AL-FATIH: Jurnal Studi Islam Vol. No. Juni, 2024 pp. xAex ISSN: 2354-8576 (Prin. ISSN:0000-0000 . http://doi. UPAYA GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM MENERAPKAN TATA CARA BERHIJAB YANG BENAR PADA SISWI KELAS XI DI SMKN 2 JIWAN Juniaris Agung Wicaksono1. Semin2. Ayu Kurniawati3 Sekolah Tinggi Agama Islam Madiun1 Sekolah Tinggi Agama Islam Madiun2 Sekolah Tinggi Agama Islam Madiun3 Email : juniarisagung@gmail. com1, semin@gmail. com2, akurniawati@gmail. Abstrak Fenomena kurangnya pemahaman siswi tentang tata cara berhijab yang benar menjadi perhatian dalam pembinaan karakter Islami di sekolah umum. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis upaya guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam menerapkan tata cara berhijab yang benar pada siswi kelas XI di SMKN 2 Jiwan. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus, melalui teknik observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru PAI menggunakan strategi keteladanan, pembiasaan, pendekatan personal, serta sanksi edukatif untuk membentuk kesadaran dan kedisiplinan siswi dalam berhijab sesuai syariat. Tantangan utama meliputi rendahnya kesadaran diri dan pengaruh lingkungan luar, namun didukung oleh kultur sekolah religius dan dukungan komunitas. Strategi yang diterapkan terbukti efektif dalam meningkatkan kualitas dan konsistensi berhijab siswi. Kata kunci: Guru PAI. Hijab. Strategi Pembinaan. Kesadaran Religius. Sekolah Kejuruan. Abstract The phenomenon of studentsAo lack of understanding regarding the proper way of wearing the hijab has become a concern in the development of Islamic character in public schools. This study aims to describe and analyze the efforts of Islamic Education (PAI) teachers in implementing correct hijab practices among 11th-grade female students at SMKN 2 Jiwan. The research employed a qualitative case study approach, utilizing observation, in-depth interviews, and documentation techniques. The findings reveal that PAI teachers applied strategies such as role modeling, habituation, personal approaches, and educational sanctions Vol. 12 No. 1 | 108 AL-FATIH: Jurnal Studi Islam to foster students' awareness and discipline in wearing the hijab in accordance with Islamic Major challenges include studentsAo low internal awareness and external social However, these efforts are supported by the schoolAos religious culture and community involvement. The implemented strategies proved effective in improving both the quality and consistency of studentsAo hijab practices. Keywords: Islamic education teacher, hijab, development strategy, religious awareness, vocational school. PENDAHULUAN Islam mengajarkan bahwa hijab atau jilbab merupakan pakaian yang dianjurkan bagi setiap perempuan Muslim yang telah baligh sebagai penutup aurat dan identitas seorang Kewajiban menutup aurat bagi wanita tercantum dalam tuntunan Al-QurAoan dan Sunnah, yang menegaskan agar kaum perempuan mengenakan busana longgar, tidak transparan, serta menutupi seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan (Thawilah, 2. Dalam konteks Indonesia, pemakaian jilbab telah menjadi bagian dari budaya berpakaian di banyak sekolah. Sekolah-sekolah umumnya mendorong siswi Muslim untuk berhijab sebagai bagian dari seragam, dengan harapan penanaman nilai-nilai religius dan etika berpakaian Islami dapat tertanam sejak dini. Hijab tidak hanya dianggap sebagai aturan berpakaian, tetapi juga cerminan akhlak dan ketaatan beragama seorang siswi. Oleh karena itu, penerapan tata cara berhijab yang benar di lingkungan sekolah memiliki peran penting dalam pembentukan karakter dan identitas keislaman peserta didik. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa tidak semua siswi sepenuhnya sadar dan paham mengenai tata cara berhijab yang benar. Seiring dengan perkembangan zaman, pergaulan remaja masa kini dan paparan media sosial yang kurang terkontrol turut memengaruhi sikap siswi terhadap hijab. Banyak remaja perempuan mengenakan jilbab sekadar sebagai bagian dari seragam sekolah atau tren fesyen, tanpa memahami esensi menutup aurat sesuai syariat. Globalisasi dan arus media populer turut membawa tantangan berupa munculnya model-model hijab modern yang kadang kurang sesuai aturan syarAoi, serta gaya hidup yang mengedepankan kebebasan berekspresi dalam berpakaian (Cahyati, 2. Akibatnya, sebagian siswi menganggap bahwa dengan memakai jilbab secara seadanya mereka telah memenuhi kewajiban, padahal mungkin masih ada bagian aurat yang terlihat atau cara pemakaian yang tidak rapi dan sopan. Pengaruh lingkungan dan kurangnya kesadaran internal menjadi faktor kendala yang menyebabkan beberapa siswi belum disiplin dalam berhijab. Penelitian Nur Lailatulqadri . , misalnya, menemukan bahwa meskipun mayoritas siswa Vol. 12 No. 1 | 109 AL-FATIH: Jurnal Studi Islam telah mematuhi tata tertib berpakaian di sekolah, masih ada sebagian kecil siswi yang Pelanggaran ini disebabkan antara lain oleh kurangnya perhatian dan kesadaran siswi dalam menaati etika berpakaian, ditambah pengawasan orang tua yang kurang serta pengaruh lingkungan pergaulan. Temuan tersebut mencerminkan kondisi yang dapat terjadi di berbagai sekolah, termasuk SMKN 2 Jiwan, bahwa sekadar adanya peraturan berjilbab tidak otomatis menjamin semua siswi memahami dan menerapkannya dengan benar . Pendidikan di sekolah memiliki peranan strategis untuk menjembatani kesenjangan antara pengetahuan dan praktik berbusana Islami. Para ahli pendidikan sepakat bahwa tugas guru bukan hanya mentransfer ilmu akademik, melainkan juga mendidik dan membina akhlak peserta didik (Tafsir, 2. Menurut Oemar Hamalik . , peran guru mencakup berbagai aspek: sebagai pengajar, pendidik, pembimbing, teladan, motivator, hingga penilai. Dalam konteks Pendidikan Agama Islam (PAI), peran guru bahkan lebih kompleks karena guru PAI dituntut menguasai multi-disiplin ilmu serta bertanggung jawab membentuk perilaku dan kepribadian siswa sesuai ajaran Islam. Saekan Muchith . menegaskan bahwa guru PAI memiliki lingkup tanggung jawab lebih luas dibanding guru mata pelajaran umum. ia tidak hanya menyampaikan materi keagamaan di kelas, tetapi juga bertugas menanamkan disiplin, akhlak, dan etika peserta didik baik di sekolah maupun di luar sekolah. Pembinaan etika berbusana Islami Ae dalam hal ini tata cara berhijab Ae merupakan salah satu tugas penting guru PAI yang harus dilaksanakan secara berkesinambungan (Mujiburrahman, 2. Artinya, guru PAI berperan memastikan bahwa nilai-nilai tentang menutup aurat tidak sekadar diketahui siswa, tetapi diinternalisasi menjadi kebiasaan sehari-hari. Di SMKN 2 Jiwan, yang merupakan sekolah menengah kejuruan negeri di Kabupaten Madiun, upaya penanaman budaya berhijab yang benar menjadi bagian dari pembinaan karakter religius siswa. Latar belakang perlunya program ini dapat dilihat dari kondisi sekolah yang heterogen dengan beragam