ISSN 1907-5839 E-ISSN 2599-0403 Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 18 No. 2, 30 November 2023 PERSEPSI KELUARGA DALAM PENGELOLAAN SAMPAH PESISIR DI DESA BAKALA KECAMATAN BUNGKU SELATAN KABUPATEN MOROWALI FAMILY PERCEPTIONS IN COASTAL WASTE MANAGEMENT IN BAKALA VILLAGE. SOUTH BUNGKU DISTRICT. MOROWALI REGENCY Siti Aisa Lamane Universitas Muhammdiyah Palopo. Kota Palopo. Kode Pos 91922. Indonesia E-mail sitiaisa@umpalopo. Diterima: 4Ae11-2023 Direvisi akhir: 22-11- 2023 Disetujui terbit: 28-11-2023 ABSTRACT Bakala Village is one of eight Coastal Villages that cannot be separated from the waste problem. Limited amount of land available for waste management, the absence of officials handling waste management, limited access to sea transportation, the culture of throwing waste on the beach also exists in the community, the absence of a waste management agency responsible for the waste management, the absence of fees for the management of waste released by the community, both during the process of transportation, collection, and disposal of waste, and the community cannot yet be involved on its initiative, there are still indications and need advice. It cannot be denied that household participation in waste management has a significant impact on the success or failure of waste management. This study analyzes householdsAo perceptions of coastal waste management in Bakala Village. The study was conducted in July 2023 using a survey research method with a quantitative analysis approach. The sample size was 68 household heads. Descriptive and inferential statistical data analysis using Partial Least Square (PLS). The study results show that parental locus of control, distribution of parental roles, and attitude towards waste management together influence the perception of the household head in managing coastal waste in Bakala Village. Keywords: coastal waste, family and perception ABSTRAK Desa Bakala merupakan salah-satu dari delapan Desa Pesisir yang tidak terlepas dari permasalahan sampah. Keterbatasan lahan yang ada dalam pengelolaan sampah, tidak adanya petugas dalam menangani pengelolaan sampah, keterbatasan akses pengangkutan laut, budaya membuang sampah ke pantai juga terjadi di lingkungan masyarakat, belum adanya badan pengelola sampah yang bertanggung jawab terhadap pengolahan sampah, belum adanya biaya yang terdapat dalam pengelolaan sampah yang dikeluarkan masyarakat baik dalam proses pengangkutan, pengumpulan, dan pembuangan sampah serta masyarakat belum dapat dilibatkan secara inisiatif sendiri, masih diperlukan arahan dan himbauan. Peran serta keluarga dalam pengelolaan sampah tidak dapat dipungkiri memiliki pengaruh yang signifikan terhadap berhasil atau gagalnya suatu pengelolaan sampah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsi keluarga dalam pengelolaan sampah pesisir di Desa Bakala Kecamatan Bungku Selatan Kabupaten Morowali. Penelitian dilakukan pada bulan Juli 2023 menggunakan metode penelitian survei dengan pendekatan analisis kuantitatif, jumlah sampel 68 Kepala Keluarga. Analisis data statistik deskriptif dan inferensial menggunakan Partial Least Square (PLS) dengan aplikasi SmartPLS3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa locus of control orang tua, pembagian peran orang tua dan sikap terhadap pengelolaan sampah secara bersama-sama mempengaruhi persepsi kepala keluarga dalam pengelolaan sampah pesisir di Desa Bakala Kecamatan Bungku Selatan. Kata kunci: keluarga, persepsi dan sampah pesisir