Abdibaraya: Jurnal Pengabdian Masyarakat Pengenalan Trichoderma sp. sebagai Solusi Pengendalian Penyakit Layu Fusarium pada Tanaman Cabai di Kecamatan Grabagan. Tuban Vol. 3 No. E-ISSN: 2964-9072 Universitas MaAoarif Nahdlatul Ulama Kebumen Pengenalan Trichoderma sp. sebagai Solusi Pengendalian Penyakit Layu Fusarium pada Tanaman Cabai di Kecamatan Grabagan. Tuban Maulidi Firlandiana1. Dhina Mustikaningrum1. Suprayitno Suprayitno1. Kristiawan Kristiawan1. Maimunah Maimunah1. Abdi Dewi Setyana1. Hery Prasetya1. Subiyanto Subiyanto 1 Universitas Sunan Bonang. Tuban. Indonesia firlandiana95@gmail. Received: 11/07/2024 Revised: 17/07/2024 Accepted: 18/07/2024 CopyrightA2024 by authors, all rights reserved. Authors agree that this article remains permanently open access under the terms of the Creative Commons Attribution License 4. 0 International License Abstrak Trichoderma sp. merupakan salah satu jenis cendawan . yang ada di daerah perakaran tanaman dan mampu melindungi tanaman dari penyakit. Agens hayati ini dikenal mampu mengatasi serangan layu fusarium yang sering menyerang tanaman Kabupaten Tuban menjadi kawasan sentra cabai karena pada tahun 2022 berhasil memproduksi cabai rawit sebesar 36. 528 Ton dan cabai besar mencapai 760,98 Ton. Salah satu kecamatan di Kabupaten Tuban yang memiliki tingkat produksi cabai tertinggi yaitu Kecamatan Grabagan dengan tingkat produksi 81,91%. Tingginya angka produksi cabai baik cabai rawit maupun cabai besar tersebut sebanding dengan tantangan budidaya cabai yang kian meningkat. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini memiliki tujuan utama yaitu mengenalkan biopestisida dari agens hayati Trichoderma sp. kepada petani cabai di Kecamatan Grabagan. Kabupaten Tuban sebagai solusi atas penyakit layu cabai akibat jamur Fusarium sp. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat yang digagas oleh Tim Dosen Fakultas Pertanian Universitas Sunan Bonang Tuban telah dilaksanakan dengan mengikutsertakan 13 petani cabai Kecamatan Grabagan di Balai Penyuluhan dan Ketahanan Pangan (BPKP) Kecamatan Grabagan. Kegiatan ini berisi penyuluhan terkait perbanyakan jamur Trichoderma sp. secara sederhana serta pertanian berkelanjutan dengan konsep Back to Nature. Kegiatan dilengkapi praktik langsung perbanyakan jamur Trichoderma sp. dengan menggunakan nasi sebagai Berdasarkan hasil angket yang telah dibagikan kepada peserta, menghasilkan fakta bahwa 10 dari 13 petani cabai di Kecamatan Grabagan masih bergantung pada penggunaan pestisida sintetis. Setelah mendapatkan penyuluhan, 12 dari 13 petani cabai tersebut menyatakan bersedia untuk menerapkan pertanian yang ramah lingkungan dengan memanfaatkan agens hayati Trichoderma sp. Kata kunci: agens hayati, cabai, layu fusarium, trichoderma Abstract Trichoderma sp. is a type of fungus that exists in the root zone of plants and is able to protect plants from disease. This biological agent is known to be able to overcome the attack of fusarium wilt which often attacks chili plants. Tuban Regency became Abdibaraya: Jurnal Pengabdian Masyarakat | 56 Abdibaraya: Jurnal Pengabdian Masyarakat Pengenalan Trichoderma sp. sebagai Solusi Pengendalian Penyakit Layu Fusarium pada Tanaman Cabai di Kecamatan Grabagan. Tuban Vol. 3 No. E-ISSN: 2964-9072 Universitas MaAoarif Nahdlatul Ulama Kebumen a chili center area because in 2022 it managed to produce 36,528 tons of cayenne pepper and 6,760. 