Jurnal Dinamika Ilmu Komunikasi ISSN: 2776-5490 - Vol. No. , 143-156 Jurnal Dinamika Ilmu Komunikasi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragam. Mediatisasi Pembayaran Digital QRIS dalam Kehidupan Pekerja Perempuan Urban di Plaza Senayan DOI: https://doi. org/10. 32509/dinamika. Agatha Tri Priharini*. Aryo Subarkah Eddyono Universitas Bakrie. Jakarta. Indonesia Jl. HR Rasuna Said Kav. C-22. Kuningan. Jakarta Selatan 12920. Indonesia *Email Korespondensi: agathatpr@gmail. Abstract - This study aims to understand how the digital payment technology QRIS (Quick Response Code Indonesian Standar. has been deeply mediatized in the lives of female workers in the Plaza Senayan area of Jakarta. Using a qualitative approach and Deep Mediatization theory with its concept of Re-figuration of Society by Andreas Hepp, this study explores how QRIS is not only used as a transaction tool, but becomes part of the digital routines, lifestyles, and social identities of its users. Five female informants were selected through purposive techniques and interviewed in depth to explore the meaning and experiences of their daily use of QRIS. The results show that the use of QRIS has formed new interaction patterns that emphasize efficiency, practicality, and modernity. It also reflects the connectedness of urban workers to the global digital ecosystem and has become emblematic of middle-class professional identity. This study concludes that QRIS has become part of the new social structure in the digital era, influencing how individuals transact, form social relationships, and interpret their work and consumption lives. This research adds to knowledge of the processes of digital mediatization among urban workers and provides scope for larger-scale, exploratory research. Keywords: Deep Mediatization. Digital Payment. Lifestyle. QRIS. Re-Figuration of Society Abstrak - Studi ini bertujuan untuk memahami bagaimana teknologi pembayaran digital QRIS (Quick Response Code Indonesian Standar. telah termediatisasi secara mendalam dalam kehidupan pekerja perempuan di area Plaza Senayan. Jakarta. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan teori Deep Mediatization dengan konsep Re-figuration of Society dari Andreas Hepp, studi ini mengkaji penggunaan QRIS tidak hanya sebagai alat transaksi, sekaligus menjadi bagian dari rutinitas digital, gaya hidup, dan identitas sosial penggunanya. Lima informan perempuan dipilih melalui teknik purposif dan diwawancara secara mendalam untuk mendapatkan makna dan pengalaman penggunaan QRIS dalam aktivitas kesehariannya. Hasil kajian menunjukkan bahwa penggunaan QRIS telah membentuk pola interaksi baru yang menekankan efisiensi, kepraktisan, dan modernitas. Teknologi ini juga memperlihatkan keterhubungan para pekerja urban dengan ekosistem digital global, serta menjadi simbol identitas profesional kelas menengah. Studi ini menyimpulkan bahwa QRIS telah menjadi bagian dari struktur sosial baru di era digital, memengaruhi cara individu bertransaksi, membentuk hubungan sosial, serta memaknai kehidupan kerja dan konsumsi. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam memahami dinamika mediatisasi digital di kalangan pekerja urban dan membuka ruang untuk kajian lanjutan dengan cakupan yang lebih luas. Kata Kunci: Deep Mediatization. Pembayaran Digital. Gaya Hidup. QRIS. Re-Figuration of Society Submitted: January 2026. Accepted: April 2026. Published: June 2026 Licensed Under A Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4. 0 International License Jurnal Dinamika Ilmu Komunikasi ISSN: 2776-5490 - Vol. No. , 143-156 Pendahuluan Teknologi digital saat ini telah menjadi bagian penting dalam kehidupan kita seharihari. Hampir semua aspek kehidupan manusia, baik itu sosial, budaya, politik, maupun ekonomi, telah dipengaruhi oleh perkembangan teknologi ini (Castells, 2010. van Dijck & Poell, 2. Dalam kehidupan sosial, kita bisa berbincang atau bertukar kabar dengan siapa saja, kapan pun, tanpa harus langsung bertemu tatap muka. Dalam hal budaya, teknologi membuat kita lebih mudah terpapar gaya hidup atau kebiasaan dari negara lain, entah itu lewat media sosial, film, atau mengikuti tren online. Dalam dunia politik, cara masyarakat dan pemerintah berkomunikasi juga berubah, di mana sekarang orang bisa menyuarakan pendapat secara langsung lewat internet. Sementara dalam bidang ekonomi, kegiatan transaksi jadi jauh lebih praktis karena bisa dilakukan secara non-tunai, mulai dari internet banking. SMS banking, belanja online, sampai pakai dompet digital di perangkat ponsel kita. Sistem pembayaran berbasis kode QR yang disebut QRIS adalah salah satu contoh transformasi digital nyata di sektor ekonomi Indonesia. Pada tahun 2019. Bank Indonesia (Bank Indonesia, 2. dan Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI) meluncurkan sistem ini. QRIS (Quick Response Code Indonesian Standar. dikembangkan untuk memudahkan integrasi berbagai metode pembayaran digital ke dalam satu sistem QR yang dapat digunakan oleh berbagai aplikasi. Plaza Senayan menempati tempat istimewa dalam peta sosial Jakarta. Sejak diluncurkan pada tahun 1996, tempat ini telah menjadi tempat pertemuan bagi kelas menengah, pekerja urban, dan pekerja korporat yang berbasis di daerah Senayan. Sudirman, dan SCBD (Marketeers, 2. Berbeda dengan mal lainnya yang lebih menyasar pasar massal. Plaza Senayan menghadirkan citra modern, terorganisir, dan kosmopolitan, citra yang secara tidak langsung membentuk kebiasaan konsumsi pengunjung dan pekerja di sekitarnya. Di dalamnya, denyut kehidupan bergerak cepat, waktu istirahat