MODERATION: Journal of Islamic Studies Review Volume. Number. Maret 2026 p-ISSN: 2776-1193, e-ISSN: 2776-1517 Hlm: 65-76 Journal Home Page: http://journal. id/index. php/moderation/index REKONTRUKSI PEMIKIRAN ISLAM MODERAT: Studi Komparatif Antara Yudian Wahyudi dan Fazlur Rahman Tentang Islam Kontekstual Wulan Septi Putri. Rayyan Raka Chiwi. Sadari3 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta1,. Institut Pembina Rohani Islam Jakarta3 adpetikisindo@gmail. sadari@iprija. Abstract: The thoughts of Yudian and Rahman are crucial in the development and enrichment of moderate Islamic discourse in the contemporary era. In an increasingly complex and dynamic global context, moderate Islamic discourse is crucial for bridging the gap between religious tradition and the demands of modernity, as well as between religious teachings and pluralistic social life. The thoughts of these two figures offer a strong foundation and a relevant perspective to address the various challenges facing Muslims One of the most relevant aspects of their thinking is how moderate Islam is positioned as a balanced middle ground between rigid conservatism and excessively liberalism. Both thinkers emphasize the importance of maintaining fundamental Islamic values without precluding the possibility of renewal and adaptation in accordance with current developments. In a situation where the polarization of religious thought is increasing and various forms of extremism are emerging that have the potential to threaten social harmony, the thoughts of Yudian and Rahman provide a moderate, inclusive, and constructive alternative. Rahman's thought, with its hermeneutic approach and focus on the maqasid sharia, provides a strong theoretical framework for understanding Islamic teachings in depth and context. This approach is highly relevant to addressing contemporary global and multidimensional issues, such as human rights, religious pluralism, and advances in science and technology. In a global context. Rahman's thinking encourages Muslims to foster dynamic dialogue and interpretation to ensure their relevance and positive contribution to modern civilization. This approach sees Islam not as a rigid and exclusive religion, but as a religion of mercy for all creation, upholding the values of humanity and justice. Furthermore. Yudian's practical and contextual thinking is instrumental in creating a moderate Islamic framework that is applicable to Indonesian society, which comprises diverse ethnicities, religions, and cultures. Addressing socio-political challenges such as intolerance, radicalism, and intergroup conflict. Yudian's ideas on interfaith dialogue and pluralism provide effective solutions for building harmony and tolerance. With Islam as a moderate and inclusive social force. Yudian's thinking contributes to maintaining social stability and strengthening democracy in Indonesia. Both thinkers emphasize the importance of education and critical thinking in fostering awareness among Muslims about the values of moderation. Education is the primary medium for transmitting the values of tolerance, justice, and openness to diversity. With education based on moderate Islamic thought, the younger generation will be able to understand religious teachings more holistically, be open to change, and avoid harmful extremist attitudes. Keyword: Reconstruction of Thought. Moderate Islam. Comparative. Yudian Wahyudi. Fazlur Rahman. Contextual Wulan Septi Putri. Rayyan Raka Chiwi. Sadari: [Rekontruksi Pemikiran Islam Moderat: Studi Komparatif Antara Yudian Wahyudi Dan Fazlur Rahman Tentang Islam Kontekstua. 65 | Wulan Septi Putri. Rayyan Raka Chiwi. Sadari PENDAHULUAN Islam sebagai agama yang universal dan rahmatan lil-AoAlamn memiliki ajaran yang tidak hanya berlaku pada masa lalu, tetapi juga tetap relevan dalam menghadapi berbagai perubahan Dalam sejarah peradaban Islam, pemikiran keagamaan terus mengalami perkembangan sesuai dengan dinamika sosial, politik, dan budaya masyarakat. Oleh karena itu, memahami Islam secara kontekstual menjadi penting agar nilai-nilai Islam dapat diterapkan secara tepat dalam kehidupan modern. Dalam menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks seperti munculnya ekstremisme, polarisasi umat, serta tantangan globalisasi diperlukan pendekatan Islam yang moderat. Islam moderat adalah cara pandang yang menekankan prinsip keseimbangan . awAzu. , keadilan (AoadAla. , toleransi . asAmu. , dan keterbukaan terhadap perbedaan . aAoAyus. Pendekatan ini tidak hanya menjauhi sikap ekstrem baik yang bersifat radikal maupun liberal, tetapi juga mendorong umat untuk berpikir kritis dan bijak dalam menghadapi persoalan keagamaan dan sosial. Di tengah wacana keislaman yang berkembang saat ini, pemikiran Islam moderat semakin mendapatkan perhatian, terutama dalam konteks pengembangan pendidikan agama Islam. Banyak cendekiawan Muslim yang berupaya merumuskan kembali pemahaman keislaman yang lebih kontekstual dan inklusif. Di antara tokoh yang menonjol dalam hal ini adalah Yudian Wahyudi, seorang akademisi dan pemikir Islam asal Indonesia, serta Fazlur Rahman, seorang pemikir Muslim asal Pakistan yang banyak berkarya di dunia Barat. duanya memberikan kontribusi penting dalam membangun gagasan Islam moderat melalui pendekatan pemikiran yang khas dan relevan dengan konteks zamannya. Yudian melihat bahwa umat Islam, khususnya di Indonesia, perlu melakukan pembaruan cara berpikir dalam memahami ajaran Islam. Menurutnya, dominasi pendekatan fikih yang terlalu legalistik dan tekstual telah menghambat perkembangan pemikiran Islam yang dinamis. Ia menekankan pentingnya rekonstruksi epistemologi keislaman dengan cara mengintegrasikan warisan klasik Islam . urAt. dan ilmu pengetahuan modern secara harmonis. 