JURNAL KEPEMIMPINAN & PENGURUSAN SEKOLAH Homepage : https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/jp Email : jkps. stkippessel@gmail. p-ISSN : 2502-6445 . e-ISSN : 2502-6437 Vol. No. September 2025 Page 1288-1298 A Author Jurnal Kepemimpinan & Pengurusan Sekolah EFEKTIVITAS METODE PEMBELAJARAN GASING DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN OPERASI PERKALIAN PADA ANAK DISABILITAS INTELEKTUAL RINGAN Mutya Sherinda Putri1. Damri2. Nurhastuti3. Antoni Tsaputra4. Mardhatillah Zupiani5 1,2,3,4,5 Universitas Negeri Padang. Indonesia Email: mutyasherindaputri@gmail. DOI : https://doi. org/10. 34125/jkps. Sections Info Article history: Submitted: 23 June 2025 Final Revised: 11 July 2025 Accepted: 16 August 2025 Published: 29 September 2025 Keywords: GASING Method Multiplication Operations Children Intellectual Disabilities ABSTRACT Children with intellectual disabilities generally experience obstacles in their academics, one of which is in mathematics lessons, namely performing multiplication operations at school. Based on the results of assessments that have been carried out in special schools, there are children who cannot perform multiplication operations from 1 to 10. The results of the identification and assessment conducted by researchers are based on the identification instrument for children with special needs and numeracy The purpose of this study is to test the effectiveness of the GASING method (Easy. Fun, and Enjoyabl. The selection of research subjects uses the identification instrument for children with special needs and numeracy assessments. This study uses a single subject research form with a multiple baseline cross variable The research subject is one person with the aspect of performing multiplication operations from 1 to 10. Data were collected through performance tests and the tools used are multiplication operation performance test instruments and data processing used are percentages. Data analysis is made in the form of visual graphic analysis consisting of analysis within conditions and analysis between conditions. The results of the study show an increase in performing multiplication operations from 1 to 10 after being given the GASING method. It is recommended that teachers use the GASING method to help children perform multiplication operations. ABSTRAK Anak dengan disabilitas intelektual pada umumnya mengalami hambatan pada akademiknya salah satunya dalam pelajaran matematika yaitu melakukan operasi hitung perkalian yang ada di sekolah. Berdasarkan hasil asesmen yang telah dilakukan di sekolah luar biasa terdapat anak yang belum bisa melakukan operasi perkalian 1 sampai 10. Hasil identifikasi dan asesmen yang peneliti lakukan didasari oleh instrumen identifikasi anak berkebutuhan khusus dan asesmen berhitung. Tujuan penelitian ini yaitu menguji keefektifan metode GASING (Gampang. Asyik, dan Menyenangka. Pemilihan subjek penelitian menggunakan instrumen identifikasi anak berkebutuhan khusus dan asesmen berhitung. Penelitian ini menggunakan bentuk single subject research dengan desain multiple baseline cross variable. Subjek penelitian satu orang dengan aspek melakukan operasi perkalian 1 Data dikumpulkan melalui tes perbuatan dan alat yang digunakan yaitu instrumen tes perbuatan operasi perkalian serta pengolahan data yang digunakan yaitu Data analisis dibuat dalam bentuk analisis visual grafik yang terdiri dari analisis dalam kondisi dan analisis antar kondisi. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan melakukan operasi hitung perkalian 1 sampai 10 setelah diberikannya metode GASING. Disarankan kepada guru agar dapat menggunakan metode GASING yang membantu anak dalam melakukan operasi hitung perkalian. Kata kunci: Metode GASING. Operasi Hitung Perkalian. Anak Disabilitas Intelektual Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Efektivitas Metode Pembelajaran Gasing Dalam Meningkatkan Kemampuan Operasi Perkalian Pada Anak Disabilitas Intelektual Ringan PENDAHULUAN Matematika merupakan salah satu pelajaran yang penting di sekolah dasar dan diperkenalkan sejak anak menginjak belajar disekolah dasar. Tujuan pembelajaran matematika menurut permendikbud nomor 58 tahun 2014 (Indonesia, 2. dijelaskan bahwa anak mampu memahami konsep matematika, mampu memecahkan masalah, mampu menggunakan penalaran matematis, mampu mengomunikasikan masalah secara sistematis dan mampu memiliki sikap dan prilaku sesuai dengan nilai dalam matematika. Dalam pembelajaran matematika, penting bagi anak tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mengalami sendiri proses belajarnya agar lebih mudah diingat. Karena anak cenderung masih berpikir secara konkret, mereka akan lebih cepat memahami pelajaran jika terlibat langsung dalam kegiatan belajar, bahkan sekedar menghafal (Yusmanita et al. , 2. Sejalan dengan (Ummah, 2. pembelajaran matematika juga perlu diarahkan untuk menumbuhkan sikap positif terhadap matematika itu sendiri. Sikap positif ini mencakup rasa percaya diri anak saat menyelesaikan soal-soal matematika. Salah satu materi yang diperkenalkan kepada anak adalah operasi hitung perkalian. Operasi hitung perkalian dengan hasil bilangan dua angka merupakan kompetensi dasar baru bagi anak dan konsep operasi hitung perkalian ditanamkan sebagai penjumlahan Kemampuan dasar berhitung operasi hitung perkalian dua bilangan 1 sampai 10 perlu dikuasai anak sejak awal pada pembelajaran operasi hitung perkalian. Hal ini karena penguasaan materi perkalian ini merupakan bekal prasyarat untuk mempelajari materi berhitung selanjutnya. Menurut (Nanda & Wandini, 2. anak yang tidak memiliki pemahaman operasi hitung perkalian dua bilangan 1 sampai 10 akan menghadapi kesulitan untuk lanjut ke materi selanjutnya dan akan mengalami kendala dalam menyelesaikan soal-soal matematika yang lebih tinggi, seperti pembagian dan pengukuran. Anak juga anak kesulitan menghitung dengan cepat, karena masih bergantung pada penjumlahan berulang yang memakan waktu. Terdapat berbagai cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kemampuan operasi perkalian pada siswa, anak perlu belajar dengan cara yang menyenangkan dan mudah dipahami, salah satunya dengan benda konkret, seperti kancing, batu, atau stik es krim. Melalui benda-benda ini, anak bisa melihat langsung cara operasi perkalian. Selain itu, guru juga dapat menggunakan metode yang cocok seperti metode Gasing, metode jarimatika, dan metode video pembelajaran. Berdasarkan observasi yang peneliti lakukan di SLB Al-Ishlah kota Padang, dari tanggal 26-31 November 2024, peneliti menemukan seorang anak perempuan berinisial JH kelas VII dengan hambatan disabilitas intelektual ringan yang sudah mampu melakukan operasi penjumlahan dan operasi pengurangan dua bilangan dua angka maksimal 50 dimana sesuai dengan CP ATP pada fase D. Namun belum mampu melakukan operasi hitung perkalian sampai 10, anak hanya mampu melakukan operasi hitung perkalian sampai 3. Selanjutnya, peneliti melakukan wawancara dengan guru wali kelas untuk memastikan penyebab kondisi anak. Guru menyatakan dalam pembelajaran matematika sudah berpedoman kepada kurikulum merdeka dengan fase D dimana sesuai dengan kelas VII yaitu pada elemen bilangan anak harus mampu mengoperasikan perkalian sampai 10. Sumber pembelajaran yang digunakan guru berupa buku dan google, selama mengajar guru menggunakan metode ceramah serta paper dan pencil. Kurangnya interaktif dalam pembelajaran membuat anak cenderung kesulitan untuk memahami materi operasi Untuk membuktikan apakah JH mengalami kesulitan dalam melakukan operasi hitung Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Efektivitas Metode Pembelajaran Gasing Dalam Meningkatkan Kemampuan Operasi Perkalian Pada Anak Disabilitas Intelektual Ringan perkalian maka peneliti melakukan asesmen dengan menggunakan instrumen asesmen operasi hitung perkalian menurut CP ATP fase D. Terdapat tiga aspek pada instrumen asesmen operasi hitung perkalian, yaitu. menyebutkan konsep operasi hitung perkalian sampai 10, . melakukan operasi hitung perkalian sampai 10, dan . menyebutkan hasil operasi