Proceedings Series on Social Sciences & Humanities. Volume 20 Prosiding Pertemuan Ilmiah Bahasa & Sastra Indonesia (PIBSI XLVI) Universitas Muhammadiyah Purwokerto ISSN: 2808-103X Ulak-alik BIPA di Era VUCA: Studi Kasus Darmasiswa TFSU China Salamah1*. Eti Setiawati1 Universitas Brawijaya ARTICLE INFO ABSTRACT Article history: Ulak-alik Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) di era VUCA mengacu pada tantangan dan adaptasi yang dihadapi dalam pembelajaran BIPA dengan konteks dunia yang dinamis dan penuh ketidakpastian. Tujuan penelitian ini memetakan permasalahan yang dialami oleh pembelajar BIPA sebagai dampak dari era VUCA serta alternatif solusi yang dapat Penelitian ini berjenis kualitatif deskriptif dengan data berupa hasil wawancara dan observasi yang bersumber dari darmasiswa Tianjin Foreign Studies University China. Teknik pengumpulan data memanfaatkan teknik wawancara dan observasi partisipatif lalu dianalisis dengan model studi kasus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa permasalahan volatilitas dan ketidakpastian datang dari kekhawatiran pembelajar terhadap karier masa depan dan ilmu pengetahuan yang sangat dinamis menimbang tren yang cepat berubah. Di sisi lain, permasalahan kompleksitas dan ambiguitas datang dari adanya perbedaan budaya yang cukup signifikan menimbang kearifan lokal Indonesia yang sangat beragam sehingga pembelajar kesulitan mengelola informasi yang diterima. Alternatif solusi yang dapat ditawarkan dari permasalahan tersebut di antaranya memanfaatkan teknologi secara efektif untuk menghadirkan bahan ajar dengan isu mutakhir dan bentuk yang fleksibel, misalnya pengembangan modul digital edisi khusus berbasis kebutuhan pembelajar. Selain itu, pengajar dapat menerapkan FGD berkala agar pembelajar dapat berkonsultasi hal-hal yang mereka khawatirkan di luar materi DOI: 30595/pssh. Submitted: June 20, 2024 Accepted: November 10, 2024 Published: November 30, 2024 Keywords: BIPA. Darmasiswa. VUCA Studi Kasus. TFSU China This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Corresponding Author: Salamah Universitas Brawijaya Jl. Veteran No. Ketawanggede. Malang. Jawa Timur 65145. Indonesia Email: salamahjournal@gmail. PENDAHULUAN Memasuki era volatility, uncertainty, complexity, dan ambiguity (VUCA) pembelajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) menghadapi tantangan yang semakin kompleks (Syamsuri & Bur, 2. Perubahan lingkungan sosial yang dinamis pada era VUCA menjadikan pembelajar dihadapkan pada realitas yang menuntut adaptasi cepat (Aka & Afandi, 2. Tantangan yang hadir pun dapat sangat beragam, mulai dari tantangan volatilitas atau perubahan cepat yang memengaruhi kebijakan pendidikan, tren pendidikan, dan cara pembelajaran, tantangan ketidakpastian yang umumnya menyasar rencana jangka panjang yang tidak pasti, tantangan kompleksitas yang terkait dengan adaptasi sosiokultural, hingga tantangan ambiguitas yang merujuk pada ketidakjelasan interpretasi sehingga menghambat pembelajaran bahasa maupun proses komunikasi. Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X Penelitian ini berfokus pada salah satu kelompok pembelajar BIPA yang berasal dari Tianjin Foreign Studies University Tiongkok. Studi pendahuluan dilakukan untuk mengamati permasalahan awal yang dialami selama proses pembelajaran BIPA berlangsung. Fokus kasus ialah mahasiswa TFSU yang mengikuti program Darmasiswa Republik Indonesia di Universitas Brawijaya pada tahun ajaran 2023/2024. Pengamatan kasus yang lebih mendalam juga dilakukan dengan mengunjungi langsung TFSU di Tiongkok dan berkonsultasi terkait kurikulum pembelajaran Bahasa Indonesia yang selama ini dipelajari oleh mahasiswa BIPA. Sejumlah mahasiswa BIPA mengakui adanya beberapa permasalahan dalam pembelajaran BIPA yang berhubungan dengan kondisi global yang dinamis. Mulai dari tantangan kurikulum dan bahan ajar yang cepat berubah, keraguan akan prospek karir kedepannya, adaptasi sosial di lingkungan Indonesia yang sangat multikultural, hingga perbedaan dalam menginterpretasi atau memahami bahasa dan budaya. Oleh karena itu, dilakukan penelitian studi kasus untuk dapat lebih memahami secara mendalam permasalahan era VUCA yang dihadapi oleh pembelajar BIPA serta alternatif solusi apa yang dapat ditawarkan untuk mereduksi hal tersebut. Pendekatan inovatif dibutuhkan sebagai respons terhadap tantangan kompleksitas pembelajaran yang cepat berubah dan tidak pasti (Wijaya dkk, 2. Sejumlah penelitian terdahulu dengan topik yang selaras penelitian ini di antaranya penelitian mengenai peran pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia dalam membentuk karakter pada era VUCA (Syamsuri & Bur, 2. , tantangan pendidikan tinggi menghadapi perkembangan teknologi digital era VUCA (Azhro dkk, 2. , menurunnya tingkat belajar mahasiswa di era VUCA (Prayoga, 2. , perbandingan minat mahasiswa dalam berliterasi sastra di era VUCA (Heryani & Haerul, 2. , hingga penelitian mutakhir mengenai manajemen perubahan di era VUCA (Afkarina, 2. Mayoritas penelitian berfokus pada peran pendidikan serta kondisi mahasiswa di era VUCA, terdapat gap atau celah pada body of knowledge tersebut yakni belum ada penelitian yang menghubungkan permasalahan era VUCA dengan pembelajaran BIPA yang menuntut adanya adaptasi sosial dan kultural di lingkungan yang dinamis. Dalam rangka memetakan dan memahami permasalahan yang dialami oleh salah satu kelompok pembelajar BIPA di era VUCA, penting untuk dilakukan penelitian atau studi kasus khusus mengenai tantangantantangan serta alternatif solusi yang dapat ditawarkan. Alternatif solusi yang ditawarkan dapat mengacu pada prinsip VUCA dalam artian vision . , understanding . , clarity . , dan agility . (Poernomo, 2. Visi yang jelas dapat membantu menghadapi perubahan yang cepat dan tidak terduga (Asra dkk, 2. Dengan memahami dan mengatasi permasalahan yang ada, proses pembelajaran BIPA dapat lebih ditingkatkan lagi dan disesuaikan dengan kebutuhan pembelajar sehingga penelitian ini dapat menawarkan kebaruan yang tidak hanya bermanfaat secara teoretis tetapi juga secara praktis khususnya bagi pengajar dan pembelajar BIPA kedepannya. METODE PENELITIAN Penelitian ini berjenis kualitatif deskriptif dengan menekankan pada kedalaman makna (Asdar, 2. Data berupa hasil wawancara dan observasi yang bersumber dari mahasiswa Tianjin Foreign Studies University (TFSU) China yang mengikuti program Darmasiswa Republik Indonesia (DRI) di Universitas Brawijaya pada tahun ajaran 2023/2024. Teknik pengumpulan data memanfaatkan teknik wawancara purposive sampling (Lenaini, 2. dan observasi partisipatif. Metode analisis data mengadaptasi model analisis studi kasus, yakni . melakukan pembacaan menyeluruh pada transkrip informasi yang didapatkan, . memilah data berdasarkan kebutuhan yang relevan dengan penelitian, . melakukan klasifikasi data berdasarkan kecenderungan permasalahan yang ditemukan (Rahardjo, 2. Selain menganalisis hasil observasi dan wawancara, dilakukan juga