Jurnal Peduli Masyarakat Volume 7 Nomor 4. Juli 2025 e-ISSN 2721-9747. p-ISSN 2715-6524 http://jurnal. com/index. php/JPM KONSELING DAN PENDAMPINGAN PEMBERIAN ASI PASCA SECTIO CAESARIA BAYI BINGUNG PUTING SUSU Daulay Evlindari Sentani1*. Nona Try Agista2 Universitas Wirahusada Medan. Jl. Bunga Ncole Raya. Kemenangan Tani. Medan Tuntungan. Medan. Sumatera Utara 20136. Indonesia Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Senior Medan. Jl. Djamin Ginting Km. 8,5 No 13. Mangga. Medan Tuntungan. Medan. Sumatera Utara 20141. Indonesia *wirabangsatebingtinggi@gmail. ABSTRAK Persalinan melalui sectio caesaria (SC) kerap menyebabkan keterlambatan dalam inisiasi menyusui dan meningkatkan risiko bingung puting pada bayi, yang berdampak pada kegagalan pemberian ASI eksklusif. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu menyusui pasca SC dalam menghadapi masalah tersebut melalui pendekatan konseling dan Kegiatan dilaksanakan di Klinik Srinatama. Tebing Tinggi, selama dua hari pada Mei 2025, dengan melibatkan 20 ibu menyusui pasca SC yang dipilih secara purposive. Metode kegiatan meliputi ceramah, demonstrasi teknik menyusui, praktik langsung dengan boneka laktasi, serta minikonseling individual. Evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test pengetahuan, serta observasi keterampilan praktik menyusui menggunakan lembar checklist. Hasil menunjukkan peningkatan pengetahuan dan keterampilan yang signifikan, dimana pemahaman tentang perlekatan yang benar meningkat dari 65% menjadi 90%, dan keterampilan posisi menyusui pasca SC meningkat dari 40% menjadi 85%. Sebanyak 75% ibu berhenti menggunakan dot, dan mulai rutin melakukan kontak kulit-kekulit. Wawancara menunjukkan bahwa 90% peserta merasa lebih percaya diri dan siap menyusui secara Konseling dan pendampingan secara langsung terbukti efektif dalam mengatasi tantangan menyusui pasca SC, serta dapat menjadi strategi promotif-preventif yang penting untuk mendukung keberhasilan ASI eksklusif di komunitas. Kata kunci: ASI eksklusif. bingung putting. konseling laktasi. sectio caesaria COUNSELING AND GUIDANCE ON BREASTFEEDING POST-CAESARIA SECTION FOR BABY WHO IS CONFUSED ABOUT NIPPLE ABSTRACT Delivery through cesarean section (CS) often causes delays in initiation of breastfeeding and increases the risk of nipple confusion in infants, which results in failure of exclusive breastfeeding. This community service activity aims to improve the knowledge and skills of post-CS breastfeeding mothers in dealing with these problems through a counseling and mentoring approach. The activity was carried out at the Srinatama Clinic. Tebing Tinggi, for two days in May 2025, involving 20 post-CS breastfeeding mothers who were selected purposively. The activity methods included lectures, demonstrations of breastfeeding techniques, direct practice with lactation dolls, and individual mini-counseling. Evaluation was carried out through pre-tests and post-tests of knowledge, as well as observations of breastfeeding practice skills using a checklist sheet. The results showed a significant increase in knowledge and skills, where understanding of correct attachment increased from 65% to 90%, and post-CS breastfeeding position skills increased from 40% to 85%. As many as 75% of mothers stopped using pacifiers and started routinely doing skin-to-skin Interviews showed that 90% of participants felt more confident and ready to breastfeed exclusively. Direct counseling and support have proven to be effective in overcoming the challenges of breastfeeding after CS, and can be an important promotive-preventive strategy to support the success of exclusive breastfeeding in the community. Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 7 No 4. Juli 2025 Global Health Science Group Keywords: caesarean section. exclusive breastfeeding. lactation counseling. nipple confusion PENDAHULUAN Pada era modern ini, semakin meningkatnya angka persalinan melalui sectio caesaria menimbulkan tantangan tersendiri bagi keberhasilan pemberian ASI eksklusif (P. Lestari et al. Studi Observasional di Indonesia menunjukkan bahwa ibu pasca sectio caesaria memiliki risiko rendah untuk melakukan inisiasi menyusui dini (IMD), yang berdampak langsung terhadap produksi ASI dan rating LATCH yang lebih rendah dibandingkan ibu persalinan normal (Yuliastuti et al. , 2. Segera setelah operasi, nyeri post bedah sering menimbulkan keterbatasan gerak ibu, sehingga menunda pemberian ASI dini yang sebaiknya dilakukan dalam satu jam pertama pasca lahir (Nasution & Oktamianti, 2. Keadaan ini diperburuk oleh fenomena Audelayed onset of lactationAy, suatu kondisi dimana pelaksanaan refleks prolaktin dan oksitosin terhambat akibat stres dan nyeri pasca caesaria (Anwar & Munira, 2. Selain itu, anatomi perlekatan bayi yang belum terlatih juga berpotensi menimbulkan kebingungan puting . ipple confusio. , terutama bila bayi diberi dot atau susu tambahan terlalu awal. Nipple confusion dapat menyebabkan bayi menolak payudara ibu atau dot secara bergantian, mengganggu konsistensi menyusui dan akhirnya menurunkan asupan ASI harian (Rini & Kumala, 2. Berbagai penelitian menegaskan pentingnya pendidikan dan konseling laktasi bagi ibu post sectio caesarea untuk memperbaiki teknik perlekatan, meningkatkan keberhasilan menyusui, serta menurunkan kecemasan dan meningkatkan kepercayaan diri ibu. Intervensi berupa edukasi menyusui, baik melalui konseling langsung, paket edukasi, maupun media video, terbukti meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan teknik perlekatan yang benar pada ibu nifas, serta memperbaiki status menyusui dan mengurangi masalah seperti kecemasan dan nyeri puting (Haryati Sahrir et al. , 2023. Yulianti, 2. Konseling laktasi yang diberikan secara berkelanjutan juga efektif dalam membantu ibu mengatasi tantangan menyusui, meningkatkan keberhasilan menyusui eksklusif, dan memperkuat motivasi serta rasa percaya diri ibu (Babiszewska-Aksamit et al. , 2. Studi lain menunjukkan bahwa tingkat pendidikan, pengetahuan, dan keikutsertaan dalam konseling laktasi selama kehamilan dan setelah persalinan berperan signifikan dalam praktik perlekatan yang efektif (Schwarz et al. , 2. Studi randomized controlled menunjukkan bahwa penerapan model manajemen laktasi pada kelompok intervensi menghasilkan teknik menyusui yang sukses hingga 87,9%, dengan peningkatan durasi menyusui satu bulan lebih lama dibanding kelompok kontrol. Selain itu, kelompok intervensi menunjukkan tingkat keberhasilan menyusui eksklusif yang lebih tinggi pada bulan pertama, serta angka komplikasi menyusui seperti mastitis dan lecet puting yang lebih rendah (Eker & Aslan, 2. Intervensi konseling perilaku, termasuk dukungan berulang dan personal, juga terbukti meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kepercayaan diri ibu dalam menyusui, serta memperbaiki teknik perlekatan dan menurunkan risiko masalah laktasi (Patel & Patel, 2. Di Indonesia, integrasi edukasi breast care dan teknik pijat oksitosin pada ibu post sectio terbukti memberikan hasil positif, seperti peningkatan produksi ASI, perbaikan perlekatan bayi, serta peningkatan asupan bayi dalam tiga hari pertama pasca operasi. Studi eksperimental menunjukkan bahwa kombinasi breast care dan pijat oksitosin secara signifikan meningkatkan volume ASI yang dihasilkan, dengan rata-rata peningkatan produksi ASI dan berat badan bayi yang lebih tinggi pada kelompok intervensi dibandingkan kelompok kontrol (Mahulette et al. Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 7 No 4. Juli 2025 Global Health Science Group Pijat oksitosin merangsang pelepasan hormon oksitosin dan prolaktin, yang memperlancar aliran ASI dan memperbaiki refleks let-down, sehingga bayi dapat menyusu lebih efektif (Hikmatun et al. , 2. Selain itu, edukasi mengenai teknik pijat oksitosin meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu dalam mengatasi tantangan menyusui awal, yang berdampak pada keberhasilan pemberian ASI eksklusif (Irnawati & Sari, 2. Pendampingan melalui kunjungan rumah dan konsultasi lanjutan, baik secara luring maupun daring, terbukti efektif memperpanjang durasi dan meningkatkan keberhasilan menyusui eksklusif hingga enam bulan pasca caesaria. Studi