Efektivitas Self-Fulfilling ProphecyAA (Norma Nida Jayant. EFEKTIVITAS SELF-FULFILLING PROPHECY PENGAJAR DALAM KESIAPSIAGAAN BENCANA PESERTA DIDIK THE EFFECTIVENESS OF TEACHERAoS SELF-FULFILLING PROPHECY IN DISASTER PREPAREDNESS OF STUDENTS Oleh: Norma Nida Jayanti. Prodi Bimbingan dan Konseling. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Yogyakarta, norma. nida2016@student. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas self-fulfilling prophecy pengajar dalam kesiapsiagaan bencana peserta didik. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan metode single subject research model AB design. Subjek dalam penelitian ini merupakan peserta didik kelas XI SMK Penerbangan AAG Adisutjipto Yogyakarta sebanyak delapan peserta didik. Pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan skala kesiapsiagaan bencana. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teknik analisis deskriptif menggunakan grafik dan tabel. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan keadaan kesiapsiagaan bencana peserta didik berdasarkan self-fulfilling prophecy pengajar. Kelompok peserta didik dengan pengajar yang memiliki self-fulfilling prophecy positif menunjukkan peningkatan skor yang stabil dan signifikan dari fase sebelum treatment menuju fase setelah treatment. Rata-rata skor kesiapsiagaan bencana kelompok peserta didik dengan pengajar yang memiliki self-fulfilling prophecy positif sebelum fase treatment yaitu 76,10 dan setelah fase treatment rata-rata skor menjadi 83,75. Hal tersebut menunjukkan peningkatan sebasar 7,70 poin. Kelompok peserta didik dengan pengajar yang memiliki self-fulfilling prophecy negatif menunjukkan peningkatan dan penurunan yang drastis. Rata-rata skor kesiapsiagaan bencana kelompok peserta didik dengan pengajar yang memiliki self-fulfilling prophecy negatif sebelum fase treatment yaitu 77,20 dan setelah fase treatment rata-rata skor menjadi 79,58. Hal tersebut menunjukkan peningkatan sebasar 2,40 poin. Kata kunci: self-fulfilling prophecy, kesiapsiagaan bencana Abstract This study aims to find out the effectiveness of self-fulfilling prophecy teachers in disaster preparedness of This research is an experimental research with single subject research method AB design model. The subjects in this study were students of class XI SMK Penerbangan AAG Adisutjipto Yogyakarta as many as eight The data collection used in this study uses the scale of disaster preparedness. Data analysis techniques used in this research are descriptive analysis techniques using graphs and tables. The results showed a difference in the state of disaster preparedness of learners based on the teacher's self-fulfilling prophecy. A group of students with teachers who had a positive self-fulfilling prophecy showed a steady and significant increase in scores from the pretreatment phase to the after-treatment phase. The average disaster preparedness score of the group of learners with teachers who had a positive self-fulfilling prophecy before the treatment phase was 76. 10 and after the treatment phase the average score was 83. That represents an increase of 7. 70 points. Groups of learners with teachers who had negative self-fulfilling prophecy showed a drastic increase and decrease. The average disaster preparedness score of the group of learners with teachers who had a negative self-fulfilling prophecy before the treatment phase 20 and after the treatment phase the average score was 79. That represents an increase of 2. 40 points. Keywords: self-fulfilling prophecy, disaster preparednes Interaksi PENDAHULUAN Manusia merupakan makhluk sosial yang orang lain. memberikan dampak terhadap manusia itu sendiri berdasarkan perlakuan-perlakuan yang terjadi 370 Jurnal Riset Mahasiswa Bimbingan dan Konseling. Volume 7. Nomor 8. Agustus 2021 dalam interaksi. Hal tersebut terjadi karena utama dalam self-fulfilling prophecy yang dapat individu yang hendak berinteraksi dengan orang berupa sikap humanistik dan kepercayaan dalam lain cenderung telah memiliki dugaan berupa interaksi sosial. keyakinan yang telah terbentuk sebelumnya dan Self-fulfilling harapan mengenai perilaku orang lain. Keyakinan memberikan pengaruh yang berbeda. Eden dan harapan individu tersebut secara tidak . menyebutkan bahwa self-fulfilling prophecy merupakan pedang bermata dua. memperlakukan orang lain sehingga keyakinan Pengaruh yang dihasilkan self-fulfilling prophecy dan harapan yang telah terbentuk sebelumnya