2 Dalam pandangannya, pendidikan Islam harus dibangun di atas landasan pemikiran kritis dan terbuka, agar mampu melahirkan generasi Muslim yang cerdas, toleran, dan solutif. Sementara itu. Rahman dikenal sebagai pemikir reformis yang menawarkan metodologi tafsir Al-QurAoan secara kontekstual. Ia memperkenalkan pendekatan double movement, yaitu suatu metode penafsiran yang dimulai dari pemahaman historis ayat-ayat AlQurAoan pada masa Nabi, kemudian dilanjutkan dengan merumuskan nilai-nilai moral universal yang dapat diterapkan dalam konteks kekinian. Rahman menekankan pentingnya ijtihad dalam memahami pesan-pesan Al-QurAoan, agar tidak terjebak pada pemahaman yang kaku dan Menurut Rahman, umat Islam tidak cukup hanya berpegang pada bentuk formal teks suci, tetapi juga harus menggali substansi etis dan sosial dari ajaran Islam. Dalam karyanya Islam and Modernity: Transformation of an Intellectual Tradition, ia mengkritik pendekatan keagamaan tradisional yang terlalu tekstual dan tidak relevan dengan problematika masyarakat Ia mengajak umat Islam untuk menghidupkan kembali semangat berpikir kritis yang pernah berkembang pada masa keemasan Islam. Baik Yudian maupun Fazlur sama-sama berpijak pada semangat pembaruan dan kontekstualisasi ajaran Islam. Ke duanya menolak pendekatan literalistik yang mengabaikan konteks historis dan sosial. Namun, pendekatan mereka memiliki fokus yang berbeda. Yudian lebih menyoroti pentingnya reformasi pendidikan Islam di Indonesia sebagai sarana membentuk pola pikir moderat, yang dilegitimasi dengan Ijmak . Di sisi lain. Rahman lebih menekankan pembaruan metodologi tafsir sebagai basis pemahaman keagamaan yang dinamis. Amin Abdullah. Islam sebagai Ilmu: Epistemologi. Metodologi, dan Etika (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2. , 52. 2Yudian Wahyudi. Reformasi Paradigma Pendidikan Islam (Yogyakarta: Gama Media, 2. , 33Ae34. 3Yudian Wahyudi. Reformasi Paradigma Pendidikan Islam (Yogyakarta: Gama Media, 2. , 75. 4Nur Syam. Islam dan Multikulturalisme (Jakarta: Logos, 2. , 98Ae99. 66 | MODERATION: Vol. 06 No. Maret 2026 MODERATION: Vol. 06 No. Maret 2026 | Kajian terhadap pemikiran ke dua tokoh ini menjadi sangat penting, terutama dalam upaya memperkuat posisi Islam sebagai agama yang mampu memberikan solusi terhadap persoalan kontemporer. Lebih dari itu, pemikiran mereka dapat menjadi inspirasi dalam merancang model pendidikan agama Islam yang inklusif, adaptif, dan berorientasi pada penguatan nilai-nilai moderasi beragama. Pendidikan yang demikian akan membantu peserta didik dalam memahami Islam tidak hanya sebagai doktrin, tetapi juga sebagai sumber nilai dan etika yang mampu menuntun kehidupan secara bijak. Berdasarkan latar belakang tersebut, tulisan ini bertujuan untuk mengkaji dan membandingkan pemikiran Yudian dan Fazlur mengenai Islam moderat dan kontekstual. Melalui kajian ini, diharapkan dapat ditemukan titik temu yang memperkaya khazanah pemikiran keislaman serta memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan pendidikan agama Islam yang lebih relevan dengan kebutuhan zaman. PEMBAHASAN Biografi dan Latar Belakang Intelektual Yudian Wahyudi dan Fazlur Eahman . Prof. Drs. Yudian Wahyudi. Ph. Yudian adalah seorang akademisi dan tokoh intelektual Muslim Indonesia yang dikenal luas atas kontribusinya dalam pengembangan pemikiran Islam moderat dan kontekstual. Lahir di kota Balikpapan pada tanggal 17 April 1960. Menimba ilmu di Madrasah Darut TaAolim Kampung Damai Balikpapan tahun 1967-1970. Sekolah Dasar Negeri 55 Jalan Baru Balikpapan tahun 1970-1972. Sekolah Dasar Negeri Tremas Pacitan Tahun 1973. Tamatan Pesantren Tremas Pacitan tahun 1978 dan Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta tahun 1979. Kemudian melanjutkan di jenjang perguruan tinggi di IAIN Sunan Kalijaga hingga memperoleh gelar Sarjana Muda/B. dan Sarjana Lengkap/Drs. Pada tahun 1986, ia memperoleh gelar B. dari Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada. Selanjutnya mengambil program master di McGill University. Montreal. Kanada, pada tahun 1993 dan menyelesaikan program doktornya hingga memperoleh gelar Ph. D dari universitas yang sama pada tahun 2002. Yudian telah menerjemahkan lebih dari 53 buku dari bahasa Arab. Inggris dan Prancis ke dalam bahasa Indonesia. Selain itu, ia juga menulis banyak karya dan buku sendiri. Pengalamannya tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga di berbagai konferensi internasional di lima benua, termasuk di Universitas Harvard. Yale dan Princeton. Selain itu, ia adalah profesor pertama dari Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri yng bekerja di Harvard Law School dan berhasil menerbitkan artikelnya melalui Oxford University Press serta menjadi anggota American Association of University Professors di Harvard University. Pernah menjabat sebagai Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta dari tahun 2016 hingga 2020 dan Presiden Asosiasi Universitas Islam se-Asia (Asian Islamic Universities Association/AIUA, dua periode 2017-2. Selain itu, juga dikenal sebagai pendiri Sunan Averroes Islamic Boardiang School. SMA Santri Pancasila dan Tarekat Sunan Anbia di Yogyakarta. Pesantren Nawesea menunjukkan komitmennya dalam pendidikan dan pengembangan spiritual Islam yang moderat. Latarbelakang pendidikannya yang menggabungkan tradisi pesantren dengan pendekatan akademik barat menjadikannya figur yang unik dalam khazanah pemikiran Islam Indonesia. Ia dikenal sebagai pemikir yang berani melakukan reinterpretasi terhadap teks-teks keislaman dalam konteks sosial-politik Indonesia. Dalam berbagai karya ilmiahnya. Yudian menekankan pentingnya pendekatan historis dan hermeneutis dalam memahami ajaran Islam, agar tetap relevan dengan dinamika masyarakat Salah satu fokus utamanya adalah integrasi antara agama dan negara, serta penguatan nilai-nilai kebangsaan melalui tafsir progresif terhadap ajaran Islam. 