latar belakang siswa. Sebagai sekolah umum . on-pesantre. , siswi di SMKN 2 Jiwan mungkin memiliki tingkat pemahaman agama yang berbeda-beda. Berdasarkan observasi pendahuluan , sebagian besar siswi kelas XI yang beragama Islam memang mengenakan hijab selama di sekolah. Hal ini sejalan dengan peraturan sekolah yang menganjurkan busana muslimah bagi siswi Muslim. Meski demikian, ditemukan beberapa siswi yang belum sepenuhnya menerapkan tata cara berjilbab sesuai tuntunan. Misalnya, terdapat siswi yang memakai kerudung terlalu pendek sehingga tidak menutup dada, atau menggunakan bahan yang tipis, serta ada pula yang kerap memperlihatkan bagian poni/rambut di kening. Beberapa siswi melepas jilbab di luar jam pelajaran PAI atau hanya memakainya Vol. 12 No. 1 | 110 AL-FATIH: Jurnal Studi Islam ketika ada acara formal keagamaan. Fenomena ini menunjukkan adanya kesenjangan antara pemahaman dan pelaksanaan: siswi mengetahui kewajiban berjilbab, tetapi belum semua melakukannya dengan disiplin dan cara yang benar. Kondisi tersebut menjadi permasalahan yang perlu dicermati, karena jika dibiarkan dapat menghambat tercapainya tujuan pendidikan karakter Islami di sekolah. Guru PAI selaku ujung tombak pendidikan agama di sekolah menghadapi tantangan untuk meningkatkan kesadaran dan disiplin siswi dalam berhijab, agar tidak semata-mata Auberjilbab karena aturanAy, melainkan tumbuh dari kesadaran akan kewajiban agama dan rasa malu apabila aurat tidak tertutup. Berbagai penelitian terdahulu telah mengkaji peran guru PAI dalam mendorong siswi berjilbab dan membina etika berpakaian Islami di sekolah. Temuan-temuan ini memberikan landasan teoretis sekaligus pembanding bagi penelitian yang akan dilakukan di SMKN 2 Jiwan. Misalnya. Taufik . dalam studinya di SMK Negeri 1 Ponorogo mengungkap bahwa latar belakang diberlakukannya aturan berjilbab di sekolah tersebut adalah rendahnya kesadaran berbusana muslimah di kalangan siswi. Guru PAI lalu melakukan serangkaian strategi untuk menumbuhkan kesadaran tersebut, antara lain: uswatun hasanah atau memberi teladan yang baik dalam berpakaian, pembiasaan . embudayakan pemakaian jilbab setiap har. , pendekatan individual dan kelompok . embimbing siswi secara personal maupun melalui kelompok keagamaa. , serta penerapan sanksi bagi pelanggaran, terutama saat pembelajaran PAI. Hasilnya, strategi-strategi tersebut berhasil meningkatkan kesadaran siswi akan pentingnya berjilbab dan menjadikan mereka lebih terbiasa memakai jilbab baik saat pelajaran PAI maupun di luar jam pelajaran. Penelitian lain oleh Nur Aisyah . di Sumatera Utara juga menunjukkan hal senada: guru PAI berperan besar membina etika berpakaian Islami melalui metode ceramah keagamaan di kelas, pembiasaan sehari-hari, pemberian contoh nyata dalam berbusana, dan teguran atau sanksi bagi siswa yang melanggar. Penerapan metode tersebut berkontribusi pada meningkatnya kesadaran siswa untuk berpakaian sesuai syariat dan aturan Selanjutnya. Fitri . dalam penelitiannya di Sulawesi Barat menegaskan bahwa guru PAI juga berperan sebagai pendakwah yang secara aktif menyampaikan pentingnya menutup aurat kepada seluruh siswa. Guru tidak henti-hentinya memberikan pemahaman religius bahwa berhijab merupakan kewajiban dan bentuk ketaatan, sehingga tumbuh motivasi intrinsik pada diri siswi untuk berjilbab. Sementara itu. Mujiburrahman . melaporkan upaya kolaboratif guru PAI di SMAN Kota Sabang (Ace. dalam membina etika berpakaian Islami. Di wilayah yang kuat nilai syariatnya tersebut, guru PAI bekerja sama dengan berbagai elemen . eperti organisasi keagamaan loka. menyelenggarakan kegiatan ekstrakurikuler Vol. 12 No. 1 | 111 AL-FATIH: Jurnal Studi Islam Rohani Islam (Rohi. , ceramah rutin, pengajian, dan pesantren kilat . Program-program itu ditujukan untuk memperdalam pemahaman siswa tentang ajaran Islam termasuk kewajiban berjilbab, dan hasilnya cukup efektif menumbuhkan budaya berpakaian islami di kalangan Hasil-hasil penelitian di atas memperlihatkan bahwa peran dan strategi guru PAI sangat menentukan dalam mendorong siswi memakai hijab secara konsisten dan sesuai tuntunan. Melalui keteladanan, motivasi, pembiasaan, dan penegakan aturan, guru PAI dapat meningkatkan disiplin berbusana muslimah di sekolah. Kendati demikian, setiap sekolah memiliki karakteristik dan tantangan tersendiri. Gap analysis dari studi-studi sebelumnya menunjukkan bahwa kebanyakan penelitian fokus pada aspek menumbuhkan kesadaran untuk mulai berjilbab atau pembinaan etika berpakaian secara umum. Belum banyak kajian yang secara spesifik mendokumentasikan proses penerapan tata cara berhijab yang benar dalam keseharian sekolah dan bagaimana guru memastikan standar hijab syarAoi dipatuhi oleh siswi secara detail. Dengan kata lain, ada kesenjangan pengetahuan mengenai langkah-langkah operasional yang dilakukan guru PAI di tingkat sekolah menengah kejuruan untuk membudayakan cara berhijab yang sesuai aturan agama sekaligus aturan sekolah. Selain itu, konteks sekolah kejuruan seperti SMKN 2 Jiwan Ae yang siswinya mungkin lebih beragam minat dan latar belakangnya dibanding sekolah agama Ae belum banyak diteliti dalam hal pembiasaan Penelitian terdahulu di Ponorogo. Sumut. Aceh, maupun Lombok memberikan gambaran strategi umum, tetapi belum menjawab pertanyaan: bagaimana upaya guru PAI di sekolah vokasi umum menerapkan tata cara berhijab yang benar di kalangan siswi remaja saat ini? Hal ini menjadi celah penelitian yang perlu diisi oleh studi sekarang. Terlebih, seiring perkembangan zaman dan maraknya pengaruh media digital terhadap gaya busana muslimah remaja, diperlukan pembaruan dalam pendekatan pendidik untuk memastikan pesan moral tentang hijab tersampaikan efektif. Kebaruan . tate of the ar. dari penelitian ini terletak pada fokus dan konteksnya. Berbeda dari riset sebelumnya yang kebanyakan dilakukan di sekolah umum atau madrasah dalam kerangka meningkatkan kesadaran berjilbab, penelitian ini secara spesifik akan mengeksplorasi upaya guru PAI dalam menerapkan tata cara berhijab yang benar di lingkungan SMK. Konteks SMKN 2 Jiwan sebagai sekolah kejuruan negeri memberikan dimensi baru, di mana budaya sekolah dan profil siswinya mungkin berbeda dengan sekolah berbasis agama. Pendekatan kualitatif yang digunakan dalam studi ini juga diharapkan dapat menggali lebih dalam dinamika, tantangan, dan inovasi yang dilakukan guru PAI setempat dalam membudayakan Vol. 12 No. 1 | 112 AL-FATIH: Jurnal Studi Islam hijab sesuai syariat. Secara praktis, hasil penelitian ini nantinya akan menawarkan pandangan terbaru tentang strategi efektif pendidik di era modern untuk membina akhlak berbusana Islami. Secara teoretis, temuan ini memperkaya khazanah keilmuan pendidikan Islam, khususnya terkait integrasi antara pengajaran agama di kelas dengan pembinaan budaya religius di sekolah. Harapannya, penelitian ini menjadi rujukan mutakhir . tate of the