Economos :Jurnal Ekonomi dan Bisnis Volume 8. Nomor 3. Desember 2025 p-ISSN. e-ISSN. 2655-321X PENGARUH EARNINGS PER SHARE. RETURN ON ASSET. DAN DEBT TO EQUITY RATIO TERHADAP HARGA SAHAM PADA PERUSAHAAN MAKANAN DAN MINUMAN YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA (BEI) The Influence of Earnings Per Share. Return on Assets, and Debt to Equity Ratio on Stock Prices of Food and Beverage Companies Listed on the Indonesia Stock Exchange (IDX) Said Saleh Salihi. Hwihanus. Email: said. kulisusu@gmail. , hwihanus@untag-sby. Fakultas Ekonomi Universitas Dayanu Ikhsanuddin Baubau. Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. Jl. Sultan Dayanu Ikhsanuddin No 124. Kec. Betoambari. Kota Bau-Bau. Sulawesi Tenggara 937. Jl. Semolowaru no. 45 Surabaya. Kota Surabaya. Jawa Timur 60119 Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis Pengaruh Earnings Per Share (EPS). Return On Asset dan Debt to Equity Ratio Terhadap Harga Saham Perusahaan Makanan dan Minuman yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2021-2023. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan landasan dan acuan dalam menganalisis Earnings Per Share (EPS). Return On Asset dan Debt to Equity Ratio Terhadap Harga Saham pada pasar modal. Untuk memperoleh data penulis menggunakan metode dokumentasi dan studi pustaka, sedangkan teknik analisis yang digunakan ialah regresi linear berganda. Hasil penelitian pengujian dengan Koefisien determinasi (R Squar. menunjukan Earnings Per Share (EPS). Return on Asset dan Debt to Equity Ratio memberikan kontribusi terhadap Harga Saham sebesar 63,6%. Hasil uji t menunjukan variabel Earnings Per Share (EPS). Return on Asset dan Debt to Equity Ratio tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Harga Saham. Hasil uji F menunjukan variabel Earnings Per Share (EPS). Return on Asset dan Debt to Equity Ratio secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap Harga Saham. Kata Kunci : Earnings Per Share (EPS). Return on Asset (ROA). Debt to Equity Ratio (DER). Harga Saham Abstract This study aims to analyze the influence of Earnings Per Share (EPS). Return On Asset, and Debt to Equity Ratio on the Stock Prices of Food and Beverage Companies Listed on the Indonesia Stock Exchange for the 2021-2023 period. The results of this study are expected to serve as a foundation and reference for analyzing the effect of Earnings Per Share (EPS). Return On Asset, and Debt to Equity Ratio on Stock Prices in the capital market. To obtain data, the author used documentation and literature study methods, while the analysis technique employed was multiple linear regression. The research results tested with the Coefficient of Determination (R Squar. showed that Earnings Per Share (EPS). Return on Asset, and Debt to Equity Ratio contribute to Stock Prices by 63. The t-test results indicated that the variables Earnings Per Share (EPS). Return on Asset, and Debt to Equity Ratio do not have a significant individual effect on Stock Prices. The F-test results showed that the variables Earnings Per Share (EPS). Return on Asset, and Debt to Equity Ratio collectively have a significant effect on Stock Prices. Keywords: Earnings Per Share (EPS). Return on Assets (ROA). Debt to Equity Ratio (DER). Stock Price PENDAHULUAN Saham merupakan salah satu instrumen investasi yang paling diminati di pasar modal Indonesia. Harga saham menjadi barometer utama bagi investor untuk menilai kinerja dan prospek suatu perusahaan. Fluktuasi harga saham dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik fundamental, teknis, maupun makroekonomi. Di antara faktor-faktor tersebut, faktor fundamental yang tercermin dalam laporan keuangan perusahaan