hitung perkalian sampai 10. Indikator instrumen asesmen operasi hitung perkalian dinilai dengan cara seberapa banyak anak tersebut mampu menjawab soal dengan benar. Pada aspek melakukan operasi hitung perkalian sampai 10 mendapatkan skor 25%. Hal ini menunjukkan bahwa anak sudah mampu dalam konsep operasi hitung perkalian. Kesulitan dalam melakukan operasi hitung perkalian tentu memerlukan solusi, karena kesulitan yang dialami anak selama ini juga dikarenakan oleh kurang kreativitasnya pendidik dalam mengajar. Hasil wawancara dengan guru menjelaskan menggunakan metode ceramah tanpa adanya keterlibatan anak dalam pembelajaran atau kurangnya Metode pembelajaran ini menginginkan anak memperhatikan penjelasan guru dengan baik agar mereka dapat memahami materi yang disampaikan secara langsung. Dalam metode ini, guru menjadi pusat informasi dan anak hanya mendengarkan, mencatat, serta bertanya jika ada hal yang belum dipahami (Yogica et al. ,2. Selain itu tidak ada penggunaan media konkret dalam pembelajaran operasi hitung perkalian yang dilakukan. Sejalan dengan apabila keberhasilan belajar diukur dari kemampuan anak dalam menguasai materi pembelajaran, maka metode ceramah kurang tepat untuk anak disabilitas intelektual ringan. Karena metode ceramah bersifat satu arah dan membutuhkan konsentrasi serta daya ingat yang kuat. Seperti yang disampaikan (Armaini et al. , 2. , pembelajaran bagi anak berkebutuhan khusus harus disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan. Salah satu metode pembelajaran yang bisa dipakai adalah metode GASING. Metode GASING ini dapat membantu meningkatkan pemahaman dan keterampilan berhitung secara bertahap dan menyenangkan, karena menggunakan pendekatan yang konkret, visual dan sistematis sehingga mudah dipahami oleh anak disabilitas intelektual (Surya, 2. Berdasarkan penelitian sebelumnya yang berkaitan dengan penggunaan metode GASING yang dilakukan oleh (A. Putri & Armaini, 2. penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan operasi hitung perkalian bagi anak berkesulitan belajar kelas IV di SD Negeri 147/Vi Bogorejo. Muara Tebo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan operasi hitung perkalian deret ke samping dapat ditingkatkan melalui metode GASING. METODE PENELITIAN Desain penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan single subject research (SSR) atau penelitian subjek tunggal. Pendekatan SSR dirancang untuk mengamati dan mencatat perilaku individu secara mendetail (Marlina, 2. Penggunaan pendekatan SSR karena subjek dalam penelitian ini tidak dibandingkan antar kelompok tetapi dibandingkan pada subjek yang sama dalam kondisi yang berbeda. Maksud dari kondisi ini adalah kondisi baseline dan kondisi eksperimen . Baseline adalah kondisi dimana pengukuran target behavior dilakukan dalam keadaan natural sebelum diberikan intervensi apa pun. Kondisi eksperimen adalah kondisi di mana suatu baseline telah diberikan dan target behavior diukur di bawah kondisi tersebut (Marlina, 2. Penelitian ini menggunakan desain A-B-A dengan baseline (A. , intervensi (B), dan baseline (A. A-B-A merupakan desain yang dapat menghasilkan ada atau tidaknya sebab Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Efektivitas Metode Pembelajaran Gasing Dalam Meningkatkan Kemampuan Operasi Perkalian Pada Anak Disabilitas Intelektual Ringan akibat antar variabel terkait dengan variabel bebas. Mula-mula target behavior dinilai secara berkelanjutan pada kondisi (A. menggunakan rentang waktu kemudian pada kondisi (B), setelah pengukuran pada kondisi (B), setelah pengukuran pada kondisi (A. Subjek penelitian Subjek penelitian ini adalah anak kelas VII SLB-Al-Ishlaah Padang. Secara fisik JA tidak jauh berbeda dengan anak pada umumnya, namun ia mengalami kesulitan dalam kemampuan operasi hitung perkalian. Berikut adalah kondisi demografi dari subjek Tabel 1. Kondisi Demografi Subjek Penelitian Nama : JA Usia : 13 Jenis : Perempuan Hasil Asesmen : Dari hasil asesmen anak belum memahami konsep perkalian, dapat menghafal perkalian 1-3, mampu