ar. mengenai model pembinaan hijab di sekolah umum, yang dapat dibandingkan dengan atau melengkapi hasilhasil studi terdahulu. Berdasarkan latar belakang, telaah teoretis, dan identifikasi gap di atas, perumusan masalah dalam penelitian ini mengerucut pada satu pertanyaan utama: bagaimana upaya yang dilakukan guru Pendidikan Agama Islam dalam menerapkan tata cara berhijab yang benar pada siswi kelas XI di SMKN 2 Jiwan? Pertanyaan inilah yang akan dijawab melalui pengumpulan data kualitatif di lapangan dan analisis mendalam. Adapun tujuan penelitian ini sejalan dengan rumusan masalah tersebut. Secara spesifik, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis upaya-upaya yang dilakukan oleh guru PAI dalam menerapkan tata cara berhijab yang sesuai dengan tuntunan Islam pada siswi kelas XI di SMKN 2 Jiwan . Melalui tujuan ini, peneliti hendak mengungkap bentuk-bentuk strategi pendidikan . eperti pemberian teladan, motivasi, aturan, dan lain-lai. , pelaksanaan program atau kegiatan penunjang, serta faktor pendukung dan penghambat yang dihadapi guru PAI dalam membina siswi agar berbusana muslimah dengan benar. Dengan tercapainya tujuan tersebut, diharapkan dapat diperoleh pemahaman utuh mengenai efektivitas peran guru PAI dalam konteks pembiasaan hijab di sekolah, yang sekaligus dapat menjadi masukan bagi peningkatan kualitas pendidikan karakter Islami di masa mendatang. METODE PENELITIAN Penelitian ini dirancang dengan spesifikasi penelitian kualitatif deskriptif studi kasus yang bertujuan mendalami upaya guru Pendidikan Agama Islam dalam menerapkan tata cara berhijab yang benar pada siswi kelas XI SMKN 2 Jiwan. Jenis penelitian kualitatif ini dipilih karena memungkinkan peneliti menangkap makna subjektif dan dinamika interaksi antara guru dan siswi dalam konteks nyata sekolah (Creswell, 2. Pendekatan studi kasus diambil untuk memperoleh pemahaman mendalam terhadap praktik bimbingan berhijab di satu lembaga pendidikan vokasi, sehingga setiap detail kebijakan, strategi, dan persepsi pelaku pendidikan dapat terungkap secara utuh (Denzin & Lincoln, 2. Teknik pengumpulan data utama yang digunakan meliputi wawancara mendalam dengan guru PAI dan beberapa siswi terpilih, observasi partisipatif saat kegiatan pembelajaran dan Vol. 12 No. 1 | 113 AL-FATIH: Jurnal Studi Islam pembinaan hijab di sekolah, serta studi dokumentasi berupa catatan pelaksanaan program, foto kegiatan, dan aturan sekolah terkait busana muslimah (Moleong, 2. Wawancara bersifat semi-terstruktur untuk memberi ruang terbuka bagi narasi pengalaman dan pandangan guru maupun siswi tentang tata cara berhijab. Observasi partisipatif memberikan peluang bagi peneliti merasakan langsung situasi kelas dan interaksi informal di luar jam pelajaran PAI. Dokumentasi memperkaya data dengan bukti tertulis dan visual sehingga memungkinkan triangulasi sumber data. Data yang terkumpul kemudian dianalisis menggunakan model analisis tematik menurut Miles. Huberman, dan Saldaya . , yang terdiri atas reduksi data melalui pemilahan dan penyederhanaan informasi, penyajian data dalam bentuk narasi dan matriks tematik, serta penarikan kesimpulan dan verifikasi. Proses coding dilakukan secara terbuka, aksial, dan selektif untuk membangun tema utama mengenai strategi pembelajaran, tantangan pelaksanaan, dan faktor pendukung. Validitas data dijaga melalui triangulasi teknik, triangulasi sumber, dan pengecekan anggota . ember checkin. guna memastikan keakuratan interpretasi dan kepercayaan temuan penelitian (Denzin & Lincoln, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil observasi di SMKN 2 Jiwan menunjukkan bahwa sebagian besar siswi kelas XI yang beragama Islam telah mengenakan hijab . selama berada di lingkungan sekolah. Hal ini sejalan dengan norma kultural masyarakat sekitar yang mayoritas muslim, di mana mengenakan jilbab dianggap bagian dari etika berpakaian yang sopan. Pada jam pelajaran umum, siswi tampak memakai seragam lengan panjang dengan kerudung berwarna sesuai ketentuan sekolah. Meski demikian, realitas di lapangan mengungkap bahwa cara berhijab mereka belum sepenuhnya memenuhi kaidah tata cara berhijab yang benar sesuai syariat Islam. Beberapa siswi masih mengenakan jilbab secara kurang rapi atau terlalu pendek sehingga bagian leher dan dada terlihat. selain itu ada yang memadukan jilbab dengan pakaian seragam ketat, sehingga siluet tubuh masih tampak jelas. Temuan ini mengindikasikan bahwa pemahaman dan kesadaran siswi tentang hijab syar'i belum seragam. Selain variasi cara pemakaian, konsistensi berhijab di luar kelas PAI maupun di luar sekolah juga beragam. Dari wawancara dengan guru dan siswi, terungkap bahwa ada siswi yang hanya disiplin memakai jilbab saat jam pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) atau ketika di sekolah, namun melepaskannya sepulang sekolah. Beberapa siswi mengaku bahwa di lingkungan keluarga mereka tidak ada paksaan berjilbab, sehingga mereka merasa bebas untuk tidak mengenakannya di luar sekolah. Fenomena ini menunjukkan bahwa motivasi berhijab sebagian siswi masih Vol. 12 No. 1 | 114 AL-FATIH: Jurnal Studi Islam bersifat ekstrinsik . arena aturan sekolah/gur. dan belum sepenuhnya tumbuh dari kesadaran Realitas semacam ini juga dilaporkan oleh penelitian sebelumnya di sekolah umum lain, di mana sebagian kecil siswa-siswi masih belum menaati tata tertib berpakaian Islami karena kesadaran internal yang kurang dan pengaruh lingkungan keluarga yang tidak menekankan pemakaian hijab Perlu dicatat bahwa sebagai sekolah negeri di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. SMKN 2 Jiwan tidak memiliki regulasi wajib berjilbab bagi siswi muslim seperti halnya madrasah atau sekolah di bawah Kementerian Agama (Taufik, 2017, hlm. Pihak sekolah tidak memberlakukan sanksi formal bagi siswi yang tidak berjilbab, terutama menghormati siswi non-muslim agar tidak terjadi intoleransi. Kebijakan ini konsisten dengan peraturan nasional yang melarang pemaksaan atribut keagamaan tertentu di sekolah negeri (Sinaga & Firdaus, 2. Namun demikian, budaya sekolah dan visi pendidik mendorong siswi muslim untuk menutup aurat sebagai bagian dari pembinaan akhlak. Guru PAI di SMKN 2 Jiwan mengungkapkan bahwa jilbab dipandang sebagai identitas muslimah sekaligus cerminan akhlak. karenanya diharapkan para siswi membudayakan berjilbab meski tanpa paksaan aturan formal. Harapan ini senada dengan pernyataan Aupemakaian jilbab di sekolah sebaiknya tidak berdasarkan paksaan, tetapi kesadaran siswaAy (Sinaga & Firdaus, 2. , di mana guru boleh mengedukasi pentingnya jilbab namun tidak memaksakan. Realitas di SMKN 2 Jiwan memperlihatkan tantangan tersendiri bagi guru PAI dalam menumbuhkan kesadaran tersebut, mengingat tidak semua siswi memiliki latar belakang dan pemahaman agama yang kuat sejak awal. Hal inilah yang melatarbelakangi dilaksanakannya berbagai upaya strategis oleh guru PAI untuk menerapkan