randomized controlled menunjukkan bahwa ibu yang menerima kunjungan rumah dan konseling setelah operasi caesar memiliki peningkatan signifikan dalam kepercayaan diri, frekuensi, dan durasi menyusui, serta angka keberhasilan ASI eksklusif yang lebih tinggi dibandingkan kelompok yang hanya mendapat perawatan rutin (Farasati et al. , 2024. Tiruneh et al. , 2. Intervensi ini juga membantu mengurangi masalah menyusui dan meningkatkan berat badan bayi secara optimal. Meta-analisis menegaskan bahwa home visit dan dukungan komunitas secara berkelanjutan sangat efektif dalam mempertahankan praktik ASI eksklusif, bahkan hingga enam bulan pertama kehidupan bayi (Ho et al. , 2. Kegiatan pengabdian ini bertujuan memberikan konseling dan pendampingan intensif pemberian ASI bagi ibu post sectio. METODE Pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan menggunakan pendekatan edukatif partisipatif melalui metode ceramah, diskusi interaktif, demonstrasi, dan praktik langsung . Kegiatan ini diselenggarakan di Klinik Srinatama Tebing Tinggi, selama dua hari berturut-turut pada bulan Mei 2025. Sasaran kegiatan adalah ibu menyusui pasca persalinan sectio caesaria yang memiliki bayi usia 0Ae6 bulan dan mengalami kesulitan menyusui, terutama akibat bingung Jumlah peserta yang dilibatkan sebanyak 20 orang ibu, yang dipilih secara purposive berdasarkan kriteria inklusi seperti: telah menjalani SC dalam kurun 1Ae3 bulan terakhir, memiliki bayi sehat, serta menyatakan kesediaan untuk mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Tim pelaksana terdiri dari dosen kebidanan dan keperawatan komunitas, serta dua konselor laktasi Tahapan kegiatan dilakukan dalam tiga sesi utama. Sesi pertama berisi pemberian edukasi mengenai pentingnya ASI eksklusif, efek operasi SC terhadap laktasi, serta faktor-faktor penyebab nipple confusion. Sesi kedua meliputi demonstrasi teknik menyusui yang benar, perlekatan yang efektif, posisi menyusui pasca SC, serta edukasi tentang breast care dan pijat Peserta diberi kesempatan melakukan simulasi langsung menggunakan boneka laktasi dengan panduan fasilitator. Sesi ketiga adalah pendampingan individual dan mini-konseling, dilakukan secara bergilir untuk masing-masing ibu peserta. Konseling dilakukan dengan pendekatan empatik dan berbasis solusi, disesuaikan dengan masalah yang dihadapi masingmasing peserta. Kegiatan juga didukung dengan leaflet, alat peraga visual, dan video edukatif untuk memperkuat pemahaman peserta. Untuk mengukur keberhasilan kegiatan, dilakukan evaluasi pre-test dan post-test menggunakan kuesioner terstruktur yang terdiri dari 15 butir pertanyaan pilihan ganda. Kuesioner ini dikembangkan oleh tim pengabdi berdasarkan pedoman WHO dan Kemenkes RI, dan telah melalui uji validitas isi oleh dua ahli laktasi. Pertanyaan dalam kuesioner mencakup tiga domain utama, yaitu: . pengetahuan tentang manfaat dan prinsip dasar pemberian ASI eksklusif, . pemahaman tentang teknik menyusui dan posisi perlekatan yang benar, serta . strategi penanganan masalah bingung puting, termasuk penggunaan dot dan kontak kulit-ke-kulit. Skor kuesioner dihitung dalam bentuk persentase penguasaan materi. Selain itu, observasi langsung Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 7 No 4. Juli 2025 Global Health Science Group terhadap praktik menyusui dilakukan oleh tim fasilitator menggunakan lembar checklist perlekatan berbasis standar LATCH untuk menilai kemampuan psikomotor peserta. Data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif komparatif untuk melihat perubahan antara sebelum dan sesudah intervensi. Hasil wawancara singkat semi-terstruktur juga dicatat sebagai data kualitatif untuk menilai persepsi, pengalaman, dan tingkat kepuasan peserta terhadap pelaksanaan kegiatan. Seluruh rangkaian kegiatan ini dilaksanakan dengan memperhatikan protokol kesehatan dan kaidah etika pelaksanaan pengabdian masyarakat. HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini diikuti oleh 20 ibu menyusui pasca sectio caesaria yang mengalami masalah menyusui, terutama bingung puting pada bayi. Berdasarkan hasil pretest, diketahui bahwa