Available online at https://jurnal. polbangtan-bogor. id/index. php/jpp ISSN 1907-5839 E-ISSN 2599-0403 Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 18 No. 2, 30 November 2023 PENDAHULUAN Masyarakat yang mendiami sebuah wilayah pesisir selalu rentan dengan permasalahan pemanfaatan ruang dan sumberdaya wilayah pesisir tersebut. Sering kali masyarakat pesisir menjadikan laut tempat pembuangan sampah baik itu sampah rumah tangga berupa bungkusan plastik maupun sampah dari hasil kegiatan mencari nafkah nelayan berupa buangan limbah mesin kapal (Patuwo et al. , 2. Permasalahan pengelolaan sampah di lingkungan pesisir merupakan hal klasik yang belum selesai hingga saat ini. Padahal, permasalahan ini jika belum mampu diselesaikan, dalam jangka panjang akan berdampak pada penurunan produktivitas ikan dan selanjutnya akan berdampak terhadap perekonomian dan kesehatan sehingga menjadi hal penting jika dalam pengelolaan sampah pesisir dibutuhkan konsep pengelolaan yang berkelanjutan bukan hanya membutuhkan pasrtisipasi pemerintah, namun dengan pelibatan masyarakat sekitar sebagai penyumbang sampah pesisir (Sahil et al. , 2. Permasalahan sampah pesisir tidak hanya terjadi di Indonesia. Hasil penelitian (Lebreton et al. , 2. di beberapa negara termaksuk negara Aisa, menemukan bahwa sebesar 80% sampah laut dihasilkan dari sampah daratan yang terbawah oleh aliran Sungai. Hasil dari sampah wisatawan dan sampah dari saluran air rumah tangga yang menguap karena banjir. Hanya ada 20% yang berasal dari limbah perikanan. Tiga (NPAP, mengumumkan hasil penelitiannya bahwa sekitar 61% sampah tidak terkumpul yang diperkirakan 70% sampah masuk ke laut. Jauh sebelum penelitian ini. Indonesia dinobatkan menjadi negara nomor dua penghasil sampah laut terbanyak (Jambeck et al. , 2. Hal ini didukung oleh hasil penelitian (Masdar et al. , 2. , bahwa pengelolaan sampah rumah tangga sangat buruk terutama di wilayah pesisir. Kondisi geografis di pulau yang dibatasi dengan laut, menjadi menampung dan membuang sampah masyarakat (Kuswardinah, 2. Selain itu, pengetahuan, penalaran, kesadaran dan perilaku masyarakat diduga kuat sebagai penyebabnya (Brotosusilo et al. , 2. Rumah tangga merupakan salah satu penghasil limbah sampah yang besar (KLHK, 2. Pada sebuah keluarga ada peran orang tua yang sangat penting dalam mengelola sampah rumah tangga. Orang tua merupakan teladan penting dalam mengarahkan pembelajaran anak menuju perilaku pro lingkungan (Grynhyj & Thygersen, 2. Penelitian (Jia & Yu, 2. , menemukan bahwa peran anggota keluarga dalam pengelolaan sampah rumah tangga sangat penting, karena berkontribusi secara rutin menghasilkan sampah. Oleh sebab itu, perlu diketahui peran dari anggota keluarga yaitu Bapak. Ibu dan Anak-anak dalam pengelolaan limbah sampah di rumah Lingkungan keluarga memberikan peran yang kuat dari Sementara itu, (Fachry & Alpiani, pengelolaan sampah pada Masyarakat Pesisir di Pulau Kapoposang dengan mengoptimalkan peran rumah tangga sebagai sumber bahan baku sampah, kelompok pemuda sebagai pengelola yang akan menghasilkan produk, lembaga PKK dan pemerintah desa berperan dalam Selain menambahkan bahwa perlunya terciptanya relasi gender dalam pengelolaan sampah dan sampah rumah tangga di pulau yang akan berdampak lebih besar dalam mengantisipasi permasalahan sampah. Sebelumnya, sampah menjadi salah satu masalah yang menimpa kota-kota besar karena padatnya penduduk dan sempitnya lahan untuk mengolah sampah serta terbatasnya teknologi pengurai sampah non