seringkali dijadikan dasar pertimbangan utama dalam pengambilan keputusan investasi. Informasi akuntansi dalam laporan keuangan diharapkan dapat memberikan sinyal yang membantu investor dalam memprediksi pergerakan harga saham di masa Industri makanan dan minuman merupakan salah satu sektor yang memiliki peran strategis dan resilien di tengah gejolak ekonomi, termasuk selama periode pemulihan pasca pandemi tahun Sektor ini tergolong sebagai kebutuhan pokok sehingga permintaannya cenderung Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat bahwa sektor ini konsisten menunjukkan kontribusi yang signifikan terhadap pergerakan indeks pasar. Namun, stabilitas permintaan tidak serta-merta menjamin stabilitas harga saham emitennya. Oleh karena itu, penting untuk menganalisis faktorfaktor fundamental internal apa saja yang mendorong apresiasi harga saham perusahaanperusahaan di sektor ini pada periode tersebut. Salah satu indikator fundamental yang paling populer dan sering diperhatikan oleh investor adalah Earnings Per Share (EPS). EPS mencerminkan bagian dari laba yang berhasil diraih untuk setiap lembar saham yang beredar. Semakin tinggi nilai EPS, semakin besar kemakmuran yang dapat diberikan perusahaan kepada pemegang saham, sehingga diasumsikan akan mendorong kenaikan harga saham. Penelitian oleh Wulandari & Darmayanti . pada perusahaan makanan dan minuman di BEI periode 2018-2020 menemukan bahwa EPS memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap harga saham. Temuan ini mengindikasikan bahwa investor memang merespons baik informasi mengenai profitabilitas per saham yang diumumkan oleh perusahaan. Selain profitabilitas dari sudut pandang pemegang saham (EPS), efisiensi perusahaan dalam memanfaatkan seluruh asetnya untuk menghasilkan laba juga menjadi pertimbangan krusial. Indikator untuk mengukur hal ini adalah Return On Asset (ROA). ROA menunjukkan seberapa efektif manajemen menggunakan aset perusahaan untuk menciptakan keuntungan. ROA yang tinggi menandakan kinerja operasional yang sehat, yang pada gilirannya dapat meningkatkan kepercayaan investor. Namun, hasil penelitian terdahulu tidak selalu konsisten. Misalnya, penelitian Sari & Pratama . pada sektor manufaktur menemukan bahwa ROA berpengaruh positif signifikan terhadap harga saham. Di sisi lain, penelitian lain justru menunjukkan hasil yang tidak signifikan, yang mengisyaratkan bahwa investor mungkin lebih fokus pada metrik yang langsung terkait dengan saham seperti EPS. Struktur permodalan atau kebijakan leverage perusahaan juga merupakan faktor penentu yang tidak kalah penting, yang diukur dengan Debt to Equity Ratio (DER). Rasio ini menggambarkan komposisi antara modal asing . dan modal sendiri dalam pendanaan DER yang tinggi dapat menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, utang yang digunakan secara bijak dapat meningkatkan return bagi pemegang saham . inancial leverag. Namun, di sisi lain. DER yang terlalu tinggi menandakan risiko finansial yang besar karena beban bunga yang membebani arus kas perusahaan. Penelitian oleh Kurniawan & Suryanto . menunjukkan bahwa DER justru berpengaruh negatif terhadap harga saham pada perusahaan consumer goods, karena investor menganggap tingginya utang sebagai sinyal risiko yang berpotensi menggerus laba di masa depan. Berdasarkan uraian di atas, serta adanya gap dari hasil penelitian sebelumnya, maka penelitian ini penting untuk dilakukan. Penelitian ini berjudul "Pengaruh Earnings Per Share (EPS). Return On Asset (ROA), dan Debt to Equity Ratio (DER) Terhadap Harga Saham pada Perusahaan Makanan dan Minuman yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2021-2023". Dengan memfokuskan analisis pada