Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia (JAMSI) https://jamsi. jurnal-id. Vol. No. Mei 2026. Hal. DOI: https://doi. org/10. 54082/jamsi. Pendampingan Pola Asuh untuk Pencegahan Stunting pada Anak Usia 2Ae5 Tahun di Desa Doho melalui Program AuGizi Me UpAy Nazwa Salsabela*1. Shindy Kartikasari2. Moh Ikhsan Hanafi3 1 Department of Nutrition. Faculty of Public Health. Airlangga University. Indonesia 2 Department of Health Policy and Administration. Faculty of Public Health. Airlangga University. Indonesia 3Department of Medicine. Faculty of Medicine. Airlangga University. Indonesia *e-mail: nazwa. salsabela-2022@fkm. Abstrak Stunting merupakan kondisi kekurangan gizi kronis yang terjadi pada masa pertumbuhan anak dan masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat. Desa Doho. Kecamatan Dolopo. Kabupaten Madiun merupakan salah satu wilayah dengan peningkatan kasus stunting. Berdasarkan data Puskesmas Dolopo, prevalensi stunting pada tahun 2025 menunjukkan fluktuasi yang cenderung meningkat, dengan lonjakan tertinggi pada bulan Juli sebesar 11,57%, sehingga diperlukan upaya intervensi melalui kegiatan pengabdian masyarakat. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan orang tua dalam pengasuhan, pemenuhan gizi seimbang, serta penerapan pola hidup bersih dan sehat sebagai upaya pencegahan stunting pada anak usia 2Ae5 tahun. Metode yang digunakan berfokus pada kunjungan rumah . ome visi. dan edukasi gizi melalui media brosur serta buku resep, disertai observasi lingkungan dan diskusi interaktif dengan orang tua. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman ibu terkait pentingnya 1. 000 Hari Pertama Kehidupan, serta meningkatnya kesadaran dalam memperhatikan pola makan dan kebersihan lingkungan anak, meskipun praktik yang dilakukan masih bervariasi. Selain itu, kegiatan ini menghasilkan data terkait perilaku pengasuhan dan kondisi lingkungan keluarga yang dapat menjadi dasar evaluasi intervensi selanjutnya. Kegiatan pengabdian ini memberikan manfaat dalam meningkatkan pemahaman masyarakat serta mendorong perubahan perilaku ke arah yang lebih sehat, sehingga berpotensi mendukung upaya pencegahan stunting secara lebih efektif di tingkat desa. Kata kunci: Balita. Edukasi Gizi. Gizi Seimbang. Pola Asuh. Stunting Abstract Stunting is a chronic form of undernutrition that occurs during a childAos growth period and remains a significant public health problem. Doho Village. Dolopo District. Madiun Regency is one of the areas experiencing an increasing trend in stunting cases. Based on data from Dolopo Public Health Center, the prevalence of stunting in 2025 showed fluctuating but generally increasing patterns, with the highest peak in July at 11. 57%, indicating the need for intervention through community service activities. This activity aimed to improve parentsAo knowledge and skills in child-rearing practices, balanced nutrition, and the implementation of clean and healthy lifestyles as an effort to prevent stunting among children aged 2Ae5 The method focused on home visits and nutrition education using brochures and recipe books, supported by environmental observation and interactive discussions with parents. The results showed an improvement in mothersAo understanding of the importance of the first 1,000 days of life, as well as increased awareness of childrenAos dietary patterns and environmental hygiene, although practices still varied. addition, this