Jurnal Abdimas Prakasa Dakara https://doi. org/10. 37640/japd. e-ISSN 2776-768X Melestarikan Permainan Tradisional sebagai Kearifan Lokal dalam Menstimulasi Perkembangan Anak Usia Dini di SPS Tunas Mulia Bantar Gebang Yuli Pujianti1*. Wahyuni Nadar2. Purwani Kusumawati Wijaya1 Pendidikan Islam Anak Usia Dini. STIT Al-Marhalah Al-AoUlya Bekasi Pendidikan Guru PAUD. STKIP Kusumanegara *yuli@almarhalah. Abstrak Satuan PAUD Sejenis (SPS) Tunas Mulia merupakan lembaga pendidikan nonformal yang mengelola pembelajaran bagi anak usia dini di Bekasi Jawa Barat. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini dilatarbelakangi pentingnya melestarikan permainan tradisional sebagai kearifan lokal Jawa Barat dalam menstimulasi perkembangan anak usia dini. Hal ini ditemukan bahwa anak-anak sekarang sibuk bermain dengan gadget. Berangkat dari fakta tersebut, perlu dilakukan sebuah tindakan untuk mengembangkan program stimulasi untuk anak usia dini melalui permainan tradisional. Kegiatan ini bertujuan untuk mencari, mengklasifikasi dan menganalisis permainan tradisional yang ada di Jawa Barat sebagai kearifan lokal. Kegiatan PkM ini dilaksanakan oleh dosen dan mahasiswa STIT Al-Marhalah AlAoUlya Bekasi ditujukan untuk anak-anak, guru dan orang tua di SPS Tunas Mulia. Metode yang digunakan yaitu paradigma kualitatif yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata yang diperoleh dari berbagai teknik pengumpulan data yang digunakan melalui pengamatan, praktek langsung, seminar dan parenting. Kesimpulan yang ditemukan yaitu ada empat permainan tradisional Jawa Barat sebagai kearifan lokal yang bisa dimainkan dan diterapkan langsung pada anak anak PAUD di SPS Tunas Mulia karena sesuai dengan tahapan perkembangan anak usia dini yaitu orai-oraian, demprak gunung, lompat bambu, dan engrang batok sehingga dapat menstimulasi perkembangan pada anak usia dini. Kata kunci: satuan PAUD sejenis, stimulasi perkembangan, permainan tradisional. Dikirim: 29 Agustus 2023 Direvisi: 16 Oktober 2023 Diterima: 21 Oktober 2023 PENDAHULUAN Satuan PAUD Sejenis (SPS) Tunas Mulia merupakan lembaga pendidikan anak usia dini non formal yang berlokasi di Jalan Pangkalan 2 RT. 02/04. Kelurahan Sumurbatu. Kecamatan Bantargebang. Kota Bekasi 17153. Jawa Barat. Indonesia. Sekolah PAUD ini berada di tengah-tengah pegunungan sampah sebagai tempat pembuangan akhir sampah-sampah yang berasal dari kota Jakarta dan Bekasi. Mayoritas anak-anak yang bersekolah di sana adalah anak-anak dari orang tua yang bekerja sebagai pemulung di tempat pembuangan sampah tersebut. Meskipun keadaan keluarga mereka mungkin tidak memungkinkan untuk memberikan pendidikan yang layak, namun dengan adanya SPS Tunas Mulia, anak-anak ini memiliki akses mendapatkan pendidikan yang berkualitas dan mampu mewujudkan impian mereka. Didirikannya SPS Tunas Mulia ini mempunyai misi mulia yaitu mendidik anakanak pemulung untuk bisa mengubah nasibnya. SPS Tunas Mulia ini pertama kali didirikan pada 2004 oleh seorang bernama Nadam Dwi Subekti, pria asal Cilacap Jawa Tengah. Keprihatinnya akan kondisi pendidikan anak-anak pemulung Content from this work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. International License. 