sektor yang resilien selama periode pemulihan ekonomi, penelitian ini diharapkan dapat memberikan bukti empiris terkini mengenai sejauh mana variabel-variabel fundamental tersebut masih menjadi pertimbangan utama investor dalam menilai harga saham, serta dapat menjadi bahan pertimbangan bagi manajemen perusahaan dalam mengambil kebijakan yang dapat memaksimalkan nilai perusahaan Secara umum, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan menguji pengaruh variabel fundamental keuangan, yaitu Earnings Per Share (EPS). Return On Asset (ROA), dan Debt to Equity Ratio (DER) terhadap harga saham pada perusahaan sektor makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode 2021 hingga 2023. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis data kuantitatif yang berbentuk angka-angka finansial dari laporan keuangan perusahaan. Sumber data yang digunakan adalah data sekunder, yang menurut Sugiyono . merupakan sumber yang tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data, melainkan melalui dokumen-dokumen yang telah Data tersebut diperoleh dari laporan keuangan perusahaan makanan dan minuman yang telah dipublikasikan secara resmi di website Bursa Efek Indonesia . , mencakup neraca, laporan laba rugi, serta data harga saham yang menjadi fokus penelitian ini. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode 2021-2023, yang berjumlah 43 Dari populasi tersebut, peneliti menggunakan teknik pengambilan sampel purposive sampling, yaitu teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan. Adapun kriteria pemilihan sampel meliputi: perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi sub sektor makanan dan minuman yang terdaftar di BEI tahun 20212023, perusahaan yang memiliki laporan keuangan yang sudah diaudit selama periode penelitian, dan keseluruhan data yang memenuhi kriteria tersebut berjumlah 33 data (N=. yang berasal dari 11 perusahaan selama 3 tahun penelitian. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan dua metode utama, yaitu dokumentasi dan studi pustaka. Teknik dokumentasi dilakukan dengan mengumpulkan data dari dokumen-dokumen resmi berupa laporan keuangan perusahaan yang dipublikasikan di BEI, baik melalui akses langsung di Galeri Investasi Unidayan Baubau maupun melalui situs resmi w. id dan w. e-bursa. Sementara itu, studi pustaka dilakukan untuk memperoleh pengetahuan dasar teori dari berbagai literatur, referensi, dan hasil penelitian sebelumnya yang relevan dengan objek penelitian, yang akan dijadikan sebagai landasan teoritis dalam penelitian ini. Variabel penelitian terdiri dari tiga variabel independen dan satu variabel dependen. Variabel independen meliputi Earnings Per Share (EPS) yang diukur dengan membandingkan laba bersih setelah pajak terhadap jumlah saham beredar. Return On Asset (ROA) yang dihitung dengan membandingkan laba bersih setelah pajak terhadap total aset, dan Debt to Equity Ratio (DER) yang diukur dengan membandingkan total utang terhadap total ekuitas. Sedangkan variabel dependennya adalah Harga Saham yang menggunakan harga penutupan . losing pric. pada periode tertentu, dimana semua variabel diukur menggunakan skala rasio. Teknik analisis data menggunakan analisis regresi linear berganda dengan persamaan Y = bCAXCA bCCXCC bCEXCE e, dimana Y merupakan variabel harga saham. XCA adalah variabel Earnings Per Share (EPS). XCC adalah variabel Return on Asset (ROA), dan XCE adalah variabel Debt to Equity Ratio (DER). Analisis koefisien determinasi (RA) digunakan untuk mengetahui seberapa besar persentase sumbangan pengaruh variabel independen secara bersama-sama terhadap variabel dependen, dimana nilai RA harus berkisar antara 0 sampai 1, dengan nilai 1 menunjukkan