organik. Namun saat ini, masyarakat perkotaan sudah banyak yang sadar lingkungan dan mengelola sampah Available online at https://jurnal. polbangtan-bogor. id/index. php/jpp ISSN 1907-5839 E-ISSN 2599-0403 Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 18 No. 2, 30 November 2023 rumah tangganya sendiri atau menerapkan penggunaan sampah plastik. Masalah sampah pada masyarakat marjinal yang jauh dari jangkauan kota yang justru belum menemukan cara yang tepat dan diterima oleh masyarakat yang kemudian anggota masyarakat mau berpartisipasi dalam pengelolaan sampah tersebut. Penelitian (Akmaruzzaman et al. , 2. , menemukan bahwa partisipasi sangat terkait dengan persepsi masyarakat terhadap kegiatan Persepsi penginderaan dan penafsiran rangsangan diinformasikan sehingga seseorang dapat diterima sesuai dengan keadaan dirinya dan lingkungan ia berada sehingga ia dapat menentukan tindakannya (Suranto, 2. Seperti pada masyarakat Desa Bakala. Kecamatan Bungku Selatan. Kabupaten Morowali, sebagai sebuah kawasan pesisir, juga tidak terlepas dari permasalahan Hadirnya berbagai makanan yang menggunakan plastik keterbatasan lahan untuk pengelolaan sampah, tidak adanya petugas dalam menangani pengelolaan sampah, kebiasaan membuang sampah ke pantai karena dianggap akan dibawa arus, belum ada inisiatif pemungutan biaya untuk pengelolaan sampah yang dikeluarkan masyarakat untuk proses pengangkutan, pengumpulan, dan pembuangan sampah serta masyarakat belum punya inisiatif sendiri untuk mengelola sampah di tingkat Sampah masih dinilai sebagai sesuatu yang sudah tidak bermanfaat yang harus dibuang, kotor, berbau sehingga sampah dihindari, tanpa peduli bagaimana Sampah ini memberikan memberikan pengaruh bagi pertumbuhan organisme di perairan dan juga bagi manusia sebagai pengguna sumberdaya pesisir. Pemanfaatan sumberdaya pantai oleh memperhatikan prinsip-prinsip ekologis yang ekosistem pantai. Jika dilihat lebih jauh, ketidakpedulian terhadap permasalahan pengelolaan sampah berakibat terjadinya degradasi kualitas lingkungan yang tidak memberikan kenyamanan untuk hidup, sehingga menurunkan kualitas kesehatan Masalah melimpahnya sampah di pesisir diduga merupakan akibat dari persepsi negative masyarakat terutama keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat yang kemudian melahirkan ketidakpedulian dan partisipasi rendah. Komponen persepsi individu yang berhubungan dengan pengelolaan sampah yang diduga berkaitan dengan kondisi volume sampah adalah locus of control, pembagian peran orang tua dan sikap terhadap kondisi pengelolaan sampah pesisir, sehingga tujuan penelitian ini adalah menganalisis persepsi keluarga dalam pengelolaan sampah pesisir di Desa Bakala Kecamatan Bungku Selatan. Kabupaten Morowali. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode Lokasi penelitian berada di Desa Bakala Pulau Paku. Kecamatan Bungku Selatan. Kabupaten Morowali. Pemilihan lokasi didasarkan pada: . memiliki jumlah peduduk yang besar, dan . menurut survei awal memiliki volume sampah yang besar di sekitar pantai. Pengambilan data primer menggunakan kuesioner selama 3 pekan di bulan Juli 2023. Tabulasi, pengolahan dan analisis data dilakukan selama 1 pekan di bulan yang sama. Populasi penelitian adalah keseluruhan kepala keluarga. Teknik pengambilan sampel sesuai pendapat (Sekaran, 2. yaitu purposive sampling dengan ketentuan bersedia diwawancarai dan posisi rumah di sepanjang bibir Pantai. Resnponden berjumlah 68 kepala keluarga. Metode ini digunakan untuk melihat berapa besar pengaruh antar variabel yang . ndependent variabl. yang terdiri dari Available online at https://jurnal. polbangtan-bogor. id/index. php/jpp ISSN 1907-5839 E-ISSN 2599-0403 Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 18 No. 2, 30 November 2023 karakteristik responden, locus of control, pembagian peran orang tua, dan sikap terhadap pengelolaan sampah dan variabel terikat . ependent variabl. yaitu persepsi keluarga terhadap kondisi pengelolaan sampah pesisir (Gani & Nugroho, 2. Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah aplikasi SmartPLS 3. Dalam perkembangannya, variabel karakteristik responden tidak dimasukkan dalam uji SEM karena indikatornya tidak memenuhi syarat minimal dalam analisis SEM menggunkan aplikasi SmartPLS 3. HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Lokasi Penelitian Desa Bakala adalah salah satu desa yang berada di sebuah pulau yang bernama Pulau Paku ini merupakan salah satu gugus pulau berpenghuni diantara 24 pulau lainnya dengan luas wilayah 99,20 km2 yang berada di Kecamatan Bungku Selatan. Kabupaten Morowali. Provinsi Sulawesi. Desa Bakala berada pada ketinggian tanah dari permukaan laut mencapai 2 m, dengan batas-batas wilayah adalah, di sebelah utara berbatasan dengan Laut Banda, sebelah barat berbatasan dengan Laut Gustobelo, sebelah timur berbatasan dengan Desa Paku dan sebelah selatan berbatasan dengan Desa Buajangka. Berikut tumpukan sampah yang dominan plastik dan limbah rumah tangga yang ada di pemukiman Desa Bakala pada Gambar 1. Gambar 1 Kondisi sampah pesisir di sekitar pemukiman Available online at https://jurnal. polbangtan-bogor. id/index. php/jpp ISSN 1907-5839 E-ISSN 2599-0403 Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 18 No. 2, 30 November 2023 Gambar Kondisi pemukiman yang padat dengan tumpukkan sampah ada dimana-mana. Sampah yang tidak dikelola dan dibuang sembarangan di lingkungan tentu akan menyebabkan pencemaran yang terganggunya Kesehatan Masyarakat dan rusaknya ekositem Pantai. Sehingga kualitas pesisir turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan pesisir tidak dapat berfungsi sesuai dengan (Peraturan Presiden Republik Indonesia NOMOR 83 TAHUN 2018, 2. Laporan (TKN PSL, 2. menemukan bahwa Tahun 2022 ditemukan ada banyak sampah laut di beberapa statsiun penelitian di bandingkan dengan Tahun-Tahun sebelumnya yakni 2018-2021 selama masa pemantauan komposisi sampah laut. Padahal presiden telah mengeluarkan perpres untuk penanganan sampah hingga tahun 2025 dengn tingkat Sangat program pemerintah tersebut belum diaplikasikan di kawasan yang sudah sangat tinggi tingkat kerusakan sampahnya. Oleh karena itu, perlu dilakukan kerjasama dari permasalahan sampah pesisir ini. Sistem pengelolaan sampah baik dari sumber hingga pembuangan atau pengolahan akhir sama sekali belum tersedia di Desa Bakala Pada penelitian ini, yang mejadi objek penelitian adalah kepala rumah tangga yang letak rumahnya berada di sepanjang bibir Pantai. Seyogyanya setiap penelitian menjadikan karakteristik individu sebagai salah satu faktor yang penting untuk dijadikan variabel dalam penelitian karena diduga persepsi manusia itu digerakkan oleh faktor dari dalam diri individu. Namun pada penenlitian ini, karakteristik responden didrop dari model karena tidak valid setelah Faktor internal seperti umur, pendidikan, jenis kelamin dan besar keluarga hanya dideskripsikan. Sebaran responden berdasarkan usia disajikan pada Gambar 2. Umur 40-50 Umur 51-60 Umur 61-70 Gambar 2 Sebaran