Jurnal Studi Tindakan Edukatif Volume 1. Number 5, 2025 E-ISSN : 3090-6121 Open Access: https://ojs. id/jste/ Pengembangan Pembelajaran Matematika Berbasis Pendekatan Kontekstual untuk Meningkatkan Pemahaman Siswa di MIT AS Salam Ambon Apriani Wally1. Ai Maryani2 1 MIT AS Salam Ambon 2 MI Cireundeu Correspondence: Wallyapriani89@gmail. Article Info Article history: Received 12 Agust 2025 Revised 02 Sept 2025 Accepted 23 Sept 2025 Keyword: Classroom Action Research. Mathematics. Contextual Learning. Student Engagement. MI AS Salam Ambon. Teaching Strategies. ABSTRACT This Classroom Action Research (CAR) aims to enhance students' understanding of Mathematics at MI AS Salam Ambon by implementing a contextual learning approach. The research addresses the challenges faced by students in grasping mathematical concepts, especially in connecting abstract ideas with real-life situations. The contextual learning model, which links mathematical concepts to students' everyday experiences, fosters a deeper understanding and greater relevance of the subject. The study was conducted in two cycles, each involving planning, implementation, observation, and reflection. Data was collected through classroom observations, student assessments, and interviews. The findings show that the contextual approach significantly improved students' engagement and performance in Mathematics. Students became more motivated, active in learning, and better able to apply mathematical concepts to real-world problems. This research highlights the effectiveness of integrating real-life contexts into Mathematics instruction to make learning more meaningful and impactful. It also demonstrates how a wellstructured and reflective teaching approach can lead to improved student A 2025 The Authors. Published by PT SYABANTRI MANDIRI BERKARYA. This is an open access article under the CC BY NC license . ttps://creativecommons. org/licenses/by/4. INTRODUCTION Pendidikan Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang sangat penting dalam pengembangan keterampilan berpikir logis dan kritis pada siswa. Namun, kenyataannya, banyak siswa yang menghadapi kesulitan dalam memahami konsep-konsep matematika yang abstrak dan rumit. Di MI AS Salam Ambon, terdapat fenomena bahwa meskipun sudah diterapkan berbagai metode pembelajaran, sebagian besar siswa masih menunjukkan kesulitan dalam menyelesaikan soal-soal matematika yang membutuhkan pemahaman mendalam (Budi. Hal ini menunjukkan perlunya inovasi dalam pendekatan pembelajaran yang dapat menghubungkan konsep matematika dengan kehidupan sehari-hari siswa. Pembelajaran matematika di banyak sekolah, termasuk di MI AS Salam Ambon, seringkali masih mengandalkan metode konvensional seperti ceramah dan latihan soal tanpa memberikan konteks yang relevan dengan pengalaman nyata siswa. Hal ini menyebabkan siswa merasa kesulitan untuk melihat relevansi materi matematika dalam kehidupan mereka (Syahrial & Fadillah, 2. Penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran yang hanya berfokus pada teori tanpa mengaitkan materi dengan situasi yang dikenal siswa dapat menyebabkan siswa merasa tidak tertarik dan tidak termotivasi untuk belajar lebih jauh. Dalam konteks tersebut, penggunaan pendekatan pembelajaran yang lebih kontekstual menjadi sangat relevan. Pendekatan kontekstual mengharuskan guru untuk menyajikan materi dengan cara yang berkaitan langsung dengan situasi kehidupan siswa sehari-hari, sehingga siswa dapat Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 melihat penerapan nyata dari konsep matematika yang dipelajari. Hal ini juga akan meningkatkan motivasi siswa untuk lebih aktif dalam proses belajar (Sulaiman, 2. Model pembelajaran kontekstual memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif mereka. Namun, meskipun pendekatan kontekstual memiliki potensi yang besar, pelaksanaannya di lapangan masih menghadapi berbagai tantangan. Guru seringkali merasa kesulitan untuk mengaitkan materi matematika dengan konteks yang dekat dengan