kecocokan sempurna dan nilai 0 menunjukkan tidak ada hubungan sama sekali antara variabel independen dengan variabel dependen. Uji statistik F dilakukan untuk menguji signifikansi pengaruh variabel independen secara simultan atau bersama-sama terhadap variabel dependen, dengan membandingkan nilai F hitung dan F tabel pada tingkat signifikansi = 0,05. Sementara uji statistik t digunakan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh secara linear antara masing-masing variabel bebas dan variabel terikat secara parsial, juga dengan membandingkan nilai t hitung dan t tabel pada tingkat signifikansi yang sama. Kedua uji statistik ini dilakukan dengan bantuan program SPSS, dimana keputusan didasarkan pada nilai signifikansi yang lebih kecil dari = 0,05 untuk menyimpulkan adanya pengaruh yang signifikan. HASIL DAN PEMBAHSAN Hasil Penelitian Berikut adalah tabel yang menampilkan 33 amatan data . perusahaan selama 3 tahu. untuk variabel Earnings Per Share (EPS). Return On Asset (ROA). Debt to Equity Ratio (DER). Tabel 1 Data Perusahaan maknana dan Minuman tahun 2021 sampai 2023 Nama Perusahaan EPS ROA DER AISA 9,42% 4,12% 128,41% 16,87% 7,77% 117,02% -24,87% -9,71% 156,24% Rata-rata 0,47% 0,73% 133,89% ALTO -4,80% -2,06% 132,80% -5,51% -2,27% 142,30% -14,99% -5,67% 164,59% Rata-rata -8,43% -3,33% 146,56% CEKA 16,65% 7,17% 132,20% 28,12% 17,51% 60,60% 11,90% 7,71% 54,22% Rata-rata 18,89% 10,80% 82,34% DLTA 22,60% 18,50% 22,21% 25,14% 21,25% 18,32% 24,44% 20,87% 17,14% Rata-rata 24,06% 20,21% 19,22% ICBP 17,84% 11,01% 62,08% 19,63% 12,56% 56,22% 17,43% 11,21% 55,57% Rata-rata 18,30% 11,59% 57,96% MLBI 64,83% 23,65% 174,09% 119,68% 43,17% 177,23% 124,15% 52,67% 135,71% Rata-rata 102,89% 39,83% 162,34% MYOR 24,07% 11,02% 118,36% 22,16% 10,75% 106,26% 22,18% 10,93% 102,82% Rata-rata 22,80% 10,90% 109,15% ROTI 22,76% 10,00% 127,70% 19,39% 9,58% 102,37% 4,80% 2,97% 61,68% No Nama Perusahaan Rata-rata SKBM Rata-rata SKLT Rata-rata ULTI Rata-rata Jumlah Keseluruhan Sumber : Data perimer, 2025 EPS 15,65% ROA 7,52% DER 97,25% 11,67% 6,12% 2,53% 6,77% 5,25% 2,25% 1,59% 3,03% 122,18% 171,90% 58,62% 117,57% 13,20% 6,97% 7,47% 9,21% 5,32% 3,63% 3,61% 4,19% 148,03% 91,87% 106,87% 115,59% 18,70% 20,34% 16,91% 18,65% 14,78% 16,74% 13,72% 15,08% 26,54% 21,49% 23,24% 23,42% 687,80% 4,78% 96,84% Berdasarkan data kinerja keuangan 11 perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode 2021-2023, dapat diidentifikasi beberapa tren dan pola kinerja yang cukup beragam di antara para emiten. Secara keseluruhan, industri ini menunjukkan dinamika yang menarik dengan variasi pencapaian yang signifikan antar perusahaan, meskipun berada dalam sektor yang sama. Dari sisi profitabilitas yang diukur melalui Earnings Per Share (EPS). PT Multi Bintang Indonesia (MLBI) mencatatkan kinerja yang sangat mengesankan dengan rata-rata EPS sebesar 102,89%, bahkan menunjukkan tren peningkatan yang konsisten dari tahun ke tahun. Pencapaian MLBI ini jauh melampaui rata-rata industri dan menjadi benchmark bagi perusahaan Di sisi lain. PT Tri Banyan Tirta (ALTO) justru mengalami tekanan kinerja yang berat dengan rata-rata EPS negatif sebesar -8,43%, yang mengindikasikan adanya tantangan operasional yang serius dalam tiga tahun terakhir. Analisis Return on Asset (ROA) mengungkapkan efisiensi penggunaan aset yang berbedabeda di antara perusahaan. MLBI kembali unggul dengan rata-rata ROA 39,85%, menunjukkan kemampuan yang luar biasa dalam mengoptimalkan aset untuk menghasilkan laba. Sementara itu. PT Delta Djakarta (DLTA) juga mencatatkan kinerja yang solid dengan ROA rata-rata 20,21%, mencerminkan pengelolaan aset yang efektif. Di ujung spektrum yang berlawanan. ALTO harus