WIDYA ACCARYA: Jurnal Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 17 No 1. April 2026 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index Pencegahan Perundungan di Sekolah Menengah Pertama di Kota Denpasar dengan Pengembangan Model Pembelajaran Berbasis Proyek Berlandaskan Filosofi Tri Kaya Parisudha Wayan Meter Universitas Terbuka wayan@ecampus. I Ketut Suar Adnyana Universitas Dwijendra suara6382@gmail. Putu Ronny Angga Mahendra Universitas Dwijendra puturonny87@gmail. Ni Putu Diah Sekar Ayu Nirmala Universitas Bina Nusantara diahsekar@gmail. Abstrak: Perundungan di sekolah tetap menjadi masalah yang terus berlanjut meskipun telah dilakukan berbagai upaya intervensi. Pendekatan tradisional, seperti kampanye sosialisasi dan kuesioner, terbukti tidak efektif karena kurangnya keberlanjutan dan dampak yang terbatas dalam mengurangi insiden Data dari UNICEF . mengungkapkan tingkat kekerasan . %) dan perundungan . %) yang sangat tinggi di kalangan siswa di Indonesia. Sifat heterogen Denpasar memperparah risiko perundungan, terutama di lingkungan pendidikan. Untuk mengatasi masalah mendesak ini, penelitian ini mengusulkan pendekatan baru: menerapkan model pembelajaran berbasis proyek (PBL) yang berlandaskan filosofi Hindu Bali Tri Kaya Parisudha . armoni dalam pikiran, perkataan, dan perbuata. di sekolah menengah pertama (SMP) di Denpasar. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan efektivitas peraturan sekolah terkait perundungan, saling mendukung untuk melawan pelaku perundungan, serta melaporkan perundungan kepada guru dan orang tua guna memberikan dukungan. Pendekatan ini terdiri dari lima tahap: . penilaian kebutuhan awal, . pelatihan guru dan staf, . pembentukan kelompok proyek, . penerapan model pembelajaran berbasis proyek, . solusi pembelajaran berbasis masalah. Penelitian ini akan mengukur keberhasilan program dan dampaknya terhadap perilaku siswa guna memberikan makna bagi siswa dalam hal pencegahan dampak perundungan. Kata kunci: Perundungan. Pembelajaran Berbasis Proyek. Tri Kaya Parisudha. Sekolah Menengah Pertama (SMP) PENDAHULUAN Perundungan saat ini menjadi permasalahan krusial yang terjadi di masyarakat. Perundungan tidak saja terjadi di tempat umum tetapi juga terjadi di sekolah. Kejadian perundungan belum terungkap dan terselesaikan dengan baik. Hal ini dakibatkan karena pihak sekolah tidak memberikan data sesuai dengan realita. Pihak sekolah masih mempunyai anggapan apabila kasus perundungan disampaikan dengan sebenarnya akan mengakibatkan dampak buruk bagi sekolah. Perundungan di WIDYA ACCARYA 2026 sekolah seperti fenomena gunung es. Kasus yang terungkap belum seberapa tetapi kasuskasus yang belum terungkap tentu lebih banyak lagi. 2 K eywords: Bullying. Project Based Learning. Tri Kaya Parisudha. Junior High School (SMP) PENDAHULUAN Berdasarkan data UNICEF yang dihimpun tahun 2020, angka kekerasan di kalangan pelajar mencapai 41 persen, sementara angka perundungan menembus 45 persen (UNICEF. Angka tersebut mungkin akan jauh lebih besar di lapangan, mengingat tidak semua korban maupun saksi berani berterus P a g e 137 WIDYA ACCARYA: Jurnal Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 17 No 1. April 2026 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index terang dan angkat bicara. Di Indonesia, kasus perundungan sudah sangat yang Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) mengungkap angka perundungan di Indonesia cukup tinggi dikalangan pelajar. FSGI mencatat selama Januari - Juli 2023 telah terjadi 16 kasus perundungan di satuan pendidikan. Dari 16 kasus perundungan pada satuan pendidikan mayoritas terjadi pada tingkat sekolah dasar . , sekolah