Asal-usul Nama Tempat di Kecamatan Teluk Segara Kota Bengkulu (The Origins of Place Names in Teluk Segara District. Bengkulu Cit. 1Hendro Ade Saputra *, 2Heti Osvita, 3Yefi Osvita Sari Corresponding Author: * hendro. saputra90@gmail. 1 Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno Bengkulu 2 SMPN 19 Kota Bengkulu 3 SDN 105 Kabupaten Seluma Article history Received 11 Mei 2025 Revised 20 Mei 2025 Accepted 31 Mei 2022 Abstract This study aims to reveal the meanings and origins of toponyms . lace name. in Teluk Segara District. Bengkulu City. The analysis of toponyms employs Sudaryat theoretical framework, which physical-geographical embodiment, social interaction, and cultural values and heritage, along with FriesAo semantic theory to explore the linguistic Data were collected through observation and in-depth interviews with traditional leaders and local community members. The findings indicate that the names of the urban villages in Teluk Segara reflect the history, geographical conditions, social interactions, and diverse cultural values of the community. Place names also capture collective experiences and cultural heritage through language. This study contributes to a deeper understanding of the relationship between language, culture, and social environment in place naming, and underscores the importance of preserving local cultural heritage. Keywords: Toponymy. Teluk Segara. Anthropolinguistics. Local Culture. Place Naming Abstrak Penelitian ini bertujuan mengungkap makna dan asal-usul toponimi . enamaan tempa. di Kecamatan Teluk Segara. Kota Bengkulu. Analisis toponimi menggunakan kerangka teori Sudaryat, yang membagi aspek toponimi menjadi perwujudan . isik-geografi. , kemasyarakatan . nteraksi sosia. , dan kebudayaan . ilai dan warisan buday. , serta teori makna Fries menggali dimensi linguistiknya. Data diperoleh melalui observasi dan wawancara mendalam dengan tokoh adat dan masyarakat Hasil penelitian menunjukkan bahwa nama-nama kelurahan di Kecamatan Teluk Segara merefleksikan sejarah, kondisi geografis, interaksi sosial, serta nilai budaya masyarakat yang beragam. Penamaan tempat juga merekam pengalaman kolektif dan warisan budaya melalui bahasa. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam memahami hubungan antara bahasa, budaya, dan lingkungan sosial dalam penamaan tempat serta menegaskan pentingnya pelestarian warisan budaya lokal. https://online-journal. id/jla/index JLA Vol. No. Mei 2025, p. Kata Kunci: Toponimi. Teluk Segara. Antropolinguistik. Budaya Lokal. Penamaan Tempat PENDAHULUAN Bahasa merupakan cerminan budaya yang tak terpisahkan dari kehidupan Dalam konteks lokal, nama-nama tempat atau toponimi menjadi salah satu manifestasi penting dari hubungan antara bahasa dan budaya. Toponimi tidak hanya berfungsi sebagai penanda geografis, tetapi juga sebagai sumber informasi kultural yang mencerminkan identitas, sejarah, dan nilai-nilai masyarakat setempat (Putri et al. , 2024. Septiani et al. , 2020. Syafii et al. , 2. Oleh karena itu, penamaan tempat tidak bisa dilepaskan dari realitas sosial, pengalaman kolektif, dan persepsi masyarakat terhadap ruang dan lingkungan mereka. Di Kecamatan Teluk Segara. Kota Bengkulu, nama-nama tempat tidak sekadar berfungsi sebagai penanda geografis, melainkan juga merepresentasikan identitas budaya yang melekat dalam memori kolektif masyarakat (Saputra. , & Manjato. Penamaan tersebut umumnya terbentuk dari sejarah lokal, peristiwa penting, serta interaksi masyarakat dengan lingkungan alam maupun sosial. Namun demikian, seiring dengan perkembangan zaman dan derasnya arus modernisasi, terjadi pergeseran nilai budaya yang berdampak pada menurunnya pemahaman generasi muda terhadap makna historis dan asal-usul nama-nama tempat tersebut. Fenomena ini dapat mengakibatkan hilangnya warisan budaya yang terkandung dalam toponimi, karena ketika nama-nama tempat kehilangan makna di dalam kehidupan masyarakat, maka nilai-nilai budaya yang diwariskan melalui penamaan tersebut pun ikut tergerus dan terlupakan. Kondisi serupa tidak hanya terjadi di Teluk Segara, melainkan juga ditemukan di wilayah lain. Penelitian Anggraini et al. di Kecamatan Giri Mulya. Kabupaten Bengkulu Utara, menunjukkan bahwa penamaan dusun dan desa memiliki keterkaitan erat dengan aktivitas masyarakat, kondisi sosial, serta harapan kolektif terhadap masa Ketika generasi muda tidak lagi memahami latar belakang penamaan tersebut, maka nilai-nilai budaya dan pengetahuan lokal yang terkandung di dalamnya berpotensi hilang. Dengan demikian, penting adanya kajian ilmiah yang mendokumentasikan dan menganalisis