activity generated data on caregiving behavior and household environmental conditions that can be used as a basis for further intervention evaluation. This community service activity contributes to improving public awareness and encourages positive behavioral changes, thereby supporting more effective stunting prevention efforts at the village level. Keywords: Balanced Nutrition. Nutritional Education. Parenting. Stunting. Toddlers PENDAHULUAN Stunting merupakan kondisi di mana anak balita mengalami kegagalan pertumbuhan akibat kekurangan gizi yang berlangsung dalam jangka panjang, sehingga tinggi badan anak tidak sesuai dengan usianya. Kondisi ini sejatinya telah bermula sejak janin berada dalam P-ISSN 2807-6605 | E-ISSN 2807-6567 Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia (JAMSI) https://jamsi. jurnal-id. Vol. No. Mei 2026. Hal. DOI: https://doi. org/10. 54082/jamsi. kandungan dan terus berlanjut pada periode awal setelah kelahiran, namun tanda-tandanya baru dapat teridentifikasi secara jelas ketika anak memasuki usia 2 tahun. Anak yang dikategorikan pendek maupun sangat pendek ditentukan berdasarkan perbandingan antara panjang atau tinggi badan dengan usia menggunakan standar rujukan WHO-MGRS (Multicentre Growth Reference Stud. Sementara itu. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mendefinisikan stunting sebagai kondisi anak balita yang memiliki nilai z-score di bawah -2 standar deviasi . atau bahkan di bawah -3 standar deviasi . everely stunte. (Aurima et , 2. Stunting berpotensi memperburuk kualitas kesehatan dan membentuk siklus kemiskinan, karena meningkatkan risiko kesakitan, kematian, serta penyakit tidak menular seperti hipertensi dan gangguan kardiovaskular, serta berdampak pada penurunan kemampuan kognitif dan produktivitas (Yuana et al. , 2. Pada masa anak usia 2Ae5 tahun sebagai periode krusial . olden ag. , pertumbuhan dan perkembangan sangat dipengaruhi oleh kualitas pola asuh dan kecukupan gizi dalam keluarga, di mana peran orang tua menjadi kunci dalam mendukung perkembangan fisik, sosial, dan kognitif anak (Ernawati, 2. Pola pengasuhan yang tepat dari orang tua dapat memberikan dukungan optimal pada anak untuk mencapai tumbuh kembang sesuai usianya, sebaliknya pola asuh yang kurang tepat dapat berdampak pada gangguan pertumbuhan jangka panjang. Salah satu isu penting yang dapat memicu kekhawatiran di kalangan orang tua adalah gangguan pertumbuhan akibat masalah gizi, seperti stunting yang merupakan suatu keadaan kekurangan gizi yang bersifak kronik pada masa pertumbuhan dan perkembangan sejak awal kehidupan. Stunting menyebabkan kondisi tinggi badan atau panjang badan anak tidak sesuai dengan usianya (Kemenkes RI, 2. Dalam kerangka SDGs, penanggulangan malnutrisi ditargetkan hingga 2030, termasuk penurunan stunting pada balita (Nova, 2. Data SSGI menunjukkan prevalensi stunting nasional menurun dari 21,64% . menjadi 19,8% . , dan di Jawa Timur sebesar 14,7% (Kemenkes RI, 2. Sementara itu, prevalensi di Kabupaten Madiun sebesar 5,91%, meskipun lebih rendah, tetap memerlukan perhatian terutama di wilayah Fenomena tersebut menunjukkan bahwa stunting masih menjadi isu kesehatan yang relevan di berbagai wilayah, termasuk pada tingkat komunitas lokal. Salah satu desa yang memerlukan perhatian adalah Desa Doho. Kecamatan Dolopo. Kabupaten Madiun. Berdasarkan data dari Puskesmas Dolopo, prevalensi stunting di Desa Doho selama tahun 2025 awal menunjukkan