kehidupan siswa. Selain itu, keterbatasan sumber daya, seperti media pembelajaran yang tidak memadai dan waktu yang terbatas, juga menjadi faktor yang menghambat penerapan pendekatan ini secara optimal (Rani. Oleh karena itu, diperlukan pelatihan bagi guru untuk dapat mengembangkan pendekatan ini dengan lebih efektif. Selain itu, hasil belajar matematika di MI AS Salam Ambon juga menunjukkan bahwa siswa masih cenderung mengalami kesulitan dalam memahami konsep-konsep dasar matematika seperti perkalian, pembagian, dan geometri. Fenomena ini dapat dilihat dari hasil ujian yang menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara nilai rata-rata siswa dan standar kompetensi yang diharapkan dalam kurikulum (Fadillah & Achadi, 2. Hal ini menjadi indikasi bahwa terdapat kekurangan dalam metode pembelajaran yang diterapkan selama ini, sehingga perlu adanya pembaruan dalam pendekatan pembelajaran matematika. Salah satu strategi yang dapat meningkatkan pemahaman siswa adalah dengan memperkenalkan pembelajaran berbasis masalah . roblem-based learnin. Dalam model ini, siswa diberikan masalah yang relevan dengan kehidupan mereka dan diminta untuk menyelesaikannya dengan menggunakan konsep-konsep matematika yang telah dipelajari. Pendekatan ini terbukti dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam berpikir kritis dan memecahkan masalah secara sistematis (Suryadi, 2. Oleh karena itu, penting untuk mengintegrasikan model pembelajaran berbasis masalah dalam mata pelajaran matematika di MI AS Salam Ambon. Keterlibatan siswa dalam pembelajaran matematika sangat dipengaruhi oleh cara guru menyajikan materi. Pembelajaran yang monoton dan kurang menarik dapat menyebabkan siswa kehilangan minat dan motivasi untuk belajar. Penelitian menunjukkan bahwa salah satu faktor utama yang dapat meningkatkan keterlibatan siswa adalah penggunaan media pembelajaran yang bervariasi, seperti video, aplikasi, dan alat peraga yang dapat memvisualisasikan konsep-konsep matematika (Syurgawi & Yusuf, 2. Oleh karena itu, penting untuk memperkenalkan teknologi sebagai bagian dari strategi pembelajaran matematika di MI AS Salam Ambon. Tidak hanya itu, penting juga untuk mengembangkan karakter siswa dalam proses pembelajaran matematika. Pembelajaran matematika tidak hanya berfokus pada pemahaman konsep dan kemampuan berhitung, tetapi juga pada pengembangan sikap dan karakter siswa, seperti ketekunan, kejujuran, dan rasa ingin tahu. Penelitian menunjukkan bahwa karakter siswa dapat berkembang lebih baik jika pembelajaran dilakukan dengan cara yang menyenangkan dan melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran (Budi, 2. Oleh karena itu, pendekatan yang mengedepankan pengembangan karakter siswa dalam pembelajaran matematika sangat diperlukan. Dalam proses pembelajaran matematika, penting untuk mengingat bahwa setiap siswa memiliki cara belajar yang berbeda. Beberapa siswa mungkin lebih mudah memahami konsep matematika melalui visualisasi, sementara yang lain mungkin lebih tertarik dengan pendekatan praktis yang melibatkan aplikasi langsung dari konsep tersebut dalam kehidupan mereka. Oleh karena itu, pembelajaran matematika di MI AS Salam Ambon harus memperhatikan berbagai gaya belajar siswa agar dapat menjangkau semua siswa secara maksimal (Lail & Ali, 2. Pendekatan yang fleksibel akan membantu siswa dalam memahami materi matematika dengan cara yang paling sesuai dengan kebutuhan mereka. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 Selain itu, pemantauan dan evaluasi terhadap proses pembelajaran juga sangat penting untuk mengetahui sejauh mana siswa memahami materi yang diajarkan. Evaluasi yang tidak hanya mengandalkan ujian tertulis, tetapi juga pengamatan terhadap keterampilan problem solving siswa, akan memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai kemampuan siswa dalam matematika (Putra, 2. Evaluasi yang dilakukan secara menyeluruh ini akan membantu guru dalam merancang strategi pembelajaran yang lebih tepat sasaran. Kondisi sosial dan budaya siswa juga menjadi faktor yang mempengaruhi efektivitas pembelajaran matematika. MI AS Salam Ambon memiliki siswa dengan latar belakang yang beragam, sehingga sangat penting bagi guru untuk mempertimbangkan konteks sosial dan budaya mereka dalam merancang pembelajaran. Pendekatan kontekstual yang memperhatikan latar belakang budaya siswa akan lebih mudah diterima dan lebih efektif dalam membangun pemahaman mereka terhadap materi (Fitriani & Widiastuti, 2. Hal ini menegaskan bahwa konteks lokal perlu dipertimbangkan dalam setiap langkah pembelajaran matematika. Keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak-anak mereka juga berpengaruh pada hasil belajar siswa. Penelitian menunjukkan bahwa dukungan orang tua dalam belajar matematika sangat penting untuk meningkatkan pencapaian akademik siswa (Rahman, 2. Oleh karena itu, kerja sama yang baik antara sekolah dan orang tua sangat diperlukan untuk menciptakan lingkungan belajar yang mendukung keberhasilan siswa dalam pembelajaran matematika. Berdasarkan berbagai temuan tersebut, pembaruan dalam pendekatan pembelajaran matematika di MI AS Salam Ambon menjadi hal yang sangat mendesak. Pendekatan kontekstual, penggunaan teknologi, dan strategi pembelajaran berbasis masalah merupakan beberapa alternatif yang dapat diterapkan untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap matematika (Fachrudin, 2. Dengan penerapan strategi yang lebih inovatif, diharapkan siswa dapat lebih mudah memahami konsep-konsep matematika dan lebih termotivasi untuk Dalam rangka mencapai tujuan tersebut, guru di MI AS Salam Ambon perlu diberikan pelatihan yang memadai agar mereka dapat mengimplementasikan metode-metode pembelajaran yang lebih efektif. Pelatihan ini akan memberikan guru keterampilan dan pengetahuan untuk mengembangkan strategi yang lebih sesuai dengan kebutuhan siswa di masa kini (Rohman et al. , 2. Dengan peningkatan kualitas pengajaran, diharapkan hasil belajar matematika di MI AS Salam Ambon dapat mengalami peningkatan yang signifikan. Sebagai kesimpulan, pembaruan dalam metode dan pendekatan pembelajaran matematika di MI AS Salam Ambon sangat penting untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan siswa dalam matematika. Pendekatan kontekstual dan penggunaan teknologi dalam pembelajaran dapat memberikan dampak positif yang signifikan terhadap hasil belajar siswa, serta membantu mereka menghubungkan teori matematika dengan kehidupan sehari-hari mereka (Budi, 2. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi penerapan pendekatanpendekatan ini di MI AS Salam Ambon sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran matematika. RESEARCH METHODS Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK), yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi Matematika di MI AS Salam Ambon. PTK dipilih karena memungkinkan peneliti untuk secara langsung mengidentifikasi masalah yang ada dalam pembelajaran, mengimplementasikan tindakan perbaikan, serta menganalisis dampak dari tindakan yang dilakukan dalam siklus yang berulang. Penelitian ini terdiri dari dua siklus, yang masing-masing terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. PTK memberikan kesempatan bagi peneliti untuk terus melakukan perbaikan berkelanjutan terhadap pembelajaran yang sedang berlangsung (Kemmis & McTaggart, 2. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 Pada tahap pertama, peneliti bersama dengan guru merencanakan pembelajaran yang lebih kontekstual dan berbasis masalah. Pembelajaran kontekstual ini bertujuan untuk menghubungkan konsep matematika dengan pengalaman nyata siswa agar siswa dapat lebih mudah memahami materi dan melihat relevansinya dalam kehidupan sehari-hari. Selama perencanaan, peneliti menyusun langkah-langkah pembelajaran yang melibatkan berbagai media, seperti alat peraga, aplikasi, dan video yang relevan, untuk mendukung proses Selain itu, peneliti merancang soal-soal berbasis masalah yang dapat mendorong siswa untuk berpikir kritis dan menemukan solusi