135 | Pujianti dkk. membuatnya tergerak membentuk SPS Tunas Mulia yang dulunya disebut Sekolah Bedeng Bantar Gebang (SSB). Anak-anak yang sekolah tidak dipungut biaya sama sekali sehingga dapat merasakan pendidikan tanpa terbebani biaya. Kegiatan belajar di SPS Tunas Mulia ini dilaksanakan 3 hari dalam sepekan yaitu hari Selasa. Kamis dan Sabtu dimulai dari jam 8 pagi sampai jam 11 siang. Dilaksanakannya kegiatan belajar selama 3 hari dikarenakan harus bergantian dalam penggunaan ruang kelas untuk kegiatan belajar tingkat SD. SMP dan SMA yang tergabung dalam Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Paket A. B dan C yang merupakan lembaga pendidikan non formal yang dilaksanakan oleh Yayasan Tunas Mulia. Proses pembelajaran di SPS Tunas Mulia berusaha untuk memberikan stimulasi perkembangan untuk anak usia dini mulai usia 3 tahun sampai 6 tahun. Stimulasi anak usia dini adalah suatu kegiatan yang merangsang kemampuan dasar anak agar dapat tumbuh dan berkembang secara optimal sesuai potensi yang dimiliki anak. Adapun kegiatan perangsangan yang dilakukan harus benar, terencana dan teratur sesuai kelompok usia anak. Sedangkan kemampuan dasar anak yang perlu mendapatkan rangsangan meliputi kemampuan sosialisasi, kemampuan bahasa, kemampuan fisik motorik, kemampuan kognitif, kreatifitas dan yang tidak kalah pentingnya adalah kemampuan moral beragama dari setiap anak. Kegiatan memberikan stimulasi perkembangan pada anak usia dini dilakukan dengan cara bermain karena dunia anak usia dini adalah bermain. Melalui kegiatan bermain, anak usia dini juga dapat mendapatkan pengetahuan dan pengalaman yang akan menjadi pondasi dasar untuk mendapatkan pengetahuan berikutnya. Kegiatan bermain yang dilakukanpun harus dengan cara yang menyenangkan dan mengasyikkan, tanpa adanya paksaan dan tanpa adanya hukuman pada anak (Meilanie, 2. Salah satu bentuk stimulasi perkembangan pada anak usia dini yang bisa diterapkan melalui aspek-aspek perkembangan adalah melalui permainan Permainan tradisional merupakan budaya kearifan lokal yang harus dilestarikan kembali terutama pengenalannya dimulai pada anak usia dini. Permainan tradisional merupakan permainan khas budaya suatu negara yang sudah ada dan dimainkan sejak zaman dahulu oleh anak-anak di setiap negara. Permainan tradisional dapat dikatakan sebagai produk budaya lokal yang tersebar di seluruh wilayah suatu negara. Di Indonesia pada setiap daerah memiliki permainan tradisional khas daerahnya yang beraneka ragam dan memiliki nama permainan yang berbeda-beda sesuai daerahnya. Permainan tradisional tidak hanya mengandung unsur yang menyenangkan, melainkan juga memberikan unsur pendidikan serta mengembangkan setiap aspek kemampuan dalam diri anak (Hapidin & Yenina, 2. Pemainan tradisional berasal dari kata permainan dan tradisional. Permainan tradisional memiliki makna sesuatu yang dilakukan dengan berpegang teguh pada norma dan adat kebiasaan yang ada secara turun temurun dan dapat memberikan rasa puas atau senang bagi si pelaku (Mulyana & Lengkana, 2. Permainan tradisional adalah proses melakukan kegiatan yang menyenangkan hati anak dengan menggunakan alat sederhana sesuai dengan keadaan dan merupakan hasil penggalian budaya setempat menurut gagasan dan ajaran turun temurun dari nenek Permainan tradisional juga sebagai ajaran turun temurun dari nenek moyang merupakan suatu ciri khas setiap daerah yang perlu diajarkan kepada