yang ketat, mobilitas tinggi antar gedung perkantoran, dan budaya kerja yang menuntut produktivitas telah memastikan bahwa transaksi tanpa uang tunai menjadi aspek yang tak terbantahkan dalam kehidupan sehari-hari. Hampir seluruh ekosistem ritel di kompleks Plaza Senayan kini berbasis nontunai, sehingga pemakaian QRIS menjadi bentuk adaptasi wajib terhadap laju kehidupan urban yang dinamis. Lingkungan tersebut menawarkan ruang interaksi bagi pekerja perempuan yang tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga merepresentasikan identitas digital kalangan profesional kota besar. Lebih dari sekadar pusat perbelanjaan. Plaza Senayan hadir sebagai ikon simbolik yang menjadi tolok ukur gaya hidup kelas menengah modern Jakarta. Dalam konteks ini, belanja dipahami sebagai bagian dari strategi identitas dan penguat relasi profesional. Pola konsumsi kelas menengah memang berfungsi sebagai cerminan dari identitas dan kedudukan sosial mereka di tengah masyarakat (Rahadania, 2. Karena itu, perilaku konsumsi para pekerja perempuan di area ini memperlihatkan bagaimana teknologi digital seperti QRIS tidak hanya memudahkan transaksi, tetapi juga ikut membentuk pola konsumsi yang terkait erat dengan identitas sosial dan kelas. Hal ini sekaligus memperkuat pandangan bahwa media digital, termasuk teknologi pembayaran, memiliki peran penting dalam membentuk cara hidup masyarakat urban saat ini. Kajian literasi digital memperlihatkan bahwa kemampuan individu dalam memahami, menilai, dan menggunakan teknologi komunikasi berperan penting dalam membentuk perilaku konsumsi digital. Menurut Guntar et al. pada penelitiannya menunjukkan bahwa literasi digital melalui media edukasi daring turut menentukan bagaimana masyarakat memaknai teknologi dan mengintegrasikannya ke dalam keseharian mereka. Hal ini relevan dengan penelitian ini, karena penggunaan QRIS oleh pekerja urban di Plaza Senayan tidak hanya Mediatisasi Pembayaran Digital QRIS dalam Kehidupan Pekerja Perempuan Urban di Plaza Senayan Agatha Tri Priharini. Aryo Subarkah Eddyono Jurnal Dinamika Ilmu Komunikasi ISSN: 2776-5490 - Vol. No. , 143-156 ditentukan oleh faktor teknis semata, tetapi juga oleh kesiapan literasi digital yang mereka miliki dalam membentuk gaya hidup modern yang efisien. Sejumlah penelitian terdahulu mengenai pembayaran digital QRIS di Indonesia umumnya berfokus pada faktor adopsi dan perilaku konsumen. Hamzah Muchtar et al. misalnya, menggunakan model UTAUT (Unified Theory of Acceptance and Use of Technolog. yang diperluas untuk menjelaskan niat konsumen mengadopsi QRIS sebagai pembayaran elektronik . -paymen. dan menemukan bahwa pengaruh sosial serta kondisi pendukung menjadi penentu utama adopsi. Penelitian lain oleh Parluhutan et al. menunjukkan bahwa penggunaan QRIS mendorong pergeseran dari transaksi tunai ke nontunai dan berpotensi meningkatkan frekuensi transaksi, sekaligus menimbulkan risiko perilaku konsumtif sehingga memerlukan penguatan literasi keuangan. Dari sisi pemetaan keilmuan, studi bibliometrik Triwahyudi & Yuhertiana . memperlihatkan bahwa riset QRIS selama 2018-2023 didominasi oleh kajian di sektor UMKM, kemudahan penggunaan, literasi keuangan, serta dampak ekonomi, dengan sedikit perhatian pada dimensi sosial-kultural dan pengalaman keseharian pengguna. Efriyanto et al. kemudian menghubungkan penggunaan QRIS dengan perilaku konsumtif mahasiswa di Depok, dan menemukan bahwa sistem pembayaran QRIS serta tingkat literasi keuangan berpengaruh signifikan terhadap perilaku konsumsi mereka. Setiawan et al. mempelajari adopsi fintech di kalangan perempuan Indonesia, di mana kemudahan penggunaan, kepercayaan, dan literasi keuangan disorot sebagai elemen penting yang memfasilitasi inklusi keuangan digital. Sejumlah penelitian sebelumnya mengenai QRIS di Indonesia umumnya masih berfokus pada aspek adopsi teknologi, perilaku konsumen, serta perspektif ekonomi dan manajerial, seperti penggunaan model UTAUT, literasi keuangan, dan peningkatan transaksi non-tunai. Pendekatan tersebut belum banyak menyoroti bagaimana teknologi pembayaran digital dimaknai dan terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari pengguna. Dalam konteks ini, kajian yang melihat QRIS sebagai bagian dari proses mediatisasi mendalam dalam membentuk identitas sosial, gaya hidup, dan relasi sosial, khususnya pada pekerja perempuan urban, masih Selain itu, penggunaan kerangka deep mediatization dan re-figuration of society dari Andreas Hepp . juga belum banyak diterapkan dalam studi pembayaran digital di Indonesia. Keadaan ini menjadi semakin kritis setelah pandemi COVID-19. Pandemi telah memfasilitasi dan mendorong penetrasi teknologi digital dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, termasuk pembayaran dan konsumsi (World Bank, 2. Banyak individu yang sebelumnya mengandalkan uang tunai mulai beralih ke transaksi digital demi keamanan dan QRIS menjadi semakin relevan sebagai solusi pembayaran tanpa kontak. Transformasi digital tersebut tidak hanya berkaitan dengan perubahan teknologi, tetapi juga menuntut adaptasi pengguna terhadap sistem baru, yang dalam banyak kasus memerlukan dukungan komunikasi yang efektif untuk membangun pemahaman dan kepercayaan (Octaviani, 2. Bagi pekerja perempuan di Plaza Senayan, adaptasi terhadap perubahan ini lalu direspons dengan cepat, dan menjadikannya sebagai elemen yang menyatu dengan identitas profesional dan rutinitas harian mereka. Secara spesifik kajian ini menyoroti pengalaman pekerja perempuan yang sehariharinya beraktivitas di area Plaza Senayan. Melalui pendekatan kualitatif, peneliti ingin menggali