J A S 10 . Journal of Animal Science International Standard of Serial Number 2502-1869 Pengaruh Tingkat Kepadatan Kandang Terhadap Eritrosit. Hemoglobin dan Hematokrit Broiler Sistem Closed House Fauziah Nur Annisa. Muhamad Samsi. Mohandas Indradji dan Akbar Satria Bahari* Fakultas Peternakan. Universitas Jenderal Soedirman. Purwokerto. Jawa Tengah *Corresponding Author: akbarsatriabahari@gmail. Article Info Abstrak Article history: Received 27 April 2025 Received in revised form 29 Mei 2025 Accepted 11 Juni 2025 Kepadatan kandang merupakan salah satu faktor manajerial yang secara langsung mempengaruhi performa, kesejahteraan, dan parameter fisiologis ayam broiler. Sistem Closed House menawarkan kontrol lingkungan yang optimal sehingga memungkinkan penerapan kepadatan tinggi tanpa mengorbankan kesehatan ayam. Meskipun demikian, batasan kepadatan optimal yang tidak berdampak negatif terhadap kondisi hematologis DOI: ayam broiler masih menjadi perdebatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh https://doi. org/10. 32938/ja. tingkat kepadatan kandang terhadap jumlah eritrosit, kadar hemoglobin, dan nilai Keywords: hematokrit ayam broiler strain Ross dalam sistem pemeliharaan Closed House. Penelitian Broiler ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan kepadatan yaitu Eritrosit 8, 10, dan 12 ekor/mA. masing-masing terdiri atas lima ulangan. Data dianalisis dengan Hemoglobin metode analisis ragam (ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji Duncan apabila terdapat Hematokrit perbedaan nyata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang tidak Kepadatan kandang signifikan (P>0,. dari tingkat kepadatan terhadap ketiga parameter hematologi yang Temuan ini menunjukkan bahwa ayam broiler mampu beradaptasi dengan rentang kepadatan 8Ae12 ekor/mA tanpa mengalami gangguan fisiologis yang berarti. Faktor pengelolaan lingkungan dalam sistem Closed House berperan krusial dalam mempertahankan stabilitas hematologis ayam. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa penerapan kepadatan kandang 8Ae12 ekor/mA pada sistem Closed House masih berada dalam batas aman dan tidak memengaruhi status hematologi ayam broiler strain Ross. PENDAHULUAN Sebagai komoditas ternak yang memberikan kontribusi terbesar dalam penyediaan daging nasional, ayam broiler menjadi pilihan utama pelaku usaha peternakan karena waktu budidaya yang relatif singkat . ata-rata 30,26 hari mencapai bobot 1,8 k. , pertumbuhan yang cepat, dan kemampuan genetiknya yang didukung oleh ransum berkualitas tinggi sehingga menghasilkan performa produksi maksimal dibandingkan ayam kampung (Mahmud et al. , 2017. Bahari et al. , 2. Lebih lanjut, dalam konteks performa pertumbuhan antar strain broiler, strain Ross menunjukkan keunggulan signifikan dalam asupan pakan harian, pertambahan bobot harian, dan pencapaian bobot badan akhir terbesar dibandingkan strain Aboaca dan strain Cobb (Benyi et al. , 2015. Ikusika et al. , 2. Ayam broiler yang dipelihara dengan kandang sistem closed house dapat memberikan kenyamanan dan melindungi ayam broiler dari perubahan cuaca dan suhu lingkungan, menghindari gangguan predator dan memudahkan dalam tatalaksana pemberian pakan dan minum. Keunggulan lainnya dengan sistem closed house yaitu memudahkan