98 tons of large chili. One of the sub-districts in Tuban Regency that has the highest chili production rate is Grabagan Sub-district with a production rate of 81. The high rate of chili production, both cayenne pepper and large chili, is proportional to the increasing challenges of chili cultivation. This community service activity has the main objective of introducing biopesticides from the biological agent Trichoderma sp. to chili farmers in Grabagan District. Tuban Regency as a solution to chili wilt disease caused by the fungus Fusarium sp. Community Service activities initiated by the Faculty of Agriculture Lecturer Team of Sunan Bonang University Tuban have been carried out by involving 13 chili farmers in Grabagan District at the Grabagan District Extension and Food Security Center (BPKP). This activity contains counseling related to the propagation of Trichoderma sp. fungi in a simple way and sustainable agriculture with the concept of Back to Nature. The activity was complemented by hands-on practice of Trichoderma sp. fungi propagation using rice as a substrate. Based on the questionnaire distributed to the participants, it was found that 10 out of 13 chili farmers in Grabagan sub-district still depend on the use of synthetic pesticides. After receiving the counseling, 12 out of 13 chili farmers expressed their willingness to implement environmentally friendly agriculture by utilizing biological agents Trichoderma sp. Keywords: biological agents, chili, fusarium wilt, trichoderma Pendahuluan Kabupaten Tuban merupakan salah satu daerah sentra cabai. Berdasarkan data BPS . , total luas tanam tanaman cabai rawit di Kabupaten Tuban tahun 2022, di 20 Kecamatan mencapai 8. 980 ha, dan cabai besar 1. 028 ha, dengan produksi untuk cabai rawit 528 ton dan untuk cabai besar sebesar 6. 760,98 ton. Ada 4 . Kecamatan yang menjadi sentra yaitu Grabagan. Bancar. Merakurak, dan Soko. Kecamatan Grabagan merupakan sentra utama penghasil cabai rawit di Kabupaten Tuban dengan tingkat produksi 81,91% disusul dengan Kecamatan Bancar 8,91%. Kecamatan Merakurak 5,64%. Kecamatan Soko 2,77%. Kecamatan Montong 0,76%, dan lainnya sebesar 0,01% (BPS. Angka produksi cabai rawit (Cayenne peppe. di Kecamatan Grabagan dari tahun 2018-2021 berturut-turut sebesar 325. 514 kw. 880 kw. 338 kw. 215 kw. Adapun angka produksi cabai besar (Big Chil. ) di Kecamatan Grabagan dari tahun 20182021 berturut-turut sebesar 2504 kw. - kw. 48087 kw. 16245 kw (BPS Tuban, 2. Tingginya angka produksi cabai baik cabai rawit maupun cabai besar tersebut sebanding dengan tantangan budidaya cabai yang kian meningkat. Beberapa permasalahan yang harus dihadapi petani cabai di Kecamatan Grabagan salah satunya adalah gagal panen akibat serangan penyakit tanaman. Salah satu penyakit tanaman cabai yang sering dihadapi petani di Kecamatan Grabagan adalah penyalit layu fusarium. Menurut penelitian Musa et al. dalam Nurzannah et al. , penyakit layu karena infeksi jamur Fusarium oxysporum merupakan penyakit yang sering dijumpai di pertanaman cabai, dimana penyakit tersebut sangat signifikan menurunkan produksi cabai hingga menyebabkan gagal panen (Rostini, 2. Abdibaraya: Jurnal Pengabdian Masyarakat | 57 Abdibaraya: Jurnal Pengabdian