menggunakan konsep matematika yang telah dipelajari (Sulaiman, 2. Setelah perencanaan, tahap selanjutnya adalah pelaksanaan pembelajaran. Pada tahap ini, guru melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan kontekstual yang telah disiapkan sebelumnya. Siswa diberi kesempatan untuk berdiskusi, menyelesaikan masalah matematika yang berkaitan langsung dengan kehidupan mereka, serta bekerja sama dalam Selama pelaksanaan, peneliti mengamati dinamika kelas, tingkat partisipasi siswa, dan bagaimana siswa mengaplikasikan konsep matematika yang diajarkan. Selain itu, peneliti juga mengamati proses interaksi antara guru dan siswa serta proses diskusi kelompok yang terjadi selama pembelajaran berlangsung (Putra, 2. Tahap berikutnya adalah observasi. Pada tahap ini, peneliti dan guru mengamati secara langsung perilaku siswa selama proses pembelajaran. Observasi dilakukan untuk mencatat berbagai aspek penting, seperti tingkat keterlibatan siswa, keaktifan dalam diskusi, dan kemampuan mereka dalam menyelesaikan masalah matematika. Peneliti juga mencatat perubahan sikap siswa terhadap pembelajaran matematika, apakah mereka lebih tertarik dan termotivasi untuk belajar setelah diterapkan model kontekstual. Data yang diperoleh dari observasi ini digunakan untuk mengevaluasi keefektifan pembelajaran dan sebagai dasar untuk perbaikan pada siklus berikutnya (Syahrial & Fadillah, 2. Setelah setiap siklus selesai, peneliti melakukan refleksi untuk menilai hasil yang diperoleh. Refleksi dilakukan dengan cara menganalisis data dari hasil tes siswa, observasi selama pelaksanaan, dan catatan refleksi guru. Tujuan dari refleksi adalah untuk mengetahui apakah tujuan pembelajaran telah tercapai, apakah model pembelajaran kontekstual efektif dalam meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi matematika, serta untuk mengidentifikasi tantangan yang dihadapi selama proses pembelajaran. Berdasarkan hasil refleksi ini, perbaikan dilakukan pada siklus berikutnya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan memperbaiki aspek-aspek yang masih kurang efektif. Evaluasi ini juga memberikan gambaran yang lebih jelas tentang bagaimana siswa dapat lebih memahami dan mengaplikasikan matematika dalam kehidupan nyata (Rohman et al. , 2. RESULTS AND DISCUSSION Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi Matematika di MI AS Salam Ambon dengan penerapan model pembelajaran kontekstual. Temuan utama yang diperoleh menunjukkan bahwa siswa yang sebelumnya merasa kesulitan dalam memahami konsep matematika menjadi lebih aktif dan termotivasi setelah penerapan pembelajaran Dalam siklus pertama, siswa menunjukkan minat yang lebih tinggi terhadap pembelajaran Matematika yang mengaitkan konsep-konsep dengan kehidupan sehari-hari Hal ini sejalan dengan penelitian yang menunjukkan bahwa pembelajaran kontekstual dapat meningkatkan motivasi dan keterlibatan siswa dalam belajar (Budi, 2. Meskipun demikian, terdapat beberapa kendala terkait waktu yang terbatas untuk diskusi kelompok dan keterbatasan media pembelajaran yang mendukung. Pada siklus kedua, peneliti dan guru melakukan perbaikan dengan memberikan lebih banyak waktu untuk diskusi kelompok dan memperkenalkan berbagai media pembelajaran, seperti aplikasi matematika dan alat peraga. Hasilnya, siswa menunjukkan peningkatan signifikan Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 dalam pemahaman mereka terhadap konsep matematika. Mereka tidak hanya lebih aktif dalam diskusi, tetapi juga dapat mengaitkan pembelajaran matematika dengan pengalaman seharihari mereka, seperti perhitungan uang dalam kegiatan belanja atau mengukur panjang dan luas ruang di rumah (Sulaiman, 2. Penerapan pembelajaran berbasis konteks nyata ini terbukti meningkatkan pemahaman konseptual dan aplikasi matematika siswa. Selain itu, pembelajaran kontekstual memberikan dampak positif terhadap kemampuan problem-solving siswa. Pembelajaran yang berbasis masalah memungkinkan siswa untuk bekerja sama dalam menyelesaikan soal-soal matematika yang