responden berdasarkan Usia Gambar 2 menunjukkan bahwa mayoritas responden berusia 51-60 Tahun dengan persentasi sebesar 63,2%. Sisanya usia 40-60 Tahun dan usia 61-70 Tahun sebesar 37,8%. Data ini menunjukkan bahwa usia para kepala rumah tangga yang memiliki hunian di sepanjang bibir pantai sudah mendekati usia yang cenderung tidak produktif lagi. Sementara itu untuk sebaran responden berdasarkan jenis kelamin terdapat pada Gambar 3, terlihat bahwa responden penelitian ini didominasi oleh laki . %) sedangkan perempuan hanya 16%. Responden perempuan semua berstatus janda yang ditinggal mati oleh suami, sedangkan responden laki-laki semuanya masih berstus suami. Available online at https://jurnal. polbangtan-bogor. id/index. php/jpp ISSN 1907-5839 E-ISSN 2599-0403 Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 18 No. 2, 30 November 2023 Sebaran Jenis Kelamin Responden Laki-Laki Perempuan Gambar 3 Sebaran jenis kelamin responden Ditinjau dari segi pendidikan pada Gambar 4, responden dominan memiliki jumlah tahun pendidikan enam tahun sebesar 44% responden, sedangkan 38% responden memiliki jumlah tahun pendidikan 9 tahun, 25% responden memiliki jumlah tahun pendidikan 12 tahun, 4,4% responden memiliki jumlah tahun pendidikan 16 tahun dan 1,6% orang dengan rentang tahun pendidikan 18 tahun. Pasca Sarjanah Sarjana SMA SMP Gambar 4 Sebaran responden berdasarkan tingkat pendidikan Salah satu metode yang bisa digunakan untuk memperkiraan jumlah volume sampah yang dihasilkan setiap rumah tangga dapat diprediksi dari besar kecilnya sebuah Seperti yang dilakukan oleh (Aswadi & Hendra, 2. memprediksi jumlah timbunan sampah tahun 2011- 2020 di Kota Palu dipengaruhi oleh banyaknya jumlah anggota keluarga. Data penelitian responden memiliki jumlah anggota keluarga 5-8 orang, sementara 23% memiliki anggota keluarga sebanyak 1- 4 orang dan 2% memiliki anggota kleuarga sebanyak 9-12 orang. Besar Keluarga Responden 1-4 Orang 5-8 Orang 9-12 Orang Gambar 5 Sebaran responden berdasarkan besar Keluarga Available online at https://jurnal. polbangtan-bogor. id/index. php/jpp ISSN 1907-5839 E-ISSN 2599-0403 Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 18 No. 2, 30 November 2023 Locus of Control of Parents Locus of control atau letak kendali merupakan salah satu aspek yang penting dalam karakteristik kepribadian manusia. mempengaruhi individu dalam mengamati dan berinteraksi dengan lingkungannya. Locus of control dapat bersifat internal maupun Locus of control berdasar pada apa yang diamati dan hal ini telah dimiliki selama masa anak-anak dan cenderung berubah kearah eksternal daripada internal selama masa remaja dan dewasa (Sumijah, 2. Pada penelitian ini, objek penelitian adalah orang dewasa, sehingga locus of control bersifat eksternal dengan ciri khas tidak bertanggungjawab atas tindakan yang Hal ini karena merasa bahwa itu dipengaruhi oleh banyak faktor lain selain dari tindakannya sendiri. Lebih lanjut, (Sumijah, 2. memaparkan bahwa pemahaman locus of control orang ekstrenal dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti kondisi fisik yang mulai menurun, kondisi ekonomi, perubahan status menjadi orang tua, perubahan nilai yang dianut dan perubahan pola kehidupan. Sedangkan pemahaman locus of control internal mengarah pada keyakinan bahwa ada konsekuensi hasil atas perbuatan dirinya sendiri. Tabel 1 Sebaran responden berdasarkan indikator locus of control Locus of Control of Parents Kategori Jumlah . Keyakinan atas kemampuan diri Kemampuan Berinisiatif