Masyarakat Pengenalan Trichoderma sp. sebagai Solusi Pengendalian Penyakit Layu Fusarium pada Tanaman Cabai di Kecamatan Grabagan. Tuban Vol. 3 No. E-ISSN: 2964-9072 Universitas MaAoarif Nahdlatul Ulama Kebumen Cepatnya penyebaran penyakit layu cabai ini membuat petani menggunakan pestisida sintetis jenis fungisida untuk menghambat atau meredakan serangan. Namun penggunaan fungisida sintetis dapat mencemari lingkungan bahkan menurut Wasilah et al. , menyebabkan kematian manusia di dunia hingga mencapai 40% jiwa. Selain itu dapat mengancam ekosistem karena mengakibatkan matinya musuh alami serta resistensi patogen. Agens hayati dapat dimanfaatkan untuk mengurangi serangan Fusarium sp. merupakan solusi yang paling dianjurkan. Selain ramah lingkungan, biaya yang dikeluarkan juga lebih efisien. Salah satu agens hayati yang terbukti dapat menekan penyeberan jamur Fusarium adalah jamur Trichoderma sp. (Putra et al. , 2. Isolat jamur Trichoderma sp. sebagai egen antagonis yang dapat menekan berbagai penyakit tular tanah termasuk penyakit layu Selain itu, jamur ini juga diketahui dapat menghasilkan beberapa hormon pertumbuhan yaitu sitokinin dan auksin (Tronsmo, 1996 dalam Putra et al. , 2. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini memiliki tujuan utamanya yaitu mengenalkan biopestisida dari agens hayati Trichoderma sp. kepada petani cabai di Kecamatan Grabagan. Kabupaten Tuban sebagai solusi atas penyakit layu cabai akibat jamur Fusarium sp. Beberapa hal yang perlu ditekankan dalam hal ini yaitu memberikan pemahaman kepada petani akan bahayanya pestisida sintetis jika digunakan secara berkepanjangan dan mulai menerapkan konsep back to nature atau kembali ke alam karena dinilai lebih banyak memberikan kebermanfaatan bagi lingkungan dan manusia. Setelah petani memahami hal tersebut dan mengenal solusi yang aman untuk penanganan penyakit layu cabai, petani akan diberi wawasan disertai praktik langsung dalam memperbanyak dan mengembangkan Trichoderma sp. dapat digunakan dalam skala lebih luas serta dimanfaatkan dikemudian hari secara terus-menerus. Metodologi Penelitian Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat yang digagas oleh Tim Dosen Fakultas Pertanian Universitas Sunan Bonang Tuban telah dilaksanakan pada tanggal 24 Januari 2024 di Balai Penyuluhan dan Ketahanan Pangan (BPKP) Kecamatan Grabagan. Sebanyak 13 peserta petani cabai hadir mengikuti kegiatan tersebut. Kegiatan ini menawarkan beberapa solusi atas pemasalahan yang dialami oleh sebagian besar petani cabai di Kecamatan Grabagan. Tuban. Adapun deskripsi lengkap solusi tersebut diantaranya: No. Prioritas Permasalahan Solusi Permasalahan budidaya cabai oleh petani cabai Mengenalkan biopestisida dari agens hayati di Kecamatan Grabagan yaitu serangan Trichoderma sp. melalui seminar atau penyakit layu fusarium, yang disebabkan oleh sosialisasi tatap muka kepada petani-petani jamur Fusarium sp. sehingga secara signifikan cabai di Kecamatan Grabagan Tuban menurunkan produksi cabai dan mengakibatkan gagal panen Cepatnya penyebaran penyakit layu cabai ini Memberikan pemahaman kepada petani akan membuat petani menggunakan pestisida sintetis bahayanya pestisida sintetis jika digunakan jenis fungisida untuk menghambat atau secara berkepanjangan dan mulai kembali meredakan serangan. Namun penggunaan menerapkan