terhadap pengawasan kesehatan ayam broiler, sehingga ayam tetap berada dalam kondisi yang sehat dan stabil. Aspek yang penting diperhatikan dalam tatalaksana perkandangan salah satunya yaitu kepadatan Kepadatan kandang merupakan aspek manajemen krusial dalam pemeliharaan ayam pedaging karena implikasi langsungnya terhadap kesejahteraan ayam, produktivitas, dan profitabilitas, dan studi menunjukkan bahwa kepadatan kandang yang tinggi dapat mengurangi konsumsi pakan secara keseluruhan, yang konsekuensinya adalah penurunan berat badan akhir pada ayam pedaging strain Ross 308 (Thema et al. , 2. Pengukuran parameter darah pada ayam broiler merupakan metode diagnostik yang efektif dan praktis untuk mengidentifikasi kelainan patofisiologis serta mengevaluasi status nutrisi. Analisis hematologis menjadi krusial dalam memahami respons fisiologis unggas terhadap stres lingkungan, seperti stres panas yang diketahui dapat menginduksi perubahan pada sistem darah, termasuk mekanisme pembuangan panas kardiovaskular, ketidakseimbangan asam-basa, peningkatan pH darah, dan alkalosis pernapasan (Gholami et al. , 2. Eritrosit merupakan salah satu komponen darah yang mengandung hemoglobin . rotein pengikat oksige. , menunjukkan hubungan langsung dengan kadar hemoglobin. penurunan jumlah eritrosit umumnya diikuti oleh penurunan konsentrasi hemoglobin. Menurut Parwati et al. , peningkatan kepadatan kandang dapat memicu stres pada ayam broiler, yang selanjutnya berkontribusi terhadap penurunan jumlah eritrosit dalam sirkulasi. Kondisi stres tersebut dapat mengganggu efisiensi pengambilan oksigen, mengakibatkan penurunan saturasi oksigen pada hemoglobin dan memicu cekaman panas . eat stres. dan memengaruhi nilai hematokrit. Mengingat pentingnya pemahaman mengenai pengaruh kepadatan kandang, maka penelitian ini dirancang untuk menyediakan data empiris mengenai dampak berbagai tingkat kepadatan closed house Annisa. , et al. / Journal of Animal Science 10 . J A S 10 . Journal of Animal Science International Standard of Serial Number 2502-1869 terhadap jumlah eritrosit, kadar hemoglobin, dan nilai hematokrit ayam broiler strain Ross, yang selanjutnya dapat digunakan untuk menentukan kepadatan kandang closed house yang optimal. MATERI DAN METODE PENELITIAN Materi Materi penelitian yang digunakan adalah day old chick (DOC) broiler strain Ross sebanyak 200 ekor Bahan penelitian terdiri atas pakan periode pre-starter . ooster S-. , pakan periode starter (S-. , dan pakan periode finisher (S-. yang merupakan produksi dari PT. Charoen Pokphand Indonesia. Pemberian air dilakukan secara ad libitum. Bahan kimia untuk analisis darah rutin yaitu sampel darah, anti-koagulan Ethylene Diamine Tetra acetic Acid (EDTA) 10%, larutan reagen garam NaCl Fisiologis, dan larutan drabkins. Peralatan yang akan digunakan pada penelitian ini adalah kandang closed house, komponen peralatan kandang, meteran ukur, timbangan, thermometer, alat pengukur kadar oksigen dalam kandang, seperangkat alat analisis pemeriksaan darah yaitu kapas, ice box, spuit disposible 3 cc, vacuum tube, tabung reaksi, pipet eritrosit, kertas saring, hemositometer neubaeur, tabung mikrokapiler, centrifuge, microcapillary hematocrit reader, alat spektofotometer, cover glass, object glass, dan mikroskop. Metode