menyelesaikan soal dengan gambar, dan belum mampu melakukan operasi hitung perkalian. Teknik analisis data Teknik analisis data merupakan metode untuk memperoleh dan mengolah data hasil wawancara, observasi, dan sumber lainnya secara sistematis, sehingga peneliti dapat memahami kasus penelitian yang sedang diteliti dan menyajikan temuan untuk tahap Untuk meningkatkan pemahaman, analisis data perlu dilanjutkan dengan mencari makna dari informasi yang diperoleh. Data tersebut akan dianalisis menggunakan grafik visual yang mencakup analisis dalam kondisi tertentu dan analisis antar kondisi (Dhewy, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian ini membuktikan efektivitas metode pembelajaran GASING untuk meningkatkan kemampuan perkalian 1-10, pada anak disabilitas intelektual ringan di SLB Al Ishlaah Padang. Metode penelitian yang digunakan yaitu single subject research (SSR) dengan desain A1-B-A2, dengan tiga fase. Fase pertama, yaitu baseline (A. untuk mengetahui kemampuan awal anak. Fase kedua, yaitu intervensi (B) yaitu kondisi saat diberikan perlakuan atau penerapan metode pembelajaran GASING untuk meningkatkan kemampuan perkalian 1-10. Fase ketiga, yaitu baseline (A. , yaitu fase pengamatan kemampuan anak dalam melakukan perkalian 1-10 setelah diberikan intervensi menggunakan metode pembelajaran GASING. Penelitian dilakukan pada seorang anak perempuan kelas VII di SLB Al-Ishlaah Padang. Penelitian ini dilakukan 16 kali pengamatan. Data yang dikumpulkan berupa hasil kemampuan mengoperasikan perkalian 1-10 dengan metode GASING. Data dianalisis dengan teknik analisis visual grafik dalam bentuk grafik. Berikut link kondisi baseline dan https://drive. com/drive/folders/1bNQM7o2BXlnJ7tsc6vjuFyrHI3GSGyyk Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Efektivitas Metode Pembelajaran Gasing Dalam Meningkatkan Kemampuan Operasi Perkalian Pada Anak Disabilitas Intelektual Ringan Analisis hasil dalam kondisi sebagai berikut : Grafik 1. Analisis dalam Kondisi Keterangan : Baseline A1 Intervensi B Baseline A2 Trend Split Middle Mean Level Berdasarkan grafik analisis dalam kondisi akan menjelaskan perubahan data yang terjadi antara kondisi awal dan kondisi pada saat diberikan intervensi. Berikut Panjang Kondisi Panjang kondisi adalah jumlah pertemuan yang terdapat pada setiap fase mulai dari fase baseline A1, intervensi B, dan baseline A2. Pada fase baseline (A. dilaksanakan sebanyak 4 kali pertemuan, intervensi (B) dilaksanakan sebanyak 8 kali pertemuan dan baseline (A. dilaksanakan sebanyak 4 kali pertemuan. Estimasi Kecenderungan Arah Estimasi kecenderungan arah yang digunakan ialah metode belah dua . plit middl. , yaitu menentukan estimasi kecenderungan arah dengan membagi dua bagian pada setiap fase. Estimasi kecenderungan arah penting dalam memberikan gambaran perubahan perilaku subjek dalam penelitian dengan menggunakan arah grafik seperti mendatar, meningkat, atau menurun. Berdasarkan tabel 4. 4 estimasi kecenderungan arah pada fase baseline (A. adalah menurun, pada fase intervensi (B) meningkat dan pada fase baseline (A. adalah Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Efektivitas Metode Pembelajaran Gasing Dalam Meningkatkan Kemampuan Operasi Perkalian Pada Anak Disabilitas Intelektual Ringan Kecenderungan Stabilitas Berdasarkan penelitian yang dilakukan, peneliti menggunakan standar kecenderungan stabilitas yang telah diterapkan yaitu 15% . yang digunakan dalam setiap fase. Data bisa disebut stabil jika angka persentase stabilitasnya berada pada 85%-90%. Kecenderungan Jejak Data Kecenderungan pada jejak data tidak jauh berbeda dari menentukan kecenderungan pada Pada fase baseline (A. terdiri dari 4 data yaitu 20%, 20%, 20%, 20% sehingga, bisa disimpulkan bahwa kecenderungan jejak data fase baseline (A. Pada fase intervensi (B) ketika diberikan metode GASING yang terdiri dari delapan jejak data yaitu 30%, 50%, 50%, 50%, 60%, 70%, 80%, 80% sehingga, bisa disimpulkan bahwa cenderung jejak data pada fase intervensi (B) meningkat. Pada fase baseline (A. setelah