Volume 5 No. Tahun 2025 Halaman 302 Ae 315 Available online : https://ejournal. id/index. php/PENIPS/index Pengaruh Penggunaan Media Pembelajaran Uno Stacko Terhadap Pencapaian Student Well-Being Pada Pembelajaran IPS Kelas IX di SMP Negeri 5 Sidoarjo Sayyidah Navis Sairah . Kusnul Khotimah . Ali Imron . Dian Ayu Larasati . S1 Pendidikan IPS. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Negeri Surabaya. Indonesia Abstrak Media pembelajaran sebagai sarana penyampaian informasi dalam pembelajaran perlu untuk diperhatikan pendidik agar dapat menciptakan student well-being dalam proses pembelajaran. Hal ini karena well-being merupakan suatu persoalan penting terkait dengan kondisi psikologis peserta didik. Peserta didik dengan well-being baik akan membawa pengaruh positif dalam proses pembelajaran. Penelitian ini ditujukan untuk menganalisis terkait penggunaan media pembelajaran AuUno StackoAy terhadap pencapaian student well-being pada pembelajaran IPS kelas IX. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode penelitian kuasi eksperimen. Instrumen penelitian untuk mengumpulkan data ialah kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Hasil analisis menunjukkan bahwa data yang terkumpul berdistribusi normal dan homogen. Hasil Uji Independent Sample T-Test menunjukkan perolehan nilai Asymp. Sig. -taile. sebesar 0,000 < 0,05, interpretasi dari hasil tersebut yakni terdapat perbedaan yang signifikan pada penggunaan media pembelajaran AuUno StackoAy terhadap pencapaian student well-being pada pembelajaran IPS kelas IX. Selain itu, pada penelitian ini juga dilakukan uji N-Gain Score yang diperoleh nilai mean sebesar 83,8 pada kelas eksperimen, dan nilai mean sebesar 34,3 pada kelas kontrol. Berdasarkan acuan tabel kriteria efektivitas N-Gain, media pembelajaran Uno Stacko AuefektifAy untuk digunakan dalam pencapaian student well-being. Temuan ini menunjukkan bahwa mengintegrasikan media inovatif dan interaktif seperti "Uno Stacko" dapat berfungsi sebagai strategi pedagogis yang efektif dalam meningkatkan kesejahteraan psikologis peserta didik, khususnya dalam konteks pembelajaran IPS di SMP Negeri 5 Sidoarjo Kata Kunci: Uno Stacko. Student Well-Being. Pembelajaran IPS Abstract Learning media as a means of conveying information in learning needs to be considered by educators in order to create student well-being in the learning process. This is because student well-being is an important issue related to the psychological condition of students. Students with good well-being are more likely to demonstrate positive attitudes and better academic performance in the learning process. This study aims to analyze the use of "Uno Stacko" learning media on the achievement of student well-being in social studies learning for grade IX. This study is a quantitative study with a quasi-experimental research method. The research instrument for collecting data is a questionnaire that has been tested for validity and reliability. The results of the analysis showed that the data collected were normally distributed and homogeneous. The results of the Independent Sample T-Test showed the acquisition of an Asymp. Sig. -taile. value of 000 <0. 05, the interpretation of these results is that there is a significant difference in the use of "Uno Stacko" learning media on the achievement of student well-being in social studies learning for grade IX. Additionally, this study also conducted an N-Gain Score test which obtained a mean value of 83. 8 in the experimental class, and a mean value of 34. 