menengah pertama . %), dan sekolah menengah atas . ,75%), dan sekolah menengah kejuruan . ,75%). https://w. com/a/federasiserikat-guruakui perundungan-di-satuanpendidikan-masih-marak/7212413. Angka perundungan masih menjadi ancaman nyata bagi kesejahteraan fisik dan psikologis peserta didik. Perundungan . merupakan permasalahan serius yang terus menghantui dunia pendidikan di Indonesia. Data terkini menunjukkan bahwa sekolah, yang seharusnya menjadi lingkungan aman dan kondusif bagi tumbuh kembang anak, justru menjadi tempat terjadinya berbagai tindakan kekerasan dan intimidasi. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengatasi masalah perundungan di sekolah, mulai dari sosialisasi, penyebaran kuesioner, hingga program-program pencegahan yang berbasis pada pendekatan psikologis atau pendidikan Namun, efektivitas upaya-upaya keterlibatan aktif dari seluruh pihak terkait, dan kurangnya relevansi dengan konteks sosial dan budaya lokal. Kota Denpasar, sebagai ibu kota Provinsi Bali, memiliki karakteristik unik yang dapat memengaruhi dinamika perundungan di lingkungan Sebagai kota metropolitan dengan tingkat heterogenitas tinggi. Denpasar memiliki potensi risiko perundungan yang lebih besar dibandingkan dengan daerah Selain itu, budaya Bali yang kaya dengan nilai-nilai kearifan lokal, seperti harmoni, gotong royong, dan toleransi, dapat menjadi modal penting dalam upaya pencegahan perundungan. Oleh karena itu, mengembangkan dan menguji model intervensi yang inovatif dan komprehensif untuk mencegah perundungan di sekolah menengah pertama (SMP) di Kota WIDYA ACCARYA 2026 Denpasar. Model ini akan mengintegrasikan pendekatan pembelajaran berbasis proyek . roject-based learnin. dengan nilai-nilai kearifan lokal Tri Kaya Parisudha, sebuah filosofi hidup yang menekankan pada keseimbangan dan keselarasan antara pikiran, perkataan, dan perbuatan. Model ini diharapkan dapat memberikan solusi yang lebih efektif dan berkelanjutan dalam mengatasi masalah perundungan di sekolah, serta dapat meningkatkan karakter positif dan kesadaran siswa akan pentingnya nilai-nilai budaya lokal. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan kondusif bagi tumbuh kembang peserta didik di Kota Denpasar dan daerah lain di Indonesia. Penelitian ini penting untuk dilakukan mengingat perlunya tindakan pencegahan yang berkelanjutan dan relevan dengan konteks budaya lokal. II. METHODS Penelitian ini menggunakan pendekatan Pendekatan kualitatif digunakan perundungan, faktor penyebabnya, serta bagaimana filosofi Tri Kaya Parisudha dapat diterapkan dalam pembelajaran berbasis Populasi dalam kajian ini adalah seluruh Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kota Denpasar dengan jumlah sekolah sebanyak 77 SMP (Negeri dan Swast. terbagi di 4 Kecamatan yakni. Denpasar Barat. Denpasar Timur. Denpasar Utara, dan Denpasar Selatan. Sekolah yang dijadikan sampel adalah sekolah yang memiliki kasus Responden dalam kajian ini adalah guru, siswa, dan kepala sekolah dari beberapa SMP yang dipilih. Sampel penelitian dalam hal ini sebanyak 10 SMP baik negeri atau swasta. Teknik observasi yang digunakan adalah observasi partisipatif dan nonpartisipatif Peneliti ikut serta dalam kegiatan sekolah, seperti mengamati interaksi siswa di dalam dan luar kelas untuk mengidentifikasi pola perundungan yang terjadi . bservasi Peneliti hanya bertindak sebagai pengamat tanpa terlibat langsung dalam aktivitas yang sedang diamati . bservasi non Lembar mencatat bentuk perundungan . erbal, fisik, sosial, atau sibe. yang terjadi. Catatan lapangan mengenai interaksi antara siswa dan P a g e 138 WIDYA ACCARYA: Jurnal Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 