diberikan intervensi terdiri dari empat jejak data yaitu 80%, 100%, 80%, 100% sehingga bisa disimpulkan bahwa kecenderungan jejak data fase baseline mendatar. Level Stabilitas dan Rentang Level stabilitas dan rentang bisa didapat dari skor terendah serta skor tertinggi pada grafik di setiap kondisi, berdasarkan grafik pada fase (A. , level stabilitasnya pada rentang 20-20, fase intervensi (B) level stabilitasnya pada rentang 30-80, dan baseline (A. memiliki level stabilitas pada rentang 80-100. Level Perubahan Level perubahan memperlihatkan besarnya perubahan di suatu kondisi. Level perubahan diketahui melalui cara mengurangi data besar dengan data kecil, setelah itu menentukan Pada kondisi (A. perubahannya adalah (=), pada fase (B) terdapat perubahan ( . , dan fase (A. terdapat perubahan ( . Grafik 2. Analisis antar kondisi Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Efektivitas Metode Pembelajaran Gasing Dalam Meningkatkan Kemampuan Operasi Perkalian Pada Anak Disabilitas Intelektual Ringan Keterangan : Baseline A1 Intervensi B Baseline A2 Trend Split Middle Mean Level Berdasarkan grafik analisis antar kondisi akan menjelaskan perubahan data yang terjadi antara kondisi awal dan kondisi pada saat diberikan intervensi. Berikut penjelasannya : Jumlah Variabel yang diubah Variabel yang diubah pada penelitian selama fase (A. dengan (B), dan fase (B) dengan fase (A. ialah satu variabel. Variabel berjumlah tunggal ini ialah kemampuan mengoperasikan perkalian 1 sampai 10. Perubahan Kecenderungan Arah Pada fase (A. dengan fase (B) kecenderungan arah pada data ialah mendatar ke meningkat, dan pada fase (B) dengan fase (A. kecenderungan data ialah meningkat ke Dapat dilihat bahwa setelah diberikan intervensi melalui penerapan metode GASING, siswa mampu meningkatkan kemampuan mengoperasikan perkalian 1 sampai 10 selama penelitian berlangsung. Perubahan Kecenderungan Stabilitas Perubahan kecenderungan stabilitas terlihat pada perolehan skor siswa yang konsisten di fase (A. , (B), ataupun (A. Pada fase baseline (A. poin yang didapat stabil, fase intervensi (B) kecenderungan stabilitasnya adalah tidak stabil. Fase baseline (A. kecenderungan stabilitasnya adalah tidak stabil. Level Perubahan B ke A1 dan Level Perubahan B ke A2 Level perubahan dicari untuk mengetahui perubahan kondisi data (A. ke kondisi (B) dan dari data (B) ke data (A. Perubahan level pada data (A. dan data (B) sebanyak 20 . sedangkan pada data (B) dan data (A. sebanyak 70 . Overlap B ke A1 dan Overlap B ke A2 Menentukan overlap data fase baseline (A. dan data fase intervensi (B) ialah sebagai berikut: . menentukan batas atas serta batas bawah fase (A. , batas 21,5 dan batas bawah 18,5, . jumlah data poin (B) dalam rentang fase baseline (A. yaitu 0, . perolehan angka poin lalu dibagi keseluruhan jumlah data poin lalu dikali 100% untuk mendapat overlap data. 0/8 x 100%=0%. Overlap data fase baseline (A. dan intervensi (B): . Menentukan batas atas serta batas bawah fase (A. , batas atas 97,5 dan batas bawah 82,5, . jumlah data poin (B) dalam rentang fase baseline (A. yaitu 0, . perolehan angka poin lalu dibagi keseluruhan jumlah data poin lalu dikali 100% untuk mendapat overlap data. 0/8 x 100%= 0%. Pembahasan Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan operasi perkalian pada anak disabilitas intelektual ringan dikelas VII SLB Al-Ishlaah Kota Padang. Subjek dalam penelitian ini adalah anak disabilitas intelektual ringan kelas VII di SLB Al-Ishlaah Kota Padang. Berdasarkan hasil asesmen kemampuan operasi perkalian siswa belum maksimal memahami perkalian tersebut. Untuk itu diperlukan sebuah solusi untuk dapat meningkatkan kemampuan operasi perkalian tersebut. Kemampuan operasi hitung perkalian adalah suatu keterampilan kognitif atau Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Efektivitas Metode Pembelajaran Gasing Dalam Meningkatkan Kemampuan Operasi Perkalian Pada Anak Disabilitas Intelektual Ringan intelektual yang melibatkan pemahaman dan penerapan konsep perkalian sebagai penjumlahan berulang. Kemampuan