konsep back to nature atau fungisida sintetis dapat mencemari lingkungan kembali ke alam karena dinilai lebih banyak bahkan menyebabkan kematian. Selain itu dapat memberikan kebermanfaatan bagi lingkungan mengancam ekosistem karena mengakibatkan dan manusia. Metode yang digunakan melalui Abdibaraya: Jurnal Pengabdian Masyarakat | 58 Abdibaraya: Jurnal Pengabdian Masyarakat Pengenalan Trichoderma sp. sebagai Solusi Pengendalian Penyakit Layu Fusarium pada Tanaman Cabai di Kecamatan Grabagan. Tuban Vol. 3 No. E-ISSN: 2964-9072 Universitas MaAoarif Nahdlatul Ulama Kebumen matinya musuh alami serta resistensi patogen. seminar atau sosialisasi tatap muka kepada petani-petani cabai di Kecamatan Grabagan Tuban Petani cabai masih jauh dari teknologi untuk memperbanyak dan mengembangkan Trichoderma sp. sehingga dapat digunakan dalam skala lebih luas serta dimanfaatkan dikemudian hari secara terus-menerus. Mengenalkan metode sederhana dengan praktik langsung untuk memperbanyak dan mengembangkan jamur Trichoderma sp. Teknologi yang dikenalkan yaitu dengan membuat mini laboratorium untuk petani. Selain itu, starter inokulan jamur Trichoderma didapatkan dari laboratorium Prodi Agroteknologi USB Tuban sebagai mitra Sehingga terjadi kesinambungan yang harmonis antara civitas akademika dengan masyarakat khususnya petani cabai di Grabagan. Metode pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat terbagi menjadi beberapa tahap diantaranya sebagai berikut: Tahap 1 (Persiapan Kegiatan PkM) Pelaksana kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PkM) melakukan survey baik secara langsung maupun tidak langsung ke Kecamatan Grabagan tepatnya di Balai Penyuluhan dan Ketahanan Pangan (BPKP) Grabagan. Selanjutnya panitia pelaksana PkM menggali informasi terkait petani cabai di Kecamatan tersebut dan mengundang perwakilan petani cabai untuk mengikuti kegiatan PkM. Pelaksana juga meminta izin kepada pihak BPKP Grabagan untuk dapat melaksanakan kegiatan di tempat tersebut. Tahap 2 (Sosialisasi untuk Prioritas Permasalahan No. 1 dan . Metode penyuluhan kepada petani ini dengan sosialisasi/seminar. Terdapat 2 narasumber yang akan mengisi materi pada kegiatan PkM, yaitu: - Narasumber 1 . : Pengenalan biopestisida dari agens hayati Trichoderma sp. sebagai solusi penyakit layu fusarium pada tanaman cabai (Maulidi Firlandian. - Narasumber 2 . : Bahayanya pestisida sintetis dan penerapan konsep back to nature (Suprayitn. Kegiatan sosialisasi tersebut masing-masing berdurasi 20 menit dan 10 menit waktu diskusi dengan petani. Pada akhir sesi 2, perwakilan mahasiswa akan membagikan angket kepada seluruh peserta terkait penilaian penerimaan materi presentasi. Selanjutnya setelah pengisian angket, akan ada tanya jawab terkait kesediaan peserta untuk menerapkan konsep Back to Nature. Abdibaraya: Jurnal Pengabdian Masyarakat | 59 Abdibaraya: Jurnal Pengabdian Masyarakat Pengenalan Trichoderma sp. sebagai Solusi Pengendalian Penyakit Layu Fusarium pada Tanaman Cabai di Kecamatan Grabagan. Tuban Vol. 3 No. E-ISSN: 2964-9072 Universitas MaAoarif Nahdlatul Ulama Kebumen Gambar 1 Angket yang diisi oleh seluruh peserta penyuluhan Tahap 3 (Praktik Perbanyakan Trichoderm. Trichodema sp. dapat diperbanyak pada berbagai media antara lain PDA (Potato Dextrose Aga. , media dedak, media beras, media jagung