Pendekatan eksperimental diterapkan dalam penelitian ini, dengan kepadatan kandang dalam sistem closed house menjadi fokus perlakuan yang diuji. Kepadatan kandang ditentukan berdasarkan konversi bobot badan panen menjadi jumlah ayam pada umur 21-35 hari. Rancangan penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan, yaitu T1= 8 ekor/m2 . ,4 kg/m. T2= 9 ekor/m2 . ,7 kg/m. T3= 10 ekor/m2 . kg/m. T4= 11 ekor/m2 . ,3 kg/m. T5= 12 ekor/m2 . ,6 kg/m. dan masingmasing perlakuan diulang sebanyak 4 kali. Prosedur Penelitian Penelitian dilaksanakan di kandang closed house yang telah dipersiapkan dengan membuat 20 petak sekat berukuran 1 mA untuk mengakomodasi perlakuan kepadatan kandang. Sebelum kedatangan Day Old Chick (DOC), kandang dan seluruh peralatan dibersihkan serta didesinfeksi menggunakan desinfektan. Area pemeliharaan awal DOC . disiapkan, dan sekam ditaburkan sebagai alas litter yang kemudian juga Alas litter dilapisi koran selama dua hari pertama. Sekat dipasang di area brooding sebagai pembatas awal, dan tirai dipasang untuk mengoptimalkan panas dari pemanas brooder selama 14 hari pertama pemeliharaan. Pengaturan suhu dan kelembapan kandang dikendalikan menggunakan Climate Controller (Tempro. Setelah DOC tiba . hick i. , diberikan air minum yang telah ditambahkan larutan gula. Pemeliharaan broiler strain Ross dilakukan selama 35 hari. Pada periode awal . -14 har. , pemanas digunakan untuk menjaga suhu yang optimal. Pemberian pakan dan air minum dilakukan secara ad libitum. Jenis pakan yang diberikan disesuaikan dengan umur ayam, yaitu pakan pre-starter booster S-00 . mur 17 har. , starter booster S-11 . mur 8-21 har. , dan finisher booster S-12 . mur 22-35 har. , yang merupakan produk PT. Charoen Phokphan Indonesia. Penempatan ayam sesuai dengan perlakuan kepadatan kandang yang telah ditetapkan dimulai pada umur 21 hari. Tabel 1. Hasil pengukuran suhu dan kelembaban dalam kandang. Pukul Pengukuran Rataan Umur . Temp. C) RH (%) Temp. C) RH (%) Temp. C) RH (%) Temp. C) RH (%) Temp. C) RH (%) 26,95 25,67 25,75 24,67 25,35 27,05 26,25 26,72 27,07 25,82 Annisa. , et al. / Journal of Animal Science 10 . J A S 10 . Journal of Animal Science International Standard of Serial Number 2502-1869 Pengukuran parameter termofisiologis dilakukan pada 5 ekor ayam broiler strain Ross yang dipilih secara acak dari setiap ulangan sebanyak dua kali sehari . ukul 07:00 dan 16:. pada hari ke-25, 27, 29, 31, 33, dan 35 penelitian. Parameter yang diukur secara bersamaan meliputi temperatur permukaan tubuh (T. dan kelembapan relatif (RH). Pengukuran suhu badan . (T. dan suhu permukaan . epala, leher, sayap, tubuh, dan permukaan beti. (T. juga dilakukan. Sebagai tambahan pada perlakuan utama, kondisi lingkungan mikro dalam kandang dipantau secara rutin. Suhu dan kelembapan dicatat setiap hari (Tabel . , diukur pada hari ke-21 dan ke-28 pada interval waktu pagi, siang, dan sore. Pengambilan sampel darah dilakukan pada saat ayam berumur 35 hari untuk pemeriksaan jumlah eritrosit, kadar hemoglobin, dan nilai hematokrit ayam broiler strain Ross. Sampel darah diambil dari pembuluh vena axillaris yang berada dibagian bawah sayap menggunakan spuit disposible 3 cc. Darah dikoleksi dalam tabung berantikoagulan EDTA dan dihomogenkan