yaitu pengaruh yang dapat meningkatkan kinerja menjadi nyata (Stukas & Snyder, 2016:. seseorang berdasarkan keyakinan dan harapan Fenomena diatas disebut dengan istilah positif yang disebut sebagai pengaruh Pygmalion self-fulfilling prophecy. Self-fulfilling prophecy merupakan istilah yang dikenalkan oleh Robert Merton pada tahun 1948 sebagai ramalan yang keyakinan dan harapan negatif yang disebut dapat terpenuhi dengan sendirinya. Teori self- sebagai pengaruh Golem. Pengaruh self-fulfilling fulfilling prophecy muncul karena terinspirasi dari prophecy telah terjadi dalam beberapa konteks. Teorema Thomas . alam Sharma, 2015: . seperti pendidikan, pekerjaan, profesional, dan Teorema Thomas menjelaskan bahwa apabila informal . com/diakses pada 9 Oktober individu meyakini sebuah situasi sebagai situasi yang nyata maka situasi tersebut akan menjadi fulfilling prophecy positif dan negatif dapat kenyataan karena keyakinan dalam dirinya melebar secara bertahap dari waktu ke waktu mengarahkan perilakunya untuk membuat situasi menjadi perbedaan besar (Madon dkk: 2011:. tersebut terjadi. Perbedaan kecil dari pengaruh self- Self-fulfilling prophecy di dalam konteks Self-fulfilling prophecy merupakan suatu pendidikan terjadi dalam interaksi pengajar dan hal yang beroperasi diluar kesadaran pelaku peserta didik. Penelitian dari Rosenthal . alam interaksi dan dapat memengaruhi perilaku pelaku Madon dkk, 2011:. menghasilkan bahwa self- Self-fulfilling prophecy dalam teori McGregor . alam Eden, 1992:. didefiniskan memengaruhi prestasi peserta didik. Penelitian sebagai sebuah konsep yang menggambarkan Rosenthal tersebut dilakukan dengan memberikan bahwa harapan individu akan menentukan informasi salah yang berbeda kepada dua bagaimana individu tersebut memperlakukan Pengajar pertama diberikan informasi orang lain yang pada akhirnya akan memengaruhi salah bahwa peserta didik di kelasnya merupakan Argrys . alam Eden, peserta didik pilihan, pandai dan menyenangkan dan pengajar kedua diberikan informasi salah memperlakukan orang lain merupakan fokus bahwa peserta didik di kelasnya merupakan 1992:. Efektivitas Self-Fulfilling ProphecyAA (Norma Nida Jayant. 371 peserta didik yang kompetensinya kurang baik menimbulkan trauma atau dampak psikologi baik dan kurang menyenangkan. Hasil dari uji coba secara langsung ataupun tidak disebut sebagai tersebut yaitu peserta didik yang diperlakukan Menurut Undang-undang No. 24 tahun seperti anak pandai menunjukkan prestasi yang baik dan signifikan dibandingkan dengan peserta menjelaskan bahwa bencana merupakan peristiwa didik yang diperlakukan seperti anak yang kurang yang mengancam dan mengganggu kehidupan masyarakat yang disebabkan oleh faktor alam Self-fulfilling prophecy dalam konteks Penanggulanga Bencana dan/ atau faktor non alam maupun faktor manusia pendidikan juga bisa terjadi dalam interaksi antar peserta didik. Self-fulfilling prophecy negatif timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan antar peserta didik dapat memunculkan masalah lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak Masalah sosial yang sering terjadi dalam interaksi peserta didik yaitu bullying. Hal tersebut Bencana di Indonesia diklasifikasikan sesuai dengan hasil kajian Konsorsium Nasional Pengembangan Sekolah Karakter di tahun 2014 Menurut UU Nomor 24 Tahun . id/diakses pada 8 Januari 2. 2007 Tentang Penanggulangan Bencana jenis yang menyebutkan bahwa hampir setiap sekolah di Indonesia terdapat kasus bullying. Komisi disebabkan oleh faktor alam, bencana non alam Perlindungan Anak Indonesia mencatat bahwa yang disebabkan oleh faktor non alam, dan pada Februari 2020 terdapat dampak ekstrem dari bencana sosial yang disebabkan oleh faktor kasus bullying seperti peserta didik yang jarinya Faktor yang menyebabkan bencana di harus diamputasi dan peserta didik Indonesia tersebut merupakan hal-hal yang ditendang hingga meninggal. Kasus terdapat di Indonesia. Keadaan yang terdapat di Indonesia dilihat dari letak geografis dan kondisi menyebabkan hilangnya nyawa yaitu klithih. budaya yang multikultural menjadikan Indonesia Kasus sebagai negara yang rawan bencana. Yogyakarta dan dilakukan oleh peserta didik. Keadaan Indonesia yang rawan bencana Tindakan klithih diawali dari kegiatan bermotor menjadikan masyarakat Indonesia membutuhkan tanpa tujuan kemudian saling mengejek dengan peserta didik lain atau dari sekolah lain yang mempersiapkan diri terhadap bencana agar seringkali berakhir dengan luka-luka baik ringan mampu mengurangi kerugian pasca bencana. maupun berat dan hilangnya nyawa seseorang. Badan Luka berat yang dialami seseorang atau Nasional Penanggulangan Bencana . menyebutkan bahwa kebutuhan untuk hilangnya nyawa seseorang dapat menimbulkan Kesiapsiagaan bencana merupakan Peristiwa 372 Jurnal Riset Mahasiswa Bimbingan dan Konseling. Volume 7. Nomor 8. Agustus 2021 tindakan yang dilakukan sebelum terjadinya Hal tersebut terjadi karena sebagian besar waktu remaja dihabiskan di sekolah (Farida. (Widjarnoko Minnafiah, 2018:. Kesiapsiagaan dimasukkan ke dalam bagian pengembangan Kesiapsiagaan karakter remaja di sekolah sebagai salah satu dipersiapkan melalui sektor pendidikan. Sektor upaya untuk memenuhi kebutuhan Indonesia yang rawan bencana sehingga remaja dapat menyelenggarakan pendidikan sebagai upaya mengerti hal-hal yang perlu dilakukan ketika Pengembangan karakter kesiapsiagaan bencana di Sektor sekolah dilakukan dengan mengoptimalkan daya pendidikan merupakan sarana yang efektif untuk nalar remaja yang dapat dieksplorasi untuk menyiapkan diri dari bencana melalui aspek keterampilan pada masyarakat melalui sekolah. sosial, psikologi, fisik, dan spiritual. Konsorsium Pendidikan Bencana pada 2011 Pengembangan karakter di sekolah dapat . alam Widjarnoko & Minnafiah, 2018:. dimasukkan ke dalam kurikulum dan aktifitas menjelaskan bahwa sekolah sebagai komunitas Salah satu sekolah yang melakukan hal pendidikan dapat membelajarkan kesiapsiagaan tersebut di daerah Yogyakarta yaitu SMK bencana kepada warga sekolah dengan efektif. Penerbangan Sekolah tersebut menjadikan pengembangan kesiapsiagaan bencana warga sekolah meningkat. karakter sebagai budaya sekolah. Namun, budaya Kesiapsiagaan AAG Adisutjipto Yogyakarta. kesiapsiagaan bencana belum dimasukkan secara pendidikan di Indonesia belum dijadikan sebuah intrinsik dalam program pengembangan karakter. mata pelajaran khusus dan belum memeroleh Pendidikan kesiapsiagaan bencana peserta didik prioritas yang tinggi. Hal tersebut menjadikan kesiapsiagaan bencana peserta didik di Indonesia Yogyakrta dilakukan oleh pihak luar. Kegiatan berada pada kategori kurang (Widjarnoko & tersebut tidak diikuti oleh semua peserta didik Minnafiah, 2018:. Penelitian dari Wulandari. SMK Penerbangan AAG Adisutjipto Yogyakrta dkk . menyebutkan bahwa peserta didik dan dalam jangka waktu yang tidak rutin. SMK pada jenjang sekolah menengah yang belum Penerbangan AAG Adisutjipto Alternatif lain yang dapat digunakan diberikan pendidikan mengenai kesiapsiagaan kesiapsiagaan bencana yaitu melalui layanan kesiapsiagaan bencana yang kurang. Masa sekolah menengah merupakan peluang besar untuk mengembangkan karakter bimbingan dan konseling bidang pribadi-sosial. Penyelenggaraan konseling bidang pribadi-sosial dilakukan agar Efektivitas Self-Fulfilling ProphecyAA (Norma Nida Jayant. 373 peserta didik memahami irama kehidupan yang memengaruhi pengetahuan dan keterampilan peserta didik. Hal tersebut juga bisa terjadi dalam Irama kehidupan yang tidak menyenangkan dapat berupa bencana. Hal layanan bimbingan dan konseling. Namun, tidak tersebut dilakukan agar peserta didik dapat menutup kemungkinan bahwa pengetahuan dan merespon kejadian dengan baik sesuai dengan keterampilan peserta didik diperngaruhi oleh hal nilai dan/ atau ajaran agama yang dianut (Rambu- lain, seperti yang dikemukakan oleh Weaver dkk Rambu . dalam penelitiannya bahwa kinerja Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal, rendah seseorang dapat disebabkan oleh penilaian 2007:. yang akurat terhadap kinerja individu tersebut Penyelenggaraan Pendidikan Bimbingan berdasarkan sejarah kinerja mereka. melalui layanan bimbingan dan konseling dapat Beradasrkan pertimbangan dan latar belakang diatas, penelitian ini memiliki tujuan Bimbingan kelompok menurut Gazda . alam self-fulfililling Prayitno & Amti, 2009:309-. yaitu kegiatan prophecy pengajar dalam kesiapsiagaan bencana penyampaian informasi yang bersifat personal, peserta didik menggunakan metode single-subject vokasional, dan sosial kepada sekelompok peserta experimental design. didik untuk membantu mereka menyusun rencana dan keputusan yang tepat. Interaksi yang terjadi METODE PENELITIAN dalam bimbingan kelompok akan membantu Jenis Penelitian pemahaman peserta didik dan memudahkan Penelitian kemampuan peserta didik. Penyelenggaran single-subject experimental design. Desain penelitian yaitu menggunakan AB design. AB design merupakan kelompok dapat berjalan optimal apabila pengajar penelitian yang didasarkan pada dua fase bimbingan dan konseling memiliki kualifikasi pengujian yaitu fase baseline (A atau awal dan kompetensi diatur oleh Permendiknas No. Tahun 2008. Kualifikasi dasar yang perlu dimiliki oleh pengajar bimbingan dan konseling yaitu Pelaksanaan Hal penelitian ini dilakukan melalui bimbingan kelompok pada dua kelompok yang berbeda. pandangan pengajar terhadap peserta didik dapat Teknik bimbingan kelompok yang digunakan membentuk self-fulfilling prophecy pengajar. yaitu teknik jigsaw dan sosiodrama. Pemberian Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa self-fulfilling prophecy pengajar dapat treatment dilakukan setelah pengajar menerima 374 Jurnal Riset Mahasiswa Bimbingan dan Konseling. Volume 7. Nomor 8. Agustus 2021 informasi salah yang berbeda untuk setiap Pemberian informasi salah kepada pengajar Pemberian informasi salah kepada pengajar Waktu dan Tempat Penelitian bertujuan untuk membentuk self-fulfilling Penelitian ini dilaksanakan di SMK Penerbangan AAG Adisutjipto Peneliti Yogyakarta. memberikan dua informasi salah untuk Penelitian ini dilakukan pada 1 Agustus Ae 17 Informasi salah tersebut antara September 2020. Aupeserta didik dalam kelompok A Subjek Penelitian merupakan peserta didik yang memiliki Subjek dari penelitian ini yaitu siswa kelas tingkat kognitif yang tinggi dan terbuka Adisutjipto untuk diajak diskusiAy dan Aupeserta didik Yogyakarta yang memiliki tingkat kesiapsiagaan dalam kelompok B merupakan peserta didik bencana dalam kategori sedang berdasarkan yang memiliki tingkat kognitif rendah dan angket kesiapsiagaan bencana dan sedang berada tertutup untuk diajak berdiskusi. SMK Penerbangan AAG di wilayah Yogyakarta. Pelaksanaan treatment Pelaksanaan treatment dilakukan melalui Prosedur Penelitian Prosedur penelitian yang dilakukan dalam dua tahap secara tatap muka. Tahap pertama penelitian ini adalah sebagai berikut: dilakukan menggunakan teknik jigsaw dan Fase baseline tahap kedua dilakukan menggunakan teknik Pengujian pada fase baseline dilakukan sebanyak tiga kali. Pengujian pertama Fase intervension menghasilkan data yang disebut sebagai Pengujian pada fase intervension dilakukan data A1. Data A1 diperoleh dari pemilihan sebanyak tiga kali yang menghasilkan data peserta didik sebagai sampel penelitian B1. B2, dan B3. Pengujian dilakukan Pembagian angket dilakukan secara online. Peserta didik yang memiliki bencana yang disebarkan secara online. Teknik Pengumpulan Data tingkat kesiapsiagaan bencana sedang dan Teknik berada dalam wilayah Yogyakarta diambil digunakan dalam penelitian ini menggunakan sebagai subjek penelitian dan dibagi Angket yang digunakan dalam penelitian menjadi dua kelompok yaitu kelompok A ini yaitu angket kesiapsiagaan bencana untuk dan kelompok B. Peserta didik yang telah terpilih sebagai subjek penelitian diuji Adisutjipto dan angket self-evaluation terhadap mendapatkan data A2 dan A3 dalam kurun self-fulfilling prophecy yang diberikan kepada waktu yang telah ditentukan. SMK Penerbangan AAG Efektivitas Self-Fulfilling ProphecyAA (Norma Nida Jayant. 375 salah dari peneliti. Informasi salah yang diberikan Instrumen Pengumpul Data Instrumen penelitian ini menggunakan kepada pengajar mengenai kelompok A yaitu angket . Pengukuran dalam instrumen peserta didik di kelompok A merupakan peserta yang disebarkan menggunakan skala likert. didik yang memiliki tingkat kognitif tinggi dan Teknik Analisis Data terbuka untuk diajak diskusi. Informasi salah Analisis tersebut membentuk self-fulfulling prophecy pada merupakan analisis data nonparametrik. Teknik Pengajar meyakini bahwa peserta didik analisis data yang digunakan yaitu statistik di kelompok A memiliki kemampuan kognitif deskriptif untuk mendeskripsikan perubahan yang tinggi. kesiapsiagaan bencana subjek dari fase baseline Self-fulfilling prophecy pengajar terhadap . ebelum treatmen. sampai fase intervension peserta didik dalam kelompok A bersifat positif. etelah treatmen. Statistik deskriptif untuk Hal tersebut ditunjukkan melalui hasil angket pengajar yang menghasilkan angka 67 dari 72 menggunakan tabel dan grafik garis. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN merupakan angka yang termasuk ke dalam Hasil Penelitian kategori tinggi dan memiliki arti bahwa self- Self-Fulfilling Prophecy Pengajar fulfilling prophecy pengajar tersebut bersifat Self-fulfilling prophecy pengajar terbentuk Angka melalui informasi salah yang diberikan oleh Self-fulfilling prophecy positif pengajar Self-fulfilling prophecy pada pengajar tersebut dijelaskan kembali melalui wawancara dilihat melalui fase treatment melalui observasi dengan peneliti. Pengajar mengatakan bahwa dan setelah fase treatment melalui angket self- peserta didik dalam kelompok A memiliki tingkat evaluation terhadap self-fulfilling prophecy dan kognitif yang tinggi dan memiliki respon yang Pengajar yang berpartisipasi dalam baik ketika sesi berdiskusi. Pengajar merasa penelitian ini merupakan mahasiswa Bimbingan peserta didik dalam kelompok A antusias dan Konseling Universitas Negeri Yogyakarta yang belum pernah bertemu dengan peserta didik menyenangkan, dan interaktif untuk menjawab dan belum memiliki informasi apapun terkait Pada sekolah dan peserta didik. Self-Fulfilling Prophecy Pengajar kelompok A mampu menjelaskan materi kembali tanpa melihat materi dan mampu menangkap Kelompok A Pengambilan penjelasan materi dengan baik yang dilihat dari kelompok A dilakukan pada 29 Agustus 2020. kemampuan peserta didik menjawab pertanyaan Pelaksanaan dengan lancar dan memuaskan. Pada sesi dilakukan setelah pengajar meneriman informasi sosiodrama, pengajar merasa peserta didik 376 Jurnal Riset Mahasiswa Bimbingan dan Konseling. Volume 7. Nomor 8. Agustus 2021 kelompok A mampu memahami makna dari di kelompok B memiliki kemampuan kognitif yang rendah. menyenangkan karena peserta didik cukup Self-fulfilling prophecy pengajar terhadap bersemangat dilihat dari ekspresi peserta didik. peserta didik dalam kelompok B bersifat negatif. Penilaian pengajar terhadap peserta didik dalam Hasil angket yang telah diisi oleh pengajar kelompok A membuat pengajar yakin bahwa menujukkan skor 43 dari 72 sebagai skor kesiapsiagaan bencana peserta didik dapat Angka tersebut merupakan angka yang meningkat sekitar 70% atau lebih. termasuk ke dalam kategori sedang. Kategori Hasil sedang tersebut dapat mennjukkan bahwa self- treatment terhadap kelompok A menunjukkan fulfilling prophecy pengajar terhadap kelompok B bahwa pengajar banyak melakukan interaksi bersifat negatif. dengan peserta didik. Interaksi tersebut juga Self-fulfilling diselingi canda tawa dan bebarapa kali melakukan bersifat negatif juga dapat diketahui melalui hasil ice breaking. Pada sesi jigsaw, pengajar meminta wawancara yang telah dilakukan. Pengajar peserta didik untuk menjelaskan kembali materi merasa bahwa peserta didik dalam kelompok B yang telah disampaikan dan meminta peserta merupakan peserta didik yang memiliki tingkat didik menjawab pertanyaan tanpa melihat kertas kognitif rendah dilihat dari ketidakmampuannya Pada sesi sosiodrama, pengajar terlihat untuk menjelaskan ulang materi yang telah puas dengan penampilan peserta didik dan mengakui bahwa drama yang dilakukan oleh menjelaskan bahwa peserta didik menjelaskan peserta didik sangat menyenangkan dan lucu. materi dengan kaku dan sangat terpaku dengan Self-Fulfilling penjelasan yang terdapat dalam kertas materi. Hal Prophecy Pengajar Pengajar tersebut membuat pengajar semakin yakin bahwa Kelompok B Pengambilan peserta didik tidak memahami materi yang telah kelompok B dilakukan pada 5 September 2020. Pada saat memberikan pertanyaan Pelaksanaan kepada peserta didik, pengajar mengutarakan dilakukan setelah pengajar menerima informasi bahwa peserta didik dapat melihat kertas materi. salah dari peneliti. Informasi salah yang diberikan Pada sesi sosiodrama, pengajar merasa bahwa kepada pengajar mengenai kelompok B yaitu peserta didik dalam kelompok B kurang aktif dan peserta didik di kelompok B merupakan peserta tidak memahami naskah drama yang telah didik yang memiliki tingkat kognitif rendah dan diberikan dilihat dari diamnya peserta didik yang tertutup untuk diajak diskusi. Informasi salah tidak berpindah latar saat sesi pergantian latar. tersebut membentuk self-fulfulling prophecy pada Pengajar juga menceritakan bahwa peserta didik Pengajar meyakini bahwa peserta didik dalam kelompok B terkesan terpaksa mengikuti kegiatan dan tidak antusias. Hal tersebut membuat Efektivitas Self-Fulfilling ProphecyAA (Norma Nida Jayant. pengajar yakin bahwa kesiapsiagaan bencana Tabel Tingkat peserta didik dalam kelompok tidak akan kelompok A fase baseline meningkat atau hanya akan mengalami sedikit Fase Baseline Rata- 74,33 74,00 bahwa pengajar tidak banyak melakukan interaksi 78,00 dengan peserta didik. Pada sesi jigsaw, pengajar 78,00 membiarkan peserta didik tetap membaca kertas Rata-rata 78,75 76,10 Nama treatment terhadap kelompok B menunjukkan Hasil Pada sesi sosiodrama, pengajar tidak Keadaan kesiapsiagaan bencana peserta terlihat puas dengan penampilan peserta didik. Kesiapsiagaan Bencana Peserta Didik Proses pengambilan data kesiapsiagaan didik kelompok A pada fase baseline dapat dilihat melalui grafik berikut: bencana peserta didik dilakukan pada 1 Agustus Ae 17 September 2020. Teknis pengambilan data dilakukan melalui tiga fase yaitu fase baseline, fase treatment, dan fase intervension. Skor kesiapsiagaan bencana peserta didik dapat Fase baseline kelompok A dikategorisasikan berdasarkan tabel berikut: Tabel 1. Kategori kesiapsiagaan bencana peserta Gambar 1. Fase baseline kelompok A No. Batas Kategori Skor Ou 75 Tinggi diketahui peserta didik pada kelompok A . O Skor < . Sedang mengalami penurunan dari fase A1 menuju fase Skor < 50 A2 dan mengalami peningkatan yang cukup Berdasarkan Rendah Tingkat Kesiapsiagaan Bencana Kelompok A Kelompok signifikan pada fase A2 menuju fase A3. dengan pengajar yang memiliki self-fulfilling prophecy positif. Data kesiaspsiagaan bencana peserta didik pada fase baseline diambil sebanyak tiga kali dan dapat dilihat melalui tabel berikut: Setelah pengambilan data pada fase baseline peserta didik diberikan treatment oleh Sebelum proses pemberian treatment kepada peserta didik, pengajar merasa santai karena meyakini peserta didik di kelompok A memiliki 378 Jurnal Riset Mahasiswa Bimbingan dan Konseling. Volume 7. Nomor 8. Agustus 2021 kognitif yang tinggi dan mudah untuk memahami Nilai rata-rata kesiapsiagaan bencana peserta didik kelompok A pada fase baseline yaitu Setelah fase treatment, peneliti melakukan pengambilan data di fase intervension sebanyak tiga kali dan memeroleh data sebagai berikut: 76,10 dan pada fase intervension menunjukkan 87,75. Hal peningkatan yang cukup signifikan dengan kenaikan skor sebanyak 7,7 poin. Keadaan Tabel Tingkat kelompok A fase intervension kesiapsiagaan bencana peserta didik kelompok A di semua fase dapat dilihat melalui grafik berikut: Fase Intervension Rata- 78,33 77,33 89,00 90,33 Rata-rata 83,75 82,25 85,25 83,75 Kesiapsiagaan bencana kelompok A Pada fase intervension tersebut terlihat peserta didik mengalami perubahan skor berupa Keadaan kesiapsiagaan bencana peserta didik tersebut dapat dilihat melalui grafik berikut: Gambar 3. Kesiapsiagaan bencana kelompok A Grafik tersebut menunjukkan peningkatan skor pada peserta didik kelompok A meskipun pada fase A1 menuju fase A2 dan fase B1 menuju fase Fase intervension kelompok A Kondisi menunjukkan bahwa self-fulfilling prophecy positif yang dimiliki pengajar menyebabkan peningkatan skor yang cukup signifikan. Tingkat Kesiapsiagaan Bencana Kelompok B Kelompok dengan pengajar yang memiliki self-fulfilling Gambar 2. Fase intervension kelompok A prophecy negatif. Data kesiaspsiagaan bencana peserta didik pada fase baseline diambil sebanyak Grafik tersebut menunjukkan bahwa pada fase B1 menuju fase B2 skor kesiapsiagaan bencana peserta didik mengalami penurunan dan pada fase B2 menuju fase B3 skor kesiapsiagaan bencana peserta didik mengalami peningkatan. tiga kali dan dapat dilihat melalui tabel berikut: Efektivitas Self-Fulfilling ProphecyAA (Norma Nida Jayant. 379 Tabel Tingkat kelompok B fase baseline peserta didik di kelompok B memiliki tingkat Fase Baseline tersebut terjadi karena pengajar yakin bahwa Rata- kognitif yang rendah. Setelah fase treatment, peneliti melakukan 76,00 pengambilan data di fase intervension sebanyak 75,33 tiga kali dan memeroleh data sebagai berikut: 79,33 Tabel 78,00 kelompok B fase intervension Rata-rata 75,00 79,25 77,25 77,20 Tingkat Fase Intervension Rata- Keadaan kesiapsiagaan bencana peserta 78,33 didik pada kelompok B di fase baseline dapat 77,33 85,67 77,00 Rata-rata 83,50 72,25 78, 00 83,75 dilihat melalui grafik berikut: Fase baseline kelompok B Tabel tersebut menunjukkan bahwa pada fase B1 menuju B2 semua peserta didik dalam kelompok B mengalami penurunan skor. Pada fase B2 menuju B3, peserta didik AR dan DS Gambar 4. Fase baseline kelompok B mengalami peningkatan skor sedangkan peserta Grafik tersebut menunjukkan bahwa didik AD dan RT mengalami penurunan skor. keadaan kesiapsiagaan bencana peserta didik Keadaan kesiapsiagaan bencana pada fase setelah pada fase A1 menuju fase A2 mengalami treatment dapat dilihat melalui grafik berikut: peningkatan secara signifikan dan pada fase A2 Fase intervension kelompok B menuju fase A3 terjadi penurunan yang cukup signifikan pula. Setelah pengambilan data pada fase baseline peserta didik diberikan treatment oleh Sebelum proses pemberian treatment kepada peserta didik, pengajar mempersiapkan diri untuk memastikan peserta didik memahami materi. Hal Gambar 5. Fase intervension kelompok B 380 Jurnal Riset Mahasiswa Bimbingan dan Konseling. Volume 7. Nomor 8. Agustus 2021 Nilai rata-rata peserta didik pada peserta didik menjadi peserta didik kelompok B pada fase baseline yaitu Peserta didik mengalami sedikit 77,20 dan pada fase intervension menunjukkan peningkatan dan juga mengalami penurunan skor yang cukup signifikan. 79,58. Hal peningkatan skor yang tidak signifikan dengan Pembahasan kenaikan skor sebanyak 2,4 poin. Keadaan kesiapsiagaan bencana peserta didik kelompok B Hasil penelitian menunjukkan bahwa self- di semua fase dapat dilihat melalui grafik berikut: fulfilling prophecy pengajar yang berbeda dapat memberikan pengaruh yang berbeda terhadap Kesiapsiagaan bencana kelompok B kesiapsiagaan bencana peserta didik. Peserta didik kelompok A memperoleh peningkatan skor yang cukup signifikan sebesar 7,70 poin. Hal tersebut disebabkan oleh self-fulfilling prophecy pengajar yang bersifat positif. Self-fulfilling prophecy positif tersebut terbentuk dari informasi Gambar 6. Kesiapsiagaan bencana kelompok B mengakibatkan pengajar meyakini bahwa peserta Grafik tersebut menunjukkan bahwa terjadi didik di kelompok A merupakan peserta didik penigkatan yang cukup signifikan pada fase A1 yang memiliki tingkat kognitif yang tinggi. Hal menuju fase A2. Selanjutnya pada fase A2 tersebut sesuai dengan hasil penelitian Weaver, dkk . bahwa self-fulfilling prophecy mengalami penurunan skor yang signifikan. Pada fase A3 menuju fase B1 terjadi peningkatan yang Informasi sangat signifikan namun setelahnya terjadi seseorang untuk memperlakukan orang lain. penurunan secara signifikan pada fase B1 menuju fase B2. Pada fase B2 menuju B3 juga terjadi sedikit peningkatan skor kesiapsiagaan bencana peserta didik. Hal tersebut menunjukkan bahwa treatment yang telah dilakukan memberikan peningkatan kesiapsiagaan bencana peserta didik namun peningkatan tidak terjadi secara signifikan. Kondisi ini menunjukkan bahwa self-fulfilling prophecy negatif yang dimiliki oleh pengajar menyebabkan skor kesiapsiagaan bencana pada Berdasarkan informasi salah tersebut, kelompok A dengan menyenangkan sehingga proses pemberian treatment berlangsung kondusif Pengajar memberikan arahan kepada peserta didik selama sesi sosiodarama dan memberikan waktu yang cukup lama kepada peserta didik untuk membaca Pengajar juga memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menjelaskan materi dengan bahasanya sendiri. Efektivitas Self-Fulfilling ProphecyAA (Norma Nida Jayant. 381 Self-fulfilling prophecy positif pengajar pengajar memperlakukan kesiapsiagaan bencana pada kelompok B juga peserta didik sebagai peserta didik yang mudah kenaikan dari fase sebelum treatment menuju memahami materi sehingga skor kesiapsiagaan fase setelah treatment sebesar 6,25 poin dan bencana peserta didik kelompok meningkat setelahnya mengalami penurunan sebesar 6,25 secara signifikan. Keyakinan pengajar tersebut Kondisi peningkatan dan penurunan ini membuat pengajar memperlakukan peserta didik terjadi setelah pengajar memberikan materi seolah anak pandai dan pengajar menjelaskan kesiapsiagaan bencana dengan teknik jigsaw dan materi dengan lebih nyaman dan santai. Kondisi tersebut membuat suasana bimbingan kelompok Pengajar dengan self-fulfilling prophecy menjadi menyenangkan sehingga peserta didik dalam kelompok A mengalami kenaikan skor kelompok B seolah-olah peserta didik sulit Suasana menyenangkan akan menciptakan suasana hati memperbolehkan peserta didik untuk membuka dan hubungan sosioemosional positif antara pengajar dan peserta didik sehingga pembelajaran menjelaskan materi. Selain itu, pengajar juga mencapai hasil yang optimal (Prayitno & Amti, menyampaikan materi dengan tempo yang lebih 2009:. pelan dan hanya memberikan satu kesempatan Hal yang terjadi pada peserta didik di kelompok A menunjukkan bahwa self-fulfilling pengaruh yang dapat meningkatkan kinerja individu berdasarkan keyakinan positif. Pengaruh Pygmalion dalam hal ini ditunjukkan dari kenaikan skor kesiapsiagaan bencana peserta pada peserta didik untuk mempelajari naskah Pengaruh dari perlakuan pengajar yang Pygmalion. Pengaruh Pygmalion merupakan didasarkan atas self-fulfilling prophecy negatif tersebut membuat peserta didik pasif selama proses belajar dan tidak menguasai materi dengan Kemampuan menyebabkan ketidakstabilan skor kesiapsiagaan bencana peserta didik pada kelompok B. Kondisi didik yang cukup signifikan. tersebut sesuai dengan teori dari Stukas & Snyder Hasil penelitian ini juga menunjukkan self-fulfilling . 6:10-. mengenai mekanisme terjadi self- menyebabkan peningkatan skor yang tidak Hal tersebut terjadi pada peserta didik mengenai peserta didik kemudian bertindak di kelompok B. Skor kesiapsiagaan bencana seolah-olah peserta didik pada kelompok B mengalami kompetensi yang baik. Perlakuan pengajar peningkatan sebesar 2,40 poin. Kondisi skor 382 Jurnal Riset Mahasiswa Bimbingan dan Konseling. Volume 7. Nomor 8. Agustus 2021 mengasimilasi perilaku mereka berdasarkan menurunkan prestasi peserta didik. Pengaruh perilaku pengajar. Hal tersebut mengakibatkan Pygmalion pada kelompok A terlihat dari skor kesiapsiaagaan bencana peserta didik yang terus peningkatan skor kesiapsiagaan bencana. meningkat dalam beberapa waktu dan pengaruh Self-fulfilling prophecy pengajar dalam kognitif peserta didik. Perkembangan kognitif Golem terlihat pada kelompok B yang sempat mengalami penurunan skor pada fase setelah peserta didik dalam hal ini yaitu peserta didik Berdasarkan berpengaruh terhadap skor kesiapsiagaan bencana kesiapsiagaan bencana yang telah diajarkan peserta didik. Perbedaan self-fulfilling prophecy (Daud, dkk,2014: 31-. Kemampuan kognitif pada pengajar dapat memberikan pengaruh yang peserta didik diperoleh dari proses pembelajaran berbeda pada tiap kelompok. yang diterimanya dan dipengaruhi oleh sikap self-fulfilling dapat mengembangkan proses berpikirnya untuk SIMPULAN DAN SARAN pengajar dalam proses pembelajaran. Pada penelitian ini, pengajar memberikan Simpulan dua sikap yang berbeda pada dua kelompok. Pada Berdasarkan kelompok A guru memberikan sikap yang positif karena adanya self-fulfilling prophecy positif pengajar dapat memberikan pengaruh yang yang dimilikinya sehingga skor kesiapsiagaan berbeda terhadap kesiapsiagaan bencana peserta Kelompok peserta didik dengan pengajar yang memiliki self-fulfilling prophecy positif self-fulfilling menampilkan sikap negatif karena adanya self- fulfilling prophecy negatif yang dimilikinya Kelompok peserta didik dengan pengajar yang sehingga skor kesiapsiagaan bencana peserta didik kelompok B hanya mengalami sedikit mengalami peningkatan yang tidak signifikan. Hal Hasil penelitian ni sesuai dengan teori Eden, . self-fulfilling self-fulfilling kesiapsiagaan bencana peserta didik pada fase baseline dan fase intervension. Pygmalion dan pengaruh Golem. Pengaruh Saran Saran Pygmalion merupakan pengaruh self-fulfilling prophecy yang mampu meningkatkan prestasi berdasarkan kesimpulan dari penelitian yang telah peserta didik dan pengaruh Golem merupakan dilakukan yaitu: pengaruh self-fulfilling prophecy yang mampu Bagi peserta didik Efektivitas Self-Fulfilling ProphecyAA (Norma Nida Jayant. 383 Peserta Daud. Sari. Milfayetty. , et al. aspek-aspek kesiapsiagaan bencana yang Penerapan pelatihan siaga bencana dalam telah dipelajari agar peserta didik dapat meningkatkan pengetahuan, sikap, dan meminimalisir dampak dari peristiwa yang tindakan komunitas sma negeri 5 banda tidak diinginkan. Jurnal Ilmu Kebencanaan, 1. , 26- Bagi Guru Bimbingan dan Konseling Self-fulfilling prophecy merupakan keyakinan yang dapat menjadi nyata sehingga dalam kehidupan nyata, guru sebagai pendidik diharapkan memiliki selffulfilling prophecy positif terhadap peserta didiknya agar peserta didik menjadi optimal kemampuannya baik dalam bidang prestasi Eden. Leadership and expectations: pygmalion effects and other self-fulfilling prophecies in organizations. Leadership Quarterly, 3. , 271-305. Farida. Pilar-pilar pembangunan Bandung: Penerbit Nuansa Cendekia. maupun kepribadian. Bagi peneliti lain Pemberian Kementrian Perempuan Perlindungan Anak. Januari Ae ratas membentuk self-fulfilling prophecy pada bullying KPP-PA. Diakses pada 8 Januari pengajar sebaiknya disesuaikan dengan keadaan sekolah sehingga self-fulfilling prophecy pengajar menjadi lebih kuat. Pemberdayaan Jika hendak meneliti dengan metode single pengambilan data dipantau secara terusmenerus sehingga semua subjek penelitian memiliki data penelitian yang lengkap. DAFTAR PUSTAKA