Enis Niken Herawati. Kuswarsantyo. Marwanto . Titik Putraningsih. Silih Wigaringtyas. Sutiyono Penguatan Karakter Melalui Pembelajaran Seni Budaya PENGUATAN KARAKTER MELALUI PEMBELAJARAN SENI BUDAYA Enis Niken Herawati1. Kuswarsantyo2. Marwanto3 . Titik Putraningsih4. Silih Wigaringtyas5. Sutiyono6 1,2,3,4,5,6 Universitas Negeri Yogyakarta niken_herawati@uny. id1 , kuswarsantyo@uny. id2 , marwanto@uny. titik_putraningsih@uny. id4 , silihwigaringtyas@uny. id5 , sutiyono@uny. ABSTRAK Pengabdian kegiatan Masyarakat (PKM) dengan judul Penguatan Karakter melalui Pembelajaran Seni BudayaAy dilaksanakan oleh tim PKM Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) bekerja sama dengan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Seni Budaya tingkat SMA se-DIY. Program ini bertujuan untuk memperkuat pendidikan karakter peserta didik melalui pendekatan pembelajaran seni budaya yang kreatif, kontekstual, dan berbasis nilai-nilai lokal. Metode pelaksanaan kegiatan meliputi sosialisasi, workshop, pendampingan guru, serta praktik pembelajaran inovatif yang berorientasi pada internalisasi nilai karakter, seperti disiplin, kerja sama, tanggung jawab, dan apresiasi terhadap budaya bangsa. Kegiatan berlangsung selama bulan Juni hingga September dengan melibatkan guru-guru seni budaya SMA se-DIY sebagai mitra utama. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa guru mitra memperoleh peningkatan kompetensi dalam merancang model pembelajaran seni budaya yang integratif, sedangkan siswa menunjukkan respons positif melalui meningkatnya motivasi, kreativitas, serta pemahaman akan nilai karakter yang terkandung dalam karya seni. Program ini berhasil memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan MGMP dalam upaya pengembangan pendidikan karakter berbasis seni budaya, sekaligus mendukung penguatan identitas budaya lokal di kalangan generasi muda. Kata Kunci: penguatan karakter. pembelajaran seni budaya. MGMP. SMA. PKM ABSTRACT The Community Partnership Program (PKM) entitled AuCharacter Strengthening through Arts and Culture LearningAy was conducted by a PKM team from Yogyakarta State University (UNY) in collaboration with the Arts and Culture Teacher Association (MGMP) of senior high schools across the Special Region of Yogyakarta (DIY). This program aimed to strengthen studentsAo character education through creative, contextual, and value-based arts and culture learning approaches. The implementation methods included socialization, workshops, teacher mentoring, and innovative teaching practices oriented toward the internalization of character values such as discipline, cooperation, responsibility, and appreciation of national culture. The activities were carried out from June to September with senior high school arts and culture teachers in DIY as the main partners. The results show that the partner teachers improved their competencies in designing integrative arts and culture learning models, while students demonstrated positive responses through increased motivation, creativity, and Volume 17 Nomor 1 Juni 2026 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 understanding of character values embodied in artistic works. This program successfully strengthened the synergy between universities and MGMP in promoting character education through arts and culture, while also supporting the preservation and reinforcement of local cultural identity among the younger generation. Keywords: character strengthening. arts and culture learning. MGMP. senior high PKM PENDAHULUAN Pendidikan karakter merupakan salah satu fokus utama dalam pengembangan kualitas sumber daya manusia di Indonesia, khususnya pada jenjang pendidikan Hal ini sejalan dengan kebijakan pemerintah yang menempatkan penguatan pendidikan karakter sebagai bagian integral dari kurikulum nasional (Kemendikbud, 2. Pendidikan karakter tidak hanya bertujuan membentuk peserta didik yang cerdas secara intelektual, tetapi juga berakhlak mulia, memiliki integritas, dan mampu berkontribusi positif dalam kehidupan bermasyarakat (Lickona, 2. Namun, berbagai kajian menunjukkan bahwa penerapan pendidikan karakter di sekolah masih menghadapi sejumlah kendala. Di antaranya adalah terbatasnya model pembelajaran yang efektif, kurangnya integrasi nilai-nilai budaya dalam kurikulum, serta minimnya kreativitas guru dalam mengembangkan strategi pembelajaran yang kontekstual dan menyenangkan (Suyatno, 2. Kendala tersebut menyebabkan pendidikan karakter sering kali berhenti pada tataran kognitif atau wacana moral, belum sepenuhnya menyentuh aspek afektif dan psikomotor peserta didik. Mata pelajaran seni budaya memiliki potensi besar sebagai sarana internalisasi nilai karakter. Seni budaya tidak hanya berfungsi untuk melatih keterampilan estetis, tetapi juga menjadi wahana pembentukan sikap disiplin, kerja sama, toleransi, tanggung jawab, serta menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya bangsa (Suastika, 2. Melalui kegiatan berkesenian, siswa dilatih untuk menghargai perbedaan, mengekspresikan diri secara positif, serta menanamkan nilai kebersamaan dalam proses berkarya. Dengan demikian, seni budaya dapat menjadi jembatan efektif antara aspek kognitif, afektif, dan psikomotor dalam pendidikan karakter. Mitra dalam program ini adalah Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Seni Budaya tingkat SMA se-DIY. MGMP merupakan wadah profesional bagi guru dalam Volume 17 Nomor 1 Juni 2026 Enis Niken Herawati. Kuswarsantyo. Marwanto . Titik Putraningsih. Silih Wigaringtyas. Sutiyono Penguatan Karakter Melalui Pembelajaran Seni Budaya satu bidang studi yang memiliki fungsi strategis untuk meningkatkan kompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian (Suryana, 2. Melalui forum MGMP, para guru dapat saling berbagi pengalaman, menyusun perangkat ajar, serta mengembangkan model pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan dinamika perkembangan zaman (Wulandari, 2. MGMP Seni Budaya tingkat SMA se-DIY beranggotakan guru-guru seni budaya yang mengajar di berbagai sekolah menengah atas di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Sebagai pendidik, mereka memiliki peran penting dalam menanamkan nilai karakter, membangun apresiasi seni, serta memperkuat identitas budaya bangsa melalui pembelajaran seni di kelas (Prasetyo. Namun, berdasarkan hasil analisis situasi, para guru mitra masih menghadapi sejumlah permasalahan yang perlu segera diatasi. Pertama, terdapat kebutuhan untuk meningkatkan kapasitas guru dalam merancang pembelajaran seni budaya yang mampu mengintegrasikan pendidikan Meskipun secara konseptual pendidikan karakter telah masuk dalam kurikulum, implementasinya sering kali belum maksimal karena keterbatasan pemahaman guru mengenai strategi yang efektif (Zuchdi, 2. Kedua, minimnya model pembelajaran inovatif yang berbasis kearifan lokal. Padahal, kearifan lokal memiliki nilai edukatif tinggi yang dapat dijadikan sarana pembelajaran sekaligus pelestarian budaya (Utami. Keterbatasan dalam mengembangkan model berbasis kearifan lokal membuat pembelajaran seni budaya di sekolah cenderung monoton dan kurang membangkitkan minat siswa. Ketiga, masih terdapat keterbatasan media dan metode kreatif dalam menyampaikan nilai-nilai karakter melalui praktik seni. Guru sering mengandalkan metode konvensional, sehingga pembelajaran belum sepenuhnya menumbuhkan kreativitas, keterlibatan aktif, serta pemahaman mendalam siswa terhadap nilai karakter yang terkandung dalam aktivitas seni (Hidayat, 2. Untuk menjawab kebutuhan mitra, tim PKM UNY merancang serangkaian kegiatan yang difokuskan pada peningkatan kapasitas guru seni budaya SMA se-DIY dalam mengintegrasikan pendidikan karakter ke dalam pembelajaran. Solusi ini dipilih berdasarkan analisis kebutuhan mitra dan potensi yang dimiliki, sehingga program dapat berjalan efektif, berkesinambungan, dan memberikan dampak nyata. Pertama, kegiatan workshop dan pelatihan dirancang untuk memperkenalkan berbagai model pembelajaran seni budaya yang berorientasi pada penguatan karakter. Melalui pelatihan ini, guru Volume 17 Nomor 1 Juni 2026 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 diperkenalkan pada pendekatan pembelajaran kontekstual, kolaboratif, dan berbasis proyek . roject-based learnin. yang terbukti mampu menanamkan nilai-nilai karakter secara lebih mendalam (Arifin, 2. Workshop juga memberikan ruang praktik langsung agar guru dapat menguasai metode sekaligus menyesuaikan dengan konteks sekolah masing-masing (Susanti, 2. Kedua, dilakukan pendampingan guru dalam menyusun perangkat ajar yang integratif dan aplikatif. Pendampingan ini bertujuan untuk memastikan bahwa guru tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mampu mengimplementasikannya dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), modul, maupun kegiatan ekstrakurikuler seni budaya. Proses pendampingan berbasis coaching and mentoring sangat efektif untuk meningkatkan kualitas profesional guru, karena memungkinkan adanya bimbingan berkelanjutan (Kusnadi, 2. Ketiga, tim PKM menyelenggarakan praktik bersama dalam mengembangkan media pembelajaran berbasis seni budaya yang kreatif. Media pembelajaran yang inovatif, baik berupa video, alat peraga, maupun aplikasi berbasis digital, dapat memperkaya pengalaman belajar siswa sekaligus mempermudah guru dalam menyampaikan pesan nilai karakter. Penggunaan media kreatif terbukti dapat meningkatkan motivasi, partisipasi, serta pemahaman siswa terhadap materi (Munandar. Keempat, program ini menekankan diskusi dan refleksi berkelanjutan antara guru dan tim pendamping. Kegiatan ini dirancang untuk memperkuat pemahaman guru mengenai pentingnya pendidikan karakter melalui seni, serta menjadi wadah berbagi pengalaman atas praktik pembelajaran yang telah dilakukan. Refleksi kolektif memungkinkan guru untuk mengevaluasi kelebihan dan kelemahan metode yang digunakan, sehingga mendorong terciptanya inovasi berkelanjutan (Suryadi, 2. Target luaran dari Program Kemitraan Masyarakat (PKM) AuPenguatan Karakter melalui Pembelajaran Seni BudayaAy dirancang untuk menjawab kebutuhan mitra sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan pendidikan seni budaya di tingkat SMA. Luaran ini tidak hanya berfokus pada aspek peningkatan kompetensi guru, tetapi juga mencakup produk, model, dan dampak yang dapat diukur. Pertama, diharapkan terjadi peningkatan kompetensi guru seni budaya SMA se-DIY dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran seni budaya yang berorientasi pada penguatan karakter. Peningkatan kompetensi guru sangat penting karena guru merupakan Volume 17 Nomor 1 Juni 2026 Enis Niken Herawati. Kuswarsantyo. Marwanto . Titik Putraningsih. Silih Wigaringtyas. Sutiyono Penguatan Karakter Melalui Pembelajaran Seni Budaya aktor utama dalam keberhasilan implementasi pendidikan karakter di sekolah (Mulyasa. Kompetensi yang dimaksud mencakup keterampilan pedagogik, profesional, serta kemampuan mengintegrasikan nilai-nilai karakter ke dalam pembelajaran seni budaya. Kedua, program ini menargetkan tersusunnya modul atau perangkat ajar inovatif berbasis seni budaya dan pendidikan karakter. Modul ajar berfungsi sebagai panduan praktis bagi guru dalam menerapkan pembelajaran yang integratif dan kontekstual (Prastowo, 2. Dengan adanya modul, guru memiliki acuan yang sistematis untuk melaksanakan pembelajaran seni budaya yang tidak hanya menekankan keterampilan artistik, tetapi juga internalisasi nilai-nilai karakter. Ketiga, luaran program berupa terbentuknya model pembelajaran seni budaya yang dapat direplikasi di berbagai sekolah. Model ini diharapkan menjadi contoh praktik baik . est practic. yang dapat diadaptasi oleh guru lain, baik di dalam wilayah DIY maupun di daerah lain. Model pembelajaran yang teruji dan terstruktur dapat memperkuat peran seni budaya sebagai instrumen pendidikan karakter di sekolah (Sukardi, 2. Keempat, program ini menargetkan meningkatnya motivasi, kreativitas, serta pemahaman nilai karakter pada siswa melalui pembelajaran seni budaya. Dampak terhadap siswa menjadi indikator penting keberhasilan program, karena pendidikan karakter sejatinya ditujukan untuk membentuk sikap, perilaku, dan kepribadian peserta didik (Lickona, 2. Peningkatan motivasi dan kreativitas siswa dalam mengikuti pembelajaran seni budaya menunjukkan keberhasilan guru dalam menciptakan suasana belajar yang menyenangkan sekaligus mendidik. Kelima, sebagai bagian dari luaran akademik, publikasi kegiatan dalam bentuk artikel ilmiah atau laporan pengabdian kepada masyarakat juga menjadi target program. Publikasi ini penting untuk menyebarluaskan hasil kegiatan, berbagi praktik baik, serta memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan praktik pendidikan di bidang seni budaya. METODE Pengabdian Kegiatan Masyarakat (PKM) AuPenguatan Karakter melalui Pembelajaran Seni BudayaAy dilaksanakan di Cineclub FBSB UNY dan kegiatan selanjutnya di Padepokan Banjarmili Kradena Gamping sebagai pusat kegiatan. Lokasi ini dipilih karena memiliki fungsi strategis dalam mendukung program peningkatan kualitas pendidikan di wilayah DIY. Kegiatan berlangsung selama Juni hingga Volume 17 Nomor 1 Juni 2026 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 September, dengan waktu pelaksanaan setiap pertemuan pada pukul 08. 00Ae16. 00 WIB. Peserta program berjumlah 30 orang guru Seni Budaya yang berasal dari 30 SMA seDIY, yang dikoordinasikan melalui Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Seni Budaya. Pemilihan peserta dilakukan secara representatif agar setiap sekolah memiliki perwakilan yang nantinya dapat menjadi agen penggerak dalam penguatan pendidikan karakter melalui pembelajaran seni budaya. Metode pengabdian kepada masyarakat yang digunakan dalam program PKM ini merupakan kombinasi dari beberapa pendekatan yang saling melengkapi sehingga mampu memberikan dampak yang optimal bagi mitra. Pertama, kegiatan diawali dengan pelatihan, di mana peserta mendapatkan materi mengenai strategi pembelajaran seni budaya berbasis karakter. Pelatihan ini dirancang dengan menekankan pendekatan kontekstual, kolaboratif, dan kreatif agar guru mampu mengimplementasikan nilai-nilai karakter secara nyata dalam proses pembelajaran. Selain pemaparan teori, pelatihan juga dilengkapi dengan praktik langsung dan simulasi pembelajaran sehingga guru dapat merasakan pengalaman mengajar yang aplikatif dan relevan dengan kondisi di kelas. Kedua, program ini menggunakan pendekatan pendidikan berkelanjutan yang tidak hanya berfokus pada kegiatan pelatihan sekali waktu, tetapi dilanjutkan dengan tugas mandiri dan kegiatan reflektif. Guru diberikan kesempatan untuk menyusun perangkat ajar, mengembangkan desain pembelajaran, dan menciptakan media pembelajaran yang Hasil kerja tersebut kemudian dipresentasikan dan didiskusikan bersama tim PKM maupun sesama peserta sehingga terjadi proses saling belajar dan berbagi Ketiga, kegiatan ini juga mengedepankan aspek penyadaran dan peningkatan Guru didorong untuk menyadari pentingnya integrasi pendidikan karakter dalam pembelajaran seni budaya. Proses penyadaran dilakukan melalui paparan teoritis, diskusi kelompok, serta analisis studi kasus terkait praktik pembelajaran di sekolah. Dengan cara ini, guru tidak hanya memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga terdorong untuk menginternalisasi nilai-nilai karakter dalam setiap aktivitas pembelajaran yang mereka rancang. Keempat, metode yang diterapkan adalah konsultasi dan pendampingan. Tim PKM UNY memberikan bimbingan secara intensif, baik secara kelompok maupun mengembangkan media pembelajaran kreatif, dan mempraktikkan penciptaan karya seni. Volume 17 Nomor 1 Juni 2026 Enis Niken Herawati. Kuswarsantyo. Marwanto . Titik Putraningsih. Silih Wigaringtyas. Sutiyono Penguatan Karakter Melalui Pembelajaran Seni Budaya khususnya koreografi yang mengandung nilai karakter. Pendampingan dilakukan secara berkesinambungan agar guru benar-benar mampu mengimplementasikan materi yang diperoleh dalam praktik pembelajaran di sekolah masing-masing. Materi kegiatan dalam program PKM ini dirancang secara komprehensif dengan mempertimbangkan kebutuhan mitra, yaitu guru-guru Seni Budaya SMA se-DIY, sehingga mencakup aspek konseptual hingga praktik. Materi pertama adalah Transformasi Kurikulum Seni Budaya di SMA, yang menitikberatkan pada pemahaman mengenai perubahan kebijakan kurikulum terkini serta peluang besar untuk mengintegrasikan pendidikan karakter di dalamnya. Melalui materi ini, guru diharapkan mampu membaca arah kebijakan pendidikan dan menyesuaikannya dengan kebutuhan pembelajaran seni budaya yang relevan dengan konteks sekolah. Materi kedua adalah Desain Pembelajaran Seni Budaya, yang fokus pada penyusunan perangkat ajar inovatif, kreatif, dan aplikatif. Dalam bagian ini, peserta dibekali strategi merancang pembelajaran berbasis pengalaman . xperiential learnin. dan kearifan lokal sehingga proses belajar lebih bermakna bagi siswa. Materi ini juga menekankan pentingnya kreativitas guru dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang tidak hanya sesuai standar kurikulum, tetapi juga mampu menanamkan nilai-nilai karakter seperti kerja sama, disiplin, dan tanggung jawab. Selanjutnya, materi ketiga adalah Dasar Penciptaan Koreografi, yang memberikan pemahaman mengenai prinsip-prinsip dasar, teknik, serta struktur koreografi. Materi ini dipilih karena seni tari merupakan salah satu bagian penting dari mata pelajaran Seni Budaya yang dapat dijadikan media efektif untuk internalisasi karakter. Guru diperkenalkan pada konsep gerak, motif, pola lantai, serta aspek musikalitas yang sederhana namun kontekstual untuk diterapkan di lingkungan sekolah. Terakhir, peserta mendapatkan materi Penciptaan Koreografi, yaitu praktik langsung dalam merancang karya tari sederhana yang memuat nilai-nilai karakter. Melalui pengalaman ini, guru tidak hanya memahami teori, tetapi juga merasakan proses kreatif penciptaan seni sebagai media pendidikan. Hasil karya koreografi yang dibuat diharapkan menjadi inspirasi pembelajaran di kelas, sekaligus memperkuat peran seni budaya sebagai sarana pembentukan karakter siswa. Volume 17 Nomor 1 Juni 2026 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 HASIL DAN PEMBAHASAN Pendampingan dan Pelatihan Desain Pembelajaran Kegiatan pendampingan diawali dengan pelatihan mengenai Desain Pembelajaran Seni Budaya yang disusun berdasarkan transformasi kurikulum terbaru di tingkat SMA. Para dosen memberikan pemahaman terkait konsep pembelajaran berbasis kompetensi, perumusan tujuan, penyusunan capaian pembelajaran, hingga pembuatan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang lebih kreatif dan adaptif. Dalam sesi ini, guruguru diajak berdiskusi mengenai kendala nyata yang mereka hadapi di sekolah, misalnya keterbatasan sarana, keterpaduan materi lintas bidang seni, serta kesulitan dalam mengevaluasi hasil belajar (Mulyasa, 2. Melalui proses pendampingan, guru dilatih untuk mendesain pembelajaran yang tidak hanya menekankan aspek kognitif, tetapi juga psikomotorik dan afektif. Pendekatan ini sejalan dengan pandangan bahwa pembelajaran seni budaya memiliki peran penting dalam menumbuhkan kreativitas, apresiasi, serta penguatan karakter peserta didik (Kemendikbud, 2017. Sutopo, 2. Dengan demikian, kegiatan pendampingan diharapkan dapat memperkuat kapasitas guru dalam menghadirkan pembelajaran seni budaya yang lebih kontekstual, integratif, dan berorientasi pada pembentukan karakter. Gambar 1. Penyampaian materi desain pembelajaran dari tim PKM (Foto: Enis, 2. Pelatihan Dasar Penciptaan Koreografi Tahap berikutnya adalah pelatihan Dasar Penciptaan Koreografi. Pada bagian ini, dosen tari memberikan materi mengenai prinsip-prinsip dasar penciptaan tari, seperti eksplorasi gerak, improvisasi, komposisi, dinamika, hingga struktur penyajian (Hadi. Guru-guru dilatih untuk mengolah ide menjadi bentuk tari yang komunikatif Volume 17 Nomor 1 Juni 2026 Enis Niken Herawati. Kuswarsantyo. Marwanto . Titik Putraningsih. Silih Wigaringtyas. Sutiyono Penguatan Karakter Melalui Pembelajaran Seni Budaya dengan memperhatikan elemen ruang, waktu, dan tenaga sebagaimana dikemukakan dalam teori elemen gerak tari (Soedarsono, 2. Sementara itu, dosen musik, rupa, dan sastra turut berkolaborasi dalam memperkuat aspek pendukung: musik memberikan pemahaman tentang iringan dan ritme, seni rupa menekankan pada aspek tata rupa pertunjukan seperti kostum, properti, dan tata panggung, sedangkan sastra memberi bekal dalam merangkai alur cerita dan dramatika (Lestari, 2. Dengan pendekatan kolaboratif ini, guru memperoleh gambaran utuh mengenai proses kreatif penciptaan karya tari yang menyeluruh, sehingga tidak hanya menguasai aspek teknis gerak, tetapi juga memahami integrasi seni lintas bidang yang memperkaya nilai estetis dan edukatif karya tari. Gambar 2. Proses mengaplikasikan tahap-tahap membuat sebuah karya tari . (Foto: Titik, 2. Gambar 3. Proses mengaplikasikan tahap-tahap membuat sebuah karya tari . (Foto: Titik, 2. Volume 17 Nomor 1 Juni 2026 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 Gambar 4. Proses mengaplikasikan tahap-tahap membuat sebuah karya tari . (Foto: Titik, 2. Hasil Penciptaan Koreografi Sebagai puncak kegiatan, para guru dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk menciptakan