menanggung beban ROA negatif -3,33%, mengisyaratkan ketidakefisienan dalam pemanfaatan aset perusahaan. Struktur modal yang diukur melalui Debt to Equity Ratio (DER) memperlihatkan variasi strategi pendanaan yang diterapkan masing-masing perusahaan. MLBI ternyata mengadopsi strategis leverage yang tinggi dengan DER rata-rata 162,34%, sementara PT Delta Djakarta (DLTA) justru menerapkan kebijakan finansial yang konservatif dengan DER hanya 19,22%. Pola yang menarik terlihat pada PT Wilmar Cahaya Indonesia (CEKA) yang berhasil melakukan restrukturisasi utang secara signifikan, terbukti dari penurunan DER dari 132,20% di tahun 2021 menjadi 54,22% di tahun 2023. Beberapa perusahaan menunjukkan ketahanan dan konsistensi yang patut diacungi PT Ultrajaya Milk Industry (ULTI) misalnya, mampu mempertahankan keseimbangan yang baik antara profitabilitas dan struktur modal dengan EPS rata-rata 18,65%. ROA 15,08%, dan DER yang rendah di angka 23,42%. PT Indofood CBP Sukses Makmur (ICBP) juga menunjukkan stabilitas kinerja dengan berbagai rasio yang terkendali dan konsisten sepanjang periode pengamatan. Namun, tidak semua perusahaan mampu mempertahankan kinerja positif. PT Nippon Indosari Corpindo (ROTI) dan PT Sekar Bumi (SKBM) menunjukkan gejala penurunan kinerja yang perlu diwaspadai, terutama pada tahun 2023. Penurunan ini terlihat dari berbagai indikator keuangan yang mengalami kemerosotan, meskipun dengan intensitas dan pola yang berbedabeda antara satu perusahaan dengan lainnya. Secara keseluruhan, data tiga tahun terakhir ini memberikan gambaran yang komprehensif tentang landscape kompetitif industri makanan dan minuman di Indonesia. Berbagai strategi bisnis, kemampuan operasional, dan kebijakan finansial tercermin dalam angka-angka rasio keuangan tersebut, memberikan bahan analisis yang berharga bagi para pemangku kepentingan dalam mengambil keputusan strategis ke depan. Tabel 2 Rata-rata Nilai Tahunan Harga Saham Perusahaan Makanan dan Minuman Periode 2021-2023 Nama Harga Saham Rata-rata Perusahaan Harga Saham AISA Rp 1. ALTO Rp 325 CEKA Rp 675 DLTA Rp 5. ICBP Rp 6. MLBI Rp 8. MYOR Rp 1. ROTI Rp 1. SKBM Rp 945 SKLT Rp 370 ULTI Rp 986 Rata-rata Rp 2. 466,70 Sumber : Data perimer, 2025 Rp 1. Rp 330 Rp 1. Rp 5. Rp 8. Rp 11. Rp 1. Rp 1. Rp 640 Rp 308 Rp 1. Rp 3. 116,86 Rp 476 Rp 388 Rp 1. Rp 4. Rp 8. Rp 13. Rp 2. Rp 1. Rp 715 Rp 1. Rp 1. Rp 3. 248,00 Rp 1. 210,33 Rp 348,67 Rp 1. 105,00 Rp 4. 930,00 Rp 8. 071,00 Rp 11. 208,33 Rp 1. 628,33 Rp 1. 380,00 Rp 766,67 Rp 592,67 Rp 1. 141,33 Rp 2. 943,85 Berdasarkan data harga saham periode 2021-2023, secara keseluruhan terjadi peningkatan rata-rata harga saham dari Rp 2. 466,70 . menjadi Rp 3. 248,00 . Multi Bintang Indonesia (MLBI) konsisten menjadi perusahaan dengan harga saham tertinggi . ata-rata Rp 11. , diikuti oleh ICBP dan DLTA. Namun, beberapa emiten seperti AISA dan SKBM mengalami penurunan harga, sementara SKLT menunjukkan volatilitas dengan pemulihan di tahun 2023. Tabel 3 Hasil Analisis Regresi Linear Berganda Model Variabel Koefisien (B) t-hit 799,057 5,313,789 11,107,311 -184,894 0,397 0,612 0,526 -0,119 (Konstant. Earnings Per Share (EPS) Return On Asset (ROA) Debt to Equity Ratio (DER) Sumber : Data perimer, 2025 Persamaan Regresi: Y = 799,057 5313,789(EPS) 11107,311(ROA) - 184,894(DER) Signifikansi (Sig. 0,694 0,545 0,603 0,906 Tabel 4 Hasil Uji Statistik Uji Nilai Koefisien Determinasi (RA) 0,636 atau 63,6% Uji F (Simulta. F-hit = 19,646. Sig. = 0,000 Uji t (Parsia. - EPS t-hit = 0,612. Sig. = 0,545 Uji t (Parsia. - ROA t-hit = 0,526. Sig. = 0,603 Uji t (Parsia. - DER t-hit = -0,119. Sig. = 0,906 Keterangan EPS. ROA, dan DER menjelaskan 63,6% variasi Harga Saham. EPS. ROA, dan DER secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap Harga Saham. EPS tidak berpengaruh signifikan terhadap Harga Saham. ROA tidak berpengaruh signifikan terhadap Harga Saham. DER tidak berpengaruh signifikan terhadap Sumber : Data perimer, 2025 Pembahasan Persamaan ini mengindikasikan bahwa setiap peningkatan satu unit pada Earnings Per Share (EPS atau XCA) akan meningkatkan harga saham sebesar Rp 5. 313,789, dengan asumsi variabel lain dianggap konstan. Demikian pula, peningkatan satu unit pada Return On Asset (ROA atau XCC) akan meningkatkan harga saham sebesar Rp 11. 107,311. Sebaliknya, peningkatan satu unit pada Debt to Equity Ratio (DER atau XCE) justru akan menurunkan harga saham sebesar Rp 184,894, yang mengonfirmasi hubungan negatif antara leverage dengan valuasi saham. Pengaruh Earnings Per Share (EPS) terhadap Harga Saham Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan searah antara Earnings Per Share (EPS) dengan harga saham perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di BEI. EPS mencerminkan laba yang tersedia bagi pemegang saham biasa per lembar saham. Peningkatan EPS memberikan sinyal positif kepada pasar mengenai kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba bagi pemegang saham, sehingga mendorong minat beli investor dan pada akhirnya mendorong kenaikan harga saham. Sebaliknya, penurunan EPS dapat menyebabkan penurunan harga saham. Secara teoretis. EPS merupakan salah satu indikator fundamental yang paling langsung diamati oleh investor dalam menilai profitabilitas dan prospek pertumbuhan suatu perusahaan. Temuan ini sejalan dengan penelitian sebelumnya oleh Gerald Edsel et al. Yeyen Novenia . , dan Erina Endriani . , yang juga menegaskan peran signifikan EPS dalam mempengaruhi harga Pengaruh Return On Asset (ROA) terhadap Harga Saham Hasil penelitian juga mengonfirmasi hubungan searah antara Return On Asset (ROA) dengan harga saham. ROA mengukur efisiensi perusahaan dalam menggunakan seluruh asetnya untuk menghasilkan laba. Semakin tinggi ROA, semakin efektif perusahaan dalam memanfaatkan asetnya, yang dilihat positif oleh investor dan tercermin dalam kenaikan harga saham. Sebagai contoh. PT Multi Bintang Indonesia Tbk mengalami peningkatan ROA dari 23,65% . menjadi 52,67% . , yang diiringi dengan kenaikan harga saham dari Rp8. 200 menjadi Rp13. Hal ini menunjukkan bahwa kinerja efisiensi aset perusahaan menjadi pertimbangan penting bagi investor dalam menilai nilai wajar saham. Temuan ini didukung oleh penelitian Lia Fatimah Selviyana . dan Muhammad Sani Kurniawan . , yang menyimpulkan bahwa ROA merupakan pendorong penting dalam pergerakan harga saham. Pengaruh Debt to Equity Ratio (DER) terhadap Harga Saham Sementara itu. Debt to Equity Ratio (DER) menunjukkan hubungan yang tidak searah . dengan harga saham. Rasio ini mencerminkan struktur modal dan risiko finansial perusahaan. DER yang tinggi mengindikasikan ketergantungan perusahaan pada pendanaan utang, yang dapat meningkatkan risiko finansial akibat beban bunga yang Sebaliknya, penurunan DER seperti yang terjadi pada PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk dari 62,08% . menjadi 55,57% . justru diikuti dengan kenaikan harga saham dari Rp6. 