Jaringan dan Kiprah Orang Arab di Teluk Palu, 1830-1930 Mohammad Sairin Jaringan dan Kiprah Orang Arab di Teluk Palu, 1830-1930 Mohammad Sairin1 Sejarah Peradaban Islam. IAIN PALU mohammadsairin@gmail. Article history Submitted Accepted Published Abstract: This paper discusses the life of Arabs in Palu Bay in 1830-1930. There are two aspects that must be investigated, namely how the Arabs network in Palu Bay and how they contribute to the community in Palu Bay. This paper used historical method by using oral sources and written sources. Oral sources are through interviews with Arab families in Palu while written sources were archives of official colonial government publications, manuscripts, books, journals and scientific works. The findings in this study are: First. Arabs in Palu Bay have kinship networks and trade networks with other regions in the archipelago such as Makassar. Manado. Bolaang Mongondow. Buol. Tomini Bay. Java. Kalimantan and Singapore. They also formed a kinship network by marrying local noblewomen. Second, the gait and contribution of Arabs in Palu Bay can be seen from their activities in the field of da'wah and Islamic symbols, politics, and the economy. Their presence has left a cultural heritage, including mosques, schools, and maulid ceremonies. Keywords: Arab people, network. Palu Bay Abstrak: Tulisan ini membahas tentang kehidupan orang Arab di Teluk Palu dalam kurun waktu satu abad, 1830-1930. Ada dua aspek yang diteliti, yaitu bagaimana jaringan orang Arab di Teluk Palu dan bagaimana kiprah mereka bagi masyarakat di Teluk Palu. Metode sejarah digunakan dalam tulisan ini dengan menggunakan sumber lisan dan sumber tulisan. Sumber lisan melalui wawancara dengan keluarga Arab di Palu sementara sumber tulisan berupa arsip publikasi resmi pemerintah kolonial, naskah dan manuskrip, buku, jurnal dan karya ilmiah. Temuan dalam penelitian ini yaitu: Pertama, orang Arab di Teluk Palu memiliki jaringan kekerabatan dan jaringan dagang dengan wilayah lainnya di nusantara seperti Makassar. Manado. Bolaang Mongondow. Buol. Teluk Tomini. Jawa. Kalimantan dan Singapura. Mereka juga membentuk jaringan kekerabatan dengan cara menikah dengan perempuan bangsawan Kedua, kiprah dan kontribusi orang Arab di Teluk Palu dapat dilihat dari aktivitas mereka di bidang dakwah dan syiar Islam, bidang politik, dan bidang ekonomi. Kehadiran mereka telah meninggalkan warisan budaya, antara lain berupa masjid, madrasah dan perayaan maulid. Kata Kunci: Orang Arab. Jaringan. Kiprah. Teluk Palu P-ISSN 2798-186X E-ISSN 2798-3110 A 2021 author. Published by SPI FAB IAIN Surakarta, this is an open-access article under the CC-BY-SA license. Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 02 No. 01 Juni 2021 | 1-81 Pendahuluan Ada periode yang hilang dalam studi sejarah orang Arab di Teluk Palu. Sejauh ini, kajian tentang orang Arab lebih banyak menyoroti kehidupan mereka di Palu setelah tahun 1930, khususnya ketika Sayyid Idrus bin Salim Aljufri (Guru Tu. mendirikan madrasah Alkhairaat. Sementara periode sebelumnya masih belum banyak diteliti oleh sejarawan. Ada beberapa literatur yang telah menuliskan tentang kehadiran orang Arab di Teluk Palu sebelum Guru Tua seperti Popy Nursiah. Haliadi Sadi dan Samsuri serta beberapa tulisan Jefrianto di koran. Tulisan mereka antara lain menyoroti tentang kedatangan orang Arab, biografi dan peran tokoh Arab di Teluk Palu, namun tulisan-tulisan tersebut belum melihat jaringan orang Arab di Teluk Palu maupun dengan wilayah lainnya. Tulisan ini ingin menghadirkan sejarah orang Arab dengan fokus penelitian pada jaringan dan kiprah orang Arab di Teluk Palu. Secara konseptual, jaringan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah relasi yang dimiliki oleh seorang aktor atau tokoh dengan individu lain. Relasi yang membentuk jaringan ini diciptakan, dipelihara dan dimanfaatkan ketika perlu. 70 Jaringan tersebut berupa jaringan kekerabatan, jaringan perdagangan serta jaringan politik. Namun demikian, jika hanya menggunakan konsep jaringan saja, tulisan ini terasa kurang menjelaskan dinamika sejarah orang Arab itu sendiri. Oleh karena itu, dipandang perlu untuk melihat kiprah sehingga dinamika sejarah yang dimaksud dapat terlihat nantinya. Untuk itu, kiprah sebagai sebuah konsep diartikan tindakan, aktivitas, kemampuan kerja, reaksi, cara pandang seseorang terhadap ideologi dan institusinya. Periodisasi tulisan ini mencakup waktu satu abad, antara tahun 1830-1930. Tahun 1830 ditemukan fakta bahwa orang Arab yang bermukim di Teluk Palu semakin banyak jumlahnya. Penulis menduga, bila keberadaan Pelabuhan Donggala sebagai salah satu pelabuhan penting yang berada di jalur pelayaran Selat Makassar sebagai salah satu penyebabnya. Sepanjang abad XIX hingga tiga dekade awal abad XX, bahkan hingga kini, kiprah orang Arab diberbagai bidang kehidupan terlihat nyata. Namun demikian, periodisasi tulisan ini dibatasi sampai tahun 1930, ketika Guru Tua mendirikan Alkhairaat di Palu. Berdasarkan pernyataan di atas, maka tulisan ini menggunakan metode sejarah dengan sumber utamanya yaitu sumber lisan dan sumber tulisan. Kedatangan dan Jaringan Orang Arab di Teluk Palu. Informasi tentang kedatangan orang Arab di Teluk Palu dapat ditelusuri dari sebuah tradisi lisan di