karya tari berdasarkan materi yang telah diperoleh. Proses penciptaan dilakukan melalui tahap eksplorasi ide, pemilihan tema, perumusan konsep, pengolahan gerak, hingga pementasan karya (Hadi, 2. Dari proses tersebut, lahirlah tiga karya tari hasil kreasi guru dengan judul: Jakatarub Nawang Wulan Ae Karya yang menggambarkan kisah legenda rakyat tentang pertemuan manusia dengan bidadari kahyangan. Gerak tari menekankan pada keanggunan, kehalusan, dan simbolisasi hubungan manusia dengan alam (Soedarsono, 2. Bandung Bondowoso Ae Karya yang mengangkat tokoh perkasa dari cerita rakyat Jawa dengan kekuatan dan ambisi besar. Koreografi menonjolkan dinamika gerak yang energik, maskulin, dan penuh ketegangan (Sedyawati, 2. Roro Jonggrang Ae Karya yang menarasikan kisah putri yang menjadi asal-usul Candi Prambanan. Gerak tari dibangun melalui kombinasi ekspresi halus dan konflik dramatik, menampilkan perpaduan kelembutan dan perlawanan (Kayam. Ketiga karya tersebut dipentaskan sebagai hasil akhir dari pelatihan, yang tidak hanya menampilkan kreativitas guru dalam mencipta, tetapi juga menjadi bukti keberhasilan pendampingan dalam meningkatkan kompetensi mereka. Selain Volume 17 Nomor 1 Juni 2026 Enis Niken Herawati. Kuswarsantyo. Marwanto . Titik Putraningsih. Silih Wigaringtyas. Sutiyono Penguatan Karakter Melalui Pembelajaran Seni Budaya sebagai produk seni, karya-karya ini juga dapat dijadikan model pembelajaran di sekolah, sehingga guru mampu mentransfer pengalaman penciptaan kepada siswa dengan lebih sistematis dan inspiratif (Lestari, 2. Gambar 5. Penampilan penciptaan koreografi yang dilaksanakan oleh guru seni budaya (Foto Enis, 2. Gambar 6. Foto bersama Tim PkM dengan Guru Seni Budaya SMA Se-DIY (Foto Enis, 2. Kendala yang Dihadapi Dalam pelaksanaan PKM Penguatan Karakter Melalui Pembelajaran Seni Budaya Tingkat SMA Se-DIY kepada MGMP Guru Seni Budaya, tim menghadapi sejumlah kendala baik dari sisi teknis maupun substansial. Kendala utama terletak pada keterbatasan waktu pelaksanaan, di mana padatnya agenda membuat tidak semua materi dapat dibahas secara mendalam. Selain itu, koordinasi dengan guru peserta juga menjadi Volume 17 Nomor 1 Juni 2026 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 tantangan tersendiri karena para guru berasal dari berbagai SMA dengan jadwal mengajar yang berbeda, sehingga kehadiran tidak selalu penuh di setiap pertemuan. Dari sisi substansi, tim mendapati heterogenitas kompetensi guru yang cukup tinggi. ada yang lebih menguasai tari, sementara yang lain lebih kuat di musik, rupa, atau teater. Hal ini membuat proses pelatihan perlu penyesuaian agar dapat menjangkau semua peserta secara merata. Refleksi Program PKM dengan judul Penguatan Karakter Melalui Pembelajaran Seni Budaya Tingkat SMA Se-DIY yang dilaksanakan bersama MGMP Guru Seni Budaya telah berjalan dengan baik dan mendapat respons positif dari para peserta. Kegiatan ini diselenggarakan selama bulan Juni-September dengan berbagai bentuk pelatihan, diskusi, dan praktik kreatif. Pelatihan yang diberikan tidak hanya berfokus pada peningkatan keterampilan teknis seni, seperti dasar penciptaan koreografi, musik, rupa, dan teater, tetapi juga menekankan pada nilai-nilai pendidikan karakter yang terkandung dalam setiap proses pembelajaran seni budaya. Melalui pendekatan ini, guru tidak hanya diperkaya secara pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga didorong untuk mampu menanamkan nilai disiplin, tanggung jawab, kerja sama, serta kreativitas kepada di Manfaat dari kegiatan ini sangat