tingkat pengetahuan peserta masih tergolong rendah, terutama terkait teknik menyusui yang benar . %) dan pemahaman tentang penyebab bingung puting . %). Selain itu, hanya 40% peserta yang mampu menunjukkan posisi menyusui pasca operasi secara tepat. Setelah dilakukan edukasi dan pendampingan intensif, terjadi peningkatan yang signifikan pada aspek pengetahuan dan keterampilan. Hasil post-test menunjukkan bahwa 90% peserta memahami prinsip perlekatan yang benar, dan 85% telah mampu mempraktikkan posisi menyusui pasca SC dengan benar. Observasi langsung selama sesi praktik dan pendampingan menunjukkan bahwa 85% peserta dapat melakukan teknik perlekatan dengan baik sesuai standar LATCH. Perubahan perilaku juga terlihat dari data observasional: 75% ibu menyatakan berhenti menggunakan dot dan mulai rutin melakukan kontak kulit-ke-kulit. Hal ini menunjukkan bahwa pemahaman dan keterampilan yang diberikan melalui pendekatan praktis berdampak langsung terhadap praktik menyusui yang lebih Hasil wawancara singkat yang dilakukan setelah kegiatan mengungkapkan bahwa mayoritas ibu merasa lebih tenang, percaya diri, dan siap menyusui bayinya secara eksklusif. Salah satu peserta menyampaikan. AuDulu saya takut bayi saya tidak bisa menyusu karena bingung puting, tapi setelah tahu cara menyusui yang benar, saya jadi lebih yakin dan semangat. Ay Beberapa ibu juga menyatakan bahwa sesi simulasi dan pendampingan individual sangat membantu mereka memahami perlekatan yang benar. Seorang ibu lain mengatakan. AuSaya baru tahu kalau posisi menyusui bisa disesuaikan dengan luka operasi, sekarang lebih nyaman dan ASI jadi lebih lancar. Ay Sebagian besar peserta . %) juga mengungkapkan kepuasan terhadap materi dan metode penyampaian, serta menyatakan harapan agar kegiatan serupa dapat diadakan secara Mereka merasa pendekatan mini-konseling dan simulasi langsung memberikan kesempatan untuk bertanya dan memperbaiki teknik secara personal. Tabel 1. Perbandingan hasil pre-test dan post-test pengetahuan dan keterampilan ibu menyusui . Variabel Pengetahuan Mengetahui manfaat ASI eksklusif Memahami penyebab bingung puting Mengetahui posisi menyusui pasca SC Keterampilan Mempraktikkan teknik perlekatan yang benar Mampu mengatasi bingung puting tanpa dot Pre Test Post Test Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 7 No 4. Juli 2025 Global Health Science Group Gambar 1. Kegiatan pengabdian Intervensi konseling dan pendampingan terbukti secara signifikan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan menyusui pada ibu post sectio. Penelitian Widayati et al. menunjukkan bahwa konseling laktasi, khususnya dengan penggunaan media audiovisual, efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan rasa percaya diri ibu menyusui setelah persalinan. Hasil serupa juga ditemukan pada studi lain yang menegaskan bahwa edukasi menggunakan media audiovisual mampu memperbaiki pengetahuan, sikap, dan keterampilan psikomotor ibu dalam teknik menyusui. Metode ini tidak hanya meningkatkan pemahaman, tetapi juga mendukung perubahan perilaku nyata dalam praktik menyusui, terutama pada ibu pasca caesaria yang sering menghadapi tantangan lebih besar (Mukhoirotin & Masruroh, 2. Masalah delayed onset of lactation (DOL), yang umum terjadi pasca sectio caesarea, dapat dikurangi melalui strategi edukatif dan intervensi praktis. DOL sering dipicu oleh stres pasca operasi, penggunaan analgesik, serta rendahnya frekuensi menyusui dini, sehingga memperlambat refleks laktasi dan produksi ASI (Lian et al. , 2. Konseling menyusui dini dan edukasi tentang pentingnya frekuensi menyusui dalam 48 jam pertama terbukti efektif mempercepat onset laktasi dan menurunkan risiko DOL (Peng et al. , 2. Selain itu, pijat oksitosin secara berulang membantu stimulasi hormon oksitosin dan prolaktin, yang berperan penting dalam memperlancar refleks let-down dan meningkatkan produksi ASI (P. Lestari et al. Studi di Indonesia menunjukkan bahwa pijat oksitosin efektif mengurangi masalah laktasi dan mendukung pertumbuhan bayi, serta dapat diterapkan sebagai bagian dari perawatan rutin ibu post sectio (Purnamasari