Jurnal Ilmu Farmasi dan Farmasi Klinik (JIFFK) Vol. No. Desember 2024. Hal. ISSN: 1693-7899 e-ISSN: 2716-3814 FORMULASI SERUM WAJAH KOMBINASI EKSTRAK DAUN PEDADA (Sonneratia caseolaris L. ) DAN EKSTRAK RIMPANG KENCUR (Kaempferia galanga L. ) SEBAGAI SEDIAAN KOSMETIK ANTIOKSIDAN Meissi Kusuma Wardhani1*). Muhammad Hanafi2. Agung Eru Wibowo 2 Magister Ilmu Kefarmasian Fakultas Farmasi. Universitas Pancasila. Jl. Srengseng sawah. Jagakarsa. Jakarta. Indonesia Fakultas Farmasi. Universitas Pancasila. Jl. Srengseng sawah. Jagakarsa. Jakarta. Indonesia *Email: meissi. ci2@gmail. Received: 06-04-2023 Accepted:14-04-2024 Published:31-12-2024 INTISARI Senyawa bioaktif bahan alam yang memiliki aktivitas antioksidan dapat diformulasi menjadi sediaan Pedada (Sonneratia caseolaris L. ) salah satu tumbuhan mangrove dan rimpang kencur (Kaempferia galangal L. ) merupakan dua tanaman yang mempunyai potensi aktivitas antioksidan Tujuan penelitian untuk membuat formula serum wajah dari kombinasi ekstrak daun pedada dan rimpang kencur serta menguji aktivitas antioksidannya. Daun pedada dan rimpang kencur diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan etanol 96%. Ekstrak yang diperoleh dilakukan uji aktivitas antioksidannya dengan DPPH. Formulasi serum wajah dari kombinasi ekstrak daun pedada dan rimpang kencur terdiri dari formula 1 (FI) untuk perbandingan 1:1, formula 2 (F. untuk perbandingan 2:1 dan formula 3 (F. untuk perbandingan 3:1. Evaluasi sediaan serum meliputi pemeriksaan organoleptik, homogenitas, pH, viskositas, daya sebar, stabilitas dan iritasi. Hasil uji menunjukkan bahwa nilai IC50 dari ekstrak daun pedada dan rimpang kencur berturut-turut adalah sebesar 10,78 ppm dan 634,11 ppm. Kombinasi ekstrak daun pedada dan rimpang kencur dengan perbandingan 3:1 memberikan aktivitas antioksidan terbaik dengan nilai IC50 sebesar 15,74 ppm. Uji aktivitas antioksidan serum menunjukkan nilai IC50 terbaik yaitu pada sediaan serum F2 dan F3 berturut-turut adalah sebesar 394,98 dan 412,96 ppm. Nilai pH sediaan serum F0. F2 dan F3 berturutturut 6,23. 5,72 dan 5,43 dan nilai pH pada uji stabilitas di suhu 5A C, 28A C dan 40A C selama 3 bulan berkisar antara 4,5-6,5. Pengukuran nilai viskositas serum F0. F2 dan F3 berturut-turut 655, 1810 dan 2776 cps. Hasil uji iritasi serum F2 dan F3 pada hewan kelinci tidak menunjukkan adanya Kata kunci: antioksidan, daun pedada, formulasi sediaan serum, kombinasi ekstrak, rimpang kencur ABSTRACT Plants containing natural bioactive compounds with antioxidant activity have the potential to be utilized and formulated into cosmetic products. Pedada (Sonneratia caseolaris L. ) leaves, a type of mangrove plant and aromatic ginger (Kaempferia galanga L. ) rhizomes are two plants known for their high antioxidant activity. This study aimed to formulate facial serum using a combination of pedada leaves and aromatic ginger rhizome extracts and to evaluate the antioxidant activity of the formulations. The extraction of pedada leaves and aromatic ginger rhizomes was performed using the maceration method with 96% ethanol. Antioxidant activity was determined using the DPPH method. The facial serum was formulated with combinations of pedada leaves and aromatic ginger rhizomes in ratios of 1:1 (F. , 2:1 (F. , and 3:1 (F. Journal homepage:http:/w. id/Farmasi ISSN: 1693-7899 The serum formulations were evaluated for organoleptic properties, homogeneity, pH, viscosity, spreadability, stability, and irritation potential. The results indicated that the IC50 values of pedada leaves and aromatic ginger rhizome extracts were 10. 78 ppm and 634. 