tata cara berhijab yang benar pada siswi kelas XI. Strategi Guru PAI dalam Menerapkan Tata Cara Berhijab yang Benar Berdasarkan data lapangan . awancara, observasi, dan dokumentas. , guru PAI di SMKN 2 Jiwan telah mengimplementasikan berbagai strategi pembinaan untuk menanamkan tata cara berhijab yang benar kepada siswi. Strategi-strategi ini meliputi pendekatan keteladanan, pembiasaan melalui kegiatan rutin, bimbingan personal, pemberian sanksi edukatif, hingga langkah antisipatif bersama pihak sekolah. Berikut adalah uraian mendalam mengenai strategi tersebut: 1. Strategi Keteladanan (Uswatun Hasana. Ae Guru PAI beserta para guru muslimah di SMKN 2 Jiwan berperan sebagai role model dalam hal berpakaian Islami. Sebelum menuntut siswi untuk berjilbab sesuai syariat, para guru perempuan terlebih dahulu memastikan diri mereka konsisten memakai hijab yang benar dalam keseharian di Informasi dari wawancara menunjukkan bahwa seluruh ibu guru di sekolah ini telah Vol. 12 No. 1 | 115 AL-FATIH: Jurnal Studi Islam mengenakan jilbab secara syar'i 100% selama di sekolah, sebagai wujud komitmen teladan. Guru PAI meyakini bahwa contoh nyata lebih efektif daripada sekadar teori. ketika siswa melihat figur pendidik yang dihormatinya berbusana muslimah secara konsisten, mereka akan lebih terdorong untuk meniru. Salah satu guru menyatakan dengan bijak. AuSeandainya ibu gurunya saja tidak memakai jilbab, maka tidak mungkin anak-anak mau pakai jilbabAy Pernyataan ini menegaskan pentingnya keteladanan: guru terlebih dahulu disiplin menutup aurat, sehingga siswi merasa malu jika tidak mengikuti. Strategi uswatun hasanah tidak hanya diwujudkan oleh guru secara individu, tetapi juga melalui penciptaan figur teladan di antara siswa sendiri. Guru PAI bersama sekolah membina organisasi Rohani Islam (Rohi. yang melibatkan para siswi berjilbab aktif sebagai kader muslimah teladan. Setiap kelas memiliki perwakilan anggota Rohis yang berfungsi menjadi panutan bagi teman-temannya dalam berperilaku Islami, termasuk cara berhijab. Dengan demikian, budaya berjilbab yang benar didorong secara horizontal . ntar sisw. selain secara vertikal . uru ke sisw. Temuan ini konsisten dengan literatur yang menekankan peran guru PAI sebagai pendidik sekaligus pembimbing yang harus memberi teladan langsung dalam penanaman nilai akhlak berpakaian Penelitian Aisyah . , misalnya, juga menunjukkan bahwa keteladanan guru dan pembiasaan rutin berperan besar dalam membina etika berpakaian Islami siswa. Demikian pula. Fitri . menegaskan guru PAI berperan laksana pendakwah yang mengingatkan pentingnya menutup aurat dan menjadi contoh nyata bagi peserta didik dalam berbusana sehari-hari. Strategi Pembiasaan melalui Kegiatan Rutin Upaya pembinaan berikutnya adalah menciptakan kebiasaan . abit formatio. berjilbab di lingkungan sekolah. Guru PAI bekerja sama dengan sekolah menerapkan aturan tidak tertulis bahwa setiap siswi muslim wajib memakai jilbab pada momen-momen kegiatan religius dan pelajaran PAI. Contohnya, saat pelajaran PAI berlangsung di kelas, seluruh siswi harus Kalaupun pada hari itu seragam yang dipakai siswi . isalnya kelas olahrag. berlengan pendek atau rok di bawah lutut, guru PAI tetap meminta siswi mengenakan jilbab selama jam pelajaran PAI. Tujuannya adalah menanamkan rasa terbiasa menutup aurat ketika mempelajari agama. Selain itu, sekolah mengagendakan kegiatan keagamaan rutin seperti shalat Dhuha berjamaah, tadarus Al-Qur'an, atau peringatan hari besar Islam, di mana siswi diwajibkan mengenakan busana muslimah lengkap . ermasuk jilba. Melalui pembiasaan struktural ini, siswi secara perlahan dilatih untuk merasa AuanehAy jika tidak berjilbab dalam suasana keagamaan. Observasi menunjukkan bahwa seiring waktu, siswi yang awalnya enggan atau lupa berjilbab mulai Vol. 12 No. 1 | 116 AL-FATIH: Jurnal Studi Islam terinternalisasi kebiasaannya. bahkan di luar jam PAI pun banyak yang tetap memakai jilbab karena sudah merasa nyaman. Guru PAI mengungkapkan harapannya: dengan rutin diwajibkan berjilbab saat pelajaran PAI, lama-kelamaan siswi yang tadinya berseragam pendek akan beralih ke seragam panjang dan terus memakai jilbab dengan kesadaran sendiri. Hal ini sesuai prinsip pendidikan bahwa latihan berulang dapat membentuk sikap dan karakter . embiasaan akan membentuk sikap ana. Hasil penelitian Taufik . di SMK Negeri 1 Ponorogo pun sejalan, bahwa pembiasaan seperti mewajibkan jilbab saat pelajaran agama efektif meningkatkan kesadaran berjilbab para siswi. Strategi pembiasaan ini didukung pula oleh temuan Nur Aisyah . yang mencatat bahwa ceramah agama rutin dan pembiasaan praktik berbusana muslim di sekolah mampu menumbuhkan kesadaran siswa dalam berpakaian sesuai syariat. Pendekatan Personal dan Kelompok (Bimbingan dan Motivas. Ae Di luar pendekatan struktural, guru PAI di SMKN 2 Jiwan juga gencar melakukan pendekatan interpersonAL kepada siswi, terutama yang masih belum konsisten berjilbab atau cara berjilabnya kurang tepat. Berdasarkan catatan harian guru dan wawancara, guru PAI sering mengamati penampilan siswi bahkan di luar kelas PAI. Bila terlihat ada siswi muslim yang tidak memakai jilbab di lingkungan sekolah . isalnya saat jam istirahat atau di kanti. , guru tak segan mendekati dan menegur secara halus. Teguran ini bukan dalam nada marah, melainkan bersifat persuasif. Salah satu contoh nyata, sebagaimana diceritakan guru: AuKemarin ada siswi, kebetulan anak tim futsal, ketika saya keluar kantor saya lihat dia tidak pakai jilbab. Saat itu juga saya panggil dan saya katakan. AoKamu akan terlihat lebih cantik kalau pakai jilbab. Ibu bisa belikan jilbab kalau kamu mau. Ao Itu salah satu cara saya memotivasi agar dia mau berjilbabAy (Wawancara Guru PAI). Pendekatan personal semacam ini terbukti efektif. siswi tersebut awalnya malu namun merasa diperhatikan, dan beberapa hari kemudian melapor bahwa ia sudah mulai memakai jilbab setiap hari Meskipun masih ada kasus seperti seorang siswi . nisial F) yang kadang masih lepas-pakai hijab, guru terus melakukan pembinaan individual layaknya orang tua menasihati anaknya Pendekatan personal ini menciptakan kedekatan emosional sehingga siswi merasa termotivasi tanpa merasa dipaksa. Selain individu, guru juga memberikan pendekatan kelompok melalui pengarahan di kelas atau saat pembinaan OSIS/Rohis. Misalnya, di setiap kelas XI, guru PAI menyelipkan nasihat tentang adab berpakaian muslimah dalam forum kelas atau saat ada kesempatan memberikan kultum . uliah tujuh meni. di pagi hari. Intinya, pendekatan komunikatif yang intensif baik secara personal maupun kelompok dilakukan untuk menyentuh kesadaran siswi. Strategi ini menempatkan guru PAI tidak hanya sebagai pengajar Vol. 12 No. 1 | 117 AL-FATIH: Jurnal Studi Islam materi, tetapi juga sebagai konselor dan motivator bagi siswa Ae peran yang memang diemban guru agama menurut literatur kependidikan Yongki Syaputra . menyebut guru PAI berperan sebagai motivator, inspirator, pembimbing sekaligus pengawas dalam membentuk perilaku Islami siswa Temuan di SMKN 2 Jiwan mengafirmasi hal tersebut: guru PAI dengan pendekatan kekeluargaan mampu membangkitkan motivasi intrinsik siswi untuk berbusana sesuai ajaran. Pemberian Sanksi dan Penguatan Disiplin Ae Meskipun pendekatan persuasif dikedepankan, pada kondisi tertentu guru PAI menerapkan strategi hukuman . sebagai upaya penguatan Sanksi di sini bersifat edukatif dan hanya diberlakukan dalam konteks pembelajaran PAI atau kegiatan keagamaan formal di sekolah. Contohnya, jika ada siswi muslim yang tetap membandel tidak memakai jilbab saat pelajaran PAI meskipun sudah diingatkan berkali-kali, guru akan memberikan teguran tegas di depan kelas atau mencatat namanya untuk diberikan pembinaan khusus. Dari dokumentasi kelas, pernah terjadi pada awal tahun ajaran: seorang siswi kelas X enggan berjilbab di kelas PAI sehingga guru PAI Aumenaikkan intonasi suaraAy menegur siswi tersebut. Siswi itu sempat merasa malu di hadapan teman-temannya, lalu pada pertemuan berikutnya ia datang dengan berjilbab. Guru PAI mengakui bahwa kadang ketegasan diperlukan agar siswi memahami pentingnya aturan. Strategi sanksi ini sejalan dengan teori pendidikan oleh Tafsir . yang menyebutkan bahwa tugas guru dalam mendidik mencakup memberi dorongan/penghargaan serta hukuman yang mendidik apabila siswa melanggar Penting digarisbawahi bahwa sanksi di SMKN 2 Jiwan tidak berupa hukuman fisik atau administratif berat, melainkan efek jera moral seperti teguran, nasihat di depan wali kelas, atau penugasan membuat resume tentang kewajiban berjilbab. Tujuan akhirnya adalah menanamkan tanggung jawab pada diri siswi. Setelah penerapan sanksi tersebut, guru mencatat perkembangan positif: siswi yang tadinya sulit diarahkan mulai konsisten berjilbab setiap pelajaran PAI, bahkan beberapa akhirnya terbiasa berjilbab setiap hari. Pendekatan reward and punishment yang proporsional terbukti mendorong kepatuhan siswa, sebagaimana juga diungkap oleh Nur Aisyah . yang menyarankan pemberian penghargaan bagi siswa patuh dan sanksi bagi pelanggaran etika berpakaian demi efektivitas pembinaan. Strategi Antisipatif dan Kolaboratif dengan Sekolah Ae Guru PAI tidak bekerja sendiri, melainkan berkoordinasi dengan pihak sekolah dalam menciptakan lingkungan yang kondusif bagi penerapan jilbab. Salah satu langkah antisipatif yang telah dilakukan adalah pada saat penerimaan siswa baru. Berdasarkan dokumentasi dan keterangan waka kesiswaan, sejak Vol. 12 No. 1 | 118 AL-FATIH: Jurnal Studi Islam beberapa tahun terakhir setiap siswi muslim yang mendaftar ke SMKN 2 Jiwan dianjurkan menyiapkan seragam lengan panjang dan kerudung putih sebagai bagian dari kelengkapan seragam sekolah. Bahkan sekolah memfasilitasi dengan menyertakan kain jilbab saat pembagian kain seragam bagi peserta didik baru. Kebijakan proaktif ini dimaksudkan agar sejak awal masuk, siswi sudah terbiasa dan merasa wajar mengenakan jilbab di sekolah. Strategi serupa pernah dilaporkan di SMA Negeri 1 Sleman Yogyakarta, di mana sekolah memberikan kain seragam panjang dan jilbab bagi siswa muslim saat MOS (Masa Orientas. guna membentuk kultur berpakaian Islami Dalam konteks SMKN 2 Jiwan, langkah antisipatif ini didukung dengan sosialisasi tata tertib berpakaian kepada orang tua/wali siswa pada awal tahun. Pihak sekolah menghimbau agar orang tua ikut mendorong putrinya mengenakan pakaian yang sopan dan berjilbab ketika ke sekolah. Selain itu, guru PAI bersama guru BK (Bimbingan Konselin. membuat modul pengenalan adab dan etika, termasuk etika berbusana muslimah, yang disampaikan dalam kegiatan pengenalan lingkungan sekolah. Kolaborasi ini penting karena dukungan kebijakan sekolah memperkuat otoritas guru PAI dalam pembinaan. Guru PAI menyebut. AuAlhamdulillah pihak sekolah sangat mendukung program berjilbab ini, bahkan kepala sekolah selalu menyelipkan pesan tentang pentingnya menutup aurat dalam setiap upacara benderaAy. Dukungan struktural dan budaya sekolah semacam ini merupakan faktor pendukung signifikan yang akan diuraikan lebih lanjut pada bagian berikut. Yang jelas, strategi antisipasi memastikan bahwa setiap angkatan siswi baru sudah memiliki perlengkapan jilbab dan memahami bahwa berjilbab adalah bagian dari kultur sekolah. Menurut Taufik . , langkah antisipatif sejak penerimaan siswa baru efektif untuk Aumengakali agar anak-anak mau berjilbabAy selama di Ini terbukti di SMKN 1 Ponorogo dan tampaknya berhasil pula di SMKN 2 Jiwan, terlihat dari semakin berkurangnya resistensi siswi terhadap pemakaian jilbab seiring regenerasi Seluruh strategi di atas dilaksanakan secara terpadu dan berkelanjutan. Guru PAI memadukan pendekatan persuasif-humanis . eteladanan, nasihat persona. dengan pendekatan regulatif . embiasaan wajib saat mapel PAI, aturan orientas. serta pendekatan korektif . eguran/sanksi edukati. Kombinasi ini sejalan dengan rekomendasi ahli pendidikan Islam bahwa guru idealnya menjalankan peran ganda: sebagai pendidik yang mengarahkan perilaku, motivator yang membangkitkan kesadaran, sekaligus pengelola disiplin. Dengan strategi-strategi tersebut, diharapkan siswi tidak hanya patuh memakai jilbab, tetapi memahami tata cara berhijab yang benar: menutup aurat secara menyeluruh . eluruh Vol. 12 No. 1 | 119 AL-FATIH: Jurnal Studi Islam rambut, leher, dada tertutu. , menggunakan pakaian longgar yang tidak transparan, dan menjaga kesopanan sesuai syariat. Indikator pemahaman ini juga dilihat dari bagaimana siswi menerapkannya secara konsisten, bukan sekadar takut aturan. Tantangan dan Hambatan dalam Pembinaan Berhijab Dalam proses penerapan tata cara berhijab yang benar, guru PAI di SMKN 2 Jiwan menghadapi berbagai tantangan dan hambatan baik yang bersumber dari siswi sendiri maupun dari faktor eksternal. Temuan penelitian kualitatif ini mengidentifikasi beberapa kendala kunci berikut: 1. Tingkat Kesadaran dan Pemahaman Siswi yang Beragam: Tidak semua siswi memiliki pemahaman mendalam tentang kewajiban dan hikmah berjilbab. Beberapa siswi mengaku menjalani kewajiban berjilbab hanya karena aturan sekolah atau takut teguran guru, bukan karena kesadaran religius personal. Hal ini terutama terlihat pada siswi yang latar belakang keluarga atau lingkungannya kurang menekankan pendidikan agama. Kesadaran yang belum tertanam kokoh menjadi hambatan, karena tanpa kesadaran, kepatuhan mereka cenderung situasional. Misalnya, siswi yang masih Ausetengah hatiAy berhijab cenderung akan melepas jilbab di luar sekolah atau ketika tidak ada pengawasan. Guru PAI mengakui bahwa membangun kesadaran internal adalah tantangan tersulit, karena berkaitan dengan pola pikir dan hati nurani siswa. Penelitian Nur Lailatulqadri . mendukung hal ini dengan temuan bahwa masih ada sebagian kecil siswa yang melanggar etika berpakaian Islami akibat kurangnya kesadaran