bagaimana mereka menggunakan dan memaknai QRIS, bukan hanya sebagai alat bayar, tetapi juga sebagai bagian dari identitas dan gaya hidup digital. Dengan memahami proses ini, kita bisa melihat lebih jelas bagaimana media digital seperti QRIS tidak hanya hadir Mediatisasi Pembayaran Digital QRIS dalam Kehidupan Pekerja Perempuan Urban di Plaza Senayan Agatha Tri Priharini. Aryo Subarkah Eddyono Jurnal Dinamika Ilmu Komunikasi ISSN: 2776-5490 - Vol. No. , 143-156 sebagai alat bantu, melainkan juga sebagai kekuatan sosial yang turut memengaruhi cara individu membentuk hubungan dengan dunia di sekitar mereka (Gasa et al. , 2. Berdasarkan uraian tersebut, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana penggunaan QRIS telah termediatisasi secara mendalam dalam kehidupan pekerja perempuan di kawasan Plaza Senayan serta bagaimana teknologi ini memengaruhi interaksi sosial, gaya hidup, dan identitas digital mereka. Sejalan dengan hal tersebut, tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengalaman pekerja perempuan Plaza Senayan dalam menggunakan QRIS sebagai bagian dari rutinitas harian, sekaligus memahami bagaimana teknologi ini membentuk pola konsumsi, relasi sosial, dan gaya hidup digital melalui kerangka teori deep mediatization dan re-figuration of society. Kerangka Teori Teori mediatisasi mendalam . eep mediatizatio. yang dikembangkan oleh Andreas Hepp . digunakan dalam penelitian ini sebagai kerangka konseptual untuk memahami peran media digital dalam membentuk kehidupan sosial masyarakat kontemporer. Dalam perspektifnya, mediatisasi tidak sekadar menggambarkan meningkatnya penggunaan media digital dalam kehidupan sehari-hari, tetapi sebuah proses historis yang jauh lebih mendalam ketika media digital telah membentuk ulang struktur sosial masyarakat. Hepp menyebut tahap ini sebagai deep mediatization, yaitu sebuah kondisi ketika media digital menjadi infrastruktur dasar kehidupan sosial, yang hadir, melekat, dan mengatur cara manusia untuk menjalani kehidupannya tanpa disadari. Dalam konteks ini, media digital tidak lagi berfungsi semata sebagai alat bantu komunikasi, melainkan sebagai lingkungan sosial yang membentuk cara individu berinteraksi, mengambil keputusan, dan memaknai identitas diri dalam kehidupan sehari-hari. Dalam praktiknya, kedekatan dengan teknologi membuat kehidupan sehari-hari perlahan mengikuti AuritmeAy yang ditentukan oleh media digital. Hepp menyebut pola ini sebagai logika media, yaitu cara kerja yang dibentuk oleh algoritme, kecepatan sistem dan kebiasaan digital yang alami tanpa disadari. Dari sini muncul berbagai pola sosial baru dalam bermasyarakat, seperti melakukan pembayaran tanpa uang tunai, semakin mengejar cara yang paling cepat dan praktis, dan keputusan berbelanja berubah hanya karena adanya tampilan aplikasi atau notifikasi promo yang muncul dalam aplikasi digital dan memengaruhi keputusan konsumsi pengguna. Pada akhirnya, teknologi tidak hanya memudahkan, tetapi perlahan membentuk cara kita beraktivitas dan mengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam konteks QRIS, logika media bekerja melalui integrasi teknis antarplatform, otomatisasi pembayaran, kemudahan penggunaan sistem pembayaran di berbagai aplikasi, hingga terciptanya standar baru dalam bertransaksi digital yang modern dan nyaman. Bagi perempuan urban. QRIS bukan hanya sebuah metode pembayaran, tetapi bagian dari infrastruktur sosial yang memudahkan mobilitas dan menandainya sebagai identitas kelas menengah yang adaptif dan digital-savvy. Hepp menjelaskan bahwa kondisi ini menghasilkan apa yang disebut sebagai refiguration of society, yaitu proses di mana masyarakat mengalami perubahan karena semakin bergantung pada media digital. Konsep re-figuration of society ini mencakup tiga aspek utama: perubahan dalam struktur sosial, pola interaksi, norma, dan nilai yang berlaku. bagaimana masyarakat merespons perubahan tersebut, baik menolak, menerima, atau menyesuaikan diri. bagaimana teknologi dan globalisasi berperan dalam mempercepat terjadinya perubahan tersebut. Dalam konteks transaksi digital, aspek pertama menyoroti bagaimana media digital mulai menggantikan kebiasaan lama dalam bertransaksi. Dalam konteks perkotaan, media Mediatisasi Pembayaran Digital QRIS dalam Kehidupan Pekerja Perempuan Urban di Plaza Senayan Agatha Tri Priharini. Aryo Subarkah Eddyono Jurnal Dinamika Ilmu Komunikasi ISSN: 2776-5490 - Vol. No. , 143-156 digital mulai menggantikan kebiasaan lama dalam bertransaksi dan membentuk norma baru yang menekankan efisiensi, kecepatan, dan kenyamanan. Namun, di balik kemudahan tersebut, teknologi seperti QRIS juga perlahan mengarahkan cara kita membentuk kebiasaan baru, membuat pilihan dan menjalani perilaku konsumsi sehari-hari. Dalam aspek respons terhadap perubahan, para pekerja perempuan tampak cukup adaptif terhadap kehadiran teknologi seperti QRIS. Mereka tidak sekadar mengikuti arus, tetapi juga memanfaatkan teknologi ini karena memang dirasa praktis dan sesuai dengan gaya hidup mereka yang cepat dan efisien. Ini menunjukkan bahwa teknologi digital tidak hanya diterima tetapi juga secara aktif direspon oleh penggunanya. Dalam aspek teknologi dan globalisasi. QRIS telah membuktikan bahwa transaksi digital kini telah melampaui batas lokal. QRIS sendiri didasarkan pada standar internasional EMVCo (EMVCo, 2. dan terhubung dengan QRIS Antar Negara, sehingga turis asing pun dapat menggunakan kode yang sama (Bank Indonesia, 2020. Liputan6, 2. Aktivitas konsumsi harian yang dimediasi oleh sistem pembayaran digital menjadi terhubung ke dalam jaringan ekonomi digital