Vol. 1 No. 1 (AGUSTUS - 2. KINERJA APARAT KEPOLISIAN DALAM PENYULUHAN BAHAYA NARKOBA DI KALANGAN PELAJAR SMA NEGERI 1 PALU PADA DIREKTORAT RESERSE NARKOBA KANTOR KEPOLISIAN DAERAH SULAWESI TENGAH 1,2,3 Burhan Husain1*. Daniel T. Todapa2. Juemi3 Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Panca Marga Palu. Palu. Indonesia RIWAYAT ARTIKEL Diterima: 28-07-2025 Disetujui: 27-08-2025 Dipublikasi: 28-08-2025 Kata Kunci: Kinerja. Direktorat Reserse Narkoba. Penyuluhan. Pelajar ABSTRAK Penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar merupakan ancaman serius yang dapat merusak masa depan generasi muda. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kinerja Direktorat Reserse Narkoba Polda Sulawesi Tengah dalam melaksanakan penyuluhan bahaya narkoba kepada pelajar, dengan menggunakan pendekatan Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan personel kepolisian dan pihak sekolah yang terlibat, serta dokumentasi kegiatan penyuluhan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kinerja Direktorat Reserse Narkoba mencakup produktivitas penyuluhan yang rutin dan menjangkau berbagai jenjang pendidikan, kualitas pelayanan yang komunikatif dan interaktif, serta efisiensi melalui kolaborasi lintas sektor. Selain itu, penyuluhan ini didukung oleh sikap positif personel, seperti tanggung jawab moral, kedisiplinan kerja, dan inisiatif dalam mengembangkan metode penyampaian yang menarik bagi Meskipun demikian, beberapa kendala masih ditemukan, seperti keterbatasan fasilitas, kurangnya dokumentasi evaluatif, dan ketergantungan terhadap dana eksternal. Oleh karena itu, peningkatan kualitas penyuluhan memerlukan penguatan kelembagaan, dukungan anggaran, dan pelatihan berkelanjutan bagi personel. PENDAHULUAN Penyalahgunaan narkotika merupakan salah satu bentuk kejahatan luar biasa . xtraordinary crim. yang dapat mengancam berbagai aspek kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara. Kejahatan ini tidak hanya merusak kesehatan individu, tetapi juga dapat menghancurkan tatanan sosial, moral generasi muda, serta kestabilan nasional (Munandar, 2. Negara-negara di seluruh dunia, termasuk Indonesia, menghadapi tantangan besar dalam memerangi peredaran gelap dan penyalahgunaan narkoba, karena kejahatan ini bersifat lintas batas dan memiliki jaringan yang kuat serta terorganisir (Herindrasti, 2018. dan Fikri, 2. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, yang merupakan landasan hukum utama dalam penanganan penyalahgunaan narkoba di Indonesia, dijelaskan bahwa narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semi-sintetis, yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa nyeri, serta menimbulkan ketergantungan. Dalam konteks ini, penyalahgunaan narkoba tidak hanya dipandang sebagai pelanggaran hukum, tetapi juga sebagai ancaman serius terhadap pembangunan sumber daya manusia Indonesia yang berkualitas. Kondisi ini semakin mengkhawatirkan ketika tren penyalahgunaan narkoba menunjukkan peningkatan di kalangan remaja dan pelajar. Kelompok usia muda, khususnya pelajar, menjadi PATRIOT e-ISSN: 3109 - 7227 *Korespondensi Burhan Husain Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Panca Marga Palu. Palu. Indonesia e-mail: husainburhan@gmail. Vol. 1 No. 1 (AGUSTUS - 2. target empuk para pengedar narkoba karena dinilai mudah dipengaruhi, masih memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, serta belum memiliki ketahanan moral dan spiritual yang kuat. Menurut Djibran et al. , pelajar seringkali dijadikan sasaran awal dengan modus pemberian narkoba secara cuma-cuma, yang kemudian mendorong mereka masuk ke dalam lingkaran ketergantungan dan bahkan menjadi pengedar demi memenuhi kebutuhannya. Menanggapi fenomena tersebut, aparat penegak hukum, khususnya Kepolisian Republik Indonesia, memiliki peran strategis dalam melakukan upaya pencegahan penyalahgunaan Salah satu bentuk nyata dari upaya tersebut adalah kegiatan penyuluhan yang ditujukan kepada kalangan pelajar. Penyuluhan dianggap sebagai strategi preventif yang penting untuk menanamkan pemahaman, kesadaran, dan sikap kritis terhadap bahaya narkoba sejak dini. Dalam pelaksanaannya, penyuluhan ini dilakukan oleh satuan-satuan khusus seperti Direktorat Reserse Narkoba yang memiliki tugas dan fungsi utama dalam pemberantasan peredaran serta pencegahan penyalahgunaan narkotika (Riani et al. , 2. Namun demikian, efektivitas penyuluhan yang dilakukan oleh aparat kepolisian kerap Sejumlah persoalan masih ditemukan, seperti keterbatasan sumber daya manusia yang memiliki kemampuan komunikasi yang baik, minimnya pendekatan yang partisipatif dalam menyampaikan materi, serta kurangnya kolaborasi antara pihak sekolah dan kepolisian dalam menjangkau siswa secara menyeluruh. Dalam beberapa kasus, penyuluhan dianggap sebagai kegiatan formalitas belaka yang belum memberikan dampak signifikan terhadap perubahan perilaku pelajar. Menurut teori kinerja yang dikemukakan oleh Mangkunegara . , kinerja merupakan hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seseorang dalam melaksanakan tugas sesuai tanggung jawab yang diberikan. Kinerja aparat kepolisian dalam kegiatan penyuluhan bahaya narkoba dapat dilihat dari berbagai indikator, di antaranya: . kualitas penyampaian . jumlah kegiatan penyuluhan yang telah dilaksanakan . kemampuan melaksanakan tugas secara tepat dan profesional. tanggung jawab dan komitmen terhadap keberhasilan program penyuluhan. Di samping itu. Robbins . menambahkan bahwa efektivitas dan ketepatan waktu pelaksanaan juga menjadi ukuran penting dalam menilai kinerja suatu kegiatan. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini difokuskan untuk mengkaji Kinerja Aparat Kepolisian dalam Penyuluhan Bahaya Narkoba di Kalangan Pelajar SMA Negeri 1 Palu, dengan studi kasus pada Direktorat Reserse Narkoba Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah. Penelitian ini diharapkan mampu memberikan gambaran mengenai sejauh mana kegiatan penyuluhan telah dilakukan secara efektif, kendala yang dihadapi aparat dalam pelaksanaannya, serta respon dari pelajar sebagai sasaran utama kegiatan. Temuan dari penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi dan masukan dalam upaya peningkatan kualitas program penyuluhan bahaya narkoba ke depan. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, yang berfokus pada makna di balik fakta dan realitas sosial yang diteliti secara mendalam. Sebagaimana dinyatakan oleh Berg . alam Satori & Komariah, 2. , pendekatan ini cenderung bersifat naturalistik dan fenomenologis, sehingga memungkinkan peneliti untuk memahami secara utuh konteks sosial serta perilaku subjek dalam lingkungan alaminya. Penelitian kualitatif tidak hanya berfungsi untuk menggambarkan data, melainkan juga untuk menghasilkan deskripsi yang valid berdasarkan teknik pengumpulan data seperti wawancara mendalam, observasi partisipatif, studi dokumen, serta dilakukan triangulasi guna memperoleh keabsahan informasi. Analisis data pun dilakukan secara sistematis melalui tahapan reduksi data, tampilan data, refleksi, serta pengambilan kesimpulan yang diuji melalui kriteria dependability, credibility, transferability, dan confirmability (Sugiyono, 2. PATRIOT e-ISSN: 3109 - 7227 *Korespondensi Burhan Husain Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Panca Marga Palu. Palu. Indonesia e-mail: husainburhan@gmail. Vol. 1 No. 1 (AGUSTUS - 2. Lokasi penelitian ditetapkan secara sengaja di Direktorat Reserse Narkoba Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah. Pemilihan lokasi ini dilandasi oleh beberapa pertimbangan praktis dan substansial, seperti kemudahan akses, ketersediaan data primer dan sekunder yang memadai, serta belum adanya penelitian sebelumnya yang secara khusus mengkaji kinerja aparat kepolisian dalam penyuluhan bahaya narkoba terhadap pelajar di wilayah tersebut. Penelitian ini direncanakan berlangsung selama tiga bulan. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan sekunder. Data primer diperoleh langsung dari para informan melalui wawancara mendalam, sedangkan data sekunder didapatkan dari berbagai sumber tertulis seperti buku, jurnal, peraturan perundangundangan, serta dokumen terkait lainnya. Penentuan informan dilakukan secara purposive, dengan memilih pihak-pihak yang dipandang mengetahui secara mendalam mengenai isu yang Informan tersebut antara lain adalah pejabat dan anggota Direktorat Reserse Narkoba Polda Sulteng seperti AKBP Zainul Fachry. Ipda Sarif. Ipda Denni Adiyanto. Ipda Janni Sagala, serta seorang pelajar dari SMA Negeri 1 Palu sebagai representasi dari kelompok sasaran Pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung di lapangan, wawancara mendalam, serta dokumentasi terhadap berbagai arsip dan catatan yang relevan. Observasi digunakan untuk melihat secara langsung kegiatan penyuluhan dan interaksi antara aparat dengan pelajar, sedangkan wawancara digunakan untuk menggali pandangan, pengalaman, dan persepsi para informan. Dokumentasi digunakan sebagai pelengkap informasi guna memperkuat temuan yang diperoleh dari teknik lainnya. Proses analisis data dilakukan secara bersamaan dengan pengumpulan data, dimulai sejak peneliti merumuskan masalah hingga penyusunan laporan akhir. Model analisis data yang digunakan mengacu pada konsep Miles dan Huberman, yang mencakup tahapan pengumpulan data, kondensasi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan atau verifikasi. Data yang diperoleh dari lapangan dicatat dalam bentuk deskripsi dan refleksi, kemudian disederhanakan, dipilah, dan dikategorikan untuk menemukan pola dan tema yang relevan. Selanjutnya, data yang telah disusun disajikan secara sistematis dalam bentuk narasi yang mendukung proses penarikan kesimpulan secara induktif. Seluruh proses ini dilakukan secara terus menerus hingga data mencapai titik jenuh dan tidak lagi memberikan informasi baru. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis bagaimana kinerja Direktorat Reserse Narkoba Polda Sulawesi Tengah dalam menyelenggarakan kegiatan penyuluhan tentang bahaya narkoba kepada pelajar. Berdasarkan hasil wawancara dengan sejumlah informan dari kepolisian serta pelajar sebagai peserta penyuluhan, diperoleh beberapa temuan penting yang dapat dijelaskan melalui tiga dimensi utama kinerja organisasi, yaitu produktivitas, kualitas pelayanan, dan efisiensi. Ketiga dimensi ini memberikan gambaran menyeluruh mengenai kekuatan serta tantangan yang dihadapi dalam pelaksanaan program, baik dari segi kuantitas kegiatan, mutu interaksi edukatif, hingga pemanfaatan sumber daya secara optimal dalam mendukung tujuan pencegahan narkoba di kalangan pelajar. Produktivitas Kegiatan penyuluhan bahaya narkoba yang dilakukan oleh Direktorat Reserse Narkoba Polda Sulawesi Tengah menunjukkan produktivitas yang cukup baik, ditandai dengan intensitas pelaksanaan kegiatan yang relatif rutin. AKBP Zainul Fachry selaku Kasubdit I Direktorat Reserse Narkoba menyampaikan bahwa kegiatan penyuluhan telah menjadi bagian dari agenda tetap yang menyasar institusi pendidikan, baik di tingkat SMA, perguruan tinggi, maupun Ia menuturkan: PATRIOT e-ISSN: 3109 - 7227 *Korespondensi Burhan Husain Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Panca Marga Palu. Palu. Indonesia e-mail: husainburhan@gmail. Vol. 1 No. 1 (AGUSTUS - 2. AuKami rutin melakukan penyuluhan setiap bulan, bahkan terkadang lebih dari itu jika ada permintaan dari sekolah atau lembaga pendidikan lainnya. Ay (Wawancara, 12 Mei 2. Hal ini menunjukkan adanya komitmen organisasi dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat, khususnya pelajar, mengenai bahaya penyalahgunaan narkoba. Produktivitas tersebut tidak hanya diukur dari jumlah kegiatan, tetapi juga dari cakupan sasaran yang semakin Semakin banyak sekolah yang terlibat dan meningkatnya partisipasi peserta menjadi indikator bahwa program penyuluhan telah menjangkau lapisan yang lebih luas. Selain itu, peningkatan permintaan dari pihak sekolah untuk pelaksanaan kegiatan serupa menjadi sinyal bahwa program ini dinilai relevan, dibutuhkan, dan memiliki nilai manfaat yang nyata di lingkungan pendidikan. Namun demikian, produktivitas ini masih terkendala pada aspek dokumentasi dan evaluasi. Beberapa kegiatan penyuluhan belum terdokumentasi secara sistematis dalam bentuk laporan tertulis yang dapat dijadikan dasar evaluasi jangka panjang. Padahal, dokumentasi yang baik dapat menjadi tolok ukur dalam menilai capaian program dan memperbaiki kekurangan dalam pelaksanaan berikutnya. Selain itu, arsip yang rapi juga berguna untuk keperluan pelaporan institusional, pertanggungjawaban anggaran, serta menjadi sumber pembelajaran bagi personel baru agar keberlanjutan program dapat terjaga secara konsisten dan profesional. Kualitas Pelayanan Kualitas pelayanan dalam konteks ini mencakup metode penyuluhan, materi yang disampaikan, serta cara penyampaian pesan kepada audiens. Berdasarkan pengamatan langsung dan wawancara dengan pelajar, diketahui bahwa penyuluhan yang dilakukan umumnya bersifat persuasif dan menggunakan pendekatan kekeluargaan. Ipda Sarif, salah satu penyuluh, menegaskan pentingnya pendekatan yang sesuai dengan karakter generasi muda: AuKami tidak ingin sekadar ceramah satu arah, kami ingin berdiskusi, mendengarkan keresahan mereka, dan menjawab pertanyaan mereka secara terbuka. Ay (Wawancara, 14 Mei 2. Salah satu pelajar dari SMA Negeri 1 Palu juga mengungkapkan bahwa kegiatan penyuluhan terasa menyenangkan karena disampaikan dengan santai dan diselingi dengan visual yang menarik seperti video pendek dan testimoni mantan pengguna narkoba. Hal ini memperkuat teori bahwa kualitas pelayanan dalam komunikasi publik sangat ditentukan oleh kemampuan penyuluh dalam menyesuaikan gaya komunikasi dengan karakter audiens. Pendekatan komunikatif yang ramah, interaktif, dan relevan dengan dunia remaja terbukti mampu meningkatkan atensi, keterlibatan, serta pemahaman pelajar terhadap materi yang disampaikan, sehingga pesan antinarkoba dapat diterima secara efektif dan membekas secara emosional. Namun, kendala muncul ketika jumlah peserta terlalu banyak sehingga suasana menjadi kurang kondusif. Dalam beberapa kesempatan, ruangan yang disediakan tidak mampu menampung seluruh peserta dengan nyaman, yang pada akhirnya mengurangi efektivitas penyampaian pesan. Kondisi ini menyebabkan gangguan konsentrasi, suara penyuluh tidak terdengar merata, dan interaksi menjadi terbatas. Untuk itu, diperlukan evaluasi teknis terkait kapasitas ruangan, pembagian sesi secara bergelombang, atau penggunaan media daring sebagai alternatif pelengkap guna menjamin kualitas penyuluhan tetap terjaga meskipun audiens berjumlah besar. Efisiensi Dari aspek efisiensi. Direktorat Reserse Narkoba Polda Sulteng dinilai cukup cermat dalam memanfaatkan sumber daya yang tersedia. Penyuluhan sering dilakukan dengan menggandeng pihak eksternal, seperti BNN. Dinas Pendidikan, maupun organisasi kepemudaan. Kolaborasi ini tidak hanya menghemat anggaran, tetapi juga memperkaya materi dan perspektif yang diterima oleh pelajar. Ipda Denni Adiyanto menjelaskan: PATRIOT e-ISSN: 3109 - 7227 *Korespondensi Burhan Husain Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Panca Marga Palu. Palu. Indonesia e-mail: husainburhan@gmail. Vol. 1 No. 1 (AGUSTUS - 2. AuKami sadar bahwa kami tidak bisa bekerja sendiri, maka kami libatkan berbagai pihak, termasuk guru BK dan komunitas sekolah, agar pesan yang kami sampaikan bisa Ay (Wawancara, 15 Mei 2. Namun, masih terdapat kendala dalam hal pendanaan. Beberapa kegiatan penyuluhan bergantung pada ketersediaan dana hibah atau kerja sama dengan instansi lain. Ketika dana terbatas, kegiatan penyuluhan terpaksa dikurangi baik dari segi frekuensi maupun skalanya. Hal ini menunjukkan bahwa aspek efisiensi masih bisa ditingkatkan melalui penguatan anggaran internal atau dukungan dari pemangku kepentingan. Selain itu, perencanaan keuangan jangka panjang yang lebih matang serta pelibatan sektor swasta atau CSR perusahaan juga dapat menjadi alternatif strategis untuk menjaga kesinambungan program penyuluhan di masa mendatang. Secara keseluruhan, kinerja Direktorat Reserse Narkoba Polda Sulawesi Tengah dalam melaksanakan penyuluhan bahaya narkoba kepada pelajar telah menunjukkan arah yang positif, meskipun masih terdapat ruang untuk perbaikan pada aspek pendanaan, dokumentasi, dan penyempurnaan metode komunikasi. Pendekatan partisipatif dan kolaboratif yang diterapkan menjadi nilai tambah dalam membangun kesadaran pelajar akan bahaya narkoba. Keterlibatan aktif dari pihak sekolah, guru pendamping, serta dukungan orang tua turut memperkuat dampak jangka panjang dari program ini, menjadikannya tidak hanya sebagai kegiatan seremonial, tetapi bagian integral dari upaya pencegahan yang berkelanjutan dan kontekstual. Tanggung Jawab. Disiplin, dan Inisiatif Personel Selain indikator formal kinerja seperti produktivitas, kualitas pelayanan, dan efisiensi, keberhasilan kegiatan penyuluhan juga sangat dipengaruhi oleh sikap individu dari petugas yang terlibat, khususnya dalam hal tanggung jawab, kedisiplinan, dan inisiatif pribadi. Berdasarkan hasil wawancara, diketahui bahwa personel Direktorat Reserse Narkoba menunjukkan perasaan tanggung jawab yang tinggi terhadap upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba di kalangan Mereka tidak sekadar menjalankan tugas formal, tetapi juga memperlakukan kegiatan penyuluhan sebagai bagian dari panggilan moral untuk menyelamatkan generasi muda. Sikap ini tercermin dalam kesiapan mereka menghadapi berbagai tantangan di lapangan, termasuk keterbatasan sarana, waktu yang terbatas, hingga dinamika karakteristik peserta. Komitmen personal semacam ini menjadi elemen penting yang memperkuat dampak jangka panjang dari program penyuluhan, sekaligus membangun citra positif institusi kepolisian di mata masyarakat. AKBP Zainul Fachry menegaskan: AuKami sadar betul, anak-anak ini rentan. Kalau bukan kita yang mencegah, siapa lagi? Kami merasa punya kewajiban moral untuk turun ke sekolah-sekolah. Ay (Wawancara, 12 Mei 2. Dalam hal disiplin, para personel dinilai konsisten hadir tepat waktu, mempersiapkan materi dengan baik, serta mematuhi prosedur internal selama kegiatan berlangsung. Guru pendamping dari salah satu SMA menyampaikan bahwa kehadiran tim penyuluh selalu sesuai dengan jadwal dan tidak pernah dibatalkan secara mendadak. Hal ini mencerminkan profesionalisme dalam melaksanakan tugas non-operasional di luar markas, sekaligus menunjukkan etos kerja yang tinggi serta rasa hormat terhadap waktu dan komitmen yang telah disepakati bersama pihak sekolah dan peserta penyuluhan. Sementara itu, inisiatif personel terlihat dari kemampuan mereka mengembangkan metode komunikasi yang menarik secara mandiri, tanpa selalu menunggu instruksi pimpinan. Beberapa penyuluh bahkan secara sukarela membuat media presentasi sendiri, mengumpulkan video edukatif, dan menyusun simulasi interaktif agar peserta tidak bosan. Upaya ini menunjukkan adanya kreativitas dan kepedulian yang tinggi terhadap efektivitas penyuluhan. Inisiatif semacam ini penting untuk menciptakan pengalaman belajar yang lebih personal dan kontekstual, sehingga pesan yang disampaikan dapat lebih mudah diterima dan diingat oleh para pelajar sebagai target utama program. Ipda Sarif menjelaskan: PATRIOT e-ISSN: 3109 - 7227 *Korespondensi Burhan Husain Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Panca Marga Palu. Palu. Indonesia e-mail: husainburhan@gmail. Vol. 1 No. 1 (AGUSTUS - 2. AuKami kadang berinovasi sendiri. Kalau pakai ceramah terus pasti membosankan. Jadi kami kembangkan kuis-kuis kecil atau ajak mereka role-play supaya lebih hidup. Ay (Wawancara, 14 Mei 2. Sikap proaktif ini menegaskan bahwa keberhasilan program tidak hanya bergantung pada struktur organisasi yang formal, tetapi juga sangat ditentukan oleh komitmen, integritas, dan kesadaran individual personel dalam menjalankan tugas. Tanggung jawab, disiplin, dan inisiatif menjadi elemen kunci yang membentuk kultur kerja positif, mendorong efektivitas komunikasi, serta memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap institusi kepolisian sebagai pelindung dan pengayom generasi muda dari ancaman narkoba. Nilai-nilai ini mencerminkan bahwa keberhasilan program penyuluhan tidak hanya merupakan hasil dari perencanaan yang baik, tetapi juga dari dedikasi personal yang ditunjukkan secara konsisten di lapangan, bahkan dalam kondisi keterbatasan sarana dan tantangan operasional. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian, penyuluhan bahaya narkoba oleh Direktorat Reserse Narkoba Polda Sulawesi Tengah menunjukkan kinerja yang cukup positif. Kegiatan dilaksanakan rutin dan menjangkau berbagai jenjang pendidikan, meskipun masih lemah dalam dokumentasi dan evaluasi formal. Penyuluhan disampaikan secara persuasif dan komunikatif dengan metode interaktif, namun terkendala oleh keterbatasan ruang dan jumlah peserta. Efisiensi tercapai melalui kerja sama dengan pihak eksternal, meski masih bergantung pada dana kerja sama. Keberhasilan program juga didorong oleh komitmen personel, kedisiplinan, dan inisiatif pribadi. Secara keseluruhan, program ini efektif dan berdampak positif, namun perlu penguatan dokumentasi, sarana pendukung, dan kemandirian anggaran untuk keberlanjutan. REFERENSI