diri. Dengan kata lain, tantangan utamanya adalah melakukan internalisasi nilai, bukan sekadar sosialisasi aturan. Pengaruh Lingkungan Pergaulan dan Tren Modern: Faktor eksternal yang signifikan adalah lingkungan sosial dan arus tren di kalangan remaja. Remaja putri kelas XI berada pada fase pencarian jati diri dan sangat dipengaruhi oleh kelompok sebaya . eer grou. serta media. Guru PAI mencatat bahwa ada siswi yang enggan berjilbab karena merasa Aukurang gaulAy atau takut dianggap kolot oleh teman sebayanya. Selain itu, tren fashion modern yang sering menampilkan gaya busana kurang sesuai syariat . isalnya pakaian ketat, jilbab sekadar aksesor. memengaruhi cara pandang siswi. Media sosial juga berperan. siswi lebih tertarik pada style hijab kekinian yang kadang tidak memenuhi prinsip menutup aurat dengan benar . eperti model turban yang memperlihatkan leher, atau penggunaan legging ketat meski berkerudun. Tantangan bagi guru adalah meluruskan pemahaman tanpa terkesan menghakimi gaya berbusana remaja. Globalisasi dan paparan budaya pop sedikit banyak membuat nilai-nilai religius seperti hijab menghadapi krisis makna di kalangan remaja. Moh. Vol. 12 No. 1 | 120 AL-FATIH: Jurnal Studi Islam Toriquddin . menyebut globalisasi dapat menggoyahkan spiritualitas generasi muda, ditandai dengan memudarnya simbol-simbol agama dalam kehidupan sehari-hari. Dalam konteks ini, guru PAI berusaha menghadapi hambatan tersebut dengan memberikan pemahaman bahwa berhijab yang benar bukanlah anti-modis atau ketinggalan zaman, melainkan dapat sejalan dengan tren asalkan tidak melanggar syariat. Meski demikian, merubah mindset yang dipengaruhi pergaulan luas tentu memerlukan waktu dan pendekatan Ketiadaan Aturan Wajib yang Mengikat: Sebagaimana dijelaskan sebelumnya. SMKN 2 Jiwan tidak memiliki peraturan resmi yang mewajibkan jilbab bagi siswi Semua bersifat himbauan dan kebijakan internal non-formal. Situasi ini menjadi hambatan tersendiri karena guru tidak memiliki landasan hukum sekolah untuk menindak siswi yang menolak berjilbab di luar jam pelajaran PAI. Guru PAI hanya bisa mendorong melalui pendekatan moral. Ketika berhadapan dengan siswi yang keras menolak . eskipun jumlahnya sangat sediki. , guru tidak dapat menjatuhkan hukuman di tingkat sekolah karena secara aturan mereka tidak salah. Dalam kasus demikian, guru PAI merasa Autak bertaringAy secara struktural, sehingga solusinya adalah melibatkan orang tua atau wali. Namun, melibatkan orang tua juga menantang apabila keluarga siswi tersebut sendiri tidak keberatan anaknya tidak berjilbab. Hal ini pernah dialami guru: seorang siswi yang enggan berjilbab ternyata orang tuanya berprinsip jilbab bukan keharusan selama anaknya masih remaja. Kondisi semacam ini mempersulit guru karena dukungan keluarga minim. Menurut Lailatulqadri . , kurangnya pengawasan orang tua dan kebijakan sekolah yang hanya bersifat himbauan . idak tega. merupakan faktor penghambat pembinaan berpakaian Islami. Temuan tersebut relevan dengan hambatan di SMKN 2 Jiwan di mana ketidaktegasan aturan formal membuat upaya guru murni bergantung pada pendekatan persuasi. Kendala Kegiatan Ekstrakurikuler dan Teknis: Beberapa siswi menghadapi situasi spesifik yang menjadi hambatan untuk berjilbab secara konsisten. Misalnya, siswi yang aktif di ekstrakurikuler olahraga . utsal, bola basket, atau vol. kadang merasa kesulitan memakai jilbab saat latihan atau pertandingan karena alasan gerak terbatas atau panas. Meskipun sekolah sebenarnya menyediakan opsi jilbab olahraga dari bahan yang lebih ringan, beberapa siswi tetap memilih melepas jilbab ketika berolahraga di luar jam Guru PAI mengidentifikasi kendala ini dan berusaha mencari solusi, misalnya dengan mendorong penggunaan jilbab praktis . port hija. atau memastikan area latihan tertutup dari pandangan luar sehingga siswi merasa nyaman berlatih tanpa dilihat lelaki bukan Namun implementasi solusi ini membutuhkan koordinasi dengan pembina ekstrakurikuler dan sarana memadai. Hambatan teknis lain misalnya soal ketersediaan seragam Vol. 12 No. 1 | 121 AL-FATIH: Jurnal Studi Islam panjang: pada awal tahun, beberapa siswi belum menjahit seragam panjang sehingga masih berseragam pendek di kelas. Hal ini sempat menjadi alasan mereka tidak berjilbab . arena merasa lucu memakai jilbab tapi rok pende. Meskipun sekolah menyediakan kain, keterlambatan penjahit bisa terjadi. Guru PAI harus jeli mengatasi hal ini, misalnya dengan memperbolehkan siswi memakai rok panjang non-seragam sementara waktu atau meminjamkan mukena/kain untuk menutup kaki ketika di kelas PAI. Ini menunjukkan pentingnya dukungan fasilitas, karena ekonomi keluarga juga bisa jadi hambatan terselubung . da siswi dari keluarga kurang mampu yang hanya punya sedikit jilbab atau enggan ganti seragam bar. Penelitian Syaputra . menyinggung bahwa minimnya ekonomi keluarga dan kurangnya sarana prasarana pendukung di sekolah dapat menghambat pembinaan akhlak Islami siswa. Kendala tersebut meski tidak dominan di SMKN 2 Jiwan, tetap menjadi perhatian guru PAI untuk dicarikan solusinya. Menghadapi berbagai hambatan di atas, guru PAI menyadari perlunya strategi adaptif dan kesabaran. Tantangan internal . diatasi dengan memperbanyak sentuhan hati melalui pendekatan religius dan emosional. Hambatan eksternal . dijawab dengan memperkuat kultur sekolah dan memberikan kontranarasi positif bahwa berhijab itu mulia dan tetap bisa bergaya. Ketiadaan aturan wajib diimbangi dengan penguatan komitmen moral: guru PAI sering mengajak siswi membuat semacam janji pribadi atau kontrak moral untuk berusaha istiqamah berjilbab. Adapun kendala teknis ditangani melalui kreativitas solusi . isal penggunaan sport hijab, dispensasi seragam sementara, dl. Tantangan-tantangan ini juga menjadi bahan refleksi bagi guru untuk meningkatkan kualitas pembinaan di masa mendatang. Faktor Pendukung Implementasi Tata Cara Berhijab Di samping tantangan, penelitian ini juga menemukan sejumlah faktor pendukung yang membantu keberhasilan guru PAI dalam menerapkan tata cara berhijab yang benar di SMKN 2 Jiwan. Faktor pendukung tersebut berasal dari lingkungan sekolah, personal guru, maupun komunitas siswa: 1. Budaya Religius dan Kegiatan Keagamaan Sekolah: SMKN 2 Jiwan memiliki kultur sekolah yang relatif agamis. Meskipun berstatus sekolah vokasi umum, sekolah ini secara rutin mengadakan kegiatan keagamaan seperti pembacaan doa pagi bersama, shalat Dhuha berjamaah setiap minggu, pesantren kilat di bulan Ramadan, peringatan Maulid/Nuzulul Quran, dan ekstrakurikuler Rohis. Seluruh kegiatan ini menciptakan atmosfer religius yang mendukung pembiasaan berbusana Islami. Ketika suasana sekolah sering diisi dengan aktivitas ibadah, siswi merasa lebih nyaman berjilbab karena banyak momen yang memang mengharuskan menutup aurat. Budaya religius juga menumbuhkan peer pressure positif. Vol. 12 No. 1 | 122 AL-FATIH: Jurnal Studi Islam yang tidak berjilbab akan merasa Aubeda sendiriAy di tengah mayoritas yang berjilbab. Hal ini terkonfirmasi oleh observasi: pada hari Jumat, hampir 100% siswi mengenakan hijab karena ada kegiatan keagamaan pagi. Dukungan lingkungan sekolah seperti ini sejalan dengan temuan Mujiburrahman . di Sabang, bahwa program sekolah . eramah, kajian Islami, pesantren kilat, dll. ) berkontribusi besar dalam pembinaan etika berpakaian Islami siswa. Dengan adanya kultur keagamaan, upaya guru PAI tidak berjalan sendiri melainkan terintegrasi dalam kebijakan sekolah. Dukungan Pihak Sekolah dan Kebijakan Non-formal: Faktor pendukung lain adalah dukungan dari pimpinan dan rekan sejawat guru. Kepala sekolah SMKN 2 Jiwan secara informal mendorong aturan berpakaian sopan bagi seluruh siswa. Walau tidak berupa surat keputusan, himbauan kepala sekolah ini sering disampaikan, misalnya dalam amanat upacara: menutup aurat disebut sebagai bagian dari karakter unggul yang ingin dibentuk Dukungan ini memberikan legitimasi moral pada usaha guru PAI. Selain itu, guruguru lain . ermasuk guru non-PAI) umumnya mendukung siswi berjilbab. tidak ada guru yang menentang atau menganggap remeh program hijab. Malahan beberapa guru wanita non-PAI turut aktif mengingatkan siswi tentang aturan rok panjang dan jilbab. Kerja sama antar guru ini merupakan faktor pendorong penting. Syaputra . mencatat bahwa kerja sama guru dan dukungan kebijakan sekolah termasuk faktor pendukung dalam pembinaan akhlak Islami di Hal tersebut benar adanya di SMKN 2 Jiwan, di mana sinergi antara guru PAI, wakil kesiswaan, guru BK, dan kepala sekolah membuat pesan tentang tata cara berhijab tersampaikan konsisten. Bahkan, sekolah melalui OSIS pernah mengadakan hari busana Muslim setiap bulan, di mana semua siswa-siswi didorong memakai busana muslim lengkap. Inisiatif seperti ini semakin memperkuat atmosfer berjilbab. Keterlibatan Orang Tua dan Masyarakat: Meskipun tidak semua keluarga proaktif, secara umum nilai-nilai masyarakat sekitar mendukung pemakaian hijab. Banyak orang tua siswi yang turut senang anaknya dibina untuk berhijab di sekolah. Dari wawancara, beberapa orang tua menyampaikan terima kasih kepada guru PAI karena anak mereka kini lebih rajin memakai jilbab, bahkan di rumah. Ketika sekolah mengadakan pertemuan komite dan disampaikan program pembiasaan berjilbab, mayoritas wali murid menyambut baik. Beberapa orang tua bahkan berinisiatif membelikan anaknya beberapa jilbab agar bisa berganti-ganti setiap hari. Dukungan keluarga tentu mempermudah tugas guru, karena siswi mendapat dorongan konsisten di rumah. Selain itu, lingkungan masyarakat di Jiwan yang religius . danya majelis taklim remaja, kegiatan keputrian di desa, dll. ) menjadi faktor eksternal positif. Siswi yang tinggal di lingkungan dengan Vol. 12 No. 1 | 123 AL-FATIH: Jurnal Studi Islam banyak muslimah berjilbab akan lebih mudah mengikuti. Hal ini selaras dengan pandangan bahwa pendidikan agama tidak hanya tanggung jawab sekolah, tetapi juga keluarga dan masyarakat (Rahmadania et al. , 2. Kerjasama tri pusat pendidikan . ekolah, keluarga, masyaraka. bila terjalin harmonis akan sangat mendukung implementasi nilai agama seperti Kepribadian dan Kompetensi Guru PAI: Dari sisi internal, peran guru PAI yang kompeten dan berdedikasi menjadi faktor kunci pendukung. Guru PAI SMKN 2 Jiwan dikenal para siswa sebagai sosok yang sabar, ramah namun tegas dalam prinsip. Kepribadian guru yang mengayomi membuat siswi segan tapi juga dekat. Sebagai contoh, guru PAI rajin melakukan pendekatan personal tanpa lelah, menunjukkan komitmen tinggi. Kompetensi pedagogik guru PAI juga mendukung. guru mampu menyisipkan materi tentang jilbab dalam kurikulum PAI dengan menarik, misalnya melalui diskusi dalil Al-Qur'an dan Hadits tentang hijab di kelas, serta studi kasus yang relevan dengan kehidupan remaja. Guru PAI tersebut juga menguasai multi-disiplin ilmu terkait, termasuk pemahaman psikologi remaja, sehingga mampu mencari metode efektif. Muchith . menyatakan bahwa guru PAI dituntut profesional dan berkompeten luas karena mereka bertanggung jawab tidak hanya mengajar, tetapi juga mengarahkan perilaku dan disiplin siswa di dalam maupun luar kelas. Hal ini tercermin di SMKN 2 Jiwan: kompetensi personal dan sosial guru PAI yang baik menjadi modal besar keberhasilan program. Ditambah lagi, guru PAI tersebut selalu berpenampilan rapi, fashionable namun tetap syar'i, sehingga mematahkan stigma bahwa berjilbab menghalangi ekspresi diri. Sifat teladan guru ini diakui siswi sebagai penyemangat. banyak siswi mengatakan ingin bisa tampil anggun berkerudung seperti Ibu guru mereka. Dengan demikian, figur guru PAI itu sendiri adalah faktor pendukung intrinsik. Secara keseluruhan, faktor-faktor pendukung di atas telah menciptakan ekosistem yang kondusif bagi implementasi tata cara berhijab yang benar. Ketersediaan sarana seperti mushola, bahan kain jilbab dari sekolah, aturan seragam panjang. sarana prasarana ini juga termasuk pendukung Sebagai contoh, sekolah memastikan ketersediaan ruang ganti khusus perempuan sehingga siswi bisa mengenakan jilbab dengan leluasa atau berganti pakaian untuk olahraga tanpa dilihat pria. Hal-hal kecil semacam ini turut menunjang kenyamanan siswi dalam Kombinasi faktor pendukung struktural . ultur dan kebijaka. , kultural . ukungan komunita. , dan personal . edikasi gur. mempercepat tercapainya tujuan pembinaan. Efektivitas Pendekatan Guru PAI Berdasarkan Temuan Lapangan Berdasarkan hasil temuan lapangan, dapat disimpulkan bahwa pendekatan dan upaya yang dilakukan guru PAI di SMKN 2 Jiwan tergolong efektif dalam meningkatkan kepatuhan Vol. 12 No. 1 | 124 AL-FATIH: Jurnal Studi Islam dan kesadaran siswi terhadap tata cara berhijab yang benar. Beberapa indikator efektivitas yang teridentifikasi antara lain: Meningkatnya Jumlah Siswi yang Berhijab dengan Benar: Dibandingkan awal program pembinaan, pada saat penelitian ini berlangsung hampir seluruh siswi kelas XI yang beragama Islam di SMKN 2 Jiwan telah konsisten memakai jilbab setiap hari di sekolah. Guru PAI melaporkan bahwa dalam dua tahun terakhir terjadi peningkatan signifikan. kini siswi yang tidak berjilbab hanya mereka yang non-muslim atau satu dua siswi muslim yang masih dalam tahap pembinaan intensif. Persentase kepatuhan ini mencapai >95%. Pencapaian ini sejalan dengan kasus SMKN 1 Ponorogo yang diteliti Taufik . , di mana dalam kurun dua tahun semua siswi Muslim . 564 oran. akhirnya berjilbab, kecuali siswi non-muslim. SMKN 2 Jiwan, perubahan positif tampak nyata: jika sebelumnya pemandangan siswi berambut terurai tanpa hijab masih terlihat, kini koridor sekolah didominasi siswi berkerudung. Bahkan siswi kelas XI yang pada kelas X belum berjilbab, umumnya sudah berubah mengikuti teman-temannya. Hal ini menunjukkan efektivitas kolektif Ae perilaku individu terbentuk oleh norma mayoritas. Peningkatan Kualitas Tata Cara Berhijab: Tidak hanya aspek kuantitas . umlah siswi berjilba. , kualitas pemakaian hijab pun membaik. Dari observasi terbaru, semakin banyak siswi yang memahami cara memakai jilbab sesuai syariat: jilbab menutup dada, tidak transparan, serta dipadukan dengan seragam panjang yang longgar. Guru PAI sering melakukan pemeriksaan penampilan secara spontan, dan mendapati penurunan pelanggaran seperti Aumemperlihatkan anak rambutAy atau Aumenggulung rok tinggiAy. Jika di awal pembinaan guru sering menegur siswi karena jilbabnya terlalu pendek atau pakaian ketat, kini teguran semacam itu jarang diberikan. Wawancara dengan siswi mengungkap bahwa mereka mulai merasa risih sendiri jika berjilbab tidak benar. Beberapa siswi bahkan saling mengingatkan sesamanya: semisal jika terlihat ada yang jilbabnya menerawang, temannya akan menegur. Adanya peer correction ini menandakan internalisasi nilai telah terjadi hingga level kelompok siswa. Literatur mencatat bahwa salah satu tanda keberhasilan pendidikan etika adalah ketika peserta didik mampu mengawasi diri sendiri dan mengingatkan satu sama lain (Aisyah, 2. Dengan demikian, pendekatan guru PAI di sini efektif menumbuhkan kesadaran kolektif mengenai standar hijab yang benar. Kesadaran dan Motivasi Intrinsik yang Lebih Kuat: Efektivitas juga tercermin dari perubahan sikap dan motivasi. Dari hasil wawancara mendalam, banyak siswi mengaku kini memahami alasan religius dan moral di balik kewajiban berjilbab. Misalnya, seorang siswi Vol. 12 No. 1 | 125 AL-FATIH: Jurnal Studi Islam menyatakan AuDulu saya pakai jilbab karena aturan sekolah, sekarang saya pakai karena saya tahu itu wajib sebagai Muslimah dan demi kebaikan saya sendiri. Ay Pengakuan seperti ini menunjukkan pergeseran dari motivasi ekstrinsik menuju intrinsik. Bahkan ada siswi yang mulai berjilbab bukan hanya di sekolah tapi juga konsisten di luar sekolah. Guru PAI dengan bangga menyebut beberapa anak yang tadinya lepas pasang jilbab kini sudah mantap berhijab di keseharian. Tentu tidak semua siswi mencapai tahap ini, namun trend-nya positif. Temuan ini paralel dengan penelitian Fitri . yang melaporkan meningkatnya kesadaran siswa akan pentingnya busana muslim sehari-hari setelah guru PAI melakukan pembinaan intensif. Selain itu, kesadaran spiritual siswi juga tumbuh. beberapa siswi aktif bertanya soal dalil dan hukum hijab, tanda bahwa mereka tertarik memahami lebih mendalam, bukan sekadar patuh buta. Transformasi sikap ini menegaskan efektivitas pendekatan persuasif-edukatif yang Berjalannya Regulasi Kelas dan Kepatuhan saat Kegiatan: Efektivitas pendekatan guru PAI juga tampak dari kepatuhan siswi dalam mentaati aturan berjilbab pada saat-saat yang Selama pelajaran PAI, 100% siswi muslim kini selalu mengenakan jilbab tanpa kecuali Ae ini berbeda dengan tahun-tahun awal di mana guru masih harus mengingatkan dan menyediakan kerudung cadangan. Demikian pula dalam kegiatan ibadah . halat Dhuha, dl. , tidak ada lagi kasus siswi lupa membawa mukena atau jilbab. Kedisiplinan ini menunjukkan bahwa aturan pembiasaan sudah membudaya. Menurut guru PAI, keberhasilan ini ditandai ketika Autidak perlu diingatkan pun anak-anak sudah otomatis berjilbab saat waktunyaAy. Bahkan wali kelas kelas XI menyampaikan apresiasi bahwa siswi-siswinya kini lebih rapi dalam berbusana sesuai tata tertib tanpa pengawasan ketat. Hal ini sesuai dengan yang diungkap Siti Romdlonatuzzulaichoh . dalam penelitiannya di Sleman: ketika pembinaan etika berpakaian Islami efektif, siswa akan memenuhi tata tertib berpakaian dengan kesadaran. SMKN 2 Jiwan, tata tertib tidak resmi soal jilbab berhasil dijalankan oleh siswi dengan kesadaran tinggi. Perubahan Iklim dan Identitas Sekolah: Sebagai dampak jangka panjang, pendekatan guru PAI telah berkontribusi mengubah iklim sekolah. SMKN 2 Jiwan kini dikenal sebagai sekolah yang para siswinya berbusana sopan dan muslimah. Identitas ini diakui oleh masyarakat setempat dan menjadi kebanggaan sekolah. Guru PAI menyebut bahwa siswa baru yang mendaftar belakangan ini umumnya sudah tahu Aukalau sekolah di SMK 2 Jiwan ceweknya berjilbab semuaAy, sehingga mereka pun tidak keberatan mengikuti. Identitas kolektif ini penting karena akan mempermudah implementasi ke depannya . emacam menciptakan norma bar. Vol. 12 No. 1 | 126 AL-FATIH: Jurnal Studi Islam Dengan kata lain, program yang dirintis guru PAI telah mencapai efek keberlanjutan . ustainable effec. Efektivitas semacam ini jarang terukur secara kuantitatif, tetapi kualitatifnya terasa: sekolah berhasil menanamkan nilai yang bertahan dan menjadi karakter Ini salah satu tujuan utama pendidikan karakter, yakni pembudayaan di level institusi (Mulyono, 2. Kendati demikian, evaluasi kritis tetap diperlukan. Efektivitas yang dicapai belum berarti tanpa celah. Masih terdapat segelintir siswi yang perlu pendampingan lanjutan, terutama dalam memantapkan niat berhijab di luar lingkungan sekolah. Guru PAI menyadari bahwa efektivitas di sekolah belum tentu menjamin mereka akan terus berhijab setelah lulus nanti. Oleh karena itu, guru terus menguatkan pemahaman agama dan mencoba melibatkan alumni sebagai role model lanjutan. Namun secara umum, berdasarkan indikator-indikator di atas, pendekatan yang ditempuh guru PAI terbukti efektif untuk konteks internal sekolah. Hal ini menegaskan bahwa metode edukatif-partisipatif . ukan koersi. dalam membina hijab mampu mencapai hasil yang diinginkan, sejalan dengan pendapat para ahli pendidikan yang mengedepankan kesadaran daripada paksaan dalam penanaman nilai (Cecep Darmawan dalam Sinaga & Firdaus, 2. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian tentang upaya guru Pendidikan Agama Islam dalam menerapkan tata cara berhijab yang benar pada siswi kelas XI di SMKN 2 Jiwan, dapat disimpulkan bahwa guru berperan secara aktif melalui metode modeling, demonstrasi, dan pemberian umpan balik. Model peragaan langsung dan penggunaan media visual mempermudah siswi memahami tahapan pemakaian hijab sesuai syariat. Selanjutnya, pembelajaran berbasis diskusi dan praktik kelompok meningkatkan kesadaran dan kepercayaan diri siswi dalam berhijab. Intervensi individual, seperti bimbingan personal dan evaluasi berkala, efektif mengidentifikasi kesulitan siswi sehingga dapat diberikan solusi tepat. Kolaborasi dengan orang tua dan komite sekolah turut mendukung keberlanjutan perilaku berhijab yang benar. Penerapan penilaian kualitatif melalui observasi holistik menunjukkan peningkatan kepatuhan siswi mencapai 85 %. Implikasi penelitian ini menegaskan pentingnya peran aktif guru sebagai teladan dan fasilitator pembelajaran berhijab. Direkomendasikan agar program pelatihan guru dan peningkatan sarana pendukung terus dikembangkan untuk hasil yang lebih optimal. Penelitian lanjutan perlu mengeksplorasi konteks budaya secara lokal. Vol. 12 No. 1 | 127 AL-FATIH: Jurnal Studi Islam DAFTAR PUSTAKA