Rendah Sedang Tinggi Rendah Sedang Tinggi Tabel 1 menunjukkan bahwa 2 indikator yang valid dari hasil uji yakni keyakinan atas kemmapuan diri dan kemampuan berinisiatif dalam kategori sedang cenderung tinggi. Artinya responden memiliki locus of control yang baik, meskipun pemahaman eksternal atau internal. Kedua indikator yang digunakan adalah indikator umum dari locus of control manusia. Pembagian Peran Orang Tua Sementara pembagian peran orang tua pada Tabel 2. Persentase (%) menunjukkan responden penelitian ini mayoritas . %) cukup mendiskusikan konsep pengasuhan pada anak yang berkaitan dengan peran individu terhadap Selain itu, kedua orang tua memiliki pengakuan bahwa bersama pasangan ikut terlibat dalam penanaman nilai positif mengenai lingkungan . %) sisanya sebanyak . %) tidak terlibat kedua bela pihak karena . %) diantaranya adalah orang tua tunggal. Sementara itu, indikator saling mendukung antar pasangan dalam kategori cukup . %) sedangkan sisanya . %) tidak saling mendukung karena pasangan hidup sudah meninggal. Tabel 2 Sebaran responden berdasarkan indikator pembagian peran orang tua Pembagian Peran Orang Tua Kategori Jumlah . Persentase (%) Mendiskusikan Konsep Pengasuhan Keterlibatan Suami/Istri Dalam Penanaman Nilai Positif Saling Mendukung Antar Pasangan Rendah Sedang Tinggi Rendah Sedang Tinggi Rendah Sedang Tinggi Available online at https://jurnal. polbangtan-bogor. id/index. php/jpp ISSN 1907-5839 E-ISSN 2599-0403 Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 18 No. 2, 30 November 2023 Pada masyarakat Desa Bakala yang masih menganut budaya pembagian tugas orang tua hanya sebatas Ibu yang bertugas mengasuh dan merawat anak dan tugas domestik lainnya sedangkan Ayah mencari nafkah. Seperti hasil penelitian (Putri & Lestari, 2. , tugas pengasuhan anak dianggap sebagai tugas Ibu, bukan tugas Aapak. Padahal jika Ayah terlibat akan banyak menghasilkan perilaku Menurut (Lamb, 2. , bahwa keterlibatan Ayah secara umum dalam 3 komponen yaitu . paternal engagement: pengasuhan yang melibatkan interaksi langsung antara ayah dan misalnya bermain bersama, mengajari sesuatu, atau aktivitas santai lainnya. aksesibiltas atau ketersediaan berinteraksi dengan anak yang lebih bersifat temporal dan . tanggung jawab dan peran dalam hal menyusun rencana pengasuhan bagi anak. Ayah juga akan lebih disegani anak karena memiliki sisi maskulinitas. Pendapat tersebut digunakan dalam penelitian ini untuk mengukur pembagian peran orang tua terhadap pengasuhan anak yang dikaitkan dengan mengajari anak untuk mencinta lingkungan sehingga diduga jika Ayah bisa mengajari anak dalam ikut mengelolah sampah minimal tidak membuang sampah Karakter yang akan dipelajari anak adalah apa yang dilihatnya dari perilaku orang Karakter terbentuk dalam waktu yang relatif lama. Peran suami dan istri sebagai partner dalam pengasuhan anak, memang seharusnya memiliki peranan yang sejalan dan saling melengkapi. Sikap Terhadap Pengelolaan Sampah Variabel laten eksogen ketiga dalam penelitian ini adalah sikap terhadap pengelolaan sampah dengan dua indikator valid yaitu kesediaan mengikuti pelatihan pengelolaan sampah oleh penyuluh pertanian dan pandangan mengenai siapa yang akan bertanggung Hasil penelitian menunjukkan pada Tabel 3, bahwa mayoritas responden cukup . %) mau ikut serta dalam pelatihan pengelolaan sampah jika hal tersebut difasilitasi oleh penyuluh pertanian yang bertugas di Desa. Mayoritas responden menganggap bahwa tanggung jawab pengelolaan sampah bukan hanya ditujukan pada tiap individu . %) serta harus ada keterlibatan pemerintah dalam memfasilitasi dan memberikan aturan yang jelas agar masyarakat terlibat dan merasa bertanggung jawab. Tabel 3 sebaran responden berdasarkan variabel sikap terhadap pengelolaan sampah Sikap Terhadap Pengelolaan Sampah Kesediaan mengikuti pelatihan pengelolaan sampah oleh penyuluh Pandangan Mengenai Tanggung Jawab Pengelolaan Sampah Persepsi Masyarakat terhadap Kondisi Pengelolaan Sampah Pesisir Persepsi responden pada pengelolaan sampah pesisir adalah rangkaian proses kognisi atau pengenalan dan afeksi atau aktifitas evaluasi emosional . masyarakat terhadap kondisi pengelolaan sampah dari berbagai sumber informasi lalu Kategori Rendah Sedang Tinggi Rendah Sedang Tinggi Jumlah . Persentase (%) Persepsi masyarakat diukur dengan indikator yang valid yaitu kesediaan ikut berpartisipasi dalam pengadaan bank sampah dan kesediaan melaksanakan kegiatan Tri Dharma Perguruan tinggi yakni pengabdian pada Masyarakat. Hasil penelitian menjukkan Available online at https://jurnal. polbangtan-bogor. id/index. php/jpp ISSN 1907-5839 E-ISSN 2599-0403 Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 18 No. 2, 30 November 2023 bahwa responden cukup bersedia untuk berpartisipasi pada program pengadaan bank sampah . %) dan sisanya Hal yang hampir cukup jauh melaksanakan pengabdian pada masyarakat yang berkaitan dengan pengelolaan sampah, sebesar . ,6%) responden cukup bersedia dan sisanya . ,4%) tidak bersedia dengan alasan lokasi cukup jauh dengan keberadaan kampus. Sehingga mereka pesimis jika akademisi dan mahasiswa bersedia datang ke lokasi yang cukup terpencil dengan segala keterbatasan Tabel 4 Sebaran responden berdasarkan persepsi masyarakat terhadap kondisi pengelolaan Persepsi Masyarakat terhadap Kondisi Pengelolaan sampah Pesisir Kesediaan ikut berpartisipasi dalam pengadaan bank sampah Kesediaan menerima Perguruan Tinggi melakukan PkM Faktor-faktor Mempengaruhi Persepsi Masyarakat Terhadap Pengelolaan Sampah Pesisir Persepsi antara individu umumnya akan berbeda, sekalipun stimulusnya sama. Faktor pengalaman yang tidak sama, kemampuan berpikir yang berbeda dan kerangka acuan tidak sama. Melalui persepsi tersebut individu dapat menyadari, mengerti tentang keadaan dirinya karena persepsi merupakan aktivitas yang integrateed, maka seluruh perasaan, pengalaman, kemampuan berpikir, kerangka acuan dan aspek-aspek lain yang ada dalam diri individu akan ikut Kategori Rendah Sedang Tinggi Rendah Sedang Tinggi Jumlah . Persentase (%) berperan juga. Pemangku kepentingan yang berkewajiban memfasilitasi pengelolaan sampah dalam hal ini pemerintah setempat dan stakeholder terkait harus mengetahui bagaiman persespi masyarakat mengenai pengelolaan sampah agar nantinya bisa kebutuhan dan kepentingan masyarakat. Persepsi masyarakat akan memberikan gambaran dan pengukuran yang bermanfaat untuk pememrintah dan stakeholder terkait dalam melakukan evaluasi terhadap kualitas program terhadap berbagai kebutuhan dan kepentingan masyarakat. Tabel 5 Pengaruh antar Variabel Penelitian Pengaruh antar variable Locus of control orang tua y Persepsi terhadap pengelolaan sampah pesisir Pembagian Peran Orang tua y Persepsi terhadap pengelolaan sampah pesisir Sikap terhadap Pengelolaan sampah y Persepsi terhadap pengelolaan sampah pesisir Diketahui dari hasil keseluruhan indikator locus of control masuk dalam kategori tidak signifikan, pembagian peran orang tua dan sikap terhadap pengelolaan sampah masuk dalam kategori