41 ppm, respectively. The best combination was a 3:1 ratio, which yielded an IC50 value of 15. 74 ppm. The most effective serum formulation was F2, with an IC 50 value of 98 ppm. The pH values of serums F0. F2, and F3 were 6. 23, 5. 72, and 5. 43, respectively, and the stability test at 5AC, 28AC, and 40AC for three months showed pH values ranging from 4. 5 to 6. The viscosity values of serums F0. F2, and F3 were 655, 1810, and 2776 cps, respectively. Acute dermal irritation tests on rabbits indicated that serum formulations F2 and F3 showed no adverse responses. Keywords: Antioxidant. DPPH, kaempferia galanga rhizome, serum, sonneratia caseolaris leaf *Corresponding author: Nama : Meissi Kusuma wardhani Institusi : Universitas Pancasila Alamat institusi : Jl. Srengseng sawah. Jagakarsa. Jakarta. Indonesia E-mail : meissi. ci2@gmail. PENDAHULUAN Saat ini sedang berkembang penggunaan ekstrak tanaman sebagai antioksidan alami dikarenakan memiliki efek samping yang lebih rendah dan penggunaannya relatif lebih aman. Antioksidan alami yang digunakan berasal dari berbagai macam tanaman, biji-bijian, dan buahbuahan. Antioksidan alami memiliki kemampuan untuk mengurangi kerusakan oksidatif pada kulit yang dapat mempercepat proses penuaan kulit (Viviane dkk. , 2019. Hoang. Moon. -Y. Lee. Pedada (Sonneratia caseolaris L) merupakan salah satu jenis tanaman penyusun hutan mangrove yang tumbuh dan banyak ditemukan di sepanjang pantai utara Pulau Jawa. Beberapa penelitian telah dilakukan untuk mengetahui aktivitas antioksidan dari daun pedada. Senyawa flavonoid dari ekstrak etanol daun pedada yang berhasil diisolasi diketahui memiliki potensi sebagai antioksidan (Sadhu and Ahmed, 2. Hasil penelitian terhadap ekstrak etanol daun pedada menghasilkan antioksidan dengan nilai IC50 68 ppm yang tergolong antioksidan kuat (Sinica dkk. Pemanfaatan tanaman pedada dalam produk kosmetik yaitu dalam pembuatan masker gel peel off dan sediaan krim tabir surya juga telah dikembangkan, salah satu contohnya yaitu suku dayak menggunakan tanaman pedada sebagai kosmetik tradisional untuk perawatan kulit (Arung dkk. Satriani, 2. Kencur (Kaempferia galanga L) merupakan salah satu dari lima jenis tumbuhan yang dikembangkan sebagai tanaman obat asli Indonesia dan merupakan tanaman yang bernilai ekonomis cukup tinggi (Hasanah dkk. , 2. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan kandungan senyawa fenolik dan flavonoid dari ekstrak etanol rimpang kencur diketahui memiliki aktivitas antioksidan (Hayati and Ningsih, 2015. Sonam and Guleria, 2017. Panyakaew dkk. , 2. Penelitian terkait ekstrak etanol rimpang kencur sebagai tabir surya dan antioksidan dalam sediaan kosmetik telah dilakukan, dan dilaporkan ekstrak etanol rimpang kencur memiliki potensi sebagai tabir surya dan antioksidan (Ali dkk. , 2018. Panyakaew dkk. , 2. Salah satu bentuk sediaan kosmetik yang mengandung zat aktif antioksidan yang dapat digunakan sebagai salah satu cara perawatan kulit adalah serum. Sediaan dalam bentuk serum dapat memberikan nutrisi intensif ke lapisan kulit yang lebih dalam untuk mencapai jaringan target dan bertahan lama di kulit sehingga diharapkan hasil yang lebih baik untuk perawatan kulit (Budiasih , 2. Seiring akan kebutuhan sediaan topikal yang aman dan dapat cepat berpenetrasi kedalam kulit, dan mampu melindungi kulit dari kerusakan sel yang disebabkan oleh radikal bebas maka pengembangan sediaan kosmetik serum yang berasal dari bahan alam saat ini banyak dikembangkan. Tanaman pedada dan kencur merupakan bahan alam yang memiliki potensi sebagai antioksidan. Penggunaan gabungan beberapa ekstrak senyawa yang memiliki aktivitas