Tawaeli. Isinya mengisahkan kedatangan Syekh Husain bin Jalaluddin Al-Idrus. Masyarakat setempat mengenal beliau dengan sebutan Toposakaya Ompa, artinya orang yang berperahu tikar. Sebutan itu didasarkan pada cerita rakyat di Tawaeli bahwa ia datang berlabuh di Pelabuhan Ipi Kadongo dengan menggunakan sehelai tikar. Beliau diterima dengan baik oleh masyarakat, sebab Syekh Husain memiliki darah Tawaeili dari pihak ibunya. Ayahnya bernama Syekh Jalaluddin berasal dari Baghdad. Sementara ibunya adalah putri Daeng Ligude, adik Magau . Tawaeili Yuntonulembah. Dikisahkan. Daeng Ligude seorang perantau dari Tawaeli yang kemudian menikahi putri Sultan Johor. Pernikahan ini menurunkan seorang putri yang kemudian menikah dengan Syekh Jalaluddin. Mereka menurunkan dua orang anak laki-laki. Husain yang datang ke Tawaeli serta Alwi yang melanjutkan perjalanan ke Ternate. Kedatangan Syekh Husain Jalaluddin Al-Idrus ke Tawaeli pada saat pemerintahan magau perempuan Heddy Shri Ahimsa Putra. AuPrologue. Dari Ekonomi Moral. Rasional. Ke Politik UsahaAy dalam Heddy Shri Ahimsa Putra . Ekonomi Moral. Rasional dan Politik dalam Industri Kecil di Jawa. (Yogyakarta: Kepel Press, 2. , 89 Poerwadarminta. Kamus Besar Bahasa Indonesia. (Jakarta: Balai Pustaka, 1. , 35 Lihat Kuntowijoyo. Pengantar Ilmu Sejarah (Yohyakarta: Tiara Wacana, 2. , 66-69. Jaringan dan Kiprah Orang Arab di Teluk Palu, 1830-1930 Mohammad Sairin bernama Mariama, kira-kira pada akhir abad-18 atau awal abad 19. Husain Al-Idrus merupakan mubaligh yang menjadi pembawa ajaran tarekat pertama kali di Tawaeli. Kedatangan orang Arab lainnya yang terekam dalam tradisi lisan adalah kedatangan Sayyid Umar di Tatanga sekitar tahun 1790 . 74 Ia seorang keturunan Arab Cikoang di Sulawesi Selatan. Silsilah lengkapnya Sayyid Umar bin Rahmatullah bin Ali Akbar bin Umar bin Jalaluddin Bafaqih al-Aidid. Sayyid Umar kemudian menikah dengan seorang putri bangsawan Palu dari daerah Tatanga bernama Daendilidja. Ayah Daendilidja bernama Daeng Palili menjabat sebagai Madika Malolo Kerajaan Palu. Dalam struktur birokrasi Palu. Madika Malolo merupakan jabatan tertinggi setelah Magau (Raj. Tugasnya sebagai wakil raja. Dari pernikahan Sayyid Umar dengan Daendilidja menurunkan tiga orang anak, yaitu: Syarifa (Sarip. Intan. Daendisenga dan Sayyid Ali Akbar. Daendisenga menikah dengan pendatang Arab lainnya yang masih memiliki hubungan kerabat jauh sesama keturunan Sayyid Jalaluddin di Cikoang bernama Sayyid Abdullah Bafaqih. Pernikahan Daendisenga dengan Sayyid Abdullah Bafaqih menurunkan seorang putra bernama Sayyid Muhammad Nur yang lebih dikenal dengan gelar Karaeng Putih. Sementara anak lelaki Sayyid Umar. Sayyid Ali Akbar lalu berdakwah dan menikah dengan perempuan Bumiputra di Kampung Baru dan menurunkan dua orang anak. Fatimah dan Sayyid Muhammad Baso. Setelah kedatangan Sayyid Umar, adik sepupunya bernama Sayyid Bahrullah juga menyusul datang ke Palu sekitar tahun 1840. Antara ayah Sayyid Umar dan ayah Sayyid Bahrullah bersaudara Silsilah lengkapnya. Sayyid Bahrullah bin Atiqullah bin Ali Akbar bin Umar bin Jalaluddin alAidid. Menurut tradisi lisan keluarga, kedatangan Sayyid Bahrullah di Palu atas undangan dari bangsawan Palu untuk melawan para perompak dan Sayyid Bahrullah mampu menumpas para perompak Oleh karena dianggap berjasa menumpas perompak. Sayyid Bahrullah lalu dinikahkan dengan wanita bangsawan Palu bernama Bunga Ria yang bergelar Pue Bungu. Bunga Ria adalah putri Pue Tengko yang menjabat sebagai Galara Mangasa di Kerajaan Palu. 76 Pada struktur birokrasi tradisional Kerajaan Palu, seorang Galara Mangasa bertugas sebagai pengambil kebijakan dalam persoalan hukum. Sayyid Bahrullah bermukim di Boyantongo (Kampung Bar. , hingga beliau wafat sekitar tahun 1888, pada usia yang telah mencapai 89 tahun. Pernikahan Sayyid Bahrullah al-Aidid dengan Pue Bungu menurunkan dua orang anak perempuan dan enam orang anak laki-laki. Salah seorang anak laki-laki mereka meninggal masih kecil, sehingga tersisa lima orang anak laki-laki yang meneruskan Pertama. Sayyid Muhyiddin bergelar Karaeng Tanahlapang Boyantongo (Kampung Bar. , ia berdakwah di Kampung Baru, wilayah Sigi. Sidondo. Pakuli, sampai Kulawi, ia menikah lima kali dan wafat di Kampung Baru tahun 1932. Anak laki-lakinya yang meneruskan nasab adalah Sayyid Mustafa. Kedua. Sayyid Mohammad Din yang bergelar Karaeng Paleleh karena memilih berdakwah di Paleleh. Buol walaupun dikemudian hari ia kembali bermukim di Besusu hingga wafat tahun 1948. Anak laki-laki beliau yang meneruskan nasab adalah Sayyid Muhlasa. Ketiga. Sayyid Muhammad Syah Moh. Noor Lembah. AuSilsilah Kita SantinaAy Tawaeli, 22 Juli 1985. Menurut tradisi lisan keluarga, kedatangan Sayyid Umar ke Palu diperkirakan sekitar tahun 1790. Namun mengingat jarak waktu antara kedatangan Sayyid Umar dengan kedatangan adik sepupunya sekitar tahun 1840, serta tahun wafatnya Daeng Palili . ertua Sayyid Uma. pada tahun 1855, maka diduga kuat waktu kedatangan Sayyid Umar sekitar awal abad ke-19. Wawancara dengan Makmur Daeng Sau . Zulfaqar Bafaqih . dan Randy Ibrahim Bafaqih . di Besusu, 8 Maret 2020. Moh Noor Lembah, op. Wawancara dengan Makmur Daeng Sau . Zulfaqar Bafaqih . dan Randy Ibrahim Bafaqih . di Besusu, 8 Maret 2020 Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 