Rismar Wahyu1. Darni Uli Mega Putri Tambunan2. Yuni Veronika Saragih3. Dian Syahfitri4 Jurnal Basataka (JBT) Universitas Balikpapan SEMIOTIKA ULOS DALAM UPACARA KEMATIAN ADAT BATAK TOBA DI KECAMATAN SIBORONGBORONG Rismar Wahyu1. Darni Uli Mega Putri Tambunan2. Yuni Veronika Saragih3. Dian Syahfitri4 Universitas Prima Indonesia1. Universitas Prima Indonesia2. Universitas Prima Indonesia3. Universitas Prima Indonesia4 Pos-el: rismarwahyu7@gmail. com1, darnitambunan@gmail. yuniveronikasrgh@gmail. com3, diansyahfitri@unprimdn. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan Ulos sebagai salah satu ciri khas dari suku Batak Toba. Ulos digunakan dalam setiap upacara adat Batak Toba. Penelitian ini berfokus pada ulos yang digunakan dalam upacara kematian Adat Batak Toba yaitu Ulos Tujung dan Ulos Saput di Kecamatan Siborongborong. Penelitian ini bertujuan untuk mengajak kaum milenial agar lebih peduli terhadap budaya. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif karena peneliti terjun langsung ke lapangan untuk mendapatkan data. Maka dari itu penulis meneliti makna semiotik yang terkandung dalam Ulos Tujung dan Ulos Saput dengan teknik analisis Charles Sanders Pierce. Hasil penelitian dan pembahasan yang diperoleh oleh peneliti bahwa ulos tidak dapat dipisahkan dari kehidupan suku Batak Toba di Kecamatan Siborongborong. Ulos Tujung ini dipercayai oleh Suku Batak Toba sebagai lambang kesedihan dalam upacara kematian. Ulos Saput juga digunakan dalam upacara kematian adat Batak Toba. Ulos ini adalah ulos yang menyelimuti jenazah yang dibawa sampai ke liang lahat. Ulos Tujung dan Ulos Saput memiliki nilai-nilai yang dipercayai oleh suku Batak Toba di Kecamatan Siborongborong yaitu nilai berkat, nilai kasih sayang, nilai penghormatan, nilai kepercayaan dan nilai harapan. Kata Kunci: Semiotika. Ulos. Suku Batak Toba ABSTRACT The motivation behind this review is to research is Ulos is one of the characteristics of the Batak Toba tribe. Ulos is used in every traditional Batak Toba ceremony. This research focuses on ulos used in the batak toba death ceremony, namely Ulos Tujung and Ulos Saput in Siborongborong Subdistrict. This research aims to invite millennials to be more concerned about culture. The research method used is qualitative descriptive because researchers plunge directly into the field to obtain data. There fore the author examines the semiotic meaning contained in Ulos Tujung and Ulos Saput with charles sanders pierce analysis techniques. The results of research and discussion obtained by researchers that ulos can not be separated from the life of the Batak Toba tribe in Siborongborong Subdistrict. Ulos Tujung is believed by the Batak Toba tribe as a symbol of sadness in the ceremony of death. Ulos Saput is also used in the batak toba traditional death ceremony. This ulos is the ulos that covers the body that is brought up to the burrow. Ulos Tujung and Ulos Saput have values that are believed by the Batak Toba tribe in Siborongborong District, namely the value of blessing, the value of compassion, the value of respect, the value of trust and the value of hope. Keywords: Semiotics. Ulos. Batak Toba Ethnic Vol. No. Desember 2021 Rismar Wahyu1. Darni Uli Mega Putri Tambunan2. Yuni Veronika Saragih3. Dian Syahfitri4 PENDAHULUAN Ulos adalah jenis kain yang harus ada dalam setiap upacara tradisional Suku Batak menggunakan kain ulos secara turun-temurun dalam setiap upacara adat. Kain ulos dipercaya oleh masyarakat Batak sebagai simbol penghormatan terhadap orang yang menyelenggarakan acara dan para undangan yang datang dalam acara Upacara adat dalam suku Batak Toba antara lain adalah upacara adat