Membangun Kepribadian Muslim Generasi Muda dengan Happy Mabit di MI PUI Ciwedus 1 Desa Timbang Kecamatan Cigandamekar Kabupaten Kuningan Mulyana Shaleh1, Afifatul Fadiyah2, Bunga Sakira Masyali3, Firda Nur Alifah Zahra4, Gusti Ayu Galuh M.D.A.P5, Inas Shofanahdah6, Leni Padmasari Diana7, Siti Fatimah Azzahra8 Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Husnul Khotimah (STISHK) Kuningan mulyana1981@gmail.com ABSTRAK MABIT adalah salah satu sarana tarbiyah untuk membina ruhiyah, melembutkan hati, membersihkan jiwa, dan membiasakan fisik untuk beribadah (khususnya shalat tahajjud, dzikir, tadabbur dan tafakkur). Pelaksanaan kegiatan MABIT ini ditujukan untuk murid kelas 5 & 6 MI PUI Ciwedus 1 desa Timbang Kecamatan Cigandamekar Kabupaten Kuningan. Tujuan dari MABIT ini diantaranya dapat meningkatkan iman dan takwa para peserta didik, lebih mendekatkan diri mereka kepada Allah Swt., menjadi terbiasa menjalankan shalat-shalat sunah yang biasa dilakukan Rasulullah Saw., dan agar lebih bisa menghargai waktu. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah ABCD (Asset Bassed Community Development). Adapun hasil dari kegiatan ini dapat membantu membentuk kepribadian muslim khususnya pada diri peserta didik MI PUI Ciwedus 1. Keyword: Kepribadian, Generasi Muda, Mabit ABSTRACK MABIT is one of the tarbiyah facilities for developing the spirit, softening the heart, cleansing the soul, and physically getting used to worship (especially tahajjud prayers, dhikr, tadabbur and tafakkur). The implementation of this MABIT activity is aimed at students in grades 5 & 6 of MI PUI Ciwedus 1, Timbang Village, Cigandamekar District, Kuningan Regency. The aims of MABIT include increasing students' faith and piety, drawing them closer to Allah SWT, becoming accustomed to performing the sunnah prayers that the Prophet Muhammad used to perform, and being able to appreciate time better. The methodology used in this research is ABCD (Asset Bassed Community Development). The results of this activity can help shape Muslim personalities, especially in MI PUI Ciwedus 1 students. Kata Kunci: Personality, Young Generation, Mabit PENDAHULUAN Peran pendidikan sangat penting dalam proses kehidupan dan kemajuan manusia. Pendidikan merupakan suatu kekuatan yang dinamis dalam kehidupan setiap individu, Khidmatul Mujtama’ 10 DOI: https://doi.org/10.59270/-|----|- Khidmatul Mujtama’ (Jurnal PKM STISHK Kuningan) E-ISSN: XXXX-YYYY || P-ISSN: XXXX-YYYY DOI: https://doi.org/10.59270/-|----|- Vol.1 No.01 (Oktober 2024) mempengaruhi perkembangan fisiknya, jiwanya (akal, jiwa dan kehendak), sosialnya, dan moralitasnya. Pendidikan merupakan suatu kekuatan yang dinamis dalam mempengaruhi kemampuan, kepribadian dan kehidupan individu dalam pergaulannya dengan sesama manusia di dunia, serta dalam hubungan dengan tuhan (Rifai & Rusdiati, 2021). Fungsi dan Tujuan Pendidikan Nasional terdapat dalam pasal 3 Undangundang No. 20 Tahun 2003 yang berbunyi: “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.” (Nikmatulaili et al., 2023). Amanah Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Tahun 2003 itu bermaksud agar pendidikan tidak hanya membentuk insan Indonesia yang cerdas, namun juga berkepribadian atau berkarakter sehingga nantinya akan