Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan https://jurnal. stikes-aisyiyah-palembang. id/index. php/Kep/article/view/126 Vol. No. Juni 2025. Hal. e-ISSN 2622-6200 | p-ISSN 2087-8362 PENERAPAN TERAPI SENAM KAKI PADA PASIEN LANSIA YANG MENGALAMI DIABETES MELITUS DENGAN MASALAH KEPERAWATAN HIPERGLIKEMI Ria Wulandari1. Fitri Afdhal2,Yazika Rimbawati3. Putri Picaso Azury Sheva4 Program Studi D3 Keperawatan. Universitas Kader Bangsa Palembang1,2,3,4 e-mail korepondensi: seiya. wulandari@gmail. e-mail author: putripicasso2003@gmail. ABSTRAK Latar Belakang : Diabetes merupakan penyakit yang tidak menular, namun merupakan penyakit kronis dilihat dari gejala disebabkan oleh penurunan sekresi pada insulin, kerja pada insulin, serta bahkan kedua-duanya . Senam kaki bermanfaat untuk mengurangi stress, menurunkan tekanan darah, menurunkan gula darah dan mencegah cedera pada kaki, membantu memperlancar peredaran darah pada kaki. Tujuan: untuk melakukan asuhan keperawatan pasien lansia yang mengalami Diabetes Melitus dengan masalah keperawatan hiperglikemi dengan penerapan senam kaki di RSUD Siti Fatimah Az-Zahra Provinsi Sumatra Selatan tahun 2024. Metode: yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan studi kasus, dan intervensi terapi senam kaki,subyek pada studi kasus terdapat 2 Teknik pengumpulan data meliputi wawancara, observasi, pemeriksan fisik dan dokumentasi. Hasil: pada pengkajian dilakukan ke pasien 1 dan 2 dengan keluhan pasien mengatakan kram pada kedua kakinya, badan terasa lemas dan lesu, sering kencing pada malam hari dan merasahan haus yang Diagnosa Keperawatan utama ketidakstabilan kadar glukosa darah. Setelah tiga hari dilakukan intervensi terapi senam kaki dan implementasi SLKI dan SIKI hasilnya semakin membaik masalah Terapi senam kaki dapat menurunkan kadar glukosa dalam darah serta mengurangi rasa kesemutan dan baal pada ekstermitas bawah pasien yang mengidap diabetes melitus. Saran : senam kaki diharapkan dapat digunakan sebagai referensi dalam pendidikan keperawatan. Kata Kunci: Senam Kaki. Lansia. Diabetes Melitus ABSTRACT Background: Diabetes is a non-communicable disease, but it is a chronic disease seen from the symptoms caused by decreased insulin secretion, insulin action, and even both . , foot exercises are useful for reducing stress, lowering blood pressure, lowering blood sugar and preventing foot injuries, helping to improve blood circulation in the legs. Objective: to provide nursing care for elderly patients with Diabetes Mellitus with hyperglycemia nursing problems by implementing foot exercises at Siti Fatimah Az-Zahra Hospital. South Sumatra Province in 2024. Method: the method used is a descriptive method with a case study approach, and foot exercise therapy intervention, the subjects in the case study were 2 patients. Data collection techniques include interviews, observations, physical examinations and documentation. Results: the assessment was carried out on patients 1 and 2 with complaints that the patient said cramps in both legs, the body felt weak and lethargic, frequent urination at night and felt excessive thirst. The main Nursing Diagnosis is Instability of Blood Glucose Levels. After three days of intervention of foot exercise therapy and implementation of SLKI and SIKI, the results were getting better and the problem was resolved. Conclusion: foot exercise therapy can reduce blood glucose levels and reduce tingling and numbness in the lower extremities of patients with diabetes mellitus. Suggestion: foot exercise is expected to be used as a reference in nursing education. Keywords: Foot Exercise. Elderly. Diabetes Melitus | 281 Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan https://jurnal. stikes-aisyiyah-palembang. id/index. php/Kep/article/view/126 Vol. No. Juni 2025. Hal. e-ISSN 2622-6200 | p-ISSN 