analisis kurikulum dan metode pembelajaran yang sejauh ini telah diterapkan sehingga dapat dirumuskan alternatif solusi untuk mengatasinya. Keabsahan penelitian dibuktikan melalui triangulasi dan tinjauan sejawat (Mekarisce, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Pembelajaran Darmasiswa TFSU di Era VUCA Tantangan pertama dalam pembelajaran BIPA di era VUCA adalah volatilitas atau perubahan cepat dalam konteks global, mulai dari perihal kebijakan pendidikan, tren kebudayaan, atau perkembangan teknologi yang memengaruhi cara pembelajaran. Mahasiswa BIPA TFSU merasa kesulitan menghadapi perubahan kebijakan pendidikan yang cenderung berbeda antarinstitusi. Perbedaan kurikulum dan metode pengajaran antaruniversitas dapat mempengaruhi kemampuan mahasiswa dalam menyesuaikan diri karena kurikulum dan pembelajaran pada hakikatnya adalah hal yang saling terkait (Rahayu dkk, 2. Adanya perbedaan materi yang disediakan dengan kesesuaian kebutuhan pembelajar menjadikan proses belajar tidak berjalan dengan maksimal. Oleh karena itu, penting bagi lembaga pendidikan untuk terus berinovasi dalam menyediakan pembelajaran yang adaptif dan responsif terhadap perubahan sehingga mahasiswa dapat menghadapi tantangan pembelajaran dengan lebih baik. Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X Tren kebudayaan yang silih berganti juga menjadi tantangan tersendiri bagi pembelajar asing untuk dapat berbaur sepenuhnya dengan masyarakat setempat. Hal tersebut dapat dilihat dari beragamnya konten budaya yang tersedia di Indonesia. Tiap budaya mencerminkan kekayaan dan keragaman budaya yang dimiliki oleh suatu daerah atau kelompok tertentu. Misalnya, dalam budaya Jawa, terdapat tradisi wayang yang menjadi ciri khas seni pertunjukan masyarakat Jawa. Sementara itu, di daerah Sumatera, tarian tradisional seperti tari piring atau tari saman menjadi representasi kebudayaan yang khas dan diperkenalkan secara global. Indonesia dengan kondisi masyarakat yang majemuk menyediakan konten budaya yang sangat beragam (Aslim dkk, 2. Hal tersebut menjadi pisau bermata dua bagi pembelajar BIPA untuk dapat memahami keunikan dari masing-masing budaya. Sebagai contoh, dalam mempelajari bahasa Indonesia, seorang pembelajar harus memahami tidak hanya kosakata dan tata bahasa, tetapi juga nuansa budaya yang terkandung dalam setiap ungkapan atau tradisi. Dengan demikian, pembelajar BIPA diharapkan dapat lebih menghargai dan memahami keberagaman budaya yang ada di Indonesia. Salah satu peserta Darmasiswa asal TFSU ada yang menuliskan tugas akhir makalah tentang perbandiangan peribahasa dalam bahasa Mandarin dan Indonesia, dan ada juga yang membahas perbandingan ragam motif batik Indonesia dengan kain bercorak yang ada di Tiongkok. Umumnya mahasiswa merasa kebingungan untuk memahami nuansa budaya yang terkandung dalam ungkapan atau kesenian Lebih jauh lagi, kemajuan teknologi juga memainkan peran dalam pergantian metode belajar yang sebelumnya konvensional menjadi berbasis digital (Siringoringo & Alfaridzi, 2. Hal tersebut terlihat dari penggunaan platform daring dalam proses belajar mengajar. Dengan adanya aplikasi pembelajaran bahasa Indonesia online, pembelajar BIPA dapat memperoleh akses ke berbagai sumber belajar tanpa terbatas oleh waktu dan tempat. Sebagai hasilnya, pembelajaran bahasa Indonesia menjadi lebih fleksibel dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan individu. Namun, tantangan yang dihadapi adalah ketersediaan bahan ajar yang masih