ini melatih daya pikir, logika, dan penalaran anak sehingga membantu mereka berpikir secara matematis dan logis. Secara sederhana Operasi hitung perkalian dilambangkan dengan tanda AuxAy. Operasi perkalian pada bilangan cacah diartikan sebagai penjumlahan berulang. Anak harus paham dan terampil melakukan operasi penjumlahan untuk dapat memahami konsep perkalian (Wahyu et al. , 2. Sejalan dengan (Kurniawan et al. , 2. Perkalian a x b diartikan sebagai penjumlahan bilangan b sebanyak a kali. Jadi a x b = b b b A b sebanyak a. Salah satu metode pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan tersebut adalah dengan menerapkan metode pembelajaran GASING (Gampang. Asyik dan Menyenangka. Menurut Harefa . , tujuan dari metode GASING mencakup beberapa aspek penting dalam pembelajaran matematika, yaitu memudahkan pemahaman konsep perkalian, meningkatkan kemampuan hitung cepat, serta menumbuhkan minat dan rasa senang terhadap matematika. Selain itu, metode ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan siswa pada penghafalan rumus dan sekaligus meningkatkan kepercayaan diri mereka dalam menghadapi soal-soal matematika. Metode GASING (Gampang. Asyik dan Menyenangka. merupakan suatu cara belajar matematika secara mudah, asyik dan menyenangkan, yang dikembangkan oleh Prof. Yohanes (Halyadi et al. , 2. Metode GASING adalah gaya belajar dengan cara yang mudah, menyenangkan, dan menghibur. Dengan metode ini membuat anak mengingat berbagai macam rumus, juga bisa melihat cara mereka menemukan berbagai macam rumus serta hasil yang baik dalam belajar (A. Putri & Armaini, 2. Metode GASING menawarkan sejumlah keunggulan dalam pembelajaran matematika, di antaranya adalah kemampuannya untuk menyederhanakan proses belajar, sehingga matematika menjadi lebih mudah, menarik, dan menyenangkan tanpa memerlukan penghafalan rumus-rumus. Selain itu, metode ini juga meningkatkan efisiensi waktu, memungkinkan siswa untuk menyelesaikan soal-soal matematika dengan lebih cepat dibandingkan dengan pendekatan konvensional yang sering kali memakan waktu lebih Penelitian ini dilaksanakan selama 16 kali pertemuan dengan 3 fase yaitu Baseline (A. selama 4 kali pertemuan dengan persentase 20%, 20%, 20%, 20% dan Intervensi (B) dilaksanakan selama 8 kali pertemuan dengan persentase 30%. 50%, 50%, 50%, 60%, 70%, 80%, 80% serta Baseline (A. dilaksanakan selama 4 kali pertemuan dengan persentase 80%, 100%, 80%, 100%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dengan metode split middle tiap grafik baseline A1, intervensi B, dan baseline A2 didapatkan hasil bahwa Baseline A1 mendapatkan arah yang mendatar. Intervensi B mendapatkan arah yang meningkat dan Baseline A2 mendapatkan arah yang mendatar. Hasil analisis data menunjukkan bahwa penerapan metode pembelajaran GASING (Gampang. Asyik dan Menyenangka. dapat meningkatkan kemampuan operasi perkalian bagi siswa disabilitas intelektual ringan di kelas VII SLB Al-Ishlaah Kota Padang. Peningkatan ini dibuktikan dengan adanya perbedaan yang signifikan antara kemampuan siswa sebelum dan sesudah diberikan intervensi. Berdasarkan hasil pemaparan yang telah disampaikan di atas, dapat disimpulkan bahwa kemampuan operasi perkalian dapat meningkat melalui penerapan metode pembelajaran GASING (Gampang. Asyik dan Menyenangka. bagi siswa disabilitas intelektual ringan di kelas VII SLB Al-Ishlaah Kota Padang. Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Efektivitas Metode Pembelajaran Gasing Dalam Meningkatkan Kemampuan Operasi Perkalian Pada Anak Disabilitas Intelektual Ringan KESIMPULAN Berdasarkan perolehan data hasil penelitian yang dianalisis terkait efektivitas metode GASING (Gampang. Asyik dan Menyenangka. untuk meningkatkan kemampuan operasi perkalian pada anak dengan disabilitas intelektual ringan kelas VII SLB Al- Ishlaah Kota Padang, maka dapat disimpulkan metode GASING (Gampang. Asyik dan Menyenangka. efektif dalam meningkatkan kemampuan operasi perkalian pada anak dengan disabilitas intelektual ringan kelas VII SLB Al-Ishlaah Kota Padang. REFERENSI