02 No. 01 Juni 2021 | 1-81 bergelar Karaeng Pelawa, menikah dan bermukim di Pelawa. Parigi. Wafat pada tahun 1966 dalam usia mencapai satu abad. Ia memiliki tiga orang putra. Sayyid JaAofar. Sayyid Husein dan Sayyid Muhammad. Keempat. Sayyid Mohammad Amin bergelar Karaeng Loro-loro. Gelar tersebut, diberikan karena beliau sering menggunakan baju bermotif garis-garis atau loro-loro, ia bermukim di Besusu dan wafat tahun Ia menikah dua kali. Istri terakhirnya Kadihani putri dari Tanigau (Pue Kat. Putra laki-lakinya bernama Sayyid Ali. Kelima. Sayyid Abdul Rasyid bergelar Karaeng Tiba, yang berdakwah di wilayah Sidondo. Sigi. Ia tinggal di Sidondo lalu dimasa tua kembali bermukim di Besusu hingga wafat tahun Istri terakhirnya. Pue Yabosia, adalah anak dari bangsawan Besusu Pue Ramasi (Tupu Bur. memiliki lima orang anak laki-laki, yaitu Sayyid Samanuddin. Sayyid Ali. Sayyid Hasyim. Sayyid Ishak dan Sayyid Fasawa. 77 Selain gelar Tuan, mereka dipanggil dengan gelar karaeng, sebab leluhur mereka telah menikah dengan bangsawan Makassar. Pendatang Arab lainnya yang diketahui menikah dengan bangsawan setempat dijumpai pula di Kerajaan Parigi yang bertetangga dengan Kerajaan Palu dan Tawaeli. Seorang pedagang Arab bernama Abdullah bin Umar bin Umair Badjeber menikah dengan putri raja. Istrinya bernama Alusi adalah putri Raja Muhammad Ali atau Sawali . emerintah 1863-1. Abdullah Badjeber berprofesi sebagai Ia kemudian membawa istrinya bermukim di Ampana, sebuah kota kecil di pesisir Timur Teluk Tomini. Menurut tradisi lisan keluarga. Abdullah Bedjeber kembali ke Hadhramaut dan tak pernah lagi ke Sulawesi. Sementara istrinya. Alusi Raja Ali wafat di Ampana pada 9 September 1948. Dari pernikahan ini menurunkan enam orang anak, yaitu: Said. Muhammad. Ahmad. Hadi. Salma dan Ali. Pada akhir abad ke-19, kerabat Sayyid Umar dan Sayyid Bahrullah berasal dari Cikoang tiba di Teluk Palu. Mereka adalah Sayyid Ibrahim beserta Sayyid Muhammad Tafsir. Sayyid Sahabuddin dan Sayyid Madina. Tiga nama yang disebut terakhir adalah putra Sayyid Karimullah bin Sayyid Jalilullah bin Sayyid Muhammad Sakran bin Sayyid Shahabuddin bin Sayyid Jalaluddin. Ketiganya lalu memilih untuk menetap dan berdakwah di Pinotu, sebuah kampung di pesisir Barat Teluk Tomini, wilayah Kabupaten Parigi Moutong sekarang. Kedatangan orang Arab di Teluk Palu yang tercatat adalah kedatangan Syarif Aluwi (Alw. di Donggala. Ia seorang pedagang Arab yang menikah dengan putri Sarah, seorang putri Raja Bolaang Mongondow. Cornelis Manoppo pada tahun 1832. Pernikahan ini menjadi awal mula Islamisasi di (Kerajaa. Bolaang Mongondow. Dalam cerita rakyat di Bolaang disebutkan. Syarif Aluwi tidak menetap di Bolaang. Penyebabnya ia diminta mahar yang cukup berat oleh Jogugu Bolaang Mongondow, seorang pejabat tinggi urutan kedua setelah raja. Syarif Aluwi lalu pergi ke Singapura. Ia kemudian memilih bermukim hingga meninggal di Donggala. 79 Selain Syarif Aluwi, orang Arab di Bolaang Mongondow lainnya yang memiliki koneksi dengan wilayah Donggala adalah Syekh Abdullah bin Razak dengan nama panggilan Imam Syafudi. Beliau juga dikenal dengan nama lain yakni Imam Syafii. Beliau seorang guru agama sekaligus pedagang yang datang ke Donggala melalui jalur Singapura dan Kalimantan (Pontianak dan Kuta. antara tahun 1869-1871. Dari Donggala, ia kemudian pindah ke Mongondow dan menikah dengan seorang perempuan bangsawan setempat. Ia seringkali berpergian untuk berdakwah ke desa-desa terpencil. Dalam kegiatannya tersebut. Imam Syafii seringkali ditemani oleh raja. Sosoknya begitu dikenal luas oleh masyarakat Mongondow karena kegiatan dakwahnya yang Randy Ibrahim Bafaqih (Peny. ) AuRatib Syaraf Al-AnAoam Keluarga Bafagih Maula Aidid Sulawesi TengahAy Naskah 16 Desember 2016. Koleksi Andi Muhammad Oza Tagunu. Ibrahim Ahmad Badjeber. AuSilsilah Keturunan Alusi Raja AliAy Ariel C. Lopez. AuConversion and Colonialism: Islam and Christianity in North Sulawesi, c. 1700-1900Ay. Dissertation (Leiden: Universiteit Leiden, 2. , 88. Jaringan dan Kiprah Orang Arab di Teluk Palu, 1830-1930 Mohammad Sairin sangat intensif. 80 Ini menandakan bila peran pelabuhan Donggala dalam membentuk jaringan orang Arab sangat penting pada paruh kedua abad XIX. Salah satu pusat pemukiman Arab di Teluk Palu adalah Wani, satu pelabuhan penting di Teluk Palu. Pemukim Arab pertama diperkirakan tiba pada tahun 1854. Mereka adalah Sayyid Aqil AlMahdaly,81 Sayyid Ahmad bin Ahmad Al-Mahdaly. Husein Ali Assegaf dan Hasan bin Mahmud AlMakarama. 82 Mereka datang sebagai pedagang. Selain berdagang, mereka juga ikut berdakwah menyebarkan ajaran-ajaran Islam. Pada tahun 1858, empat tahun setelah kedatangan gelombang pertama. Abdullah bin Hasan Al-Husni dan Jafar Al-Habsyi bersama beberapa orang Arab lainnya datang dan bermukim di Wani. Beberapa orang kemudian pindah bermukim ke Donggala. 