setiap Melestarikan Permainan Tradisional sebagai A | 136 generasi di suatu negara. Permainan tradisional biasanya dimainkan dengan atau tanpa menggunakan alat sesuai dengan daerah yang bersangkutan. Permainan tradisional lebih menggunakan alat yang sederhana dan biasanya permainan diiringi dengan lagu atau gerakan dan mengandung nilai-nilai kebudayaan yang diturunkan dari generasi ke generasi. Melalui permainan tradisional anak mendapatkan kesempatan untuk belajar mengenal kebudayaan daerahnya, bersosialisasi dengan teman dan lingkungannya, serta perduli terhadap Permainan tradisional menanamkan sikap hidup dan keterampilan seperti kerja sama, kebersamaan, kepedulian, kedisiplinan, kejujuran, sportivitas dan musyawarah karena ada aturan yang harus dipenuhi pemain dalam kegiatan Permainan tradisional merupakan salah satu aset berharga suatu negara yang perlu diperkenalkan kepada setiap generasi dan dilestarikan. Menurut Cahyono . permainan tradisional memiliki keunikan yang bisa dilihat dari cara memainkannya, menggunakan atau memanfaatkan alat yang tersedia di lingkungan tanpa membeli sehingga dapat menstimulasi perkembangan kognitif, bahasa, fisik motorik dan kreatifitas. Permainan tradisional melibatkan jumlah pemain yang relatif banyak, sehingga mampu membangun interaksi sosial permainan tradisional sendiri memiliki nilai-nilai luhur dan pesan-pesan moral tertentu, seperti nilai-nilai kebersamaan, kejujuran, tanggung jawab, sikap lapang dada, dan taat pada aturan. Namun pada kenyataannya, dengan berkembangnya teknologi digitalisasi dan internetisasi serta maraknya permainan gadget telah mengubah gaya hidup permainan anak-anak sekarang ini. Berdasarkan hasil observasi tentang kondisi lembaga mitra, walaupun SPS Tunas Mulia ini sebagian besar adalah anak dari pemulung yang tinggal di daerah TPS Bantar Gebang, ternyata anak-anak mereka juga sudah terpapar oleh gadget yang tidak bisa lepas dari keseharian mereka. Hal ini bisa dilihat ada beberapa anak yang membawa handphone ke sekolah dan mengajak teman-teman lainnya untuk bermain gadget. Selain itu sebagaimana kondisi yang dialami masyarakat dewasa ini, banyak sekali anak-anak yang sudah tidak mau untuk bermain keluar rumah, mereka lebih asik bermain dengan gadget nya daripada bermain dengan teman-teman sebaya. Akibatnya, jiwa sosial anak menjadi lebih rendah dan anak condong memiliki sifat individualis. Menurut Hijriyani dan Astuti . , permainan modern berupa gadget ini, telah membuat anak menjadi individualistik dan kurangnya rasa simpati serta empati pada sesama. Selain itu, dari aspek fisik, anak pun sedikit melakukan gerak. Jika hal ini tidak segera disikapi dan dibatasi, maka akan berdampak negatif, baik pada fisik maupun mental anak-anak. Di samping itu, dari hasil temuan awal kondisi mitra, ditemukan masih ada guru dan anak yang belum mengenal bentuk-bentuk permainan tradisional yang dapat seharusnya bisa digunakan dalam kegiatan bermain anak, di antaranya permainan dakon, engklek, egrang, dan lompat tali. Namun, sebagaimana permasalahan yang umumnya sedang dihadapi masyarakat kita dewasa ini, pengembangan permainan tradisional yang dulunya pernah ada, saat ini jarang dan bahkan tidak terlihat dimainkan oleh anak-anak di lingkungan sekolah maupun lingkungan masyarakat. Dapat dikatakan bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam permaian tradisional tersebut, saat ini menjadi terkikis secara perlahan dan jika hal itu dibiarkan secara terus-menerus akan berakibat pada hilangnya warisan budaya dari permainan 137 | Pujianti dkk. tradisional yang sarat makna dengan nilai-nilai baik untuk berkehidupan Berdasarkan hal-hal di atas, maka kami tim dosen dan mahasiswa program studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) STIT Al-Marhalah Al-AoUlya Bekasi, bermaksud mengadakan kegiatan PkM dengan tujuan akhir adalah untuk mencari, mengklasifikasi dan menganalisis permainan tradisional yang ada di Jawa Barat sebagai kearifan lokal yang dapat menstimulasi perkembangan anak usia dini dan dapat dilestarikan. METODE PELAKSANAAN Metode yang digunakan yaitu paradigma kualitatif yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata yang diperoleh dari berbagai teknik pengumpulan data yang digunakan melalui pengamatan, praktek langsung, seminar dan parenting. Dalam proses pelaksanaan program kegiatan PkM, tahap awal yang dilakukan adalah melakukan persiapan dengan studi pendahuluan ke lokasi mitra dengan cara melakukan wawancara dan tanya jawab kepada kepala sekolah, guru dan orang tua. Selanjutnya melaksanakan kegiatan seminar dan praktik permainan tradisional. Secara rinci tahapan yang dilakukan adalah tahapan persiapan, serta tahapan pelaksanan dan pelaporan. Pada tahapan persiapan, tim PkM mengawali dengan studi pendahuluan, dengan melakukan survei lokasi untuk menetapkan tempat diselenggarakannya program PkM. Pada kegiatan awal ini. Tim juga melakukan wawancara dan tanya jawab kepada kepala sekolah, guru dan orang tua. Kegiatan ini dimaksudkan untuk mendapatkan data awal sehingga penetapan kegiatan yang dilakukan tim PkM benar-benar memiliki nilai tepat guna dan berdaya guna dalam memecahkan permasalahan mitra. Hal-hal yang dilakukan pada tahap persiapan oleh tim PkM adalah: . survei lokasi PkM, . pemantapan dan penentuan lokasi dan sasaran, . penyusunan dan pengajuan proposal kegiatan ke lembaga perguruan tinggi, . penyusunan bahan atau materi dan penyiapan kelengkapan alat pendukung kegiatan PkM. Pada tahapan pelaksanaan dan pelaporan, kegiatan PkM dilaksanakan selama satu hari, yaitu pada tanggal 25 Februari 2023. Metode yang digunakan dalam pelaksanaan PkM adalah seminar, parenting dan implementasi praktik bermain permaian tradisional. Peserta yang terlibat dalam kegiatan PkM ini yaitu 6 orang guru, 90 anak-anak dan 90 orang tua. Dalam pelaksanaan kegiatan PkM ini. Tim PkM Dosen dibantu oleh mahasiswa PIAUD STIT Al-Marhalah Al-AoUlya Bekasi. Sebagai bentuk pertanggungjawaban kegiatan. Tim membuat laporan tertulis pada lembaga perguruan tinggi. Luaran hasil kegiatan PkM berupa artikel, berita yang diterbitkan di media massa elektronik. HASIL DAN PEMBAHASAN Tempat pembuangan sampah (TPS) Bantar Gebang Bekasi, mungkin tidak terdengar sebagai tempat yang ideal untuk belajar bagi anak-anak. Lebih dari 2000 anak pemulung berbagai usia tinggal di lokasi tempat pembuangan akhir tersebut, mereka tinggal di bedeng bedeng triplek dan rumah seadanya bersama orang Kondisi kehidupan seperti itu sebenarnya tidak cocok untuk pertumbuhan Melestarikan Permainan Tradisional sebagai A | 138 dan perkembangan fisik dan mental mereka. Banyak anak-anak