fluktuasi yang memerlukan perhatian yaitu Januari . ,84%). Februari . ,85%). Maret . ,81%). April . ,84%). Mei . ,25%), dan mengalami peningkatan yang cukup tajam di bulan Juli dengan persentase sebesar 11,57%. Lonjakan ini menunjukkan adanya faktor-faktor penyebab yang mempengaruhi tumbuh kembang anak, termasuk kualitas pola asuh orang tua. Kualitas pola asuh yang kurang baik terutama dalam pemberian makanan pada anak biasanya disebabkan oleh beberapa faktor penyebab yaitu kondisi lingkungan yang kurang baik, hingga kesulitan akses dalam kebersihan dan air bersih (Nuraeni et al. , 2. Praktik pengasuhan dalam rumah tangga merupakan upaya yang dilakukan untuk menjamin ketersediaan pangan, perawatan kesehatan, serta pemenuhan kebutuhan lain yang mendukung kelangsungan hidup, pertumbuhan, dan perkembangan anak. Dalam penelitian ini, pengasuhan dikaji melalui tiga aspek utama, yaitu praktik pemberian makan, kebersihan diri dan lingkungan, serta pemanfaatan layanan kesehatan. Pola asuh memiliki peranan penting dalam kejadian stunting pada balita, karena pemenuhan asupan makanan anak sepenuhnya bergantung pada ibu. Ibu yang menerapkan pola asuh yang baik cenderung memiliki balita dengan status gizi yang lebih optimal dibandingkan dengan ibu yang pola asuhnya kurang baik. (Tobing et al. , 2. Dampak yang ditimbulkan dari stunting terbagi menjadi dampak jangka pendek dan jangka panjang. Dampak jangka pendek yaitu dapat menghambat tumbuh kembang anak dan membuat anak mudah sakit. Sedangkan dampak jangka panjangnya dapat meningkatkan risiko anak mengalami gangguan kognitif dan anak mengidap penyakit tidak menular (Sukmawati et al. , 2. Pola asuh orang tua, baik dalam bentuk pengasuhan gizi, kebersihan, maupun stimulasi psikososial, sangat berpengaruh pada status pertumbuhan anak. Meningkatkan angka stunting P-ISSN 2807-6605 | E-ISSN 2807-6567 Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia (JAMSI) https://jamsi. jurnal-id. Vol. No. Mei 2026. Hal. DOI: https://doi. org/10. 54082/jamsi. di Desa Doho menunjukkan perlu adanya intervensi yang lebih dekat dan langsung kepada keluarga, termasuk dalam hal pengasuhan anak. Menanggapi permasalahan tersebut, peneliti merancang sebuah program AuGizi Me UpAy, yang dilaksanakan di Desa Doho sebagai bentuk inovasi dalam edukasi gizi untuk keluarga dengan memanfaatkan potensi bahan pangan lokal yang tersedia di Desa Doho. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan orang tua dalam memenuhi gizi anak secara mandiri, kreatif, dan berkelanjutan. METODE Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan di Desa Doho menggunakan pendekatan home visit . oor-to-doo. Sasaran kegiatan adalah keluarga dengan balita usia 2Ae5 tahun yang mengalami malnutrisi serta ibu hamil. Penentuan sasaran didasarkan pada data dari bidan desa dan Kepala Desa Doho yang menunjukkan terdapat 11 kasus balita stunting pada Juli 2025, serta melalui koordinasi dengan kader posyandu. Pelaksanaan kegiatan dilakukan secara bertahap, meliputi identifikasi sasaran, penjadwalan kunjungan bersama kader posyandu, serta pelaksanaan edukasi gizi oleh Tim AuGizi Me UpAy. Kegiatan inti berupa edukasi individu melalui kunjungan rumah dengan menggunakan media cetak seperti brosur dan buku resep, serta demonstrasi sederhana penyajian makanan bergizi berbasis bahan pangan lokal. Edukasi difokuskan pada pemenuhan gizi seimbang, praktik pemberian makan anak, serta kebersihan diri dan