perlahan, kemudian disimpan sementara dalam ice box untuk mempertahankan kualitasnya hingga analisis di laboratorium. Variabel Penelitian Variabel yang diamati adalah jumlah eritrosit, kadar hemoglobin, dan nilai hematrokit ayam broiler strain Ross. 1 Pengukuran Jumlah Eritrosit Kuantifikasi jumlah eritrosit dalam darah ayam broiler dilakukan melalui metode penghitungan manual menggunakan hemositometer. Prosedur perhitungan sebagaimana dijelaskan oleh Parwati et al. , melibatkan pengenceran sampel darah dengan larutan Rees & Ecker menggunakan pipet eritrosit. Selanjutnya, jumlah eritrosit per mmA darah ditentukan dengan mengamati dan menghitung sel di bawah mikroskop dalam kamar hitung. Konsentrasi eritrosit final diperoleh setelah mengaplikasikan faktor koreksi pengenceran sebesar 200 kali. Persiapan kamar hitung meliputi pembersihan menggunakan kain bersih dan Proses penghisapan darah dilakukan hingga tanda 0,5 pada pipet eritrosit, diikuti dengan larutan pengencer hingga tanda 101. Homogenisasi campuran dicapai melalui gerakan angka delapan dengan ujung pipet tertutup, diikuti dengan pemasukan alikuot cairan . /50 mmA dalam lima kota. ke kamar hitung memanfaatkan prinsip kapilaritas antara dasar dan kaca penutup. 2 Pengukuran Kadar Hemoglobin Kadar hemoglobin diukur menggunakan metode sianmethemoglobin. Prosedur ini diawali dengan penambahan secara akurat 0,02 ml sampel darah ke dalam tabung reaksi yang berisi 5 ml larutan Drabkins. Pipet yang digunakan dibilas dengan larutan Drabkins untuk memastikan transfer sampel yang sempurna. Campuran kemudian dihomogenkan dan diinkubasi selama 10 menit untuk memungkinkan pembentukan sianmethemoglobin yang stabil. Absorbansi larutan diukur menggunakan spektrofotometer yang diatur pada panjang gelombang 540 nm, dengan larutan Drabkins digunakan sebagai kontrol blangko untuk mengoreksi pembacaan. Nilai absorbansi yang diperoleh kemudian dikonversikan menjadi konsentrasi hemoglobin dalam satuan g/dL . %) menggunakan kurva standar atau tabel konversi yang telah ditetapkan Parwati et al. dengan menggunakan rumus sebagai berikut: Hb . %) = Pembacaan Skala Sampel Pembacaan Skala Standar x Kadar Hb Standar 3 Pengukuran Nilai Hematokrit Tumpuk dan Suwandi . menyatakan bahwa untuk penentuan nilai hematokrit dapat dilakukan menggunakan metode mikro hematokrit dengan cara memasukkan sampel darah ke dalam tabung yang sudah berisi antikoagulan. Kemudian, menghisap sampel darah dengan pipa mikrokapiler sampai A bagian pipa terisi dengan darah, kemudian ujung pipa disumbat dengan bahan penutup khusus atau plastisin. Selanjutnya, tabung mikrokapiler disentrifugasi pada kecepatan 1600 rpm selama 3 hingga 5 menit. Orientasi tabung selama sentrifugasi adalah dengan bagian ujung yang tersegel menghadap menjauhi pusat Nilai hematokrit dapat dibaca menggunakan grafik microcapillary reader. 