17 No 1. April 2026 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index guru, serta antara siswa dengan siswa. Wawancara dilakukan untuk menggali pemahaman, dan pendapat kepala sekolah, guru, dan siswa tentang perundungan. Kuesioner diberikan kepada responden dengan tujuan untuk pemetaan kondisi awal kasus perundungan yang terjadi di sekolah yang telah ditetapkan sebagai sampel dalam kajian ini. Tujuan penyebaran kuesioner adalah . untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa tentang perundungan dan filosofi Tri Kaya Parisudha. untuk mengetahui tindakan yang telah diambil oleh sekolah dalam mengatasi perundungan. Dokumen yang dicari antara lain dokumen kebijakan sekolah tentang pencegahan pembelajaran yang diterapkan terkait pembelajaran berbasis proyek, catatan kasus perundungan yang pernah terjadi di sekolah, dan penelitian atau kajian relevan lainnya. RESULT AND DISCUSSION Bentuk dan Karakteristik Perundungan yang Terjadi di Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kota Denpasar. Perundungan di lingkungan Sekolah Menengah Pertama (SMP) merupakan fenomena sosial yang perlu mendapatkan perhatian serius dari seluruh komponen pendidikan, termasuk guru, orang tua, dan Perundungan tersebut memiliki berbagai bentuk dan karakteristik yang khas, serta dapat memberikan dampak negatif yang signifikan terhadap kesejahteraan dan perkembangan mental korban. Perundungan di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Kota Denpasar merupakan masalah sosial yang kompleks dan memerlukan perhatian serius. Perundungan di masa remaja, fase perkembangan sosial yang krusial, seringkali dipengaruhi oleh tekanan teman sebaya dan dinamika lingkungan Bentuk-bentuk perundungan yang umum ditemukan meliputi perundungan fisik . ekerasan langsun. , verbal . jekan dan . Perundungan merupakan fenomena sosial yang perlu perhatian serius dari seluruh komponen pendidikan. A Perundungan Fisik: WIDYA ACCARYA 2026 Kekerasan langsung yang menyebabkan cedera fisik . emukul, menendan. , dilakukan berulang dan bertujuan menakut-nakuti. Perundungan Verbal: Ejekan, hinaan, ancaman lisan yang melukai psikologis korban. Perundungan Sosial: Pengucilan, penolakan, penyebaran gosip yang merusak relasi sosial dan menciptakan rasa tidak aman. A Perundungan Melalui Media dan Cyberbullying: Kekerasan melalui media sosial, pesan teks, platform daring . enyebaran konten negatif, ancaman onlin. , menyebabkan trauma mendalam. Karakteristik Perundungan di Tingkat SMP: A Berulang dan Terencana: Dilakukan secara berulang dan terencana, menyebabkan luka psikologis yang mendalam. A Dilakukan oleh Kelompok: Pelaku merasa lebih berkuasa dalam kelompok, memberikan tekanan yang kuat pada A Mengandung Unsur Hierarki dan Dominasi: Pelaku merasa lebih berkuasa secara sosial atau fisik, menggunakan kekerasan atau intimidasi untuk mempertahankan posisi. Dampak Psikologis dan Sosial: Menyebabkan stres, cemas, rendah diri, depresi, menarik diri dari lingkungan, kehilangan kepercayaan diri, dan gangguan interaksi sosial. A Sifat Tersembunyi dan Sulit Dideteksi: Seringkali berlangsung diam-diam dan sulit dideteksi oleh pihak sekolah maupun orang tua. A Pengaruh Teman Sebaya dan Lingkungan Sekolah: Dinamika teman sebaya dan lingkungan sekolah yang tidak kondusif dapat memperkuat perilaku Karakteristik perundungan di tingkat SMP umumnya berulang, terencana, dilakukan oleh kelompok yang merasa berkuasa, mengandung unsur hierarki dan dominasi, serta berdampak negatif pada psikologis dan sosial Sifatnya yang tersembunyi dan pengaruh lingkungan yang kurang kondusif semakin mempersulit deteksi dan penanganan. Oleh karena itu, upaya