makna toponimi sebagai upaya pelestarian warisan budaya lokal serta sebagai dasar penguatan identitas kultural masyarakat. Untuk memahami lebih dalam fenomena ini, pendekatan antropolinguistik menjadi kerangka teori yang sangat relevan. Antropolinguistik memandang bahasa sebagai praktik budaya yang sarat dengan makna sosial dan simbolik, yang tidak hanya merefleksikan realitas tetapi juga membentuk pandangan hidup masyarakat (Sibarani. Muhassin, 2. Dalam konteks toponimi, bahasa berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan manusia dengan ruang dan kebudayaan mereka. Pendekatan ini juga sejalan dengan hipotesis relativitas linguistik dari Whorf (Hidir. , & Malik. , yang menegaskan bahwa bahasa tidak hanya mencerminkan dunia, tetapi turut membentuk cara masyarakat memahami dan menafsirkan lingkungan mereka. Berbagai penelitian sebelumnya telah menyoroti dimensi budaya dan sejarah yang terkandung dalam toponimi. Sebagai contoh. Suryati . mengkaji namanama tempat di Jawa Tengah dan menemukan bahwa toponimi sarat dengan simbolsimbol religius dan nilai-nilai ekologis yang mencerminkan hubungan spiritual serta kedekatan masyarakat dengan alam. Penelitian serupa juga dilakukan oleh Yulianti. Nurhayani, dan Hamamah . yang mengeksplorasi leksikon toponimik berbasis budaya sungai di Kalimantan Tengah melalui pendekatan etnosemantik, menunjukkan https://online-journal. id/jla/index JLA Vol. No. Mei 2025, p. bahwa nama tempat mengandung representasi nilai-nilai budaya dan kearifan lokal masyarakat sungai. Selaras dengan itu. Yayuk . meneliti karakteristik budaya masyarakat Banjarmasin dan Nagara yang tercermin dalam leksikon toponimi, mengungkap bahwa penamaan tempat erat kaitannya dengan persepsi masyarakat terhadap lingkungan perairan yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan Ketiga penelitian tersebut menunjukkan pentingnya pendekatan antropolinguistik dan etnosemantik dalam memahami fungsi toponimi sebagai cermin budaya lokal. Namun demikian, belum ada penelitian yang secara khusus mengkaji toponimi berbasis bahasa Melayu Kota di Kecamatan Teluk Segara. Kota Bengkulu. Ketiadaan kajian tersebut menandai adanya celah penting dalam literatur yang menjadi dasar perlunya penelitian ini dilakukan untuk melengkapi pemahaman akademik tentang toponimi dan identitas kultural masyarakat lokal. Minimnya dokumentasi ilmiah tentang toponimi di Teluk Segara dan penurunan pemahaman generasi muda terhadap nama-nama tempat tersebut menandai urgensi pelestarian budaya dan bahasa lokal. Tanpa kajian mendalam dan dokumentasi yang sistematis, nilai budaya yang terkandung dalam toponimi berpotensi hilang dan terlupakan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengungkap makna kultural dari nama-nama tempat di Kecamatan Teluk Segara serta mengelompokkan aspek-aspek toponimi berdasarkan kategori budaya yang ditemukan dalam kajian lapangan. Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap pengembangan ilmu antropolinguistik dan studi toponimi lokal di Indonesia, khususnya dalam konteks bahasa dan budaya Melayu Kota Bengkulu. Selain itu, secara praktis hasil penelitian ini dapat menjadi sumber referensi bagi pelestarian budaya lokal, bahan ajar muatan lokal di sekolah, serta acuan bagi pemerintah daerah dalam menyusun kebijakan berbasis identitas kultural. Penelitian ini juga merupakan upaya dokumentasi yang konkret, yang diharapkan dapat membantu masyarakat untuk kembali mengenali dan menghargai warisan budaya leluhur melalui pemahaman mendalam terhadap makna nama-nama tempat di sekitar mereka. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian lapangan dengan pendekatan deskriptif kualitatif yang bertujuan mengungkap makna leksikal dan kultural dari nama-nama tempat . di Kecamatan Teluk Segara. Kota Bengkulu. Pendekatan ini dipilih karena sesuai dengan karakteristik objek kajian yang berkaitan erat dengan bahasa, budaya, dan sejarah lokal masyarakat (Murdiyanto, 2020. Moleong, 2. Lokasi penelitian mencakup sejumlah kelurahan yang dipilih berdasarkan keberagaman unsur penamaan yang mencerminkan identitas lokal. Data diperoleh melalui wawancara langsung dan observasi partisipatif di masyarakat. Informan dipilih secara purposive (Nasir, 2. , yaitu warga yang memiliki pengetahuan mengenai sejarah dan makna nama-nama tempat, seperti sesepuh, tokoh adat, dan tokoh masyarakat. Mengingat fokus penelitian lebih menekankan pada makna leksikal dan kultural dari nama kelurahan, jumlah informan disesuaikan dengan jumlah kelurahan yang terdapat di Kecamatan Teluk Segara. Sumber data dalam penelitian ini terdiri atas