et al. , 2. Faktor nipple confusion berhasil diminimalisir melalui pengajaran perlekatan yang benar dan demonstrasi praktik menyusui secara langsung. Literature review oleh Kronborg dan Vyth . menegaskan bahwa kesalahan teknik menyusui serta penggunaan dot atau botol dapat memengaruhi durasi dan eksklusivitas ASI, karena bayi yang terbiasa dengan dot cenderung mengalami masalah perlekatan dan perilaku menyusu yang kurang efektif. Intervensi edukasi yang menekankan praktik perlekatan yang benar dan pengurangan penggunaan dot terbukti efektif, dengan penurunan penggunaan dot hingga 75% pada kelompok intervensi, sehingga mendukung keberhasilan menyusui eksklusif. Pendekatan praktis ini sangat penting untuk mencegah perilaku menyusu yang tidak optimal akibat nipple confusion, serta memperpanjang durasi pemberian ASI (Batista et al. , 2. Keterlibatan konselor IBCLC dan tenaga kesehatan terbukti menjadi kunci keberhasilan dalam mendukung praktik menyusui, sejalan dengan rekomendasi ACOG . yang menegaskan pentingnya dukungan profesional sebagai bagian integral dari layanan obstetri (Chetwynd et al. Studi dan meta-analisis menunjukkan bahwa intervensi yang melibatkan IBCLC secara signifikan meningkatkan angka inisiasi, durasi, dan eksklusivitas ASI, baik di lingkungan rawat inap maupun rawat jalan. Pendekatan anticipatory guidanceAiyaitu pemberian edukasi dan persiapan menghadapi tantangan menyusui sejak awalAiserta manajemen komplikasi laktasi oleh tenaga terlatih, memperkuat keberhasilan menyusui pada kelompok ibu dengan risiko tinggi atau Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 7 No 4. Juli 2025 Global Health Science Group masalah laktasi. Dukungan profesional ini juga meningkatkan kepercayaan diri ibu, kesiapan menghadapi masalah, dan akses terhadap solusi berbasis bukti, sehingga memperbesar peluang keberhasilan menyusui jangka panjang (Haase et al. , 2. Dukungan sosial dan peer support terbukti sangat penting dalam memperkuat ketahanan ibu Studi sistematik dan meta-analisis menunjukkan bahwa dukungan dari sesama ibu, baik melalui komunitas maupun jejaring sosial, secara signifikan meningkatkan durasi dan kehidupan bayi. Dukungan sosial yang diberikan secara kontinu dan disesuaikan dengan kebutuhan ibu, baik dari keluarga, teman sebaya, maupun tenaga kesehatan, mampu membantu ibu mengatasi stres, meningkatkan kepercayaan diri, serta mencegah gangguan seperti depresi pascapersalinan (Islam et al. , 2021. Shakya et al. , 2. Kajian terbaru menyoroti bahwa meskipun tingkat pengetahuan ibu post-cesarean tentang manfaat ASI eksklusif cukup tinggi, praktik pemberian ASI eksklusif tetap rendah dan sangat dipengaruhi oleh faktor budaya serta tekanan sosial. Sebagai contoh, sebuah studi di China menemukan bahwa 84% ibu memiliki pengetahuan baik tentang menyusui, namun hanya sekitar 23% yang benar-benar melakukan ASI eksklusif, dengan hambatan utama berasal dari norma budaya, pengaruh keluarga, dan persepsi masyarakat sekitar (Chen et al. , 2023. Joseph & Earland. Faktor-faktor seperti kepercayaan tradisional, peran dominan anggota keluarga lain dalam pengambilan keputusan, serta tekanan untuk mengikuti kebiasaan lokal, seringkali menghambat ibu dalam mempertahankan ASI eksklusif meski sudah memahami manfaatnya (Nsiah-Asamoah et al. , 2. SIMPULAN Kolaborasi antara bidan dan kader Posyandu terbukti efektif dalam pencegahan stunting pada balita melalui peningkatan kapasitas dan edukasi kepada masyarakat. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan kader Posyandu sebesar 88,8% dan peningkatan pemahaman orang tua balita tentang pentingnya gizi seimbang sebesar 93,8%. Selain itu, praktik pemberian MP-ASI sesuai panduan gizi seimbang meningkat hingga 50%, mencerminkan keberhasilan edukasi yang dilakukan. Sinergi antara bidan sebagai penyedia layanan kesehatan dan kader Posyandu sebagai pendidik serta penggerak masyarakat memainkan peran kunci dalam memastikan intervensi berjalan optimal. Dengan pendekatan kolaboratif yang berkelanjutan, upaya ini dapat memberikan dampak signifikan dalam menurunkan prevalensi stunting di DAFTAR PUSTAKA