perkawinan, kematian, tujuh bulanan, menempati rumah baru. Penggunaan kain ulos dalam setiap upacara pun berbeda-beda. Pada upacara adat kematian suku Batak Toba, ulos yang digunakan adalah Ulos Tujung dan Ulos Saput. Ulos Saput adalah ulos yang akan diberikan Tulang (Saudara laki-laki ib. kepada orang yang meninggal untuk terakhir kalinya. Biasanya warna ulos tersebut adalah warna hitam/cokelat. Ulos Tujung adalah salah satu ulos yang diberikan hula-hula . ihak dari ibu/saudara laki-laki ib. kepada istri yang ditinggal mati oleh suaminya atau kepada suami yang ditinggal mati oleh istrinya. Kain ulos suku Batak ini sangat unik sebab mempunyai corak dan bentuk yang menarik sehingga layak diteliti. Contohnya Ulos Tujung dan Ulos Saput yang sudah dijelaskan. Tetapi sangat milenial sangatlah minim tentang kain ulos terutama dalam acara adat kematian Batak Toba. Padahal, pengetahuan atau pemahaman tentang kain ulos ini amatlah penting untuk dilestarikan. Agar budaya dan adat istiadat tidak luntur di masa yang akan datang. Kebudayaan sebagai luapan ide atau gagasan dan tindakan manusia untuk memenuhi keperluan hidup yang diperoleh melalui (Koenjaraningrat,1. Jenis dan motif kain ulos menggambarkan arti tersendiri dilihat berdasarkan sifat, fungsi, keadaan dan Vol. No. Desember 2021 Jurnal Basataka (JBT) Universitas Balikpapan ikatan tertentu. Terdapat corak yang unik dan menarik pada kain ulos. Untuk mengetahui arti dari corak unik tersebut maka peneliti akan mengkajinya dengan kajian semiotika. Semiotika merupakan ilmu atau teori yang mengkaji tentang tanda. Tanda adalah hal penting yang memiliki ciri dan makna khusus. Tanda adalah sesuatu yang mewakili sesuatu yang lain batas-batas (Eco,1979:. Tanda . alam Zoest, 1993: . adalah segala sesuatu yang diamati atau dibuat teramati. Semiotika merupakan ilmu atau teori yang mengkaji tentang tanda (Pradopo, 2003:. Fenomena social dan kebudayaan salah satu tanda dalam ilmu semiotika. Sedangkan menurut Pierce Zoest, . mengatakan bahwa semiotik adalah salah satu rangkaian ilmu mengenai tentang pengkaian tanda juga segala hal yang berkaitan dengan tanda, seperti proses dan system yang berkenaan bagi Atas pemaparan para ahli, jadi peneliti dapat menyimpulkan bahwa kajian semiotika adalah cabang ilmu yang mengkaji tentang tanda. Maka dari itu Semiotika Ulos Dalam Upacara Kematian Adat Batak Toba Di Kecamatan Siborongborong ini sangat cocok untuk diteliti. Penelitian ini diharapkan bisa menjadi sumber informasi kepada masyarakat terutama kaum milenial mengenai ulos dan fungsinya dalam acara kematian adat Batak Toba. Rumusan penelitian ini, yaitu: Makna semiotika Ulos Tujung dan Ulos Saput yang harus diketahui oleh kaum milenial dalam upacara kematian adat Batak Toba. Nilai-nilai yang terkandung pada Ulos Tujung dan Ulos Saput dalam upacara kematian Batak Toba. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan makna semiotika dan nilai-nilai yang terkandung pada Ulos Rismar Wahyu1. Darni Uli Mega Putri Tambunan2. Yuni Veronika Saragih3. Dian Syahfitri4 Jurnal Basataka (JBT) Universitas Balikpapan Tujung dan Ulos Saput dalam upacara kematian adat Batak Toba agar dapat dimengeri kaum milenial. Manfaat teoretis penelitian ini untuk memperkaya atau meningkatkan wawasan semiotik sehingga kajian tentang tanda menjadi lebih luas dan Manfaat praktis, peneliti mengharapkan pemahaman masyarakat terutama kaum milenial tentang makna semiotik ulos dalam upacara kematian adat Batak Toba semakin meningkat. Selain itu, penelitian ini hendaknya mampu sebagai sumber rujukan bagi penelitian semiotik selanjutnya. Arikunto . Sumber data adalah subjek dari mana suatu data dapat Ada 3 elemen utama, yaitu tanda, objek interpretant menurut Pierce dalam semiotik . alam Bungin, 2007:. Penelitian ini menggunakan teknik analisis data pendekatan Charles Sanders Pierce yang terdiri dari: Sign (Tand. Gambar Ulos Tujung dan Ulos Saput. Object (Obje. : Sesuatu yang merujuk pada Ulos Tujung dan Ulos Saput. Interprtant (Penggunaan tand. : Tanda yang ada dalam benak seseorang tentang Ulos Tujung dan Ulos Saput. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan dan metode deskriptif AuMetodologi kualitatif sebagai prosedur penelitian yang mengahasilaan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang Aeorang dan perilaku yang dapat diamatiAy menurut Bogda dan Taylor . alam Moleong,2009. Metode desktiptif kualitatif, yaitu menerangkan variabel dengan kata atau kalimat yang diperoleh oleh peneliti pada saat terjun mendapatkan data. Teknik pengumpulan data yang memperoleh data adalah wawancara, observasi dan dokumentasi. Wawancara adalah kegiatan tanya jawab yang dilakukan oleh peneliti terhadap . memperoleh informasi. Observasi ialah kegiatan yang dilakukan oleh peneliti secara langsung dengan cara mengamati Dokumentasi, yaitu foto, video atau rekaman yang dikumpulkan selama proses penelitian berlangsung. Adapun data dalam penelitian ini adalah data lisan berupa ulos dalam acara kematian adat Batak Toba berdasarkan semiotikanya. Tokoh adat dan masyarakat Siborongborong adalah sumber data peneliti harus melakukan observasi dan wawancara. Menurut HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Ulos adalah salah satu budaya Suku Batak Toba yang selalu ada dalam setiap upacara adat. Setiap upacara sukacita maupun dukacita ulos selalu digunakan oleh masyarakat Batak Toba di Kecamatan Sibrongborong. Penelitian ini dilakukan secara observasi dan peneliti mendapati dalam upacara dukacita ada beberapa ulos yang Ulos yang paling umum digunakan adalah Ulos Tujung dan Ulos Saput. Namun, kurangnya pemahaman masyarakat terutama kaum milenial terhadap makna semiotik dan nilai-nilai dari Ulos Tujung dan Ulos Saput. Hal itulah yang menjadi fokus penelitian yang dilakukan oleh peneliti di Kecamatan Siborongborong. Kedua ulos tersebut memiliki kewajiban sosial di upacara kematian adat Batak Toba. Vol. No. Desember 2021 Pembahasan Makna Semiotik Ulos Tujung dan Ulos Saput Kedua perbedaan dengan ulos lainnya dari segi warna dan cara penggunaannya. Hubungan anatara tanda, objek, dan interpretant dengan metode Charles Sanders Pierce yaitu, analisis semiotika. Rismar Wahyu1. Darni Uli Mega Putri Tambunan2. Yuni Veronika Saragih3. Dian Syahfitri4 Ulos Tujung Jurnal Basataka (JBT) Universitas Balikpapan memberi dan membuka Ulos Tujung kepada suami yang ditinggalkan ialah Tulang dari suaminya. Tetapi, ketika suami dan isteri yang meninggal maka Ulos Tujung . kesalah satu jenazah. Ulos Tujung bertujuan sebagai tanda menerimanya sudah janda atau duda. Ulos Saput Gambar 1. Ulos Tujung Sign Jika diperhatikan dalam upacara adat kematian, umumnya acara tersebut menggunakan ulos. Maka timbul pertanyaan peneliti mengapa Ulos Tujung ada dalam upacara kematian adat Batak Toba Kecamatan Siborongborong. Karena, kepercayaan suku Batak Toba ulos tersebut adalah salah satu hal terpenting dalam upacara kematian adat Batak Toba di Kecamatan Siborongborong. Objek Pada zaman dahulu, pemberian ulos ini ditujukan kepada orang yang Seperti menaklukan binatang buas. Seiring perubahan zaman Ulos Tujung ini dipercayai oleh Suku Batak Toba sebagai lambang kesedihan dalam upacara kematian. Tanda tersebut terlihat dari warnanya yang cenderung gelap artinya hohom . Interpretant Suku Batak Toba mempercayai Ulos Tujung ini adalah simbol kesedihan dalam upacara kematian. Ulos Tujung