E-ISSN : 2722-3612 Hal: 74-81 Vol. 5 No. 2, 2024 This article is licensed under https://doi. org/10. 46838/jbic. Article Analisis Perangkat Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di SMP Kabupaten Jombang Ajeng Eka Prastuti1A 1Pascasarjana Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial. Universitas Negeri Surabaya. Indonesia 1ajengrizki25@gmail. Coresponding Author: ajengrizki25@gmail. ABSTRACT This study aims to determine the content analysis of the components of social studies learning devices used by teachers, the results of social studies learning devices based on the standards set in Jombang Regency. The design of this study uses quantitative descriptive content analysis consisting of 5 stages. Data collection techniques with questionnaires and documentation studies of social studies teachers in Jombang Regency. This study is based on Berelson's . content analysis theory, content analysis as a research technique that studies and analyzes systematically, objectively and quantitatively the messages that appear. Researchers do not find new theories, but only implement the theory to achieve results that are in accordance with the formulation of the problem. The results of this study indicate that teachers have understood the steps of designing lesson plans along with the indicators that must be included, where this was obtained from the results of the analysis of lesson plans conducted by researchers using an item scale based on Ministerial Regulation Number 22 of 2016, the item scale based on the Ministerial Regulation can also be used as a guideline for analysis in researchers in the future, the results of the analysis of lesson plans based on the guidelines obtained the category "Very Complete" with the acquisition of class VII semester I with a percentage of 88. 6%, class VII semester II with a percentage of 93. 3%, class Vi semester I with a score of 92. 3% and class Vi semester II with a score of 91. 9%, the components that are less appropriate are learning objectives, learning media and learning resources, on average have similarities to the previous lesson plans so that they are less appropriate if applied to different materials, the tools obtained from the MGMP forum can be used as a guideline by teachers in preparing lesson plans. Keywords: Learning Tools. Learning Implementation Plan. Social Studies Artikel Info Masuk Oktober 11, 2024 Revisi November 20, 2024 Diterima Desember 18, 2024 Terbit Januari 31, 2025 PENDAHULUAN Tujuan Pendidikan Nasional Pasal 3 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yaitu pendidikan sebagai suatu proses pengembangan sehingga dapat membentuk watak siswa dengan tujuan mencerdaskan kehidupan bangsa sehingga peserta didik lebih beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjadi warga yang demokratis dan bertanggung jawab. Beberapa faktor kendala akibat rendahnya mutu dan kualitas pendidikan di negara kita yaitu lemahnya tingkat profesionalisme guru (Uzer Usman, 2. Guru harus memiliki keterampilan yang berkompeten berdasarkan bakat yang dimiliki (Arif, 2. Profesionalisme yang dimiliki oleh guru akan menciptakan pendidikan berkualitas dan sumber daya manusia yang efisien (Alper, 2. Pendidikan yang berkualitas memiliki standar dengan baik sebagai dasar dalam pelaksanaannya (Yamin, 2. A 2024 The Authors Published by MAN Insan Cendekia Jambi Jurnal Bina Ilmu Cendekia https://jurnal. id/index. php/jbic/index Article Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2015 menjelaskan Standar Nasional Pendidikan merupakan kriteria minimal sistem pendidikan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ruang lingkup Standar Nasional Pendidikan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 meliputi, standar isi, proses, kompetensi lulusan, pendidik dan tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan, penilaian pendidikan. Standar Nasional Pendidikan wajib dilaksanakan bagi seluruh penyelenggara pendidikan, selain itu berfungsi sebagai acuan dasar perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan pendidikan guna mewujudkan pendidikan nasional yang memiliki mutu terbaik. Pendidikan yang bermutu dapat diterapkan pada pembelajaran disekolah. Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan mata pelajaran yang membekali wawasan dan keterampilan terhadap peserta didik sehingga mampu beradaptasi, bermasyarakat dalam perkembangan era globalisasi. Mata pelajaran ini diberikan mulai SD. SMP hingga jenjang SMA. Implementasi materi IPS menekankan pada aspek pengetahuan, berpusat pada guru, tidak membentuk budaya menghafal tetapi melatih peserta didik mampu memcahkan masalah (Budi, 2. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP), meliputi kajian sosiologi, sejarah, geografi dan ekonomi. Kajian tersebut dapat dikembangkan melalui pembelajaran terpadu sebagai salah satu implementasi kurikulum yang dianjurkan (Ahmadi, 2. Pembelajaran IPS erat keitannya dengan pembelajaran terpadu karena memuat beberapa cabang ilmu didalamnya. Menurut Joni. pembelajaran terpadu melatih peserta didik aktif mencari, menggali dan menemukan konsep serta prinsip secara holistik, bermakna dan otentik. Pembelajaran terpadu sebagai suatu konsep sebagai pendekatan belajar mengajar yang melibatkan beberapa bidang studi untuk memberikan pengalaman bermakna kepada peserta didik. Bermakna jika peserta didik dapat memahami dan menghubungkan konsep yang di pelajari melalui pembelajaran langsung (Trianto, 2. Dapat disimpulkan bahwa pembelajaran terpadu dapat menanamkan keterampilan pada peserta didik dengan menggali sendiri pengetahuannya sehingga menjadi lebih bermakna, hal tersebut dapat diterapkan melalui model pembelajaran yang digunakan oleh guru. Model pembelajaran merupakan pola perencanaan pembelajaran dikelas yang bertujuan mencapai kompetensi/tujuan pembelajaran yang diharapkan. Model pembelajaran mengacu pada pendekatan yang digunakan termasuk dalam tujuan pembelajaran, tahapan kegiatan, lingkungan pembelajaran dan pengelolaan kelas (Suprijono, 2. Dalam mata pelajaran IPS model pembelajaran yang sering digunakan seperti reasoning and problem solving, inquiry, problem based, kontekstual dan lain-lain. Model tersebut sering digunakan mengingat bahwa IPS lebih pada penerapan/praktik, membuat siswa terampil dan dapat memecahkan Mengingat tujuan pendidikan IPS berorientasi pada pengetahuan dan pemahaman, sikap hidup, nilai-nilai sikap sosial dan keterampilan (Oemar, 2. Perencanaan pembelajaran memiliki unsur seperti yang tertera pada Permendikbut Nomor 65 Tahun 2013 tentang standar proses dalam pembelajaran yang meliputi penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran dan menyiapkan media serta sumber belajar, perangkat penilaian pembelajaran dan skenario pembelajaran diwujudkan Jurnal Bina Ilmu Cendekia https://jurnal. id/index. php/jbic/index Article dengan bentuk silabus. RPP dan mengacu pada standar isi. Dalam perangkat pembelajaran terdapat silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), media dan sumber belajar, lembar kerja siswa (LKS) dan perangkat penilaian. Berdasarkan aturan tersebut pembuatan perangkat pembelajaran tetap mengacu pada aturan kurikulum yang berlaku (Kurwidaria, 2. Kebiajakan yang dibuat oleh guru berdasarkan kurikulum memiliki peran yang penting untuk mengatasi tantangan terhadap implementasi proses pembelajaran (Barbara, 2. Dalam pembelajaran, tujuan menjadi komponen penting sebagai tolak ukur yang harus ditetapkan dalam proses pembelajaran, tujuan pembelajaran menjadi suatu cara merubah tingkah laku peserta didik yang terbentuk dari hasil pembelajaran (Chris Kyriacou, 2. Perangkat pembelajaran yang baik harus memuat tujuan pembelajaran yang memiliki unsur Adience. Behaviour. Conditioning. Degree atau sering disebut dengan unsur ABCD. Guru memiliki peranan penting dalam merancang perencanaan pembelajaran untuk terciptanya perencanaan yang ideal harus melewati unsur penting sehingga dapat dikatakan efektif (Jufti, 2. Perangkat pembelajaran yang ideal merupakan perangkat pembelajaran yang dibuat oleh guru berdasarkan kondisi peserta didik di lapangan, dengan demikian perangkat yang dibuat dan didesain oleh guru akan sesuai jika diterapkan pada proses pembelajaran sehingga dapat mencapai tujuan yang Beberapa kriteria produk perangkat pembelajaran yang berkualitas yaitu Kevalidan yang merupakan kesesuaian dalam komponen produk dengan materi pengetahuan dan semua komponen terhubung secara konsisten dengan design penyajian yang logis. Kepraktisan apabila bermanfaat dan mudah untuk digunakan dan Keefektivan yang merupakan hasil sesuai dengan harapkan (Nieveen, 2. Perangkat pembelajaran memiliki berbagai jenis seperti silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), media dan sumber belajar, lembar kerja siswa (LKS) hingga perangkat penilaian. RPP dipilih sebagai perangkat pembelajaran yang akan diteliti karena memiliki peranan yang penting terhadap proses pembelajaran, jika RPP yang digunakan oleh guru masih kurang tepat maka proses pembelajaran yang dilakukan juga kurang tepat. Sehingga analisis perangkat pembelajaran yang digunakan oleh guru perlu dilakukukan. Dalam perkembangannya RPP telah banyak mengalami perubahan dan perkembangan, dari RPP dengan komponen dan struktur yang sederhana sampai dengan RPP yang dikembangkan dengan komponen yang cukup kompleks. Apabila memperhatikan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 khususnya dalam pasal 20 disebutkan bahwa perencanaan proses pembelajaran meliputi silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran yang memuat sekurangkurangnya tujuan pembelajaran, materi ajar, metode pengajaran, sumber belajar, dan penilaian hasil belajar. Jika dipertanyakan model yang manakah yang paling baik, maka sesungguhnya tidak dapat diajukan satu model pengembangan RPP yang paling baik. Hal ini sangat tergantung dari model yang menurut guru dapat dengan mudah dikembangkan dan mudah dijadikan sebagai pegangan dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran, efektivitas dalam mencapai kompetensi dan tujuan pembelajaran. Yang paling sederhana adalah guru penting mengacu kepada komponen minimal dalam pengembangan RPP yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun Jurnal Bina Ilmu Cendekia https://jurnal. id/index. php/jbic/index Article 2005 pasal 20 yang memuat komponen minimal terdiri dari . tujuan pembelajaran, . materi ajar, . metode pembelajaran, . sumber bahan, dan . penilaian hasil Apabila ingin dikembangkan menjadi RPP yang lebih kompleks penting disesuaikan dengan keadaan dan kondisi di mana guru melaksanakan tugas. Suatu perangkat pembelajaran yag baik sesungguhnya dalah perangkat yang lengkap dan dikerjakan oleh guru tersebut sendiri sesuai dengan kondisi peserta didik dan kondisi METODE PENELITIAN Desain penelitian ini menggunakan teknik analisis isi deskriptif. Analisis isi deskriptif yaitu menggambarkan secara detail isi pesan atau teks tertentu, analisis isi semata menggambarkan deskripsi dan aspek dari pesan atau teks yang di teliti. Metode ini dipelopori oleh Harold D. Lasswell, analisis isi bersifat pembahasan mendalam terhadap isi tertulis maupun tercetak. Terdapat tiga pendekatan dalam analisis isi yaitu deskriptif, eksplanatif dan prediktif. Deskriptif menggambarkan karakteristik isi pesan secara detail, eksplanatif mencari hubungan antara isi yang terdapat pada pesan dan variabel lain sedangkan prediktif dapat memasukkan metode lain seperti eksperimen dan survey (Eriyanto, 2. Analisis isi sebagai suatu teknik penelitian yang bertujuan mengetahui gambaran dan karakter isi sehingga dapat menarik inferensi dari isi tersebut. Terdapat empat desain yang dipakai untuk menggambarkan karakteristik, pertama untuk menggambarkan isi dari sumber yang sama dengan waktu yang berbeda. Kedua, memasukkan isi dari sumber yang sama, tetapi dalam konteks situasi yang Ketiga, memasukkan isi dari sumber yang sama tetapi pemirsa yang Keempat, melihat isi dari sumber yang berbeda (Eriyanto, 2. Peneliti menggunakan desain karakteristik ke empat dengan melihat perangkat pembelajaran yang didapat dari guru dengan sekolah yang berbeda. Penelitian ini berpedoman pada pendapat sekaligus teori Barelson . bahwa analisis isi merupakan teknik penelitian yang dapat dilakukan secara objektif, sistematis dan deskripsi kuantitatif (Eriyanto, 2. Objektif bertujuan menganalisis berdasarkan prosedur bukan pada peneliti, sistematis merupakan proses penelitian yang telah dirumuskan secara jelas, kuantitatif sebagai prinsip metode dan isi nyata merupakan bahan yang dianalisis berupa isi yang tersurat . bukan makna yang dirasakan peneliti. Berdasarkan teori Barelson . tersebut analisis isi pada penelitian ini menjadikan perangkat pembelajaran sebagai subyek penelitian akan dianalisis secara objektif, sistematif dan deskriptif kuantitatif sehingga dapat ditemukan kesimpulan dalam penelitian ini. Pendekatan kuantitatif yang digunakan bertujuan untuk mengetahui gambaran karakteristik isi serta dapat menarik inferensi dari isi tersebut (Eriyanto, 2. Metode penelitian analisis isi ini memiliki beberapa prosedur dasar dalam proses pembuatan rancangan penelitian, prosedur tersebut terdiri dari 5 langkah yaitu. Jurnal Bina Ilmu Cendekia https://jurnal. id/index. php/jbic/index MELAKUKAN SAMPLING TERHADAP SUMBER MEMBUAT KATEGORI PEMBUATAN SKALA DAN ITEM UNTUK MENGUMPULKAN DATA MELAKUKAN SAMPEL DOKUMEN DAN PENGKODEAN Article INTERPRETASI/ PENAFSIRAN DATA YANG DIPEROLEH Gambar 1. Model Penelitian Sumber: Eriaynto, 2011 Berikut merupakan penjabaran secara rinci penelitian yang akan dilakukan dengan menggunakan prosedur dasar analisis isi. Melakukan sampling terhadap sumber peneliti menetapkan sampel terhadap sumber data yang diperoleh dan dipilih sehingga berguna sebagai pedoman awal. Sampel merupakan bagian dari populasi, sebagai contoh yang diambil dengan menggunakan cara-cara tertentu (Sugiyono. Sedangkan sumber data merupakan subyek perolehan data (Suharsimi, 2. Dalam teknik pengambilan sampel penulis menetapkan sumber data yang bersubyek pada guru IPS dalam forum MGMP IPS di Kabupaten Jombang. Dari data awal observasi terdapat 129 SMP Negeri dan Swasta di Kabupaten Jombang, dengan total 70 SMP yang mengikuti forum MGMP IPS. Peneliti mengambil sebanyak 50% dari total SMP yang mengikuti forum MGMP tersebut sehingga menghasilkan 30 sekolah baik negeri maupun swasta yang dijadikan sampel. HASIL DAN PEMBAHASAN Dari hasil analisis kesesuaian RPP kelas VII semester I diatas, diperoleh hasil bahwa RPP tersebut telah sesuai dengan Permen Nomor 22 Tahun 2016. Pada analisis komponen pertama identitas sekolah sebanyak 30 sampel telah sesuai, maka skala yang muncul adalah 98-120 menghasilkan angka presentase 100% artinya pada komponen tersebut kriteria yang muncul adalah sangat sesuai. Komponen kedua identitas mata pelajaran pada skala 98-120 dengan presentase 100% kriteria sangat Kelas/semester pada skala 98-120 dengan presentase 100% kriteria sangat Komponen materi pokok pada skala 98-120 dengan presentase 100% kriteria sangat sesuai, artinya sebanyak 30 sekolah sampel yang dianalisis telah menyebutkan materi pokok yang akan diajarkan dengan benar. Alokasi waktu pada skala 98-120 dengan presentase 100% kriteria sangat sesuai menunjukkan sudah jelas alokasi yang digunakan oleh guru berdasarkan jumlah jam setiap pertemuan yang dilihat dari Jurnal Bina Ilmu Cendekia https://jurnal. id/index. php/jbic/index Article materi yang akan diajarkan. Pada komponen Tujuan pembelajaran pada skala 76-97,5 dengan presentase 70% kriteria sesuai, beberapa sekolah tidak menggunakan kata kerja operasional yang dituju, tidak sesuai dengan kompetensi dasar dan hanya sekedar menuliskan AumenjelaskanAy seperti SMPS Pancasila. SMPN 1 Plandaan. SMPS PGRI 1 Perak. SMPN 2 Gudo dan lain-lain. Kompetensi dasar pada skala 98-120 dengan presentase 100% kriteria sangat Indikator pencapaian kompetensi pada skala 76-97,5 dengan presentase 70% kriteria sesuai, pada komponen ini terdapat beberapa sekolah yang indikator pencapaian kompetensinya tidak singkron dengan tujuan dan metode yang Indikator yang dipakai misalkan AumenjelaskanAy tetapi pada langkah pembelajaran berbeda, seperti pada SMPS Sawunggaling. SMPN 2 Perak. SMPN 2 Diwek. SMPS Terpadu dan lain-lain. Metode pembelajaran pada skala 98-120 dengan presentase 100% kriteria sangat sesuai. Media pembelajaran yang digunakan pada skala 76-97,5 dengan presentase 67% kriteria sesuai, hal tersebut dikarenakan beberapa sekolah tidak menggunakan media pembelajaran berdasarkan tujuan yang ingin dicapai ataupun kompetensi dasar misalkan, tujuannya ingin siswa memahami dengan cara mempraktekkan tetapi media yang digunakan hanya melalui papan Sumber belajar pada skala 98-120 dengan presentase 83% kriteria sangat sesuai, beberapa sekolah hanya mencantumkan sumber belajar buku cetak dan LKS saja sedangkan metode yang digunakan dapat menggunakan sumber internet dan lainlain. Langkah-langkah pembelajaran pada skala 76-97,5 dengan presentase 70% kriteria sesuai. Beberapa sekolah tidak sesuai antara langkah pembelajaran dengan metode yang digunakan, metode mengandung unsur mengamati, menanya, mengeksplorasikan, menalar, dan mengomunikasikan. Pada kegiatan pembelajaran, guru hanya menggunakan metode diskusi, sedangkan pada bagian metode pembelajaran guru mencantumkan metode demonstrasi. Penilaian hasil belajar pada skala 98-120 dengan presentase 100% kriteria sangat sesuai. Berikut merupakan hasil analisis pada kelas VII semester I dalam bentuk diagram batang. Grafik 1. Hasil Penelitian Jurnal Bina Ilmu Cendekia https://jurnal. id/index. php/jbic/index Article SIMPULAN Perangkat pembelajaran merupakan salah satu faktor terpenting yang harus disiapkan oleh guru sebelum melakukan pembelajaran dikelas terutama RPP. Dijelaskan dalam Permen Nomor 22 Tahun 2016 tentang standar komponen yang harus dipenuhi oleh guru dalam membuat RPP dimulai dari komponen identitas sekolah hingga penilaian hasil belajar. Perangkat pembelajaran juga dibuat dalam forum MGMP, hasil dari perangkat pembelajaran tersebut dapat dijadikan pedoman dalam menyusun suatu RPP. Penemuan dalam peneliti ini bahwa tidak semua guru mengembangkan RPP dari forum MGMP, beberapa guru berpedoman pada internet. RPP milik teman dan RPP pada semester sebelumnya. Kedua, dalam penyusunan RPP pedoman yang paling panting adalah Permen serta kurikulum yang berlaku. Ketiga, penyebaran RPP bertujuan untuk pegangan guru sehingga dapat dikembangkan dan disesuaikan dengan standar sekolah bukan dijadikan standar Keempat, guru telah memahami langkah-langkah pembuatan RPP dengan komponen yang lengkap berdasarkan standar Permen Nomor 22 tahun 2016. Kelima, komponen yang menjadi titik kurang sesuai yaitu tujuan pembelajaran, media pembelajaran dan sumber belajar sehingga perlu adanya perbaikan pada komponen tersebut untuk menjadikan RPP lebih sesuai dengan KI. KD dan indicator yang REFERENSI