3 in the control class. Based on the reference table of NGain effectiveness criteria. Uno Stacko learning media is "effective"in improving student well-being. These findings suggest that integrating innovative and interactive media such as "Uno Stacko" can serve as an effective pedagogical strategy to enhance the psychological well-being of students, particularly in social studies learning contexts at SMP Negeri 5 Sidoarjo. Keywords: Uno Stacko. Student Well-Being. Social Studies How to Cite: Sairah. Khotimah. Kusnul. Imron. Ali. Larasari. A . Pengaruh Penggunaan Media Pembelajaran Uno Stacko Terhadap Pencapaian Student Well-Being Pada Pembelajaran IPS Kelas IX di SMP Negeri 5 Sidoarjo. Dialektika Pendidikan IPS. Vol 5 . : 302 - 315 Dialektika Pendidikan IPS. Volume 5 . : 301-315 PENDAHULUAN Pada zaman kontemporer, pendidikan menunjukkan esensialitas yang mendasar dan fundamental dalam kemajuan suatu negara. Pendidikan, sebagai salah satu dimensi keberadaan manusia yang krusial, sebab pendidikan dapat menentukan pandangan dunia terhadap suatu bangsa yang dilihat dari kualitas pendidikannya (Palupi, 2. Pendidikan yang bermutu merupakan krusial dalam membentuk individu yang berkualitas dan mampu merespons dengan tangkas terhadap kompleksitas tantangan yang dihadapi dalam upaya memperkokoh fondasi kemartabatan bangsa dan negara. Melalui pendidikan yang berkualitas tersebut, individu dapat lebih mengembangkan potensi mereka secara maksimal, memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan, serta mengadopsi nilai-nilai yang positif untuk memajukan masyarakat dan negara secara keseluruhan, sehingga pendidikan dapat benar-benar menjadi tempat berpacu untuk memperbaiki nasib dan peradaban umat manusia. Memasuki abad 21 yang memiliki gelombang besar dalam perkembangan ilmu pengetahuan, pendidikan hadir sebagai media dalam mengembangkan potensi untuk menciptakan generasi bangsa yang berkualitas dan menjunjung tinggi martabat di mata dunia (Shoimin, 2. Dalam mendukung terwujudnya keberhasilan tersebut, perlu adanya beberapa hal yang diperhatikan pendidikan, salah satunya yakni dalam proses pelaksanaan pendidikan. Sesuai dengan ketetapan yang dicantumkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan. Kebudayaan. Riset, dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2022 mengenai Standar Proses dalam pelaksanaan pembelajaran, pentingnya menjalankan proses pembelajaran yang inspiratif, interaktif, mengasyikkan, menantang, dan merangsang partisipasi aktif peserta didik, sambil memberi kesempatan agar dapat meningkatkan kreativitas dan mandiri, sesuai dengan minat, kemampuan, serta psikologi dari masing-masing kondisi peserta didik. Berdasarkan penyataan diatas, proses pelaksanaan pembelajaran yang baik menjadi suatu hal yang perlu untuk diperhatikan sebagaimana mewujudkan pembelajaaran yang signifikan secara mendalam bagi peserta didik. Dari hal itu, pembelajaran dapat dipahami sebagai proses di mana guru menyampaikan doktrin atau informasi kepada peserta didik (Ariski, 2. Pembelajaran yang menarik menjadi pertimbangan dalam keberhasilan dalam mewujudkan pembelajaran bermakna bagi peserta didik tersebut. Tentu saja hal ini memerlukan dukungan dari peran guru dalam proses pelaksanaan pembelajaran, sebab seorang guru merupakan pion utama dalam membentuk manusia yang berkualitas (Aziz, 2. Terkait dengan pelaksanaan pembelajaran yang menarik, hingga saat ini pelaksanaan pembelajaran IPS seringkali masih diajarkan secara teoritis melalui metode membosankan seperti ceramah dan menghafal, peserta didik masih sering melihatnya sebagai subjek yang kurang menarik (Setiawan & Mulyati, 2. Kaulan dalam (Luluanna et al. , 2. mengatakan jika dalam proses pembelajaran IPS masih sering ditemui guru mengajar dengan metode ceramah dengan tidak melibatkan peserta didik untuk aktif. Pembelajaran dilakukan tanpa pernah memahami kondisi peserta didik dalam proses belajar. Pembelajaran IPS jika demikian justru mempersulit peserta didik untuk menemukan potensi belajar mereka, karena tidak ada kebebasan dalam belajar dan pembelajaran hanya bersifat satu arah saja (Novita Jumiarti, 2. Sejalan dengan penjelasan mengenai pembelajaran IPS yang masih diimplementasikan secara teoritis, pada realitanya hal tersebut juga masih terjadi di SMP Negeri 5 Sidoarjo. Peneliti selama masa pengenalan lingkungan persekolahan (PLP) melihat pembelajaran IPS kelas IX di sekolah tersebut masih cenderung diimplementasikan secara teoritis, kurang melibatkan peserta didik dalam proses kegiatan pembelajaran, dan sering hanya diberikan tugas-tugas yang membebani mereka. Keadaan Dialektika Pendidikan IPS. Volume 5 . : 301-315 yang demikian membuat motivasi belajar mereka rendah dan seringkali mengeluh karena merasa bosan dan tidak semangat dalam belajar IPS, sehingga peserta didik menganggap pembelajaran IPS tidak menyenangkan untuk dipelajari. Rendahnya motivasi belajar tersebut juga tercermin melalui hasil evaluasi penilaian formatif peserta didik di kelas IX pada mata pelajaran IPS selama semester ganjil tahun ajaran 2024/2025 pada tema 01 mengenai manusia dan perubahan dengan hasil bahwa 60% peserta didik belum memenuhi Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (KKTP) di mana sudah ditetapkan yaitu 80. Nilai ini mengindikasi bahwa sejumlah besar peserta didik menghadapi kesulitan untuk memahami konsepkonsep yang diajarkan selama proses pembelajaran di mana metode yang digunakan, yaitu metode ceramah dan diskusi. Metode tersebut tampak kurang cukup efektif dalam hal memotivasi peserta didik dapat berpartisipasi aktif di kelas. Dapat dilihat dari rendahnya keterlibatan peserta didik Ketika berdiskusi kelompok dan minimnya kemampuan mereka untuk mengaplikasikan konsep perubahan sosial dalam konteks kehidupan nyata. Data nilai formatif yang rendah ini menjadi indikasi bahwa metode pembelajaran yang diterapkan saat ini belum optimal dalam mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan. Pembelajaran yang menyenangkan tentu menjadi sesuatu yang perlu untuk dilakukan untuk dapat membantu menciptakan lingkungan belajar yang kondusif di mana peserta didik akan merasakan lebih termotivasi, terlibat, dan senang dengan proses pembelajaran mereka. Motivasi dan prestasi belajar dapat muncul karena adanya tindakan individu atau kolaboratif yang melibatkan emosi masing-masing (Suprijono et al. , 2. Ketika peserta didik memiliki emosi positif dengan perasaan aman, nyaman, dan dihargai di kelas, mereka cenderung lebih terbuka untuk belajar, mengambil risiko dalam mengeksplorasi ide-ide baru, dan mengembangkan potensi mereka secara penuh. Selain itu, pembelajaran yang menyenangkan juga dapat meningkatkan koneksi antara guru sebagai pengajar dan peserta didik, dan juga sesama peserta didik yang dapat berkontribusi pada iklim kelas yang positif sehingga student well-being . esejahteraan peserta didi. dapat dirasakan oleh mereka. Memperhatikan pelaksanaan proses pembelajaran peserta didik sama halnya dengan memperhatikan kesejahteraan mereka dalam lingkungan pembelajaran di sekolah (Aulia, 2. Istilah kesejahteraan peserta didik . tudent well-bein. beberapa tahun belakang ini menjadi populer didalam ranah pendidikan karena menyangkut kebahagiaan peserta didik di