lintas negara. Bagi pekerja perempuan urban, dengan menggunakan QRIS memudahkan aktivitasnya dan mengintegrasikan mereka ke dalam masyarakat digital global. Sesuai dengan pandangan Hepp, globalisasi digital sering muncul dalam kebiasaan kecil tanpa disadari, seperti memindai kode di ponsel, atau melakukan transaksi dalam hitungan detik, sehingga menghubungkan mereka dengan laju masyarakat global yang serba cepat dan terintegrasi. Penggunaan QRIS bukan hanya bentuk adaptasi terhadap teknologi pembayaran, tetapi juga cerminan bagaimana praktik harian di lingkungan urban membawa individu ke dalam struktur sosial global. Dengan demikian, teori deep mediatization dan konsep re-figuration of society memberikan kerangka konseptual untuk memahami bagaimana teknologi pembayaran digital dapat diposisikan sebagai bagian dari proses perubahan sosial yang lebih luas, di mana praktik sehari-hari, relasi sosial, dan identitas individu dibentuk dalam keterhubungan dengan media Metodologi Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan sifat eksploratif untuk memahami pengalaman dan makna penggunaan QRIS dalam kehidupan sehari-hari pekerja perempuan di kawasan Plaza Senayan. Jakarta. Pendekatan ini dipilih karena memungkinkan peneliti menangkap narasi personal dan pemaknaan subjektif yang muncul dari interaksi informan dengan teknologi, aspek yang tidak dapat diungkap secara memadai melalui metode kuantitatif (Creswell, 2. Sesuai dengan paradigma interpretif-konstruktivis yang diusung oleh Lincoln & Guba . , penelitian ini memandang realitas sosial sebagai sesuatu yang bersifat jamak dan dikonstruksi melalui pengalaman serta interaksi individu. Lokasi penelitian dipilih karena Plaza Senayan merepresentasikan ruang kerja dan konsumsi kelas menengah yang modern, aktif, dan dekat dengan penggunaan teknologi. lokasi ini, penelitian melibatkan lima orang informan perempuan berusia antara 20 - 45 tahun dengan latar belakang profesi beragam, yaitu Senior Counsel. Office Coordinator. Administrasi. Tax Officer, serta Planner & Data Management. Informan-informan tersebut dipilih secara sengaja menggunakan teknik purposive sampling sehingga selaras dengan tujuan penelitian yang berdasar pada kriteria spesifik: . pengguna aktif QRIS dalam kehidupan sehari-hari, . telah bekerja di kawasan Plaza Senayan minimal enam bulan, dan . bersedia memberikan refleksi secara terbuka mengenai pengalaman penggunaan QRIS. Keberagaman latar belakang profesi dalam lingkungan kerja urban tersebut dipilih untuk memberikan dimensi data yang lebih variatif dan mendalam. Mediatisasi Pembayaran Digital QRIS dalam Kehidupan Pekerja Perempuan Urban di Plaza Senayan Agatha Tri Priharini. Aryo Subarkah Eddyono Jurnal Dinamika Ilmu Komunikasi ISSN: 2776-5490 - Vol. No. , 143-156 Dalam penelitian ini, wawancara mendalam digunakan untuk menggali pengalaman dan cara para informan memaknai QRIS dalam kehidupan sehari-hari. Pertanyaan wawancara disusun berdasarkan kerangka re-figuration of society dari Hepp . , yang tidak hanya mengulik aspek teknis penggunaan QRIS, tetapi juga bagaimana kehadiran teknologi ini dapat mengubah rutinitas dan pola interaksi sehari-hari, serta menautkan mereka pada ritme kehidupan global yang serba terhubung. Pendekatan ini memungkinkan peneliti menangkap dinamika mediatisasi secara alami sebagaimana dialami para pekerja perempuan dalam keseharian mereka. Data hasil wawancara kemudian dianalisis menggunakan pendekatan thematic analysis untuk mengidentifikasi pola makna yang berkaitan dengan praktik transaksi digital dan kehidupan sosial pekerja perempuan urban. Langkah analisis data dijalankan dengan menggunakan enam tahap analisis dari Braun & Clarke . Peneliti memulainya dengan tahap familiarisasi data, di mana transkrip hasil wawancara dari kelima informan dibaca secara mendalam agar peneliti bisa memahami pengalaman mereka secara menyeluruh. Setelah memahami data secara menyeluruh, proses berlanjut pada tahap kedua, yaitu perumusan kode awal guna mengidentifikasi unit makna maupun pernyataan penting yang relevan dengan fokus Selanjutnya pada tahap ketiga, peneliti mengelompokkan kode-kode tersebut menjadi beberapa tema berdasarkan kemiripan pola maknanya. Pada tahap keempat, peneliti melakukan peninjauan ulang seluruh potensi tema untuk menjamin kecocokannya dengan dinamika di Proses ini kemudian diteruskan ke tahap kelima, yaitu merumuskan definisi serta memberikan nama definitif bagi setiap tema utama yang muncul. Sebagai tahap terakhir, peneliti melakukan penulisan narasi interpretatif yang utuh sebagai representasi hasil keseluruhan dari penelitian ini. Proses coding dilakukan dengan menandai bagian-bagian penting dalam transkrip wawancara yang menunjukkan pengalaman informan terkait penggunaan QRIS dalam kehidupan sehari-hari, seperti aspek efisiensi waktu, kenyamanan tanpa membawa dompet, hingga ketergantungan pada perangkat gawai. Kode-kode awal tersebut kemudian dikelompokkan ke dalam kategori yang lebih luas berdasarkan kesamaan makna dan konteks pengalaman informan. Berdasarkan kerangka konsep re-figuration of society, proses tersebut menghasilkan tiga kategori tema utama, yaitu: . perubahan praktik transaksi dan pola konsumsi digital yang mencerminkan pergeseran struktur sosial, . adaptasi pekerja perempuan terhadap budaya pembayaran digital sebagai bentuk respons aktif agen, serta . keterhubungan gaya hidup urban dengan infrastruktur dan ekosistem digital dalam kehidupan sehari-hari. Tema-tema tersebut kemudian disusun menjadi narasi tematik yang menggambarkan bagaimana QRIS dimaknai sebagai bagian dari praktik transaksi