terbatas yang menjadikan pembelajaran kurang menarik bagi para pembelajar. Oleh karena itu, upaya untuk terus mengembangkan materi pembelajaran yang inovatif dan menarik menjadi kunci dalam meningkatkan minat pembelajar BIPA. Pembelajar BIPA juga menghadapi tantangan ketidakpastian yang menimbulkan kekhawatiran. Berdasarkan hasil observasi, salah satu tantangan utama yang dihadapi adalah ketidakpastian terkait masa depan dan prospek karir. Ketidakpastian ini telah terbukti memengaruhi motivasi dan fokus pembelajar dalam mempelajari bahasa Indonesia. Sebagai contoh, sebagian mahasiswa BIPA TFSU merasa kesulitan dalam mempertimbangkan jalan karier yang ingin mereka tempuh. Beberapa bahkan mulai memikirkan untuk berkarier di luar bidang ilmu yang mereka pelajari saat ini karena merasa tidak ada jaminan masa depan yang pasti. Di sisi lain, agar dapat berkarier di bidang akademis, sebagian mengharuskan mereka mengejar jenjang pendidikan yang lebih tinggi seperti S-2 atau S-3, di mana hal tersebut menjadi kendala baik dari segi biaya maupun minat belajar. Namun, berkarier secara praktis juga tidak jauh berbeda, terdapat persaingan yang sangat ketat di dunia kerja. Mahasiswa dengan latar belakang kemampuan bahasa Indonesia yang umumnya masih berada di tingkat madya mungkin akan menghadapi kesulitan untuk memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan harapan Dengan demikian, penting bagi pembelajar BIPA untuk tidak hanya fokus pada kemampuan bahasa mereka, tetapi juga memperhatikan perkembangan karier dan prospek di masa depan. Dukungan dan bimbingan dari institusi pendidikan hingga pengajar dapat membantu mahasiswa mengatasi ketidakpastian ini dan mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan di dunia kerja yang semakin kompetitif. Selanjutnya, terdapat juga tantangan kompleksitas yang harus dihadapi dalam pembelajaran BIPA. Dunia yang semakin terhubung dan konteks sosiokultural yang berbeda-beda dari berbagai negara menciptakan lapisan kompleks dalam proses pembelajaran. Misalnya, ketika seseorang belajar bahasa Indonesia, tidak hanya memahami tata bahasa dan kosakata saja yang penting, tetapi juga memahami nuansa budaya yang melekat dalam bahasa tersebut (Astrid dkk, 2. Ketika seseorang dari negara lain mengunjungi Indonesia atau menetap di satu daerah tertentu, akan ada beragam tantangan yang ditemui. Tidak hanya bahasa Indonesia standar, pembelajar BIPA juga perlu memahami bahasa lokal, idiom, slang, dan referensi budaya lain yang mungkin tidak familiar bagi mereka. Sebagai contoh, belajar bahasa Indonesia di wilayah Jawa akan berbeda dengan belajar bahasa di wilayah Sumatera karena setiap daerah memiliki kekhasan bahasa, budaya, dan kearifan lokal masing-masing. Mahasiswa BIPA TFSU menunjukkan antusiasme yang tinggi dalam mempelajari budaya dan istilahistilah lokal, termasuk juga istilah gaul. Namun, mereka tetap sering mengalami kesulitan dalam berbaur dengan masyarakat setempat selayaknya penutur asli. Hal ini disebabkan oleh banyaknya ragam budaya dan slang yang digunakan di masyarakat sehari-hari. Oleh karena itu, penting bagi pembelajar BIPA untuk tidak hanya fokus pada aspek linguistik, tetapi juga memahami konteks sosial-budaya yang melingkupi bahasa Indonesia. Tantangan ambiguitas yang merujuk pada ketidakjelasan atau kurangnya kepastian dalam proses berkomunikasi dan berinteraksi juga menjadi kendala yang dihadapi oleh Darmasiswa TFSU. Pembelajar BIPA kerap dihadapkan pada berbagai interpretasi dan