lingkungan. Selain edukasi, dilakukan penggalian informasi melalui wawancara interaktif untuk memahami pola makan, kebiasaan pengasuhan, serta kondisi lingkungan Media edukasi yang digunakan dirancang dengan bahasa yang sederhana, visual menarik, dan mengacu pada pedoman Kementerian Kesehatan, serta memanfaatkan bahan pangan lokal yang terjangkau seperti telur, ikan, ayam, dan sayuran. Evaluasi keberhasilan kegiatan dilakukan secara kualitatif melalui interaksi langsung selama proses edukasi, yang ditinjau dari tingkat pemahaman orang tua setelah diberikan penjelasan, kemampuan menjawab pertanyaan terkait materi, serta adanya komitmen orang tua dalam menerapkan pola asuh dan praktik pemberian makan yang lebih baik. Selain itu, keberhasilan kegiatan juga didukung oleh partisipasi aktif masyarakat serta keterlibatan kader posyandu sebagai penghubung antara masyarakat dengan layanan kesehatan, khususnya Puskesmas Desa Doho, guna mendukung keberlanjutan edukasi dan pemantauan status gizi anak. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil kuesioner (Gambar . , mayoritas responden memiliki tingkat pendidikan tertentu, dengan 55,6% berpendidikan terakhir SMP/SLTA/sederajat, 11,1% berpendidikan SD, 11,1% berpendidikan Diploma, dan 22,2% berpendidikan Sarjana. Secara keseluruhan, ibu yang anaknya mengalami stunting memiliki latar belakang pendidikan yang Tingkat pendidikan memang mempengaruhi pemahaman tentang gizi dan kesehatan anak, di mana pendidikan yang lebih tinggi cenderung berkorelasi dengan kesadaran yang lebih baik dalam pencegahan stunting (Wahyu Eka Shaputri and Dewanto, 2. Namun, hal ini tidak menjamin bahwa tingginya tingkat pendidikan secara otomatis menurunkan angka stunting, karena faktor lain seperti akses layanan kesehatan, pola asuh, dan kondisi ekonomi juga berperan penting. Dengan demikian, upaya penurunan stunting tidak hanya bergantung pada pendidikan, tetapi juga memerlukan pendekatan holistik yang mencakup peningkatan pelayanan kesehatan, sosialisasi gizi, dan dukungan ekonomi bagi keluarga berisiko. Berdasarkan hasil kuesioner (Gambar . , sebagian besar responden bekerja di sektor tertentu, sebanyak 77,8% bekerja sebagai ibu rumah tangga, 11,1% sebagai karyawan swasta, dan 11,1% Pekerjaan memengaruhi pendapatan dan akses terhadap makanan bergizi serta layanan kesehatan. Keluarga dengan pendapatan rendah mungkin lebih rentan terhadap P-ISSN 2807-6605 | E-ISSN 2807-6567 Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia (JAMSI) https://jamsi. jurnal-id. Vol. No. Mei 2026. Hal. DOI: https://doi. org/10. 54082/jamsi. Tabel 1. Hasil Pengetahuan Umum No. Pengetahuan Umum Apakah Anda pernah mendengar tentang pentingnya 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) ? Seberapa sering anak Anda makan makanan dengan prinsip gizi seimbang . arbohidrat, protein, sayu. Kategori Persentase 55,6% Tidak 44,4% Mungkin 33,3% Setiap Hari 2 - 4 Kali Sehari 1 Minggu Sekali Frekuensi Makanan Setiap Hari 44,4% 22,2% 66,7% 1 - 2 kali 3 kali Lebih dari 4 kali Seberapa sering anak Anda makan buah dan Sayuran? 55,6% 1 Minggu Sekali Sumber Air Minum Keluarga 11,1% Setiap Hari 2 - 4 Kali Sehari 22,2% 33,3% 11,1% Air PDAM Air Sumur Air Sungai Gambar 1. Pendidikan Terakhir Responden Gambar 2. Pekerjaan Responden P-ISSN 2807-6605 | E-ISSN 2807-6567 Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia (JAMSI) https://jamsi. jurnal-id. Vol. No. Mei 2026. Hal. DOI: https://doi. org/10. 