relevan dengan kehidupan Penelitian menunjukkan bahwa model ini dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa dalam menghadapi masalah yang lebih kompleks (Fitriani & Widiastuti, 2. Dalam penelitian ini, siswa di MI AS Salam Ambon mampu menyelesaikan soal-soal matematika dengan cara yang lebih sistematis dan kreatif setelah diberikan masalah yang berkaitan dengan konteks kehidupan nyata. Peningkatan yang signifikan juga terjadi pada pengembangan keterampilan sosial siswa. Diskusi kelompok yang dilakukan selama pembelajaran matematika berbasis kontekstual memberi ruang bagi siswa untuk saling bertukar ide dan bekerja sama dalam menyelesaikan Hasil observasi menunjukkan bahwa siswa menjadi lebih kooperatif dan lebih terbuka dalam berinteraksi dengan teman sekelas mereka. Keterampilan sosial seperti ini sangat penting dalam perkembangan pribadi siswa, karena mereka belajar untuk bekerja dalam tim dan menghargai pendapat orang lain (Rahman, 2. Pembelajaran yang berbasis diskusi ini membantu membangun rasa percaya diri dan kemampuan komunikasi siswa. Namun, meskipun terdapat peningkatan yang signifikan, beberapa siswa masih mengalami kesulitan dalam memahami konsep matematika yang lebih abstrak, seperti aljabar dan Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa beberapa siswa belum sepenuhnya menguasai konsep dasar matematika yang diperlukan untuk memahami materi yang lebih kompleks. Oleh karena itu, untuk mengatasi masalah ini, guru perlu memberikan penguatan lebih lanjut pada konsep-konsep dasar matematika yang menjadi fondasi bagi pemahaman konsep yang lebih lanjut (Fadillah & Achadi, 2. Penguatan konsep dasar sangat penting agar siswa dapat memahami topik yang lebih sulit dengan lebih mudah. Meskipun demikian, penerapan model pembelajaran kontekstual telah berhasil meningkatkan keterlibatan siswa dalam pembelajaran matematika secara keseluruhan. Siswa yang sebelumnya cenderung pasif dalam pembelajaran matematika, kini lebih aktif bertanya dan berdiskusi dalam kelompok. Penelitian sebelumnya juga menunjukkan bahwa pembelajaran yang menghubungkan materi dengan konteks kehidupan nyata dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep-konsep yang sulit (Putra, 2. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa pembelajaran kontekstual dapat mengatasi tantangan dalam pembelajaran matematika yang terkesan abstrak dan jauh dari kehidupan sehari-hari siswa. Salah satu hasil yang sangat positif adalah meningkatnya rasa percaya diri siswa dalam menyelesaikan soal matematika. Pada siklus pertama, banyak siswa yang merasa cemas atau takut saat menghadapi soal-soal matematika. Namun, setelah diterapkan pembelajaran kontekstual, siswa menjadi lebih percaya diri dalam mencoba menyelesaikan soal-soal matematika, bahkan yang sebelumnya dianggap sulit. Penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran yang memberi kesempatan siswa untuk menghubungkan materi dengan pengalaman nyata dapat mengurangi kecemasan belajar dan meningkatkan rasa percaya diri siswa (Suryadi, 2. Dari hasil tes yang dilakukan pada akhir siklus kedua, terlihat bahwa sebagian besar siswa berhasil mencapai standar kompetensi yang diharapkan dalam kurikulum. Siswa tidak hanya mampu menjawab soal-soal matematika dengan benar, tetapi juga dapat menjelaskan langkahlangkah yang mereka lakukan dalam menyelesaikan soal. Hal ini menunjukkan bahwa pemahaman mereka terhadap konsep-konsep matematika telah meningkat secara signifikan Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 setelah pembelajaran berbasis kontekstual diterapkan (Lail & Ali, 2. Peningkatan ini menggambarkan efektivitas model kontekstual dalam membantu siswa memahami materi dengan lebih baik. Selain itu, penggunaan teknologi dalam pembelajaran matematika juga menunjukkan hasil yang positif. Beberapa aplikasi pembelajaran matematika yang digunakan selama pembelajaran dapat membantu siswa memahami konsep-konsep yang abstrak dengan cara yang lebih interaktif. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa penggunaan teknologi dalam pembelajaran matematika dapat meningkatkan minat dan motivasi siswa dalam belajar (Syahrial & Fadillah, 2. Di MI AS Salam Ambon, siswa menjadi lebih tertarik untuk menggunakan aplikasi ini di luar jam pembelajaran untuk berlatih soal matematika, yang menandakan bahwa teknologi dapat memperkuat pembelajaran matematika. Penerapan model kontekstual juga berkontribusi pada pengembangan karakter siswa, terutama dalam aspek ketekunan dan tanggung jawab. Siswa yang sebelumnya mudah menyerah saat menghadapi kesulitan dalam matematika, kini menunjukkan sikap yang lebih gigih dan bertanggung jawab dalam menyelesaikan soal-soal. Pembelajaran yang mengharuskan siswa untuk mencari solusi dalam konteks yang mereka kenal membuat mereka lebih terlibat dan lebih bertanggung jawab dalam proses belajar (Budi, 2. Pengembangan karakter ini penting untuk mencetak siswa yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki sikap positif terhadap pembelajaran. Pada akhir penelitian, sebagian besar siswa menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Peningkatan ini tercermin dari hasil tes, observasi, dan refleksi terhadap sikap siswa dalam pembelajaran. Pembelajaran berbasis kontekstual terbukti efektif dalam menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, memotivasi siswa untuk lebih aktif, dan membantu mereka memahami materi matematika dengan lebih baik (Rohman et al. , 2. Oleh karena itu, model pembelajaran ini sangat direkomendasikan untuk diterapkan lebih luas di sekolah-sekolah lain. Secara keseluruhan, temuan penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran kontekstual dalam pembelajaran matematika di MI AS Salam Ambon membawa dampak yang sangat positif bagi pemahaman dan keterampilan siswa dalam matematika. Pembelajaran kontekstual tidak hanya meningkatkan pemahaman kognitif, tetapi juga mengembangkan karakter dan keterampilan sosial siswa, yang sangat penting dalam pembelajaran matematika dan kehidupan sehari-hari. CONCLUSION Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di MI AS Salam Ambon, dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran kontekstual dalam mata pelajaran Matematika berhasil meningkatkan pemahaman dan keterlibatan siswa. Model pembelajaran ini memungkinkan siswa untuk mengaitkan konsep-konsep matematika dengan kehidupan sehari-hari mereka, sehingga pembelajaran menjadi lebih relevan dan menarik. Siswa yang sebelumnya merasa kesulitan dengan materi matematika yang abstrak, menjadi lebih aktif dalam proses belajar dan lebih termotivasi untuk memahami konsep-konsep yang diajarkan. Pendekatan ini juga terbukti meningkatkan kemampuan problem-solving siswa, yang merupakan keterampilan penting dalam matematika. Selain itu, penggunaan media pembelajaran yang mendukung, seperti aplikasi matematika dan alat peraga, turut memperkaya pengalaman belajar siswa dan memperjelas pemahaman mereka terhadap konsep-konsep yang lebih kompleks. Pembelajaran berbasis kontekstual juga berhasil meningkatkan keterampilan sosial siswa, karena mereka lebih aktif berdiskusi dan bekerja sama dalam kelompok, yang membantu mereka mengembangkan keterampilan komunikasi dan kolaborasi. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 Meskipun terdapat peningkatan yang signifikan dalam pemahaman siswa, beberapa tantangan masih ada, seperti kesulitan sebagian siswa dalam memahami konsep-konsep matematika yang lebih abstrak, seperti aljabar dan geometri. Oleh karena itu, diperlukan penguatan lebih lanjut terhadap konsep-konsep dasar matematika untuk membantu siswa memahami materi yang lebih kompleks. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran matematika berbasis kontekstual dapat meningkatkan motivasi, keterlibatan, dan pemahaman siswa. Oleh karena itu, model pembelajaran ini dapat diterapkan lebih luas di sekolah-sekolah lain untuk meningkatkan kualitas pembelajaran matematika dan membekali siswa dengan keterampilan yang lebih aplikatif dalam kehidupan nyata. REFERENCES