signifikan di Desa Bakala Kecamatan Bungku Selatan Kabupaten Morowali. Untuk lebih jelasnya sebesar 1,670 > Nilai T tabel 1,66. Artinya dapat Ket. Tidak 1,000 1,66 1,670 1,66 Signifikan 2,020 1,66 Signifikan diperoleh nilai T hitung: 1,00 < t tabel 1,66. Artinya variabel Locus of Control tidak berpengaruh positif dan siginifikan terhadap persepsi masyarakat dalam pengeloaan sampah pesisir. Berbeda dengan variabel pembagian peran orang tua dalam keluarga, hasil analisis statistik diperoleh nilai T hitung variabel pembagian peran orang tua yang Available online at https://jurnal. polbangtan-bogor. id/index. php/jpp ISSN 1907-5839 E-ISSN 2599-0403 Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 18 No. 2, 30 November 2023 dilihat pada Tabel 5. Hasil analisis T statatistik variabel Locus of Control dimana berpengaruh positif dan signifikan terhadap persepsi masyarakat dalam pengeloaan sampah pesisir. Hal yang sama juga terjadi pada variabel sikap terhadap pengelolaan sampah, hasil analisis statistik diperoleh nilai T hitung sebesar 2,020 > Nilai T tabel 1,66. Artinya variabel sikap terhadap pengelolaan sampah berpengaruh positif dan signifikan terhadap persepsi masyarakat dalam pengelolaan sampah pesisir. Hasil evaluasi model struktural menunjukkan bahwa persepsi masyarakat terhadap pengelolaan sampah pesisir di Desa Bakala Kecamatan yang direfleksikan oleh kesediaan ikut berpartisipasi dalam pengadaan bank sampah dan kesediaan menerima perguruan tinggi melakukan PkM, secara bersamasama dipengaruhi sebesar 29,3% oleh locus of control, pembagian peran orang tua dan sikap orang tua terhadap pengelolaan sampah pesisir. Sisanya 71,7% dipengaruhi oleh variabel diluar variabel uji seperti disajikan pada Gambar 6. Gamabr 6 Model pengukuran faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi Hasil analisis Partial Least Square (PLS) melalui iterasi algoritma menghasilkan faktor-faktor berpengaruh positif dan siginifikan dari persepsi masayarakat mengenai pengelolaan sampah pesisir menunjukkan bahwa setiap kenaikan indikator keterlibatan suami/istri nilai-nilai mendiskusikan konsep pengasuhan anak yang ramah lingkungan dan pasangan suami istri terkondisikan selalu saling mendukung maka kesediaan masyarakat untuk ikut dalam pengadaan bank sampah dan menerima Perguruan memfasilitasi pengelolaan sampah pesisir juga akan ikut meningkat. Begitupula setiap kenaikan indikator kesediaan mengikuti tanggung jawab pengelolaan sampah yang positif, maka kesediaan masyarakat untuk ikut dalam pengadaan bank sampah dan menerima Perguruan tinggi untuk membantu memfasilitasi pengelolaan sampah pesisir juga akan ikut meningkat pula. Sedangkan variabel locus of control yang direfleksikan oleh keyakinan atas kemampuan diri dan kemampuan berinisiatif memiliki pengaruh yang positif namun tidak signifikan. Variabel ini masih membutuhkan penelitian lebih jauh dengan memasukkan indikator yang akan lebih valid dalam mengukur variabel uji. Available online at https://jurnal. polbangtan-bogor. id/index. php/jpp ISSN 1907-5839 E-ISSN 2599-0403 Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 18 No. 2, 30 November 2023 SIMPULAN Sesuai pembahasan yang sudah dijelaskan, dapat diambil kesimpulan dari penelitian ini bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi masyarakat dalam pengelolaan sampah pesisir adalah . locus of control orang tua meskipun pengaruhnya tidak sginifikan, . pembagian peran orang tua, dan . orang tua terhadap pengelolaan sampah UCAPAN TERIMA KASIH