2087-8362 PENDAHULUAN Diabetes malam hari, peningkatan asupan makanan, (DM) namun juga penurunan berat badan yang penyakit yang di akibatkan oleh adanya signifikan dan kelelahan (Syakuwamena et gangguan pada produksi insulin yang akan menyebabkan terganggunya metabolisme Berdasarkan data World Health yang dikenal gula tinggi. Terdapat jenis Organization diabet, namun jenis yang dikenal ialah tipe melitus pada tahun 2021 berjumlah 537 jt I dan tipe II. Diabetes tipe I ditandai dengan berbeda dengan tahun 2022, berjumlah 422 juta penduduk, sedangkan di tahun 2023, memproduksi insulin. Disaat bersamaan, 200 juta orang penderita diabetes di dunia, diabetes tipe II terlihat dengan adanya jumlah ini akan terus meningkat menjadi produksi pada insuli (Setianto, et all 2. (WHO) (WHO,2. Diabetes merupakan penyakit yang Berdasarkan data Dinas Kesehatan tidak menular, namun merupakan penyakit Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2020, kronis dilihat dari gejala disebabkan oleh angka kejadian diabetes melitus pada orang penurunan sekresi pada insulin, kerja pada dewasa sebanyak 172. 044 jiwa. Pada tahun kedua-duanya 2019 jumlahnya sebanyak 117. 733 orang. Penyakit diabetes sering Kabupaten dengan jumlah kasus diabetes melitus tertinggi adalah Kabupaten Musi (Lansi. , diakibatkan tidak memperhatikan life style Banyuasin serta kebiasaan makan yang tidak teratur pada lansia, yang disebut dengan penyakit sebanyak 754 kasus (Dinkes Provinsi Sum- kencing manis. Diabetes ialah penyakit Sel, 2. Menurut data Rekam Medis manusia dilihatnya dengan tinggi gula Rumah Sakit Siti Fatimah Az-Zahra, di darah akibat kekurangan insulin (Prakoso dapatkan pada tahun 2021 terdapat 53 dkk,2. Pada tahun 2022 terdapat 231 Penyebab Kota Prabumulih Pada tahun 2023 sebanyak 119 dewasa antara lain faktor genetik, usia. Sedangkan pada tahun 2024 obesitas, dan kurang olahraga. Sedangkan gejala diabetes berat ditandai dengan rasa Januari- Maret haus . , lapar . , sering Terapi farmakologi antara lain buang air kecil . , terutama pada Sulfoniturea dan Glinid (Glibenclami. , | 282 Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan https://jurnal. stikes-aisyiyah-palembang. id/index. php/Kep/article/view/126 Vol. No. Juni 2025. Hal. e-ISSN 2622-6200 | p-ISSN 2087-8362 Metformin. Tiazolidindon, dan insulin. Secara Penelitian Muhamad Saifudin tentang latihan jasmani yang baik untuk . , perbedaan kondisi sebelum dan diterapkan pada pasien lansia adalah latihan sesudah pelaksanaan. Informasi pasien jasmani atau olahraga terartur seperti senam kaki diabetes melitus. Penderita diabetes mengatakan kedua kaki selalu nyaman, melitus dianjurkan untuk melakukan senam pasien mengatakan kedua kaki kadang mati, sehingga dapat disimpulkan ada pengaruh Senam mengurangi stress, menurunkan tekanan menurunkan gejala neuropati diabetik. pasien dengan diabetes melitus. mencegah cedera pada kaki, membantu Penelitian Tuti Elyta . Senam memperlancar peredaran darah pada kaki, kaki penderita diabetik akan membantu melancarkan sirkulasi dalam darah serta memperkuat otot-otot ekstermitas bawah meningkatkan kesehatan sehingga mudah serta mencegah kelainan bentuk pada menggerakkan persendian ekstermitas. bagian kaki. Selain itu dapat meningkatkan otot-otot Menurut penelitian Yani Nurhayani kekuatan otot betis, otot paha, dan . , menunjukkan bahwa senam kaki mengatasi keterbatasan gerak sendi. Hasil diabetik dapat menurunkan kadar gula darah pada penderita diabetes secara sebelum melakukan senam kaki pada pasien signifikan, dan senam kaki diabetik juga melakukan senam diabetes kadar gula penderita kadar gula sebelum melakukan senam kaki tinggi dan setelah melakukan Penelitian yang dilakukan Tanti senam kaki, kadar gula pada pasien diabetes Rahmawati. Penelitian yang dilakukan oleh gerakan untuk melatih otot-otot kecil kaki Dimas Prayoga . , dimana hasilnya dilakukan dalam berbagai posisi seperti keluhan kesemutan sudah jarang terjadi, hal duduk, berdiri atau berbaring. Gerakan senam kaki ini dapat meningkatkan aliran berpengaruh pada aliran darah perifer dan darah pada kaki, memperlancar aliran mengurangi rasa kebas pada ekstremitas darah, menguatkan otot-otot kaki dan Senam | 283 Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan https://jurnal. stikes-aisyiyah-palembang. id/index. php/Kep/article/view/126 Vol. No. Juni 2025. Hal. e-ISSN 2622-6200 | p-ISSN 2087-8362 memudahkan dalam menggerakan sendi- keperawatan. Pemberian terapi senam kaki sendi kaki. Selama 20 sampai 30 menit. Data disajikan dengan tabel, bagan, gambar maupun teks METODE PENELITIAN naratif dan diakhiri interpretasi data, yaitu Desain studi kasus yang digunakan membandingkan hasil yang didapatkan adalah deskriptif dengan pemaparan studi dengan penelitian terdahulu dan secara kasus melalui pendekatan Latihan senam HASIL PENELITIAN masalah ketidakstabilan kadar glukosa Asuhan keperawatan pada pasien 1 darah di RSUD Siti Fatimah Az-Zahra (Ny. S), dan pasien 2 (Ny. M) dengan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2024. diagnosis diabetes melitus Pendekatan yang digunakan adalah perencanaan keperawatan, pelaksanaan. Pengkajian Keperawatan Kasus 1 Subjek keperawatan, intervensi, implementasi dan meliputi pengkajian, diagnosis keperawatan, penelitian adalah pasien yang menderita Pasien pertama Ny. S dilakukan diabetes melitus dirawat di Ruang Rawat pengkajian pada tanggal 06 Juni 2024 di Inap RSUD Siti Fatimah Az- Zahra Provinsi Sumatera Selatan sebanyak 2 orang. mengeluhkan badan lelah, kaki terasa kram Adapun kriteria inklusi pasien dengan usia bila duduk terlalu lama dan mati rasa, 40-60 tahun dan pasien yang kooperatif, pasien mengatakan sering buang air kecil yang diteliti secara rinci dan mendalam lebih dari 12x sehari. Data Objektif: GDS: melalui metode wawancara dan observasi. 256mg/dL. RR: 20x/m. TD: 130/70 mmHg. Proses penelitian ini dilakukan selama Suhu: 36,5oC. Nadi: 100x/m. Klien tampak 3 hari yaitu dari tanggal 7-9 Juni 2024 di Pasien RSUD Siti Fatimah Az-Zahra Provinsi menjawab pertanyaan dari perawat dengan Sumatera Selatan. Alat atau instrument pengumpulan data menggunakan format Pasien kedua Ny. M dilakukan pengkajian keperawatan medikal bedah. pengkajian pada tanggal 06 Juni 2024 di Pemberian terapi senam kaki sebanyak 3x dapatkan data subjektif: mengeluhkan sehari dalam 3 hari pemberian asuhan badan Lelah, kedua kaki terasa kram dan | 284 Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan https://jurnal. stikes-aisyiyah-palembang. id/index. php/Kep/article/view/126 Vol. No. Juni 2025. Hal. e-ISSN 2622-6200 | p-ISSN 2087-8362 baal, pasien mengatakan merasa haus dan untuk mengatasi masalah hiperglikemi Pasien mengatakan sering merasa mengantuk, pasien mengatakan sudah menyebabkan kebutuhan insulin meningkat menderita diabetes melitus 8 tahun yang Monitor kadar glukosa darah, 3. Monitor Data Objektif: GDS: 250mg/dL. RR: intake dan output cairan, 4. Berikan asupan 20x/m. TD: 120/80 mmHg. Suhu: 36,5oC, cairan oral, 5. Anjurkan kepatuhan diet dan Nadi: 100x/m. Klien tampak lemas, pasien olahraga, 6. Kolaborasi pemberian insulin, menjawab pertanyaan dari perawat dengan Berikan pendidikan kesehatan terkait dengan non farmakologi . erapi senam kaki Berdasarkan pengkajian di atas Identifikasi selama 3 hari selama 20-30 menit ) untuk dilakukan secara mandiri. mengatakan kedua kakinya sering terasa Berdasarkan diagnose yang diambil kram dan baal, kedua pasien mengeluhkan . yang diambil peneliti untuk mengantuk dan mudah lapar serta haus. diberikan yaitu manajemen hiperglikemia Diagnosa Keperawatan dengan memberikan tindakan observasi. Diagnosa terapeutik, edukasi, kolaborasi. suatu penilaian klinis mengenai respon Implementasi Keperawatan klien terhadap masalah kesehatan atau Implementasi keperawatan yang proses kehidupan yang dialaminya baik dilakukan peneliti pada kedua pasien adalah berlangsung aktual maupun potensial (Tim mengidentifikasi kemungkinan penyebab Pokja SDKI DPP PPNI, 2. Berdasarkan hiperglikemi, memonitor kadar glukosa dari pengkajian yang dilakukan pada kedua darah, memonitor inntake dan output pasien didapatkan gejala dan tanda mayor cairan, memberikan asupan cairan oral, yang menunjukkan bahwa diagnosa kedua menganjurkan kepatuhan diet dan olahraga, pasien yaitu ketidakstabilan kadar glukosa memberikan pendidikan kesehatan terkait Intervensi Keperawatan farmakologi . erapi senam kaki selama 3 kedua pasien Perencanaan keperawatan peneliti memfokuskan kepada intervensi Intervensi yang digunakan untuk hari selama 20-30 meni. untuk dilakukan secara mandiri. Berdasarkan . yang direncanakan pada | 285 Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan https://jurnal. stikes-aisyiyah-palembang. id/index. php/Kep/article/view/126 Vol. No. Juni 2025. Hal. e-ISSN 2622-6200 | p-ISSN 2087-8362 sudah tidak lelah dan badan terasa segar, . yang diambil peneliti untuk pasein mengatakan sudah mengerti cara diberikan yaitu manajemen hiperglikemi dengan memberikan tindakan observasi, makanan rendah gula dan rajin berolahraga, terapeutik, edukasi, kolaborasi. pasien mengatakan sudah tidak terlalu Evaluasi Keperawatan sering mengantuk, pasien mengatakan Evaluasi sudah tidak terlalu sering merasakan lapar tanggal 09 juni 2024 pukul 09. 00 wib,pada dan haus, pasien mengatakan rasa haus pasien 1 Ny. S Setelah dilakukan tindakan cukup menurun, pasienn mengatakan rasa keperawatan. Subjektif: pasien mengatakan lelah cukup menurun, pasien mengatakan Objektif. pasien terlihat sudah mengerti cara mengontrol diabetes lebih segar dan lesu menurun. GDS 182 melitus dengan makanan rendah gula dan mg/dL. RR: 20x/m. TD: 130 mmhg. Suhu: rajin berolahraga, pasien mengatakan buang 36,5oC. Nadi: 90x/m. KU: Composmetis, air kecil dari pagi hingga siang frekuensi 2x, pasien mampu mengenali tanda dan gejala hiperglikemia, pasien dapat memonitor kadar glukosa darah secara mandiri,warna kesemutan dan baal pada kakinya sudah urine: kurning jernih, bau: khas amoniak, cukup menurun. Objektif: pasien terlihat intake: 610, output: 690 Analisa: masalah teratasi. Planning: intervensi dihentikan. GDS190mg/dL,RR: 20x/m. TD: 130/80 mmhg. Suhu: 36,5oC. Nadi: 90x/m. KU: PEMBAHASAN Composmetis, pasien mampu mengenali Berdasarkan pengkajian yang terjadi tanda dan gejala hiperglikemia, pasien pada pasien 1 Ny. S dan pasien 2 Ny. dapat memonitor kadar glukosa darah merupakan gejala umum pada seseorang secara mandiri, warna urine: kurning jernih, bau: khas amoniak, intake: 610, output: Sedangkan ketidakstabilan kadar glukosa Analisa: masalah teratasi. Planning: darah pada Pasien 1 Ny. S dan pasien 2 Ny. intervensi dihentikan. M terjadi akibat adanya resistensi insulin Evaluasi yang mendahului terjadinya penurunan tanggal 09 juni 2024 pukul 09. 00 wib,pada produksi insulin. Faktor pemicu resistensi pasien 2 Ny. M setelah dilakukan tindakan insulin adalah kegemukan, kurang aktivitas keperawatan. Subjektif: pasien mengatakan fisik, dan terlalu banyak makan dengan gizi | 286 Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan https://jurnal. stikes-aisyiyah-palembang. id/index. php/Kep/article/view/126 Vol. No. Juni 2025. Hal. e-ISSN 2622-6200 | p-ISSN 2087-8362 yang tidak seimbang. dilakukan dalam berbagai posisi seperti Menurut peneliti pola makan tidak duduk, berdiri atau berbaring. Gerakan senam kaki ini dapat meningkatkan aliran antara karbohidrat dan kandungan lain yang darah pada kaki, memperlancar aliran darah, menguatkan otot-otot kaki dan kandungan gula di dalam tubuh menjadi memudahkan dalam menggerakan sendi- tinggi melebihi kapasitas kerja pankreas sendi kaki. Akibat dan berakibat terjadinya diabetes melitus. Intervensi pada kedua pasien di hari ke 2 dan hari mengatasi masalah ketidakstabilan kadar ketiga kedua kaki pasien sudah tidak terlalui glukosa darah pada pasien 1 Ny. S dan sering merasa kesemutan dan baal dengan pasien 2 Ny. M yaitu : identifikasi terapi senam kaki. Pasien 1: ketidakstabilan kadar glukosa darah, saat evaluasi hari kadar glukosa darah, monitor ketiga pasien mengatakan lelah cukup Setelah diajarkan terapi senam kaki intake dan output cairan, memberikan mengerti cara mengontrol diabetes melitus kepatuhan diet dan olahraga, kolaborasi dengan makanan rendah gula dan rajin pemberian insulin, memberikan pendidikan berolahraga, pasien mengatakan buang air kesehatan terkait dengan tindakan pereda kecil dari pagi hingga siang frekuensi 2x, nyeri non farmakologi . erapi senam kak. untuk dilakukan secara mandiri. Implementasi keperawatan terapi kesemutan dan baal pada kakinya sudah senam kaki pada kedua pasien yang dirawat cukup mnurun. Pasien terlihat lebih segar, di Ruang Akasia Rumah Sakit Umum lesu menurun. GDS 190 mg/dL. RR: 20x/m. Daerah Siti Fatimah Az- Zahra Sumatera TD: 130/80 mmhg. Suhu: 36,5oC. Nadi: Selatan. Peneliti mengatur posisi pada 90x/m. KU: Composmetis, pasien mampu kedua pasien setelah itu mengajarkan mengenali tanda dan gejala hiperglikemia, senam kaki dan melakukan sesuai standar pasien dapat memonitor kadar glukosa operasional prosedur. darah secara mandiri, warna urine: kurning Penelitian yang dilakukan Tanti Rahmawati. Senam gerakan untuk melatih otot-otot kecil kaki untuk meningkatkan aliran darah dan jernih, bau: khas amoniak, intake: 610, output: 690, masalah teratasi, intervensi Pasien 2: ketidakstabilan kadar glukosa | 287 Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan https://jurnal. stikes-aisyiyah-palembang. id/index. php/Kep/article/view/126 Vol. No. Juni 2025. Hal. e-ISSN 2622-6200 | p-ISSN 2087-8362 darah saat evaluasi hari ketiga pasien mudah untuk dilakukan secara mandiri mengatakan sudah tidak lelah dan badan terasa segar, pasein mengatakan sudah KESIMPULAN mengerti cara mengontrol diabetes melitus Menurut peneliti tindakan yang dengan makanan rendah gula dann rajin dilakukan pada kedua pasien sudah sesuai berolahraga, pasien mengatakan sudah dengan apa yang dikeluhkan pasien dan tidak terlalu sering mengantuk, pasien hasil penelitian. Evaluasi pada pasien 1Ny. mengatakan sudah tidak terlalu sering S dan pasien 2 Ny. M di hari pertama dan hari kedua belum teratasi dan hanya teratasi mengatakan rasa haus cukup menurun, sebagian dikarenakan keadaan pasien masih pasienn mengatakan rasa kesemutan dan dalam keadaan lemah dan lesu, kaki masih baal pada kakinya sudah menurun. Pasien terasa kebas dan kesemutan, gula darah terlihatlebihsegardanlesumenurun,GDS 182 mg/dL. RR: 20x/m. TD: 130 mmhg. Suhu: 36,5oC. Nadi: 90x/m. Keadaan KU: pasienmengatakan kakinya sudah tidak Composmetis, pasien mampu mengenali kesemutan lagi, tidak merasa lemas dan lesu tanda dan gejala hiperglikemia, pasien tidak terasa lagi dan kadar gglukosa dapat memonitor kadar glukosa darah darahnya menurun serta keadaan pasien secara mandiri, warna urine: kurning jernih, yang dalam keadaan cukup membaik. bau: khas amoniak, intake: 610, output: 690, masalah teratasi, intervensi dihentikan. Menurut peneliti terapi senam kaki sangat efektif untuk dilakukan pada pasien diabetes melitus karena dapat mengurangi rasa kesemutan dan baal pada kedua kaki pasien dan dapat menurunkan gula darah pada pasien diabetes melitus. Selain dapat memperkuat otot terapi senam kaki juga SARAN Diharapkan Rumah Sakit kualitas pelayanan dalam pemberian asuhan keperawatan yang berfokus pada pasien dengan meningkatkan dan mendukung komplementer khususnya senam kaki. DAFTAR PUSTAKA