yang terhubung dengan gaya hidup digital dan struktur sosial pekerja perempuan urban. Keabsahan data dalam penelitian ini dijaga melalui teknik member checking, yaitu proses verifikasi kembali hasil transkrip dan draf interpretasi awal kepada informan. Langkah ini dilakukan guna memastikan akurasi data agar tetap sesuai dengan pengalaman nyata yang dimaksudkan oleh mereka. Melalui cara tersebut, analisis yang dihasilkan dapat terus berpijak pada realitas pengalaman asli dari subjek penelitian. Selain itu, peneliti juga memperkuat validitas data dengan menerapkan prinsip credibility, dependability, dan confirmability dari Lincoln & Guba . Aspek credibility dicapai melalui pembacaan data secara berulang serta pengecekan kembali hasil interpretasi kepada informan lewat prosedur member checking. Sementara itu, dependability dijaga dengan mencatat seluruh proses penelitian secara sistematis dan kronologis sejak tahap wawancara hingga analisis data. Terakhir, confirmability dilakukan dengan menjaga objektivitas hubungan antara temuan riset, proses coding, dan data empiris hasil wawancara di lapangan. Mediatisasi Pembayaran Digital QRIS dalam Kehidupan Pekerja Perempuan Urban di Plaza Senayan Agatha Tri Priharini. Aryo Subarkah Eddyono Jurnal Dinamika Ilmu Komunikasi ISSN: 2776-5490 - Vol. No. , 143-156 Hasil dan Pembahasan Upaya yang dilakukan pada penelitian adalah untuk mendapatkan pemahaman bagaimana teknologi pembayaran digital QRIS telah termediatisasi secara mendalam dalam keseharian para pekerja perempuan di area Plaza Senayan. Jakarta. Temuan lapangan yang dikumpulkan pada tahun 2025 menunjukkan bahwa QRIS tidak hanya dipandang sebagai alat pembayaran praktis, tetapi juga telah menjadi bagian dari struktur sosial baru yang membentuk ulang interaksi, nilai, identitas, hingga gaya hidup pekerja urban. Fenomena ini semakin relevan mengingat penetrasi ekonomi digital yang terus meluas hingga awal tahun 2026. Analisis dalam bagian ini disusun secara bertahap, dimulai dari gambaran subjek dan pola penggunaan QRIS, kemudian ditelaah melalui kerangka deep mediatization dan refiguration of society dari Andreas Hepp . , dan akhirnya ditempatkan dalam dialog kritis dengan literatur terkait. Tabel 1. Profil Informan Informan Usia Pekerjaan Lama Bekerja di Area Plaza Senayan Manda Adhiati Ayu 36 Tahun 42 Tahun 33 Tahun Senior Counsel Office Coordinator Administrasi 9 Tahun 12 Tahun 7 Tahun Angela 27 Tahun Tax Officer 1 Tahun 9 bln Alvina 32 Tahun Planner & Data Management 2 Tahun Frekuensi Penggunaan QRIS di Area Plaza Senayan Hampir setiap hari kerja Ya, setiap hari kerja Ya, setiap hari kerja Sering terutama untuk membeli makan sehari-hari Cukup sering Sumber: Hasil Penelitian, 2025 Tabel di atas memperlihatkan keragaman latar belakang informan, seluruhnya adalah pengguna aktif QRIS setiap hari, terutama untuk kebutuhan konsumsi dan transaksi praktis di sekitar area Plaza Senayan. Data ini menjadi titik awal untuk memahami bagaimana QRIS berfungsi lebih dari sekadar alat pembayaran, tetapi juga sebagai bagian integral dari rutinitas Hasil wawancara menunjukkan bahwa seluruh informan menggunakan QRIS secara rutin untuk berbagai kebutuhan harian, mulai dari makan siang, belanja kebutuhan pribadi, hingga transaksi kecil lainnya. Kebiasaan ini perlahan menggantikan praktik lama membawa uang tunai atau kartu. Manda, misalnya menyebut QRIS sebagai sesuatu yang ringkas, dan nyaman karena mengurangi kebutuhan membawa dompet, meskipun ia sendiri tidak selalu memilih tempat berdasarkan ketersediaan QRIS. Ia menuturkan. AuQRIS itu ringkas banget, jadi nggak perlu membawa dompet ke mana-mana. Ay (Manda. Wawancara, 2. Adhiati menegaskan bahwa sejak mulai rutin menggunakan QRIS sekitar tahun 2020, ia cenderung memilih toko atau gerai yang menyediakan pembayaran digital karena jauh lebih praktis. AuKalau bisa pakai QRIS, saya pilih itu. Lebih cepat, nggak ribet, dan nggak perlu cari uang kecil lagi. Ay (Adhiati. Wawancara, 2. Ayu, yang sudah terbiasa menggunakan sejak masa pandemi, menilai QRIS sangat efisien karena tidak perlu mengambil uang tunai di ATM, mengingat sebagian besar merchant di tempatnya beraktivitas sudah menggunakan sistem pembayaran digital. Angela juga menekankan aspek kepraktisan, di mana transaksi bisa langsung dilakukan tanpa menunggu uang kembalian, dan menurutnya hampir semua pembayaran kini beralih ke QRIS sehingga mengubah kebiasaannya sehari-hari. Angela menyampaikan. AuHampir semua pembayaran di kantor sekarang menggunakan QRIS. Jadi kebiasaan saya juga berubah, rasanya jadi lebih Mediatisasi Pembayaran Digital QRIS dalam Kehidupan Pekerja Perempuan Urban di Plaza Senayan Agatha Tri Priharini. Aryo Subarkah Eddyono Jurnal Dinamika Ilmu Komunikasi ISSN: 2776-5490 - Vol. No. , 143-156 Ay (Angela. Wawancara, 2. Hal senada disampaikan Alvina, yang sejak pindah ke Jakarta merasa gaya hidupnya semakin terikat pada sistem pembayaran digital, karena cukup mengandalkan ponsel tanpa harus membawa dompet atau kartu. Temuan ini memperlihatkan adanya pola yang konsisten, di mana para pekerja perempuan di Plaza Senayan bukan hanya sekadar bisa menggunakan QRIS, tetapi telah menjadikannya sebagai preferensi utama untuk melakukan pembayaran. Mereka cenderung memilih gerai makan atau toko yang menerima QRIS dibandingkan tempat yang hanya mengandalkan transaksi tunai. Penggunaan QRIS juga merambah ruang sosial, obrolan tentang promo, cashback, atau potongan harga dari aplikasi penyedia QRIS sering menjadi topik percakapan sehari-hari di kantor. Dengan demikian. QRIS berfungsi bukan hanya sebagai instrumen