5Yudian Wahyudi. Hukum Islam Antara Filsafat dan Politik (Yogyakarta: Pesantren NawaseaPress, 2. , 193-198. Wulan Septi Putri. Rayyan Raka Chiwi. Sadari: [Rekontruksi Pemikiran Islam Moderat: Studi Komparatif Antara Yudian Wahyudi Dan Fazlur Rahman Tentang Islam Kontekstua. 67 | Wulan Septi Putri. Rayyan Raka Chiwi. Sadari Selain sebagai akademisi, ia juga aktif dalam dunia birokrasi dan kebijakan. Ia menjadi Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) dua periode . Jabatan ini menunjukkan kepercayaan negara terhadap pemikirannya yang moderat dan nasionalis. Dengan latar belakang akademik dan keilmuannya yang luas,Yudian menjadi sosok penting dalam membangun jembatan antara Islam, keindonesiaan, dan kemodernan. Prof. Fazlur Rahman. Ph. Rahman lahir pada tanggal 21 Septeber 1919 di Hazana yang terletak di sebelah barat laut Pakistan dan wafat pada tanggal 26 Juli 1988 di Chicagho. 6 Rahman berasal dari keluarga yang berpegang pada mazhab Hanafi, mazhab dalam tradisi Sunni yang terkenal memiliki pendekatan rasional lebih kuat dibandingkan dengan mazhab Sunni lainnya. Sejak kecil ia dibesarkan dalam lingkungan yang sangat peduli terhadap pendidikan. Ayahnya bernama Maulana Shihab al-Din, seorang ulama terkemuka dan alumnus lembaga pendidikan Islam ternama yaitu Darul Ulum Deoband. 7 Pada tahun 1933. Rahman melanjutkan pendidikannya di Lahore dan mulai menempuh pendidikan di sekolah modern. Ia berhasil meraih gelar B. dalam bidang Bahasa Arab dari Universitas Punjab. Selanjutnya, ia melanjutkan studi pascasarjana di universitas yang sama dan memperoleh gelar M. A dalam bidang yang sama. Menyadari rendahnya kualitas pendidikan tinggi di India pada masa itu, ia kemudian memutuskan untuk melanjutkan program doktornya ke Universitas Oxford. Inggris, pada 8 Di sana, ia meneliti filsafat Islam klasik, khususnya pemikiran Ibn Sina, dan menulis disertasi tentang pengaruh Aristoteles dalam metafisika Ibn Sina. Studi di Barat membuka wawasannya terhadap metode analisis ilmiah dan pendekatan historis-kritis dalam studi Islam, yang kelak menjadi ciri khas dalam seluruh karya intelektualnya. Rahman tidak hanya dikenal sebagai cendekiawan muslim yang produktif, tetapi juga sebagai pembaharu pemikiran Islam yang mengupayakan rekonstruksi tradisi intelektual Islam agar relevan dengan tantangan zaman modern. Ia pernah menjabat sebagai Direktur Lembaga Riset Islam di Pakistan, namun banyak yang tidak setuju karena mereka berpendapat bahwa posisi tersebut seharusnya diisi oleh seseorang yang memiliki latar belakang keilmuan Islam tradisional dan dikenal sebagai sosok alim, bukan oleh figur yang memperoleh pendidikan keislaman dari institusi-institusi Barat. Kehadiran Rahman di Pakistan sebagai Direktur Lembaga Riset Islam sekaligus anggota Dewan Ideologi Islam menandai keterlibatannya secara aktif dalam upaya mereformulasi ajaran Islam melalui pendekatan yang rasional dan ilmiah. Ia berusaha menafsirkan kembali Islam agar dapat menjawab kebutuhan-kebutuhan masyarakat modern secara relevan dan kontekstual. 9 Ia banyak menulis karya-karya monumental yang menggabungkan pendekatan tradisional dan modern dalam memahami Al-Qur'an, hadis, hukum Islam, dan filsafat. Konsep Islam Moderat menurut Pemikiran Yudian dan Rahman Islam moderat merupakan konsep keislaman yang bersifat inklusif, toleran, dan seimbang dalam merespons perkembangan zaman. Di tengah maraknya ekstremisme dan kekakuan dalam memahami ajaran Islam, hadir sejumlah pemikir Muslim yang berupaya merumuskan Islam yang moderat dan kontekstual. Dua di antaranya adalah Yudian dan Rahman. Meskipun berasal dari latar belakang yang berbeda, ke duanya memiliki kepedulian yang sama terhadap pentingnya menampilkan wajah Islam yang damai, rasional, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat modern. 6Sutrisno. Fazlur Rahman Kajian Metode. Epistemologi dan Sistem Pendidikan, cet. Ke-1, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2. , 60. 7Sutrisno. Fazlur Rahman Kajian Metode. Epistemologi dan Sistem Pendidikan, cet. Ke-1, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2. , 61. 8Illyas Supena. Desain Ilmu-ilmu keIslaman dalam Pemikiran Hermeneutika Fazlur Rahman, cet. Ke-1 (Semarang: Walisongo Press, 2. , 44. 9Taufik Adnan Amal. Islam dan Tantangan Modernitas: Studi Atas Pemikiran Hukum Fazlur Rahman (Bandung: Mizan, 1. , 68 | MODERATION: Vol. 06 No. Maret 2026 MODERATION: Vol. 06 No. Maret 2026 | . Konsep Islam Moderat menurut Yudian Yudian adalah intelektual Muslim asal Indonesia yang dikenal aktif dalam isu-isu keislaman, pendidikan, dan hubungan agama-negara. Pemikiran Yudian tentang Islam moderat merupakan hasil pergulatan intelektual yang panjang dalam menghadapi tantangan keislaman di Indonesia, sebuah negara dengan keberagaman budaya, suku, dan agama yang sangat Ia memandang bahwa Islam di Indonesia harus mampu berinteraksi secara konstruktif dengan nilai-nilai kebangsaan, demokrasi, dan pluralisme agar dapat berfungsi secara kontekstual dalam realitas masyarakat majemuk. Islam tidak cukup hanya dipahami secara tekstual dan formalistik, melainkan harus disertai dengan pendekatan kontekstual dan historis agar nilai-nilai substansial dari Islam dapat hadir secara nyata dalam kehidupan Menurut Yudian. Islam moderat adalah Islam yang berpijak pada nilai tawassuth . alan tenga. , tawazun . , dan tasamuh . Ia menolak pemahaman Islam yang eksklusif dan rigid, serta menekankan pentingnya pendekatan rasional dalam memahami teks-teks keagamaan. 10 Yudian memandang Islam moderat sebagai bentuk keberislaman yang bersifat wasathiyah, yaitu berada di tengah-tengah. Konsep moderasi menurutnya tidak hanya berada pada tataran teologis, tetapi juga menyentuh dimensi sosial-politik dan kebangsaan. Islam moderat adalah Islam yang berorientasi pada kemaslahatan, toleransi, dan keberagaman, serta bersinergi dengan nilai-nilai lokal dan kebangsaan, khususnya Pancasila sebagai dasar negara Indonesia. Landasan utama dari pemikiran Islam moderat Yudian adalah pengakuan terhadap konteks historis dalam memahami teks keagamaan. Ia menolak pendekatan tekstualis yang kaku dan menekankan pentingnya hermeneutika sejarah, yakni membaca Al-QurAoan dan hadis dengan mempertimbangkan situasi sosial-budaya di mana teks itu diturunkan. Dalam pandangannya, moderasi Islam tidak bisa dilepaskan dari kemampuan umat Islam untuk merekonstruksi makna ajaran agama dalam ruang sosial yang terus berubah. Islam moderat harus mampu hidup berdampingan dengan negara modern, termasuk sistem demokrasi dan pluralitas agama. Oleh karena itu, ia mendukung integrasi antara Islam dan Pancasila, bahkan menyebut bahwa AuPancasila adalah hasil ijtihad ulama dan cerminan nilai-nilai IslamAy. Pandangan ini menjadi pijakan ketika ia menjabat sebagai Kepala BPIP, di mana ia aktif mendorong Islam yang inklusif, nasionalis, dan toleran. Islam moderat bukan hanya sikap keberagamaan yang seimbang, tetapi juga merupakan kerangka berpikir kritis dan dinamis yang mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan akar tradisinya. Islam moderat adalah jalan tengah yang rasional, kontekstual, dan bersumber dari nilai-nilai otentik Islam yang mengedepankan keadilan, perdamaian, dan kemanusiaan. Salah satu kritik utama Yudian ditujukan kepada kelompok Islam politik yang menurutnya sering menyalahgunakan agama untuk kepentingan kekuasaan. Ia menyatakan bahwa negara harus netral secara agama dan menjadi tempat yang adil bagi seluruh pemeluk Dalam konteks ini. Yudian mendukung sekularisasi dalam arti positif, yakni pembebasan agama dari dominasi politik, bukan penghilangan peran agama dari ruang publik. Ia mendorong pendekatan hermeneutika dalam penafsiran teks keagamaan. Ia berpandangan bahwa pemahaman terhadap Al-QurAoan tidak cukup hanya dengan memahami teks secara literal, tetapi juga harus memperhatikan konteks sosial, sejarah, dan budaya saat ayat Hal ini sejalan dengan semangat Islam sebagai agama yang dinamis dan terbuka terhadap perkembangan zaman. 12 Dengan demikian, pemikiran Yudian tentang Islam moderat dapat dipahami sebagai usaha serius untuk membumikan Islam yang ramah, terbuka, dan relevan dengan kebutuhan zaman. 10Yudian Wahyudi. Reformasi Pendidikan Islam (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2. , 55. 11Yudian Wahyudi. AuIslam sebagai Ilmu: Epistemologi. Metodologi dan Aplikasi,Ay dalam Islam dan Transformasi Sosial (Yogyakarta: LKiS, 2. , 30Ae33. 12Yudian Wahyudi. AuHermeneutika dan Masa Depan Studi IslamAy, dalam Jurnal Esensia. Vol. No. 1, 2003, 33. Wulan Septi Putri. Rayyan Raka Chiwi. Sadari: [Rekontruksi Pemikiran Islam Moderat: Studi Komparatif Antara Yudian Wahyudi Dan Fazlur Rahman Tentang Islam Kontekstua. 69 | Wulan Septi Putri. Rayyan Raka Chiwi. Sadari Islam tidak hanya menjadi sistem kepercayaan yang eksklusif bagi pemeluknya, tetapi juga menjadi inspirasi bagi lahirnya tatanan sosial yang adil dan beradab. Islam moderat yang mencerminkan semangat untuk menjaga otentisitas dan merangkul perubahan, menghindari ekstremisme, serta membangun harmoni antara agama, negara, dan kemanusiaan. Dengan demikian, dapat dipahami sebagai usaha serius untuk membumikan Islam yang ramah, terbuka, dan relevan dengan kebutuhan zaman. Dalam masyarakat yang rentan terhadap konflik horizontal dan penyebaran paham radikal. Islam moderat sebagaimana digagasnya menjadi jalan strategis untuk membangun peradaban Islam yang kokoh, damai, dan Dengan demikian, kontribusinya dalam membentuk narasi keislaman yang kontekstual dan toleran memiliki posisi penting dalam diskursus Islam kontemporer, khususnya dalam konteks keindonesiaan yang majemuk. Konsep Islam Moderat menurut Rahman Rahman adalah pemikir Muslim asal Pakistan yang kemudian menetap di Amerika Serikat dan menjadi profesor di University of Chicago. Ia dikenal sebagai tokoh neomodernisme Islam yang banyak memberikan kontribusi terhadap pembaruan metodologi dalam memahami Islam. Bagi Rahman. Islam moderat adalah Islam yang mampu menggabungkan antara nilai-nilai normatif wahyu dengan realitas sosial yang terus Pemikiran Rahman tentang Islam moderat lahir dari kesadaran akan pentingnya menjaga relevansi ajaran Islam dalam menghadapi tantangan zaman modern. Dalam pandangannya. Islam bukanlah agama yang statis dan kaku, melainkan bersifat dinamis dan memiliki kapasitas untuk berkembang seiring dengan perubahan sosial dan ilmu pengetahuan. Gagasan tentang moderasi dalam Islam tidak dimaknai secara pasif sebagai titik tengah antara dua ekstrem, melainkan sebagai pendekatan kritis dan konstruktif dalam memahami serta mengaktualisasikan nilai-nilai Islam dalam kehidupan nyata. Rahman menekankan perlunya pemahaman yang menyeluruh dan mendalam terhadap Al-QurAoan, dengan menyoroti pentingnya konteks historis turunnya ayat serta latar belakang sosial-budaya masyarakat Arab pada masa Nabi. Karena pendekatan tekstual semata tidak cukup untuk menggali pesan moral dan etika universal yang terkandung dalam kitab suci. Konsep penting dari Rahman adalah pendekatan double movement dalam menafsirkan Al-QurAoan, yakni gerakan ganda antara konteks masa lalu dan realitas masa kini. Metode ini mengharuskan penafsir untuk memahami maksud normatif dari wahyu berdasarkan situasi historis awal, lalu menerapkannya pada konteks sosial yang terus berkembang. Pendekatan ini menjadi fondasi utama dari apa yang disebutnya sebagai Islam kontekstual dan moderat. Pendekatan double movement melibatkan dua tahap: pertama, memahami konteks historis ketika ayat diturunkan, dan kedua, menarik nilai moral universal dari ayat tersebut untuk kemudian diterapkan dalam konteks modern. Pendekatan ini memberikan kerangka yang sistematis untuk membaca Al-QurAoan secara relevan tanpa kehilangan akar normatifnya. Rahman juga menekankan pentingnya rasionalitas dan etika dalam ajaran Islam. Ia menilai bahwa umat Islam mengalami stagnasi intelektual karena kehilangan semangat ijtihad. mengajak umat untuk kembali menggali nilai-nilai substansial dari syariat, bukan hanya terjebak dalam bentuk formalistik dan legalistik. Dengan demikian. Islam tidak hanya menjadi hukum, tetapi juga menjadi sistem nilai yang membangun keadilan sosial, kemanusiaan, dan kemajuan ilmu pengetahuan. Salah satu pemikiran kunci Rahman adalah tentang integrasi antara ilmu agama dan ilmu modern. Ia mengkritik dikotomi antara ilmu-ilmu syarAoi dan ilmuilmu duniawi, serta mengajak umat Islam untuk membangun tradisi keilmuan yang bersifat Ia percaya bahwa Islam sejak awal adalah agama yang mendorong ilmu pengetahuan dan kemajuan intelektual. 13Al-Firdaus. Ilham, "Fazlur Rahman's Double Movement and Its Contribution to the Development of Religious Moderation. International Journal of Islamic Studies and Humanities. Vol. No. 2, 2023, pp. 115Ae128. 70 | MODERATION: Vol. 06 No. Maret 2026 MODERATION: Vol. 06 No. Maret 2026 | Pandangan Yudian dan Rahman tentang Islam Kontekstual Sebagai Respon terhadap Dinamika Sosial dan Keilmuan Dalam menghadapi tantangan zaman yang terus berubah, umat Islam dituntut untuk mengembangkan pendekatan yang mampu menjawab dinamika sosial dan perkembangan ilmu Islam kontekstual menjadi salah satu pendekatan penting yang ditawarkan oleh para pemikir modern Muslim. Dua tokoh penting dalam hal ini adalah Rahman, seorang pemikir asal Pakistan yang menetap di Amerika Serikat, dan Yudian, akademisi dan tokoh Islam dari Indonesia. Ke duanya berupaya merekonstruksi pemahaman Islam agar tetap relevan dan responsif terhadap perubahan sosial dan perkembangan intelektual. Yudian dan Kontekstualisasi di Islam di Indonesia Yudian merupakan tokoh pemikir Islam Indonesia yang mendorong pembaruan dalam pemahaman agama melalui pendekatan kontekstual. Ia berpandangan bahwa banyak ajaran Islam yang bersifat universal, namun aplikasinya memerlukan penyesuaian dengan kondisi sosial, budaya, dan sejarah masyarakat lokal. 14 Dalam pemikirannya. Islam tidak bisa dipahami hanya dari sisi tekstual, melainkan juga melalui pendekatan historis-kritis dan budaya. menekankan pentingnya penggunaan akal dalam beragama, sebagaimana tradisi filsafat Islam 15 Oleh karena itu, ia mengajak umat Islam di Indonesia untuk memahami agama secara rasional dan terbuka, sesuai dengan prinsip maqashid al-syariAoah atau sesuai dengan tujuantujuan syariat. Yudian juga mengkritik keras pendidikan Islam yang cenderung hanya menekankan hafalan teks tanpa pemahaman kontekstual. Menurutnya, pendidikan Islam seharusnya mampu mengintegrasikan ilmu agama dengan ilmu pengetahuan modern agar dapat melahirkan generasi yang kritis, terbuka, dan solutif terhadap persoalan bangsa. Sebagai BPIP. Yudian aktif menyuarakan pentingnya membumikan nilai-nilai Islam yang sejalan dengan Pancasila dan kebudayaan Indonesia. Islam, menurutnya, bukan hanya agama langit, tapi juga agama bumi yang harus menjawab kebutuhan masyarakat secara konkret. Yudian memandang Islam sebagai ajaran yang selalu terbuka terhadap dinamika sosial dan perkembangan ilmu pengetahuan, bukan sebagai sistem tertutup yang hanya berlaku dalam kerangka historis tertentu. Dalam hal ini ia mengembangkan pendekatan Islam kontekstual, yaitu cara memahami ajaran Islam dengan mempertimbangkan realitas sosial, perkembangan ilmu, dan prinsip kemaslahatan umat. Teks-teks keagamaan terutama AlQurAoan dan hadis perlu untuk dipahami bukan hanya secara tekstual, tetapi juga melalui pendekatan historis-kritis dan filosofis. Islam perlu mengambil jalan tengah dengan cara meneguhkan nilai-nilai universal Islam sambil tetap terbuka terhadap konteks lokal dan kemajuan zaman. Oleh karena itu, pentingnya menerapkan hermeneutika sosial dalam penafsiran Islam, yakni membaca teks keagamaan melalui lensa kebutuhan masyarakat modern dan perkembangan ilmu pengetahuan. Yudian juga menyoroti bahwa umat