83 Pemukiman orang Arab di Wani dikenal dengan sebutan Kampung Arab. Secara administratif, kampung tersebut berada di Dusun Malambora. Desa Wani II. Kabupaten Donggala. Sulit untuk melacak statistik penduduk Arab di kawasan Palu pada pertengahan abad ke 19. Salah satu penyebabnya, kawasan Teluk Palu belum menjadi bagian dari pemerintahan Hindia Belanda, walaupun kontrak kerjasama antara raja-raja lokal, seperti Banawa. Palu, dan Tawaeli, dengan pemerintah kolonial telah dilakukan, tetapi secara de facto tangan kekuasaan pemerintah kolonial belum Oleh karena itu, kontrol terhadap masyarakat di Teluk Palu belum dilakukan. Salah satu bentuk kontrol tersebut yakni dengan melakukan cacah jiwa atau pendataan jumlah penduduk. Untuk mengontrol dan menjalankan kepentingannya di wilayah ini, pemerintah kolonial hanya menempatkan seorang Mayor Bugis di Donggala sejak tahun 1820. Pemerintah kolonial baru menempatkan Posthouder di Donggala pada tahun 1891. Dua tahun kemudian, status posthouder ditingkatkan menjadi seorang civiel gezaghebber. Donggala menjadi ibukota Afdeeling Palosbaai. Pada tahun 1905 kembali dilakukan reorganisasi wilayah. Donggala menjadi ibukota Afdeeling Midden Celebes yang membawahi tiga onderafdeeling, yaitu: Palosbaai (Teluk Pal. Tolitoli dan Tomini Bocht (Teluk Tomin. Pemukiman orang Arab di Teluk Palu, dapat ditemukan di Kota Donggala. Palu dan Wani. Beberapa keluarga keturunan Arab juga bermukim di Tawaeli dan Mamboro. Data statistik pertama yang menyebutkan jumlah orang Arab di Donggala yaitu tahun 1900. Saat itu, penduduk Donggala yang merupakan ibukota Afdeeling Palosbaai berjumlah 2. 494 jiwa, dengan rincian penduduk Bumiputra 426 jiwa, orang Eropa berjumlah 8 jiwa, orang Cina berjumlah 9 jiwa dan orang Arab berjumlah 51 jiwa. 84 Sementara dalam laporan Van Kol menyebutkan Donggala, sekitar tahun 1902 memiliki jumlah penduduk 3777 jiwa, terdiri dari 3633 jiwa masyarakat Bumiputra, 127 jiwa orang Arab, 9 jiwa orang Cina dan 8 jiwa orang Eropa. 85 Jika melihat kedua data tersebut, terdapat perbedaan jumlah penduduk yang cukup signifikan, khususnya untuk penduduk Bumiputra dan orang Arab, sementara data penduduk Cina dan Eropa sama jumlahnya. Hal ini disebabkan perbedaan luas wilayah yang menjadi cakupan pendataan penduduk tersebut. Pada data yang pertama, yang disampaikan adalah penduduk khusus di pusat kota Donggala saja. Sementara pada yang kedua juga mencakup kampung-kampung Ibid, 128-129 Haliadi Sadi dan Syamsuri. Sejarah Islam di Lembah Palu (Yogyakarta: Q Media, 2. , 283. Jefrianto. AuMasjid Bersejarah Di Wani: Saksi Bisu Syiar Islam di Sulawesi TengahAy. Bulletin Syajaratun. Edisi Februari 2020. Poppy Nursiah. AuKeberadaan Masyarakat Arab di Kota PaluAy. Skripsi, (Palu: S1 Pendidikan Sejarah Universitas Tadulako, 2. , 39 Ibid. Regeerings Almanak voor Nederlandsch-Indie 1905 Deel I, 12 Van Kol. Uit onze koloniyn. uitvoerig reisverhaal. (Leiden: A. Sijthoff, 1. , 24 Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 02 No. 01 Juni 2021 | 1-81 disekitar Donggala seperti Tanjung Batu. Gunung Bale dan Labuan Bajo. Dari kedua data tersebut dapat menjelaskan kontribusi Orang Arab bagi perdagangan di Donggala. Jumlah orang Arab jauh lebih banyak dibandingkan orang Cina dan Eropa. Pada tahun 1920, jumlah orang Arab di Onderafdeeling Donggala sebanyak 197 jiwa, terdiri dari laki-laki 112 jiwa dan perempuan 85 jiwa, sementara di Onderafdeeling Palu sebanyak 38 jiwa terdiri dari laki-laki 17 jiwa dan perempuan 21 jiwa. 86 Jumlah orang Arab di Teluk Palu meningkat setelah kedatangan Sayyid Idrus bin Salim Aljufri pada tahun 1929. Ia membawa keluarganya dari Jawa (Pekalongan dan Sol. maupun Manado untuk bermukim di Palu. Sayyid Idrus datang di Wani pada Saat itu komunitas Arab di Wani ingin mendirikan madrasah dan mendatangkan guru untuk mengajarkan Islam. Setibanya di Wani. Sayyid Idrus bertemu dan berkenalan dengan tokoh-tokoh Arab di Wani seperti Habib Ahmad bin Ali Al-Muchdar. Sayyid Mahmud RifaAoi. Sayyid Ibrahim Al-Mahdaly. Syekh Thaha Assagaf. Sayyid Abdurahman dan Sayyid Abdul Kadir. Sayyid Idrus juga menikah di Wani dengan Syarifah Kalsum bin Zen Al-Mahdaly. Rencana pembukaan madrasah di Wani tidak terlaksana sebab tidak mendapat persetujuan dari pemerintah Hindia Belanda. Masyarakat Arab di Wani dianggap terlibat dalam perlawanan rakyat Salumpaga. Tolitoli tahun 1919. Oleh karena itu, pembukaan madrasah kemudian dipindahkan ke Palu. Kiprah Orang Arab di Bidang Dakwah dan Syiar Islam Salah satu kontribusi orang Arab dalam syiar Islam di Teluk Palu adalah menginisiasi pembangunan Masjid pertama yang dibangun oleh orang Arab adalah masjid di Boyantongo (Kampung Bar. Masjid ini . ekarang Masjid Jami Darussala. diperkirakan dibangun sekitar tahun 1842, tidak lama setelah kedatangan Sayyid Bahrullah ke Palu. Sayyid Bahrullah beserta tokoh masyarakat lainnya, diantaranya Haji Laborahima menginisiasi pembangunan masjid pertama di Kerajaan Palu tersebut. Rumah Sayyid Bahrullah berada di sisi selatan masjid. Beliau menyelenggarakan majelis ilmu dan majelis zikir untuk masyarakat di masjid ini. Hal ini didasarkan pada kondisi pengetahuan keagamaan masyarakat yang masih rendah. Berbagai persoalan keagamaan diajarkan seperti membaca Al-QurAoan, fikih hingga ilmu tarekat. Tarekat yang dikembangkan oleh Sayyid Bahrullah adalah Tarekat Alawiyyah atau BaAoalwi. Selain itu. Sayyid Bahrullah juga dikenal sebagai sebagai tukang khitan, sebab banyak masyarakat yang sudah mencapai usia dewasa yang belum di khitan. Setiap hari JumAoat. Sayyid Bahrullah mengirim utusan ke rumah-rumah warga agar supaya setiap laki-laki pergi shalat JumAoat di Masjid. Salah satu warisan budaya Sayyid Bahrullah yang sampai kini masih dipertahankan adalah penyelenggaraan maulid nabi atau No Maulu. Tujuan penyelenggaraan Maulid ini, selain meneruskan tradisi yang dilakukan oleh leluhurnya Sayyid Jalaluddin di Cikoang, juga merupakan sarana Sayyid Bahrullah dalam berdakwah. 