teknis, melainkan juga sebagai pengikat dalam interaksi sosial dan pembentuk pola konsumsi baru di kalangan pekerja perempuan urban. Gambaran empirik ini menunjukkan bahwa QRIS telah melampaui fungsi teknisnya sebagai instrumen transaksi dan mulai berperan sebagai medium sosial-budaya yang menstrukturisasikan ulang aktivitas keseharian. Pada bagian berikutnya, temuan tersebut ditelaah melalui kerangka deep mediatization dan re-figuration of society, untuk menelusuri bagaimana perubahan ini terjadi dalam tiga dimensi utama. Dari sisi perubahan struktur sosial, temuan penelitian ini menunjukkan terbentuknya norma dan kebiasaan baru yang menempatkan efisiensi, kenyamanan, dan modernitas menjadi nilai dominan yang dilekatkan pada praktik konsumsi pekerja perempuan, terutama di kawasan perkotaan seperti Plaza Senayan. Uang tunai semakin tersisih dari rutinitas pembayaran, digantikan oleh pemindaian kode QR yang berlangsung dalam hitungan detik. Praktik belanja digital menunjukkan adanya pergeseran pola interaksi sosial, di mana proses transaksi yang sebelumnya melibatkan komunikasi verbal dan tatap muka kini semakin dimediasi oleh sistem daring yang minim interaksi langsung (Fariastuti, 2. Bagi para informan, kata normal berarti mampu melakukan pembayaran kapan saja, di mana saja, hanya dengan menggunakan Praktik konsumsi pun disusun ulang, di mana pilihan tempat makan, waktu istirahat, hingga pola belanja harian kini difilter oleh ketersediaan QRIS. Diskusi mengenai promo atau cashback menjadi bagian dari budaya kantor, memperlihatkan bagaimana pembayaran digital membentuk pola interaksi, mengikat individu dalam ritme kerja dan konsumsi yang seragam. Secara lebih spesifik, pergeseran struktur ini juga terlihat dari bagaimana ekosistem komersial di Plaza Senayan menuntut ritme aktivitas yang serbacepat, terutama pada jam istirahat kerja yang terbatas. Padatnya pembeli di gerai-gerai makanan favorit sering kali memicu antrean panjang yang mengular akibat lamanya durasi penyiapan makanan oleh pihak Dalam situasi struktural yang serbaterbatas ini, penggunaan QRIS oleh pekerja perempuan hadir sebagai strategi rasional untuk mempercepat proses transaksi di meja kasir. Dengan memotong waktu pembayaran dan menghindari proses pencarian uang kembalian, teknologi ini berkontribusi langsung dalam mengurai kepadatan antrean. Kondisi tersebut mengonstruksi norma baru di mana efisiensi transaksi digital dipahami sebagai pilihan paling logis bagi masyarakat urban demi memaksimalkan waktu istirahat mereka. Aspek kedua dalam perspektif re-figuration of society adalah bagaimana individu merespons perubahan dan teknologi baru. Temuan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa pekerja perempuan di kawasan Plaza Senayan merespons secara aktif dan reflektif terhadap perubahan teknologi tersebut. Mereka tidak hanya beradaptasi dengan transisi dari penggunaan uang tunai ke digital untuk pembayaran, namun juga menerapkan transisi digital ini ke dalam kehidupannya sehari-hari. Beberapa informan menganggap QRIS memudahkan segala urusan transaksi dan mereka kini tidak lagi bergantung pada mesin ATM apabila membutuhkan uang tunai ataupun uang receh. Angela juga menyampaikan bahwa ia sangat menyukai dengan Mediatisasi Pembayaran Digital QRIS dalam Kehidupan Pekerja Perempuan Urban di Plaza Senayan Agatha Tri Priharini. Aryo Subarkah Eddyono Jurnal Dinamika Ilmu Komunikasi ISSN: 2776-5490 - Vol. No. , 143-156 perubahan teknologi, karena menurutnya transformasi teknologi yang terjadi saat ini sangat membantunya untuk dapat menyelesaikan pekerjaannya dengan lebih cepat dan baik. Di sisi lain. Ayu menyampaikan bahwa baginya QRIS merupakan solusi praktis apabila dikaitkan dengan kebutuhan pembayaran dalam waktu terbatas terutama pada jam-jam sibuk harian di Dalam wawancara kebanyakan informan menyampaikan bahwa mereka enggan dan tidak nyaman untuk menggunakan cara pembayaran lama yang lebih lambat dan tidak efisien, sehingga mereka lebih memilih menggunakan pembayaran dengan QRIS. Hal ini bisa dikatakan bahwa transformasi teknologi yang terjadi telah dimanfaatkan secara aktif sebagai bagian dari rutinitas dan preferensi kebiasaan baru. Adaptasi terhadap QRIS ini pada kenyataannya membawa pengaruh yang cukup besar terhadap cara informan memandang diri mereka sendiri di ruang publik. Transaksi non-tunai telah menjadi simbol gaya hidup harian. Membuka aplikasi pembayaran di kasir mall terasa jauh lebih sesuai dengan citra pekerja kantoran yang dituntut serba cepat dan praktis. Sebaliknya, dompet yang penuh dengan uang tunai justru mulai dihindari karena dianggap dapat memperlambat proses transaksi. Dari sinilah terlihat bahwa penggunaan teknologi digital telah melekat erat pada identitas sosial para pekerja perempuan tersebut. Temuan ini selaras dengan pandangan Miller et al. tentang masyarakat digital yang aktif membangun makna atas teknologi yang mereka gunakan. Dengan kata lain, para informan tidak hanya menggunakan QRIS, tetapi secara bertahap menjadikannya standar baru dalam mengatur aktivitas, mengambil keputusan, dan menata ritme hidup urban yang serba Respons adaptif ini menunjukkan bahwa mediatisasi berlangsung melalui penerimaan nilai-nilai efisiensi, kepraktisan, dan kecepatan, yang kemudian dipahami sebagai bagian dari rutinitas keseharian. Dengan demikian, aspek respons teknologi pada penelitian ini memperlihatkan bagaimana para pekerja perempuan tidak hanya menyesuaikan diri, tetapi juga berkontribusi dalam membentuk budaya konsumsi dan gaya hidup digital di lingkungan kerja Komponen ketiga dari teknologi dan globalisasi terlihat