Jurnal Green Swarnadwipa ISSN : 2715-2685 (Online) ISSN : 2252-861x (Print) Vol. 10 No. 4 Oktober 2021 TINGKAT PENGETAHUAN PETERNAK TERHADAP REPRODUKSI SAPI KUANTAN DI KECAMATAN BENAI 1 Riski Ilahi1, Pajri Anwar2 dan Jiyanto2 Mahasiswa Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian UNIKS 2 Dosen Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian UNIKS ABSTRACT Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui tingkat pengetahuan peternak terhadap reproduksi Sapi Kuantan di Kecamatan Benai Kabupaten Kuantan Singingi. Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Benai pada bulan Juli sampai bulan Agustus 2020. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei, pemilihan lokasi serta teknik pengambilan sampel secara purposive sampling dan data yang digunakan data primer dan sekunder. Variabel penelitian yang di amati adalah tingkat pengetahuan peternak terhadap pengamatan birahi, waktu panjang birahi, sistem perkawinan, tanda-tanda kebuntingan, persiapan kelahiran, calving interval, manajeman pemeliharaan, masalah kesuburan reproduksi, dan kesehatan pasca melahirkan. Hasil penelitian menunjukan bahwa nilai – rata pengamatan birahi 1,83 (sedikit memahami), waktu panjang birahi 1,8 (sedikit memahami), sistem perkawinan 2,33 (sedikit memahami), tanda-tanda kebuntingan 1,33 (tidak memahami), persiapan kelahiran 1 (tidak memahami), calving interval 2,9 (memahami), manajemen pemeliharaan 2,13 (sedikit memahami), masalah kesuburan reproduksi 1,06 (tidak memahami), kesehatan pasca melahirkan 1 dengan (tidak memahami). Hasil penelitian disimpulkan bahwa nilai rat – rata tingkat pengetahuan peternakan di Kecamatan Benai adalah 1,77 dengan kategori sedikit memahami. Kata Kunci : Benai, Reproduksi, Sapi Kuantan,Tingkat Pengetahuan LEVEL OF FARMERS' KNOWLEDGE ON KUANTAN CATTLE REPRODUCTION IN BENAI DISTRICT ABSTRACT The purpose of the study was to determine the level of knowledge of farmers on the reproduction of Kuantan cattle in Benai District, Kuantan Singingi Regency. This research was conducted in Benai District from July to August 2020. The research method used was a survey method, site selection and sampling technique using purposive sampling and the data used were primary and secondary data. The research variables that were observed were the level of knowledge of the breeder on the observation of lust, the length of lust, the mating system, signs of pregnancy, preparation for birth, calving interval, maintenance management, reproductive fertility problems, and postnatal health. The results showed that the average value of lust observation was 1.83 (a little understanding), the length of lust was 1.8 (a little understanding), the marriage system was 2.33 (a little understood), the signs of pregnancy were 1.33 (didn't understand), birth preparation 1 (do not understand), calving interval 2,9 (understand), maintenance management 2,13 (little understanding), reproductive fertility problems 1.06 (do not understand), postnatal health 1 with (do not understand). The results of the study concluded that the average value of livestock knowledge level in Benai District was 1.77 with the category of little understanding. Keywords : Benai, Reproduction, Kuantan Cattle, Knowledge Level PENDAHULUAN Daging sapi merupakan produk hewani yang keberadaannya selalu dibutuhkan oleh manusia. Permintaan daging sapi diperkirakan akan terus mengalami peningkatan, sehingga 668 Jurnal Green Swarnadwipa ISSN : 2715-2685 (Online) ISSN : 2252-861x (Print) Vol. 10 No. 4 Oktober 2021 jumlah populasi sapi diharapkan terus meningkat. Pemerintah selalu berupayah meningkatkan populasi sapi potong diantaranya dengan cara meningkatkan efesiensi reproduksi dan mengatasi kasus gangguan reproduksi. Sapi lokal merupakan sapi hasil persilangan beberapa jenis sapi atau perkembangan dari beberapa jenis ternak sapi potong yang pernah di impor Indonesia pada masa lalu dan dikembangkan secara terbatas oleh peternak sehingga berkembang menjadi peternakan rakyat, salah satunya sapi Kuantan ( Kementan, 2014). Dalam upaya pengembangan usaha peternakan sapi bakalan, masalahan utama yang dihadap adalah rendahnya peningkatan populasi. Masalah berikutnya adalah rendahnya produktivitas ternak sapi. Secara umum penyebabnya adalah Sumber Daya Manusia tentang breeding beternak, rendahnya penguasaan teknoogi dalam bidang peternakan dan kurangnya modal dalam pengembengan peternakan. Hal ini di tandai dari hasil pengamatan langsung di lapangan. Peternak sapi di kecamatan Benai dilakukan beternak sebagai usaha sampingan, dan tidak terpokus untuk melakukan breeding dengan baik, ini ditandai dengan banyaknya sapi kuantan di sepanjang aliran sungai batang kuantan. Peternakan ini dikategorikan di kecamatan benai sistem pemeliharaannya bersifat ektensif dan semi ekstensif. Sistem pemeliharaan ekstensif bersifat beternak secara dilepas pada siang hari dan di kandangkan pada malam hari, tradisi ini sudah dilakukan sejak turun temurun ini dapat dibuktikan dari hasil pengamatan dilapangan. penggolongan tradisi bertani di kuantan singgingi digolongkan menjadi dua musim yaitu musim bertanam dan musim di lepas. Pada saat musim dilepas ternak yang ada di Kabupaten Kuantan Singingi dilepaskan selama 24 jam. Untuk memecahkan permasalahan peternak sapi kuantan di Kuantan Singingi dan tetap terjaga populasi sehingga tidak terjadinya kepunahan atau hilang plasma nutfah Kuantan Singingi maka perlu antispasi dalam pengembangan breeding, salah satunya penerapan bioteknologi reproduksi, manajemen produksi pakan dan manajemen pemeliharaan. Menjaga populasi sapi Kuantan merupakan tugas semua masyarakat kabupaten Kuantan Singingi sehingga sapi Kuantan tidak punah. Salah satu penerapan teknologi manajemen reproduksi adalah penyediaan sapi pejantan sapi kuantan dengan melakukan pelarangan pemotongan, membreeding sapi kuantan jantan, dan identifikasi sapi jantan unggul (Jiyanto dan Anwar, 2019). Namun seringnya pemotongan sapi pejantan pada hari raya haji sehingga menyebabkan berkurangnya sapi jantan yang di jadikan sebagai pejantan untuk di kawinkan. Hal ini terjadi dikarenakan peternak menjadikan sapi pejantan sebagai tabungan untuk memenuhi kebutuhan di masa yang akan mendatang. Kemudian faktor lain yang bisa menyebabkan rendahnya produktifitas sapi Kuantan yang disebabkan oleh minimnya bahkan boleh dikatakan tidak adanya semen beku sapi kuantan yang digunakan untuk perkawinan inseminasi buatan. Dengan hal demikian maka perlu dilakukan evaluasi pengetahuan peternak dalam upaya meningkatkan reproduksi sapi kuantan di Kecamatan Benai. Rendahnya pengetahuan peternak tentang ilmu peternakan, khususnya bidang reprodukksi merupakan salah-satu faktor yang membuat usaha peternakan rakyat tidak berkembang. Tidak adanya pengetahuan tentang ilmu reproduksi sehingga mempengaruhi perkembangan produksi sapi, seperti pengetahuan ternak dikawinkan, tanda tanda estrus dan kapan peternak melaporkan ke petgas IB untuk perkawinaan. Pengaturan populasi tergantung pada tingkat efesiensi reproduksi. Apabila efesiensi reproduksi tinggi akan mempengaruhi dalam perkembang biakan populasi ternak sapi, apabila tingkat efesiensi rendah , maka perkembang biakan sapi juga akan lambat (Rahman, 2015). Berdasarkan hal tersebut, maka dilakukan penelitian analisis tingkat pengetahuan peternak terhadap reproduksi sapi Kuantan di Kecamatan Benai. METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Juli sampai bulan agustus 2020 di Kecamatan Benai Kabupaten Kuantan Singingi. Metode penelitian yang digunakan adalah metode purfosive sampling (secara sengaja). Untuk menentukan lokasi penelitian dilihat dari kategori data statistik terbanyak populasi sapi di Kecamatan Benai. Sedangkan responden dalam penelitian ini di pilih berdasarkan kriteria yaitu, peternak yang memelihara sapi Kuantan dengan pengalaman Metode Penelitian 669 Jurnal Green Swarnadwipa ISSN : 2715-2685 (Online) ISSN : 2252-861x (Print) Vol. 10 No. 4 Oktober 2021 lama beternak minimal 3 tahun, dengan jumlah kepemilikan minimal 2 ekor, dan memiliki kandang. Tabel 1. Jumlah Sapi Kuantan pada lima desa di kecamatan Benai No 1 Desa/Kelurahan Populasi Sapi Kuantan (ekor) Tanjung Simandolak 45 2 Tebing Tinggi 90 3 Pulau Lancang 34 4 Koto Simandolak 70 5 Pulau Ingu 105 344 Jumlah Sumber: Data primer yang telah diolah,2020 Metode Pengumpulan Data Data yang diambil terdiri dari data sekunder dan data primer. 1. Data Primer Data primer yaitu data yang dikumpulkan dari wawancara dengan peternak (responden) melalui: a. Kuesioner Yaitu teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengajukan beberapa pertanyaan dengan poin-poin pertanyaan yang telah disusun oleh penulis kepada peternak/masyarakat (Lampiran 1) b. Wawancara Merupakan teknik pengambilan data dimana penulis langsung berdialog dengan responden atau peternak untuk menggali informasi yang dibutuhkan dan tentunya sesuai dengan kuesioner yang telah disusun sebelumnya. 2. Data Sekunder Data sekunder adalah data pendukung yang didapatkan dari bahan-bahan dan literature-literature dan intansi terkait seperti Unit Pelaksanaan Teknis Daerah (UPTD) pertanian dan Peternakan. Tiap pertanyaan dari indicator yang ,menggambarkan masing-masing variabel diberi nilai skor yang berkisar 1 sampai dengan 3, langkah-langkah sebagai berikut : 1. Menghitung skor responden yang memberikan respon untuk setiap skor (1-3) 2. Menghitung skor kumulatif yaitu dengan cara membagi skor kumulatif dengan total skor responden. Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau sekelompok tentang fenomena social, untuk setiap item pernyataan diberi skor satu sampai dengan tiga dari hasil yang terendah sampai yang tertinggi. Dengan rumus jumlah skor responden : Memahami, Sedikit memahami, dan Tidak memahami. Tingkatan untuk variabel kategori pengetahuan peternak dapat di hitung menggunakan rumus (Sugiyono, 2001: 73-74), yaitu: 1. Kategori variable = Analisis Data Data skor dari setiap pertanyaan responden yang diperoleh kemudian dianalisa secara deskriftif dengan menghitung rata-rata dan persentase. penetapan kategori penilaian menggunakan skala likerts terhadap variabel. Besar interval = − 0,01 = 0,66 3 Berdasarkan skor yang diperoleh, maka tingkat persepsi masyarakat terhadap pemeliharaan ternak sapi Kuantan dapat diklasifikasikan sebagai berikut : 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑝𝑒𝑟𝑡𝑎𝑛𝑦𝑎𝑎𝑛 ×𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑡𝑒𝑟𝑡𝑖𝑛𝑔𝑔𝑖 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑝𝑒𝑟𝑡𝑎𝑛𝑦𝑎𝑎𝑛 Kategori variabel = Besar 9x3 9 = 27 9 =3 interval − 0,01 = 𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑡𝑒𝑟𝑡𝑖𝑛𝑔𝑔𝑖×𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑡𝑒𝑟𝑒𝑛𝑑𝑎ℎ 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑘𝑜𝑟 3−1 670 Jurnal Green Swarnadwipa ISSN : 2715-2685 (Online) ISSN : 2252-861x (Print) Vol. 10 No. 4 Oktober 2021    Koto Simandolak, Tebing Tinggi, Pulau Ingu, dan Pulau Lancang. Disisi lain strategi pengembangan sapi potong harus mendasarkan kepada sumber pakan dan lokasi usaha. Untuk itu dibutuhkan identifikasi dan strategi pengembangan kawasan peternakan agar kawasan peternakan yang telah berkembang di daerah dapat dioptimalkan pemanfaatannya, sehingga mampu menumbuhkan investasi baru untuk budidaya sapi potong (Sodiq, 2011). Potensi ditinjau dari daya dukung lahan pertanian dan produksi limbah pertanian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kecamatan Benai memiliki luas lahan berpotensi untuk Hijauan Makanan Ternak (HMT) seluas 6.269,29 Ha dengan nilai ST 23.509,83. Sedangkan daya dukung hasil limbah produksi pertanian sebesar 667,511 ton/tahun dengan nilai ST sebesar 290,22. Berdasarkan sumber daya alam Kecamatan Benai berpotensi menampung ternak ruminansia sebanyak 23.800,05 ST ( Yendraliza et al, 2018) Memahami, bila skor perolehan mencap-3ai 2,36 - 3 Sedikit Memahami, bila skor perolehan mencapai 1,68 – 2,35 Tidak Memahami, bila skor perolehan mencapai 1 – 1,67 Mean (rata – rata) Nilai rata – rata di hitung dari data kuantitatif yang terdapat dalam sebuah sampel yang di hitung dengan jalan membagi jumlah nilai data dengan banyak data dengan rumus : 𝛴𝜒ⁱ X̄= n Dimana : X̄ = rata – rata sampel 𝛴𝜒ⁱ = Jumlah nilai X ke-i sampai ke-n n = Jumlah responden yang akan dirata-rata 3. Presentase (%) 2. 𝜒ⁱ Presentase= Σⁱx 100% dimana : % = persentase 𝜒ⁱ = nilai x yang ada dalam kumpulan Σⁱ = jumlah data dalam sampel Profil Responden Responden dalam penelitian ini adalah peternak sapi Kuantan yang ada di Kecamatan Benai. Jumlah responden dalam penelitian ini sebanyak 30 orang peternak sapi Kuantan, yang terdiri dari lima Desa yang ada di Kecamatan benai yaitu, Desa Koto Simandolak, Desa Tebing Tinggi, Desa Pulau Ingu, Desa Pulau Lancang, dan Desa Tanjung Simandolak. HASIL DAN PEMBAHASAN Kecamatan benai merupakan salah satu kecamatan yang berada di kabupaten Kuantan Singingi yang terdiri dari 18 desa, yaitu Benai Kecil, Kelurahan Benai, Koto benai, Talontam Benai, Banjar Benai, Siberakun, Pulau Tongah, Ujung Tanjung, Gunung Kesiangnan, Banjar Lopak, Pulau Kalimanting, Tanjung Simandolak, Tabel 2 Responden Berdasarkan Umur No Umur (Tahun) 1 20 – 40 2 41 – 60 3 >60 Jumlah Sumber : data sekunder yang telah diolah,2020 Responden berdasarkan umur Umur responden dalam penelitian ini cukup bervariasi yaitu berkisar 20 tahun sampai 60 tahun di atas. Jumlah responden berdasarkan umur dapat di lihat pada tabel 3. Jumlah Responden (Orang) 8 13 9 30 Hasil penelitian menunjukan bahwa umur responden 20 – 40 tahun sebanyak 26,66%, 41- 60 tahun 43,33% dan > 60 tahun 30.00%. Dari penjelasan di atas dapat di ketahui bahwa responden di Kecamatan Benai peternak sapi Kuantan dominan berada di kisaran usia 41 tahun – 60 tahun. Mini mnya minat kaula Persentase 26,66 43,33 30 100 pemuda di sektor peternakan membuat peternakan rakyat di daerah kecamatan Benai lambat untuk berkembang. Menurut Dila et al (2017) Peternak yang tergolong umur produktif hanya 19% berusia 20-40 tahun, sedangkan yang berumur 41- 60 tahun sebanyak 66% dan 15% sisanya berusia lebih dari 60 tahun. 671 Jurnal Green Swarnadwipa ISSN : 2715-2685 (Online) ISSN : 2252-861x (Print) Vol. 10 No. 4 Oktober 2021 Ditambahkan Delfina (2001), usia 20-40 tahun merupakan usia yang paling produktif sebab fisik maupun mental masih cukup kuat, yang sangat berpengaruh terhadap produktivitas dalam pengelolaan ternaknya. terhadap sistem pemeliharaan ternak, Peternak merupakan sumber daya utama yang berpengaruh terhadap produktivitas ternak yang dipelihara. Hal ini sangat erat kaitannya dengan pendidikan dan pengetahuan para peternak. Pengalaman yang lama akan semakin baik bila ditunjang dengan pendidikan yang cukup (Delfina, 2001). Responden berdasarkan pendidikan Tinggi rendahnya tingkat pendidikan merupakan salah satu aspek yang berpengaruh Tabel 3. Responden Berdasarkan Pendidikan No Pendidikan Jumlah Responden (Orang) Persentase 1 Tidak Sekolah 0 0,00 2 SD 8 26,66 3 SMP 6 20,00 4 SMA 12 40,00 5 S1 4 13,33 Jumlah Sumber : data sekunder yang telah diolah,2020 30 100 Berdasarkan data kuesioner tidak ada peternak yang tidak pernah mendapatkan pendidikan formal, tingkat pendidikan peternak di Kecamatan benai paling dominan pendidikan respondennya ialah SLTA berjumlah 12 orang dengan persentase 40%. Sedangkan peternak dengan pendidikan SD berjumlah 8 orang dengan prsentase 26,66%.kemudian peternak dengan pendidikan SMP berjumlah 6 orang dengan persentase 20%, sedangkan untuk pendidikan S1/diplomat berjumlah 4 orang dengan persentase 13,33% (Tabel 3). Menurut Hasan et al, (2018) kontribusi yang baik tingkat pendidikan peternak terhadap kemampuan efisiensi reproduksi sapi perah cukup beralasan mengingat mereka yang berpendidikan lebih tinggi adalah relatif lebih cepat paham melaksanakan adopsi inovasi, begitu pula sebaliknya mereka yang berpendidikan rendah sulit untuk melaksanakan adopsi inovasi dengan cepat, hal tersebut juga terbukti tingkatan level pendidikan menunjukkan perbedaan yang mencolok, seperti pada level SMP yang mampu mencapai tingkat efisiensi tinggi hanya 66,7%, pada level SMA yang mampu mencapai tingkat efisiensi tinggi hanya 42,9% begitu juga pada level SD sebesar 42,9%. Tingkat pendidikan peternak akan memengaruhi pola berpikir, kemampuan belajar dan taraf intelektual. Pendidikan formal maupun informal yang didapatkan peternak akan memiliki pengetahuan dan wawasan yang luas sehingga lebih mudah merespon suatu inovasi yang menguntungkan bagi usahanya (Alim dan Nurlina, 2007). Peternak yang berpendidikan rendah biasanya lebih sulit menerima inovasi teknologi baru yang berkaitan dengan usaha ternak dan cenderung menekuni apa yang biasa dilakukan oleh nenek moyang secara turunmenurun (Wirdahayati, 2010). Responden berdasarkan pekerjaan utama Tabel 4. Responden Berdasarkan Pekerjaan Utama No Pekerjaan Utama Jumlah Responden (Orang) Persentase 1 Petani 22 73,00 2 Wiraswasta 5 16,66 3 Honorer 1 3,33 672 Jurnal Green Swarnadwipa ISSN : 2715-2685 (Online) ISSN : 2252-861x (Print) Vol. 10 No. 4 Oktober 2021 4 PNS 2 6,66 Jumlah Sumber : data sekunder yang telah diolah,2020 30 100 Dari tabel di atas dapat kita lihat dari 30 orang responden diketahui penduduk yang bermata pencaharian pokok sebagai pegawai negeri sipil (PNS) sebanyak 6,66%, sebagai wiraswasta adalah 16,66%, petani 73,00%, dan honorer 3,33 Dari hasil wawancara di lapangan bahwasanya peternak memelihara sapi lebih banyak dengan tujuan sebagai tabungan dan akan digunakan untuk keperluan mendesak. Sebagian besar responden bukan peternak murni, tetapi mempunyai pekerjaan lain, sehingga waktu yang digunakan untuk usaha peternakan tidak optimal dalam pemeliharaan ternak. Fungsi usaha peternakan lebih banyak ditujukan sebagai tabungan dan akan digunakan untuk kebutuhan mendesak dengan jumlah yang lebih besar, sedangkan kebutuhan sehari-hari dipenuhi dengan usaha lain peternakan seperti usaha tani tanaman pangan, warung, nelayan danpegawai negeri (Wirdahayati et al, 2006). Penelitian yang sama oleh Dila et al (2017) dari 100 orang responden penduduk yang bermata pencaharian pokok sebagai pegawai negeri sipil (PNS) sebanyak 5%, sebagai wiraswasta adalah 17%, bertani 62% dan beternak 16%. Responden berdasarkan lama beternak Peternak yang telah berpengalaman dapat memberikan dampak positif pada pengalamannya dalam mengelola usaha ternak sapi tetapi sekaligus juga dapat menghambat adopsi sebuah teknologi baru. Peternak yang mempunyai pengalaman merasa sudah berada pada zona nyaman beternak sehingga sulit menerima pengetahuan baru (Mardikanto, 2009). Tabel 5. Responden Berdasarkan Lama Beternak No Lama Beternak (Tahun) Jumlah Responden (Orang) Persentase 1 3 – 10 19 63,33 2 11 – 20 9 30,00 3 >20 2 6,66 Jumlah Sumber : data sekunder yang telah diolah,2020 30 100 Dilihat dari pengalaman beternak di Kecamatan Benai masih tergolong rendah yaitu 63% responden dengan pengalaman beternak di bawah 10 tahun, sedangkan pengalaman di atas 10 tahun dengan persentase 30%, dan yang terendah adalah peternak dengan pengalaman di atas 20 tahun dengan persentase 6,66%. Penelitian yang serupa oleh Dila et al (2017) dari data kuesioner diketahui peternak yang sudah berpengalaman 1-5 tahun ada 25%, 6-10 tahun 24%, 11-15 tahun ada 11% dan yang lebih dari 15 tahun ada 40%. Justru yang menarik dalam penelitian ini adalah hubungan antara pengalaman lama beternak dan jumlah kepemilikan ternak. Kedua variabel tersebut ternyata menunjukkan korelasi yang tidak sejalan. Hal ini berarti bahwa sistem pemeliharaan ternak sapi yang masih bersifat tradisional ikut berperan dalam pembentukan persepsi para ternak terhadap pemeliharaan ternak sapi. Tingkat Pengetahuan Peternak Terhadap Reproduksi Sapi Kuantan Adapun karakteristik reproduksi sapi Kuantan di Kecamatan Benai yang di amati diantaranya, Tanda-tanda birahi, waktu kawin, Sistem Perkawinan, Tanda-tanda Kebuntingan, Persiapan Kelahiran, Calving Interval, Sistem Pemeliharaan Ternak, Kesuburan ternak terhadap reproduksi, dan Kesehatan reproduksi pasca melahirkan. Berikut merupakan tingkat pengetahuan peternak terhadap reproduksi sapi Kuantan di Kecamatan Benai. 673 Jurnal Green Swarnadwipa ISSN : 2715-2685 (Online) ISSN : 2252-861x (Print) Vol. 10 No. 4 Oktober 2021 Tabel 6. Tingkat Pengetahuan Peternak Terhadap Reproduksi No Aspek yang diteliti Jumlah skor Rata-rata Kategori 1 Pengamatan Birahi 55 1,83 Sedikit Memahami 2 Waktu panjang birahi 54 1,80 Sedikit Memahami 3 Sistem Perkawinan 70 2,33 Sedikit Memahami 4 Tanda - tanda Kebuntingan 37 1,33 Tidak Memahami 5 Persiapan Kelahiran 30 1,00 Tidak Memahami 6 Calving Interval 87 2,90 Memahami 7 Manajemen Pemeliharaan 64 2,13 Sedikit Memahami 8 Masalah Kesuburan Reproduksi 31 1,06 Tidak Memahami 9 Kesehatan Pasca Melahirkan 30 1,00 Tidak Memahami Jumlah Rata – Rata 53,22 1,77 Sedikit Memahami Keterangan : 1 – 1,67 Tidak Memahami, 1,68 – 2,35 Sedikit Memahami, 2,36 – 3 Memahami Tingkat pengetahuan peternak terhadap reproduksi akan mempengaruhi efesiensi reproduksi sapi kuantan, semakin baik tingkat pengetahuan peternak maka efesiensi reproduksi sapi akan meningkat. Dari tabel 7 dapat dilihat tingkat pengetahuan peternak terhadap reproduksi sapi Kuantan berada di kategori sedikit memahami dengan rataan skor 1,77. Dari aspek yang di teliti dapat kita lihat bahwasanya tingkat pengetahuan peternak terhadap sapi Kuantan ini beragam. Dimana usia, pengalaman beternak, dan tingkat pendidikan tidak menjamin tingkat pengetahuan peternak terhadap reproduksi sapi Kuantan , pengetahuan yang terbaik Dari keseluruan aspek yang di teliti yakni pengetahuan terhadap calving interval dengan perolehan skor 87, dengan rataaan skor 2, 90. Tetapi pengetahuan peternak terhadap calving interval ini tiodak sejalan dengan keadaan dilapangn. Sedangkan yang terendah yaitu kesehatan pasca melahirkan dengan skor 30, dengan rataan skor 1,00. Peneletian yang serupa oleh Hasan et al (2018) dimana pengetahuan peternak terhadap efisiensi reproduksi sapi di KUD Suka Mulya Kec.Wates. 83% peternak yang memiliki tingkat pengetahuan tinggi mampu memiliki tingkat efisiensi reproduksi sapi yang tinggi, Tingkat Pengetahuan Peternak Terhadap Pengamatan Birahi Dalam upaya meningkatkan reproduksi sapi, pengetahuan akan pengamatan birahi sangatlah penting, karena awal dari keberhasilan kebuntingan sapi dimulai dari pengamatan birahi, pengamatan birahi yang baik akan meningkatan efesiensi reproduksi sapi itu sendiri. Berdasarkan tabel 8 dapat kita lihat tidak ada satu pun peternak yang memahami tanda – tanda birahi tersebut, sedangkan untuk kategori sedikit memahami terdapat 25 orang peternak dengan jumlah skor 50 dengan persentase 55,55 %, untuk peternak yang tidak memahami terdapat 5 orang peternak dengan skor 5 dengan persentase sebesar 5,55 %. 674 Jurnal Green Swarnadwipa ISSN : 2715-2685 (Online) ISSN : 2252-861x (Print) Vol. 10 No. 4 Oktober 2021 Tabel 7. Tingkat pengetahuan peternak Terhadap Pengamatan Birahi pengetahuan peternak terhadap tanda - tanda birahi Jumlah Skor perentase (%) Memahami Gelisah dan terlihat sangat tidak tenang, Sering melenguhlenguh, Mencoba menaiki sapi lain dan akan tetap diam apabila dinaiki sapi lain, Mangkal ekornya terangkat sedikit dan keluar lendir jernih transparan yang mengalirmelalui vagina dan vulva,Vulva membengkakdan berwarna kemerahmerahan, danSapimenjadi diam dan nafsu makan berkurang 0 0 Sedikit Memahami 50 Perporman Birah : Gelisah, Suka memanjat, Keluar lendir Tidak Memahami rata - rata 55,55 5 5,55 1,83 61,11 Keterangan : skor tertinggi 90 dan skor terendah 1 Dari hasil tersebut bahwasanya pemahaman tentang tanda-tanda berahi di kecamatan Benai berada pada level sedang dengan rata – rata 1,83 dengan tingkat persentase sebesar 61,11 % yang termasuk kedalam kategori sedikit memahami. Pengetahuan peternak terhadap tanda – tanda birahi ini akan berdampak kepada reproduksi suatu ternak, dimana jika seorang peternak tidak memahami birahi pada ternaknya maka hal ini akan mengakibatkan panjangnya calving interval. hal ini senada dengan pernyataan Dilla et al ( 2017) yang menyatakan peternak yang mengetahui tanda-tanda berahi berupa keluar lendir, gelisah, menaiki dan dinaiki sapi lain dan nafsu makan menurun sebanyak 50% sedangkan 4% peternak yang menandai berahi dengan keluar lendir. Peternak tidak mengetahui vulva bengkak, berwarna merah dan hangat bila diraba sebagai tanda berahi. Hal ini berarti peternak tidak memastikan berahi dengan memeriksa alat kelamin luar sapi yang sedang berahi. Peternak menandai sapi yang sedang berahi dari perubahan perilaku sapi 46% yaitu gelisah, bersuara dan nafsu makan menurun. Hasil kuesioner dan wawancara di lapangan dapat disebabkan rendahnya pengetahuan peternak terhadap tanda-tanda birahi karena tidak adanya ilmu teori dan kurangnya penyuluhan peternakan kepada para peternak, sehingga ilmu yang di dapat peternak hanyala ilmu yang ada di lapangan dengan cara melihat kebiasaan sapi atau ilmu temurun dari nenek moyang. Tingkat Pengetahuan Peternak Terhadap Waktu Panjang Birahi Dalam hal pengetahuan peternak tentang waktu kawin yang tepat pada umumnya sudah cukup baik. Begitu mengetahui adanya tanda-tanda berahi pada sapinya,langsung dilaporkan kepada inseminator untuk di IB. Waktuyang tepat untuk inseminasi adalah pada enam jam kedua sejak hewan menunjukkan gejala berahi akan menghasilkan angka konsepsi tertinggi berkisar antara 72% dibandingkan dengan bila dilakukan pada enam jam yang pertama sejak timbulnya gejala berahi (Partodihardjo, 2004). 675 Jurnal Green Swarnadwipa ISSN : 2715-2685 (Online) ISSN : 2252-861x (Print) Vol. 10 No. 4 Oktober 2021 Tabel 8. Tingkat pengetahuan peternak Terhadap Waktu panjang birahi Pengetahuan Peternak Terhadap Waktu panjang birahi Jumlah Skor Persentase (%) Memahami Panjang rataan lama birahi pada sapi dewasa 17,8 jam dengan kisaran 2,5-28 jam, sedangkan bagi sapi dara adalah 15,3 jam Sedikit Memahami Panjang birahi dengan penentu sore dan pagi hri Tidak Memahami Rata – rata Keterangan: Skor tertinggin 90, dan skor terendah 1 Berdasarkan pengamatan yang disajikan pada tabel di atas dilihat bahwa pengetahuan peternak terhadap panjang birahi di kecamatan Benai dengan rataan skor 1,8 yang termasuk dalam kategori sedikit memahami, dimana tidak ada satupun peternak yang memahami terhadap panjang birahi, sedangkan untuk kategori sedikit memahami terdapat 24 peternak dengan skor 48 dengan persentase 53,33 %, dan kategori tidak memahami terdapat 6 peternak dengan skor 6 dan tingkat persentase 6,6%. Penelitian yang sama dilakukan Dila, et al (2017) yang menyatakan dari 100 responden hanya terdapat 17% responden yang mengamati waktu kawin pada sapinya. Kurangnya pemahaman peternak terhadap panjangnya masa birahi akan berdampak buruk terhadap reproduksi. Hal ini tentu sangat merugikan bagi seorang peternak. Perlu adanya upayah dari pihak instansi pemerintah terkait untuk memberikan pemahaman kepada peternak terhadap pemahaman birahi ini, karena tanda-tanda birahi sangatlah penting dalam upaya mengembangkan usaha ternak dan peningkatan reproduksi suatu usaha ternak sapi, karena awal dari keberhasilan kebuntingan dimulai dari pemahaman tanda – tanda birahi dan paham 0 0 48 53,33 6 1,8 6,66 59,99 betul akan panjangnya masa birahi tersebut. Karena jika peternak sudah paham akan birahi ini, tentu saat peternak menelpon inseminator dengam waktu yang tepat. dan conseption rate juga akan meningkat, sehingga peternak mendapatkan keuntungan ekonomis yang baik. Tingkat Pengetahuan Peternak Terhadap Sistem Perkawinan Perkawinan pada ternak sapi dapat dilakukan dengan 2 (dua) cara, yaitu: Kawin Alam (KA) dan Inseminasi Buatan (IB). Kawin alam biasanya menghasilkan keturunan yang kurang baik, sedangkan dengan Inseminasi Buatan lebih menjanjikan menghasilkan keturunan yang baik karena perkawinan dengan IB menggunakan sperma dari sapi pejantan unggul. Supaya terjadi kebuntingan, perkawinan harus dilakukan pada saat sapi betina birahi (minta kawin). Apabila tidak bunting dan tidak ada kelainan, sapi betina akan birahi setiap 1821 hari (satu siklus). Tanda-tanda sapi birahi. Dalam perkawinan sebaiknya dihindari perkawinan keluarga, yaitu perkawinan antara induk dengan pejantan yang masih ada hubungan keturunan yang sama. Perkawinan keluarga dapat menghasilkan keturunan yang kurang baik. 676 Jurnal Green Swarnadwipa ISSN : 2715-2685 (Online) ISSN : 2252-861x (Print) Vol. 10 No. 4 Oktober 2021 Tabel 9. Tingkat pengetahuan peternak Terhadap Sistem Perkawinan Pengetahuan Peternak Terhadap sistem perkawinan Jumlah Skor Persentase (%) Memahami 30 33,33 40 44,44 Tidak Memahami 0 0 Rata – rata Keterangan: Skor tertinggin 90, dan skor terendah 1 2,33 77,77 Inseminasi Buatan Sedikit Memahami Kawin Alam Dari tabel diatas dapat kita lihat pengetahuan peternak terhadap sistem perkawinan sudah cukup baik, ini di tandakan dengan tidak adanya responden yang tidak memahami sistem perkawinan tersebut, sedangkan untuk kategori memahami terdapat 10 responden dengan jumlah skor 30, persentase 33,33%, sedangkan untuk kategori sedikit memahami terdapat 20 orang peternak dengan jumlah skor 40 dengan persentase 44,44 %. Dari hasil tersebut disimpulkankan bahwasanya pemahaman tentang sistem perkawinan di kecamatan Benai dengan rata – rata 2,33 dengan tingkat persentase sebesar 77,77 % yang termasuk kedalam kategori sedikit memahami. Penelitian yang serupa juga dilakukan Ramadhan (2018) di Kecamatan Kuantan Mudik dimana sistem perkawinan mendapatkan skor rataan 1,1 yang tergolong kategori tidak tahu. Dari hasil wawancara di lapangan, sistem perkawinan dari kawin alam beralih ke kawin inseminasi buatan akan meningkat, hal ini dapat dilihat dari sektor populasi sapi pejantan di kecamatan benai yang sudah sulit di temukan, di factor lain UPTD Peternakan yang ada di Kecamatan Benai memiliki inseminatorinseminator yang ahli, sehingga kepercayaan peternak terhadap inseminasi buatan ini sudah mulai meningkat. Namun beberapa kendala bagi peternak yang mengungkapkan bahwasanya untuk pengetahuan birahi sapi Kuantan mereka belum sepenuhnya mengetahui, sehingga Conseption rate nya rendah dan tentu hal ini sangat merugikan bagi peternak karena harus membayar inseminator secara berulang. Dari uraian di atas kita harapkan ada solusi dari pihak dinas terkait untuk membantu para peternak menyelesaikan permasalahan di atas, seperti penyuluhan peternakan mengenai reproduksi sapi yang di sertai dengan praktek langsung ataupun pihak dinas bersedia menyediakan pejantan unggul untuk mengawinkan indukan. Di sisi lain jika pejantan unggul tidak tersedia maka kawin suntik merupakan solusi, namun ada factor – factor yang menjadikan masalah salah satunya jika inseminmasi buatan di terapkan di kecamatan benai terus menerus maka yang akan terjadi adalah akan hilangnya palasma nutfah sapi kuantan, hal ini di sebabkan oleh tidak adanya ketersediaan semen beku sapi kuantan. Perlu solusi dan kajian ulang pihak dinas terkait untuk tetap menjaga plasma nutfah sapi kuantan ini. Tingkat Pengetahuan Peternak Terhadap Tanda-Tanda Kebuntingan 677 Jurnal Green Swarnadwipa ISSN : 2715-2685 (Online) ISSN : 2252-861x (Print) Vol. 10 No. 4 Oktober 2021 Menentukan Kebuntingan dapat diamati 21 hari setelah perkawinan. Kalau tidak ada tanda-tanda birahi, maka kebuntingan telah terjadi, namun apabila tanda-tanda birahi muncul lagi, maka perkawinan perlu diulang. Cara lain yang dapat dilakukan adalah dengan perabaan, yang hanya dapat dilakukan oleh petugas yang terlatih dan berpengalaman. Setelah anak sapi lahir, induk sapi dapat dikawinkan lagi 3 (tiga) bulan setelah melahirkan. Sapi bunting harus dipisahkan dari sapi yang lain. Kondisi ini dilakukan untuk menjaga kebuntingan. Pakan yang diberikan harus dapat memenuhi kebutuhan zat gizi untuk sapi bunting. Tabel 10. Tingkat pengetahuan peternak Terhadap Tanda-tanda Kebuntingan Pengetahuan Peternak Terhadap Tanda Kebuntingan Jumlah Skor Persentase (%) Memahami Berahi berikutnya tidak timbul lagi, Ternak lebih tenang, Tidak suka dekat dengan pejantan, Nafsu makan agak meningkat, tes kebuntingan(palpasi rektal dan tes urin) 0 0 16 17,77 Tidak Memahami 21 23,33 Rata – rata 1,33 44,44 Sedikit Memahami Berahi berikutnya tidak timbul lagi, Tidak suka dengan pejantan, Nafsu makan agak meningkat Keterangan: Skor tertinggin 90, dan skor terendah 1 memahami tanda – tanda kebuntingan tersebut, sedangkan untuk kategori sedikit memahami terdapat 8 orang peternak dengan jumlah skor 16 dengan persentase 17,77 %, untuk peternak yang tidak memahami terdapat 21 orang peternak dengan skor 21 dengan persentase sebesar 23,33%. Dari hasil tersebut bisa kita simpulkankan bahwasanya pemahaman tentang tanda-tanda berahi di kecamatan Benai dengan rata – rata 1,33 dengan tingkat persentase sebesar 44,44 % yang termasuk kedalam kategori tidak memahami. Syaiful (2018) mengemukakan bahwa deteksi kebuntingan dapat dilaksanakan dengan metode punyakoti. Uji kebuntingan dengan metode ini dapat dilaksanakan pada 60 hari setelah ternak di inseminasi dengan akurasi kebuntingan mencapai 80 %. Kendala dari metode ini tidak dapat dilakukan dalam waktu yang singkat. Rendahnya pengetahuan peternak terhadap tanda-tanda kebuntingan di sebabkan peternak tidak begitu memperhatikan sapi yang bunting, biasanya peternak baru mengetahui sapi tersebut bunting di kisaran usia 5 atau 6 bulan kebuntingan, karena dimasa kebuntingan 5 – 6 bulan induk sapi sudah menandakan jelas kebuntingan nya dengan pembesaran fisik pada perutnya. Sebagian kecil peternak yang biasa nya melakuklan kawin suntik peternak hanya memperhatikan sapi mintak kawin lagi atau tidak, jika menunjukan gejala birahi lagi peternak langsung menelpon inseminator. Untuk meningkatkan pengetahuan peternak terhadap tanda – tanda kebuntingan ini perlu upaya dari Dinas terkait untuk membuat sebuah program kerja , seperti program palpasi rektal dan 678 Jurnal Green Swarnadwipa ISSN : 2715-2685 (Online) ISSN : 2252-861x (Print) Vol. 10 No. 4 Oktober 2021 memberikan penyuluhan pendekteksi bunting dengan cara air aki. Dimana cara kerja taruh gelas kaca bening diatas sehelai kertas putih.Tampunglah urine segar saat kencing langsung dalam wadah yang bersih. Merangsang kencing ternak sapi siram punggung ternak dengan air dan tunggu beberapa saat. Ambil 2 cc urine tersebut dan masukkan dalm gelas kaca bening.Tambahkan sebanyak 10 cc air aquadest steril/air mineral, kemudian aduk merata.Tambahkan cairan air aki sebanyak 1 cc. Aduk sampai rata dan kemudian tunggu 5- 10 menit. Tingkat Pengetahuan Persiapan Kelahiran Beberapa hari menjelang melahirkan, induk yang bunting akan menunjukkan tandatanda: Ambing membesar dan kencang, Urat daging di sekitar vulva mengendor dan di kanankiri pangkal ekor kelihatan legok, Beberapa saat menjelang melahirkan, sapi gelisah. Apabila tanda-tanda tersebut muncul, kadang harus dibersihkan dari kotoran dan diberi alas dengan jerami kering. Setelah melahirkan, induk sapi akan membersihkan linder yang menempel pada pedet yang baru dilahirkan dengan lidah. Apabila induk lemah dan tidak mapu, maka kita perlu menolong membersihkan, terutama yang mengganggu lubang pernafasan. Supaya kelahiran berjalan lancar, induk sapi yang akan beranak diberi kesempatan bergerak kira-kira 23 minggu menjelang melahirkan. Peternak Terhadap Tabel 11. Tingkat pengetahuan peternak Terhadap Persiapan Kelahiran Pengetahuan Peternak Terhadap Persiapan Kelahiran Jumlah Skor Persentase (%) Memahami Pembersihan kandang untuk memudahkan pergerakan induk sebelum atau pada saat proses melahirkan, Lantai kandang diberi alas,berupa jerami padi kering sebagai alas agar cairan yang keluar selama proses kelahiran dapat terserap dengan cepat,Sediakan obat-obatan untuk mengantisipasi keadaan yang darurat, Secara umum proses kelahiran akan terjadi maksimal 8 jam 0 0 0 0 Tidak Memahami 30 33,33 Rata – rata Keterangan: Skor tertinggin 90, dan skor terendah 1 1 33,33 Sedikit Memahami Pembersihan kandang untuk memudahkan pergerakan induk sebelum atau pada saat proses melahirkan, Lantai kandang diberi alas, berupa jerami padi kering sebagai alas agar cairan yang keluar selama proses kelahiran dapat terserap dengan cepat Berdasarkan pengamatan pada tabel di atas dapat lihat bahwa penerapan aspek reproduksi di segi persiapan kelahiran di kecamatan Benai masih sangat rendah, dengan rataan skor 1 dengan persentase 33,33 % yang temasuk dalam kategori tidak memahami. Hasil tersebut menandakan bahwa peternak di kecamatan Benai tidak melakukan persiapan untuk proses kelahiran sapinya. Peternak tidak memperhatikan kelahiran sapinya karena memang peternak hanya menganggap usaha beternak sapi ini sebagai usaha sampingan saja, di sisi lain beberapa peternak mengungkapkan bahwasanya mereka apabila melihat sapinya sudah mendekati proses kelahiran peternak hanya menjauhan sapi tersebut dari kerombolan sapi lainnya, dengan alasan peternak takut ketika anak sapi lahir terinjak atau di ganggu sapi yang lain. Kemudian kendala yang di alami peternak yaitu di waktu ternak sapi melahirkan dimana peternak tidak mengetahui cara untuk membantu induk sapi melahirkan, sehingga kehawatiran peternak terhadap keselamatan 679 Jurnal Green Swarnadwipa ISSN : 2715-2685 (Online) ISSN : 2252-861x (Print) Vol. 10 No. 4 Oktober 2021 Tingkat Pengetahuan Peternak Terhadap Calving Interval Jarak Beranak adalah jumlah hari/bulan antara kelahiran yang satu dengan kelahiran berikutnya. Panjang pendeknya selang beranak merupakan pencerminan dari fertilitas ternak, selang beranak dapat diukur dengan masa laktasi ditambah masa kering atau waktu kosong ditambah masa kebuntingan. Berdasarkan pada tabel 13 pengetahuan peternak terhadap calving Interval sudah baik, ini di tandakan dengan tidak adanya responden yang tidak memahami Calving Interval tersebut, sedangkan untuk kategori memahami terdapat 27 responden dengan jumlah skor 81, persentase 90 %, sedangkan untuk kategori sedikit memahami terdapat 3 orang peternak dengan jumlah skor 6 dengan persentase 6,66 %. induk meningkat, dan sering kali peternak meminta bantuan kepada inseminator untuk melahirkan dan dalam hal ini peternak pun harus mengeluarkan kembali biaya, ini baru beberapa factor kendala peternak tentu masih ada kendala- kendala lain yang harus dicarikan jalan keluarnya. Ketika sapi bunting, peternak juga pada umumnya telah mengetahui perlakuan yang harus diberikan berupa pemberian hijauan, konsentrat dan suplemen berupa mineral. Namun demikian, peternak belum mengetahui bahwa ternak yang akan melahirkan memerlukan penanganan khusus berupa pemisahan dengan ternak lainnya, pemberian tambahan suplemen serta exercise (Sariubang, 2006). Tabel 12. Tingkat pengetahuan peternak Terhadap Calving Interval Pengetahuan Peternak Terhadap Calving Interval Jumlah Skor Memahami 12 – 16 bulan Sedikit Memahami 16 – 20 bulan Tidak Memahami Rata – rata Keterangan: Skor tertinggin 90, dan skor terendah 1 Persentase (%) 81 90 6 6,66 0 0 2,9 96,66 Wahyudi et al, (2003) mengatakan selang beranak yang ideal adalah 12 bulan, yaitu 9 bulan bunting dan 3 bulan menyusui. Efesiensi reproduksi apabila seekor induk sapi dapat menghasilkan satu pedet dalam satu tahun. Permasalahan atau kendala yang dihadapi masyarakat peternak adalah kurangnya pengetahuan dan informasi tentang bagaimana mengelola reproduksi dengan baik dan benar agar diperoleh anak yang banyak dalam waktu yang cepat. Masalah lainnya adalah kurangnya minat para genersi muda untuk beternak, sehingga pengelolaan ternak hanya dilakukan oleh para orang tua dengan pengetahuan seadanya. Memilih sapi calon induk mungkin mereka sudah biasa, tetapi bagaimana memanfaatkan ternak betina tersebut secara maksimal mereka tidak tahu. Ternak hanya dipelihara, dierikan makan dan minum seadanya setiap hari, bahkan tanpa berharap ternaknya akan dikawin dan akan menjadi banyak dari kelahiran anaknya, yang penting mereka masih Dari hasil tersebut bisa kita simpulkankan bahwasanya pemahaman tentang calving interval di kecamatan Benai dengan rata – rata 2,9 dengan tingkat persentase sebesar 96,66 % yang termasuk kedalam kategori memahami. Pengetahuan peternak terhadap calving interval ini memang sudah baik, namun sayangnya ini bertolak belakang dengan keadaan di lapangan, mengapa demikian ? hal tersebut karena ketika calving interval sapi panjang peternak tidak merasa rugi, walaupun peternak mengetahui CI yang baik itu 12 – 16 bln tetapi tidak jarang dari hasil wawancara peternak mengatakan sapi nya beranak/reproduksi sekali dalam 1,5 tahun.hal ini terjadi karena peternak tidak mengelola manajemen reproduksi sapi dengan baik. Hasil penelitian yang berbeda oleh Ramadhan (2018) dimana pengetahuan peternak terhadap calving interval di Kecamatan Kuantan Mudik dengan rataan skor 1 yang tergolong tidak tahu. 680 Jurnal Green Swarnadwipa ISSN : 2715-2685 (Online) ISSN : 2252-861x (Print) Vol. 10 No. 4 Oktober 2021 punya ternak untuk tabungan yang sewaktuwaktu dapat dijual ( Sumadiasa et al,2018). Untuk itu perlu dilakukan peningkatan kinerja reproduksi sapi induk melalui perbaikan manajemen pakan induk. Sapi induk perlu diberikan pakan yang baik selama induk sapi bunting maupun setelah induk sapi melahirkan untuk memenuhi peningkatan kebutuhan energy., ini bermaksud untuk memperpendek calving interval dari sapi Kuantan. Manajemen pemeliharaan sapi potong meliputi tiga sistem yaitu pemeliharaan secara intensif, pemeliharaan secara semi intensif dan pemeliharaan secara ekstensif. Pemeliharaan intensif paling sering digunakan di Indonesia, karena pemeliharaan sepenuhnya dilakukan di kandang. Sapi yang dipelihara secara intensif lebih efisien karena memperoleh perlakuan lebih teratur dalam hal pemberian pakan, pembersihan kandang, memandikan sapi (Sugeng, 2000). Tingkat Pengetahuan Peternak Terhadap Manajemen Pemeliharaan Tabel 13. Tingkat pengetahuan peternak Terhadap Manajemen Pemeliharaan Pengetahuan Peternak Terhadap Manajemen Pemeliharaan Jumlah Skor Memahami 18 Intensif Sedikit Memahami 44 Semi Intensif Tidak Memahami 2 Rata – rata 2,17 Keterangan: Skor tertinggin 90, dan skor terendah 1 Berdasarkan pengamatan yang disajikan pada tabel di atas dapat dilihat bahwa pengetahuan peternak terhadap manajemen pemeliharaan di kecamatan Benai dengan rataan skor 2,17 yang termasuk dalam kategori sedikit memahami, dimana untuk kategori memahami terdapat 6 peternak dengan skor 18, sedangkan untuk kategori sedikit memahami terdapat 22 peternak dengan skor 44 dengan persentase 48,88 %, dan kategori tidak memahami terdapat 2 peternak dengan skor 2 dan tingkat persentase 2,2%. pemeliharaan secara semi intensif masih dominan di kecamatan benai, hal ini dikarenakan peternak hanya menganggap usaha peternakan sebagai usaha sampingan, di samping itu luas nya lahan kosong juga merupakan alasan bagi peternak untuk melepaskan sapi-sapinya di padang pengembalaan. Hijauan yang melimpah di manfaatkan peternak untuk pakan sapi-sapinya.. Sedangkan manajemen pemeliharaan dengan sistem intensif di kecamatan Benai masih kurang baik, hal ini dapat di lihat dari data tabel di atas. Dimana peternak yang memelihara secara intensif hanya terdapat 6 peternak. Hal ini senada dengan pernyataan ( Sumadiasa et al,2018) Sebagian besar masyarakat di Karang Bayan memelihara sapi dengan sistem Persentase (%) 20 48.88 2.22 53,10 pemeliharaan semi-intensif. Pada pemeliharaan semi-intensif, ternak dilepas atau ditambatkan di suatu bidang lahan pada pagi hingga sore hari dan pada malam hari diikat di dalam kandang dan diberikan pakan. Upayah untuk meningkatkan efesiensi reproduksi dari aspek manajemen pemeliharaan perlu dilakukan pendekatan dan penyuluhan kepada para peternak mengenai pakan yang di butuhkan ternak dan bagaimana memanajemen pemeliharaan sapi yang baik. Dari pengamatan dilapangan peternak tidak melakukan manajemen pakan yang baik. Karena tidak adanya pengetahuan dalam manajemen pakan sehingga peternak membiarkan sapi nya hanya lepas di padang pengembalaan. Tingkat Pengetahuan Peternak Terhadap Masalah kesuburan Reproduksi Gangguan reproduksi secara langsung mengakibatkan kegagalan fertilisasi dan secara tidak langsung mengakibatkan estrus postpartum > 90 hari, days open > 85 – 110 hari, calving interval > 12 – 15 bulan, conception rate < 60 %, servis per conception > 1,5 dan angka kelahiran pedet menurun. Kondisi ini akan memberi dampak kerugian ekonomi berupa adanya biaya tambahan untuk pengobatan dan 681 Jurnal Green Swarnadwipa ISSN : 2715-2685 (Online) ISSN : 2252-861x (Print) Vol. 10 No. 4 Oktober 2021 perkawinan, panjangnya masa tidak produktif, meningkatnya jumlah ternak yang diafkir dan menurunnya populasi (Gitonga, 2010; Budiyanto et al., 2013). Keterlambatan pubertas atau delayed pubertas pada seekor betina dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain genetik, nutrisi dan faktor manajemen reproduksi. Idealnya sapi Bali mencapai pubertas pada usia 18 sampai 24 bulan dan beranak pertama kali pada usia 30 sampai 38 bulan (Talib, 2002). Kondisi ini akan menyebabkan delayed pubertas akibat folikel tidak berkembang menjadi folikel dominan atresia maupun dominan ovulasi, selain itu menyebabkan penurunan fungsi ovarium atau hipofungsi ovarium yang bersifat reversible. Hipofungsi ovarium yang tidak segera ditangani akan melanjut menjadi atropi ovarium yang bersifat irreversible (Gutierrez, 2005; Gitonga, 2010). Tabel 14.Tingkat pengetahuan peternak Terhadap Masalah Kesuburan Reproduksi Pengetahuan Peternak Terhadap masalah kesuburan reproduksi Memahami Ternak tidak pernah minta kawin, umur dewasa kelamin, feforma terlalu gemuk Memahami Ternak tidak pernah minta kawin Tidak Memahami Rata – rata Keterangan: Skor tertinggin 90, dan skor terendah 1 Pengamatan yang di sajikan pada tabel 15 dapat kita lihat tidak adanya peternak yang memahami masalah kesuburan reproduksi ini, hanya terdapat satu responden yang sedikit memahami masalah kesuburan reproduksi ini, dan 29 responden lainnya tidak memahami. Hal ini begitu memprihatikan, padahal masalah kesuburan reproduksi ini sangat penting di ketahui bagi peternak. Ketidak tahuan peternak ini bisa mengakibatkan kerugian yang besar bagi peternak dimana bias saja peternak memelihara sapi yang tidak bisa berproduksi. Hal ini bisa saja terjadi di karenakan tidak tahunya peternak terhadap masalah kesuburan ternaknya. Tentu perlu upaya dari dinas terkait untuk meningkatkan dan pemberdayaan lebih lanjut kepada para peternak. Rendahnya pengetahuan peternak terhadap masalah kesuburan reproduksi ini tentu berkaitan dengan taraf pendidikan peternak, dimana pendidikan peternak di kecamatan benai masih tergolong rendah, Masalah lainnya adalah kurangnya minat para genersi muda untuk beternak, sehingga pengelolaan ternak hanya dilakukan Jumlah Skor Persentase (%) 0 0 2 2,22 29 32,22 1,06 34,44 oleh para orang tua dengan pengetahuan seadanya. Memilih sapi calon induk mungkin mereka sudah biasa, tetapi bagaimana memanfaatkan ternak betina tersebut secara maksimal mereka tidak tahu. Ternak hanya dipelihara, dierikan makan dan minum seadanya setiap hari, bahkan tanpa berharap ternaknya akan dikawin dan akan menjadi banyak dari kelahiran anaknya, yang penting mereka masih punya ternak untuk tabungan yang sewaktu-waktu dapat dijual. Tingkat Pengetahuan Peternak Terhadap Kesehatan Pasca Melahirkan Kesehatan pasca melahirkan merupakan hal yang perlu dilakukan peternak untuk keberlanjutan produksi sapi. Pemberian pakan yang baik dan memperhatikan kesehatan sapi pasca melahirkan akan berpengaruh pada day open sapi tersebut. Untuk mengefesiensikan reproduksi sapi perlu penanganan bagi ternak pasca melahirkan. 682 Jurnal Green Swarnadwipa ISSN : 2715-2685 (Online) ISSN : 2252-861x (Print) Vol. 10 No. 4 Oktober 2021 Tabel 15 . Tingkat pengetahuan peternak Terhadap Kesehatan Pasca Melahirkan Pengetahuan Peternak Terhadap kesehatan pasca melahirkan Memahami Pemberian antibiotic, pembersihan ambing dengan menggunakan air panas, pemberian nutrisi yang cukup pasca melahirkan Memahami Pemberian antibiotic Tidak Memahami Rata – rata Keterangan: Skor tertinggin 90, dan skor terendah 1 Jumlah Skor Persentase (%) 0 0 0 0 30 1 33,33 33,33 Berdasarkan hasil wawancara di lapangan yang di sajikan pada tabel 16 dapat kita lihat pengetahuan peternak terhadap kesehatan pasca melahirkan yaitu mendapatkan skor 30 dengan rata – rata 1. Yang termasuk ke dalam kategori tidak memahami. Dari 30 responden peternak di kecamatan Benai tidak ada satupun peternak yang memahami kesehatan pasca melahirkan ini. Ini tentu memiliki resiko tersendiri bagi peternak. Berdasarkan hal tersebut dapat di sebabkan kurangya ilmu pengetahuan peternak, sehingga pola fikir untuk mengembangkan ternaknya hanya berdasarkan ilmu turun temurun, sehingga hal ilmu – ilmu peternakan yang lebih signifikan tidak terlalu di pahami oleh peternak. Dari uraian di atas dapat dilihat pemahaman peternak terhadap kesehatan pasca melahirkan masih sangat kurang. Hal ini terjadi karena kurangnya kesadaran peternak untuk memperhatikan sapinya mengakibatkan sapi dibiarkan begitu saja. Walaupun peternak memperhatikan sapinya pasca melahirkan namun petenak tidak melakukan tindakan untuk proses pemulihan sapi pasca melahirkan. Hal ini terjadi dikarenakan kurangnya ilmu pengetahuan peternak terhadap reproduksi sapi ini. Minim nya pengetahuan peternak tidak mengetahui tindakan yang baik pasca melahirkan. Rendahnya ilmu pengetahuan peternak terhadap reproduksi sapi Kuantan menyebabkan tidak tahu nya tindakan yang harus di ambil oleh peternak. tentu perlu peningkatan perbaikan pengetahuan peternak untuk meningkatkan reproduksi sapi Kuantan. Turut campur dinas peternakan dalam upaya merubah konsep dan pola pikir peternak sangat di butuhkan, memberikan contoh cara beternak yang baik akan lebih mudah dipahami oleh peternak. KESIMPULAN DAN SARAN Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tinhgkat pengetahuan peternak terhadap reproduksi sapi kuantan di kecamatan Benai dengan rataan skor 1,77 (sedikit memahami), yang meliputi tingkat pengetahuan peternak terhadap pengamatan birahi dengan rataan skor 1,83 yang termasuk ke dalam kategori sedikit memahami, waktu panjang birahi mendapatkan skor rata-rata 1,8 yang termasuk kedalam kategori sedikit memahami, sistem perkawinan dengan rataan skor 2,33 yang termasuk kedalam kategori memahami tandatanda kebuntingan dengan rataan skor 1,33 yang termasuk kedalam kategori tidak memahami, persiapanm kelahiran mendapatkan skor 1 yang tergolong kedalam kategori tidak memahami, calving interval mendapatkan skor Kesimpulan 2,9 yang termasuk kedalam kategori memahami, manajeman pemeliharaan mendapatakan rataan skor 2,13 yang temsauk kedalam katergori sedikit memahami, masalah kesehatan reproduksi mendapatkan skor rataan 1,06 yang tergolong ke dalam kategori tidak memahami, sedangkan untuk pengetahuan peternak terhadap kesehatan pasca melahirkan mendapatkan rataan skor 1 yang termasuk kedalam kategori tidak memahami. Saran Kurangnya ilmu pengetahuan peternak terhadap reproduksi sapi menyebabkan lambatnya perkembangan peternakan sapi kuantan, perlu upaya dari Dinas terkait untuk 683 Jurnal Green Swarnadwipa ISSN : 2715-2685 (Online) ISSN : 2252-861x (Print) Vol. 10 No. 4 Oktober 2021 melakukan penyuluhan dan sosialisasi untuk meningkatkan keberhasilan reproduksi ternak. pertanian dalam mendukung kedaulatan pangan di Yogyakarta. Jurnal Agros. 18(2): 126-131. DAFTAR PUSTAKA Hafez. E. S. E. 2000. Reproduction In Farm Animals. 7th edition. Lippincott Williams dan Wikins. Maryland. USA. Abdullah, M.A.N, R.R. Noor, H. Martojo, D. D. Solihin, dan E. Handiwirawan. 2006. Keragaman Fenotipik Sapi Aceh di Nanggroe Aceh Darussalam. Jurnal Indonesian Tropical Animal Agriculture, 32 : 11-21. Hendrayani , E dan Febrina, D. 2009. Analisi faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi beternak sapi di Desa Koto Benai Kecamatan Benai Kabupaten Kuantan Singingi. Jurnal Peternakan vol.6 : 53 – 62. Akoso, B.T. 2009. Epidemologi dan Pengendalian Antraks, Kanisius. Yogyakarta, Budiarsana,I .G.M., I .K. Sutama, M. Martawijayadan T. Kostaman. 2003. Produktivitas Kambing Peranakan Etawah (PE) pada Agroekosistem yang berbeda Pros. Seminar Nasional Jurnal Ilmiah Fillia Cendekia Volume 3 Nomor 2 Oktober 2018 - 30 - Teknologi Peternakan dan Veteriner 2003, Bogor 29-30 September 2003. Puslitbangnak, Bogor. Hlm. 150-156. Ilyas, A.Z dan C.S Leksmono. 1995. Pedoman Pengembangan dan Perbaikan ternak di Indonesia. Dirjen Peternakan Bekerja Sama Dengan FAO. I.M. Mulyawati, D. Mardiningsih, S. Satmoko. 2016. Pengaruh Umur, Pendidikan, Pengalaman dan Jumlah Ternak Peternak Kambing Terhadap Perilaku Sapta Usaha Beternak Kambing di Desa Wonosari Kecamatan Patebon. Jurnal AGROMEDIA,Vol 34, No. 1 Maret 2016. hal. 85-90. Delfina, Y. 2001. Faktor Penunjang Kegagalan Pelaksanaan IB di KPBS Pangalengan, Bandung (Periode Januari 1999 sampai Januari 2000). Skripsi. Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor, Bogor. Janusandi. M. 2013. Studi Keragaman Sifat Kualitatif Sapi Kuantan Di Kecamatan Kuantan Hilir Kabupaten Kuantan Singingi. Skripsi. Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negri Syarif Kasim Riau. Pekanbaru. Dinas Peternakan Provinsi Riau, 2008. Buku Pintar Peternakan,. Dinas Peternakan Provinsi Riau. Djarijah, A.S. 1996. Usaha Ternak Sapi. Sanisius : Yogyakarta. Yiyanto dan Anwar. P.2019. Identifikasi kualitas spermatozoa sapi kuantan sebagai pelestari plasma nutfah ternak local. Jurnal ilmi dan teknologi peternakan tropis. 6 (1) : 52-56 Feradis. 2010. Bioteknologi Reproduksi Pada Ternak. Alfabeta. Bandung. Feradis. 2010, Bioteknologi Reproduksi Pada Ternak. Alfabeta, Bandung. Gitonga PN. 2010. Pospartum reproductive performance of dairy cows in medium and large scale farms in Kiambu and Nakuku Districts of Kenya. Thesis. University of Nairobi Faculty of Veterinary Medicine. Luanmase, Cristian M. 2011mAnalisis Motipasi beternak sapi potong bagi peternak lokal dan transmigrasi. Yogyakarta. Mardikanto, Totok, 2009. Sistem Penyuluhan Pertanian. Universitas Sebelas Maret. Surakarta.467 Hal. Ma’sum, M., A.V.S. Hubeis, A. Saleh, B. Suharjo. 2012. Persepsi peternak tentang penerapan inseminasi buatan di tiga sentra sapi potong di Indonesia. Jurnal Penyuluhan. 8(1):55- 65. Haryanti, N.W. 2009. Ilmu nutrisi Dan Makanan Ternak Ruminansia. Universitas Indonesia: Jakarta. Hanafi, H. 2016. Peran kandang sistem komunal ternak sapi potong terintegrasi limbah 684 Jurnal Green Swarnadwipa ISSN : 2715-2685 (Online) ISSN : 2252-861x (Print) Vol. 10 No. 4 Oktober 2021 Misrianti. R.,Mustika.R.P.,dan Ali. A. 2018.keragaman sifat kualitatif dan kuantitatif sapi kuantan pada berbagai tingkatan umur di kecamatan benai kabupaten kuantan singingi provinsi riau. JurnalPeternakan. Saladin, R. 1992. Teknik Produksi Sapi Potong. Diklat Fakultas Peternakan. Universitas Andalas, Padang. Sariubang, M. 2006. Pengkajian teknologi pembibitan sapi potong berbasis pedesaan mendukung swasembada daging di Sulawesi Selatan. Jurnal SulSel Litbang DepTan. Murti, T.W. 2002. Ilmu Ternak Sapi. Kanisius. Yogyakarta. Nasution, R. 2015. Perbandingan Sifat Kualitatif Sapi Kuantan dengan Sapi Bali di Kecamatan Cerenti Kabupaten Kuantan Singingi. Skripsi. Fakultas Pertanian dan Peternakan. Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau. Siregar, C. 1992. Validasi di Industri Farmasi, Sebagai Pendukung Pelaksanaan CPOB. Bandung: Jurusan Farmasi Institut Teknologi Bandung. Sodiq, A. 2011. Analisis kawasan usaha pengembangbiakan dan penggemukan sapi potong berbasis sumberdaya lokal pedesaan untuk program nasional percepatan pencapaian swasembada daging sapi. Agripet. 11(1): 22-28. Partodiharjo, S. 1992. Ilmu Reproduksi Hewan. Cetakan ke-3 Penerbit Mutiara Sumber Widia, Jakarta. Patodihardjo. 2004. Ilmu Reproduksi Hewan. Mutiara. Jakarta Soekardono. 2005. Kontribusi usaha ternak sapi terhadap pendapatan dan destribusi pendapatan petani di daerah persawahan irigasi di desa Sukowiyono, Kecamatan Padas Kabupaten Ngawi. Buletin Peternakan. Pryce, J. E, M.D., Garnsworthy P. C and Mao, I. l. 2004.Fertility in the higt-producing dairy cow. Livestock production Science. 86:125-135. Sugeng dan Sudarmono. 2008. Sapi Potong. Penebar Swadaya. Jakarta. Rahman, (2015). Tingkat pengetahuan peternak dalam pengelolaan reproduksi ternak sapi. Sumadiasa IW.L., A. Aziz, I.P. Mantika, Burhan dan D. Supriadin, 2018. Performans reproduksi ternak sapi pada pemeliharaan ekstensif dan semiintensif di Kecamatan Bolo kabupaten Bima. Laporan Penelitian. Fakultas Peternakan Universitas Mataram. Ramadhan.A.D. 2018 Tingkat pengetahuan peternak terhadap reproduksi sapi kuantan di Kecamatan Kuantan Mudik Kabupaten Kuantan singingi. Skrpsi. Fakultas pertanian. Universitas Islam Kuantan Singingi. Sukmawati, F. dan M. Kaharudin. 2010. Perkandangan Sapi Potong. Pusat Penelitian dan pengembangan Peternakan. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian Ridha, M., Hidayati. Dan Adelina, T. 2007. Analisis Faktor Yang Mempengaruhi Jarak Beranak (Calving Interval) Sapi Bali DI Kecamatan Bangkinang Kabupaten Kampar. Jurnal Peternakan. Vol. 4 (2). Hlm. 65 – 69. Susilorini, T,E. Sawitri, M,E. dan Muharlien. 2008. Budidaya 22 Ternak Potensial, Penebar Swadaya. Malang. Riyanto, E., dan Purbowati, E. (2009). Panduan Lengkap Sapi Potong. Jakarta: Penebar Swadaya Syaiful, F,L. 2018. Optimalisasi Inseminasi Buatan Sapi Potong Melalui Akurasi Kebuntingan Dini Terhadap Uji Punyakoti Dan Palpasi Rektal Rokana, E., Sigit, M dan Soeroni, M.2010. Hubugan antara umur induk dan lama menyusui terhadap periode anestrus post partum kambig peranakan Etawa (PE). Jurnal Penelitian26 (1): 145-150. 685 Jurnal Green Swarnadwipa ISSN : 2715-2685 (Online) ISSN : 2252-861x (Print) Vol. 10 No. 4 Oktober 2021 Syukur. 2009. Sapi Bali di Daerah Sumber Bibit dan Peluang Pengembangannya. Jurnal Peternakan. Vol. 12. No. 3. Hal : 100 – 107. Ternak Sapi Potong di Desa Kedungpring Kecamatan Balonpanggang Kabupaten Gresik. Jurnal Ternak Vol. 06 No.01 Juni 2015. Talib C. 2002. Sapi Bali di daerah sumber bibit dan peluang pengembangannya.Wartazoa 12: 3. Widiati. 2003. Analisis linier programming usaha ternak sapi potong dalam sistem rumah tangga tani berdasarkan tipologi wilayah di Daerah Istimewah Yogyakarta ( disertai s3 ).Program pasca sarjana UGM. Yogyakarta. Toelihere, M.R. 1981. Inseminasi Buatan pada ternak. Angkasa. Bandung. Toelihere, M.R. 1985. Fisiologi reproduksinpada ternak. Angkasa. Bandung. Wirdahayati, R. B., R. A. D. M. Ali dan A. Bamualim. 2006. Karakter Produktivitas Sapi Lokal Pesisir. Prosiding Peternakan. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Barat. Umiyasih, U. dan Y. N. Anggraeny 2007. Petunjuk Teknis Ransum Seimbang, Strategi Pakan Pada Sapi Potong. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Departemen Pertanian, Jakarta. Wirdahayati, R.B. dan A. Bamualim. 2007. Produktivitas ternak sapi lokal pesisir dan daya dukung lahan penggembalaan di Kabupaten Pesisir Selatan Sumatera Barat. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Bogor. Utomo, B.N., R.R. Noor, C. Sumantri, I. Supriatna, E.D. Gunardi dan B. Tiesnamurti. 2012. Keragaman fenotipik kualitatif sapi Katingan. JITV 17(1) : 1-12. Wirdahayati, R.B. 2010. Kajian kelayakan dan adopsi inovasi teknologi sapi potong mendukung program PSDS: Kasus Jawa Timur dan Jawa Barat. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian, Bogor. Wahyudi, L., Susilawati, T., dan Wahjuningsih, S. 2013. Tampilan Reproduksi Sapi Potong pada berbagai paritas di Desa Kemiri Kecamatan Jabung Kabupaten Malang. Jurnal Ternak Tropika. 14 (2) : 13 – 22. Yendraliza.Y.,Magfirah.M.,danRodiallah M. 2018. Struktur Populasi Dan Potensi Kecamatan Benai Di Kabupaten Kuantan Singingi Untuk Pengembangan Sapi Potong . Waris1, Nuril Badriyah1, Dyah Wahyuning A. 2015. Pengaruh Tingkat Pendidikan, Usia, dan Lama Beternak Terahdap Pengetahuan Manajemen Reproduksi 686