738 menjadi Rp8. Investor cenderung menghindari perusahaan dengan leverage tinggi karena berisiko terhadap arus kas dan pembagian dividen. Temuan ini konsisten dengan penelitian Erina Endriani . Yeyen Novenia . , dan Lia Fatimah Selviyana . , yang menyoroti dampak negatif DER yang tinggi terhadap harga Koefisien Determinasi (RA) Koefisien determinasi (RA) sebesar 0,636 atau 63,6% menunjukkan bahwa variasi harga saham dapat dijelaskan secara bersama-sama oleh ketiga variabel independent EPS. ROA, dan DER sebesar 63,6%. Sisanya sebesar 36,4% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak termasuk dalam model penelitian, seperti faktor makroekonomi . ingkat suku bunga, inflasi, nilai tuka. , faktor psikologis pasar, kondisi industri, kebijakan pemerintah, serta faktor non-ekonomi seperti stabilitas politik dan kondisi keamanan. Tingkat RA yang cukup tinggi ini mengindikasikan bahwa model regresi yang digunakan memiliki kemampuan penjelas yang baik. Uji Simultan (Uji F) Menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,000 yang jauh di bawah taraf nyata 0,05. Hal ini membuktikan bahwa EPS. ROA, dan DER secara bersama-sama . berpengaruh signifikan terhadap harga saham. Artinya, ketiga rasio keuangan ini secara kolektif mampu menjelaskan pergerakan harga saham perusahaan makanan dan minuman di BEI. Temuan ini memperkuat pandangan bahwa analisis fundamental terutama yang melibatkan rasio profitabilitas dan solvabilitas merupakan alat yang penting bagi investor dalam mengevaluasi saham. Hasil ini selaras dengan pernyataan bahwa rasio keuangan mendorong minat investor untuk menanamkan modal, yang pada akhirnya mempengaruhi permintaan dan harga saham. Uji Parsial (Uji . Meskipun berpengaruh secara simultan, hasil uji parsial (Tabel 6. justru menunjukkan bahwa secara individual, baik EPS. ROA, maupun DER tidak berpengaruh signifikan terhadap harga saham. Nilai signifikansi untuk masing-masing variabel berada di atas 0,05 (EPS: 0,545. ROA: 0,603. DER: 0,. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Berdasarkan hasil penelitian mengenai pengaruh ROA. EPS, dan DER terhadap Harga Saham perusahaan makanan dan minuman di BEI tahun 2021-2023, dapat disimpulkan bahwa: Secara simultan . ersama-sam. , variabel Return On Asset (ROA). Earnings Per Share (EPS), dan Debt to Equity Ratio (DER) terbukti memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Harga Saham. Artinya, ketiga rasio keuangan ini secara kolektif mampu menjelaskan pergerakan harga saham. Hipotesis yang menyatakan adanya pengaruh simultan diterima. Secara parsial . , hasil penelitian menunjukkan bahwa: Earnings Per Share (EPS) tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Harga Saham. Hipotesis yang menyatakan adanya pengaruh parsial dari EPS ditolak. Return On Asset (ROA) juga tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Harga Saham. Hipotesis yang menyatakan adanya pengaruh parsial dari ROA ditolak. Debt to Equity Ratio (DER) tidak berpengaruh signifikan terhadap Harga Saham. Hipotesis yang menyatakan adanya pengaruh parsial dari DER ditolak. Koefisien Determinasi (RA) sebesar 0,636 menunjukkan bahwa 63,6% variasi Harga Saham dapat dijelaskan oleh ketiga variabel independen (ROA. EPS, dan DER) secara bersamasama. Sisanya sebesar 36,4% dipengaruhi oleh faktor lain di luar model penelitian. Saran Perluasan Variabel Independen: Peneliti mendatang disarankan untuk menambahkan variabel independen lain di luar EPS. ROA, dan DER, seperti Price to Earnings Ratio (PER). Net Profit Margin (NPM), atau faktor makroekonomi. Hal ini untuk memberikan gambaran yang lebih komprehensif, mengingat 36. 4% variasi harga saham dijelaskan oleh faktor lain. Perpanjangan Periode Studi: Agar data lebih akurat dan mencerminkan tren jangka panjang, disarankan untuk menggunakan periode penelitian yang lebih panjang, misalnya 5-10 tahun. Periode 2021-2023 yang digunakan dalam penelitian ini terbilang singkat dan Eksplorasi Metode Analisis: Disarankan untuk menggunakan metode analisis yang berbeda atau lebih mendalam, seperti Analisis Jalur (Path Analysi. atau regresi data panel, untuk menguji hubungan yang lebih kompleks antar variabel. DAFTAR PUSTAKA