Islam perlu melakukan reformasi epistemologis, terutama dalam dunia pendidikan Islam. Ia mengkritik sistem pendidikan tradisional yang kaku dan kurang menyentuh realitas sosial. Dalam banyak karyanya, ia mendorong agar pendidikan Islam dibangun atas dasar pendekatan interdisipliner yang menggabungkan ilmu keislaman, sains, filsafat, sosiologi, dan ilmu sosial lainnya. Hanya dengan cara demikian, menurutnya. Islam dapat tampil sebagai kekuatan moral dan intelektual yang relevan dalam kehidupan publik dan kenegaraan. Secara konsisten menyuarakan pentingnya sinergi antara Islam dan nilai-nilai Pancasila. Baginya. Islam kontekstual bukanlah bentuk kompromi terhadap ajaran agama, melainkan strategi ijtihad yang sesuai dengan maqAid al-syarah dan semangat kebangsaan Indonesia. Dengan pendekatan ini. Islam tidak hanya berfungsi sebagai identitas spiritual, tetapi juga sebagai instrumen pembebasan, keadilan, dan kemajuan sosial. 14Wahyudi. Yudian. Reformasi Pendidikan Islam dan Tantangannya di Indonesia (Yogyakarta: LKiS, 2. 15Abdullah. Amin. Studi Agama: Normativitas atau Historisitas? (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2. 16Ismail. AuIntegrasi Keilmuan dalam Pendidikan Islam Kontemporer,Ay Jurnal Tarbawi. Vol. No. 2, 2023. Wulan Septi Putri. Rayyan Raka Chiwi. Sadari: [Rekontruksi Pemikiran Islam Moderat: Studi Komparatif Antara Yudian Wahyudi Dan Fazlur Rahman Tentang Islam Kontekstua. 71 | Wulan Septi Putri. Rayyan Raka Chiwi. Sadari . Rahman dan Islam Kontekstual Rahman dikenal luas sebagai pelopor pendekatan kontekstual melalui gagasan double movement atau gerakan ganda dalam penafsiran Al-QurAoan. Pendekatan ini melibatkan dua langkah dengan menelusuri makna ayat dalam konteks historis saat wahyu diturunkan dan kemudian menarik nilai-nilai moral universal dari ayat tersebut untuk kemudian diaplikasikan dalam kehidupan modern. Dalam pandangan Rahman pendekatan tekstual murni yang mengabaikan konteks sejarah akan menyebabkan Islam kehilangan relevansi sosialnya. Oleh karena itu, ia mengajukan metode yang memadukan antara nilai normatif dan realitas Menurutnya, teks wahyu harus dipahami sebagai respons terhadap kondisi sosial tertentu di masa Nabi, dan esensinya perlu diangkat untuk menjawab persoalan masa kini. Rahman juga mengkritik keras stagnasi intelektual umat Islam akibat minimnya ijtihad dalam mengembangkan syariat Islam. Ia menyarankan agar umat Islam kembali menggali prinsip-prinsip etika dan rasionalitas dalam syariat, bukan semata mengikuti bentuk 18 Dalam pandangannya, syariat Islam adalah sistem nilai yang bertujuan untuk menegakkan keadilan dan kesejahteraan manusia, bukan sekadar kumpulan hukum. Serta menyerukan integrasi ilmu agama dengan ilmu modern. Ia menolak dikotomi antara ilmu syarAoi dan ilmu duniawi yang selama ini menghambat kemajuan umat Islam. Menurutnya, sejak awal Islam adalah agama yang mendorong pencarian ilmu dan kemajuan intelektual. 19 Dengan demikian, pendidikan Islam harus menanamkan semangat ilmiah dan pemikiran kritis agar mampu menjawab tantangan global. Dalam sistem pendidikan Islam yang terjebak pada taqlid dan kehilangan semangat ijtihad. Rahman menekankan perlunya reformasi intelektual dalam dunia Islam, yaitu dengan mengintegrasikan ilmu-ilmu sosial dan filsafat ke dalam kajian keislaman agar umat Islam mampu menghadapi tantangan modernitas secara kritis dan kreatif. Islam harus menjadi kekuatan pendorong transformasi sosial yang progresif, bukan sekadar simbol identitas atau kekuasaan. Dengan pemikiran Islam kontekstualnya. Rahman ingin mengembalikan semangat awal Islam sebagai agama yang menjawab problematika nyata manusia, bukan sekadar mengulang-ulang hukum masa lalu. Dengan demikian pendekatannya membuka ruang baru bagi pembaruan hukum Islam . , tafsir Al-QurAoan, dan pengembangan etika sosial Islam dalam dunia modern. Persamaan dan Perbedaan Pemikiran Yudian dan Rahman mengenai Rekontruksi Islam Moderat Dalam kajian tentang rekonstruksi pemikiran Islam moderat. Yudian dan Rahman menjadi dua tokoh yang banyak memberikan kontribusi penting melalui gagasan mereka yang progresif dan kontekstual. Meskipun ke duanya berasal dari latar belakang yang berbeda dan beroperasi dalam konteks sosial yang berlainan, tetapi terdapat sejumlah persamaan dan perbedaan mendasar dalam pemikiran mereka yang sangat menarik untuk dikaji. Persamaan dan perbedaan ini tidak hanya menegaskan keunikan masing-masing pemikir, tetapi juga memperkaya wacana tentang Islam moderat dalam konteks kekinian. 20 Berikut beberapa kesamaan pemikiran Yudian dan Rahman: Kontekstualisasi Ajaran Islam Baik Yudian maupun Rahman menekankan pentingnya memahami Islam secara Rahman menggagas metode double movement, yaitu membaca teks Al-QurAoan dengan kembali pada konteks historisnya, lalu mengaplikasikan nilai moral universal dari teks tersebut ke dalam kehidupan modern. 17Rusydi. Ahmad. AuPemikiran Kontekstual Fazlur Rahman dan Relevansinya dalam Dunia Modern. Ay Jurnal Islamika. Vol. No. 18Irawan. Rudy. AuMetode Kontekstual Penafsiran Al-QurAoan Perspektif Fazlur Rahman. Ay Al-Dzikra: Jurnal Studi Ilmu al-Qur'an dan al-Hadits. Vol. No. 1, 2020. 19Fauzan. AuPendidikan Islam dalam Perspektif Fazlur Rahman. Ay Tafkir: Jurnal Ilmu Ushuluddin. Vol. No. 2, 2023. 20Fitria Anwar. AuPemikiran Yudian Wahyudi dan Tantangan Moderasi Islam di Indonesia,Ay Jurnal Kajian Islam dan Masyarakat. Vol. No. 1, . , 41. 