dengan cara yang mudah dengan menggunakan alat dan bahan yang sederhana. Sebelum praktik perbanyakan Trichoderma, pelaksana PkM dan mahasiswa membantu membuat enkas sederhana untuk digunakan oleh peserta PkM. Langkah perbanyakan Trichoderma sp. antara lain (DPKP Bali, 2. Siapkan beras sejumlah 1 kg. Cuci beras tersebut hingga bersih. Rendam sekitar 3 hingga 6 jam lalu cuci kembali. Kemas beras yang telah dicuci tersebut dalam plastik tahan panas ukuran kapasitas 1 kg. Masukkan beras hingga memenuhi 1/4 bagian plastik tersebut, setelah itu dilipat mengeliingi bagian kemasannya membentuk persegi panjang. Kukus beras yang telah dikemas tersebut hingga 15 menit yang dihitung setelah mendidih, lalu matikan kompor dan tiriskan. Siapkan enkas yang bagian dalam ruangnya telah disterilisasi dengan menggunakan alkohol 90%. Kedua tangan dan alat yang digunakan juga disterilisasi dengan menggunakan alkohol tersebut. Setelah ditiriskan kemudian ditunggu hingga benar-benar tidak panas lalu kemudian Abdibaraya: Jurnal Pengabdian Masyarakat | 60 Abdibaraya: Jurnal Pengabdian Masyarakat Pengenalan Trichoderma sp. sebagai Solusi Pengendalian Penyakit Layu Fusarium pada Tanaman Cabai di Kecamatan Grabagan. Tuban Vol. 3 No. E-ISSN: 2964-9072 Universitas MaAoarif Nahdlatul Ulama Kebumen masukan isolat Trichoderma sp. sekitar ukuran 1 cm yang masih menempel pada media PDA (Potato Dextrose Aga. Tutup kemasan tersebut dengan melipat mulai dari bagian ujung atas kemassan menuju kebawah dengan staples dan membuat bentuk segitiga untuk memberikan ruang untuk media beras di dalam kemasan selama pertumbuhan Trichoderma sp. Ratakan Trichoderma sp. yang masih menempel pada media PDA, agar seluruh sporanya yang berwarna hijau tercampur merata dengan seluruh bagian beras didalam kemasan. Letakkan kemasan beras yang telah tercampur Trichoderma sp. tersebut ditempat yang tidak terkena sinar matahari langsung dan kondisi yang lembab. Hindari meletakkannya disekitar area anak mapun hewan disekitarnya. Setelah 7 hingga 14 hari maka media beras dalam kemasan tersebut akan ditumbuhi oleh jamur Trichoderma sp. yang ditandai dengan warna hijau. Jika yang tumbuh pada media tersebut selain warna hijau, maka bukan jamur Trichoderma sp. yang tumbuh pada media tersebut . Media beras yang telah ditumbuhi oleh jamur tersebut dapat diperbanyak pada media pupuk kompos yang telah terfermentasi dengan mencampurkannya dengan perbandingan 1 : 100, artinya 1 kg Trichoderma sp. pada media beras dapat dicampurkan dengan 100 kg pupuk kompos, kemudian dapat diaplikasikan pada lahan dan area perakaran pada tanaman budidaya. Hasil dan Pembahasan Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat yang digagas oleh Tim Dosen Fakultas Pertanian Universitas Sunan Bonang Tuban telah dilaksanakan pada tanggal 24 Januari 2024 di Balai Penyuluhan dan Ketahanan Pangan (BPKP) Kecamatan Grabagan. Kegiatan ini diikuti oleh 13 petani Cabai dari berbagai wilayah di Kecamatan Grabagan serta beberapa penyuluh dari BPKP Grabagan. Terdapat 2 . topik sosialisasi yang telah disampaikan kepada seluruh peserta diantaranya terkait AuPengenalan Trichoderma sp. Ay oleh Sdri. Maulidi Firlandiana (Narasumber . dan AuBahayanya Pestisida SintetisAy oleh Bpk. Suprayitno (Narasumber . Sosialisasi tersebut turut mengajak seluruh peserta untuk diskusi . anya