4 Pengukuran Indeks Eritrosit Brilianto et al. menyatakan bahwa perhitungan indeks eritrosit dapat dihitung menggunakan rumus berikut: Mean Corpuscular Volume (MCV) MCV . = Nilai hematokrit x 10 Jumlah Eritrosit Mean Corpuscular Haemoglobin (MCH) MCH . = Kadar hemoglobin x 10 Jumlah eritrosit Mean Corpuscular Haemoglobin Concentration (MCHC) MCHC . /dL) = Kadar Hemoglobin x 100 Nilai Hematokrit Analisis Data Data yang terkumpul akan ditabulasi dan dianalisis menggunakan analisis variansi (ANOVA). Apabila analisis ANOVA menunjukkan pengaruh signifikan (P < 0,05 atau sesuai tingkat signifikansi yang ditetapka. dari perlakuan terhadap variabel yang diamati, maka akan dilanjutkan dengan uji post hoc Duncan Multiple Range Test (DMRT) untuk mengidentifikasi perbedaan antar kelompok perlakuan. Annisa. , et al. / Journal of Animal Science 10 . J A S 10 . Journal of Animal Science International Standard of Serial Number 2502-1869 HASIL DAN PEMBAHASAN Jumlah Eritrosit Berdasarkan hasil penelitian jumlah eritrosit berkisar antara 2,24 A 0,19 juta/mm3 - 2,67 A 0,34 juta/mm3 dengan rataan tertinggi pada kepadatan . ekor/m. dan rataan terendah pada kepadatan . ekor/m. Menurut Mahmud et al. , jumlah eritrosit normal pada ayam broiler berkisar antara 2,5 3,2 juta/mm3. Hal tersebut menunjukkan bahwa jumlah eritrosit ayam broiler strain Ross yang hampir mendekati normal yaitu pada perlakuan T1, yang tergolong normal yaitu pada perlakuan T2 dan T3, sedangkan jumlah eritrosit ayam broiler strain Ross pada perlakuan T4 dan T5 berada dibawah normal. Rataan jumlah eritrosit yang berada di bawah batas fisiologis normal diduga berkorelasi dengan kondisi stres pada ayam broiler. Stres ini kemungkinan diinduksi oleh kondisi lingkungan kandang yang suboptimal dan tingginya kepadatan populasi. Efek utama dari kepadatan kandang yang semakin tinggi dapat menurunkan nilai sel darah merah . karena penurunan jumlah eritrosit disebabkan oleh stres yang dialami oleh ayam broiler tersebut. Tabel 2. Hasil rataan jumlah eritrosit, kadar hemoglobin, dan nilai hematrokit. Perlakuan Eritrosit (Juta/mm. Hemoglobin . /dL) Hematokrit (%) T1 . ekor/m. 2,46a A 0,27 7,35a A 0,62 25,75a A 2,62 T2 . ekor/m. 2,55a A 0,18 7,57a A 0,37 25,25a A 1,89 T3 . ekor/m ) 2,67 A 0,34 7,07 A 0,66 25,25a A 3,40 T4 . ekor/m. 2,24a A 0,19 7,30a A 0,70 23,75a A 2,06 T5 . ekor/m ) 2,30 A 0,20 7,27 A 0,61 23,75a A 2,36 Keterangan: Superskrip huruf kecil yang sama mengindikasikan adanya perbedaan tidak signifikan (P > 0,. Hasil perhitungan analisis variansi mengindikasikan bahwa variasi tingkat kepadatan kandang . , 9, 10, 11, dan 12 ekor/mA) tidak menghasilkan perbedaan signifikan (P>0,. pada jumlah eritrosit ayam broiler strain Ross yang dipelihara dalam sistem closed house. Hasil tersebut didukung oleh penelitian Zabir et al. yang juga menemukan adanya pengaruh tidak signifikan perbedaan kepadatan kandang terhadap total sel eritrosit. Diduga bahwa sistem kandang closed house mampu menyediakan kondisi lingkungan yang relatif stabil, sehingga meminimalkan dampak negatif peningkatan kepadatan hingga 12 ekor/mA terhadap parameter eritrosit. Tingkat kepadatan yang lebih tinggi yaitu 14 ekor/mA sampai 18 ekor/mA terdapat perbedaan yang signifikan pada jumlah eritrosit yang dihasilkan (Abouelenien et al. , 2016. Tabeekh, 2016. Agusetyaningsih et al. , 2. Peningkatan kepadatan kandang menunjukkan korelasi positif dengan persentase heterofil (H%) dan negatif dengan persentase limfosit (L%), yang secara konsekuen meningkatkan rasio H/L sebagai indikator stres (Abouelenien et al. , 2. Hal tersebut diduga disebabkan oleh penurunan kualitas udara . eningkatan amoni. dan peningkatan suhu pada kepadatan tinggi. Perubahan