yang orang tuanya bekerja sebagai pemulung tidak mendapatkan pendidikan yang layak, bahkan ada anak yang tidak bersekolah atau putus sekolah karena harus membantu orang tuanya mencari sampah yang masih bisa dipakai atau dijual kembali untuk menghidupi keluarganya. Namun, di tengah-tengah lingkungan yang keras dan penuh tantangan itu hadir sebuah lembaga sosial yaitu Yayasan Tunas Mulia, yang menyelenggarakan sekolah tunas mulia mulai dari tingkat usia dini sampai tingkat usia sekolah Hadirnya Yayasan Tunas Mulia telah membawa harapan dan pendidikan berkualitas bagi anak-anak yang kurang mampu. Selain itu sekolah tunas mulia, memiliki tujuan yang mulia, yaitu: . meningkatkan pengetahuan dalam bidang ilmu pengetahuan umum dan agama Islam, . meningkatan pengetahuan dan ketrampilan dalam bidang keahlian khusus, . meningkatkan pengamalan agama Islam di lingkungan sekolah maupun rumah, . memberikan sarana dan prasara pendidikan yang layak bagi anak-anak pemulung di lokasi TPA Bantargebang, . menciptakan suasana belajar yang nyaman dan kondusif bagi perserta didik dan guru . , . menciptakan lingkungan yang baik bagi anak didik, khususnya yang tinggal di lingkungan sekolah, . mencarikan dukungan dana bagi siswa yang berprestasi yang dikirim untuk belajar sampai ke jenjang perguruan tinggi. Salah satu lembaga pendidikan yang ada di sekolah tunas mulia yaitu SPS Tunas Mulia. SPS merupakan lembaga yang menyelenggarakan pendidikan di luar Taman Kanak-Kanak (TK). Kelompok Bermain (KB), dan Taman Penitipan Anak (TPA) yang terintegrasi dengan berbagai layanan pendidikan anak usia dini di masyarakat seperti Posyandu. Bina Keluarga Balita (BKB). Taman Pendidikan Al-Qur'an, atau layanan terkait lainnya dengan prinsip berbasis masyarakat, kesederhanaan, mudah, murah, dan bermutu (Fitriana. Mustikawan, & Julianto, 2. SPS Tunas Mulia merupakan lembaga pendidikan anak usia dini non formal yang berlokasi di Jalan Pangkalan 2 RT. 02/04. Kelurahan Sumurbatu. Kecamatan Bantargebang. Kota Bekasi 17153. Jawa Barat. Indonesia. SPS Tunas Mulia ini menyelenggarakan pendidikan untuk anak usia dini mulai usia 3 tahun sampai 6 tahun. Anak usia dini yang mengikuti pendidikan di SPS Tunas Mulia berjumlah 93 orang, dengan rincian kelompok A sebanyak 45 orang dan Kelompok B sebanyak 48 orang. Adapun jumlah guru yang mengajar di sekolah tersebut sebanyak 6 orang. SPS Tunas Mulia juga memberikan pendidikan gratis bagi anak-anak yang sekolah di lokasi tersebut. Mayoritas anak-anak yang bersekolah di sana adalah anak-anak dari orang tua yang bekerja sebagai pemulung di tempat pembuangan sampah tersebut. Kegiatan belajar di SPS Tunas Mulia ini dilaksanakan 3 hari dalam sepekan yaitu hari Selasa. Kamis dan Sabtu dimulai dari jam 8 pagi sampai jam 11 siang. Dilaksanakannya kegiatan belajar selama 3 hari dikarenakan harus bergantian dalam penggunaan ruang kelas untuk kegiatan belajar tingkat SD. SMP dan SMA yang tergabung dalam PKBM Paket A. B dan C yang merupakan lembaga pendidikan non formal yang dilaksanakan oleh Yayasan Tunas Mulia. Dalam kegiatan PkM ini terdapat tiga kegiatan menarik yang dilaksanakan untuk meningkatkan layanan pendidikan anak usia dini dan kesejahteraan masyarakat sekitar. Kegiatan pertama adalah dosen bersama mahasiswa mencari berbagai permainan tradional khas Jawa Barat sebagai