dalam sejauh mana QRIS menghubungkan aktivitas sehari-hari pekerja perempuan di Plaza Senayan dengan ekosistem ekonomi digital yang lebih besar. Kerja sama sistem pembayaran lintas batas QR ASEAN menghasilkan akses bagi masyarakat Indonesia untuk menggunakan QRIS di negara lain seperti Thailand dan Malaysia, dan ini juga akan memperluas cakrawala transaksi di kawasan Asia Tenggara (Liputan6, 2. Fakta sederhana ini menunjukkan bahwa QRIS, pada kenyataannya, beroperasi tidak hanya sebagai teknologi pembayaran lokal, tetapi juga telah menjadi instrumen yang menghubungkan komunitas perkotaan dengan ekosistem ekonomi digital global. Salah satu informan. Angela, menceritakan pengalamannya menggunakan sistem pembayaran berbasis QR di luar negeri dan merasa pengalaman ini membuatnya lebih modern dan global. Pernyataan bahwa kini lebih menakutkan apabila ketinggalan ponsel dibandingkan dompet memperlihatkan betapa kuat ketergantungan pada perangkat digital sebagai pintu utama akses finansial. Penyebutan aplikasi seperti GoPay. OVO. DANA, dan LinkAja di dalam wawancara menunjukkan bahwa QRIS bukan berdiri sendiri, melainkan terjalin dalam ekosistem platform digital yang lebih luas. Dalam perspektif Hepp, kondisi ini merepresentasikan keterhubungan individu dalam jaringan global yang termediatisasi, di mana praktik lokal, seperti membeli kopi di Plaza Senayan, sesungguhnya terikat pada ritme ekonomi digital yang melampaui batas geografis. Proses re-figurasi ini juga tercermin dalam data makro. Bank Indonesia . mencatat jumlah pengguna QRIS mencapai sekitar 54,1 juta dengan lebih dari 34,7 juta merchant, serta pertumbuhan transaksi sebesar 183,9% year-on-year (YoY). Data serupa dilaporkan CNN Indonesia . yang menyebutkan pengguna QRIS telah menembus 54 juta per Oktober Mediatisasi Pembayaran Digital QRIS dalam Kehidupan Pekerja Perempuan Urban di Plaza Senayan Agatha Tri Priharini. Aryo Subarkah Eddyono Jurnal Dinamika Ilmu Komunikasi ISSN: 2776-5490 - Vol. No. , 143-156 Laporan lain menyebutkan nilai transaksi QRIS mencapai Rp 188,36 triliun pada September 2024 . umparanBISNIS, 2. , sementara catatan resmi Kementerian PAN-RB . menegaskan pertumbuhan transaksi YoY mencapai 226,54%, dengan pengguna sebanyak 50,5 juta dan merchant mencapai 32,7 juta. Melalui teori mediatisasi mendalam, angka-angka tersebut menunjukkan bahwa QRIS telah memperkenalkan norma baru untuk bertransaksi secara umum sebagai bagian dari infrastruktur sosial-ekonomi. Fondasi teknis QRIS yang berbasis internasional EMVCo (Europay. MasterCard, dan Vis. menjadi aspek utama pendominasian penggunaannya selain faktor jumlah pengguna dan merchant yang tinggi. Standar global ini memastikan QRIS memiliki interoperabilitas lintas platform dan negara sehingga mampu menghubungkan berbagai penyedia layanan pembayaran secara lebih luas (NFCW, 2. Dengan demikian. QRIS bukan hanya berfungsi sebagai standar nasional yang memudahkan transaksi domestik, tetapi juga memiliki kapasitas untuk berintegrasi dalam ekosistem pembayaran digital regional maupun global. Dalam kerangka refiguration of society, kondisi ini menunjukkan bagaimana pembayaran digital menghubungkan pengalaman mikro para pekerja perempuan di kawasan Plaza Senayan dengan konfigurasi makro ekonomi politik digital. Laporan CNBC Indonesia . menegaskan bahwa QRIS merupakan salah satu sistem pembayaran digital paling dominan di Indonesia, dengan pertumbuhan pengguna dan nilai transaksi yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Fakta ini menunjukkan bahwa kehadiran QRIS tidak hanya memperluas akses pembayaran non-tunai, tetapi juga mendorong perubahan perilaku konsumsi masyarakat urban menuju pola transaksi yang lebih efisien, transparan, dan terkoneksi dengan sistem ekonomi digital nasional. Dalam kerangka teori mediatisasi, hal ini membuktikan bahwa QRIS bukan sekadar instrumen finansial, tetapi juga medium sosial-budaya yang menata ulang relasi sosial, pola konsumsi, dan gaya hidup pekerja urban di era digital. Pada tahap ini, penting untuk melihat temuan lapangan dalam percakapan yang lebih luas dengan teori dan literatur kritis, karena penggunaan QRIS tidak hanya menghasilkan kemudahan transaksi, tetapi juga membawa konsekuensi sosial yang terasa dalam keseharian para pekerja perempuan. Informan memaknai QRIS bukan sekadar alat bayar, tetapi bagian dari citra profesional: cepat, efisien, dan AukekinianAy. Pilihan untuk memindai kode QR sering dipandang sebagai bagian dari gaya hidup kelas menengah urban yang menuntut kepraktisan dan mobilitas tinggi. Selaras dengan pemikiran Bauman . , bahwa pembentukan identitas masyarakat konsumsi banyak dibentuk melalui pilihan-pilihan simbolik yang kita tampilkan setiap hari. Maka dengan menggunakan QRIS merupakan sebuah pernyataan sosial bahwa seseorang terhubung dengan teknologi dan cukup adaptif untuk mengikuti arus modernitas. Penelitian juga menunjukkan munculnya kebiasaan baru yang tidak sepenuhnya bebas dari konsekuensi. Adhiati, misalnya, mengakui bahwa sekarang setelah dia memiliki QRIS dan semua kemudahan transaksi, dia menjadi agak lebih konsumtif. Lokasi kantornya yang bersebelahan dengan pusat perbelanjaan Plaza Senayan memperkuat kecenderungan ini, karena dia terus-menerus terpapar penawaran belanja yang mudah diakses dan dapat dibayar secara Kondisi ini menunjukkan tidak hanya bahwa mediatisasi digital terkait dengan efisiensi transaksi tetapi juga mekanisme konsumsi baru yang muncul berkaitan dengan citra diri dan status sosial. Hal ini konsisten dengan telaah Badrawani . , bahwa keputusan untuk menggunakan QRIS adalah fungsi dari