pencegahan perundungan melibatkan seluruh komponen pendidikan, menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman, menekankan pendidikan karakter dan empati, serta menegakkan aturan yang tegas. Keterlibatan aktif orang tua dan masyarakat juga sangat penting untuk memastikan pencegahan yang efektif dan berkelanjutan. Upaya Pencegahan Perundungan: A Menciptakan suasana sekolah yang aman dan nyaman. P a g e 139 WIDYA ACCARYA: Jurnal Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 17 No 1. April 2026 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index Pendidikan karakter dan pengembangan A Penegakan aturan yang tegas terhadap pelaku. A Dukungan psikologis kepada korban. A Keterlibatan orang tua dan Oleh karena itu, upaya pencegahan perundungan perlu dilakukan secara komprehensif, melibatkan seluruh lingkungan yang aman dan nyaman, menekankan pendidikan karakter dan empati, serta menegakkan aturan yang tegas. Keterlibatan aktif orang tua dan masyarakat juga sangat penting untuk memastikan pencegahan yang efektif dan berkelanjutan. Faktor yang mempengaruhi terjadinya perundungan di lingkungan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kota Denpasar. Perilaku perundungan di kalangan siswa SMP di Kota Denpasar menjadi tantangan serius dalam menciptakan lingkungan belajar yang sehat dan Analisis data dan telaah literatur menunjukkan bahwa fenomena ini dipengaruhi oleh berbagai faktor kompleks, baik yang berasal dari dalam diri individu . aktor interna. maupun dari lingkungan eksternal. Data dari Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Provinsi Bali . alam Wijaya et al. , 2. menunjukkan bahwa kasus kekerasan terhadap anak masih menjadi isu yang relevan di Provinsi Bali. Penelitian oleh Kurniasari et al. juga menyoroti variasi bentuk perilaku perundungan di kalangan siswa SMP di Denpasar. Faktor Internal: Faktor internal mencakup karakteristik individu yang meningkatkan kerentanan untuk terlibat dalam perilaku perundungan, baik sebagai pelaku maupun korban. A Karakter dan Kepribadian Individu: Teori perkembangan sosial Erikson . menekankan peran identitas dan kepercayaan diri dalam membentuk perilaku Siswa dengan karakter agresif, impulsif, dan rendah empati cenderung melakukan Teori agresivitas Anderson dan Bushman . juga mendukung hal ini, menyatakan bahwa individu dengan tingkat agresivitas tinggi dan empati rendah lebih rentan melakukan tindakan agresif. Survei Kementerian Pendidikan Kebudayaan . WIDYA ACCARYA 2026 menunjukkan bahwa sekitar 35% siswa SMP di Denpasar menunjukkan ciri-ciri karakter agresif dan rendah empati terhadap teman sebaya. Pengamatan lapangan juga mengkonfirmasi bahwa siswa dengan kepribadian impulsif lebih berpotensi terlibat dalam perundungan, baik secara verbal maupun fisik. A Pengaruh Teman Sebaya: Teori influence peer group dari Brown dan Larson . menjelaskan bahwa tekanan dari teman sebaya sangat berpengaruh dalam membentuk perilaku remaja. Remaja seringkali mengikuti norma kelompok, termasuk melakukan perundungan untuk mendapatkan pengakuan atau Studi lapangan menunjukkan bahwa sekitar 60% kasus perundungan di SMP Denpasar dipicu oleh dorongan teman sebaya yang ingin menunjukkan kekuatan dan keberanian, terutama dari kelompok yang dianggap "kuat" atau senior. Pengaruh Keluarga dan Pola Pengasuhan: Teori pengasuhan Baumrind . menyatakan bahwa pola pengasuhan otoriter . erlalu keta. dan permisif . erlalu longga. dapat meningkatkan risiko agresivitas pada anak. Anak-anak yang kurang mendapatkan pengawasan positif dan komunikasi efektif dari keluarga cenderung mencari perhatian melalui perilaku agresif di Hasil pengamatan menunjukkan bahwa 45% siswa yang terlibat perundungan berasal dari keluarga dengan pola asuh yang tidak konsisten atau cenderung otoriter/permisif. Faktor Eksternal: Faktor eksternal mencakup pengaruh dari lingkungan sekitar yang dapat memicu atau memperburuk perilaku perundungan. A Budaya dan Norma Sosial di Bali: Teori normatif Cialdini et al. menjelaskan bahwa norma sosial mempengaruhi perilaku individu. Jika lingkungan tidak tegas melarang kekerasan dan perundungan, individu cenderung menormalisasi tindakan Meskipun budaya Bali menjunjung tinggi nilai kekeluargaan dan saling menghormati, pengaruh modernisasi dan globalisasi dapat mengikis norma-norma tersebut. Studi etnografi menunjukkan adanya kecenderungan sebagian siswa dan orang tua untuk menormalkan kekerasan sebagai bentuk latihan kedisiplinan. Pengaruh Media dan Teknologi Digital: Cyberbullying, sebagai bentuk perundungan daring, dijelaskan oleh Smith et al. sebagai fenomena yang difasilitasi oleh kemudahan akses media sosial dan teknologi digital. Penyebaran konten merugikan dan tindakan kekerasan verbal P a g e 140 WIDYA ACCARYA: Jurnal Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 17 No 1. April 2026 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index dan psikologis daring dapat dengan cepat menyebar dan menimbulkan trauma yang Laporan Dinas Pendidikan Kota Denpasar menunjukkan bahwa 50% kasus perundungan melibatkan cyberbullying, dengan korban umumnya merupakan siswa yang aktif menggunakan media sosial. A Kondisi Sekolah dan Pengawasan: Model lingkungan belajar Bronfenbrenner . menyoroti pentingnya pengawasan dan penegakan aturan di sekolah. Sekolah dengan pengawasan yang minim dan aturan yang tidak ditegakkan secara konsisten cenderung mengalami peningkatan kasus perundungan, terutama di area luar kelas dan Faktor-faktor mempengaruhi terjadinya perundungan di SMP Kota Denpasar bersifat kompleks dan saling Upaya pencegahan dan penanganan komprehensif yang mempertimbangkan baik faktor internal . arakter individu, pengaruh teman sebaya, pola pengasuha. maupun faktor eksternal . udaya dan norma sosial, pengaruh media dan teknologi digital, kondisi sekolah dan Model pengembangan pembelajaran berbasis proyek yang berlandaskan filosofi Tri Kaya Parisudha dalam mencegah (Sekolah Menengah Pertam. SMP di Kota Denpasar. Model pembelajaran yang ideal menekankan pada pembelajaran yang berpusat pada siswa . tudent-centere. , di mana siswa aktif mengkonstruksi pengetahuan mereka sendiri melalui pencarian informasi dan pemecahan Salah satu pendekatan yang menjanjikan untuk mengatasi perundungan adalah Project Based Learning (PBL), yang berfokus pada konsep dan prinsip inti dari suatu disiplin ilmu, melibatkan siswa dalam investigasi masalah autentik, memberikan otonomi dalam membangun pengetahuan, dan menghasilkan produk nyata. Landasan Teoretis dan Filosofis Model: A Project Based Learning (PBL): PBL adalah pendekatan pembelajaran yang dirancang untuk mengatasi mendalam, penekanan pada aktivitas yang multidisipliner, dan orientasi pada produk. PBL didukung oleh teori konstruktivistik, yang WIDYA ACCARYA 2026 meyakini bahwa siswa membangun pengetahuan mereka sendiri melalui pengalaman. PBL memberikan kesempatan untuk menyampaikan ide, mendengarkan ide orang lain, dan merefleksikan ide sendiri, yang memberdayakan siswa secara individu. A Filosofi Tri Kaya Parisudha: Dalam konteks budaya Bali. Tri Kaya Parisudha menjadi landasan penting dalam membangun karakter dan moral siswa. Filosofi ini menekankan pada tiga aspek tindakan yang harus disucikan: Manacika . ikiran yang bai. Wacika . erkataan yang bai. , dan Kayika . erbuatan yang bai. Pengintegrasian nilai-nilai Tri Kaya Parisudha ke dalam sistem pendidikan diharapkan dapat membentuk karakter siswa secara berkelanjutan dan relevan dalam mencegah Tujuan dan Prinsip Model: Model ini bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan, kedamaian, dan pengendalian diri melalui proses pembelajaran berbasis proyek. Prinsip-prinsip utama model ini meliputi: A Pembentukan karakter melalui pengalaman A Penguatan nilai budaya lokal sebagai identitas dan karakter bangsa. A Pendekatan kolaboratif dan partisipatif siswa. A Penggunaan media dan media sosial untuk memperkuat pesan Tahapan Implementasi Model: Model ini diimplementasikan melalui tiga tahapan utama: A Perencanaan: o Menyusun proyek yang mengandung nilai-nilai kebaikan, kedamaian, dan pengendalian diri . egiatan sosial, karya inklusif, aksi peduli lingkunga. o Menanamkan aspek budaya Bali dan nilai-nilai Tri Kaya Parisudha sejak tahap perencanaan. A Pelaksanaan: o Menyusun proyek secara berkelompok dengan dinamika yang menanamkan nilai kerjasama, menghormati perbedaan, dan pengendalian emosi. o Melaksanakan proyek secara kolaboratif, menekankan kerjasama dan saling menghormati. Menerapkan nilai pengendalian diri, empati, dan sopan santun selama proses pelaksanaan. Refleksi dan Evaluasi: o Merangkum pengalaman terkait nilai Tri Kaya Parisudha. o Merefleksikan pembelajaran tentang etika, moral, manfaat kegiatan sosial, dan pentingnya karakter positif. Mengaitkan nilai-Tri Kaya Parisudha dengan perilaku positif di kehidupan nyata. Strategi Implementasi dan Teknik Evaluasi: Strategi implementasi melibatkan seluruh stakeholder . uru, siswa, orang tua, masyaraka. melalui pelatihan dan workshop pedagogi berorientasi P a g e 141 WIDYA ACCARYA: Jurnal Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 17 No 1. April 2026 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index nilai budaya dan karakter, serta integrasi proyek ke dalam kurikulum. Teknik evaluasi meliputi observasi partisipasi, penilaian portofolio, survei, wawancara, dan pengukuran kejadian Dampak yang Diharapkan: A Penurunan kasus perundungan. A Penguatan budaya sekolah positif berbasis nilai etika dan A Pembentukan karakter yang beretika, peduli, dan mampu mengendalikan emosi. Penguatan rasa kebersamaan dan solidaritas A Peningkatan kompetensi sosial dan Contoh Implementasi dan Media Pendukung: A Proyek sosial yang melibatkan masyarakat sekitar dan lingkungan sekolah, menumbuhkan rasa tanggung jawab dan hormat. A Penggunaan media visual dan digital untuk menanamkan pesan moral. A Pelibatan orang tua dan masyarakat sebagai pendukung karakter. Penggunaan ruang kelas dan lingkungan sekolah sebagai tempat praktik langsung nilai nilai. Model pengembangan pembelajaran berbasis proyek yang berlandaskan filosofi Tri Kaya Parisudha menawarkan pendekatan inovatif untuk mencegah perundungan di SMP Kota Denpasar. Dengan menanamkan nilai-nilai moral dan budaya melalui kegiatan yang menginternalisasi etika hidup, menumbuhkan karakter positif, dan mengendalikan potensi IV. CONCLUSION Pengembangan model pembelajaran berbasis proyek yang berlandaskan filosofi Tri Kaya Parisudha merupakan pendekatan inovatif dan relevan dalam konteks Pencegahan perundungan di SMP di Kota Denpasar. Dengan menanamkan nilai-nilai moral dan budaya secara praktis melalui kegiatan yang konkret, diharapkan siswa menumbuhkan karakter positif, dan mampu mengendalikan potensi agresivitas serta kekerasan, termasuk perundungan. Pendekatan ini sekaligus memperkuat identitas budaya Bali yang menjunjung tinggi norma dan adat, serta menjadi bagian dari solusi jangka panjang dalam menciptakan iklim sekolah yang harmonis, aman, dan berbudaya. WIDYA ACCARYA 2026 REFERENCES