bentuk kearifan lokalnya dan ditemukan ada 4 permainan tradisional dari daerah Jawa Barat yang bisa 139 | Pujianti dkk. dipraktekkan pada anak usia dini karena sesuai dengan tahapan perkembangannya dan anak bisa mengikuti permainan tersebut dan dapat menstimulasi perkembangan Setelah itu, anak-anak dari berbagai kelas dan usia dini di kelompok tersebut berpartisipasi dalam kegiatan ini, yang bertujuan untuk meningkatkan kreativitas, kecerdasan, dan keterampilan motorik (Meli. Masturah, & Yuli, 2. Ada empat permainan tradisional yang dipraktekkan langsung, yaitu orai-oraian, demprak gunung, lompat bambu, dan engrang batok (Mulyana & Lengkana, 2. Terlihat anak-anak sangat antusias dalam melakukan permainan tersebut, dengan keringat dan senyum yang terpancar di wajah mereka. Gambar 1. Praktek Permainan Tradisional Gambar 1. adalah permainan tradisional orai-oraian. Gambar 1. adalah permainan tradisional engrang batok. Gambar 1. adalah permainan tradisional demprak gunung, dan Gambar 1. adalah permainan tradisional lompat bambu. Kegiatan kedua adalah parenting untuk orang tua, yang mengangkat tema "Pentingnya Memberikan Stimulasi Pendidikan Sejak Usia Dini". Ibu Purwani Kusumawati Wijaya. Pd dan ibu Yuli Pujianti. Pd menjadi nara sumber yang membawakan materi ini. Lebih dari 90 orang tua yang anak-anaknya sekolah di SPS Tunas Mulia hadir dengan penuh antusiasme dan banyak mengajukan pertanyaan seputar pendidikan anak usia dini. Bagaimana memberikan stimulasi yang tepat pada usia dini, dan apa saja metode terbaik dalam memberikan pendidikan, menjadi topik yang menjadi fokus diskusi para orang tua. Melestarikan Permainan Tradisional sebagai A | 140 Gambar 2. Kegiatan Parenting Kegiatan ketiga adalah sharing ilmu atau seminar yang dihadiri oleh enam guru dan satu perwakilan yayasan Tunas Mulia. Ibu Wahyuni Nadar. Pd, menjadi nara sumber dengan tema "Bagaimana Menjadi Guru PAUD yang Hebat yang bisa memberikan berbagai bentuk stimulasi perkembangan pada anak usia dini?". Seminar ini sangat penting bagi para guru, karena rata-rata dari mereka belum memiliki latar belakang pendidikan ilmu pendidikan anak usia dini. Terlihat guruguru sangat antusias mendengarkan materi yang diberikan, dengan harapan untuk meningkatkan kualitas dan keterampilan mereka dalam memberikan pendidikan yang baik dan bermutu untuk anak-anak. Gambar 3. Kegiatan Seminar untuk Guru SPS Tunas Mulia Dalam acara PkM ini, terlihat bahwa semua pihak memiliki semangat untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan kesejahteraan masyarakat. Dalam lingkungan yang penuh dengan tekanan dan kecemasan, kegiatan ini menjadi oase yang memberikan inspirasi, kegembiraan, dan harapan bagi masa depan yang lebih Dengan adanya kegiatan seperti ini, kita dapat melihat bahwa pendidikan bukanlah hal yang sulit diakses bagi siapa pun, asalkan ada tekad dan komitmen yang kuat dalam memajukan pendidikan. Semoga kegiatan PkM ini dapat terus dilakukan dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat di wilayah yang kurang mampu. 