jawa. terkait permasalahan penyakit layu Fusarium pada tanaman cabai. Beberapa petani cabai aktif bertanya dan berbagi pengalaman. Diskusi yang pertama disampaikan oleh Bapak Wimbadi, seorang petani cabai asal Grabagan. Beliau menanyakan terkait aplikasi penggunaan pestisida alami dari Trichoderma yang dikombinasikan dengan pupuk NPK. Dalam hal ini Narasumber 1 menjelaskan bahwa aplikasi Trichoderma sp. dapat dikombinasikan dengan berbagai jenis pupuk termasuk pupuk NPK. Beberapa studi telah membuktikan salah satunya penelitian yang telah dilakukan oleh Yuriansyah et al. , . bahwa pemberian kombinasi Trichoderma sp. 15 gram/tanaman dan pupuk NPK 250 kg/ha memberikan bobot biji per tanaman tertinggi sebesar 30,95 Gram apabila dibandingkan dengan perlakuan pemberian Trichoderma sp. secara mandiri. Hal tersebut membuktikan bahwa pemberian pupuk NPK bersamaan dengan Trichoderma sp. tidak menghambat kinerja Trichoderma sp. Selain itu. Bapak Wimbadi juga berbagi terkait pengalamannya dalam memancing tumbuhnya jamur Trichoderma sp. dari alam. Beliau menyediakan nasi layak makan dalam suatu wadah yang diletakkan di areal perakaran tanaman bambu. Beberapa hari kemudian nasi Abdibaraya: Jurnal Pengabdian Masyarakat | 61 Abdibaraya: Jurnal Pengabdian Masyarakat Pengenalan Trichoderma sp. sebagai Solusi Pengendalian Penyakit Layu Fusarium pada Tanaman Cabai di Kecamatan Grabagan. Tuban Vol. 3 No. E-ISSN: 2964-9072 Universitas MaAoarif Nahdlatul Ulama Kebumen ditumbuhi Trichoderma sp. yang dicirikan dengan berubahkan nasi menjadi warna kehijauan (Novianti, 2. Bapak Whanhaji, salah satu petani cabai, juga turut bertukar pikiran terkait keresahannya yang ditengarai dengan mewabahnya penyakit layu Fusarium pada tanaman cabainya. Beliau menanyakan terkait formulasi pemberian jamur Trichoderma sp. dan pupuk serta penyimpanan jamur Trichoderma sp. agar awet dan tahan Narasumber 1 menjelaskan bahwa petani cabai bisa mencampurkan jamur Trichoderma dengan pupuk kompos perbandingan 1:100. Artinya apabila petani berhasil menumbuhkan Trichoderma pada media nasi seberat 1 kg, maka dapat dicampurkan dengan pupuk kompos sebanyak 100 kg. Adapun penyimpanan jamur Trichoderma sp. dapat menggunakan suhu dingin refrigerator untuk jangka waktu singkat dan freezer untuk jangka waktu lama. Pada pemaparan materi kedua terkait AuBahayanya Penggunaan Pestisida SintetisAy. Narasumber 2 mengajak seluruh petani cabai untuk mengurangi secara perlahan penggunaan pestisida sintetis. Beberapa petani juga mengeluhkan sulitnya terlepas dari hal tersebut karena dinilai lebih cepat dan praktis. Hal tersebut didukung data dari angket bahwa 10 dari 13 petani masih bergantung pada penggunaan fungisida sintetis saat layu cabai menyerang. Namun dengan adanya pemaparan terkait jamur Trichoderma sp. , petani bersedia untuk ikut secara perlahan mengurangi penggunaan pestisida sintetis dan kembali ke alam dengan pertanian organik. Penggunaan jamur Trichoderma sp. yang dinilai lebih ramah lingkungan, murah, dan mudah turut menarik perhatian beberapa petani, utamanya sebagai salah satu pilihan solusi dalam pemberantasan penyakit layu cabai. Berdasarkan data dari angket yang telah diisi oleh seluruh peserta petani cabai, didapatkan hasil bahwa 12 dari 13 petani bersedia mengaplikasikan jamur Trichoderma sp. Abdibaraya: Jurnal Pengabdian