku Vaginal Hygiene dengan Kejadian Keputihan pada Mahasiswi Fakultas Kedokteran UMI. Dalam penelitian tersebut, ditemukan bahwa dari 173 responden, sebanyak 62,5% memiliki perilaku vaginal hygiene yang 37,5% menunjukkan perilaku negatif dalam menjaga kebersihan area kewanitaan. Perilaku yang baik dalam menjaga kebersihan organ reproduksi biasanya dipengaruhi oleh beberapa faktor utama, seperti edukasi yang memadai, kebiasaan Page 247 ZONA KEDOKTERAN VOL 15 NO 3 SEPTEMBER 2025 yang telah tertanam sejak dini, serta dukungan dari lingkungan, baik keluarga maupun sekolah. Sebaliknya, perilaku yang kurang baik sering kali disebabkan oleh minimnya edukasi mengenai kesehatan reproduksi, kebiasaan yang tidak sehat, serta lingkungan yang kurang mendukung penerapan kebersihan diri secara optimal. Oleh karena itu, peningkatan kesadaran melalui pendidikan dan pembiasaan sejak dini sangat penting untuk membentuk perilaku yang lebih baik dalam menjaga kesehatan reproduksi (Rima Wirenviona. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Keputihan Tabel 3. Distribusi Frekuensi Keputihan Keputihan Fisiologis Patologis Total Frekuensi . Persentase (%) Berdasarkan data Tabel 3. Berdasarkan data dalam Tabel 4. 4 mengenai distribusi frekuensi kejadian keputihan, dari 129 responden yang diteliti, sebanyak 56 orang . ,4%) mengalami keputihan fisiologis, sedangkan 73 orang lainnya . ,6%) mengalami keputihan patologis. Temuan ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Risna Sri Wahyuni. dan rekan-rekannya pada tahun 2023 dalam studi berjudul Hubungan Pengetahuan. Sikap, dan Perilaku Vaginal Hygiene terhadap Kejadian Fluor Albus pada Siswi SMAN 17 Makassar. Dalam penelitian tersebut, ditemukan bahwa dari seluruh responden, sebanyak 81% mengalami keputihan fisiologis, sementara 19% mengalami keputihan patologis. Keputihan disebabkan oleh berbagai infeksi, baik yang berasal dari jamur seperti Candida albicans, bakteri seperti Gardnerella vaginalis, parasit seperti Trichomonas vaginalis, maupun virus seperti Human Papilloma Virus (HPV). Jika tidak ditangani dengan baik, kondisi ini dapat berkembang menjadi komplikasi serius, seperti infeksi saluran reproduksi, radang panggul, hingga kesuburan atau kemandulan. Oleh karena itu, kesadaran mengenai penyebab serta cara pencegahan keputihan patologis menjadi sangat penting agar perempuan, khususnya remaja, dapat menjaga kesehatan reproduksi mereka dengan lebih baik (Hastuty. , 2. Analisis Bivariat Hubungan Pengetahuan dengan Keputihan pada remaja putri di SMA Kartini Tabel 3. Hubungan Pengetahuan dengan Keputihan pada remaja putri di SMA Kartini Keputihan Fisiologis Patologis Baik Buruk Total Pengetahuan Berdasarkan data dalam tabel 3, dari total 129 responden, terdapat dua kategori utama berdasarkan tingkat pengetahuan, yaitu pengetahuan yang baik dan pengetahuan yang kurang. Dari kelompok yang memiliki pengetahuan baik, sebanyak 122 responden tercatat dalam penelitian Rinciannya, 55 orang . ,1%) mengalami keputihan fisiologis, sementara Universitas Batam Batam Batam Total P-value 0,110 67 orang lainnya . ,9%) mengalami keputihan patologis. Sementara itu, dari 7 responden yang memiliki pengetahuan kurang, hanya 1 orang . ,3%) mengalami keputihan fisiologis, sedangkan 6 orang lainnya . ,7%) mengalami keputihan patologis. Hasil uji statistik dengan metode ChiSquare menunjukkan nilai p-value sebesar Page 248 ZONA KEDOKTERAN VOL 15 NO 3 SEPTEMBER 2025 0,110. Karena nilai ini lebih besar dari 0,05, maka hipotesis H1 dinyatakan gagal, yang berarti tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dan kejadian keputihan pada remaja putri di SMA Kartini. Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Risna Sri Wahyuni. dan timnya pada tahun 2023 dalam studi berjudul Hubungan Pengetahuan. Sikap, dan Perilaku Vaginal Hygiene terhadap Kejadian Fluor Albus pada Siswi SMAN 17 Makassar. Dalam penelitian tersebut, analisis dengan metode Chi-Square menghasilkan nilai p-value sebesar 0,687 (> 0,. , yang juga menunjukkan tidak adanya hubungan signifikan antara tingkat pengetahuan dan kejadian fluor albus. Menurut Notoatmodjo pengetahuan merupakan langkah awal dalam membentuk perilaku seseorang, namun tidak selalu berbanding lurus dengan tindakan yang dilakukan. Artinya, meskipun seseorang memiliki wawasan yang baik mengenai kesehatan reproduksi, tanpa adanya dorongan atau kebiasaan yang mendukung, penerapan perilaku sehat dapat tetap terhambat. Selain tingkat pengetahuan, faktor lain tingginya kasus keputihan patologis meliputi aspek sosial budaya dan akses terhadap informasi yang benar. Studi oleh Widyaningsih et al. menemukan bahwa remaja yang mendapatkan edukasi melalui seminar atau penyuluhan memang lebih sadar akan pentingnya menjaga kebersihan organ reproduksi, tetapi hal ini tidak selalu diikuti dengan perubahan kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan yang tinggi tidak selalu berdampak langsung terhadap penurunan kasus keputihan patologis, edukasi tetap menjadi aspek penting dalam membentuk kebiasaan dan sikap yang lebih sehat. Oleh karena itu, upaya peningkatan kesadaran harus terus dilakukan agar pemahaman yang sudah baik dapat diubah menjadi tindakan kesehatan reproduksi. Selain itu, efektivitas edukasi sangat dipengaruhi oleh cara penyampaian Pengetahuan yang diperoleh melalui seminar, media sosial, atau tenaga medis akan lebih bermanfaat jika dikombinasikan dengan contoh praktik Oleh sebab itu, diperlukan metode pendekatan yang lebih interaktif dalam penyuluhan kesehatan reproduksi, sehingga informasi yang diberikan dapat kehidupan sehari-hari. Hubungan Perilaku dengan Keputihan pada remaja putri di SMA Kartini Tabel 4. Hubungan Perilaku dengan Keputihan pada remaja putri di SMA Kartini Keputihan Fisiologis Patologis Baik Kurang Total Perilaku Berdasarkan data dalam Tabel 4. dari total 129 responden, perilaku dalam menjaga kebersihan organ reproduksi terbagi menjadi dua kategori, yaitu perilaku baik dan perilaku kurang baik. Dari kelompok yang memiliki perilaku baik, sebanyak 80 responden tercatat dalam penelitian ini. Rinciannya, 48 orang Universitas Batam Batam Batam Total P-value 0,000 . ,0%) mengalami keputihan fisiologis, sementara 32 orang lainnya . ,0%) mengalami keputihan patologis. Di sisi lain, dari 49 responden dengan perilaku yang kurang baik, hanya 8 orang . ,3%) mengalami keputihan fisiologis, sedangkan 41 orang lainnya . ,7%) mengalami keputihan patologis. Hasil uji Page 249 ZONA KEDOKTERAN VOL 15 NO 3 SEPTEMBER 2025 statistik menggunakan metode Chi-Square menunjukkan nilai p-value sebesar 0,000. Karena nilai ini lebih kecil dari 0,05, maka hipotesis H0 ditolak, yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara perilaku vaginal hygiene dan kejadian keputihan pada remaja putri di SMA Kartini. Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Mutiara Andjani Arsyad pada tahun 2023 dalam studinya yang berjudul Hubungan Perilaku Vaginal Hygiene dengan Kejadian Keputihan pada Mahasiswi Fakultas Kedokteran UMI. Dalam penelitian tersebut, analisis dengan metode Chi-Square juga menghasilkan nilai p-value sebesar 0,000 (< 0,. , sehingga hipotesis H0 ditolak dan H1 Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara perilaku vaginal hygiene dan kejadian Menurut Kusmiran . , keputihan patologis umumnya terjadi akibat infeksi yang disebabkan oleh jamur, bakteri, atau lingkungan vagina yang lembab dan kurang bersih. Remaja dengan kebiasaan vaginal hygiene yang buruk memiliki risiko lebih tinggi mengalami keputihan Beberapa berkontribusi terhadap kondisi ini meliputi jarang mengganti pakaian dalam, tidak mengeringkan area genital setelah buang air, serta sering mengenakan pakaian ketat berbahan sintetis yang dapat meningkatkan kelembaban, menciptakan lingkungan yang ideal bagi pertumbuhan bakteri dan jamur. Penelitian menunjukkan bahwa intervensi berupa edukasi dan perubahan kebiasaan dapat secara signifikan mengurangi prevalensi Meningkatkan kesadaran akan pentingnya praktik kebersihan yang benar sangat berperan dalam pencegahan infeksi, sehingga kesehatan reproduksi remaja putri dapat lebih terjaga. KONTRIBUSI TEMUAN DALAM BIDANG KEILMUAN Temuan memberikan kontribusi penting bagi bidang Universitas Batam Batam Batam keilmuan kedokteran, khususnya dalam aspek kesehatan reproduksi remaja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun tingkat pengetahuan mengenai vaginal hygiene cukup tinggi di kalangan responden, hal ini tidak secara langsung berpengaruh terhadap kejadian keputihan. Namun, reproduksi terbukti memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian keputihan Implikasi dari temuan ini menyoroti pentingnya intervensi berbasis pencegahan infeksi reproduksi, bukan hanya peningkatan pengetahuan semata. SIMPULAN Berdasarkan Hubungan Pengetahuan dan Perilaku Vaginal Hygiene Kejadian Keputihan pada Remaja Putri di SMA Kartini Batam, dapat disimpulkan bahwa mayoritas responden . ,6%) memiliki pengetahuan yang baik mengenai keputihan dan vaginal hygiene, sementara 5,4% lainnya memiliki pengetahuan yang kurang. Dari segi perilaku, sebanyak 62,0% responden memiliki kebiasaan yang baik dalam menjaga kebersihan organ reproduksi, sedangkan 38,0% menunjukkan perilaku yang kurang baik. Terkait kejadian keputihan, sebanyak 43,4% mengalami keputihan fisiologis, sementara 56,6% mengalami keputihan patologis. Analisis statistik dengan metode Chi-Square hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dan kejadian keputihan . value = 0,110. p > 0,. Namun, hasil analisis yang sama menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara perilaku vaginal hygiene dan kejadian keputihan . value = 0,000. p < 0,. , yang mengindikasikan bahwa perilaku menjaga kebersihan organ reproduksi berperan patologis pada remaja putri di SMA Kartini Batam. UCAPAN TERIMAKASIH Peneliti mengucapkan terimakasih kepada penanggung jawab tempat penelitian Page 250 ZONA KEDOKTERAN VOL 15 NO 3 SEPTEMBER 2025 yaitu Bapak/Ibu Kepala Sekolah SMA Kartini Batam yang telah megizinkan peneliti mengambil data penelitian untuk menyelesaikan penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA