Vol. No. Juli, page 1-6 ISSN: 2962-7907 (Onlin. Kesiapan Keluarga dalam Melakukan Perawatan Pencegahan Dekubitus pada Pasien Stroke di Klinik Neurologi RSUD Cimahi Monica Saptiningsih *. Albertus Budi Arianto . Wanti Winda Agustina 1, 2, 3 STIKes Santo Borromeus. Jl. Parahyangan Kavling 8 Blok B No. 1 Kota Baru Parahyangan. Padalarang. Bandung Barat 40558. Indonesia monsa2012@gmail. albertusbudi12@gmail. wantiwinda29@gmail. * Coresponding author INFORMASI ARTIKEL Sejarah artikel: Tanggal diterima: 01 Juli 2022 Tanggal revisi: 24 Juli 2022 Diterima: 10 Agustus 2022 Diterbitkan: 25 Agustus 2022 Kata Kunci : Kesiapan keluarga Pencegahan Stroke ABSTRAK Dekubitus merupakan kerusakan pada kulit atau jaringan subkutan akibat imobilisasi lama yang meningkatkan morbiditas dan mortalitas. Dekubitus dapat meningkatkan beban finansial dalam perawatan dan pemulihan bagi pasien stroke. Kondisi ini membutuhkan bantuan dan kesiapan keluarga dalam melakukan perawatan pencegahan dekubitus. Tujuan penelitian untuk mengetahui kesiapan keluarga dalam melakukan perawatan pencegahan dekubitus pada pasien stroke. Desain penelitian deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian adalah keluarga dari pasien dengan stroke di Klinik Neurologi RSUD Cimahi pada periode MeiAeJuli 2022 sebanyak 130 orang. Sampel sebanyak jumlah populasi didapatkan dengan teknik total sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner yang sudah diuji validitas dan reliabilitas. Analisis data menggunakan distribusi frekuensi dan persentase. Hasil penelitian didapatkan 52. 3% responden siap melakukan perawatan pencegahan dekubitus pada pasien stroke. Saran bagi tenaga kesehatan agar meningkatkan pemberian edukasi dan media edukasi bervariasi pada keluarga pasien dengan bahasa yang mudah dipahami mengenai perawatan pencegahan dekubitus pada pasien stroke. Copyright . 2022 Prosiding Seminar Nasional Riset Kesehatan This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License PENDAHULUAN Stroke menjadi penyebab utama kematian kedua dan penyebab ketiga dari kombinasi kematian dan kecacatan di seluruh dunia (Feigin et al. , 2. Stroke merupakan penyakit terbanyak di Indonesia dan menduduki urutan pertama di Asia (Dixit et al. , 2. Pengaruh stroke terhadap tubuh tergantung pada bagian otak yang terkena. Pasien stroke dengan kelemahan anggota gerak dapat menyebabkan penurunan fungsi gerak dalam waktu lama, sehingga mengalami imobilisasi dan ketergantungan total ataupun parsial saat melakukan aktivitas sehari-hari (Siti et al. , 2. Kondisi imobilisasi yang lama dapat menimbulkan dekubitus (Dixit et al. , 2. Dekubitus atau luka tekan adalah kerusakan pada kulit dan atau jaringan di bawahnya, biasanya di atas penonjolan tulang . tau berhubungan dengan alat medis atau lainnya akibat tekanan terus menerus . ermasuk tekanan akibat pergesera. Kerusakan yang timbul berupa kulit utuh hingga luka terbuka dan menyakitkan (NHS Improvement. Hasil penelitian menunjukkan insiden dekubitus di Indonesia sebesar 33. angka ini sangat tinggi bila dibandingkan dengan insiden dekubitus di ASEAN yang hanya 1Ae31. 3% (Rismawan, 2. Kejadian dekubitus di salah satu rumah sakit kota Cimahi pada tahun 2013Ae2016 sebanyak 56 kasus (Wahyudin. Suryosubianto, 2. Dekubitus meningkatkan morbiditas dan mortalitas. Pasien stroke yang mengalami dekubitus dapat meningkatkan beban finansial sebesar 1. 4%-4% dari biaya pelayanan kesehatan (Tervo-Heikkinen et al. , 2. Prosiding homepage: http://jurnalstikestulungagung. id/index. php/riset *Corresponding author: monsa2012@gmail. Saptiningsih, et al. , 2022 Dekubitus yang terjadi menunjukkan ketidakmampuan pasien merawat dirinya sendiri, oleh karena itu keluarga berperan penting dalam upaya pencegahan terjadinya dekubitus pada pasien yang mengalami kelemahan fisik, khususnya pasien dengan stroke (Agustina & Rasid, 2. Keluarga atau informal caregiver berperan penting dalam memberikan perawatan sehari-hari bagi pasien pasca stroke. Penyakit stroke berdampak terhadap fisik maupun mental, sehingga pasien dengan stroke bergantung kepada keluarga serta membutuhkan perawatan dan pemulihan jangka panjang (Arista et , 2. Proses perawatan dan pemulihan yang berlangsung cukup lama memerlukan kesiapan keluarga (Siti et al. , 2. , khususnya dalam perawatan pencegahan dekubitus. Hasil studi pendahuluan melalui wawancara pada lima orang sebagai keluarga pasien yang merawat pasien dengan stroke di Klinik Neurologi RSUD Cimahi didapatkan bahwa empat dari lima orang mengaku belum siap untuk merawat pasien dengan kondisi stroke, karena belum ada yang menderita sakit stroke dalam keluarga. Mereka mengatakan bingung apa yang harus dilakukan untuk merawat pasien dengan stroke dan bingung mencari orang yang menggantikan perannya jika sibuk bekerja. Kelima orang tersebut mengatakan memahami apa yang harus sesudah diberikan penjelasan oleh perawat dan dokter tentang perawatan pasien di rumah, seperti mengganti posisi miring kiri kanan, mengatur pola makan, waktu kontrol dan kepatuhan minum obat. Kesiapan keluarga didefinisikan sebagai rasa siap untuk bersedia berperan dalam berbagai domain pengasuhan seperti memberikan perawatan fisik, memberikan dukungan emosional, menyiapkan layanan dukungan di rumah, dan menangani stres pengasuhan (Zwicker, 2. Kesiapan keluarga merupakan hal penting dalam merawat pasien dengan stroke. Faktor yang memengaruhi kesiapan keluarga diantaranya pengalaman caregiver pre-stroke melalui pemberian edukasi, peran dan tanggung jawab keluarga (Abu et al. , 2. Hasil literature review (Rumiati et al. , 2. menjelaskan pentingnya intervensi edukasi dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan caregiver dalam memberikan perawatan sehari-hari untuk pasien pasca-stroke, mengurangi beban, mengurangi kecemasan dan meningkatkan kualitas hidup caregiver. Hasil penelitian lain mengenai kesiapan keluarga dalam merawat pasien stroke dengan kelemahan anggota gerak menunjukkan 57% dari 42 responden tidak memiliki kesiapan pengetahuan merawat pasien stroke dan 52% memiliki kesiapan ketrampilan merawat pasien stroke (Siti et al. , 2. Penelitian lain menunjukkan ada hubungan antara peran keluarga dengan pencegahan dekubitus di RSUD Kota Bogor (Agustina & Rasid, 2. Penelitian mengenai kesiapan keluarga dalam melakukan perawatan pencegahan dekubitus masih minimal. Kesiapan keluarga berperan penting dalam perawatan pasien dengan stroke, khususnya pencegahan dekubitus. Jika terjadi dekubitus dapat meningkatkan beban keluarga dalam merawat pasien dan pemulihan pasien lebih lama. Kesiapan keluarga untuk terlibat dan berperan aktif dalam perawatan pencegahan penyakit dekubitus pada akhirnya meningkatkan pemulihan pasien dan meningkatkan kualitas hidup pasien dan keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesiapan keluarga dalam melakukan perawatan pencegahan dekubitus di Klinik Neurologi RSUD Cimahi. BAHAN DAN METODE Desain penelitian deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Variabel penelitian tunggal yaitu kesiapan keluarga dalam perawatan pencegahan dekubitus pada pasien Populasi dalam penelitian ini adalah keluarga yang merawat pasien dengan stroke di Klinik Neurologi RSUD Cimahi periode MeiAeJuli 2022 rerata sebanyak 130 orang. Sampel dalam penelitian ini sesuai jumlah populasi yang didapatkan dengan teknik total Instrumen penelitian berupa kuesioner yang terdiri dari 18 pernyataan positif dengan bentuk skala likert . angat tidak setuju, tidak setuju, setuju, sangat setuj. mengenai kesiapan keluarga dalam perawatan pencegahan dekubitus pada pasien Homepage: http://jurnalstikestulungagung. id/index. php/comfort *Corresponding author: monsa2012@gmail. Saptiningsih, et al. , 2022 Kuesioner sudah diujikan pada 30 keluarga pasien stroke di Klinik Neurologi RSUD Cimahi. Hasil uji validitas menggunakan Pearson Product Moment didapatkan nilai r hitung Ou r tabel 0,361 (Nazir, 2. atau dalam kategori valid. Hasil uji reliabilitas menggunakan koefisien Cronbach alpha dengan hasil 0. 908 dan termasuk kategori sangat reliabel. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan distribusi frekuensi dan persentase. Sebelum melakukan penelitian, proposal penelitian sudah dilakukan kaji etik, baik oleh Komite Etik Penelitian Kesehatan di STIKes Santo Borromeus maupun Komite Etik Penelitian RSUD Cimahi. Penelitian dilaksanakan di Klinik Neurologi RSUD Cimahi selama 3 minggu setelah surat laik etik dikeluarkan oleh kedua institusi. Peneliti memberikan kuesioner secara langsung pada 100 responden sebagai keluarga yang merawat pasien stroke dan melalui link google form yang dibagikan melalui whatsapp pada 30 responden yang tidak sempat mengisi kuesioner secara langsung. Seluruh jawaban responden baik dari kuesioner maupun google form dilakukan pengolahan data dengan tahap editing, coding, processing, dan cleaning. Penelitian ini menerapkan prinsip etik meliputi prinsip respect for persons, beneficence dan maleficence, serta justice (Nasional, 2. HASIL DAN DISKUSI Hasil Penelitian Responden dalam penelitian ini adalah keluarga dari pasien yang menderita Karakteristik responden meliputi usia, jenis kelamin, pekerjaan, pendidikan terakhir, status perkawinan, kejadian stroke, penjelasan perawatan dan pencegahan luka pada pasien stroke (Tabel . Tabel 1. Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden . = . Karakteristik Usia . Jenis Kelamin Laki-Laki Perempuan Pekerjaan PNS/TNI/POLRI Swasta Wiraswasta IRT Buruh/Tani/Nelayan Sekolah/Mahasiswa Belum Bekerja Pendidikan Terakhir SMP SMA Perguruan Tinggi Kejadian stroke Baru Pertama Kali Sudah Pernah Sebelumnya Pemberian informasi pencegahan dekubitus Sudah Pernah Belum Pernah (%) Tabel 1 menunjukkan bahwa lebih dari setengah responden . 5%) berusia 26-35 tahun atau dewasa awal, lebih dari setengah responden . 7%) berjenis Homepage: http://jurnalstikestulungagung. id/index. php/comfort *Corresponding author: monsa2012@gmail. Saptiningsih, et al. , 2022 kelamin perempuan, kurang dari setengahnya responden . 0%) bekerja sebagai ibu rumah tangga (IRT), kurang dari setengahnya responden . 0%) berpendidikan SMA, hampir seluruh responden . 7%) sudah menikah, sebagian besar responden . ,2%) baru pertama kali merawat pasien dengan penyakit stroke, dan hampir seluruh responden . 8%) sudah pernah mendapat penjelasan pencegahan Tabel 2. Distribusi frekuensi Kesiapan Keluarga Pasien dalam Melakukan Perawatan Pencegahan Dekubitus pada Pasien Stroke . Kesiapan Keluarga Siap Tidak Siap Total Tabel 2 menunjukkan bahwa lebih dari setengah responden . 3%) siap untuk memberikan perawatan pencegahan dekubitus pada pasien stroke. Diskusi Hasil penelitian menunjukkan bahwa lebih dari setengah responden . siap untuk memberikan perawatan pencegahan dekubitus pada pasien stroke. Kesiapan keluarga dalam merawat pasien stroke diantaranya dipengaruhi oleh pengalaman keluarga merawat pasien stroke (Abu et al. , 2. yang mana sebanyak 8% responden dalam penelitian ini sudah pernah merawat pasien dengan stroke. Pengalaman keluarga dalam merawat pasien stroke di rumah dapat meningkatkan kesiapan keluarga, sehingga pencegahan dekubitus dapat diminimalkan (Young et al. Faktor pengalaman ini berhubungan dengan pemberian informasi sebelumnya. Hasil penelitian ini menunjukan sebanyak 93. 8% sudah pernah mendapat pemberian informasi tentang perawatan pencegahan dekubitus di rumah. Pemberian informasi sebelum pasien pulang ke rumah dapat meningkatkan pengetahuan. Pengetahuan keluarga yang telah didapatkan dapat meningkatkan kesiapan keluarga serta meningkatkan kualitas hidup pasien (Sheha et al. , 2. Sebaliknya, keluarga yang belum pernah mendapatkan informasi mengenai perawatan pencegahan dekubitus dapat meningkatkan risiko terjadinya dekubitus (Suwardianto, 2. Kurang dari setengah responden . %) berpendidikan SMA. Tingkat pendidikan responden merupakan faktor lain yang dapat memengaruhi kesiapan keluarga dalam perawatan pencegahan dekubitus pada pasien stroke. Semakin tinggi pendidikan, maka semakin tinggi pula pengetahuan yang dimiliki dan mendasari pengalaman untuk merawat pasien stroke (Hagedoorn et al. , 2. Kesiapan keluarga dalam penelitian ini dapat berkaitan dengan usia responden, yang mana lebih dari setengah responden . ,5%) berusia 26-35 tahun atau kategori masa dewasa awal. Bertambahnya usia dapat meningkatkan pemahaman dalam penerimaan informasi yang didapatkan, sehingga dapat memengaruhi kesiapan keluarga dalam merawat pasien stroke di rumah (Saputra. KESIMPULAN Hasil penelitian didapatkan 52. 3% responden memiliki kategori siap dalam melakukan perawatan pencegahan dekubitus pada pasien stroke di klinik neurologi. Kesiapan keluarga berkaitan dengan pengalaman keluarga merawat pasien dengan stroke dan pemberian informasi sebelumnya tentang perawatan pencegahan dekubitus pada pasien stroke di rumah. Homepage: http://jurnalstikestulungagung. id/index. php/comfort *Corresponding author: monsa2012@gmail. Saptiningsih, et al. , 2022 UCAPAN TERIMA KASIH Peneliti menyampaikan terima kasih kepada pihak STIKes Santo Borromeus dan RSUD Cimahi yang mengijinkan untuk dilaksanakan penelitian. REFERENSI