141 | Pujianti dkk. Setelah menyelesaikan kegiatan PkM, kami memberikan bantuan kepada para peserta yang telah berpartisipasi. Sebanyak 90 paket sembako disalurkan untuk para orang tua yang hadir, sementara 90 paket bingkisan ATK (Alat Tulis Kanto. dan makanan disiapkan untuk diberikan kepada anak-anak. Semoga bantuan ini dapat membantu meringankan beban para peserta dalam kegiatan sehari-hari. Dalam kegiatan PkM Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini STIT Al-Marhalah Al-'Ulya Bekasi, kita telah menelusuri kearifan lokal dalam menstimulasi perkembangan anak usia dini. Kegiatan tersebut dihadiri oleh banyak orang tua dan anak-anak yang sangat antusias dan aktif berpartisipasi dalam Selain itu, para guru-guru juga mendapatkan banyak ilmu dan wawasan baru yang berguna dalam memberikan pendidikan kepada anak-anak. SIMPULAN Berdasarkan hasil pelaksanaan kegiatan PkM di SPS Tunas Mulia, yang dihadiri oleh 6 orang guru, 90 anak-anak dan 90 orang tua, ditemukan sebagai berikut. Pertama, kegiatan bermain permainan tradisional dengan permainan OraiOraian. Demprak Gunung. Lompat Bambu, dan Engrang Batok membuat anak anak senang karena selama ini mereka belum mengenal permainan tradisional. Dalam permainan tradisional tersebut, ditemukan adanya kerjasama, kekompakan, saling membantu dan menyelesaikan masalah yang ditemukan anak anak dalam kegiatan Kedua, kegiatan permainan tradisional dapat mengembangkan stimulasi perkembangan anak, diantaranya kecerdasan intelektual . karena anak banyak belajar dari teman-temannya dalam berkreasi. Misalnya: pada saat bemain demprak gunung, anak bisa mengganti batu dengan ranting kering, biji-bijian dan lainnya bila tidak ada batu sebagai alat permainan. Ketiga, dalam kegiatan permainan tradisional ini juga berusaha mengembangkan kearifan lokal budaya setempat khususnya wilayah Jawa Barat dengan mengedepankan aspek budaya melalui permainan yang menjadi ciri khas budaya Jawa Barat yang pernah dilakukan oleh masyarakat lokal sebelumnya agar permainan tersebut tidak punah. Keempat, tidak ada konsep menang dan kalah didalam permainan tradisional karena yang diutamakan dalam kegiatan bermain ini ada sportivitas, kejujuran dan yang paling penting adalah kesenangan didalam bermain permainan tradisional ini. Kelima, pada saat kegiatan pemberian parenting kepada orang tua, ditemukan orang tua yang sangat bersemangat, antusias dalam mendengarkan materi parenting yang disampaikan oleh narasumber, hal ini terlihat dari banyaknya pertanyaan yang disampaikan oleh para orang tua. Materi parenting yang disampaikan tentang membumikan permainan tradisional pada anak anak di rumah. Hal ini diharapkan agar anak-anak tidak ketergantungan pada gadget yang sekarang sudah menguasai hampir seluruh permainan anak. Keenam, selain kegiatan parenting, dilanjutkan kegiatan seminar untuk guruguru SPS Tunas Mulia dengan materi Menciptakan Permainan Tradisional Berbasis Budaya Lokal yang Menyenangkan Bagi Anak. Dalam kegiatan ini, guru-guru diberikan berbagai contoh permainan tradisional khas Jawa Barat yang bisa dan mudah dilaksanakan untuk anak-anak. Melestarikan Permainan Tradisional sebagai A | 142 UCAPAN TERIMA KASIH Terima kasih kepada Ketua STIT Al-Marhalah Al-Auulya Bekasi dan juga ketua LP2M yang telah memfasilitasi kegiatan PkM ini sehingga bisa berjalan dengan Terima kasih juga kepada kepala sekolah SPS Tunas Mulia yang sudah memberikan ijin untuk melaksanakan kegiatan PkM di sekolahnya. Terakhir terima kasih kepada jurnal Abdimas Prakasa Dakara yang sudah mempublikasikan hasil kegiatan PkM ini. DAFTAR PUSTAKA