pemahaman yang berbeda terkait bahasa maupun budaya. Ambiguitas yang dialami berasal dari perbedaan dalam struktur bahasa, penggunaan kata, atau bahkan dalam cara berkomunikasi yang dapat berbeda antara penutur asli dan penutur asing. Misalnya, ketika seorang pembelajar Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X BIPA belajar tentang ungkapan bahasa sehari-hari, terdapat kemungkinan ambiguitas dalam pemahaman apakah ungkapan tersebut formal atau informal, atau dalam kondisi yang sepeti apa dapat digunakan. Hal tersebut menjadi dilema bagi Darmasiswa TFSU atau bahkan pembelajar BIPA secara umum karena dalam budaya tertentu beberapa ungkapan mungkin dianggap terlalu santai untuk digunakan dalam situasi formal. Dengan demikian, penting bagi pembelajar BIPA untuk memahami konteks budaya di balik setiap ungkapan agar dapat berkomunikasi dengan tepat. Selain itu, ambiguitas juga bisa muncul ketika pembelajar BIPA berinteraksi dengan penutur asli yang memiliki aksen atau dialek khas. Misalnya, dalam bahasa Indonesia, aksen yang digunakan di daerah Jawa mungkin berbeda dengan aksen yang digunakan di daerah lain. Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik simpulan bahwa tantangan era VUCA memainkan peran penting di sektor pendidikan termasuk pembelajaran bahasa. Pembelajaran bahasa Aiterkhususnya bagi penutur asing, di era VUCA menjadikan tantangan yang dihadapi semakin kompleks dan membutuhkan penanganan ekstra (Wijaya dkk, 2. Hasil studi kasus permasalahan yang dialami Darmasiswa TFSU China juga sejalan dengan permasalahan pembelajaran yang umum ditemui di era VUCA (Azhro dkk, 2023. Prayoga, 2023. Heryani & Haerul, 2. Sebagai upaya penanganan dan pencegahan agar masalah tidak berulang, maka ditawarkan beberapa alternatif solusi yang relevan dengan kondisi dan situasi pembelajar saat ini. Alternatif Solusi Menghadapi Pembelajaran BIPA di Era VUCA Langkah awal dalam merumuskan alternatif solusi yang tepat sasaran diawali dengan observasi lapangan lebih lanjut tidak hanya di Universitas Brawijaya selaku penerima program Darmasiswa, tetapi juga di TFSU China selaku instansi yang mengirimkan mahasiswa. Peneliti melakukan analisis kurikulum dan metode pembelajaran yang sejauh ini telah diterapkan untuk mengkaji perbedaan gaya belajar yang memungkinkan mahasiswa peserta Darmasiswa merasa kebingungan atau kesulitan beradaptasi. Perubahan yang berlangsung cepat tersebut mengharuskan baik pengajar maupun pembelajar BIPA tetap mengikuti tren terbaru agar pembelajaran tetap relevan dan efektif. Tantangan yang kompleks membutuhkan pendekatan yang lebih holistik dengan mengintegrasikan elemen budaya dan sosial secara bersamaan dengan pembelajaran bahasa (Mulya dkk. Pengajar juga dituntut untuk dapat menyiapkan strategi mengembangkan keterampilan komunikasi yang Menghadapi berbagai tantangan tersebut, diperlukan solusi untuk dapat beradaptasi dan memastikan efektivitas pembelajaran BIPA di era VUCA. Salah satu pendekatan yang dapat diambil adalah pengembangan kurikulum BIPA yang lebih adaptif dan responsif terhadap isu global dan lokal dengan menambahkan elemen yang fleksibel dan mudah disesuaikan dengan perubahan konteks atau kebutuhan pembelajar. Pendekatan ini memberi ruang bagi pembelajar mengeksplorasi topik yang sesuai minat dan tujuan pribadi menempuh pembelajaran BIPA. Dalam menangani perubahan kebijakan kurikulum, fleksibilitas materi menjadi hal yang sangat penting. Diperlukan rancangan kurikulum yang adaptif agar dapat