jumlah eritrosit, baik peningkatan maupun penurunan, diduga sebagai respons kompensatori terhadap tingkat stres yang bertujuan untuk menyesuaikan kapasitas pengangkutan oksigen guna mendukung peningkatan laju metabolisme yang terjadi akibat stres fisiologis. Alfian et al. menyatakan bahwa perbedaan nilai eritrosit darah ayam dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu strain ayam, umur, suhu lingkungan, sistem perkandangan atau pola pemeliharaan, jenis dan jumlah pakan serta air minum yang diberikan. Perlakuan dengan kepadatan kandang 8 ekor/m2 (T. , 11 ekor/m2 (T. dan 12 ekor/m2 (T. memiliki jumlah eritrosit yang berada dibawah normal. Hal tersebut mengindikasikan bahwa ayam broiler tersebut mengalami keabnormalitasan pada ukuran eritrosit. Keabnormalitasan pada ukuran eritrosit dapat dilihat dari nilai indeks eritrosit. Wahyuni dan Aliviameita . menyatakan bahwa penentuan nilai indeks eritrosit digunakan untuk mengetahui keadaan anemia dengan menganalisis indeks eritrosit yaitu nilai Mean Corpuscular Volume (MCV). Mean Corpuscular Hemoglobin (MCH), dan Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration (MCHC). Tabel 3. Rataan nilai indeks eritrosit ayam broiler strain ross umur 35 hari. Indeks Eritrosit Perlakuan MCV . MCH . MCHC . /dL) T1 . ekor/m ) 86 A 8,74 28 A 5,42 96a A 5,59 T2 . ekor/m ) 86 A 3,39 81 A 3,19 17a A 3,35 T3 . ekor/m. 56a A 2,20 63a A 2,00 19a A 2,59 T4 . ekor/m ) 73 A 4,90 77 A 5,14 97a A 4,44 T5 . ekor/m. 08a A 5,68 81a A 4,47 99a A 5,19 Keterangan: Superskrip huruf kecil yang sama mengindikasikan adanya perbedaan tidak signifikan (P > 0,. Annisa. , et al. / Journal of Animal Science 10 . J A S 10 . Journal of Animal Science International Standard of Serial Number 2502-1869 Perbedaan tingkat kepadatan kandang memberikan pengaruh tidak signifikan (P>0,. terhadap nilai MCV. MCH, dan MCHC pada ayam broiler strain Ross. Nilai rata-rata indeks eritrosit yang teramati (Tabel . adalah sebagai berikut: MCV berkisar antara 94,56 Ae 105,73 fl. MCH berkisar antara 26,33 Ae 32,77 pg. dan MCHC berkisar antara 28,19 Ae 30,99 g/dL. Berdasarkan standar nilai normal indeks eritrosit ayam broiler yang dilaporkan oleh Brilianto et al. (MCV: 90 Ae 140 fl. MCH: 33 Ae 47 pg. MCHC: 26 Ae 35 g/dL), dapat disimpulkan bahwa nilai MCV dan MCHC pada semua kelompok perlakuan (T1 hingga T. masih berada dalam rentang normal. Namun, nilai MCH pada seluruh kelompok perlakuan teramati berada di bawah batas normal. Rendahnya nilai MCH, sebagaimana dijelaskan oleh Parwati et al. , dapat menjadi indikator potensial adanya gejala anemia dan umumnya berkorelasi positif dengan jumlah eritrosit. Hasil MCH menunjukkan nilai konsisten dengan rendahnya jumlah eritrosit yang teramati pada beberapa Anemia bukanlah entitas penyakit, melainkan manifestasi dari suatu proses patologis yang ditandai dengan penurunan jumlah sel darah merah dan/atau hemoglobin di bawah nilai normal. Hemoglobin, sebagai komponen utama eritrosit, memiliki peran esensial dalam transportasi oksigen dan karbon dioksida, dan kadarnya dipengaruhi oleh faktor nutrisi . erutama protei. , bangsa, umur, serta tingkat aktivitas (Hartini et al. , 2. Kadar Hemoglobin Berdasarkan hasil penelitian, rataan kadar hemoglobin pada perlakuan T2 yaitu sebesar 7,57 