89 Ia berupaya untuk mengubah kebiasaan masyarakat Kaili yang masih mempraktekan tradisi palaka yaitu berupa persembahan sesajen untuk leluhur atau kepada benda-benda yang dianggap bertuah. Maulid menggunakan media berbentuk segi empat yang dinamakan PahaAo yang Anonim. Uitkomsten Der in de Maand November 1920 Gehouden Voklstelling Deel I (Batavia: Drukkerijen Ruygrok & co. , 1. , 220-221. Sofjan B. Kambay. Perguruan Islam Alkhairaat dari Masa ke Masa. Buku 1 (Palu: PB Alkhairaat, 1. , 24-25 Wawancara dengan Makmur Daeng Sau . Zulfaqar Bafaqih . dan Randy Ibrahim Bafaqih . di Besusu, 8 Maret 2020 Tradisi Maulid ini pertamakali dilaksanakan oleh Sayyid Jalaluddin, leluhur Sayyid Bahrullah di Cikoang pada 8 RabiAoul Awwal 1041 Hijriah . ahun 1620 M). Lihat Muhammad Adlin Sila. MauduAo: A Way of Union God (Canberra: ANU Press, 2. , 92 Jaringan dan Kiprah Orang Arab di Teluk Palu, 1830-1930 Mohammad Sairin bermakna paham Islam. Peringatan maulid memiliki filosofi agar masyarakat memahami bahwa tradisi palaka yang biasa mereka lakukan bertentangan dengan ajaran Islam. Dalam rangkaian acara maulid, dilakukan pembacaan ratib Syaraf al AAonam. Pada akhir acara maulid, jamaah yang hadir langsung saling berebut telur yang ada di pohon hiasan, yang dipercaya membawa berkah. Setiap bagian dalam pahaAo memiliki filosofinya masing-masing, misalnya kotak kayu pahaAo untuk mengenalkan kepada masyarakat bahwa KaAobah sebagai kiblat umat Islam. Bentuk pahaAo adalah persegi, yang pada setiap sudutnya terdapat bendera sebagai simbolisasi sahabat Nabi. Ada empat bendera besar di tiap sudut pahaAo sebagai simbol empat sahabat nabi yang disebut khulafaurrasyidin. Kain hijau yang menutupi PahaAo bertuliskan kalimat Laa Ilaaha Illallah, bermakna setiap muslim harus berpegang pada kalimat tauhid. Adapun telur Ae secara keseluruhan Ae melambangkan Sirr, dimaknai sebagai jalan rahasia menuju Allah . Pada setiap butir telur yang mana di dalamnya memiliki kuning telur. Ini melambangkan dunia ma'rifat, di mana kuning telur adalah rahasianya. Sementara Ayam yang disediakan sama artinya dengan telur, yakni telur bisa berubah menjadi ayam. Ini diibaratkan nasib manusia yang dapat berubah sesuai takdir Allah. Hiasan bendera bermakna sebagai bendera nabi, serta para sahabat yang berdakwah dan berjihad fi sabilillah. Sementara bunga-bunga yang diletakkan di pahaAo melambangkan cucu Rasulullah yaitu Hasan dan Husain beserta keturunannya, serta Sidratul Muntaha dan bunga-bunga di surga. Sementara pembacaan ratib maulid Syaraf al-Anam yang berisi dzikir shalawat, dimaksudkan untuk menjalankan perintah Allah agar senantiasa bershalawat kepada Nabi dan dzurriyah nabi. Pembagian hadiah dan sudaka . maulid berupa makanan kadominya, semacam nasi kebuli memakai beras ketan beserta lauknya merupakan ungkapan rasa syukur serta ajaran untuk bersedekah. 90 Tradisi maulid ini kemudian dilanjutkan oleh keturunan dan kerabat Sayyid Bahrullah yang kemudian menyebarluas ke wilayah lainnya di kawasan Teluk Palu hingga pesisir Teluk Tomini. Masjid berikutnya yang pembangunannya diprakarsai oleh orang Arab adalah masjid yang didirikan di pinggiran Sungai Palu, tepatnya di Kampung Besusu. Masyarakat Besusu meyakini sebagai masjid tertua kedua di Palu. Masjid ini dibangun sekitar tahun 1891 atas inisiasi Sayyid Muhammad Amin bin Sayyid Bahrullah di atas tanah wakaf milik Pue Tanigau alias Pue Kate. Pemilik tanah wakaf tersebut diangkat menjadi imam pertama. Pue Kate adalah mertua Sayyid Muhammad Amin yang menikahi Kadihani binti Tanigau. Sayyid Muhammad Amin tidak menjadi imam sebab ia lebih banyak berdakwah keluar daerah. Akibat sering banjir karena luapan Sungai Palu, masjid ini dipindahkan ke lokasi yang baru pada masa imam kedua. Lawadi Tanigau. Masjid di lokasi baru ini kemudian dikenal dengan nama Masjid Al-Hidayah. Sayyid Muhammad Amin diangkat menjadi imam ketiga menggantikan iparnya hingga wafat tahun 1939. Kiprah orang Arab dalam berdakwah diketahui melalui catatan harian Adriani dan Kruyt, ahli bahasa dan misionaris Belanda yang melakukan perjalanan dari Poso menuju Sigi. Adriani dan Kruyt menuturkan bahwa ketika sampai di pelabuhan Palu, ia melihat dua orang Arab yang kemudian meminta bantuan mereka untuk mencarikan orang-orang yang dapat disewa untuk memikul barang. Seorang Arab keturunan Makassar yang dikenal dengan nama AuNakhoda Tuwa SaiAy [Nakhoda Tuan Sayyi. 92 Jefrianto,AuIslamisasi Ala Cikoang di Lembah Palu: Peran Sayyid Bahrullah Bafaqih Al AididAy Mercusuar, 20 Mei Randy Ibrahim Bafaqih (Peny. ), op. Wawancara dengan Makmur Daeng Sau . Zulfaqar Bafaqih . dan Randy Ibrahim Bafaqih . di Besusu, 8 Maret 2020. Mengingat lokasi dan keterangan nama dalam catatan Kruyt, diperkirakan orang Arab yang ditemui oleh Adriani dan Kruyt adalah Sayyid Muhammad Amin yang bergelar Karaeng Loro-loro. Sebutan ini berkaitan erat dengan kebiasaan beliau yang sering menggunakan baju bergaris-garis, dari atas ke bawah. Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 02 No. 01 Juni 2021 | 1-81 kemudian menyediakan rumahnya untuk menjadi tempat menginap bagi Adriani dan Kruyt. Dalam catatan harian tertanggal 25 September 1897. Adriani dan Kruyt menulis: AuWaktu pagi-pagi sekali ternyata bagi kami tuan rumah yang memberi penginapan kepada kami bukanlah seorang pedagang melainkan seorang guru yang mengajar membaca AlqurAoan. Pagipagi sekali di rumah itu kedengaran suara ribut luar biasa. Orang-orang dewasa sedang membaca dengan nyaring. Suaranya dibarengi dengan suara nyaring anak-anak yang masih belajar mengeja ayat-ayat dalam Alkitab [Al-QurAoa. Suara simpang siur itu kedengaran sampai jauh, dengan tidak mengganggu atau membingungkan satu sama lain bagi yang sedang Biasanya suara ribut itu masih ditambah lagi dengan suara mengadu kesakitan bila mana sang guru terpaksa menggunakan rotan pemukul terhadap murid-muridnya. Ay93 Murid yang belajar membaca Al QurAoan itu disebut Ana Guru. Mereka belajar setiap hari dengan waktu yang singkat saja. Selain agar mahir membaca QurAoan, salah satu motivasi mereka untuk belajar mengaji adalah untuk mendapatkan uang. Mereka mendapatkan upah ketika mereka diminta mengaji di suatu acara. Namun pekerjaan itu dianggap pekerjaan sampingan saja, dan biasanya dilakukan oleh kaum wanita saja. Hanya Auguru-guruAy yang sudah tua, yang tidak bisa pergi kemana-mana lagi, menjadikan pekerjaan sebagai mata pencaharian pokok. Orang-orang ingin menjadi seorang Topo LabeAy, seorang yang mahir membaca Al-Quran yang dibutuhkan dalam berbagai acara. Selain mendapat kedudukan terhormat mereka mendapat tambahan penghasilan. 94 Kenyataan itu menunjukan posisi orang Arab yang mendapat kedudukan tinggi dan terhormat dikalangan masyarakat, sebab mereka dianggap menguasai ilmu agama, apalagi jika mereka seorang pemuka dan guru agama. Posisi ini bertambah jika status keturunan mereka sebagai seorang keturunan nabi (Sayyid atau Syari. sekaligus memiliki darah bangsawan Makassar . Ketika mereka datang ke Palu menikahi keluarga bangsawan setempat, sehingga mereka memiliki status sosial tinggi dalam masyarakat Kaili. Masjid lainnya yang didirikan oleh komunitas Arab adalah masjid di Malambora. Wani. Masjid yang kemudian diberi nama Masjid Al-Amin ini didirikan atas prakarsa seorang perempuan Arab bernama Saripa (Syarif. Isa bin Yahya Al-Mahdali. Ia adalah cucu Sayyid Aqil Al-Mahdali, seorang pedagang Arab pertama yang bermukim di Wani sekitar tahun 1854. Saripa Isa mewakafkan tanahnya untuk lokasi pembangunan masjid dalam surat wakaf tertanggal 6 Desember 1906. Bahan bangunan masjid ini menggunakan kayu ulin dari Kalimantan, sementara atap masjid ini dilengkapi dengan ornamen pada ujungnya. Ornamen tersebut didatangkan dari Singapura. 95 Ada dua metode yang digunakan oleh komunitas Arab di Wani dalam menyiarkan Islam. Pertama. mengumpulkan orang-orang dalam masjid untuk mengkaji permasalahan keagamaan sehari-hari yang dihadapi oleh masyarakat di Wani dan sekitarnya. Ini dilakukan pada malam hari, setiap malam Senin, malam Rabu, dan malam Jumat. 96 Kedua, pembelajaran secara privat, dimana seorang murid datang belajar pada guru secara Adriani dan Alb. Kruijt. Van Posso Naar Parigi. Sigi en Lindu. Translated by M. Wenas (Palu: Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Sulawesi Tengah. , 72 Ibid Tokoh Sarekat Islam H. S Tjokroaminoto dan tokoh Muhammadiyah. Buya Hamka pernah berkunjung ke masjid ini pada awal tahun 1930an dalam upaya penyebaran Sarekat Islam dan Muhammadiyah di wilayah Teluk Palu. Jefrianto. AuMasjid Bersejarah Di Wani: Saksi Bisu Syiar Islam di Sulawesi TengahAy. Bulletin Syajaratun. Edisi Februari 2020. Haliadi-Sadi dan Syamsuri. , 280 St. Hadidjah. AuSejarah Islam di Tawaeli (Hubungan Antara Agama dan Ada. Ay. Tesis (Makassar: Program Pascasarjana UIN Alauddin, 2. , 76 Jaringan dan Kiprah Orang Arab di Teluk Palu, 1830-1930 Mohammad Sairin Seorang perempuan keturunan Arab yang berperan dalam dakwah Islam adalah Syarifah Kalsum. Ia adalah putri mubaligh Tuan Ketje Rivai yang menikahi perempuan bangsawan Tawaeli bernama Goba Intan. Syarifah Kalsum dikenal dengan nama Guru Dawa, sebab ia adalah juru dakwah perempuan pertama di Tawaeli. Kehadiran Guru Dawa sangat penting bagi kaum perempuan, untuk menjelaskan hal-hal yang mendasar terkait dengan persoalan kewanitaan yang kurang pantas dijelaskan oleh mubalig pria, seperti thaharah untuk perempuan, umpamanya menetapkan batas akhir haid, mandi haid, mandi nifas dan mandi wiladah. Kiprah Orang Arab di Bidang Politik Orang Arab sudah sejak lama mengambil bagian dari dunia politik di Teluk Palu. Pada tahun 1852, seseorang Ae yang diyakini Ae keturunan Arab bernama Syarif Achmad Baginda Umar, yang juga dikenal dengan nama Tuan Lolo, dituduh oleh pemerintah kolonial bersalah telah melakukan pembunuhan di Manado lalu melarikan diri ke Kaili. Pemerintah Hindia Belanda lalu memohon kepada Raja-raja Kaili di Teluk Palu (Banawa. Palu dan Tawael. agar dapat menyerahkannya, namun raja-raja tersebut menyatakan tidak berwenang untuk menangkap Tuan Lolo. Dalam kunjungan ke Teluk Palu pada tahun 1854. Gubernur van der Hart, yang dilengkapi dengan kapal perang dan satu kesatuan pendarat, tidak berhasil menangkap Tuan Lolo. Saat itu, beliau melarikan diri ke pegunungan. Meskipun gagal menangkap Tuan Lolo, kunjungan ke Teluk