mengakomodasi perubahan kebijakan terbaru. Sebagai contoh, dengan adanya perkembangan teknologi yang pesat, modul pembelajaran harus dapat mudah diubah dan disesuaikan dengan perkembangan tersebut. Dalam studi kasus mahasiswa BIPA TFSU China, peneliti telah mengembangkan modul ajar yang adaptif dan fleksibel sehingga dapat diakses siapa, kapan, dan di mana saja. Pendekatan kearifan lokal ditonjolkan untuk membantu mahasiswa beradaptasi saat mengunjungi Indonesia. Gambar 1. Tampilan E-Modul BIPA untuk Keterampilan Menyimak Edisi Malang Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X Selain itu, perbedaan metode pengajaran yang muncul juga perlu diperhatikan. Daripada memaksakan satu metode saja, kolaborasi antara berbagai metode pengajaran dapat menjadi solusi yang lebih efektif. Misalnya, pengajar dapat menggabungkan metode komunikatif dengan task-based learning untuk memaksimalkan Pembelajaran berbasis proyek juga dapat menjadi alternatif yang menarik untuk menghasilkan pembelajaran yang lebih interaktif (Salamah & Setiawati, 2. Dengan memberikan proyek-proyek yang relevan dan menarik, pembelajar dapat belajar dengan lebih menyenangkan dan mendalam. Selain itu, penting juga untuk selalu mengadakan diskusi terbuka di kelas. Diskusi ini dapat membantu pembelajar untuk lebih aktif dalam pembelajaran, serta memberikan kesempatan untuk menyampaikan masalah-masalah yang dihadapi. Dengan demikian, proses pembelajaran dapat berjalan lebih efektif dan efisien. Adapun tren kebudayaan yang silih berganti membutuhkan penyediaan materi yang dinamis dengan selalu memperbarui materi pembelajaran sesuai tren kebudayaan terbaru. Misalnya memanfaatkan media sosial dan konten populer untuk bahan ajar tambahan (Fitriani, 2. Selain itu, mengadakan acara atau diskusi tentang tren budaya terkini dapat mendorong pembelajar agar dapat terlibat langsung dan lebih memahami konteks budaya yang sedang berkembang. Pengajar juga dapat menyelipkan pembelajaran tentang sosiokultural dalam setiap modul sehingga pembelajar memahami konteks sosial dan budaya Indonesia. Dengan memahami konteks sosial dan budaya Indonesia, pembelajar dapat lebih menghargai dan memahami keberagaman budaya yang ada di tanah Hal tersebut juga dapat membantu pembelajar untuk lebih peka terhadap isu-isu sosial yang sedang Selanjutnya, dalam menghadapi perkembangan tren kebudayaan yang terus berubah, penting bagi pengajar untuk terus memperbarui materi pembelajaran agar relevan dengan situasi saat ini. Sebagai contoh, penggunaan media sosial seperti Instagram. TikTok. X (Twitte. , hingga YouTube dapat menjadi sarana efektif untuk menyampaikan informasi terkait isu terkini. Dengan mengemas materi pembelajaran ke dalam konten yang menarik dan sesuai dengan selera generasi muda, pembelajaran dapat menjadi lebih menarik dan mudah dipahami (Akbar dkk, 2. Selain itu, mengadakan acara-acara diskusi atau seminar tentang tren budaya terkini juga dapat menjadi sarana yang efektif untuk memperluas wawasan pembelajar. Melalui diskusi ini, pembelajar dapat berinteraksi langsung dengan para ahli atau praktisi di bidang kebudayaan dan mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang fenomena budaya yang sedang berkembang. Dengan demikian, pembelajar tidak hanya mendapat pengetahuan teoretis, tetapi juga dapat merasakan langsung atmosfer budaya yang diajarkan. Intitusi pendidikan juga dapat berperan dengan memfasilitasi program pameran dan/atau pertukaran budaya baik secara fisik ataupun