terasa, khususnya bagi guru SMA seni budaya di DIY. Mereka memperoleh pemahaman yang lebih jelas mengenai transformasi kurikulum, desain pembelajaran, hingga strategi penguatan karakter melalui seni. Pendampingan dosen dari berbagai prodi seni juga memperluas wawasan guru mengenai pentingnya integrasi lintas bidang seni, sehingga pembelajaran di kelas dapat lebih hidup, kontekstual, dan relevan dengan kebutuhan. Selain itu, hasil akhir berupa karya koreografi yang diciptakan guru menjadi bukti nyata bahwa proses pelatihan mampu mendorong produktivitas dan kreativitas, sekaligus menjadi model pembelajaran yang dapat ditularkan kepada. Program PKM ini juga memberikan dampak sosial yang positif karena menghadirkan suasana kebersamaan, keterbukaan, dan saling berbagi pengalaman antarguru, serta mempererat kerja sama antara UNY. MGMP, dan Dinas Pendidikan DIY. Melalui kegiatan ini, para guru merasa lebih dihargai dan didukung dalam mengembangkan kompetensi profesional mereka. Harapannya, hasil PKM tidak berhenti Volume 17 Nomor 1 Juni 2026 Enis Niken Herawati. Kuswarsantyo. Marwanto . Titik Putraningsih. Silih Wigaringtyas. Sutiyono Penguatan Karakter Melalui Pembelajaran Seni Budaya hanya pada kegiatan ini saja, tetapi dapat berlanjut dalam bentuk kerja sama yang lebih berkesinambungan, sehingga benar-benar mampu memperkuat pendidikan seni budaya di sekolah. Tim PKM berharap bahwa kegiatan ini dapat memberikan kontribusi nyata dalam pembentukan karakter melalui pembelajaran seni budaya, serta menjadi salah satu langkah strategis dalam memperkuat identitas budaya daerah. Dengan keberhasilan program ini, diharapkan seni budaya tidak hanya diajarkan sebagai keterampilan, tetapi juga sebagai media pembinaan karakter dan jati diri generasi muda. PENUTUP Kegiatan PKM dengan judul Penguatan Karakter Melalui Pembelajaran Seni Budaya Tingkat SMA Se-DIY yang dilaksanakan oleh tim PKM UNY bersama MGMP Guru Seni Budaya Se-DIY telah berjalan dengan baik dan mencapai tujuan yang Program ini mampu memberikan pemahaman yang lebih komprehensif kepada guru mengenai transformasi kurikulum seni budaya di SMA, perancangan desain pembelajaran, serta dasar penciptaan karya seni, khususnya dalam bidang koreografi. Melalui pelatihan dan pendampingan yang dilakukan, guru tidak hanya memperoleh pengetahuan teoritis, tetapi juga pengalaman praktik dalam menciptakan karya seni yang inovatif dan relevan dengan kebutuhan pembelajaran. Hasil akhir berupa tiga karya tari berjudul Jakatarub Nawang Wulan. Bandung Bondowoso, dan Roro Jonggrang menjadi mengintegrasikan nilai-nilai karakter ke dalam seni budaya. Selain peningkatan kompetensi guru, kegiatan ini juga memperkuat jejaring kerja sama antara UNY. MGMP, dan Dinas Pendidikan DIY, serta menghadirkan ruang silaturahim akademik melalui wadah EduArt (Pendidikan Sen. Dengan demikian, kegiatan PKM ini tidak hanya berdampak pada peningkatan kualitas pembelajaran seni budaya, tetapi juga berkontribusi pada pembinaan karakter dan pelestarian seni budaya lokal. Secara keseluruhan. PKM ini berhasil memperkuat kapasitas guru seni budaya di DIY dalam menghadapi tantangan kurikulum dan praktik pembelajaran di sekolah, sekaligus memberikan dasar yang kuat untuk pengembangan program serupa secara berkelanjutan di masa mendatang. Volume 17 Nomor 1 Juni 2026 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 DAFTAR PUSTAKA Arifin. Model Pembelajaran Berbasis Proyek dalam Pendidikan Karakter. Jurnal Pendidikan Karakter, 9. , 145Ae156. Hadi. Koreografi: Bentuk. Teknik, dan Proses. Pustaka Seni.