54082/jamsi. Berdasarkan hasil kuesioner (Gambar . , terlihat bahwa sebanyak 44,4% besar responden di Desa Doho belum pernah mendengar tentang pentingnya 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yang mencakup masa kehamilan hingga anak berusia 2 tahun. Hal ini mengindikasikan rendahnya pemahaman masyarakat tentang periode kritis yang menentukan pertumbuhan fisik dan kognitif anak. Kurangnya pengetahuan ini berpotensi menyebabkan kesalahan dalam pola asuh, seperti pemberian makanan tidak seimbang, kurangnya perhatian terhadap kebutuhan gizi ibu hamil, atau ketidaktahuan tentang pentingnya ASI eksklusif dan Dampaknya, risiko stunting menjadi lebih tinggi karena keluarga tidak menyadari bahwa intervensi gizi dan kesehatan pada masa 1000 HPK adalah kunci pencegahan. Kurangnya pengetahuan responden tentang 1000 HPK menunjukkan pentingnya edukasi intensif kepada masyarakat Desa Doho, khususnya ibu hamil dan keluarga, tentang peran periode emas ini dalam mencegah stunting. Hasil pengetahuan umum (Tabel . menunjukkan bahwa kebiasaan makan anak-anak di Desa Doho belum sepenuhnya memenuhi prinsip gizi seimbang, dengan frekuensi konsumsi makanan mengandung karbohidrat relatif tinggi, sementara asupan protein . eperti ayam, ikan, dan telu. , sayuran, dan buah-buahan masih rendah. Pola makan yang didominasi karbohidrat tanpa diimbangi protein dan mikronutrien esensial berpotensi menyebabkan defisiensi gizi yang berdampak pada pertumbuhan anak. Selain itu, terlihat ketidakkonsistenan dalam frekuensi makan harian, di mana sebagian anak hanya makan 2-3 kali sehari tanpa camilan bergizi, sehingga berisiko tidak mencukupi kebutuhan kalori dan nutrisi harian. Rendahnya konsumsi sayur dan buah juga mengindikasikan kurangnya kesadaran akan pentingnya vitamin, mineral, dan serat bagi kesehatan dan perkembangan anak. Kebiasaan ini diperparah oleh kemungkinan keterbatasan ekonomi keluarga yang menghambat akses terhadap bahan pangan bernutrisi tinggi, serta kurangnya pemahaman orang tua tentang komposisi makanan ideal untuk anak. Hasil program kerja Augizi me up!Ay menunjukan bagaimana adanya hubungan yang kuat dari pola asuh keluarga terutama ibu dengan tumbuh kembang balita terutama pada usia 2-5 Program kerja ini bertujuan untuk menghindari serta mengatasi isu stunting dengan memberikan pengetahuan mengenai gizi seimbang kepada para ibu yang memiliki anak balita yang diduga mengalami masalah gizi. Semakin baik pola asuh ibu, semakin kecil kemungkinan anak mengalami stunting, sedangkan pola asuh yang buruk meningkatkan risiko stunting. Pola asuh yang baik tercermin dari perilaku ibu dalam memberi makanan bergizi, menjaga kebersihan anak dan lingkungannya, serta memanfaatkan fasilitas kesehatan untuk memenuhi kebutuhan anak (Yudianti, 2. Dari 11 balita yang teridentifikasi mengalami stunting, telah dilakukan wawancara dan pemberian edukasi di 9 rumah, sedangkan 2 rumah lainnya tidak berkenan untuk ditemui. Hasil dari pengamatan menunjukkan bahwa cara pengasuhan yang dilakukan oleh ibu sangat berpengaruh pada status gizi balita. Berdasarkan hasil wawancara kebanyakan ibu sudah menyadari pentingnya 1. 000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) sebagai masa krusial dalam perkembangan anak, meski masih ada beberapa ibu yang belum sepenuhnya mengerti konsep Ini menjadi tantangan dalam proses edukasi, karena tingkat pemahaman yang berbeda-beda dapat memengaruhi keberhasilan intervensi gizi di masing-masing rumah. Berdasarkan hasil analisis terhadap pola makan balita yang teridentifikasi stunting, sejumlah anak balita di Desa Doho sudah memperoleh gizi yang seimbang sesuai dengan anjuran dari Kementerian Kesehatan, seperti rutin mengkonsumsi sumber protein hewani yang kebanyakan dari telur, ayam, dan ikan, sayuran, serta buah-buahan. Namun, ada juga pola makan yang kurang baik, di mana anak-anak masih sering mengonsumsi makanan ringan yang tidak sehat, seperti jajanan, es krim, permen, dan susu kemasan dalam jumlah yang berlebihan. Kebiasaan ini bisa menurunkan kualitas gizi harian mereka meskipun mereka telah menerima asupan makanan yang bergizi. Pola asuh seorang ibu adalah cara ibu dalam merawat dan melindungi anaknya. Tindakan ibu meliputi memberikan air susu ibu atau makanan tambahan, mengajarkan cara makan yang sehat, menyediakan makanan bergizi, serta mengatur seberapa banyak makanan yang perlu dimakan. Selain itu, ibu juga harus menyiapkan makanan yang bersih dan mengikuti pola makan yang baik agar anak memperoleh nutrisi yang diperlukan dengan baik (Febriani Dwi P-ISSN 2807-6605 | E-ISSN 2807-6567 Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia (JAMSI) https://jamsi. jurnal-id. Vol. No. Mei 2026. Hal. DOI: https://doi. org/10. 54082/jamsi. B, 2. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan Aisah di tahun 2019, bahwa praktik higiene pribadi yang buruk dapat mengakibatkan balita lebih mudah mengalami diare. Ini mengakibatkan mereka kehilangan lebih banyak nutrisi yang diperlukan untuk perkembangan Tabel 2. Hasil Kuesioner Pola Asuh Perilaku dan Akses Layanan Kesehatan No. Pertanyaan Apakah anak mendapat ASI eksklusif selama 6 bulan pertama? Apakah ibu rutin membawa anak ke Posyandu setiap bulan? Seberapa sering balita Anda mengonsumsi makanan dengan kandungan protein . yam, ikan, telur, dl. ? Apakah anak Anda sudah mendapatkan imunisasi dasar lengkap? Apakah anak rutin meminum susu Formula dari pemerintah? Apakah anak diasuh langsung oleh ibu atau anggota keluarga yang memahami kebutuhan gizi anak? Apakah anak mendapatkan perhatian dan stimulasi . ermain, diajak bicara, dl. setiap Apakah Ibu rutin membawa anak ke Posyandu setiap bulan? Apakah Ibu membawa anak ke fasilitas kesehatan saat mengalami gejala sakit? Apakah Ibu mengetahui lokasi dan jadwal layanan Posyandu di desa? Apakah Ibu memiliki kendala dalam mengakses layanan kesehatan . ransportasi, biaya, dl. ? Apakah Ibu pernah mengalami masalah kesehatan serius saat hamil? Apakah Ibu mendapatkan layanan kunjungan pasca persalinan (KF1. KF2, dl. ? Apakah Ibu mengonsumsi tablet tambah darah secara rutin selama kehamilan? Kategori Tidak Mungkin Tidak Mungkin Setiap Hari 2 - 4 Hari Sekali 1 Minggu Sekali Tidak Mungkin Setiap Hari 2 - 4 Hari Sekali 1 Minggu Sekali Tidak Mungkin Tidak Mungkin Tidak Mungkin Tidak Mungkin Tidak Mungkin Tidak Mungkin Tidak Anemia Infeksi Hipertensi Pendarahan Lengkap Tidak lengkap Setiap Hari 1 minggu sekali 1 Bulan sekali Tidak Rutin Persentase 66,7% 22,2% 11,1% 88,9% 11,1% 55,6% 33,3% 11,1% 33,3% 66,7% 66,7% 11,1% 22,2% 88,9% 11,1% 66,7% 33,3% Selain pola makan, kondisi lingkungan rumah juga berperan dalam kejadian stunting. Dari sembilan rumah yang dikunjungi, tiga di antaranya tidak layak huni dengan kebersihan yang rendah dan ventilasi buruk, sehingga meningkatkan risiko infeksi seperti diare dan ISPA pada anak. Ditemukan pula dua kasus stunting yang disertai Tuberkulosis (TBC), yang P-ISSN 2807-6605 | E-ISSN 2807-6567 Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia (JAMSI) https://jamsi. jurnal-id. Vol. No. Mei 2026. Hal. DOI: https://doi. org/10. 54082/jamsi. memperburuk kondisi gizi anak. Hal ini menunjukkan bahwa pencegahan stunting perlu diintegrasikan dengan edukasi kebersihan lingkungan dan penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Aspek ekonomi keluarga memengaruhi variasi dan kualitas makanan, di mana keterbatasan ekonomi cenderung membatasi akses pangan bergizi. Faktor keturunan juga dapat memengaruhi ukuran tubuh anak, namun perannya lebih kecil dibandingkan pola makan, pola asuh, dan kondisi lingkungan. Berbagai upaya telah dilakukan melalui sinergi pemerintah desa dan tenaga kesehatan, seperti kegiatan posyandu, pemberian PMT, distribusi susu, dan kunjungan rumah. Namun, keberhasilan program sangat bergantung pada kesadaran dan partisipasi keluarga dalam menerapkan gizi seimbang dan menjaga kebersihan lingkungan, sehingga edukasi dan pendampingan perlu terus dilakukan secara berkelanjutan. Setelah pelaksanaan edukasi melalui pendekatan home visit, terlihat adanya peningkatan pemahaman ibu balita terhadap pentingnya pemenuhan gizi seimbang dan peran 1. 000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Hal ini ditunjukkan dari kemampuan ibu dalam menjawab pertanyaan secara lebih tepat setelah edukasi, serta meningkatnya kesadaran dalam memperhatikan pola makan anak dan kebersihan lingkungan. Selain itu, sebagian ibu menunjukkan komitmen untuk mulai memperbaiki praktik pemberian makan, seperti mengurangi konsumsi jajanan tidak sehat dan mulai mempertimbangkan variasi menu yang lebih bergizi. Perubahan tidak hanya terjadi pada aspek pengetahuan, tetapi juga mulai terlihat pada perilaku pengasuhan. Beberapa ibu mulai memahami pentingnya pemberian makanan bergizi secara rutin, serta lebih memperhatikan kebersihan lingkungan rumah. Meskipun perubahan perilaku belum sepenuhnya merata, hasil ini menunjukkan bahwa pendekatan edukasi langsung melalui home visit efektif dalam mendorong perubahan awal pada praktik pengasuhan anak. Pendekatan home visit memungkinkan interaksi yang lebih personal antara tim pelaksana dengan keluarga, sehingga materi edukasi dapat disampaikan secara lebih kontekstual sesuai kondisi masing-masing keluarga. Hal ini menjadi salah satu faktor yang mendukung peningkatan pemahaman dan keterbukaan responden selama proses edukasi Indikator ketercapaian tujuan kegiatan pengabdian ini dilihat dari respons dan interaksi langsung antara tim pelaksana dengan ibu balita selama proses edukasi berlangsung. Melalui sesi tanya jawab, terlihat bahwa sebagian besar ibu mampu memahami kembali materi yang telah disampaikan, yang ditunjukkan dengan kemampuan mereka dalam menjawab pertanyaan serta mengaitkan informasi dengan kondisi anak masing-masing. Hal ini menunjukkan bahwa metode edukasi yang digunakan dapat diterima dengan baik dan efektif dalam meningkatkan pemahaman secara langsung di tingkat individu. Selain itu, kegiatan ini memberikan dampak berupa peningkatan kesadaran ibu balita dan orang tua terhadap pentingnya penerapan pola makan seimbang serta pola asuh yang tepat. Materi edukasi yang diberikan tidak hanya dipahami secara teoritis, tetapi juga mulai dipertimbangkan untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Pemberian buku resep AuGizi Me UpAy juga diharapkan dapat mendorong kreativitas ibu dalam menyiapkan menu makanan bergizi dengan memanfaatkan bahan pangan lokal yang terjangkau, sehingga dapat mendukung perbaikan asupan gizi balita secara berkelanjutan. Pelaksanaan kegiatan dengan pendekatan home visit menjadi salah satu keunggulan utama karena memungkinkan tim untuk menggali permasalahan secara lebih mendalam melalui observasi langsung dan wawancara. Pendekatan ini menghasilkan data yang lebih beragam dan kontekstual terkait kondisi balita, pola asuh, serta lingkungan tempat tinggal. Namun demikian, terdapat keterbatasan dalam pelaksanaan kegiatan, yaitu adanya stigma di masyarakat yang menganggap kondisi stunting sebagai suatu aib. Hal ini menyebabkan beberapa ibu balita merasa kurang nyaman untuk diwawancarai secara terbuka. Selain itu, kesulitan dalam pelaksanaan kegiatan juga ditemukan pada adanya penolakan dari sebagian responden untuk dilakukan kunjungan rumah. Dari total sasaran, terdapat dua rumah yang menolak untuk dikunjungi, yang diduga berkaitan dengan persepsi negatif terhadap stunting di lingkungan Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri dalam upaya pengumpulan data dan pelaksanaan intervensi secara menyeluruh, sehingga diperlukan pendekatan komunikasi yang lebih persuasif dan sensitif terhadap kondisi sosial budaya masyarakat setempat. Selain P-ISSN 2807-6605 | E-ISSN 2807-6567 Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia (JAMSI) https://jamsi. jurnal-id. Vol. No. Mei 2026. Hal. DOI: https://doi. org/10. 54082/jamsi. peningkatan pemahaman, kegiatan ini juga memberikan nilai tambah berupa media edukasi seperti buku resep berbasis pangan lokal yang dapat digunakan secara berkelanjutan oleh Media ini diharapkan dapat membantu ibu dalam menyusun menu makanan bergizi dengan bahan yang mudah dijangkau, sehingga mendukung upaya pencegahan stunting secara praktis di tingkat rumah tangga. Gambar 3. Poster Isi Piringku usia 2-5 Tahun Gambar 4. Poster Bebas Stunting Gambar 5. Buku Saku Resep P-ISSN 2807-6605 | E-ISSN 2807-6567 Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia (JAMSI) https://jamsi. jurnal-id. Vol. No. Mei 2026. Hal. DOI: https://doi. org/10. 54082/jamsi. Gambar 6. Dokumentasi Edukasi Gizi dan wawancara . KESIMPULAN Kegiatan pengabdian masyarakat melalui program AuGizi Me UpAy menunjukkan bahwa edukasi dan pendampingan secara langsung melalui home visit mampu meningkatkan pemahaman orang tua mengenai pentingnya 1. 000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), pola asuh, serta pemenuhan gizi anak. Meskipun sebagian besar ibu telah memiliki pengetahuan dasar, praktik pemberian makan dan pengasuhan masih perlu ditingkatkan, terutama dalam pemilihan makanan bergizi dan pengendalian konsumsi jajanan anak. Hasil pengabdian ini memberikan nilai tambah berupa peningkatan kesadaran dan komitmen orang tua dalam menerapkan pola asuh yang lebih baik untuk mendukung tumbuh kembang anak secara optimal. Selain itu, kegiatan ini juga menghasilkan media edukasi berupa buku resep berbasis pangan lokal yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Meskipun kegiatan ini belum memiliki keberlanjutan program secara langsung, hasil pengabdian diharapkan dapat menjadi sumber informasi dan referensi bagi masyarakat. Dukungan kader posyandu serta kerja sama dengan Puskesmas Desa Doho diharapkan dapat memperkuat penyebaran edukasi dan mendorong keberlanjutan upaya pencegahan stunting di tingkat desa. UCAPAN TERIMA KASIH