72 | MODERATION: Vol. 06 No. Maret 2026 MODERATION: Vol. 06 No. Maret 2026 | Tujuannya agar ajaran Islam tidak stagnan dan tetap relevan sepanjang masa. 21 Sementara itu. Yudian juga mendorong pemahaman Islam melalui pendekatan maqAid al-syarAoah. menekankan bahwa nilai-nilai Islam harus mampu bersinergi dengan nilai lokal dan kebangsaan seperti Pancasila. 22 Yudian maupun Rahman sepakat bahwa membaca teks keagamaan haruslah memperhatikan konteks sosial, sejarah, dan budaya agar ajaran Islam bisa diaplikasikan secara relevan di zaman modern. Pendekatan ini menjadi landasan bagi keduanya dalam melakukan rekonstruksi pemikiran Islam yang adaptif terhadap perubahan sosial dan ilmu pengetahuan. Dalam hal ini, mereka sama-sama menolak sikap literalistis yang menganggap teks agama sebagai dokumen statis tanpa perlu penafsiran ulang. Penolakan Terhadap Politisasi Islam Yudian maupun Rahman menolak keras pemanfaatan agama sebagai alat politik Rahman berpendapat bahwa Islam adalah sistem etika yang harus memengaruhi tatanan sosial, bukan dijadikan ideologi formal negara. 23 Hal yang serupa dikemukakan oleh Yudian yang melihat bahwa formalisasi agama ke dalam politik negara justru berpotensi mereduksi nilai spiritual Islam. Islam, menurut Yudian, adalah nilai yang membimbing, bukan simbol kekuasaan. 24 Kedua tokoh juga memiliki kesamaan dalam melihat pentingnya ijtihad sebagai instrumen utama dalam menghadapi persoalan kontemporer. Mereka menempatkan ijtihad bukan sekadar sebagai aktivitas hukum, melainkan sebagai cara berpikir kritis dan kreatif untuk menggali nilai-nilai universal dari teks-teks suci dan menyesuaikannya dengan realitas sosial yang berkembang. Dengan demikian, ijtihad menjadi sarana pembaharuan dalam pemikiran Islam yang tidak terjebak pada warisan lama secara dogmatis, melainkan terus berkembang sesuai dengan kebutuhan zaman. Ini menandakan bahwa keduanya menempatkan Islam sebagai agama yang dinamis, mampu menjawab tantangan modern tanpa kehilangan esensi ajarannya. Islam sebagai Agama yang Rasional dan Humanis Pemikiran Rahman sangat mengedepankan rasionalitas. Ia mengkritik kejumudan dalam pemikiran Islam pasca abad pertengahan, dan mengusulkan pentingnya menghidupkan kembali semangat ijtihad berbasis akal dan nilai moral. 26 Demikian pula. Yudian menilai bahwa pendidikan Islam perlu diarahkan pada pendekatan rasional dan kontekstual, serta menjadikan agama sebagai sarana membebaskan manusia dari ketertinggalan dan penindasan. Yudian maupun Rahman menekankan pentingnya integrasi antara nilai-nilai agama dengan prinsipprinsip universal kemanusiaan. Dalam pandangan mereka. Islam moderat tidak hanya soal ritual dan ibadah, tetapi juga menyangkut bagaimana umat Islam berperan aktif dalam membangun masyarakat yang adil, toleran, dan damai. Mereka melihat Islam sebagai agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam dan menolak segala bentuk kekerasan dan diskriminasi yang dilakukan atas nama agama. Konsep inklusivitas ini menjadi dasar penting dalam membangun dialog antaragama dan antarbudaya, yang dianggap sangat vital dalam masyarakat global yang pluralistik. Meski memiliki banyak kesamaan, tetapi terdapat juga perbedaan mendasar yang memengaruhi cara pandang dan pendekatan keduanya terhadap Islam moderat. Perbedaan ini berkaitan dengan latar belakang pemikiran, metodologi, serta konteks sosial budaya yang melatarbelakangi pemikiran Yudian dan Rahman. Latar Belakang Sosial dan Kultural Rahman, sebagai seorang sarjana yang besar dalam tradisi pemikiran Islam klasik dan modern Barat, menggunakan pendekatan hermeneutik yang sistematis dan filosofis dalam menafsirkan Al-QurAoan dan hadis. Afrizal, & H. Umar, "Metode Ijtihad Fazlur Rahman (Double Movemen. Sosio Akademika, 2. , . , 22Ae30. 22Yudian Wahyudi. Pendidikan Agama dalam Pusaran Politik (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2. Permana, "Konsep Politik Islam Menurut Fazlur Rahman". Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam, 3. , . , 14Ae25. 24Yudian Wahyudi. Islam Nusantara dan Rekonstruksi Islam Indonesia (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2. 25Yudian Wahyudi. Islam Moderat: Perspektif dan Praktik (Yogyakarta: LKiS, 2. , 45. 26Furhaniati. "Ide Moral sebagai Esensi Pemikiran Islam (Fazlur Rahma. Maulana Atsani, 1. , 51Ae58. 27Muhammad Ramli. AuPemikiran Fazlur Rahman tentang Islam Kontekstual: Telaah Kritis,Ay Jurnal Filsafat Islam. Vol. No. , 90. Wulan Septi Putri. Rayyan Raka Chiwi. Sadari: [Rekontruksi Pemikiran Islam Moderat: Studi Komparatif Antara Yudian Wahyudi Dan Fazlur Rahman Tentang Islam Kontekstua. 73 | Wulan Septi Putri. Rayyan Raka Chiwi. Sadari Metode double movement-nya menekankan pergerakan dari teks ke nilai universal, lalu kembali ke penerapan kontekstual, yang mencerminkan pendekatan yang sangat struktural dan Rahman sangat menitikberatkan pada pentingnya pemahaman moral dan maqasid syariah . ujuan hukum Isla. dalam menafsirkan teks-teks suci. Pendekatannya cenderung universal dan transnasional, dengan fokus pada integrasi ilmu pengetahuan dan agama serta pembaharuan pemikiran Islam secara global. 28 Sementara itu. Yudian lebih banyak mengembangkan pemikirannya dalam konteks lokal Indonesia yang majemuk dan penuh dinamika sosial. Pendekatannya lebih pragmatis dan aplikatif, berorientasi pada bagaimana Islam dapat berfungsi sebagai alat pemersatu dalam masyarakat pluralistik Indonesia. menekankan pentingnya dialog antaragama dan antarbudaya sebagai strategi untuk menciptakan keharmonisan sosial. Fokusnya lebih kepada rekonstruksi Islam yang mampu merespons tantangan modernisasi dan globalisasi secara konkret, terutama dalam konteks sosial-politik Indonesia. Dengan demikian. Yudian lebih menekankan aspek sosial-kultural dalam pemikiran Islam moderat dibandingkan dengan Rahman yang lebih filosofis dan Dalam hal relevansi terhadap dinamika sosial dan ilmu pengetahuan modern. Rahman lebih banyak menyoroti integrasi ilmu pengetahuan modern dengan ajaran Islam melalui kerangka pemikiran yang sistematis. Ia mengajak umat Islam untuk tidak hanya menerima ilmu pengetahuan modern, tetapi juga mengkritis dan merekonstruksi pemahaman Islam agar mampu menyatu dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Yudian, sementara itu, lebih menekankan pada aspek penerapan Islam ke dalam kehidupan sosial sehari-hari yang praktis, seperti dalam isu-isu toleransi, pluralisme, dan keadilan sosial. Pendekatan Yudian lebih pragmatis dan konteksual dalam merespons tantangan sosial politik . Pendekatan Perbedaan lain terletak pada gaya dan pendekatan retorika keduanya. Rahman cenderung menggunakan pendekatan akademis dan filosofis yang mendalam, sehingga karyanya seringkali bersifat teoritis dan lebih mudah diterima dalam ranah akademik internasional. Di sisi lain Yudian menggunakan bahasa yang lebih sederhana dan aplikatif, yang dirancang untuk memberikan panduan praktis bagi umat Islam di Indonesia dalam menghadapi permasalahan sosial dan keagamaan sehari-hari. Meski begitu, ke dua tokoh ini juga sama-sama menolak eksklusivisme dan fundamentalisme yang menutup ruang dialog dan adaptasi. Mereka percaya bahwa Islam harus berkembang secara inklusif, terbuka terhadap perubahan tanpa kehilangan prinsip-prinsip dasarnya. Ini menjadi titik temu penting yang menunjukkan bahwa Islam moderat yang mereka bangun adalah Islam yang mampu menjembatani tradisi dan modernitas, agama dan ilmu pengetahuan, serta teks dan konteks sosial. Secara keseluruhan, persamaan dan perbedaan pemikiran Yudian dan Rahman menunjukkan bagaimana Islam moderat dapat dikembangkan melalui pendekatan yang beragam namun saling melengkapi. Rahman memberikan fondasi filosofis dan metodologis yang kuat, sementara Yudian memberikan aplikasi konkret ke dalam konteks sosial dan budaya yang spesifik. Ke duanya sama-sama berkontribusi dalam memperkaya wacana Islam moderat yang responsif terhadap tantangan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai dasar agama. Dengan pemahaman yang mendalam tentang persamaan dan perbedaan ini, dapat dilihat bahwa rekonstruksi pemikiran Islam moderat bukanlah sebuah pendekatan tunggal, melainkan sebuah spektrum pemikiran yang dinamis dan inklusif. Pendekatan yang diambil oleh ke dua tokoh tersebut membuktikan bahwa Islam bisa menjadi agama yang moderat dan kontekstual sekaligus, serta mampu memberikan solusi bagi permasalahan umat di berbagai dimensi 28Muhammad Nasution. Islam Moderat dan Pemberdayaan Masyarakat di Indonesia (Jakarta: Kencana, 2. , 67. 29Muhammad Zulkifli. Membangun Islam Moderat: Teori dan Implementasi di Indonesia (Yogyakarta: Deepublish, 2. , 101. 74 | MODERATION: Vol. 06 No. Maret 2026 MODERATION: Vol. 06 No. Maret 2026 | KESIMPULAN Berdasarkan pembahasan mengenai rekonstruksi pemikiran Islam moderat dalam studi komparatif antara Yudian dan Rahman, dapat disimpulkan beberapa hal penting. Pertama, ke dua tokoh sama-sama mengembangkan konsep Islam moderat yang menolak pendekatan tekstualistik kaku dan mendorong pemahaman agama yang kontekstual serta dinamis, dengan menekankan pentingnya ijtihad sebagai sarana pembaruan pemikiran Islam. Kedua, pandangan mereka tentang Islam kontekstual sebagai respons terhadap dinamika sosial dan ilmu pengetahuan modern menunjukkan bahwa Islam harus mampu menyesuaikan diri dengan perubahan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai esensialnya. Rahman lebih menekankan pada kerangka hermeneutik dan maqasid syariah secara filosofis, sedangkan Yudian menitikberatkan pada penerapan praktis Islam moderat dalam konteks sosial dan budaya Indonesia yang pluralistik. Ketiga, meskipun terdapat persamaan dalam semangat moderasi dan inklusivitas, terdapat perbedaan dalam pendekatan metodologis dan konteks penerapan antara ke duanya, yang memperkaya wacana Islam moderat dengan perspektif yang beragam namun saling melengkapi. Terakhir, pemikiran Yudian dan Rahman sangat relevan untuk mengembangkan wacana Islam moderat kontemporer, terutama dalam menjawab tantangan sosial, budaya, dan intelektual di era modern yang kompleks dan pluralistik. Pemikiran mereka memberikan landasan penting bagi terciptanya Islam yang rahmatan lilAoalamin, inklusif, dan mampu membangun masyarakat yang harmonis dan beradab. Penulisan ini tentu belum sepenuhnya sempurna, baik dari segi isi maupun penyajian. Penulis menyadari bahwa masih banyak hal yang perlu dikaji dan disempurnakan. Sangat dibutuhkan dan kritik yang bersifat membangun sangat penulis harapkan demi penyempurnaan tulisan ini di masa mendatang. Meskipun demikian, penulis berharap tulisan ini dapat memberikan kontribusi awal terhadap wacana keilmuan rekontruksi pemikiran Islam Semoga tulisan ini bermanfaat bagi pembaca serta menjadi pemantik kajian lebih lanjut dan segala kekurangan menjadi bahan evaluasi dan pembelajaran untuk karya ilmiah Wulan Septi Putri. Rayyan Raka Chiwi. Sadari: [Rekontruksi Pemikiran Islam Moderat: Studi Komparatif Antara Yudian Wahyudi Dan Fazlur Rahman Tentang Islam Kontekstua. | Wulan Septi Putri. Rayyan Raka Chiwi. Sadari REFERENSI