A 0,37 g/dL sebagai rataan tertinggi dan rataan kadar hemoglobin pada perlakuan T3 yaitu sebesar 7,07 A 0,66 g/dL sebagai terendah. Habibi et al. menyatakan rentang kadar hemoglobin yang dianggap normal pada ayam broiler adalah antara 7,0 g/dl dan 13,0 g/dl. Temuan penelitian menunjukkan bahwa rata-rata kadar hemoglobin ayam broiler strain Ross yang dipelihara dalam kandang closed house berada dalam batas Hasil penelitian mengindikasikan bahwa hemoglobin dapat menjalankan fungsi transpor oksigen ke seluruh tubuh secara efektif dan tidak menimbulkan gangguan fisiologis pada ayam broiler. Kesesuaian hasil tersebut didukung oleh penelitian Mahmud et al. yang melaporkan rata-rata kadar hemoglobin pada ayam broiler dengan kepadatan kandang 8 ekor/mA (K. , 10 ekor/mA (K. , dan 12 ekor/mA (K. masingmasing sebesar 11,03 A 2,56 g/dL, 12,03 A 1,12 g/dL, dan 10,95 A 2,05 g/dL. Berdasarkan data tersebut menunjukkan bahwa kadar hemoglobin ayam broiler memiliki nilai yang relatif sama antar kepadatan kandang yang berbeda dan hal tersebut menunjukkan bahwa kemampuan darah di dalam tubuh ayam broiler dalam mengikat oksigen (O. masih berfungsi dengan baik. Berdasarkan hasil perhitungan analisis variansi menunjukkan tingkat kepadatan kandang yang berbeda terdapat pengaruh yang tidak berbeda nyata terhadap kadar hemoglobin ayam broiler strain Ross (P>0,. Hal tersebut disebabkan oleh jumlah eritrosit pada ayam broiler Ross juga berpengaruh tidak nyata pada setiap kepadatan kandang. Olivia et al. menyatakan bahwa hemoglobin merupakan protein yang ada di dalam eritrosit dan kadar hemoglobin dalam darah memiliki korelasi positif dengan jumlah eritrosit dalam tubuh. Maka dari itu, semakin tinggi jumlah eritrosit yang terjadi di dalam tubuh akan menyebabkan terjadinya peningkatan pada kadar hemoglobin di dalam darah. Faktor lainnya yang menyebabkan kadar hemoglobin ayam broiler strain Ross berpengaruh tidak nyata disebabkan oleh kondisi lingkungan kandang yang baik. Rataan suhu kandang yang dipakai pada penelitian didalam closed house mini adalah 28,6oC dan kelembapannya sekitar 79%. Jika suhu dan kelembapan di dalam kandang baik maka akan menghasilkan pembentukan dan pelepasan oksigen melalui hemoglobin ayam broiler menjadi normal. Berdasarkan hasil pengukuran kadar oksigen pada penelitian yang dilakukan di dalam kandang closed house mini menghasilkan rata-rata pada setiap perlakuannya yaitu T1 sebesar 19,97%. T2 sebesar 20,13%. T3 sebesar 19,87%. T4 sebesar 19,95%, dan T5 sebesar 19,96%. Sistem closed house dirancang untuk memastikan ketersediaan oksigen yang adekuat melalui penggunaan exhaust fan. Exhaust fan berfungsi untuk menarik udara bersih . ke dalam kandang sekaligus mengeluarkan karbon dioksida, amonia, dan panas, sehingga mempertahankan kadar oksigen yang optimal dan menjaga kualitas udara yang bersih bagi ayam. Nilai Hematokrit Berdasarkan penelitian, nilai hematokrit rata-rata yang teramati pada ayam broiler strain Ross pada hari ke-35 adalah berkisar antara 23,75 A 2,36% (T. hingga 25,75 A 2,62% (T. Mengacu pada rentang nilai hematokrit normal ayam broiler yang dilaporkan oleh Brilianto et al. , yaitu 22 - 35%, seluruh kelompok perlakuan dalam penelitian berada dalam batas normal. Analisis variansi (ANOVA) mengkonfirmasi bahwa tingkat kepadatan kandang yang berbeda tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan secara statistik (P > 0,. terhadap nilai hematokrit ayam broiler strain Ross dalam kondisi Secara deskriptif, nilai hematokrit cenderung menurun pada kepadatan yang lebih tinggi (T4 dan T. , meskipun tidak signifikan secara statistik. Temuan tersebut sejalan dengan penelitian Mahmud et al. yang juga melaporkan tidak adanya pengaruh nyata kepadatan kandang . , 10, dan 12 ekor/mA) terhadap nilai hematokrit ayam broiler. Nilai hematokrit merefleksikan viskositas darah dan berperan penting dalam laju transportasi nutrien dan oksigen (Hartini, 2. Nilai hematokrit berkorelasi erat dengan jumlah eritrosit dan kadar hemoglobin (Alfian et al. , 2. Peningkatan aktivitas metabolisme akan meningkatkan kebutuhan oksigen, yang idealnya diiringi dengan peningkatan jumlah eritrosit dan nilai hematokrit. Perubahan nilai hematokrit Annisa. , et al. / Journal of Animal Science 10 . J A S 10 . Journal of Animal Science International Standard of Serial Number 2502-1869 dapat dipengaruhi oleh mekanisme homeostatis tubuh ayam. Eritrosit yang abnormal atau penurunan kadar hemoglobin dapat menjadi penyebab penurunan nilai hematokrit, yang berpotensi mengarah pada anemia (Purwadi et al. , 2. Sebaliknya, peningkatan hematokrit dapat mengindikasikan dehidrasi (Cahyanti et , 2. Kecenderungan penurunan nilai hematokrit terjadi pada kepadatan yang lebih tinggi (T4 dan T. , meskipun tidak signifikan, dapat dikaitkan dengan potensi stres lingkungan dan peningkatan suhu tubuh. Sebagai respons termoregulasi terhadap paparan panas, ayam broiler akan menurunkan konsumsi pakan dan meningkatkan asupan air (Masti et al. , 2. Peningkatan aliran darah ke organ pernapasan selama panting . espons stres pana. juga dapat memengaruhi distribusi volume darah. Meskipun tidak signifikan secara statistik dalam penelitian, kondisi stres panas akibat kepadatan yang lebih tinggi berpotensi memengaruhi parameter hematologis secara keseluruhan. Tabel 4. Pengukuran rata-rata suhu kepala, leher, sayap, badan, shank dan rektal ayam broiler strain ross pada hari ke 35. Rata-Rata Suhu . C) Perlakuan Kepala Leher Sayap Badan Shank Rektal 29,26 29,72 39,97 31,01 30,25 40,48 29,48 40,32 31,28 30,83 28,98 30,08 40,52 31,51 31,23 41,01 29,53 30,41 40,66 31,37 31,52 41,45 29,87 30,36 40,98 31,55 31,47 41,16 Berdasarkan Tabel 4, disajikan hasil pengukuran rata-rata suhu tubuh yang diukur pada bagian kepala, leher, sayap, badan, shank, dan rektal menunjukkan bahwa terdapat kenaikan suhu tubuh pada ayam broiler strain Ross pada kepadatan kandang yang berbeda, walaupun kenaikan suhu tubuhnya tidak terlalu signifikan. Suhu rektal ayam broiler strain Ross paling rendah pada perlakuan T1 yaitu sebesar 40,48 oC dan suhu rektal paling tinggi pada perlakuan T5 yaitu sebesar 41,16 oC. Qurniawan et al. menetapkan kisaran suhu rektal normal untuk ayam broiler adalah 40,06 Ae 41,19 AC. Ayam broiler akan menunjukkan respon stres apabila suhu tubuhnya ada di kisaran 42,2 oC ke atas. SIMPULAN Tingkat kepadatan kandang dalam rentang 8-12 ekor/mA tidak secara signifikan memengaruhi jumlah eritrosit, kadar hemoglobin, dan nilai hematokrit ayam broiler strain Ross yang dipelihara dalam sistem closed house. PUSTAKA