data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara langsung dengan informan yang dipilih secara purposive, serta catatan lapangan yang dibuat selama proses observasi. Pendekatan ini memberikan data yang mendalam dan kontekstual terkait makna leksikal dan kultural nama-nama tempat di Kecamatan Teluk Segara. Sedangkan data https://online-journal. id/jla/index JLA Vol. No. Mei 2025, p. sekunder dikumpulkan dari dokumen arsip, literatur sejarah, serta publikasi relevan yang mendukung pemahaman terhadap konteks budaya dan sejarah local (Creswell. Yin, 2. Keabsahan data dalam penelitian ini menerapkan triangulasi sumber dan teknik, yang melibatkan pengecekan dan pembandingan data dari berbagai sumber serta penggunaan beberapa metode pengumpulan data guna memastikan konsistensi dan keakuratan informasi. Selain itu, validasi data juga dilakukan melalui konsultasi dan diskusi dengan ahli budaya lokal yang memiliki pemahaman mendalam mengenai konteks sosial, sejarah, dan makna kultural nama-nama tempat yang diteliti. Pendekatan ini sesuai dengan prinsip validasi dalam penelitian kualitatif untuk meminimalkan bias dan meningkatkan kredibilitas hasil penelitian (Arikunto, 2013. Sugiyono, 2. Selanjutnya, data dianalisis secara induktif melalui tahap reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan (Miles. Huberman, & Saldana, 2. Penafsiran data mengacu pada kerangka antropolinguistik yang memandang bahasa sebagai representasi budaya dan konteks sosial masyarakat (Andiopenta, 2. Klasifikasi bentuk dan makna toponimi didasarkan pada teori semantik yang dikemukakan oleh Sudaryat . , sedangkan analisis makna leksikal serta fungsi linguistik nama-nama tempat mengacu pada teori makna dari Fries . alam Halliday & Matthiessen, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Penamaan tempat di Kecamatan Teluk Segara. Kota Bengkulu, mencerminkan keterkaitan erat antara aspek bahasa, nilai budaya, dan realitas sosial masyarakat. Mengacu pada kerangka antropolinguistik, toponimi dipahami sebagai representasi dari pengalaman kolektif dan identitas lokal. Konsep ini sejalan dengan studi Pertiwi. Suyanto, & Astuti . yang menunjukkan bahwa toponimi memuat aspek perwujudan, aspek kemasyarakatan, dan aspek kebudayaan dalam penamaan desadesa di Kabupaten Ponorogo. Hal senada juga ditemukan oleh Gultom & Fardian . pada nama kampung di Kabupaten Samosir. Analisis penamaan tempat ini dilakukan dengan menggunakan teori semantik Sudaryat . yang membagi makna penamaan menjadi tiga aspek utama, yaitu: . aspek perwujudan . isik-geografi. , . aspek kemasyarakatan . nteraksi sosia. , dan . aspek kebudayaan . ilai dan warisan buday. Kerangka tiga aspek ini banyak diadopsi dalam riset antropolinguistik: misalnya. Gusmiarnum & Suyanto . meneliti desa di Kecamatan Pucakwangi. Kabupaten Pati, dan menerapkan tiga aspek serupa dalam klasifikasi toponimi. Selain itu, studi Tambunan dkk . di Kalimantan Timur juga menemukan pola aspek yang sama pada desa-desa di Kecamatan Sangatta. Selain itu, makna leksikal dan fungsi linguistik nama-nama tersebut dianalisis berdasarkan teori makna Fries (Halliday & Matthiessen, 2. untuk mengungkap dimensi linguistik yang menyatu dalam struktur toponimi. Makna Leksikal dan Makna Kultural Penamaan Tempat di Kecamatan Teluk Segara 1 Kelurahan Berkas Menurut Junaidi Zul, pendiri Balai Adat Rajo Penghulu dan Ketua Adat Kelurahan Berkas, nama AuKelurahan BerkasAy bukan hanya label geografis, melainkan cerminan sejarah panjang. Nama ini berasal dari kata "Barkas" dalam bahasa India, yang berarti istimewa atau spesial. Pada abad ke-16, wilayah ini adalah pusat utama kapal laut di Bengkulu sebelum Pulau Baai terkenal. Para pelaut India menggunakan Barkas sebagai pintu gerbang perdagangan maritim. Nama "Barkas" yang identik dengan aktivitas maritim ini, lambat laun berubah menjadi "Berkas" karena https://online-journal. id/jla/index JLA Vol. No. Mei 2025, p. penyesuaian bahasa lokal (Rustinar & Kusmiarti, 2021. Rustinar et al. , 2. Meskipun nama berubah, esensi sejarah tetap hidup. Kelurahan Berkas terus membawa jejak sejarah yang kaya, menjadi simbol migrasi, perdagangan, dan interaksi budaya yang dinamis. Nama ini mengingatkan kita pada pentingnya menjaga warisan sejarah dan budaya untuk generasi mendatang. Sesuai dengan teori Sudaryat . , menekankan bahwa ada tiga aspek dalam penamaan tempat atau toponimi, yaitu . aspek perwujudan, . aspek kemasyarakatan, dan . aspek kebudayaan. Ketiga aspek ini sangat mempengaruhi cara tempat diberi nama dalam masyarakat. Dalam cerita di atas yaitu asal nama tempat Berkas masuk dalam kategori aspek Kemasyarakatan karena memiliki unsur interaksi sosial masyarakat di tempat 2 Kelurahan Kebun Keling Asal muasal nama Kebun Keling di Kota Bengkulu berkaitan dengan kedatangan banyak orang India ke Indonesia pada zaman dahulu. Wilayah yang sekarang dikenal sebagai Kebun Keling, dulunya adalah lahan tidak terurus di Kecamatan Teluk Segara, penuh ilalang tinggi dan hewan liar. Para pendatang India membersihkan wilayah ini, mengubahnya menjadi kebun yang subur dan layak huni. Nama "Kebun Keling" berasal dari kata "kebun" karena lahan yang ditanami, dan "keling", istilah lokal untuk orang India berkulit gelap. Nama ini tidak hanya merujuk pada transformasi fisik wilayah tersebut, tetapi juga sebagai penghormatan terhadap identitas para pendatang India. Mereka membentuk komunitas yang kokoh dan berkontribusi terhadap perkembangan wilayah tersebut. Kebun Keling menjadi simbol sejarah dan perjuangan komunitas India dalam membangun kehidupan baru di Bengkulu. Hingga kini. Kebun Keling tetap menjadi bagian penting dari sejarah dan identitas Kota Bengkulu, mengingatkan kita akan warisan sejarah dan kontribusi para pendatang India. 3 Kelurahan Malabro Menurut Bapak Junaidi Zul, nama wilayah Malabro berasal dari Benteng Fort Malborough di Kota Bengkulu, yang dibangun antara tahun 1714-1719 oleh Gubernur Joseph Callet. Benteng dengan bentuk mirip kura-kura ini memiliki kepala menghadap wilayah yang kini disebut Malabro. Karena kesulitan pengucapan nama "Malborough" oleh penduduk lokal, nama tersebut diadaptasi menjadi "Malabro," yang lebih sesuai dengan fonologi bahasa setempat. Nama ini kemudian diterima secara resmi untuk wilayah tersebut. Benteng Fort Malborough tidak hanya merupakan simbol kekuatan Inggris di masa kolonial, tetapi juga menjadi bagian penting dari identitas lokal dan sejarah Bengkulu. Menurut teori Sudaryat . , penamaan tempat atau toponimi mencakup tiga aspek: . aspek perwujudan, . aspek kemasyarakatan, dan . aspek Ketiga aspek ini sangat mempengaruhi cara tempat diberi nama dalam Dalam cerita tentang asal usul nama tempat Malabro, nama tersebut termasuk dalam kategori aspek kebudayaan, khususnya unsur folklor. 4 Kelurahan Pasar Baru Menurut informasi, asal usul Pasar Baru bermula dari kebutuhan masyarakat Barkas, kini dikenal sebagai Kelurahan Berkas, untuk memiliki tempat yang lebih strategis untuk aktivitas jual beli. Masyarakat Berkas memutuskan untuk pindah dan mendirikan pasar di lokasi baru dengan harapan dapat menarik banyak pengunjung dan meningkatkan perekonomian mereka. Proses pemindahan dan pendirian pasar ini dipertimbangkan dengan matang, termasuk dukungan dari pemerintah lokal untuk https://online-journal. id/jla/index JLA Vol. No. Mei 2025, p. menyediakan fasilitas dasar seperti infrastruktur, air bersih, dan keamanan. Pasar Baru kemudian dikenal sebagai pusat aktivitas ekonomi dan simbol pertumbuhan ekonomi daerah. Cerita ini mencerminkan peran aktif masyarakat dalam membangun komunitas dan menunjukkan bahwa inisiatif lokal dapat membawa perubahan positif dan berkelanjutan. Nama Pasar Baru, menurut teori Sudaryat, mencerminkan aspek kemasyarakatan, khususnya interaksi sosial masyarakat. 5 Kelurahan Pintu Batu Wilayah Pintu Batu dinamai demikian karena di zaman kuno terdapat kubu pertahanan yang memiliki pintu utama terbuat dari batu, dibangun oleh tentara Jepang selama pendudukan di Bengkulu. Benteng ini, dengan struktur lobang dan pintu batu, menandakan kekuatan militer Jepang dan peran strategis wilayah tersebut. Kubu benteng serupa dapat ditemukan di berbagai lokasi di Bengkulu, seperti Tapak Paderi dan Kampung Kelawi, yang menunjukkan keberadaan dan kekuatan militer Jepang di daerah tersebut. Nama "Pintu Batu" dipilih sebagai penghormatan atas sejarah penting dan simbol kekuatan di tempat ini. Menurut teori Sudaryat, penamaan Pintu Batu termasuk dalam aspek perwujudan, mencerminkan unsur alam dari sejarahnya. Menurut teori Sudaryat . , penamaan tempat atau toponimi mencakup tiga aspek: . aspek perwujudan, . aspek kemasyarakatan, dan . aspek kebudayaan. Ketiga aspek ini sangat mempengaruhi cara tempat dinamai dalam masyarakat. Dalam cerita tentang asal usul nama tempat Pintu Batu, nama tersebut termasuk dalam kategori aspek perwujudan, khususnya unsur alam. 6 Kelurahan Sumur Meleleh Menurut Bapak Junaidi Zul, wilayah Sumur Meleleh dikenal dengan sumursumur yang menghasilkan mata air melimpah tanpa henti, meski terletak dekat pantai dan tidak memiliki rasa asin seperti air laut. Bukti fisik sumur-sumur ini masih bisa ditemukan di beberapa lokasi, seperti dekat SMK di Jalan Semarak dan Klinik Pratama Sint Corolus, serta di wilayah Horizon yang memiliki batuan yang terus menetes air. Sumur-sumur ini bukan hanya penting sebagai sumber air bagi masyarakat, tetapi juga sebagai simbol kekayaan alam dan sejarah lokal yang harus dilestarikan. Keberadaan mereka menunjukkan keajaiban alam dan hubungan harmonis antara manusia dan lingkungan di Sumur Meleleh. Berdasarkan teori Sudaryat . , penamaan tempat atau toponimi melibatkan tiga aspek: . aspek perwujudan, . aspek kemasyarakatan, dan . aspek kebudayaan. Ketiga aspek ini sangat mempengaruhi bagaimana tempat dinamai dalam masyarakat. Dalam cerita tentang asal usul nama tempat Sumur Meleleh, nama tersebut tergolong dalam aspek perwujudan, terutama unsur wujud air. 7 Kelurahan Kebun Ros Menurut Bapak Junaidi Zul, nama Kebun Ros berawal dari masa lalu ketika wilayah tersebut dipenuhi kebun bunga ros yang menciptakan pemandangan mempesona dengan berbagai warna dan jenis bunga. Keindahan ini menarik perhatian masyarakat setempat yang kemudian mengembangkan minat dan dedikasi dalam merawat bunga ros. Usaha mereka membuahkan hasil dengan kebun yang penuh bunga ros memikat hati siapa saja yang melihatnya. Nama Kebun Ros pun muncul sebagai simbol keindahan dan ketekunan masyarakat, menjadi ciri khas wilayah Kecamatan Teluk Segara. Hingga kini, nama tersebut mencerminkan warisan budaya https://online-journal. id/jla/index JLA Vol. No. Mei 2025, p. dan hubungan erat antara manusia dan alam, mengingatkan kita akan pentingnya menjaga dan melestarikan lingkungan sebagai bagian dari identitas budaya. Menurut teori Sudaryat . , penamaan tempat atau toponimi melibatkan tiga aspek: . aspek perwujudan, . aspek kemasyarakatan, dan . aspek Ketiga aspek ini memiliki pengaruh besar terhadap cara tempat dinamai dalam masyarakat. Dalam cerita tentang asal usul nama tempat Kebun Ros, nama tersebut termasuk dalam aspek perwujudan, khususnya unsur flora. 8 Kelurahan Tengah Padang Menurut Bapak Junaidi Zul, nama "Tengah Padang" berasal dari arti katakatanya. "Tengah" menggambarkan posisi wilayah di tengah area, sedangkan "padang" mencerminkan hamparan luas yang datar dan terbuka, mengacu pada kondisi geografis masa lalu yang berupa padang rumput. Nama ini mencerminkan posisi strategis sebagai pusat kegiatan dan simbol masa lalu, kini telah berubah seiring perkembangan ekonomi dan sosial. Selain itu, "Tengah Padang" juga mencerminkan nilai budaya dan sejarah, menyimpan cerita perkembangan dari padang rumput menjadi komunitas dinamis, dan menghargai warisan alam yang integral dengan identitas daerah tersebut. Meskipun modernisasi telah mengubah wajah Tengah Padang, semangat dan esensi nama tersebut tetap hidup dalam ingatan kolektif masyarakat. Ini menunjukkan bagaimana sejarah dan tradisi diabadikan melalui penamaan tempat, memberikan makna mendalam dan kontinuitas dari generasi ke generasi. Penting bagi penduduk dan pemerintah setempat untuk melestarikan makna di balik nama Tengah Padang melalui pendidikan, penulisan sejarah lokal, dan pelestarian situs-situs penting. Dengan demikian, nama ini tidak hanya mencerminkan kondisi geografis awal, tetapi juga perjalanan sejarah dan transformasi sosial masyarakat setempat. Nama "Tengah Padang" menjadi simbol ketekunan dan penghargaan terhadap lingkungan, serta identitas masyarakat yang terus menghormati dan merayakan warisan budaya Menurut teori Sudaryat, penamaan tempat melibatkan aspek perwujudan, kemasyarakatan, dan kebudayaan, dan dalam kasus Tengah Padang, nama tersebut termasuk dalam aspek perwujudan, khususnya unsur pola pemukiman. 9 Kelurahan Pasar Melintang Pasar Melintang adalah pasar tradisional modern yang terletak di wilayah strategis antara Pintu Batu dan Kebun Grand. Namanya diambil dari posisi pasar yang seolah "melintang" di antara dua wilayah tersebut, berfungsi sebagai "penghalang" bagi mobilitas masyarakat sekitar. Meskipun sering menimbulkan kemacetan lalu lintas, pasar ini memainkan peran penting secara ekonomis sebagai pusat perdagangan utama, menawarkan berbagai barang dengan harga bersaing dan menciptakan lapangan pekerjaan. Selain itu. Pasar Melintang juga berfungsi sebagai pusat interaksi sosial, memperkuat kohesi masyarakat lokal. Dengan demikian, meskipun letaknya mungkin menghambat aksesibilitas, pasar ini tetap menjadi elemen vital dalam kehidupan ekonomi dan sosial daerah sekitarnya. Menurut Sudaryat . , penamaan tempat atau toponimi mencakup tiga aspek: . aspek perwujudan, . aspek kemasyarakatan, dan . aspek kebudayaan. Ketiga aspek ini memiliki dampak besar terhadap cara tempat dinamai dalam Dalam cerita tentang asal usul nama tempat Pasar Melintang, nama tersebut termasuk dalam aspek kemasyarakatan, khususnya unsur interaksi sosial. https://online-journal. id/jla/index JLA Vol. No. Mei 2025, p. 10 Kelurahan Kampung Bali Nama "Kampung Bali" berasal dari makna kata-katanya. "Kampung" merujuk pada wilayah yang telah dihuni banyak orang, sedangkan "Bali" merujuk pada orangorang Bali yang menetap di Bengkulu. Kampung ini didirikan oleh penduduk Bali yang membawa serta budaya dan tradisi mereka, termasuk mendirikan pura dan melestarikan upacara adat Bali. Dengan berjalannya waktu. Kampung Bali menjadi pusat kebudayaan Bali di Bengkulu, menampilkan berbagai perayaan adat seperti Galungan dan Kuningan serta tarian tradisional Bali. Nama "Kampung Bali" tidak hanya menandakan lokasi geografis, tetapi juga mencerminkan keragaman budaya dan sejarah migrasi, serta pentingnya menjaga warisan budaya di tengah perubahan Sudaryat . menjelaskan bahwa penamaan tempat atau toponimi melibatkan tiga aspek: . aspek perwujudan, . aspek kemasyarakatan, dan . aspek kebudayaan. Ketiga aspek ini memiliki dampak besar terhadap cara tempat diberi nama dalam masyarakat. Dalam cerita tentang asal usul nama tempat Kampung Bali, nama tersebut termasuk dalam aspek perwujudan, terutama unsur pola 11 Kelurahan Bajak Nama "Bajak" berasal dari alat pertanian yang digunakan untuk membajak tanah sebelum menanam padi. Ketika orang Sentot dari Jawa datang dan menetap di Kelurahan Bajak, mereka memperkenalkan teknik pertanian ini yang meningkatkan kesuburan tanah dan menarik perhatian penduduk lokal. Nama "Bajak" mencerminkan kerja keras dan ketahanan pendatang dalam membangun kehidupan baru serta menjadi simbol sejarah dan warisan budaya yang mengajarkan nilai ketekunan dan Sebaliknya, nama "Jitra" berasal dari kata "jirat," yang berarti makam atau kuburan, mengaitkan wilayah tersebut dengan nilai-nilai keagamaan dan tradisional serta sejarah atau legenda lokal. Nama "Jitra" mencerminkan penghormatan terhadap leluhur dan dimensi spiritual, berfungsi sebagai penanda geografis sekaligus warisan budaya yang harus dilestarikan dan dihargai. Sudaryat . , menguraikan bahwa penamaan tempat atau toponimi melibatkan tiga aspek: . aspek perwujudan, . aspek kemasyarakatan, dan . aspek kebudayaan. Ketiga aspek ini memiliki dampak besar terhadap cara tempat diberi nama dalam masyarakat. Dalam cerita tentang asal usul nama tempat Jitra, nama tersebut termasuk dalam aspek perwujudan dengan unsur wujud rupa bumi. 12 Kelurahan Pondok Besi Menurut Fajri Kurniawan. Ketua Adat Pondok Besi, nama "Pondok Besi" menyimpan sejarah panjang yang berasal dari zaman penjajahan Belanda. Sebagai salah satu wilayah tertua di Kota Bengkulu. Pondok Besi pernah menjadi pusat industri dengan asrama polisi militer dan pondok pembuatan kapal besi yang penting untuk transportasi dan operasi militer kolonial. Meskipun industri kapal besi kini tidak lagi dominan, nama Pondok Besi tetap melambangkan warisan budaya dan sejarah maritim Bengkulu. Memelihara cerita di balik nama ini penting untuk menghormati kontribusi masyarakat dan industri masa lalu, serta dapat menjadi daya tarik wisata yang menarik, memberikan manfaat ekonomi dan sosial bagi komunitas lokal sambil menjaga ingatan akan masa lalu. https://online-journal. id/jla/index JLA Vol. No. Mei 2025, p. Sudaryat . menjelaskan bahwa penamaan tempat atau toponimi melibatkan tiga aspek: . aspek perwujudan, . aspek kemasyarakatan, dan . aspek kebudayaan. Ketiga aspek ini berpengaruh besar terhadap cara tempat diberi nama dalam masyarakat. Dalam cerita tentang asal usul nama tempat Pondok Besi, nama tersebut termasuk dalam aspek kemasyarakatan dengan unsur bangunan. Analisis Penamaan Kelurahan di Kecamatan Teluk Segara Penamaan merupakan proses pemberian nama atau label kepada berbagai entitas seperti orang, tempat, benda, atau konsep, yang harus mempertimbangkan aspek makna, estetika, kesesuaian kaidah bahasa, kemudahan penggunaan, kekhasan, serta konteks budaya agar tidak menimbulkan konotasi negatif (Hilmy & Savitri, 2. Pemilihan nama tidak hanya bersifat linguistik, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai budaya dan realitas sosial masyarakat setempat (Putri. E et al. , 2. Hal ini tercermin dalam penamaan kelurahan di Kecamatan Teluk Segara yang menunjukkan bahwa nama-nama tersebut kaya akan makna historis, geografis, dan kultural yang melekat pada masyarakat lokal. Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara, penamaan kelurahan di Kecamatan Teluk Segara menunjukkan ragam makna yang kaya dan terikat erat dengan sejarah, kondisi geografis, dan budaya masyarakat setempat. Berikut ini uraian mengenai makna leksikal dan aspek penamaan dari setiap kelurahan yang diteliti: No. Nama Tempat Kelurahan Berkas Kelurahan Kebun Keling Kelurahan Malabro Makna Leksikal Kelurahan Berkas berasal dari kata "Barkas" yang dalam bahasa India berarti istimewa, spesial, atau lebih dari yang lain. Nama ini terkait dengan sejarah Kelurahan Berkas pada abad ke-16 ketika banyak orang India masuk ke Indonesia melalui jalur transportasi laut yang Barkas Bengkulu. Nama "Barkas" bermetamorfosis "Berkas" penyesuaian bahasa dan pelafalan sehari-hari Asal muasal dinamakan Kebun Keling berasal dari kedatangan banyak orang India ke Indonesia pada zaman dahulu, khususnya di wilayah Barkas Kota Bengkulu. Setelah tiba di Kota Bengkulu. Kecamatan Teluk Segara untuk mencari tempat tinggal sementara mereka di Bengkulu. Penamaan Malabro bermula dari sebuah benteng yang terdapat di Kota Bengkulu. Benteng tersebut dikenal dengan nama Benteng Fort Malborough, sebuah merupakan peninggalan dari masa kekuasaan tInggris di wilayah Benteng ini dibangun antara tahun 1714-1719 di bawah https://online-journal. id/jla/index Aspek Penamaan Aspek Kemasyarakatan (Unsur Interaksi Sosial Masyaraka. Aspek Perwujudan (Unsur Flor. Aspek Kemasyarakatan (Unsur Tangibl. Aspek Kebudayaan (Unsur Folklo. JLA Vol. No. Mei 2025, p. Kelurahan Pasar Baru Kelurahan Pintu Batu Kelurahan Sumur Meleleh Kelurahan Kebun Ros Kelurahan Tengah Padang Kelurahan Melintang Kelurahan Kampung Bali Pasar kepemimpinan Gubernur Joseph Callet. Pasar Baru masyarakat di wilayah Barkas, yang saat ini dikenal sebagai Kelurahan Berkas. Mereka kemudian memutuskan untuk bermukim di wilayah yang baru dengan tujuan membentuk sebuah pasar tempat untuk melakukan aktivitas jual beli guna memenuhi kebutuhan hidup mereka. Wilayah Pintu Batu dinamakan demikian karena adanya bukti nyata bahwa pada zaman kuno, di wilayah ini terdapat sebuah kubu benteng pertahanan yang memiliki pintu terbuat dari batu yang sangat Sumur Meleleh memang memiliki bukti nyata keberadaan sumur yang menghasilkan mata air yang melimpah tanpa henti, sehingga air selalu mengalir tanpa henti dari sumur tersebut. Kebun Ros bermula dari masa lampau di mana wilayah tersebut dipenuhi dengan kebun-kebun yang ditanami dengan bunga ros. Keberadaan kebun bunga ros ini menciptakan pemandangan yang beragam jenis dan warna bunga yang bermekaran. Tengah Padang dapat ditelusuri dari arti kedua kata yang membentuk nama tersebut. Kata "Tengah" menunjukkan posisi wilayah ini yang berada di tengah-tengah Sementara itu, kata "Padang" merujuk pada hamparan luas yang menggambarkan kondisi geografis wilayah tersebut. Pasar Melintang merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut sebuah pasar tradisional modern yang terletak di wilayah tertentu, tepatnya di antara Pintu Batu dan Kebun Geran. Istilah "Melintang" digunakan karena posisi pasar tersebut seolah-olah menghalangi di antara dua wilayah tersebut. Asal usul nama "Kampung Bali" dapat ditelusuri dari makna kedua kata yang membentuk nama Kata "Kampung" dalam konteks ini mengacu pada suatu wilayah atau tempat yang sudah dihuni oleh banyak penduduk. Biasanya, "Kampung" pemukiman yang relatif kecil atau https://online-journal. id/jla/index Aspek Kemasyarakatan (Unsur Interaksi Sosial Masyaraka. Aspek Perwujudan (Unsur Ala. Aspek Perwujudan (Unsur Wujud Ai. Aspek Perwujudan (Unsur Flor. Aspek Perwujudan (Unsur Pola Pemukima. Aspek Kemasyarakatan (Unsur Interaksi Sosia. Aspek Perwujudan (Unsur Pola Pemukima. JLA Vol. No. Mei 2025, p. Kelurahan Bajak Kelurahan Jitra Kelurahan Pondok Besi komunitas yang padat. Sedangkan kata "Bali" merujuk pada orangorang Bali yang telah menetap atau bermukim di kota Bengkulu atau wilayah sekitarnya. Asal "Bajak" mengandung cerita menarik yang mengaitkan nama tersebut dengan kegiatan pertanian dan migrasi Kata "Bajak" memiliki asalnya dari alat pertanian yang digunakan untuk membajak tanah guna persiapan lahan pertanian, khususnya untuk menanam padi atau tanaman lainnya. Dalam "Bajak" menggambarkan hubungan erat antara kegiatan pertanian dengan kehidupan masyarakat di wilayah Asal usul nama "Jitra" memiliki akar yang dalam dalam bahasa Melayu, di mana kata tersebut berasal dari "Jirat" yang merujuk pada sebuah makam atau kuburan. Penamaan adanya nilai-nilai keagamaan dan kehormatan terhadap tempat pemakaman yang penting bagi masyarakat setempat Awal mula nama "Pondok Besi" dapat ditelusuri dari asal usulnya yang terkait dengan sejarah industri kapal di wilayah tersebut. Pada masa lalu, di lokasi Pondok Besi terdapat sebuah asrama polisi militer yang juga berfungsi sebagai pondok tempat pembuatan kapal atau gudang penyimpanan. Istilah "Pondok besi" merujuk pada fasilitas tersebut yang digunakan untuk pembuatan kapal-kapal teknisi, yang sebagian besar terbuat dari bahan besi. Aspek Kemasyarakatan (Unsur Kegiata. Aspek Perwujudan (Unsur Wujud Rupa Bum. Aspek Kemasyarakatan (Unsur Banguna. Toponimi Nama-nama Tempat di Kecamatan Teluk Segara Kota Bengkulu Provinsi Bengkulu. Metode yang dilakukan peneliti dalam penelitian ini yaitu metode kualitatif deskriptif. Yang mana peneliti mengumpulkan data menggunakan teknik observasi dan wawancara. Pada saat melakukan wawancara peneliti mewawancarai dua Ketua Adat yaitu Bapak Junaidi Zul selaku Ketua Adat Kelurahan Berkas sekaligus pendiri Balai Adat Rajo Penghulu dan Bapak Fajri Kurniawan selaku Ketua Adat Kelurahan Pondok Besi. Penelitian ini berlokasi di 13 Kelurahan yang ada di Kecamatan Teluk Segara Kota Bengkulu yang mana penelitian ini memiliki dua permasalahan yaitu: 1 Makna Kultural dan Leksikal Makna leksikal merujuk pada arti literal nama-nama kelurahan sesuai dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sedangkan makna kultural berhubungan dengan sejarah dan nilai budaya masyarakat setempat. Penerapan teori Fries digunakan untuk menganalisis adaptasi fonologis nama-nama yang mengalami perubahan dari bahasa asal ke bahasa lokal. https://online-journal. id/jla/index JLA Vol. No. Mei 2025, p. 2 Pengkategorian Aspek Penamaan Kelurahan Dalam pengkategorian nama kelurahan di Kecamatan Teluk Segara, terdapat tiga aspek utama yang diidentifikasi yaitu aspek perwujudan, aspek kemasyarakatan, aspek kebudayaan. Pada penelitian yang dilakukan di wilayah Kecamatan Teluk Segara yang terdiri dari 13 kelurahan, pengkategorian nama kelurahan terbagi sebagai berikut: Kelurahan Berkas masuk dalam aspek kemasyarakatan dengan unsur interaksi sosial masyarakat. Kelurahan Kebun Keling masuk dalam aspek perwujudan dengan unsur flora dan aspek kemasyarakatan dengan unsur tangible. Kelurahan Malabro masuk dalam aspek kebudayaan dengan unsur folklor. Kelurahan Pasar Baru masuk dalam aspek kemasyarakatan dengan unsur interaksi sosial masyarakat. Kelurahan Pintu Batu masuk dalam aspek perwujudan dengan unsur alam. Kelurahan Sumur Meleleh masuk dalam aspek perwujudan dengan unsur air. Kelurahan Kebun Ros masuk dalam aspek perwujudan dengan unsur flora. Kelurahan Tengah Padang masuk dalam aspek perwujudan dengan unsur pola pemukiman. Kelurahan Pasar Melintang masuk dalam aspek kemasyarakatan dengan unsur interaksi sosial. Kelurahan Kampung Bali masuk dalam aspek perwujudan dengan unsur pola Kelurahan Bajak masuk dalam aspek kemasyarakatan dengan unsur Kelurahan Jitra masuk dalam aspek perwujudan dengan unsur rupa bumi. dan Kelurahan Pondok Besi masuk dalam aspek kemasyarakatan dengan unsur Penamaan kelurahan di Kecamatan Teluk Segara mencerminkan keterkaitan erat antara aspek linguistik dan nilai budaya lokal. Adaptasi fonologis nama asing ke dalam bahasa lokal sesuai dengan teori Fries menunjukkan dinamika perubahan bahasa yang berlangsung secara alami dalam konteks sosial budaya. Klasifikasi aspek Sudaryat membantu memperjelas fungsi dan makna nama kelurahan dari perspektif kultural dan sosial. Nama-nama tersebut tidak hanya berfungsi sebagai penanda geografis, tetapi juga sebagai simbol sejarah dan identitas komunitas. SIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa toponimi di Kecamatan Teluk Segara. Kota Bengkulu, tidak hanya berfungsi sebagai penanda geografis, tetapi juga merefleksikan dimensi leksikal dan kultural yang berakar dari sejarah, struktur sosial, dan nilai budaya masyarakat setempat. Berdasarkan teori semantik Sudaryat, teori makna Fries, dan pendekatan antropolinguistik, ditemukan bahwa penamaan kelurahan lebih banyak mencerminkan aspek fisik-geografis, diikuti oleh aspek sosial dan budaya. Temuan ini mengindikasikan bahwa proses penamaan tempat bukanlah arbitrer, melainkan cerminan cara masyarakat memaknai ruang hidup mereka, identitas, ingatan kolektif, dan simbol budaya. Dari sisi linguistik, unsur leksikal dalam toponimi mengandung makna literal sekaligus kontekstual dan historis. Secara teoritis, penelitian ini memperkuat relevansi pendekatan antropolinguistik dalam kajian toponimi dan menunjukkan efektivitas pendekatan semantik untuk mengungkap makna lokal. Penelitian ini juga membuka ruang untuk eksplorasi lebih lanjut tentang hubungan bahasa, budaya, dan geografi di konteks lokal lain, sehingga memperkaya kajian linguistik budaya di Indonesia. https://online-journal. id/jla/index JLA Vol. No. Mei 2025, p. DAFTAR PUSTAKA