lahir generasi bangsa yang tumbuh berkembang dengan karakter yang terinspirasi oleh dasar-dasar bangsa serta agama (Nikmatulaili et al., 2023). Pendidikan karakter pada dasarnya dapat dipahami sebagai pendidikan moral (akhlak), perkembangan pendidikan ini di Indonesia bukanlah hal baru, banyak usaha yang telah dilakukan khususnya oleh para pendidik di lembaga-lembaga pendidikan khususnya lembaga pendidikan madrasah (Muzammil & Rijal, 2021). Kebutuhan akan pendidikan karakter dalam dunia pendidikan merupakan suatu keharusan mengingat merosotnya karakter begitu hebatnya mempengaruhi kehidupan yang dapat kita rasakan setiap saat. Kemajuan informasi dari berbagai media cetak maupun elektronik, menghantarkan berita yang tidak henti-hentinya berkaitan dengan semakin merosotnya karakter. Dengan dilaksanakannya pendidikan karakter di sekolah, diharapkan menjadi solusi atas masalah-masalah sosial yang terjadi di masyarakat (Putri, 2021). Tidak sedikit di zaman sekarang ini orang-orang yang berpendidikan dan memiliki pengetahuan luas, namun minim akan kualitas akhlak. Keimanan dan ketakwaan seseorang menjadi sebuah permasalahan yang signifikan dimana pada zaman sekarang ini marak sekali dijumpai berbagai tindakan kriminal yang terjadi. (Rifai & Rusdiati, 2021). pada tahun 2011 ini, menurut survey Bribe Payer Index (BPI) Transparency International, dari 28 negara yang disurve, Indonesia menduduki negara ke empat terkorup. Data dari Litbang Kompas merinci, 158 kepala daerah tersangkut korupsi sepanjang 2004-2011. 42 anggota DPR terseret korupsi pada kurun waktu 2008-2011. 30 anggota DPR periode 1999-2004 terlibat kasus suap pemilihan DGS (Debuti Gubernur Senior) Bank Indonesia. Kasus korupsi terjadi diberbagai lembaga seperti KPU,KY, KPPU, Ditjen Pajak, BI, dan BKPM (Zulkhairi, 2017). Khidmatul Mujtama’ 11 DOI: https://doi.org/10.59270/-|----|- Khidmatul Mujtama’ (Jurnal PKM STISHK Kuningan) E-ISSN: XXXX-YYYY || P-ISSN: XXXX-YYYY DOI: https://doi.org/10.59270/-|----|- Vol.1 No.01 (Oktober 2024) Pendidikan karakter, sekarang ini mutlak diperlukan bukan hanya di sekolah saja, tapi dirumah dan di lingkungan sosial. Suatu saat nanti, anak-anak masa kini akan menghadapi persaingan dengan rekan-rekannya dari berbagai belahan Negara di Dunia. Bahkan kita yang masih akan berkarya ditahun tersebut akan merasakan perasaan yang sama. Tuntutan kualitas sumber daya manusia pada milenium mendatang tentunya membutuhkan good character. Bagaimanapun juga, karakter adalah kunci keberhasilan individu. Dari sebuah penelitian di Amerika, 90 persen kasus pemecatan disebabkan oleh perilaku buruk seperti tidak bertanggung jawab, tidak jujur, dan hubungan interpersonal yang buruk (Rasyid et al., 2024). Tindakan kriminal tidak hanya dilakukan oleh orang dewasa saja, selain bentukbentuk peralihan juga muncul proses-proses perilaku dan pola pikir yang telah mengalami perubahan yang sangat signifikan pada diri seorang remaja seperti perkelahian, pemerkosaan, pembunuhan dan banyak lagi yang lainnya. Salah satu hal yang perlu dilakukan dalam upaya mengatasi hal tersebut adalah dengan menanamkan nilai-nilai keagamaan sejak dini di lingkungan rumah, sekolah, dan masyarakat tempat remaja tinggal (Nuraeni et al., 2023). Jika seorang remaja sejak awal tidak dibekali ilmu agama, maka mudah baginya untuk tersesat karena tidak ada arah dan tujuannya. Lingkungan adalah tempat di mana mereka dapat bersentuhan dengan karakter individu yang berbeda. Ketika lingkungan cenderung positif maka nilai-nilai agama yang diajarkan di rumah maupun di sekolah dapat dengan mudah dan baik diterapkan. Namun, ketika lingkungan cenderung kearah negatif, hal itu juga mempengaruhi sikap dan perilaku siswa yang kurang baik atau bahkan lebih buruk. Sekolah adalah lingkungan yang mampu memberikan efek yang besar untuk meningkatkan akhlak siswa, sehingga akhlak yang mulia dapat tertanam dalam kehidupannya (Aina, 2023). Salah satu bentuk kegiatan yang mengandung nilai keagamaan dalam membangun kepribadian di lingungan sekolah ialah MABIT (Malam Bina Iman dan Takwa). MABIT adalah salah satu sarana tarbiyah. Secara bahasa mabit berarti bermalam, istilah yang sangat masyhur pada salah satu rangkaian ibadah haji yaitu mabit di Mina. Dalam terminologi dakwah dan tarbiyah, mabit adalah salah satu sarana tarbiyah untuk membina ruhiyah, melembutkan hati, membersihkan jiwa, dan membiasakan fisik untuk beribadah (khususnya shalat tahajjud, dzikir, tadabbur dan tafakkur) (Muzammil & RIJAL, 2021). Maka dari itu program kegiatan MABIT ini menjadi salah satu program KPM (Kuliah Pengabdian Mahasiswa) kami, dengan harapan adanya kegiatan ini mampu membangun kepribadian peserta didik yang memiliki karakter religius serta program ini dapat menjadi kegiatan yang berkelanjutan di MI PUI Ciwedus. TINJAUAN PUSTAKA Penelitian pertama yang dilakukan oleh Siti Qomariah (2018). Penelitian dengan judul Kesadaran Membaca Al-Qur’an dalam Meningkatkan Akhlak Siswa Kelas X A di MA Khidmatul Mujtama’ 12 DOI: https://doi.org/10.59270/-|----|- Khidmatul Mujtama’ (Jurnal PKM STISHK Kuningan) E-ISSN: XXXX-YYYY || P-ISSN: XXXX-YYYY DOI: https://doi.org/10.59270/-|----|- Vol.1 No.01 (Oktober 2024) Ma’arif Al-Islah Bungkal Ponorogo ini menyimpulkan bahwa: 1) Kesadaran kelas X A MA Al-Ishlah Bungkal Ponorogo dalam mengikuti kegiatan membaca al-Qur’an ini muncul dari adanya motivasi ustad dan ustadzahnya. Peraturan yang diterapkan dalam mengikuti kegiatan ini menumbuhkan kesadaran sendiri untuk terus mengikuti kegiatan membaca al-Qur’an. 2) Kegiatan membaca al-Qur’an merupakan kegiatan yang dilaksanakan setiap pagi sebelum pembelajaran dan berlangsung kurang lebih selama 20 sampai 25 menit dengan dibimbing oleh ustad maupun ustadzah yang berkompeten, sehingga diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran mereka dalam mengikuti kegiatan membaca al-Qur’an ini. 3) Kesadaran membaca al-Qur’an di samping dapat meningkatkan kemampuan mereka dalam membaca al-Qur’an, juga dapat memberikan dampak positif terhadap siswa-siswi dan menumbuhkan sifat religius mereka serta menumbuhkan akhlak mereka. Penelitian kedua yang dilakukan oleh Amirul Maliki Maghribi, dkk. (2024). Penelitian dengan judul Peran Mahasiswa dalam Meningkatkan Kemampuan Membaca Al-Qur’an Melalui Kegiatan KKN Mengajar Mengaji ini bertujuan mengajarkan keterampilan membaca Al-Qur'an kepada individu mulai dari usia taman kanak-kanak hingga tingkat Pendidikan menengah atas. Mahasiswa KKN di Kelurahan Sei Gohong mencoba meningkatkan minat membaca AlQur’an untuk perserta didik di TPQ Fathul Jannah dengan menggunakan berbagai metode sehingga dapat mudah di terima serta di terapkan dalam membaca AlQur’an. Sebelum mereka membaca Iqro atau Al-Qur''an mereka diperintahkan menulis surah-surah pendek dalam AlQur'an agar mereka terlatih menulis tulisan-tulisan Arab. Mereka disediakan buku raportnya masing-masing agar mengetahui kelancaran membaca anak tersebut di setiap harinya. Maka dari itu pembelajaran membaca Al-Quran menjadi salah sau program kerja Mahasiswa KKN di Kelurahan Sei Gohong untuk menjadikan anak-anak yang baik akhlaknya serta dapat menjadisalah satu generasi emas yang paham akan keagamaan. Penelitian berikutnya dilakukan oleh Neliwati, dkk. (2024) dengan judul Peran Kegiatan Ekstrakurikuler BTQ dalam Meningkatkan Kemampuan Membaca Al-Qur’an Siswa di SMPN 8 Percut Sei Tuan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa program ekstrakurikuler BTQ memiliki peran yang penting dalam meningkatkan kemampuan membaca siswa di SMPN 8 Percut Sei Tuan. Walaupun belum maksimal, ketika membaca AlQur’an siswa di SMPN 8 Percut Sei Tuan sudah mampu melafalkan huruf hijaiyah yang sesuai dengan makhorijul huruf, mampu mengenal huruf-huruf yang menjadi bagian ilmu tajwid, memahami teorinya serta dapat meningat contoh-contoh ilmu tajwid, seperti nun sukun, mim sukun dan tanwin, sehingga dapat dikatakan dapat menerapkan ilmu tajwid dalam membaca Al-Qur’an dan fasih dalam membacanya. METODOLOGI Kegiatan program Kegiatan program MABIT (Malam Bina Iman dan Takwa) dilaksanakan di Desa Timbang Kecamatan Cigandamekar Kabupaten Kuningan, yakni Khidmatul Mujtama’ 13 DOI: https://doi.org/10.59270/-|----|- Khidmatul Mujtama’ (Jurnal PKM STISHK Kuningan) E-ISSN: XXXX-YYYY || P-ISSN: XXXX-YYYY DOI: https://doi.org/10.59270/-|----|- Vol.1 No.01 (Oktober 2024) pada tanggal 24 - 25 Agustus 2024. Dalam pelaksanannya, kegiatan ini bermitra dengan lembaga sekolah MI PUI Ciwedus 1. Metode pemberdayaan dari kegiatan ini menggunakan metode ABCD (Asset Bassed Community Development). Secara prinsip, ABCD merupakan pendekatan yang ingin melakukan pemberdayaan komunitas dengan bertolak dari aset dan kekuatan dari komunitas. Ini bertolak belakang dari pendekatan tradisional yang ada selama ini yang lebih menfokuskan pada masalah dan kebutuhan komunitas. Oleh karenanya ABCD merupakan pendekatan yang dimulai dari segala sesuatu yang berada dalam komunitas sebagai asset atau aset yang positif (Dureau, 2019). HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan MABIT terhadap peserta didik MI PUI Ciwedus 1 baru pertama kali dilaksanakan. Pembinaan program ini dilaksanakan dalam upaya membangun kepribadian peserta didik dengan tujuan agar membentuk karakter peserta didik yang Islami. MABIT merupakan singkatan dari (Malam Bina Iman dan Takwa), kegiatan ini dilaksanakan dengan durasi waktu satu hari satu malam dengan melibatkan peserta didik kelas 5&6 MI PUI Ciwedus 1. Pelaksanaan program ini dipanitiai oleh KPM (Kuliah Pengabdian Mahasiswa) STIS HK Kuningan Serta melibatkan para guru-guru MI PUI Ciwedus 1 Sebagai pembina pelaksanaan kegiatan. Tahap Persiapan dan Perencanaan Gambar 1. Pamflet Kegiatan MABIT Tahap persiapan dan perencanaan ini adalah dengan perizinan kepada pihak Sekolah MI PUI Ciwedus 1 serta dibuatkannya pamflet kegiatan untuk di Share kepada wali murid, kemudian sebelum pada acara pembukaan kami membentuk para peserta menjadi 6 kelompok yang terdiri dari 8-10 orang. Setiap kelompok akan dibina oleh 1 orang mahasiswa dari KPM (Kuliah Pengabdian Mahasiswa) STIS HK Kuningan. Khidmatul Mujtama’ 14 DOI: https://doi.org/10.59270/-|----|- Khidmatul Mujtama’ (Jurnal PKM STISHK Kuningan) E-ISSN: XXXX-YYYY || P-ISSN: XXXX-YYYY DOI: https://doi.org/10.59270/-|----|- Vol.1 No.01 (Oktober 2024) Tahap Pembukaan dan Pengarahan Gambar 2. Pengarahan dari Perwakilan Ibu Guru MI PUI Ciwedus 1 Tahap pembukaan dilakukan pada hari sabtu, tanggal 24 Agustus 2024. Pembukaan program kegiatan MABIT dilakukan di ruangan kelas 4 yang kami jadikan sebagai ruangan mushola untuk selama kegiatan MABIT berlangsung. Tahap pembukaan ini dibuka oleh pihak sekolah serta memberikan arahan/ nasehat bagi peserta selama kegiatan berlangsung. Selain itu para peserta juga kita berikan arahan terkait kegiatan apa saja yang akan dilakukan selama MABIT. Tahap Pelaksanaan Gambar 3. Mengaji Bersama Tahapan berikutnya adalah tahap pelaksanaan. Untuk program MABIT di sini, Diawali dengan membaca al-Qur’an bersama-sama, dzikir, shalat berjamaah, pemberian materi tajwid dimasing-masing halaqah serta menonton film Islami. Kemudian pada tanggal 25 Agustus 2024 kegiatan mabit diisi dengan olahraga, sarapan bersama, fun games, kemudian penutupan. Khidmatul Mujtama’ 15 DOI: https://doi.org/10.59270/-|----|- Khidmatul Mujtama’ (Jurnal PKM STISHK Kuningan) E-ISSN: XXXX-YYYY || P-ISSN: XXXX-YYYY DOI: https://doi.org/10.59270/-|----|- Vol.1 No.01 (Oktober 2024) Program kegiatan Malam Bina Iman dan Takwa (MABIT) dapat menciptakan dan membangun sikap keberagaman peserta didik, diantaranya adalah seni baca Al-Qur’an dan praktik pengamalan ibadah lainnya yang mendukung peningkatan potensi spiritual dan menanamkan nilai-nilai keagamaan serta dapat membentuk peserta didik yang beriman dan bertakwa kepada Allah Swt., (Astuti et al., 2023) Program kegiatan Malam Bina Iman dan Takwa (MABIT) dilaksanakan demi menguatkan program pendidikan karakter yang telah diterapkan sekolah. Dengan adanya program kegiatan Malam Bina Iman dan Takwa (MABIT) diharapkan peserta didik mampu memiliki kecerdasan intelektual juga memiliki kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual yang bersatu pada jiwa. Tentunya untuk mencapai predikat demikian, pendidikan berperan penting untuk membentuk generasi yang berkarakter dengan cara mengimplementasikan nilai-nilai karakter kepada peserta didik melalui program-program sekolah salah satunya kegiatan Malam Bina Iman dan Takwa (MABIT) (Rifai & Rusdiati, 2021). Pendidikan karakter pada anak harus ditekankan sejak dini dengan melakukan pembiasaan yang terus menerus agar memberikan bekas dan kesan yang mendalam kepada diri anak. Hal itu perlu adanya kerja sama antara guru, dan orang tua dalam mendidik anak agar tujuan yang diinginkan dapat terlaksana dengan baik, yaitu mengarahkan anak untuk memiliki akhlakul karimah yang tertuang dalam tiga poin, yaitu akhlak kepada Allah Swt sebagai tuhan pencipta alam dan isinya, akhlak kepada Rasulullah, dan akhlak kepada diri sendiri dan lingkungan sebagai tempat bersosialisasi di dalam masyarakat (Huda et al., 2021). SIMPULAN Penerapan MABIT di MI PUI Ciwedus I dilaksanakan beberapa kegiatan yaitu shalat berjamaah, qiyamul lail, tilawah al-Quran, Tahsin , Nonton bersama Film Islami dan kegiatan ar-Riyadhah (olahraga) yang bertujuan untuk membentuk karakter religius peserta didik yang berdasarkan nilai-nilai keislaman dengan menyelaraskan prinsip prinsip pendidikan karakter yang di contohkan Rasulullah Saw., yang mana menjadikan peserta didik yang beriman dan berbudi pekerti luhur serta memiliki intelektual yang tinggi sehingga dengan karakter peserta didik yang kuat dan tangguh, para peserta didik akan mampu menghadapi pengaruh pengaruh buruk serta tantangan pada era globalisasi ini. DAFTAR PUSTAKA Aina, N. Q. (2023). Metode pembinaan Akhlakul Karimah melalui kegiatan keagamaan The Method of Fostering Akhlakul Karimah Through. At Turots : Jurnal Pendidikan Islam, 5(4), 414–423. Astuti, Y., Syamsyuddin, & Nurhidayati, I. (2023). Implementasi Kegiatan (Mabit) Malam Bina Iman dan Takwa Dalam Meningkatkan Kecerdasan Spritual Siswa Kelas XI Putri di Madrasah Qur’aniyah Al-Husnayain Surakarta Tahun Ajaran 2022/2023. Rayah Al-Islam, 7(3), 1106–1115. https://doi.org/10.37274/rais.v7i3.802 Khidmatul Mujtama’ 16 DOI: https://doi.org/10.59270/-|----|- Khidmatul Mujtama’ (Jurnal PKM STISHK Kuningan) E-ISSN: XXXX-YYYY || P-ISSN: XXXX-YYYY DOI: https://doi.org/10.59270/-|----|- Vol.1 No.01 (Oktober 2024) Dureau, C. (2019). Pembaru dan kekuatan local untuk pembangunan, Australian Community Development and Civil Society Strengthening Scheme (ACCESS) Tahap II. Agustus, 96–97. Huda, B. N., Wanto, S., & Faza, A. M. D. (2021). Konsep Mabit Dalam Pembinaan Akhlak Santri (Studi Terhadap Yayasan Pendidikan Sahabat Qur’an Di Sei Bejangkar Kabupaten Batu Bara). 35(3), 93–104. Muzammil, M., & RIJAL, F. (2021). Membentuk Karakter Religius Peserta Didik Melalui Program Mabit (Malam Bina Iman Dan Taqwa) Di Man Model Banda Aceh. Kalam: Jurnal Agama Dan Sosial Humaniora, 8(2), 90–100. https://doi.org/10.47574/kalam.v8i2.96 Nikmatulaili, N., Rifma, R., & Syahril, S. (2023). Peran Guru dalam Pembentukan Karakter Peserta Didik. Journal of Education and Instruction (JOEAI), 6(1), 262– 269. https://doi.org/10.31539/joeai.v6i1.5696 Nuraeni, H. A., Zulkarnain, N. S., Azizah, M. N., & Rahma, D. (2023). Krisis Akhlak dan Sosial Manusia di Era Modern. Jurnal Pendidikan Tambusai, 7, 29473–29477. https://jptam.org/index.php/jptam/article/download/11740/9043 Putri, S. B. (2021). Program Studi Pendidikan Agama Islam Implementasi Pendidikan Karakter Melalui Kegiatan Mabit ( Malam Bina Iman Dan Taqwa ). Rasyid, R., Fajri, M. N., Wihda, K., Ihwan, M. Z. M., & Agus, M. F. (2024). Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Dunia Pendidikan. Jurnal Basicedu, 8(2), 1278–1285. https://doi.org/10.31004/basicedu.v8i2.7355 Rifai, A., & Rusdiati. (2021). Pembinaan Karakter Melalui Kegiatan Malam Bina Iman Dan Taqwa di SDIT An-Nahl Tabalong Ahmad. BADA’A: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 3(2), 104–118. Zulkhairi, T. (2017). Membumikan Karakter Jujur Dalam Pendidikan Di Aceh. Jurnal Ilmiah Islam Futura, 11(1), 104. https://doi.org/10.22373/jiif.v11i1.65 Khidmatul Mujtama’ 17 DOI: https://doi.org/10.59270/-|----|-