Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN2654-8100 http://jurnalpoltekkesjayapura. com/index. php/gk Volume 15. Nomor 1. Juni 2023 FORMULASI COOKIES BERBAHAN TEPUNG UBI JALAR KUNING (Ipomoea batatas L. ) DAN TEPUNG IKAN OCI (Selaroides leptolepi. SEBAGAI ALTERNATIF MP-ASI BALITA 1, 2, 3 Sriyanti1*. Merinta Sada2. Ni Nengah Asti Kartika Sari3 Program Studi Di Gizi. Jurusan Gizi. Poltekkes Kemenkes Sorong. Sorong. Indonesia ABSTRAK Article info: Submitted: 20-06-2023 Revised: 30-06-2023 Accepted : 30-06-2023 Publication date: 30-06-2023 ABSTRAK Makanan pendamping ASI dapat dikembangkan dari pangan lokal gizi yang baik jalar kuning dari . elompok Makanan ASIseperti dapat ubi umbi-umbia. dan ikan oci . roduk perikana. Ubi jalar kuning, yang memiliki gizi yang baik. Penelitian sumber energi juga mengandung untuk menghasilkan kembang anak. MP-ASI Sementara ikan oci Correspondence author sumber protein penting dan asam lemak yang sangat baik untuk Email: Tujuan Penelitian penelitian adalah untuk menghasilkan MPbalita gizi kurang. pada September sriyanti@poltekkessorong. i ASI hingga November 2020 di Laboratorium Pengolahan sertaJurusan tepungGizi Penelitian Makanan Poltekkes Kemenkes Sorong. Metode September hingga November 2020 di Laboratorium penelian yaitu penelitian eksperimen dengan Rancangan Kata Kunci: Penyelenggaraan Makanan Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Acak Lengkap Formulasi terdiri dengan dari 3 formulasi Gizi Kurang. Sorong. Jenis (RAL). jalar dari MP-ASI. Rancangan Acakperbandingan Lengkap (RAL). Formulasi dan tepung ikan ociperbandingan yaitu F1 . %:5%), . %:20%). Ubi jalar kuning komposisiF2tepung ubi jalarF3 dengan Uji ikan oci yaitu F1 . %:5%). F2 . %:20%), . %:35%). DOI: 10. 47539/gk. 421 F3rasa, . %:35%). Formulasi aroma, dan tekstur oleh 30 orang panelis agak terlatih. organoleptik berdasarkan parameter warna, rasa, aroma, dan tekstur Data uji organoleptik dianalisis dengan uji non-parametrik oleh 30 orang panelis agak terlatih. Data tingkat kesukaan dari uji Kruskal-wallis. Hasil dengan menunjukkan Hasil uji Kruskal-wallis. yang disukai formula yaitu F1terpilih %:5%) Rata-rata yang disukai F1 . %:5%) . kala 3,. kala rata-rata warna . kala 3,. kala dan tekstur . kala 3,. Cookiesterpilih 3,. kala 3,. Cookies gram mengandung energi 430,06 dalam F1 energy 430,06 kkal, protein 60,52%, 9,75%, 16,55%, -karoten 9,75%, lemak 16,55%, karbohidrat 60,52%, betakaroten 33,71 mg/kg, dan besi 4,13 mg. Berdasarkan nilai p-value 33,71 mg/kg, dan besi 4,13 mg. Berdasarkan nilai dengan p-value ubi jalar kuning tepung ubi jalar kuning ikan oci proporsi yang berbeda tepung ikan oci terhadap tingkat kesukaan untuk parameter . =0,. , . =0,. , dan aroma, rasa . =0,. cookies untuk dan rasa cookies. Sementara parameter tekstur tidak menunjukkan ada perbedaan . =0,. Kata Kunci : MP-ASI, ubi jalar kuning, gizi kurang ABSTRACT Complementary food for breast milk can be developed from local food with good nutritional value, such as yellow sweet potato . ubers grou. and one fish . ishery product. Yellow sweet potato, besides being a source of energy, also contains micronutrients that support the growth and development of At the same time, our fish is an essential source of protein and fatty acids, which are very good for growth. This study aims to produce complementary food for breast milk in the form of cookies based on yellow sweet potato flour and once fish flour for undernourished toddlers. The research was conducted from September to November 2020 at the Food Administration Laboratory for the Nutrition Department of the Sorong Ministry of Health Polytechnic. This type of research is an experiment with utterly randomized design research. The cookie formulation consists of 3 formulations based on a Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN2654-8100 http://jurnalpoltekkesjayapura. com/index. php/gk Volume 15. Nomor 1. Juni 2023 comparison of the composition of yellow sweet potato flour with one fish flour, namely F1 . %:5%). F2 . %:20%), and F3 . %:35%). The selected formulations were passed through organoleptic tests based on color, taste, aroma, and texture parameters by 30 semi-trained panelists. Data on the level of preference from organoleptic tests were analyzed using the Kruskal-Wallis test. The results showed that the preferred selected formula was F1 . %:5%) with an average level of preference: color . and texture . F1 selected formula cookies in 100 grams 06 kcal of energy, 60. 52% carbohydrates, 9. 75% protein, 16. 55% fat, 33. 71 mg/kg betacarotene, and 4. 13 mg of iron. Based on the p-value, it shows that the proportion of the composition of yellow sweet potato flour with one fish flour caused differences in the panelist's preference for cookies for the parameters of color . =0,. , aroma . =0,. and taste . of cookies. While the texture parameters did not show any difference . =0,. Keywords: Complementary foods. Undernourished. Yellow sweet potato PENDAHULUAN Balita merupakan kelompok yang rentan mengalami masalah gizi dengan prevalensi yang tinggi hingga saat ini baik kekurangan gizi maupun kelebihan gizi. Masalah tersebut memberikan konsekuensi buruk di tahap kehidupan selanjutnya. Data Riskesdas . menunjukkan sebesar 13,8% balita di Indonesia mengalami gizi kurang, 3,9% gizi buruk, dan 30,8% mengalami stunting dengan proporsi kejadian tertinggi pada kelompok usia 12 Ae 23 bulan (Kemenkes RI, 2018. Masalah gizi pada anak dikaitkan dengan rendahnya asupan makanan hewani (Headey. Hirvonen and Hoddinott, 2. Makanan sumber hewani merupakan sumber asam amino esensial terbaik. Asam amino esensial diperlukan untuk memaksimalkan perkembangan fungsi otak, perkembangan tulang, dan organ tubuh di masa pertumbuhan anak. Semba menjelaskan bahwa asam amino berperan dalam aktivasi jalur pengaturan pertumbuhan utama . TORC. Kekurangan asam amino esensial memicu mTORC1 dalam menekan sintesis protein, lipid dan pertumbuhan sel (Semba et al. , 2. Selain itu, penelitian ini menunjukkan bahwa 62% anak-anak yang mengalami masalah gizi . memiliki konsetrasi serum dari 9 AAE yang lebih rendah, serta AAE bersyarat dan AA non esensial juga rendah (Semba et , 2. Setelah melewati usia 6 bulan, bayi mengalami peningkatan kebutuhan energi dan zat gizi sehingga membutuhkan tambahan makanan dalam bentuk makanan pendamping ASI (MP-ASI). Pada umumnya, komponen utama makanan pendamping ASI adalah bahan pangan kelompok biji-bijian (Klerks et al. , 2. dan terbatas pada satu atau dua jenis bahan pangan saja. Sehingga MP-ASI tersebut mengandung energi dan zat yang rendah. Hal tersebut menyebabkan pemenuhan kebutuhan energi dan zat gizi balita tidak optimal. Penggunaan bahan makanan khususnya pangan lokal untuk makanan balita sangat memungkinkan seperti ikan. Ikan mengandung protein yang bermutu tinggi karena mengandung asam amino esensial lengkap serta tingkat penyerapannya tinggi. Wilayah Indonesia bagian Timur memiliki potensi hasil laut yang beragam dan melimpah. Ikan selar kuning (Selaroides leptolepi. atau lebih dikenal di masyarakat setempat dengan ikan oci adalah salah satu produk perikanan yang banyak dihasilkan. Ikan oci mengandung nilai gizi yang tinggi. Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN2654-8100 http://jurnalpoltekkesjayapura. com/index. php/gk Volume 15. Nomor 1. Juni 2023 diantaranya asam lemak tidak jenuh . mega-3 dan omega-. , protein, besi, dan retinol (Kemenkes RI, 2. Hal ini menunjukkan adanya peluang pemanfaatan ikan selar kuning pada pengembangan produk MP-ASI. Bahan pangan lokal lainnya yang dapat dikembangkan yaitu kelompok umbi-umbian. Pemanfaatan pangan lokal non-serealia dalam pengembangan MP-ASI diharapkan dapat menjadi upaya diversifikasi pangan. Ubi jalar kuning merupakan salah satu sumber karbohidrat dari kelompok umbiumbian yang akan -karoten . 0AAg/100. Pemanfaatan ubi jalar kuning telah banyak dilakukan khususnya pada pengembangan produk makanan ringan seperti bolu kukus (Wipradnyadewi et al. cookies (Sumarni and Ansharullah, 2. dan crackers untuk anak KEP (Aisiyah and Rustanti. Oleh karena itu, kombinasi berbagai jenis pangan lokal dalam MP-ASI seperti umbi-umbian dan ikan dapat saling melengkapi nilai gizi makanan balita. Salah satu bentuk MP-ASI yang telah banyak dikembangkan yaitu cookies. Namun, pengembangan cookies sejauh ini pada umumnya menggunakan pangan dari golongan serealia. Oleh karena itu, penelitian ini mengembangkan formula cookies berbasis pangan lokal sumber karbohidrat berupa ubi jalar kuning dan protein hewani berupa ikan oci. Pengembangan MP-ASI dengan kombinasi bahan tersebut diharapkan dapat menjadi pilihan alternatif produk pangan untuk balita dengan nilai gizi dan sifat organoleptik lebih baik. Berdasarkan kajian tersebut, maka penelitian dilakukan untuk mengembangkan makanan pendamping ASI balita dalam bentuk cookies dengan memanfaatkan kedua bahan pangan tersebut. METODE Jenis penelitian adalah penelitian eksperimental dengan rancangan acak lengkap (RAL) berdasarkan proporsi komposisi tepung ubi jalar kuning dengan tepung ikan oci. Pembuatan produk serta uji kesukaan cookies dilakukan di Laboratorium Teknologi Pangan Program Studi Diploma Tiga Gizi Poltekkes Kemenkes Sorong. Kandungan kimia dianalisis di SIG Laboratory. Bogor (PT. Saraswanti Indo Genetec. Penelitian dilaksanakan pada September sampai November 2020. Cookies dikembangkan dengan mensubstitusi bahan utama yang umumnya digunakan yaitu tepung terigu secara keseluruhan dengan tepung ubi jalar kuning serta tepung ikan oci. Bahan lainnya yaitu gula halus, garam, margarin, susu skim, telur dan baking powder. Pembuatan cookies melalui beberapa tahapan yaitu pembuatan tepung ubi jalar kuning dan tepung ikan oci, pencampuran, pencetakan, dan pemanggangan. Penentuan formulasi cookies dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan energi dan zat gizi balita dan diharapkan dapat memenuhi 10% dari total kebutuhan energi Formulasi ditentukan berdasarkan proporsi komposisi antara tepung ubi jalar kuning dengan tepung ikan oci. Formulasi cookies terdiri dari tiga tingkat, diperoleh melalui percobaan trial and error, yaitu F1 . % : 5%). F2 . % : 20%), dan F3 . % : 35%). Selain itu, formulasi cookies dikembangkan dengan mempertimbangkan pemenuhan kebutuhan energi dan protein balita sebesar 15%. Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN2654-8100 http://jurnalpoltekkesjayapura. com/index. php/gk Volume 15. Nomor 1. Juni 2023 Pembuatan cookies diawali dengan mencampur bahan meliputi margarin, gula bubuk dan baking powder selama 3 menit. Kemudian ditambahkan dengan telur, dimixer dengan kecepatan sedang. Proses selanjutnya, mencampur tepung ubi jalar kuning, tepung ikan oci, dan susu skim, diaduk hingga Adonan dicetak dalam Loyang kue dan dipanggang dengan suhu 140oC selama 40 menit hingga berwarna kuning keemasan. Uji organoleptik dilakukan oleh panelis semi terlatih yang merupakan mahasiswa/mahasiswi Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Sorong berjumlah 30 orang. Panelis tersebut telah mendapatkan dan lulus materi uji sensori. Parameter yang diukur yaitu aroma, warna,crasa, dan tekstur. Sampel disajikan satu demi satu kepada panelis dan memberikan penilaian dengan mengisi kuesioner berdasarkan tingkat kesukaan dari parameter yang dinilai. Parameter diukur dengan menggunakan skala penilaian 5 tingkat yaitu: . sangat tidak suka. tidak suka. sangat suka. Produk yang paling disukai ditentukan berdasarkan rata-rata skor tertinggi dari seluruh panelis dengan satu kali ulangan Analisis kimia dilakukan terhadap produk yang paling disukai berdasarkan uji organoleptic panelis meliputi uji proksimat, kadar -karoten, dan kadar zat besi. Kadar betakaroten dianalisis menggunakan High Performance Liquid Chromatography (HPLC), dan kadar zat besi menggunakan Inductively Coupled Plasma Ae Optical Emission Spectrometry (ICP OES) . HASIL Data Uji Organoleptik Tabel 1 menunjukkan rata-rata nilai kesukaan panelis terhadap produk melalui uji organoleptik. Tabel 1. Uji organoleptik cookies Parameter Warna Aroma Rasa Tekstur Rata-rata p-value 0,038 0,027 0,000 0,178 Berdasarkan analisis Kruskal-Wallis menunjukkan bahwa perbedaan komposisi bahan utama antara tepung ubi jalar kuning dengan tepung ikan oci menyebabkan adanya perbedaan signifikan pada tingkat kesukaan panelis terhadap parameter warna, aroma dan rasa cookies yang dihasilkan . <0. sementara parameter tekstur tidak berbeda signifikan . >0. Kandungan Gizi Cookies Cookies tepung ubi jalar kuning dan tepung ikan oci pada F1 merupakan formulasi yang paling disukai berdasarkan hasil uji organoleptic oleh panelis. Oleh karena itu, dilakukan analisis kandungan nilai gizi. Kandungan gizi yang dianalisis meliputi karbohidrat, protein, lemak, air, abu, -karoten, dan zat besi disajikan pada Tabel 2. Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN2654-8100 http://jurnalpoltekkesjayapura. com/index. php/gk Volume 15. Nomor 1. Juni 2023 Tabel 2. Kandungan gizi cookies tepung ubi jalar kuning dan tepung ikan oci Komponen Air (%) Abu (%) Kalori . kal/100 . Protein (%) Lemak (%) Karbohidrat (%) Betakaroten . g/k. Besi . g/100 . F1 . % : 5%) 9,92 430,06 9,75 16,55 60,52 33,71 4,13 SNI O5g O 3,5 g Ou 400 kkal Ou6g 6 Ae 18 g O 30 g 250-700 retinol ekivalen Ou 5 mg Berdasarkan Tabel 2 dapat dilihat bahwa beberapa kandungan zat gizi dari produk cookies MPASI yang dikembangkan dengan kombinasi tepung ubi jalar kuning dengan tepung ikan oci sesuai dan memenuhi standar nasional Indonesia (SNI) Nomor 01-7111. Namun, belum memenuhi sepenuhnya prinsip makanan tambahan. Makanan tambahan lokal umumnya diberikan dalam bentuk makanan lengkap yang mengacu pada Pedoman Gizi Seimbang serta memperhatikan porsi setiap bahan makanan menurut isi piringku. Sementara produk ini dikembangkan dalam bentuk cookies yang dapat dikonsumsi sebagai makanan selingan, dan terbatas kandungan protein nabati. Waalaupun demikian, produk ini dapat diterima, mudah dibuat serta dapat memenuhi kebutuhan energi dan zat gizi balita. Selain itu, menggunakan bahan pangan dengan harga terjangkau, mudah didapatkan di daerah setempat, serta aman. BAHASAN Hasil uji organoleptik menunjukkan secara umum panelis menyukai formula cookies yang dikembangkan berdasarkan parameter aroma, tekstur, rasa, dan warna. Formula F1 merupakan produk dengan tingkat kesukaan paling tinggi serta dapat diterima dengan proporsi komposisi tepung ubi jalar kuning dengan tepung ikan oci yaitu 95% : 5%. Proporsi komposisi bahan utama mempengaruhi tingkat kesukaan panelis terhadap cookies. Analisis tingkat kesukaan cookies menunjukkan perbedaan signifikan . <0. pada parameter aroma, rasa, dan warna cookies namun tidak ada perbedaan signifikan pada parameter tekstur. Skor rerata tertinggi kesukaan untuk warna sebesar 3,7 pada F1. Kombinasi antara tepung ubi jalar kuning dengan tepung ikan oci menimbulkan warna cokelat pada cookies. Warna tersebut berasal dari bahan utama yaitu tepung ubi jalar kuning serta tepung ikan oci. Tepung ubi jalar kuning memiliki warna merah muda, sementara tepung ikan oci berwarna cokelat. Proporsi penggunaan tepung ikan yang semakin banyak pada cookies akan menyebabkan warna cokelat semakin pekat. Warna cokelat pada cookies juga diakibatkan oleh adanya reaksi miller . rowning reactio. pada saat pemanggangan Reaksi browning terjadi akibat bereaksinya senyawa asam amino yang ada pada tepung ikan dengan gula sederhana . ula bubu. pada suhu tinggi. Aroma pada F1 memiliki rata-rata skor tertinggi yaitu 3,4. Cookies menghasilkan aroma khas dari ubi jalar kuning serta amis yang diduga dikarenakan penggunaan tepung ikan oci. Aroma tersebut Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN2654-8100 http://jurnalpoltekkesjayapura. com/index. php/gk Volume 15. Nomor 1. Juni 2023 merupakan aroma khas ikan dikarenakan adanya kandungan trimethylamin oxide (TMAO) yang terbentuk dari bakteri saat ikan mulai mati. Hasil penelitian ini juga menunjukkan adanya perbedaan tingkat kesukaan terhadap aroma cookies akibat perbedaan komposisi tepung ikan oci yang digunakan. Hasil ini serupa dengan temuan (Nadimin and Fitriani, 2. yang mengembangkan cookies berbahan tepung ikan kembung. Aroma amis cenderung muncul pada cookies akibat penambahan tepung ikan Penelitian lainnya oleh (Nadimin, 2. menunjukkan ada pengaruh daya terima konsumen pada parameter aroma produk bangke sagu dengan penambahan tepung ikan gabus. Tingkat kesukaan panelis cenderung mengalami penurunan pada penggunaan 5% lebih tepung ikan gabus. Berdasarkan parameter rasa menunjukkan bahwa panelis paling menyukai formula F1 dengan skor rerata 3,9. Rasa manis pada biskuit sudah pas, sementara rasa amis kuat namun gurih. Penggunaan tepung ikan oci menimbulkan rasa khas ikan yang kuat. Berdasarkan parameter tekstur menunjukkan bahwa formula F1 memiliki rata-rata skor kesukaan tertinggi yaitu 3. 8, namun nilai tersebut menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan terhadap formula lainnya. Tekstur cookies padat dan Hal tersebut diakibatkan karena bahan penyusun cookies berupa tepung ubi jalar kuning dengan tepung ikan oci yang tidak mengandung gluten. Tidak adanya kandungan gluten pada bahan mempengaruhi volume pengembangan adonan sehingga menghasilkan tekstur agak keras. Hasil ini juga sama dengan temuan (Darawati et al. , 2. yang mengembangkan food bar berbahan tepung ubi jalar, tepung ikan tuna dan ikan tenggiri. Penelitian tesebut menunjukkan bahwa tekstur food bar yang dihasilkan tidak dipengaruhi oleh penambahan tepung ikan. Walaupun demikian, tekstur tersebut masih tetap disukai oleh panelis. Kandungan gizi cookies terpilih diperoleh dengan uji proksimat meliputi kandungan karbohidrat, protein, lemak, air dan abu. Selain itu, juga dianalisis kadar -karoten dan zat besi. Hasil analisis menunjukkan bahwa 100 gram cookies F1 mengandung 9,92 gram air. Nilai tersebut tidak sesuai dengan rekomendasi kandungan air pada SNI 01-7111. 2-2005 yaitu maksimal lima gram. Kandungan air yang tinggi tersebut dapat berdampak pada masa simpan produk cookies. Formula cookies F1 memenuhi persyaratan untuk kadar abu pada SNI 01-7111. 2-2005 yaitu sebesar kurang atau sama dengan 3,5 gram. Kadar abu tersebut berkaitan dengan kandungan mineral cookies yang tinggi. Bahan penyusun cookies mengandung mineral diantaranya yaitu ikan oci yaitu 12 mg kalsium, 76 mg magnesium, dan 217 mg fosfor. Formula cookies F1 memiliki kandungan energi yang sesuai dengan yang direkomendasikan pada SNI 01-7111. 2-2005 biscuit MP-ASI yaitu minimal 400 kkal. Kandungan energi cookies berasal dari ubi jalar kuning. Semakin besar proporsi ubi jalar kuning yang digunakan maka kandungan energi cookies semakin besar. Dengan kandungan energi tersebut, maka pemberian cookies sebanyak 4 keping per hari . dapat menyumbang energi sebesar 206. 4 kkal. Energi tersebut memenuhi 15,3% dari kebutuhan energi total balita. Produk cookies F1 sudah sesuai dengan rekomendasi kadar protein pada SNI 01-7111. untuk biscuit MPASI dengan nilai minimal enam gram . Kandungan protein cookies berasal dari protein Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN2654-8100 http://jurnalpoltekkesjayapura. com/index. php/gk Volume 15. Nomor 1. Juni 2023 hewani yaitu ikan oci. Proporsi penggunaan ikan oci yang besar akan mempengaruhi kandungan protein cookies semakin tinggi. Protein hewani seperti ikan oci termasuk sumber protein dengan mutu dan kualitas tinggi karena mengandung asam amino esensial lengkap dan daya cerna yang tinggi sehingga tubuh dapat menyerap lebih besar. Hal tersebut sebagai faktor yang mendukung pertumbuhan balita (Darawati et al. , 2. Kadar lemak cookies F1 sebesar 16,55% . ,55 . Nilai tersebut sesuai dan memenuhi SNI 017111. 2-2005 yaitu berkisar antara enam sampai delapan belas gram. Kandungan lemak cookies diperoleh dari telur ayam dan ikan oci. Jenis asam lemak yang ada pada ikan oci yaitu omega-3. Jenis asam lemak omega-3 tersebut adalah asam eicosapentaenoic (EPA) dan asam docosahexaenoic (DHA). Sementara kadar karbohidrat sebesar 60,52 gram. Kadar tersebut melebihi dari batas yang direkomendasikan pada SNI 01-7111. Kandungan karbohidrat yang tinggi pada cookies dipengaruhi oleh bahan penyusunnya yang merupakan sumber karbohidrat yaitu tepung ubi jalar Kandungan Dalam seratus gram berat bersih ubi jalar kuning mengandung 25,1 gram SIMPULAN DAN SARAN Proporsi komposisi tepung ubi jalar kuning dengan tepung ikan oci menyebabkan perbedaan tingkat kesukaan cookies . arameter warna, aroma, dan ras. Secara organoleptik, produk yang paling disukai yaitu formula F1 . % : 5%). Kandungan energi dan zat gizi . rotein dan lema. cookies sudah memenuhi SNI biscuit MP-ASI sementara kandungan karbohidrat melebihi yang dianjurkan. Saran, formulasi cookies dapat dikembangkan dengan menambahkan/subtitusi beberapa jenis bahan pangan lokal sumber protein termasuk protein nabati agar kandungan protein cookies semakin baik. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih kepada Direktur Poltekkes Kemenkes Sorong yang telah mendukung penelitian dengan pendanaan penelitian dosen pemula melalui DIPA Poltekkes Kemenkes Sorong tahun anggaran 2020 yang dibiayai oleh Kementerian Kesehatan. RUJUKAN