virtual, di mana pembelajar dapat berinteraksi langsung dengan penutur asli atau instrumen-instrumen kebudayaan yang relevan untuk memahami perbedaan sosiokultural. Sebagai contoh, telah didirikan Rumah Budaya Indonesia oleh Universitas Brawijaya di TFSU China untuk mengakomodasi kebutuhan pembelajaran budaya yang lebih komprehensif. Program rumah budaya tersebut memungkinkan mahasiswa untuk belajar tidak hanya melalui buku teks, tetapi juga melalui pengalaman langsung. Pembelajar dapat mempelajari dengan lebih dalam terkait seni, tradisi, adat istiadat, dan kebiasaan sehari-hari yang menjadi bagian penting dari budaya Indonesia. Pemahaman dan penanganan ambiguitas dalam pembelajaran BIPA juga tidak kalah penting untuk memastikan bahwa pembelajar dapat mengembangkan keterampilan berbahasa dan berbudaya secara Melalui kesadaran akan ambiguitas yang mungkin muncul dalam proses pembelajaran, pembelajar BIPA dapat meningkatkan kemampuan mereka dalam berkomunikasi secara efektif dan menghargai keragaman bahasa dan budaya yang ada. Pengajar juga dapat mengajak pembelajar berdiskusi dan berbagi pandangan agar dapat memahami perspektif yang berbeda melalui strategi problem based learning (Hotimah, 2. Melalui diskusi tersebut, mahasiswa dapat memperluas wawasan mereka tentang beragam sudut pandang yang ada dalam masyarakat. Misalnya, dalam mempelajari sebuah ungkapan dalam bahasa Indonesia, penting untuk tidak hanya memahami arti harfiahnya, tetapi juga konteks budaya di mana ungkapan tersebut digunakan. Dengan berbagi pengalaman dan pandangan, mahasiswa dapat memperkaya pemahaman mereka tentang bahasa dan budaya. Penting juga untuk dapat memberikan banyak contoh penggunaan ungkapan dalam konteks yang berbeda, baik formal maupun informal, untuk membantu pemahaman yang lebih dalam. Misalnya, pengajar dapat memberikan contoh penggunaan ungkapan sehari-hari dalam percakapan informal antarteman, serta penggunaan ungkapan formal dalam situasi resmi seperti presentasi atau wawancara kerja. Dengan demikian, mahasiswa akan lebih siap dalam menggunakan bahasa Indonesia secara tepat sesuai konteksnya. Sejauh ini. Darmasiswa TFSU sangat antusias dalam mempelajari istilah lokal sehingga disediakan sesi khusus untuk mengakomodasi minat Dalam proses mengatasi kendala pembelajaran bahasa di era VUCA, dapat digunakan juga platform pembelajaran daring, aplikasi bahasa, dan sumber daya digital lainnya untuk meningkatkan keterlibatan yang lebih interaktif dan aksesibilitas yang mudah dalam mengakses konten. Misalnya, penggunaan aplikasi bahasa yang menyediakan latihan interaktif seperti kuis, permainan, dan simulasi percakapan akan membuat pembelajaran Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X lebih menarik dan efektif. Dengan teknologi yang semakin canggih, mahasiswa dapat memanfaatkan berbagai sumber daya digital untuk mendukung pembelajaran bahasa dan budaya Indonesia dengan lebih efisien. Integrasi teknologi dalam proses pembelajaran akan lebih baik apabila menyadar siswa atau pembelajar sebagai pusat kegiatan . tudent based learnin. Selanjutnya, dalam permasalahan yang lebih personal seperti kekhawatiran akan karier masa depan, maka dibutuhkan pengembangan keterampilan lain seperti keterampilan interpersonal dan profesional yang dapat meningkatkan daya saing di dunia kerja. Pengajar juga dapat menawarkan sesi konseling karier dan kegiatan workshop untuk membantu pembelajar memahami peluang yang ada dan bagaimana mempersiapkan diri untuk karier