kenyamanan, dukungan kebijakan, dan konteks pandemi yang mempercepat transisi ke sistem pembayaran tanpa kontak. Informan dalam penelitian ini juga mengakui bahwa sejak pandemi, mereka semakin mengandalkan QRIS karena alasan kebersihan dan efisiensi. Mediatisasi Pembayaran Digital QRIS dalam Kehidupan Pekerja Perempuan Urban di Plaza Senayan Agatha Tri Priharini. Aryo Subarkah Eddyono Jurnal Dinamika Ilmu Komunikasi ISSN: 2776-5490 - Vol. No. , 143-156 Seiring dengan perubahan perilaku konsumsi, para informan juga menghadapi tantangan teknis dan beberapa kekhawatiran baru. Kendala koneksi internet di gedung perkantoran yang tidak stabil beberapa kali sempat mengganggu kelancaran transaksi mereka. Begitu pula dengan masalah keamanan data serta risiko penipuan digital yang hingga kini masih terus mereka waspadai. Temuan ini mengonfirmasi pandangan Sebayang & Rahmawati . yang menunjukkan bahwa rasa aman memainkan peran penting dalam adopsi sistem pembayaran digital. Kekhawatiran mereka juga mengingatkan pada gagasan Couldry & Mejias . tentang kolonialisme data, yang menyoroti bagaimana platform digital mengumpulkan data pengguna sebagai bentuk praktik kapitalisme baru. Hal ini menjadi sangat penting karena isu penyalahgunaan data pengguna bukan sekedar masalah abstrak, namun merupakan masalah pragmatis untuk memutuskan apakah sistem QRIS akan berkelanjutan atau tidak. Jika disatukan, seluruh temuan lapangan memperlihatkan bahwa QRIS kini hadir bukan sekadar untuk membayar, tetapi ikut membentuk cara para pekerja perempuan menjalani harihari mereka. Teknologi ini masuk ke rutinitas kerja, mempengaruhi pilihan belanja, dan sedikit banyak mewarnai bagaimana mereka menunjukkan identitas diri sebagai pekerja urban yang serba cepat dan efisien. Cara mereka berbicara tentang promo, memilih tempat makan, hingga rasa tidak nyaman ketika harus kembali memakai uang tunai menunjukkan bahwa QRIS telah menjadi bagian dari pola hidup, bukan hanya alat transaksi. Melihat dari kacamata mediatisasi, peran QRIS tampak bergerak di dua lapis sekaligus. Selain memudahkan. QRIS juga mendukung terciptanya nilai-nilai baru tentang kepraktisan, kecepatan, dan modernitas yang kini dianggap wajar dalam kehidupan sehari-hari. QRIS sekarang berfungsi bukan hanya sebagai teknologi keuangan, tetapi sebagai jembatan simbolis antara gaya hidup digital kelas menengah yang semakin mapan di kota besar. Secara keseluruhan ditemukan bahwa penggunaan QRIS oleh pekerja urban perempuan di Kawasan Plaza Senayan merupakan contoh konkret dari proses deep mediatization sebagaimana dijelaskan oleh Hepp . Pertama, ada perubahan struktur sosial dan normanorma baru. Penguatan nilai modernitas pada transaksi digital seiring dengan hilangnya penggunaan uang tunai secara bertahap. Kedua, para informan mengungkapkan sikap adaptasi dan reflektif terhadap teknologi. QRIS tidak hanya diterima, namun sebagai bagian integral dari proses kerja mereka. Ketiga. QRIS memungkinkan untuk bertransaksi tanpa batas bagi pekerja perempuan yang menempatkannya dalam jaringan global yang terhubung, melalui interoperabilitas lintas platform dan integrasi pembayaran regional. Oleh karena itu, di dalam masyarakat yang semakin termediatisasi. QRIS tidak hanya mengubah metode transaksi tetapi juga membentuk identitas profesional, pola konsumsi dan hubungan sosial pekerja perkotaan. Kesimpulan Menurut yang ditemukan dalam penelitian ini, penggunaan QRIS oleh pekerja perempuan di area Plaza Senayan telah termediatisasi secara mendalam yang dapat diidentifikasi melalui cara bertransaksi, berinteraksi dan menetapkan identitas sosial. Melalui kerangka teori deep mediatization dan re-figuration of society. QRIS tidak hanya menggantikan uang tunai, tetapi juga membentuk kebiasaan konsumsi dan standar baru terkait kecepatan dan efisiensi, serta menciptakan pola hidup sosial yang konsisten dengan gaya hidup urban yang lebih sejalan dengan praktik kehidupan masa kini. Para informan melihat QRIS sebagai alat yang mempermudah, sekaligus sebagai bagian dari citra profesional dan praktik hidup digital yang melekat dalam keseharian mereka. Berbeda dengan mayoritas penelitian terdahulu yang cenderung menyoroti variabel adopsi dan perilaku konsumen dari sudut pandang teknis serta fungsional, studi ini mengungkap Mediatisasi Pembayaran Digital QRIS dalam Kehidupan Pekerja Perempuan Urban di Plaza Senayan Agatha Tri Priharini. Aryo Subarkah Eddyono Jurnal Dinamika Ilmu Komunikasi ISSN: 2776-5490 - Vol. No. , 143-156 dimensi lain dengan memposisikan QRIS sebagai infrastruktur media digital yang membentuk hubungan sosial, identitas kelas, dan gaya hidup pekerja perempuan urban. Secara teoretis, penelitian ini memperluas kajian mediatisasi melalui penerapan kerangka re-figuration of society dari Andreas Hepp untuk menelaah fenomena teknologi finansial di Indonesia. Temuan ini membuktikan bahwa 'logika media', seperti tuntutan efisiensi dan konektivitas, telah meresap ke dalam praktik ekonomi paling dasar, yang pada akhirnya merekonstruksi identitas kelas, gaya hidup, serta cara individu menjalin hubungan sosial di lingkungan perkotaan. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat diperluas ke wilayah urban lainnya, membandingkan pengalaman bagi pekerja lintas gender, meneliti interaksi QRIS terhadap kelas sosial, kebijakan pemerintah, serta perkembangan ekosistem pembayaran tingkat regional. Pendekatan lain juga dapat digunakan untuk memperkaya pemahaman mengenai bagaimana teknologi pembayaran membentuk pola konsumsi, relasi sosial dan pengalaman masyarakat yang semakin termediatisasi. Daftar Pustaka