Palu itu menjadi jalan bagi pemerintah Hindia Belanda untuk menjalin kontrak politik dengan tiga kerajaan di pesisir Teluk Palu, yaitu Banawa. Palu dan Tawaeli. Meskipun ditandatangani, kontrak ini tidak berjalan, sebab tidak disahkan oleh dewan adat dan pejabat kerajaan lainnya. Salah satu sosok yang menjadi batu sandungan bagi pihak kolonial dalam meluaskan hegemoninya di Kerajaan Palu adalah Daeng Palili yang menjabat madika malolo. Ia sosok penting di Kerajaan Palu dan dianggap lebih berpengaruh daripada raja. Daeng Palili berhasil memengaruhi Raja Lamakaraka agar tidak menaati kontrak yang telah ditandatangani tahun 1854. Keadaan berubah setelah Daeng Palili wafat pada tahun 1855. Pada bulan Oktober 1856 raja-raja di kawasan Teluk Palu (Banawa. Palu. Tawael. menyatakan kesediaannya untuk menerima kontrak yang disahkan dan terealisasi pada bulan November oleh perwira komandan kapal uap Montrado. Daeng Palili merupakan mertua Sayyid Umar Bafaqih Al-Aidid yang berdakwah di Tatanga, sebagaimana disebutkan pada bagian awal tulisan ini. Sikap keras Daeng Palili dalam menyikapi hegemoni kolonial bisa jadi dipengaruhi oleh menantunya. Sayyid Umar. Dalam laporan pemerintah kolonial disebutkan kekuasaan raja-raja di Teluk Palu diperlemah oleh kehadiran sejumlah orang asing seperti orang Bugis. Makasar. Melayu dan para petualang Arab. AuPengaruh orang Arab dan Makasar perlu mendapat perhatian, sementara orang Bugis semakin terpinggirkan karena perpecahan dan konflik internal di antara mereka. Ay101 Salah seorang cicit Daeng Palili dari anaknya yang dinikahi Sayyid Umar bernama Sayyid Muhammad Nur berhasil menduduki jabatan tinggi di Kerajaan Palu. Sayyid Muhammad Nur yang lebih dikenal dengan gelar Karaeng Putih diangkat sebagai madika malolo pada masa pemerintahan Magau Ibid Anonim. AuHet Landschap Donggala of BanawaAy Bijdragen tot de Taal-. Land- en Volkenkunde van NederlandschIndiy. Vol. , 514-531. Ibid. Ibid. Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 02 No. 01 Juni 2021 | 1-81 Parampasi . emerintah 1907-1. Ia menjadi keturunan Arab pertama yang menduduki jabatan tinggi dalam pemerintahan di Kerajaan Palu. Secara struktural jabatan madika malolo menjadi jabatan tertingi setelah raja. Tugasnya sebagai wakil raja dan dapat menjalankan pemerintahan jika sewaktuwaktu seorang raja berhalangan atau sakit. Pengangkatan Karaeng Putih sebagai madika malolo adalah sesuatu yang wajar mengingat kakek buyutnya. Daeng Palili juga menjabat jabatan yang sama. Pada saat Karaeng Putih menjabat madika malolo terjadi intrik politik dan konflik internal di Kerajaan Palu yang menyebabkan ia diturunkan dari jabatannya serta menjalani hukuman pembuangan . Kejadian ini bermula ketika bulan Pebruari 1910, atas hasutan seorang kepala kampung, sejumlah penduduk dari beberapa kampung . i Pal. menolak untuk patuh kepada Magau . Parampasi. Menyikapi hal tersebut, pemerintah kolonial mengambil tindakan tegas kepada Karaeng Putih. Alasan diturunkannya Karaeng Putih dari jabatan tersebut perlu dicermati lagi. Pada kampung-kampung yang menolak raja Parampasi itu, nama Karaeng Putih begitu popular dan berpengaruh secara politik dan sosial-budaya. Mengingat hal tersebut, maka pemerintah kolonial memberikan tugas kepadanya untuk memerintah daerah itu dengan harapan agar terjadi perbaikan, namun harapan itu tidak tercapai. Sebab itulah, maka Madika Malolo Karaeng Putih dipandang tidak mampu melaksanakan tugas. Tuduhan lain, karena melihat penduduk kampung yang menolak tersebut berasal dari daerah kekuasaan Karaeng Putih, sehingga pemerintah kolonial berkesimpulan bahwa beliau mencoba memperluas kekuasaannya dengan mengorbankan magau. Ia dianggap berkomplot dengan para pemberontak. Caranya dengan membujuk kampung-kampung lain agar berada di bawah perintahnya. Berbagai janji dibuat, seperti pengurangan kerja wajib, pajak dan sebagainya. Atas tuduhan tersebut Karaeng Putih dikirim ke Manado, tempat dia ditahan sementara. Ia divonis bersalah karena menghasut penduduk melawan pemerintahan yang sah. Walaupun Karaeng Putih telah diasingkan untuk menjalani hukuman, namun para pengikutnya Ae para kepala kampung yang membangkang Ae tidak mau menanggapi panggilan pemerintah serta menolak untuk melakukan heeredienst . erja waji. Oleh karena itu, pemerintah kolonial menghadapi tindakan tersebut dengan kekuatan militer. Ketenangan segera dipulihkan tanpa harus menelan korban. Namun, pada malam tanggal 3-4 Desember 1910 oleh para pengikut Karaeng Putih, rumah penguasa Palu dibakar, sehingga beberapa orang terbunuh dan terluka. Para pelaku segera ditemukan jejaknya dan sebagian besar dari mereka segera ditangkap. 102 Menurut tradisi lisan keluarga, setelah ditahan di Minahasa. Karaeng Putih diasingkan hingga wafat di Pulau Panggang di Kepulauan Seribu Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Pada masa kolonial, pemerintah menunjuk seorang Kapitan Arab (Kapitein der Arabiere. atau Letnan Arab (Luitenant der Arabiere. untuk memimpin komunitas Arab di sebuah wilayah. Tugas mereka adalah sebagai penghubung antara masyarakat Arab dengan pihak pemerintah kolonial, memberikan informasi tentang data kependudukan untuk permasalahan yang berkaitan dengan orang Arab, untuk menyebarluaskan informasi tentang peraturan dan keputusan pemerintah serta untuk menjamin pemeliharaan hukum dan ketertiban. 