Masyarakat | 62 Abdibaraya: Jurnal Pengabdian Masyarakat Pengenalan Trichoderma sp. sebagai Solusi Pengendalian Penyakit Layu Fusarium pada Tanaman Cabai di Kecamatan Grabagan. Tuban Vol. 3 No. E-ISSN: 2964-9072 Universitas MaAoarif Nahdlatul Ulama Kebumen Gambar 2 Standart Operating Procedure (SOP) Perbanyakan Jamur Trichoderma sp. Kegiatan ini diakhiri dengan praktik secara langsung AuPerbanyakan Jamur Trichoderma sp. Ay menggunakan media sederhana yaitu nasi. Tujuan perbanyakan ini adalah agar jamur Trichoderma sp. dapat diaplikasikan pada skala yang lebih besar serta dapat dilestarikan secara terus menerus. Seluruh peserta petani dan penyuluh turut serta dalam praktik tersebut. Adapun salah satu luaran dari praktik perbanyakan Trichoderma ini berupa Standart Operating Procedure (SOP) Perbanyakan Jamur Trichoderma sp. secara sederhana (Gambar . Selanjutnya alur dalam perbanyakan jamur Trichoderma sp. Dalam gambar sebagai berikut. Abdibaraya: Jurnal Pengabdian Masyarakat | 63 Abdibaraya: Jurnal Pengabdian Masyarakat Pengenalan Trichoderma sp. sebagai Solusi Pengendalian Penyakit Layu Fusarium pada Tanaman Cabai di Kecamatan Grabagan. Tuban Vol. 3 No. E-ISSN: 2964-9072 Universitas MaAoarif Nahdlatul Ulama Kebumen Gambar 3 Memasukkan nasi yang telah dikukus dalam wadah plastik Gambar 4 Mensterilkan alat inokulasi menggunakan api dan alkohol Abdibaraya: Jurnal Pengabdian Masyarakat | 64 Abdibaraya: Jurnal Pengabdian Masyarakat Pengenalan Trichoderma sp. sebagai Solusi Pengendalian Penyakit Layu Fusarium pada Tanaman Cabai di Kecamatan Grabagan. Tuban Vol. 3 No. E-ISSN: 2964-9072 Universitas MaAoarif Nahdlatul Ulama Kebumen Gambar 5 Memasukkan inokulan jamur Trichoderma sp. ke dalam media nasi, tutup nasi dan beri udara di dalamnya C Gambar 6 Hasil Media yang telah ditanam jamur Trichoderma sp. , kemudian ditunggu selama sekitar 2 minggu pada tempat yang tidak terkena cahaya matahari C Gambar 7 Media nasi yang telah ditumbuhi jamur Trichoderma sp. Abdibaraya: Jurnal Pengabdian Masyarakat | 65 Abdibaraya: Jurnal Pengabdian Masyarakat Pengenalan Trichoderma sp. sebagai Solusi Pengendalian Penyakit Layu Fusarium pada Tanaman Cabai di Kecamatan Grabagan. Tuban Vol. 3 No. E-ISSN: 2964-9072 Universitas MaAoarif Nahdlatul Ulama Kebumen Kesimpulan Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini menghasilkan beberapa kesimpulan. Sebagian besar peserta PkM dari petani cabai Kecamatan Grabagan Tuban masih bergantung pada penggunaan fungisida sintetis saat layu fusarium pada tanaman cabai Sebagian besar peserta PkM dari petani cabai Kecamatan Grabagan Tuban memahami seminar dan bersedia untuk mengaplikasikan jamur Trichoderma sp. sebagai agens hayati pembasmi penyakit layu Fusarium. Kegiatan ini secara keseluruhan: . Mampu memberikan alternatif pemanfaatan teknologi yaitu agens hayati jamur Trichoderma sp. dimana belum banyak dikenal oleh masyarakat utamanya petani cabai di Kabupaten Tuban, . Meningkatkan kesadaran kepada petani cabai akan pentingnya bertani secara ramah lingkungan dan berkelanjutan, . Memanfaatkan bahan yang mudah dan murah untuk memperbanyak jamur Trichoderma sp. , . Membantu masyarakat khususnya petani cabai di kecamatan Grabagan Tuban dalam menyelesaikan masalah budidaya cabai yaitu serangan penyakit layu fusarium yang sulit dikendalikan. Daftar Pustaka