antioksidan, diharapkan dapat memperlihatkan efek sinergis yang akan meningkatkan aktivitas antioksidan. Formulasi Serum Wajah KombinasiA(Wardhani dkk. , 2. ISSN: 1693-7899 METODE PENELITIAN Desain Penelitian Jenis penelitian ini adalah berupa penelitian eksperimental laboratorium dengan melakukan pengujian aktivitas antioksidan dari masing- masing ekstrak dan kombinasi ekstrak daun pedada dan rimpang kencur. Bahan Tanaman yang digunakan dalam penelitian ini adalah daun pedada yang diperoleh di daerah Muara Gembong. Bekasi dan rimpang kencur yang diperoleh dari CV Merapi farma. Determinasi dilakukan di Direktorat Pengelolaan Koleksi Ilmiah Cibinong. Bahan kimia yang digunakan adalah etanol teknis 96%, etanol p. a (Merc. DPPH p. a (Himedi. Vitamin C p. a (Merc. DMSO p. (Supelc. , natrosol p. a (Ashlan. Bahan lain propilen glikol (Cael. , gliserin (Sumi asi. , dan metil paraben (TPC) pharmaceutical grade, serta reagen skrining fitokimia, aluminium foil, kertas saring. Alat Alat yang digunakan pada penelitian ini adalah rotary evaporator (Heidolp. , spektrofotometer UV Vis (Thermo scienc. , water bath, sonikator (Elm. , timbangan analitik (Kenk. , oven (Memmer. , pH meter (Mettle. , viscometer (Brookfiel. , hotplate stirrer (Heidolp. Pembuatan Ekstrak Daun Pedada dan Rimpang Kencur Serbuk kering diekstraksi dengan cara maserasi dalam pelarut etanol 96% dengan perbandingan 1:10 selama 1 x 24 jam. Rendaman selama 6 jam pertama sambil sesekali diaduk, kemudian didiamkan selama 18 jam. Filtrat disaring dan dipekatkan dengan rotary evaporator hingga diperoleh ekstrak kental. Ekstrak yang diperoleh kemudian ditimbang dan dihitung persen (%) rendemennya. Masing-masing ekstrak dilakukan pengujian mutu ekstrak. Skrining Fitokimia Pemeriksaan skrining fitokimia ekstrak daun pedada dan rimpang kencur yang dilakukan meliputi pemeriksaan golongan alkaloid, flavonoid, tanin, saponin dan terpenoid. Uji Flavonoid dan Fenol Total Pengujian flavonoid dan fenol total dilakukan di Laboratorium Kawasan Sains Teknologi Habibie BRIN. Metode kolorimetri aluminium klorida digunakan untuk penentuan kandungan flavonoid total pada ekstrak dan digunakan kuersetin sebagai standar. Pengujian flavonoid dan fenol total dilakukan untuk sampel daun pedada, rimpang kencur dan kombinasi kedua ekstrak dengan perbandingan 1:1. 2:1 dan 3:1 (Lamuela-ravents, 1999. Chang dkk. , 2. Pembuatan Sediaan Serum Antioksidan Pembuatan sediaan serum wajah antioksidan merupakan modifikasi formula basis sediaan serum yang terdiri dari bahan natrosol, gliserin, propilen glikol dan metil paraben. Penambahan zat aktif berupa ekstrak daun pedada dan ekstrak rimpang kencur pada berbagai tingkat konsentrasi terhadap komposisi basis serum. Jumlah zat aktif yang ditambahkan kedalam formula dikalikan 600 kali lipat dari nilai IC50 aktivitas antioksidan kombinasi yang terbaik. Untuk komposisi masingAe masing formula sediaan dapat dilihat pada Tabel I berikut: Tabel I. Formula Sediaan Serum Antioksidan Bahan Konsentrasi EDP ERK Natrosol Gliserin Propilen Glikol DMSO Nipagin Aquades JIFFK Vol. No. Desember 2024. Hal. ISSN: 1693-7899 Uji Aktivitas Antioksidan (Okzelia, 2. Uji aktivitas antioksidan dilakukan dengan metode peredaman radikal bebas menggunakan DPPH dan Vitamin C digunakan sebagai pembanding. Nilai persentase hambatan terhadap DPPH dihitung dengan menggunakan persamaan berikut. Nilai IC50 diperoleh dari persamaan garis antara 50% daya % Inhibisi = absorbansi kontrol - absorbansi sampel x 100% absorbansi kontrol Uji aktivitas antioksidan ekstrak daun pedada, rimpang kencur dan pembanding Sebanyak 1 ml sampel ekstrak daun pedada, rimpang kencur dan pembanding vitamin C dari berbagai konsentrasi masing-masing ditambahkan dengan 1,0 ml DPPH 100 ppm, ditambahkan dengan 3 ml etanol p. Campuran dihomogenkan, diinkubasi pada ruang gelap selama 30 menit. Absorbansi diukur pada panjang gelombang 517 nm. Kombinasi ekstrak daun pedada dan rimpang kencur Pembuatan larutan kombinasi ekstrak daun pedada dan rimpang kencur dengan perbandingan 1:1, 2:1, dan 3:1, masingAemasing perbandingan kombinasi dibuat deret konsentrasi 20, 40, 60, 80, 100 dan 200 ppm. Larutan sampel dipipet sebanyak 1,0 mL, dan dimasukkan dalam tabung reaksi, ditambahkan 1,0 mL DPPH 100 ppm, ditambahkan dengan 3 ml etanol p. a, diinkubasi pada ruang gelap selama 30 menit. Absorbansi diukur pada panjang gelombang 517 nm. Serum kombinasi ekstrak daun pedada dan rimpang kencur Dibuat konsentrasi serum antioksidan F1. F2 dan F3 sesuai Tabel I, masing-masing 100, 200, 400, 800, 1000 dan 2000 ppm, sedangkan serum komersial sebagai kontrol positif dibuat konsentrasi serum yaitu 20, 40, 60, 80, 100 dan 200 ppm. Larutan sampel dipipet sebanyak 1,0 mL, dan dimasukkan dalam tabung reaksi, ditambahkan 1,0 mL DPPH 100 ppm, ditambahkan dengan 3 ml etanol p. a, diinkubasi pada ruang gelap selama 30 menit. Absorbansi diukur pada panjang gelombang maksimum 517 nm. Evaluasi Sediaan Serum Evaluasi formula meliputi pemeriksaan organoleptik, homogenitas, daya sebar sediaan, penentuan pH dan viskositas. Uji Stabilitas (ISO/TR 18811, 2. Uji stabilitas dilakukan untuk formula serum kombinasi yang memiliki aktivitas antioksidan yang lebih kuat yaitu formula F0. F2 dan F3 diamati pada suhu penyimpanan 5 AC, 28AC dan 40AC selama 3 bulan. Stabilitas yang diamati meliputi organoleptis, homogenitas, viskositas, dan pH. Uji Iritasi Prosedur uji iritasi dilakukan berdasarkan peraturan Kepala BPOM No. 7 Th 2014. Pengujian menggunakan 3 ekor kelinci albino jantan New Zealand. Hewan uji diaklimatisasi selama 7 hari, bulu kelinci daerah punggung dicukur seluas 10%. Formula serum yang terdiri dari F0. F2. F3 dan blanko aquades dioleskan pada bagian punggung kelinci dan diamati setelah pengolesan pada durasi 1, 24, 48 dan 72 jam. Pengamatan ini dilakukan menggunakan metode Draize test dan diamati adanya eritema dan edema yang terjadi pada kulit kelinci (BPOM, 2014. OECD, 2. Setelah 24 jam perban dilepas lalu diamati adanya gejala toksik yang timbul yaitu iritasi primer yang berupa eritema dan edema. Respon sediaan uji dinilai dengan berpedoman pada Tabel II berikut: Formulasi Serum Wajah KombinasiA(Wardhani dkk. , 2. ISSN: 1693-7899 Tabel II. Penilaian reaksi eritema dan udema pada kulit Pembentukan Eritema Pembentukan Udema Tidak ada eritema Tidak ada udema Eritema yang sangat kecil Edema yang sangat kecil Eritema terlihat jelas Udema kecil Eritema sedang sampai parah Edema Tingkat menengah Eritema parah Udema parah Skor Derajat iritasi diperoleh dengan cara membandingkan indeks iritasi yang diperoleh dengan skor sesuai dengan Tabel i berikut: Tabel i. Kriteria iritasi Indeks Iritasi Kriteria Iritasi Senyawa Kimia 0,0 Ae 0,4 Sangat ringan . 0,5 Ae 1,9 Iritan ringan . 2,0 Ae 4,9 Iritan sedang . 5,0 Ae 8,0 Iritan kuat . HASIL DAN PEMBAHASAN Penentuan nilai rendemen dilakukan untuk mengukur efektivitas keseluruhan proses ekstraksi. Hasil rendemen ekstrak daun pedada dan rimpang kencur dapat dilihat pada Tabel IV berikut. Tabel IV. Hasil rendemen ekstrak daun pedada dan rimpang kencur Sampel Bobot Serbuk Bobot Ekstrak Rendemen (%) Daun pedada 700,00 249,77 35,68 Rimpang 450,00 102,02 22,67 Hasil persentase rendemen yang lebih tinggi berarti diperoleh jumlah produk metabolit sekunder yang lebih besar. Rendemen ekstraksi dipengaruhi oleh jenis, ukuran dan bentuk simplisia. Jenis pelarut dan metode yang digunakan pada proses ekstraksi juga mempengaruhi keberhasilan dalam mendapatkan senyawa metabolit sekunder dari tanaman. Penelitian ini membuktikan rendemen ekstrak dari simplisia daun lebih besar dibandingkan simplisia rimpang. Pemeriksaan skrining fitokimia ekstrak daun pedada dan rimpang kencur yang dilakukan meliputi pemeriksaan golongan alkaloid, flavonoid, tanin dan terpenoid. Hasil pemeriksaan skrining fitokimia ekstrak daun pedada dan rimpang kencur dapat dilihat pada Tabel V berikut: JIFFK Vol. No. Desember 2024. Hal. ISSN: 1693-7899 Tabel V. Hasil pemeriksaan skrining fitokimia Golongan Senyawa Hasil Pemeriksaan Ekstrak Rimpang Ekstrak Daun Kencur Pedada Alkaloid Mayer Bouchardat Dragendorf Flavonoid Saponin Tanin Streoid Terpenoid Identifikasi senyawa fitokimia dalam tanaman membantu memprediksi aktivitas farmakologis potensial yang terdapat dalam tanaman tersebut. Pengujian skrining fitokimia terhadap ekstrak daun pedada dan rimpang kencur dilakukan untuk mengetahui golongan senyawa-senyawa yang terkandung dalam ekstrak. Berdasarkan hasil pengujian skrining fitokimia, ekstrak daun pedada mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, dan steroid, sedangkan ekstrak rimpang kencur memberikan hasil positif terhadap senyawa alkaloid, flavonoid dan tanin. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan ekstrak tanaman pedada memiliki komponen senyawa bioaktif antara lain yaitu alkaloid, tanin, flavonoid, saponin, fitosterol dan karbohidrat (Teja, 2. , sedangkan untuk ekstrak rimpang kencur memiliki senyawa kimia golongan flavonoid, polifenol, tanin, kuinon, dan monoterpen/ seskuiterpen (Hasanah dkk. , 2. Perbedaan penggunaan pelarut untuk mengekstrak akan mempengaruhi jenis senyawa metabolit yang dihasilkan (Bandiola, 2. Hasil pengujian total flavanoid dapat dilihat pada Tabel VI berikut: Tabel VI. Hasil pengujian flavonoid total Sampel 1 Ekstrak Rimpang Kencur 2 Ekstrak Daun Pedada Kombinasi EDP: ERK 3 1:1 4 2:1 5 3:1 Kadar Flavonoid Total . g ekuivalen kuersetin /g ekstra. 0,37 A 0,07 9,45 A 0,03 9,66 A 0,07 11,84 A 0,23 16,57 A 0,36 Keterangan: EDP = ekstrak daun pedada. ERK = ekstrak rimpang kencur Hasil pengujian menunjukkan ekstrak tunggal daun pedada memiliki kandungan flavonoid total lebih tinggi dibandingkan dengan ekstrak rimpang kencur. Untuk kombinasi ekstrak, perbandingan ekstrak daun pedada dan rimpang kencur 3:1 memiliki kandungan flavonoid total lebih tinggi dibandingkan kombinasi 1:1 dan 1:2. Hal ini menunjukkan bahwa flavonoid lebih banyak terkandung dalam daun pedada dibandingkan dalam rimpang kencur. Flavonoid, sebagai salah satu jenis metabolit sekunder memainkan peranan penting dalam aktivitas penangkapan radikal bebas (Li , 2. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, senyawa flavonoid yang berhasil diisolasi dari ekstrak etanol daun pedada adalah senyawa luteolin and luteolin 7-O--glucoside, kedua senyawa tersebut diketahui memiliki potensi sebagai antioksidan (Rahim. Fadzelly and Bakar. Kandungan flavonoid total yang tinggi pada ekstrak daun pedada menunjukkan adanya kapasitas sebagai antioksidan. Kandungan fenolik total ekstrak ditentukan dengan pereaksi Folin-Ciocalteu dalam suasana Prinsip dari metode ini adalah pembentukan senyawa biru kompleks yang dapat diukur pada panjang gelombang 765 nm. Hasil pengujian total fenol dapat dilihat padaTabel VII berikut: Formulasi Serum Wajah KombinasiA(Wardhani dkk. , 2. ISSN: 1693-7899 Tabel VII. Hasil pengujian fenol total Sampel Kadar Fenol Total . g ekuivalen asam galat /g 0,61 A 0,03 19,21 A 0,12 Ekstrak Rimpang Kencur Ekstrak Daun Pedada Kombinasi EDP: ERK 19,45 A 0,02 20,08 A 0,16 23, 52 A 0,12 Hasil pengujian menunjukkan ekstrak tunggal daun pedada memiliki kandungan fenol total lebih tinggi dibandingkan dengan ekstrak rimpang kencur. Untuk kombinasi ekstrak, perbandingan ekstrak daun pedada dan rimpang kencur 3:1 memiliki kandungan fenol total lebih tinggi dibandingkan kombinasi 1:1 dan 1:2. Hal ini menunjukkan bahwa senyawa fenolik lebih banyak terkandung dalam daun pedada dibandingkan dalam rimpang kencur. Senyawa fenolik merupakan senyawa yang banyak terdapat pada tanaman dan dianggap sebagai kontributor utama adanya aktivitas antioksidan. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan terdapat hubungan yang signifikan antara kandungan total fenolik dengan kapasitas antioksidan yang ada dalam tanaman. Kandungan fenolik yang tinggi dari daun pedada menunjukkan adanya kapasitas antioksidan yang kuat (Li dkk. , 2. Hasil pengukuran IC50 ektrak daun pedada, ekstrak rimpang kencur dan kombinasi ekstrak dapat dilihat pada Gambar 1 berikut. Nilai IC50 Ratio 1:1 Ratio 2:1 Ratio 3:1 Vitamin C EDP ERK Sampel uji Gambar 1. Diagram nilai IC50 ekstrak daun pedada, rimpang kencur dan kombinasinya Berdasarkan hasil pengukuran diperoleh nilai IC50 ekstrak daun pedada dan rimpang kencur berturut-turut adalah 10,68 dan 634,41 ppm. Ekstrak daun pedada mengandung senyawa fenolik yang bersifat antioksidan sehingga dapat menangkal radikal bebas. Nilai IC50 sebesar 10. 68 ppm yang diperoleh dari ekstrak daun pedada tergolong dalam kategori antioksidan kuat. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, aktivitas antioksidan dari ekstrak daun pedada disebabkan oleh senyawa fenolik dan flavonoid yang terkandung didalamnya. Berdasarkan hasil pengukuran kombinasi ekstrak daun pedada dan rimpang kencur dengan perbandingan 1:1. 2:1 dan 3:1 memiliki nilai IC50 berturut-turut 60,90 ppm. 21,88 ppm dan 15,74 Perbandingan kombinasi ekstrak 3:1 memiliki nilai IC50 yang paling tinggi. Semakin tinggi jumlah ekstrak daun pedada yang ditambahkan kedalam variasi kombinasi memberikan penurunan pada nilai IC50. Ekstrak tunggal daun pedada memiliki nilai IC50 yang masih lebih rendah jika dibandingkan dengan nilai IC50. hasil variasi kombinasi ekstrak. Sedangkan untuk ekstrak rimpang kencur, nilai IC50 hasil variasi kombinasi jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan ekstrak Ketika beberapa senyawa yang memiliki aktivitas antioksidan digabungkan, interaksi yang berbeda dapat terjadi yang memperlihatkan berbagai efek antara lain yaitu sinergis, antagonis atau aditif (Nedamani and Mahoonak, 2. Efek sinergis yaitu efek gabungan dari dua senyawa jauh JIFFK Vol. No. Desember 2024. Hal. ISSN: 1693-7899 Nilai IC50 lebih besar daripada jumlah efek dari masing-masing senyawa tunggal, sedangkan efek aditif yaitu efek gabungan dari dua atau lebih senyawa sama dengan jumlah efek masing-masing senyawa dan efek antagonis merupakan kebalikan dari sinergisme (Sonam and Guleria, 2. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kombinasi ekstrak daun pedada dan rimpang kencur cenderung merupakan efek Hasil pengukuran IC50 dari formula serum kombinasi F1. F2 dan F3 dapat dilihat pada Gambar 2 berikut. STANDAR Sampel uji Gambar 2. Diagram nilai IC50 formula serum kombinasi ekstrak daun pedada dan rimpang Berdasarkan hasil pengukuran serum kombinasi ekstrak daun pedada dan rimpang kencur dengan perbandingan 2:1 memiliki nilai IC50 yang lebih baik dibandingkan kombinasi 3:1. Pada serum kombinasi ekstrak 3:1 jumlah ekstrak daun pedada yang digunakan lebih banyak, hal ini berpengaruh pada kelarutan kombinasi ekstrak dalam sediaan. Semakin banyak jumlah ekstrak daun pedada yang ditambahkan dalam sediaan menyebabkan ekstrak menjadi sulit larut yang secara tidak langsung akan mempengaruhi dan mengurangi jumlah ekstrak yang bisa terlarut dalam sediaan. Dari hasil pengukuran aktivitas antioksidan, dipilih serum kombinasi yang memberikan aktivitas antioksidan lebih kuat (IC50 renda. untuk digunakan dalam uji stabilitas sediaan serum. Sifat fisik dan stabilitas merupakan hal penting yang harus diperhatikan dalam memformulasikan serum wajah untuk menjamin kualitasnya. Pengental yang digunakan dalam formula sediaan serum adalah natrosol atau hidroksietil selulosa. Natrosol merupakan zat pengental yang mudah larut dalam air dingin atau panas. Natrosol bekerja pada rentang pH yang luas dan menunjukkan toleransi garam yang tinggi serta memiliki kompatibilitas surfaktan yang luas, sehingga memungkinkan menghasilkan formulasi yang jernih. Penggunaan natrosol pada proses pembuatan sediaan serum, mula-mula harus diayak perlahan-lahan ke dalam pusaran air yang diaduk dengan kuat (Hercules Inc. Penggunaan gliserin dalam formula berfungsi sebagai emulsifier. Propilen glikol pada formula berfungsi sebagai peningkat kelarutan dan humektan, yang memiliki sifat tidak lengket dan sebagai pelicin yang baik. Penambahan DMSO dalam formula untuk meningkatkan kelarutan bahan ekstrak yang ditambahkan. Metil paraben atau nipagin pada formula berfungsi sebagai pengawet dalam sediaan serum. Hasil evaluasi pH, viskositas, homogenitas dan daya sebar sediaan serum dapat dilihat pada Tabel Vi berikut: Tabel Vi. Hasil evaluasi formulasi serum Sediaan Rata-rata 23 A 0,03 Rata-rata Viskositas . 655 A 21,21 Homogenitas Daya sebar . Homogen 5,83 A 0,01 1136 A 4. Homogen 0- 9,0 72 A 0,03 1810 A 14,14 Homogen 9-9,8 43 A 0,11 2776 A 33,94 Homogen 10-10,8 Formulasi Serum Wajah KombinasiA(Wardhani dkk. , 2. ISSN: 1693-7899 Hasil pengamatan organoleptis formula blanko F0 menghasilkan sediaan serum tidak berwarna dan tidak berbau. Untuk formula sediaan serum kombinasi ekstrak F2 dan F3, menghasilkan warna hijau, bau khas ekstrak dan bentuk yang agak kental. Hasil pengujian nilai pH formula sediaan F0. F2 dan F3 memenuhi persyaratan pH kulit 4,5-6,5. Nilai pH penting untuk mengetahui tingkat keasaman dari sediaan serum, apabila terlalu asam akan menimbulkan iritasi Sediaan serum formula F0. F2 dan F3 dapat dilihat pada gambar 3 berikut: Gambar 3. Sediaan serum formula F0. F2 dan F3 Studi stabilitas ditujukan untuk menilai kemampuan suatu produk untuk mempertahankan kondisi fisik, sifat kimia dan mikrobiologi, serta fungsi dan sifat sensorik bila disimpan dan digunakan dalam kondisi tertentu (Dayan, 2. Pemilihan metode uji stabilitas yang sesuai perlu diperhatikan untuk memantau perubahan produk dari waktu ke waktu. Pengukuran real time dapat dilakukan dengan pengamatan secara visual, teknik sensorik, atau penggunaan teknik pengukuran yang berbeda. Grafik perbandingan hubungan antara nilai pH sediaan serum semua formula F0. F2 dan F3 dengan lama penyimpanan pada beberapa variasi suhu penyimpanan dapat dilihat pada Gambar 3 Suhu penyimpanan selama 3 bulan Gambar 3. Grafik pengukuran pH formula F0. F2 dan F3 selama 3 bulan Berdasarkan hasil uji Anova nilai sig. 0,00 > 0,05 untuk uji pH formula F0. F2 dan F3 di semua suhu penyimpanan . AC, 28AC dan 40AC) menunjukkan bahwa ada pengaruh waktu penyimpanan terhadap pH sediaan serum. Pengukuran nilai viskositas sediaan serum untuk semua formula F0. F2 dan F3 dilakukan selama 3 bulan dapat dilihat pada Gambar 4 berikut: JIFFK Vol. No. Desember 2024. Hal. ISSN: 1693-7899 Serum F2 Viskositas . Viskositas . Serum F0 Bulan 0 Suhu 28AC Bulan 1 Bulan 2 Suhu 5AC Bulan 3 Bulan 0 Bulan 1 Suhu 5AC Suhu 40AC Bulan 2 Suhu 28 AC Bulan 3 Suhu 40AC Viskositas . Serum F3 Bulan 0 Bulan 1 Suhu 5AC Bulan 2 Suhu 28AC Bulan 3 Suhu 40AC Gambar 4. Grafik pengukuran viskositas serum F0. F2 dan F3 selama 3 bulan Berdasarkan hasil uji Anova nilai sig. 0,00< 0,05 untuk uji viskositas formula F0 di semua suhu penyimpanan, menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh waktu penyimpanan terhadap viskositas sediaan serum. Sedangkan untuk formula F2 dan F3 nilai sig. 0,00> 0,05 untuk uji viskositas di semua suhu penyimpanan menunjukkan bahwa ada pengaruh waktu penyimpanan terhadap viskositas sediaan serum. Berdasarkan hasil pengamatan homogenitas formula F0 di semua suhu penyimpanan dari bulan ke 1 sampai 3, menunjukkan sediaan serum homogen. Untuk formula F2 dan F3 di semua suhu penyimpanan pada bulan ke 1 sediaan serum homogen, akan tetapi mulai memasuki bulan ke 2 sampai ke 3 terjadi pemisahan dan menyebabkan sediaan serum tidak homogen. Pengaruh penyimpanan pada suhu yang tinggi menyebabkan pelarut yang terdapat dalam sediaan menguap, sehingga menyebabkan sediaan menjadi lebih kental dan viskositas meningkat. Pada formula F3 konsentrasi penambahan ektrak daun pedada lebih banyak dari formula F2 yang memberikan pengaruh pada kenaikan nilai viskositas sediaan serum. Hasil pengamatan uji iritasi sediaan serum F0. F2 dan F3 dapat dilihat pada Tabel IX berikut: Tabel IX. Hasil indeks iritasi pada kulit kelinci Kelompok Uji Aquades Formula F0 Formula F2 Formula F3 Waktu Uji iritasi dilakukan untuk menentukan adanya efek iritasi pada kulit serta untuk menilai dan mengevaluasi karakteristik suatu zat apabila terpapar pada Penggunaan bahan-bahan kimia pada sediaan berpotensi menyebabkan iritasi kulit, seperti Formulasi Serum Wajah KombinasiA(Wardhani dkk. , 2. ISSN: 1693-7899 metil paraben yang dapat menyebabkan iritasi kulit dan sensitisasi jika terkena kulit serta dapat menyebabkan iritasi mata dan iritasi saluran pernapasan (Rahman H. Ayu P. , 2. Pemeriksaan respon kulit dievaluasi pada jam ke-1, 24, 36, dan 72 jam setelah pemberian sediaan Pengamatan adanya gejala toksik yang timbul yaitu iritasi primer yang berupa eritema dan edema, kemudian hasil tersebut diberikan skor 0 sampai dengan 4 (OECD, 2. Berdasarkan hasil pengamatan dan perhitungan pada aquades, basis serum F0, serum kombinasi ekstrak daun pedada dan rimpang kencur formula F2 dan F3 memiliki indeks iritasi dengan nilai 0 yang menunjukkan tidak mengiritasi. Tidak terlihat adanya eritem dan udema dari pengamatan setelah 1 sampai 72 jam. Hal ini berarti semua komponen yang digunakan dalam formula serum kombinasi ekstrak daun pedada dan rimpang kencur aman digunakan pada kulit. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian didapatkan kombinasi terbaik ekstrak daun pedada dan rimpang kencur sebagai antioksidan adalah perbandingan 3:1 yang memberikan nilai IC50 sebesar 15,74 ppm. Formula serum kombinasi ekstrak daun pedada dan rimpang kencur memiliki aktivitas antioksidan. Serum formula F2 memiliki nilai IC50 yang lebih baik dibandingkan dengan formula F3 yaitu sebesar 394,98 ppm. Formula serum wajah kombinasi ekstrak daun pedada dan rimpang kencur F2 dan F3 tidak menunjukkan adanya iritasi pada uji iritasi akut dermal pada hewan kelinci. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada Direktorat Pengelolaan Laboratorium, fasilitas riset dan kawasan sains teknologi. BRIN. DAFTAR PUSTAKA