tersebut diartikan juga sebagai ulos yang diletakkan ke kepala (Simanjujun. Pada upacara kematian adat Batak Toba yang berhak memberi dan membuka Ulos Tujung ini kepada isteri yang ditinggalkan ialah Hula-hula (Orang tua atau saudara laki-laki dari pihak ister. ketika suaminya meninggal. Namun, jika isterinya meninggal yang Vol. No. Desember 2021 Gambar 2. Ulos Saput Objek Ulos Saput juga digunakan dalam upacara kematian adat Batak Toba. Ulos ini adalah ulos yang menyelimuti jenazah yang dibawa sampai ke liang Interpretant Dalam adat Batak ketika seorang anak lahir maka Tulang akan memberikan ulos pengganti lampin . kepada bere-nya sebagai tanda selamat datang. Demikian halnya ketika bere-nya meninggal Tulang jugalah yang harus memberikan ulos terakhir sebagai tanda perpisahan yang dinamakan dengan Ulos Saput. Nilai-Nilai pada Ulos Tujung dan Ulos Saput Ulos Tujung dan Ulos Saput memiliki nilai-nilai yang dipercayai oleh suku Batak Toba di Kecamatan Siborongborong. Nilai yang terkandung dari kedua ulos tersebut antar lain: Nilai berkat . asu-pas. , yaitu segala sesuatu yang bersumber dari Tuhan Rismar Wahyu1. Darni Uli Mega Putri Tambunan2. Yuni Veronika Saragih3. Dian Syahfitri4 baik dalam suasana suka maupun Nilai kasih sayang, yaitu kedua ulos tersebut adalah simbol kasih sayang dari pihak keluarga terhadap keluarga yang ditinggalkan. Nilai penghormatan, yaitu Ulos Tujung pada zaman dahulu diberikan kepada orang yang memiliki jasa pada masyarakat sekitar sebagai tanda Sedangkan Ulos Saput adalah pemberian dari pihak Tulang kepada bere-nya yang meninggal sebagai tanda penghormatan terakhir. Nilai kepercayaan, yaitu kedua ulos tersebut dipercayai sudah menjadi tradisi turun-temurun. Nilai harapan, yaitu Ulos Tujung diharapkan dapat memberi penguatan dan ketabahan terhadap penerimanya. Sedangkan Ulos Saput yang diberikan pemakaman berjalan lancar. SIMPULAN Seperti mengalahkan binatang buas. Seiring perubahan zaman Ulos Tujung ini dipercayai oleh Suku Batak Toba sebagai lambang kesedihan dalam upacara kematian. Tanda tersebut terlihat dari warnanya yang cenderung gelap artinya hohom . Pada upacara kematian adat Batak Toba yang berhak memberi dan membuka Ulos Tujung ini kepada isteri yang ditinggalkan ialah Hula-hula (Orang tua atau saudara lakilaki dari pihak ister. ketika suaminya Namun, jika isterinya meninggal yang memberi dan membuka Ulos Tujung kepada suami yang ditinggalkan ialah Tulang dari suaminya. Tetapi, ketika suami dan isteri yang meninggal maka Ulos Tujung ini disaputkan . kesalah satu Ulos Saput adalah ulos yang menyelimuti jenazah yang dibawa sampai ke liang lahat. Dalam adat Batak ketika seorang anak lahir maka Tulang Vol. No. Desember 2021 Jurnal Basataka (JBT) Universitas Balikpapan akan memberikan ulos pengganti lampin . kepada bere-nya sebagai tanda selamat datang. Demikian halnya ketika bere-nya meninggal Tulang jugalah yang harus memberikan Ulos Saput tersebut sebagai tanda perpisahan terakhir. Ulos Tujung dan Ulos Saput memiliki nilai-nilai yang dipercayai oleh suku Batak Toba di Kecamatan Siborongborong yaitu nilai berkat, nilai kasih sayang, nilai penghormatan, nilai kepercayaan dan nilai harapan. Peneliti berharap agar kaum milenial dapat mempelajari lebih dalam lagi mengenai Ulos Tujung dan Ulos Saput. Agar budaya yang sudah turuntemurun berkembangnya zaman. Maka daripada itu, peneliti menyarankan agar sekolah dapat membuat mata pelajaran Muatan Lokal mengenai ulos. Peniliti juga menyarankan agar pemimpin daerah turut serta peduli terhadap budaya dengan mengadakan seminar mengeni ulos, membentuk organisasi seni dan Sehingga kaum milenial termotivasi untuk mempelajari budaya DAFTAR PUSTAKA