di bidang bahasa dan budaya. Dengan pendekatan yang inklusif dan adaptif, diharapkan pembelajaran BIPA dapat tetap efektif dan relevan dalam menghadapi berbagai tantangan yang ada. Misalnya, dalam konteks pengembangan keterampilan interpersonal, pembelajar dapat diajak untuk berpartisipasi dalam diskusi kelompok atau proyek kolaboratif yang melibatkan komunikasi aktif dan kerja sama Hal tersebut tidak hanya akan meningkatkan kemampuan berbicara dan mendengarkan dalam bahasa target, tetapi juga membantu dalam membangun jaringan profesional yang kuat di masa depan. Dalam kasus pembelajaran BIPA di Universitas Brawijaya, mahasiswa diajak untuk berinteraksi dengan berbagai organisasi dan unit kegiatan mahasiswa yang ada di kampus. Selain itu, sesi konseling karier dapat memberikan saran yang spesifik sesuai dengan minat dan tujuan karier individu. Contohnya, seorang pembelajar yang bercita-cita menjadi seorang pengajar bisa mendapatkan informasi tentang program khusus yang mendukung karier mereka. Seluruh upaya yang ditawarkan pada penelitian ini bertujuan untuk memastikan bahwa pembelajaran BIPA tidak hanya memberikan pengetahuan bahasa atau linguistik, tetapi juga kemampuan beradaptasi di lingkungan sosio-kultural yang beragam, serta memberdayakan individu untuk menggapai jenjang karier yang Penelitian ini sejalan dengan gagasan Poernomo . bahwa dalam menghadapi era volatility . erubahan cepa. , uncertainty . , complexity . , dan ambiguity . , maka dibutuhkan Alternatif solusi yang ditawarkan dapat mengacu pada prinsip VUCA dalam vision . , understanding . , clarity . , dan agility . KESIMPULAN Studi kasus Darmasiswa TFSU China terhadap ulak-alik pembelajaran BIPA di era VUCA menunjukkan adanya serangkaian kekhawatiran pembelajar yang berangkat dari perubahan dunia yang begitu cepat dan ketidakpastian akan masa depan. Kekhawatiran yang dirasakan pembelajar cukup beragam, mulai dari pilihan karier masa depan, perubahan kebijakan pendidikan, hingga kebutuhan bahan ajar. Permasalahan kompleksitas dan ambiguitas juga muncul sebagai konsekuensi dari budaya dan kearifan lokal Indonesia yang beragam sehingga pembelajar menghadapi kesulitan dalam mengelola informasi yang diterima dan beradaptasi dengan isu-isu Alternatif solusi yang dapat diusulkan mulai dari merancang pembelajaran yang dinamis dan fleksibel dengan memanfaatkan teknologi secara optimal. Dalam kasus pembelajar bahasa Indonesia TFSU, dikembangkan modul pembelajaran digital edisi khusus yang disesuaikan dengan kebutuhan pembelajar dan pendirian Rumah Budaya Indonesia untuk memberikan pengalaman yang lebih nyata. Selain itu, diadakan diskusi kelompok terarah secara berkala agar pembelajar dapat berdiskusi mengenai hal-hal yang lebih persona. Adapun bagi peneliti selanjutnya, disarankan menjalankan penelitian pengembangan terkait media pembelajaran khusus BIPA atau dapat juga melakukan telaah komparatif mengenai keefektifan media atau bahan ajar yang beredar untuk menghadapi dinamika era VUCA. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih penulis haturkan kepada Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya, dan Tianjin Foreign Studies University China selaku pihak yang memfasilitasi pemerolehan data dalam penelitian ini. Rasa terima kasih juga penulis sampaikan kepada pihak-pihak lainnya yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Penulis menegaskan bahwa tidak ada conflict of interest dalam penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA