Journal of Engineering Environtmental Energy and Sciece Vol. No. Januari 2022, pp. 1 - 14 e-ISSN : 2828-6170 Identifikasi Pemodelan 2D dan Suhu Permukaan Daerah Panas Bumi Gunung Gede-Pangrango. Jawa Barat menggunakan Metode Gravitasi Belista Gunawan*1. Aprilia Anjani2. Ariska Anjalni3 Program Studi Fisika. Fakultas Sains dan Teknologi. Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Jalan Ir. Juanda No. Cempaka Putih. Ciputat. Tangerang Selatan. Banten 15412. Indonesia e-mail: *1belista. gunawan18@mhs. id, aprilia. anjani18@mhs. anjalni19@mhs. Abstract Population growth and increasing industry, causing the need for electrical energy to increase. This can be done by utilizing geothermal energy environmentally friendly, by looking at the geographical condition of Indonesia which is traversed by the ring of fire. One area has geothermal potential is Mount Gede-Pangrango. West Java. Therefore, a study was conducted to determine the rock structure that composes the geothermal system of the area using the gravity method, and to see the surface temperature of the geothermal area using the Land Surface Temperature (LST), were the geothermal area has a temperature of 34,76 oC Ae 46,55 oC. In processing the gravity data, the value was obtained CBA was then separated using a Butterworth filter and 2D modelling using forward modelling. Interpretation qualitative shows the distribution of geothermal in areas with anomaly values high ranging from 318 mGal Ae 537,9 mGal. While the quantitative interpretation resulted in two cross-sectional 2D modelling trending SW-NE (Southwest-Northeas. and NW-SE (Northwest-Southeas. which were composed of 4 rock layers. The layers of both sections consist of alluvium as caprock with density values of 1,55 yciyc/ycayco3 and 1,5 yciyc/ycayco3 . Tuff breccia with density values of 2,73yciyc/ycayco3 and 2,55 yciyc/ycayco3 as Basaltic with a density values of 2,99 yciyc/ycayco3 and 2,84 yciyc/ycayco3 as the basement. And andesite basalt with a value density of 2,54 yciyc/ycayco3 and 2,73 yciyc/ycayco3 as the heat source. Keywords: forward Modelling. Mount Gede-Pangrango, gravity method, geothermal. Land Surface Temperature (LST) Abstrak Pertumbuhan penduduk dan industri yang meningkat, menyebabkan kebutuhan energi listrik meningkat. Hal ini dapat dilakukan dengan memanfaatkan energi panas bumi yang ramah lingkungan, dengan melihat kondisi geografis Indonesia yang dilalui oleh cincin api. Salah satu daerah yang memiliki potensi panas bumi adalah Gunung Gede-Pangrango. Jawa Barat. Oleh karena itu, sebuah penelitian dilakukan untuk menentukan struktur batuan yang menyusun sistem panas bumi daerah tersebut menggunakan gravity method, dan untuk melihat suhu permukaan area panas bumi menggunakan Suhu Permukaan Tanah (LST), adalah daerah panas bumi memiliki suhu 34,76 oC Ae 46,55 oC. Dalam mengolah data gravitasi, nilai yang diperoleh CBA kemudian dipisahkan menggunakan filter Butterworth dan pemodelan 2D menggunakan forward modelling. Interpretasi kualitatif menunjukkan distribusi panas bumi di daerah dengan nilai anomali tinggi mulai dari 318 mGal Ae 537,9 mGal. Sementara interpretasi kuantitatif menghasilkan dua pemodelan 2D cross-sectional tren SW-NE (Southwest-Northeas. dan NW-SE (Northwest-Southeas. yang terdiri dari 4 lapisan batuan. Lapisan kedua bagian terdiri dari aluvium sebagai caprock dengan nilai kepadatan 1,55 gr / c, m-3. dan 1,5 gr/c,m-3. Tuff breccia dengan nilai kepadatan 2,73gr/,cm-3. dan 2,55 gr/c,m-3. sebagai waduk. Basaltik dengan nilai kepadatan 2,99 gr / c, m-3. dan 2,84 gr/,cm-3. sebagai basement. Dan basal andesit dengan kepadatan nilai 2,54 gr / c, m-3. dan 2,73 gr/c,m-3. sebagai sumber panas. Kata kunci: Forward Modelling. Gunung Gede Pangrango, , geothermal. Land Surface Temperature (LST) Available Online at : http://ejurnal. id/index. php/JOE3S Belista Gunawan. Aprilia Anjani. Ariska Anjalni Submitted: 08/11/2021. Revised: 26/11/2021. Accepted: 14/12/2021. Published: 31/01/2022 PENDAHULUAN Keberlangsungan berbagai macam bentuk aktivitas dalam masyarakat, serta sektor industri nasional, tergantung dengan tersedianya energi listrik, yang menyebabkan kebutuhan akan energi tersebut meningkat seiring bertambahnya penduduk (Azhari et al. ,2. Fosil merupakan energi yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan sumber energi sehari hari dan sejumlah negara yang ketergantungan terhadap energi fosil mulai mengurangi penggunaannya karena meningkatnya harga minyak mentah dunia, dengan mengembangkan energi terbarukan yang berasal dari panas bumi (Azhary et al. ,2. Di bawah permukaan tanah terdapat energi yang tersimpan yaitu energi panas bumi dan sumber panas di perut bumi dianggap dapat menghasilkan energi yang berkelanjutan dan tidak akan pernah Panas bumi merupakan salah satu energi terbarukan dari berbagai jenis sumber energi yang ada yang mana diharapkan dapat berkontribusi untuk mengamankan suplai tenaga listrik di Indonesia dengan menghasilkan dampak lingkungan seminimum mungkin (Basid et al. ,2. Eksplorasi panas bumi di Indonesia dimungkinkan untuk dilakukan karena secara geografis Indonesia terletak pada posisi pertemuan tiga lempeng yang besar di dunia, diantaranya Eurasia. HindiaAustralia, dan Pasifik, yang menyebabkan tatanan tektonik Indonesia sangat kompleks (Direktorat Panas Bumi, 2. Dari tatanan tektonik ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara yang dilalui cincin api, pada umumnya kegiatan vulkanisme dan magmatisme berkaitan erat dengan keberadaan sistem panas bumi, dimana biasanya sistem panas bumi terletak pada daerah busur vulkanik pada sistem tektonik lempeng (Fandari et al. ,2. Potensial di Gunung Gede-Pangrango Sistem panas bumi terbentuk sebagai perpindahan panas dari sumber panas di sekitarnya dimana dapat terjadi secara konduksi dan konveksi (Hermawan et al. ,2. Hal ini dikarenakan energi dari sumber panas pada sistem panas bumi ditransfer melalui fluida menuju permukaan. Fluida ini di dalam lapisan reservoir panas bumi bersikulasi dengan membawa panas. Sebagian fluida akan bergerak menuju permukaan sebagai mata air panas (Hirt et al. ,2. Salah satu daerah di Indonesia yang memiliki potensi panas bumi terdapat di Gunung Gede-Pangrango. Jawa Barat, dengan manifestasi berupa mata air panas yang biasa disebut sebagai mata air Cipanas, dengan temperatur sekitar 350 oC (Jusmi, 2. Secara fisiografi masuk ke dalam fisiografi Antiklorium Bogor, dengan cekungan dan tinggian struktur geologinya mengontrol arah utara-selatan dari jenis-jenis batuan yang berumur Pra-Tersier dan Tersier, batuan tersebut membentuk tinggian dan depresi, yang merupakan dasar dari pengendapan batuan berumur Kuarter (Jusmi, 2. Karakteristik fluida panas bumi di daerah Gunung GedePangrango dapat diketahui berdasarkan karakteristik dan komposisi kimia manifestasi panas bumi yang muncul di permukaan, diduga mata air panas Cipanas berasal dari reservoir panas bumi Gunung Gede yang telah mengalami pengenceran membentuk air klorida-bikarbonar di permukaan (Jusmi, 2. Journal of Engineering Environtmental Energy and Science: January 2022 Identifikasi Pemodelan 2D dan Suhu Permukaan Daerah Panas Bumi Gambar 1 Peta Geologi Regional Lembar Bogor (Kamal et al. ,2. Untuk mengetahui suatu sistem panas bumi yang bekerja di suatu wilayah, diperlukan suatu metode geofisika. Pada penelitian ini menggunakan metode gravitasi untuk mengidentifikasi bawah permukaan bumi di Gunung Gede-Pangrango melalui nilai variasi densitas batuan. Prinsip Metode Gravitasi Pada pengolahan data geofisika menggunakan suatu metode gravitasi di bawah permukaan bumi dapat melihat variasi rapat massa suatu batuan dengan menggunakan prinsip hukum gravitasi newton, yang menjelaskan terdapat dua partikel bermassa yco1 dan yco2 memiliki gaya tarik menarik, serta berbanding lurus dengan hasil kali massa dan berbanding terbalik dengan kuadrat jarak antara pusat Yang ditunjukkan dalam persamaan: ya= yco1 . yco2 yc2 yc1 . ya adalah timbulnya gaya dari partikel yang bermassa yco1 dan yco2 , yc 2 adalah jarak antara kedua partikel, yc1 adalah satuan unit vektor, dan yu adalah konstanta gravitasi yang memiliki nilai 672 ycu 10Oe11 ycAycA2 /ycoyci2 dalam satuan internasional dan 6. 672 ycu 10Oe8 yccycycuyce ycayco2 /yci2 dalam satuan cgs (Lewerissa, 2. Koreksi Gravitasi Data yang digunakan dalam metode gravitasi, masih harus dilakukan koreksi sebelum menghasilkan suatu nilai anomali bouguer lengkap. Sehingga koreksi-koreksi gravitasi antara lain terdiri Koreksi Udara Bebas Tidak semua tempat di permukaan bumi memiliki ketinggian yang sama, sehingga diperlukan suatu koreksi yang dapat memberikan nilai keakuratan dalam identifikasi suatu batuan di bawah permukaan bumi, melalui koreksi udara bebas yang dilakukan untuk mengoreksi suatu perbedaan ketinggian sebesar h dengan mengabaikan adanya massa (Maulana, 2. Koreksi ini dapat ditunjukkan dalam persamaan: yciyceya = 0,3086 ycu Ea . Dimana yciyceya merupakan koreksi udara bebas . Ga. , dan Ea merupakan ketinggian titik amat di atas muka air laut . Gambar 2 Koreksi Udara Bebas (Maulana, 2. Copyright A 2022 Journal of Engineering Environtmental Energy and Science. January 2022 Belista Gunawan. Aprilia Anjani. Ariska Anjalni Submitted: 08/11/2021. Revised: 26/11/2021. Accepted: 14/12/2021. Published: 31/01/2022 Koreksi Medan Koreksi medan dilakukan karena pada titik pengukuran terdapat efek topografi juga perbedaan elevasi yang besar, seperti bukit dan lembah di sekitar stasiun pengukuran, sehingga dilakukan koreksi anomali bouguer sederhana, dimana topografi tersebut mempengaruhi pembacaan karena gravitasi yang bersifat konservatif dan mengurangi nilai pembacaan dari pada keadaan ideal (Peta Geologi Bersiste. Persamaan untuk koreksi medan dapat dituliskan sebagai berikut: yuyciycN . c, yuE) = yuyuUyuE {. c0 Oe ycycn ) Oo. cycn2 iyc 2 Oe Oo. c02 Oe iyc 2 ) . Dimana yuyciycN adalah koreksi medan . Ga. , yu adalah konstanta gravitasi universal, iyc adalah perbedaan elevasi kompartemen . , ycycu dan ycycn merupakan jari-jari lingkaran pada bagian luar dan dalam . , dan yuE adalah sudut yang terbentuk oleh kompartemen . (Lewerissa, 2. Koreksi Bouguer Koreksi bouguer merupakan variasi tarikan massa batuan yang ada di permukaan bumi dapat diperhitungkan dari hasil proses derivasi (Rachmawati et al. ,2. Persamaan untuk koreksi bouguer dapat dituliskan sebagai berikut: uyciyaA) = . yuUyayuUE. yu = 2yuUya = 0,4192 . yc yco2 ycAyciOe1 . ya = 6,67 ycu 10Oe8 yco3 ycAyciOe1 ycI Oe2 . Dimana yuU adalah densitas batuan, dan Ea adalah ketinggian . (Maulana, 2. Gambar 3 Koreksi Bouguer (Maulana, 2. Anomali Bouguer Sederhana Anomali gravitasi udara bebas yang dikurangi dengan hasil koreksi bouguer merupakan perhitungan dari anomali bouguer sederhana. Sehingga rumus anomali bouguer sederhana terdapat pada persamaan berikut: (Reynold, 1. yayaA = yaycOyaA Oe yayaA . Dimana yaycOyaA adalah anomali gravitasi udara bebas dan yayaA adalah koreksi bouguer. Forward Modelling Anomali bouguer yang sudah diperoleh melalui survei metode gravitasi bisa dibandingkan dengan membuat benda geologi bawah permukaan terlebih dahulu dengan cara mengkalkulasi anomali dari model yang dibuat, dimana suatu metode interpretasi yang dapat memperkirakan densitas bawah permukaan merupakan permodelan ke depan. Untuk mengurangi ambiguitas bisa didapat dengan meminimumkan selisih anomali pengamatan yang mana ini merupakan prinsip umum dari permodelan (Setyawan et al. ,2. Secara umum, forward modelling didasarkan pada persamaan sebagai berikut: ycc = ya. Dimana F adalah operator yang berkaitan dengan model, m adalah data kalkulasi model, dan d untuk data oberservasi, dimana nilai data kalkulasi dan data obersevasi dilakukan trial and error agar bentuk kurva keduanya sama. Journal of Engineering Environtmental Energy and Science: January 2022 Identifikasi Pemodelan 2D dan Suhu Permukaan Daerah Panas Bumi Pemodelan ke depan yang digunakan pada metode gravitasi ini, dengan cara membuat penampang 2D geologi bawah permukaan, terlebih dahulu, sehingga dapat mengestimasi kedalaman serta densitas batuan yang diperoleh dengan mengikuti kurva teoretis dan kurva hasil pengamatan. Land Surface Temperature Land Surface Temperature atau temperatur permukaan tanah merupakan keadaan yang dikendalikan oleh keseimbangan energi permukaan, atmosfer, sifat termal dari permukaan dan media bawah permukaan tanah (Anggoro et al. ,2. Untuk mengidentifikasi temperatur permukaan dapat menggunakan citra landsat. Dari penerapan LST ini dapat digunakan untuk melihat daerah area panas Perhitungan LST dapat dilakukan dengan persamaan sebagai berikut: ycN= ya2 ) 1 yaycOycI2 Dimana T adalah perhitungan LST (K), ya1 adalah konstanta kalibrasi radian spektral, ya2 adalah konstanta kalibrasi suhu absolut, dan yaycOycI2 adalah Radiance spektral. METODE PENELITIAN Waktu dan Lokasi Penelitian Waktu untuk penelitian ini dilakukan pada tanggal 22 Juli sampai 08 Agustus 2021, lokasi penelitian terletak antara koordinat 6A41`-6A51` Lintang Selatan dan 106A51`-107A2` Bujur Timur di wilayah Gunung Gede-Pangrango yang berada di Kabupaten Sukabumi. Bogor, dan Cianjur. Provinsi Jawa Barat. Analisis pengolahan data dilakukan di Pusat Labolatorium Terpadu. Fakultas Sains dan Teknologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Jalan Ir. Juanda No. Cempaka Putih. Ciputat. Kota Tangerang Selatan. Banten 15412. Indonesia. Gambar 4 Peta Penelitian Gunung Gede-Pangrango Alat dan Bahan Penelitian Alat yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Software Google Earth Pro. Software Surfer v. Software Oasis Montaj v. Software Global Mapper v. Software MATLAB R2013a . Software Arcgis v. Software ZondGM2D. Microsoft Excel dan Word 2016, lalu bahan yang digunakan adalah data anomali gravitasi dari GGM Satellit Gravity Dataplus 2013. Tahap Pengolahan Data Global Gravity Map (GGM) yaitu medan gravitasi bumi resolusi tinggi yang mana untuk skala lokal di daratan dan pulau-pulau yang mencakup luasan A60A lintang dan grid spasial sebesar 7. 2Ay . (Telford et al. ,1. Proses penelitian dilakukan dengan menggunakan metode gravitasi. Data sekunder yang digunakan merupakan data dari GGMplus 2013 yang digunakan pada tahap pengolahan Ekstraksi data gravitasi dilakukan menggunakan software MATLAB, yang menghasilkan ektraksi berupa nilai gravitasi, geoid, dan DEM (Digital Elevation Mode. , yang berjumlah 33100 data, serta pengolahan yang dilakukan pada Microsoft Excel, menggunakan metode parasnis dalam mencari nilai densitas rata-rata batuan, yang selanjutnya untuk mendapatkan grid batas lokal dan regional menggunakan software Global Mapper dibantu software Surfer. Koreksi data hasil ekstraksi berupa koreksi medan, koreksi terrain dan koreksi bouguer. Anomali sempurna dalam medan gravitasi bumi yaitu anomali bouguer lengkap yang didapat dari koreksi data medan gravitasi bumi beresolusi tinggi (Umam et al. ,2. Copyright A 2022 Journal of Engineering Environtmental Energy and Science. January 2022 Belista Gunawan. Aprilia Anjani. Ariska Anjalni Submitted: 08/11/2021. Revised: 26/11/2021. Accepted: 14/12/2021. Published: 31/01/2022 Berdasarkan peta CBA yang didapat antara anomali regional dan anomali residual masih bergabung, maka itu perlu untuk memisahkan kedua anomali tersebut menggunakan butterworth filter dimana pada filter ini dilakukan pemilihan titik cut off antara zona residual . dan zona regional . Setelah data spasial diubah menjadi data domain frekuensi untuk melihat kedalaman permukaan, lapisan, sumber panas dan lain-lain maka didapat kurva Radialy Average Power Spectrum (RAPS) yang didalamnya terdapat zona regional, residual dan noise, dilengkapi dengan kurva depth Peta anomali yang ada digunakan untuk membuat permodelan 2D yaitu peta anomali residual sebab merupakan bagian yang letaknya terdekat dengan permukaan. Flowchart Gambar 5 Flowchart Pelaksanaan Penelitian Journal of Engineering Environtmental Energy and Science: January 2022 Identifikasi Pemodelan 2D dan Suhu Permukaan Daerah Panas Bumi HASIL DAN PEMBAHASAN Peta Land Surface Temperature (LST) Gambar 6 Peta Land Surface Temperature (LST) Pada peta Land Surface Temperature terlihat bahwa daerah Gunung Gede-Pangrango memiliki suhu dipermukaan sekitar 34. 76 oC Ae 46. 55 oC yang ditandai dengan warna merah. Hal ini bisa di buktikan dengan melihat overlay antara peta LST dengan peta daerah penelitian, dimana suhu tersebut dikatakan sangat tinggi atau bersuhu panas karena di sekitar daerah penelitian terdapat beberapa manifestasi seperti mata air panas dan bisa melihat sebaran reservoir sebagai target panas bumi di Gunung Gede-Pangrango. Peta Complete Bouguer Anomaly (CBA) . Gambar 7 . Peta Complete Bouguer Anomaly, dan . Overlay peta CBA dengan peta daerah Dalam pengolahan data satelit gravitasi, setelah melakukan koreksi gravitasi maka akan didapatkan nilai CBA yang digambarkan melalui peta kontur (Gambar 7. Dari peta CBA diperoleh tiga pola anomali yaitu pola anomali rendah dengan rentang nilai 132. 2 mGal Ae 199. 3 mGal yang diberi tanda warna biru, pola anomali sedang dengan rentang nilai 203. 6 mGal Ae 307. 6 mGal yang diberi tanda warna hijau hingga jingga, dan pola anomali tinggi dengan rentang nilai 318 mGal Ae 537. 9 mGal yang diberi tanda warna merah. Jika peta CBA di overlay dengan peta daerah penelitian (Gambar 7. , maka Gunung GedePangrango sebagai target penelitian berada di anomali tinggi dengan nilai anomali sebesar 383. 9 mGal - 537. 9 mGal yang diberi tanda warna merah muda. Pada penelitian ini, anomali tinggi berasosiasi dengan batuan reservoir yang biasanya memiliki densitas sedang berupa campuran fluida panas antara air dan uap panas. Melalui zona rekahan yang ada disekitar gunung tersebut, terbentuk mata air panas yang terlihat pada peta yang merupakan salah satu manifestasi Istana Cipanas. Copyright A 2022 Journal of Engineering Environtmental Energy and Science. January 2022 Belista Gunawan. Aprilia Anjani. Ariska Anjalni Submitted: 08/11/2021. Revised: 26/11/2021. Accepted: 14/12/2021. Published: 31/01/2022 Peta Digital Elevation Model (DEM) Gunung Gede Gambar 8 Peta Digital Elevation Model Peta DEM merupakan peta topografi yang menggambarkan tinggi permukaan suatu daerah, hal ini tentunya berbeda dengan peta CBA yang menggambarkan sebaran anomali gravitasi. Pada penelitian kali ini, rentang nilai yang didapat melalui peta DEM terbagi menjadi tiga dataran, diantaranya. rendah dengan ketinggian 295. 2 m Ae 501. 3 m, dataran sedang dengan ketinggian 517. 4 m Ae 967. 9 m, dan dataran tinggi dengan ketinggian 1011. 3 m Ae 2008. 1 m. Gunung Gede-Pangrango jika dilihat dari Peta DEM terlihat menyatu, namun pada kenyataanya kedua gunung ini terpisah dan memiliki ketinggian yang berbeda pula, dimana Gunung Gede memiliki ketinggian lebih rendah daripada Gunung Pangrango. Estimasi Kedalaman Gambar 9 Kurva Radially Average Power Spectrum dan Estimasi Kedalaman Setelah diperoleh peta Complete Bouguer Anomaly (CBA) dan peta Digital Elevation Model (DEM), selanjutnya dapat melakukan analisa kurva Radially Average Power Spectrum (RAPS). Kurva RAPS ini terdiri dari anomali regional dan anomali residual yang harus dilakukan pemisahan anomali dengan penentuan zona cut off-nya dapat dilihat dari titik yang paling terjal pada kurva tersebut. Dari analisa RAPS ini kemudian diperoleh estimasi kedalaman sejauh 6 km pada daerah penelitian. Kedalaman tersebut mencakup seluruh daerah penelitian yang terukur dengan kurva RAPS, dan kedalaman yang diperoleh digunakan untuk memperkirakan letak batuan sistem panas bumi, yang meliputi cap rock, reservoir, dan heat source. Pemisahan Anomali Regional & Residual Journal of Engineering Environtmental Energy and Science: January 2022 Identifikasi Pemodelan 2D dan Suhu Permukaan Daerah Panas Bumi . Gambar 10 . Anomali Regional, dan . Anomali Residual Pemisahan anomali regional dan residual dilakukan menggunakan metode butterworth filter, dengan melakukan pemotongan kurva berdasarkan tingkat kecuraman, yang diperoleh melalui analisis kurva radially average spectrum, dimana metode ini sangat mudah dibuat dan tidak memerlukan banyak Adapun hasil dari pemisahan anomali ini terdiri dari anomali regional dengan nilai berkisar 8 mGal Ae 535. 6 mGal dan anomali residual dengan nilai -37. 2 mGal Ae 49. 6 mGal. Jika dilihat dari kedua peta anomali tersebut, anomali regional memiliki tekstur yang lebih halus dibandingkan dengan anomali residual yang memiliki tekstur lebih kasar. Hal ini dikarenakan anomali regional terdiri dari batuan yang jauh berada dilapisan lebih dalam sehingga persebaran anomali gravitasi terlihat sedikit heterogenitasnya dipermukaan. Sedangkan anomali residual terdiri dari batuan yang lebih dekat dengan permukaan sehingga persebaran anomali gravitasi terlihat heterogenitasnya dipermukaan karena letaknya yang dangkal. Pemodelan 2D Pada penelitian ini, peta anomali residual di slicing sepanjang lintasan tertentu dengan dua arah yang berbeda, sehingga menghasilkan dua pemodelan 2D yang dapat diinterpretasikan dengan geologi regional daerah penelitian. Pemodelan pertama dengan arah slicing barat daya ke timur laut (Gambar . , sedangkan pemodelan kedua dengan arah slicing barat laut ke tenggara (Gambar 12. Copyright A 2022 Journal of Engineering Environtmental Energy and Science. January 2022 Belista Gunawan. Aprilia Anjani. Ariska Anjalni Submitted: 08/11/2021. Revised: 26/11/2021. Accepted: 14/12/2021. Published: 31/01/2022 . Gambar 11 . Arah slicing SW-NE, dan . Pemodelan 2D bawah permukaan Gunung GedePangrango dengan slicing arah SW-NE Pemodelan 2D pertama dengan arah SW-NE (Gambar 11. menggambarkan struktur bawah permukaan Gunung Gede-Pangango terdiri dari empat lapisan. Lapisan pertama diperkirakan terdapat batuan alluvium, memiliki densitas sebesar 1,55 gr/cm3 yang diberi tanda warna abu muda. Batuan alluvium ini tersebar dari elevasi 3000 m sampai kedalaman 2700 m yang berperan sebagai cap rock untuk menahan fluida panas agar tidak sampai ke permukaan. Lapisan kedua diperkirakan terdapat batuan breksi tuff, memiliki densitas sebesar 2,73 gr/cm3 yang diberi tanda warna hijau. Batuan breksi tuff tersebar dari elevasi 1500 m sampai kedalaman 3500 m yang berperan sebagai reservoir yang berisikan fluida dan batuan terpanaskan. Lapisan ketiga diperkirakan terdapat batuan basaltis, memiliki densitas sebesar 2,99 gr/cm3 yang diberi tanda warna cokelat. Hasil pembekuan magma di bawah permukaan membentuk batuan basalt yang berada pada kedalaman 100 m Ae 6000 m. Lapisan keempat diperkirakan terdapat campuan batuan andesit-basalt, memiliki densitas sebesar 2,54 gr/cm3 yang ditandai dengan warna merah. Batuan andesit-basalt berada pada kedalaman 1800 m Ae 6000 m yang berperan sebagai heat source untuk menggambarkan adanya potensi panas bumi di sekitar Gunung Gede-Pangrango. Journal of Engineering Environtmental Energy and Science: January 2022 Identifikasi Pemodelan 2D dan Suhu Permukaan Daerah Panas Bumi . Gambar 12 . Arah slicing NW-SE, dan . Pemodelan 2D bawah permukaan Gunung GedePangrango dengan slicing arah NW-SE Pemodelan 2D kedua dengan arah NW-SE (Gambar 12. menggambarkan struktur bawah permukaan Gunung Gede-Pangango terdiri dari empat lapisan. Lapisan pertama diperkirakan terdapat batuan alluvium, memiliki densitas sebesar 1,5 gr/cm3 yang diberi tanda warna abu muda yang tersebar dari elevasi 2700 m sampai kedalaman 2300 m. Lapisan kedua diperkirakan terdapat batuan breksi tuff, memiliki densitas sebesar 2,55 gr/cm3 yang diberi tanda warna hijau yang tersebar dari elevasi 1700 m sampai kedalaman kedalaman 3250 m. Lapisan ketiga diperkirakan terdapat batuan basaltis, memiliki densitas sebesar 2,84 gr/cm3 yang diberi tanda warna cokelat pada kedalaman 15 m Ae 6000 m. Lapisan keempat diperkirakan terdapat campuan batuan andesit-basalt, memiliki densitas sebesar 2,73 gr/cm3 yang diberi tanda warna merah pada kedalaman 2200 m Ae 6000 m. Keempat lapisan tersebut memiliki peran yang sama seperti pada pemodelan pertama, dimana dari pemodelan 2D ini dapat merepresentasikan struktur bawah permukaan daerah panas bumi Gunung Gede-Pangrango, sehingga dapat diketahui seberapa besar potensi panas buminya. Gambar 13 Korelasi antar dua pemodelan Dapat dilihat bahwa dari hasil dua pemodelan yang saling bersilangan dilakukan penggabungan model 2D sepeti gambar diatas, dapat terlihat keempat lapisan tersebut saling terkorelasi dengan baik. KESIMPULAN Berdasarkan peta Land Surface Temperature, area panas bumi Gunung Gede-Pangrango memiliki suhu permukaan sekitar 34,76 oC Ae 46,55 oC, dengan manifestasi berupa mata air panas Cipanas, dari pengolahan data di interpretasikan secara kualitatif dan kuantitatif. Pada interpretasi kualitatif sebaran area panas bumi berada pada nilai anomali tinggi, mulai dari 318 mGal Ae 537,9 mGal, yang berasosiasi dengan batuan reservoir yang memiliki densitas sedang, berupa campuran fluida panas antara air dan uap panas. Sedangkan, pada interpretasi kuantitatif menghasilkan 2D pemodelan pada penampang yang berarah SW-NE dan NW-SE dengan jumlah 4 lapisan batuan. Dari kedua penampang tersebut terdiri dari batuan alluvium sebagai caprock dengan nilai densitas batuan sebesar 1,55 yciyc/ycayco3 dan 1,5 yciyc/ycayco3 . Breksi tuf dengan nilai densitas 2,73yciyc/ycayco3 dan 2,55 yciyc/ycayco3 sebagai reservoir. Basaltis dengan nilai densitas 2,99 yciyc/ycayco3 dan 2,84 yciyc/ycayco3 sebagai basement. Dan andesit basalt dengan nilai densitas 2,54 yciyc/ycayco3 dan 2,73 yciyc/ycayco3 sebagai heat source. Copyright A 2022 Journal of Engineering Environtmental Energy and Science. January 2022 Belista Gunawan. Aprilia Anjani. Ariska Anjalni Submitted: 08/11/2021. Revised: 26/11/2021. Accepted: 14/12/2021. Published: 31/01/2022 SARAN Saran yang dapat diberikan dalam penelitian ini antara lain, perlu adanya penambahan data geokimia untuk mengetahui sifat kandungan kimia dalam sumber mata air panas, lalu diperlukan survey geofisika lainnya agar dapat dilakukan integrasi data, dan perlu dilakukan pemodelan 3D, sehingga dapat memperkirakan volume reservoir panas bumi. DAFTAR PUSTAKA