104 Untuk wilayah Afdeeling Donggala, ada dua orang yang pernah menjabat Letnan Arab yakni Syekh Nazar bin Salmin Al-Katiri dan Syekh Yuslam bin Ubud Bakarama yang menjabat sejak 22 Agustus 1922. Tugas Letnan Arab dibantu oleh seorang asisten yang Koloniaal Verslag van 1911, hoofdstuk C, 45 Jefrianto. AuMenelusuri Jejak Sejarah Karaeng PoetihAy. Mercusuar, 27 Mei 2018 Natalie Mobini-Kesheh. The Hadrami Awakening: Community and Identity in the Netherlands East Indies, 19001942. (Ithaca: SEAP Publications, 1. , 26 Jaringan dan Kiprah Orang Arab di Teluk Palu, 1830-1930 Mohammad Sairin pernah dijabat oleh Syekh Nuh bin Syuaib Badaud. 105 Untuk wilayah Onderafdeeling Palu, komunitas Arab dipimpin oleh seorang Kapitan Arab yang dijabat oleh Syekh Nassar bin Khamis Al-Amri. Salah satu peran yang dilakukan Kapitan Arab Palu adalah berhasil melobi pemerintah kolonial dan Raja Palu Djanggola agar menerima Sayyid Idrus bin Salim Aljufri untuk mendirikan perguruan Islam Alkhairaat pada tahun 1930. Kiprah Orang Arab di Bidang Ekonomi Orang Arab di Teluk Palu pada umumnya berprofesi sebagai pedagang. Baik sebagai pedagang lokal, antar wilayah ataupun pedagang lintas pulau. Hal ini kemudian membentuk jaringan ekonomi orang Arab di Teluk Palu. Pusat pemukiman komunitas Arab hingga awal abad 20 terkonsentrasi di wilayah sekitar pelabuhan seperti di Wani. Donggala dan Palu. Komoditi utama yang diperdagangkan adalah kopra, rotan dan kapuk. Bahkan hingga akhir tahun 1902, orang Arab dan Bugis dianggap bekerjasama dalam perdagangan budak di kawasan Teluk Palu. 106 Sementara barang-barang impor yang didatangkan ke Teluk Palu seperti bahan makanan, barang industri, beras, minyak, kain dan sebagainya. Selain itu, banyak orang Arab yang mendirikan toko atau kios yang menjual keperluan sehari-hari. Salah satu toko ternama yang dimiliki orang Arab adalah Toko Nadoly milik Kapitan Arab Palu. Syekh Nassar. Nama Nadoly diambil dari bahasa Kaili, bahasa penduduk setempat yang berarti baik atau bagus. Mereka juga berdagang hingga ke pelosok pedesaan. Profesi ini antara lain dilakoni oleh Sayyid Idrus bin Salim AlJufri, pendiri perguruan Alkhairat. Orang Arab berperan dalam menggerakan roda perekonomian di Kota Donggala sejak pertengahan abad ke 19 hingga pertengahan abad ke-20 atau dekade 1960-an, walaupun kemudian peran mereka AutergusurAy dengan kehadiran orang Cina di Donggala. Sebutan AuArab DonggalaAy pernah populer sebagai penanda identitas kultural bagi komunitas Arab yang lahir dan menjadi pengusaha turun temurun di Kota Donggala. 107 Salah satu keluarga Arab yang menonjol dalam usaha perdagangan kopra adalah Keluarga Badjamal, terdiri dua orang bersaudara Hasan Badjamal dan Husen Badjamal. Firma Badjamal menjadi pemasok utama kopra dari Donggala untuk Oliefabrieken Insulinde Makassar, sebuah perusahaan minyak di Makassar yang didirikan pada tahun 1913. 108 Hingga tahun 1970an. Hasan Badjamal dan Husen Badjamal menjadi pedagang Arab terkemuka di Donggala. Hasan menjadi distributor minyak tanah, solar dan bensin serta peralatan otomotif seperti ban motor dan mobil. Sementara Husen Badjamal bergerak dalam pedagangan komoditi lokal seperti, kopra, rotan, damar dan lain-lain. Ia juga merupakan importir barang-barang elektronik dari Surabaya ataupun dari Singapura. Penutup Dalam regeerings almanak tertulis Syech Islam bukan Syech Yuslam. Lihat Regeerings Almanak 1934 Deel II. Nabiel A. Karim Hayaze. Hikayat Kapitein Arab di Nusantara: Jejak Dakwah dan Nasionalisme, (Yogyakarta: Penerbit Garudawacha, 2. , 388 William G. Clarence-Smith. AuEconomic Role of the Arab Community in Maluku, 1816 to 1940,Ay. Indonesia and the Malay World. Vol 26:74, 37. Jamrin Abubakar. AuDonggala: Kejayaan dan Keruntuhan Pelabuhan Kota NiagaAy. Naskah Buku belum diterbitkan. Rasyid Asba. Kopra Makassar Perebutan Pusat dan Daerah: Kajian Sejarah Ekonomi Politik Regional di Indonesia. (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2. , 151 Haliadi Sadi dan Syamsuri, op. cit, 281-281 Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 02 No. 01 Juni 2021 | 1-81 Orang Arab di Teluk Palu memiliki jaringan dengan wilayah dan orang Arab di wilayah lainnya di Jaringan tersebut terbentuk melalui jaringan maritim, jaringan dagang dan jaringan Melalui jaringan maritim dan jaringan dagang, orang Arab di Teluk Palu, memiliki jaringan dengan orang dan wilayah di Makassar. Manado. Bolaang Mongondow. Buol. Tomini. Jawa (Pekalongan. Solo. Surabaya. Batavi. Kalimantan (Pontianak. Kuta. Singapura serta wilayah-wilayah Jaringan kekerabatan terjalin karena asal-usul keturunan yang sama. Jaringan kekerabatan juga diciptakan dengan cara menikahi dengan penduduk setempat, terlebih khusus dengan perempuan bangsawan lokal. Dari jaringan kekerabatan tersebut terbentuk jaringan politik yang kemudian menempatkan keturunan Arab mendapatkan status dan jabatan tinggi di masyarakat. Sementara kiprah orang Arab di Palu dapat dilihat dari berbagai kiprah dan peran mereka di berbagai bidang, seperti dakwah dan syiar Islam, politik dan ekonomi. Wujud dari kiprah mereka tersebut melahirkan warisan budaya yang sampai saat ini masih dapat disaksikan seperti masjid, madrasah dan perayaan maulid. Daftar Pustaka