lingkungan sekolah, terutama pada masa remaja di mana suatu periode perubahan menuju usia dewasa dengan tuntutan tugas sekolah dan tanggung jawab yang lainnya yang dihadapi oleh mereka (Wati & Leonardi, 2. The Australian Council for Education of Research mengatakan jika istilah student well-being juga dapat dimaknai sebagai derajat keefektifan fungsi peserta didik di sekolah (Fraillon, 2. atau keadaan dimana mereka memiliki perasaan bahagia saat pembelajaran di sekolah (De Fraine et al. , 2. Pelaksanaan pendidikan dengan mengedepankan well-being peserta didik sangat penting untuk diimplementasikan, karena belajar di sekolah lebih dari sekadar melibatkan peserta didikkdalam mencapaiitujuan pembelajaran, melainkan juga menyadari kesejahteraan mereka secara keseluruhan. Peserta didik yang dengan derajat well-being yang tinggi, cenderung merasa bahagia, puas, dan seimbang dalam kehidupannya. Selain itu, mereka memiliki kemampuan yang lebih baik untuk menangani tantangan akademik dan sosial, serta lebih mampu untuk berinteraksi dengan orang lain secara positif (Cahyono et al. , 2. Studi yang dilakukan oleh Khatimah . , disampaikan jika kesejahteraan peserta didik memiliki dampak yang positif terhadap diri peserta didik karena mendorong terciptanya perasaan kenyamanan dan kebahagiaan selama proses pembelajaran. Peserta didik yang memperoleh kesehatan, kebahagiaan, dan kesejahteraan saat mengikuti pembelajaran cenderung mampu mencapai potensi belajarnya secara optimal dan memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap lingkungan sekolah dan masyarakat pada umumnya. Student well-being menyangkut kebahagiaan peserta didik dalam pelaksanaan pembelajaran seringkali terlewatkan oleh para pendidik. Ini sejalan dalam penelitian (Suhendra et al. , 2. yang Dialektika Pendidikan IPS. Volume 5 . : 301-315 mengungkapkan jika keterlaksanaan pencapaian well-being peserta didik masih kurang dirasakan peserta didik dalam kegiatan pembelajaran. Perhatian pendidik seringkali hanya terfokus pada prestasi akademik mereka sehingga well-being peserta didik ditempatkan pada perhatian sekunder. Padahal well-being ialah salah satu elemen penting dalam pendidikan yang berkelanjutan dan efektif, sebab tidak hanya melibatkan aspek fisik, tetapi juga mencakup aspek sosial, psikologis dan emosional peserta didik. Berdasarkan masalah tersebut, perlu dilakukan penelitian yang berfokus pada pendekatan pembelajaran yang dapat menarik dan berfokus pada peserta didik dapat diterapkan agar mengatasi hambatan-hambatan tersebut. Pelaksanaan pembelajaran yang menarik dapat dilakukan melalui pembelajaran interaktif yang melibatkan peserta didik. Pendekatan pembelajaran yang interaktif mampu menjadi solusi inovatif didalam proses pembelajaran, ini perlu didukung oleh pemanfaatan media pembelajaran agar dapat menarik dan disesuaikan dengan kebutuhan individu dari peserta didik (Hasan et al. , 2. Salah satu opsi media pembelajaran yang sesuai dalam konteks tersebut adalah penggunaan Uno Stacko sebagai alat pembelajaran. Melalui penerapan media pembelajaran ini, peserta didik dapat mengalami transformasi perspektif terhadap pembelajaran IPS yang sering dianggap monoton menjadi suatu pengalaman yang mengasyikkan. Uno Stacko sebenarnya merupakan sejenis permainan yang dipakai untuk mengurangi rasa jenuh. Uno Stacko adalah permainan yang awalnya diciptakan sebagai varian dari permainan kartu Uno, yakni permainan yang dimainkan dengan Menyusun balok-balok kayu agar menjadi sebuah menara (Timur Saputri et al. Media pembelajaran Uno Stacko ini akan diimplementasikan dalam pembelajaran IPS untuk kelas IX, dengan materi AuPerubahan SosialAy. Penggunaan media ini diharapkan dapat memfasilitasi peserta didik dalam pembelajaran IPS menyangkut pencapaian student well-being, di mana sebuah aspek penting dalam dunia pendidikan yang masih jarang mendapatkan perhatian khusus dalam proses Di era pembelajaran modern, well-being peserta didik tidak hanya diukur dari prestasi akademik, tetapi juga dari bagaimana mereka merasa bahagia, termotivasi, dan mampu mengatasi tantangan selama belajar (Suriyani & Nurmayasari, 2. Penelitian ini mencoba mengintegrasikan media pembelajaran inovatif seperti Uno Stacko untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, aktif, dan interaktif. Melalui pendekatan tersebut, peserta didik tidak hanya memperoleh pemahaman materi pelajaran, tetapi juga mengalami peningkatan dalam aspek sosialemosional mereka. Pemilihan media pembelajaran yang tepat dapat menjadi kunci dalam menciptakan pengalaman belajar yang lebih holistik. Apabila pendekatan seperti ini diterapkan secara luas, maka pendidikan tidak hanya fokus pada hasil akhir akademik, tetapi juga pada perkembangan karakter dan kesejahteraan mental peserta didik. Proses belajar akan lebih bermakna dan berdampak jangka panjang bagi peserta didik. Selain itu, inovasi dalam media pembelajaran seperti ini sangat dibutuhkan agar peserta didik lebih terlibat secara aktif dan tidak sekadar menjadi penerima informasi pasif. Berdasarkan kerangka ini, peneliti bermaksud untuk menginvestigasi AuPengaruh Penggunaan Media Pembelajaran Uno Stacko Terhadap Pencapaian Student Well-Being Pada Pembelajaran IPS di SMP Negeri 5 SidoarjoAy. Dari studi diatas diharapkan penggunaan media pembelajaran Uno Stacko mampu menciptakan pembelajaran IPS yang membahagiakan untuk peserta didik sehingga student well-being tercapai dengan lebih baik. METODE PENELITIAN Jenis penelitian yang dipakai yaitu penelitian kuantitatif dengan pendekatan eksperimen, khususnya quasi experiment. Desain penelitian yang dipakai adalah non-equivalent control group design. Dalam desain ini, terdapat dua kelompok, yaitu kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Peneliti Dialektika Pendidikan IPS. Volume 5 . : 301-315 memberikan perlakuan . berupa pembelajaran dengan media pembelajaran Uno Stacko kepada kelompok eksperimen, sementara kelompok kontrol menerima perlakuan . berupa pembelajaran konvensional. Setelah perlakuan diberikan, peneliti mengumpulkan data dengan memberikan angket kepada kedua kelompok kelas untuk mengukur pencapaian well-being peserta Desain dapat digambarkan pada tabel sebagai berikut: Non-equivalent Control Group Design Tabel 1. Non-equivalent Control Group Design Angket Treatment Angket Eksperimenn O1i O2i Kontroll O1i O2i Kelompok Sumber: (Sugiono, 2. Keterangan: O1 : Angket pre-test untuk kelas eksperimen dan kelas kontrol X : Pembelajaran menggunakan media pembelajaran Uno Stacko - : Pembelajaran konvensional . irect teachin. O2 : Angket post-test kelas eksperimen dan kelas kontrol setelah diberi treatment Penelitian dilaksanakan di SMP Negeri 5 Sidoarjo. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini yakni kelas 66 peserta didik kelas IX. Teknik pengambilan sampel berdasarkan teknik Probability Sampling. Instrumen pengumpulan data menggunakan angket pencapaian student well-being yang diujikan sebelum dan sesudah pelaksaan perlakuan. Angket pre-test digunakan untuk mengetahui wellbeing peserta didik awal sebelum adanya perlakuan, dan angket post-test digunakan untuk mengetahui hasil pencapaian well-being peserta didik setelah dilakukan perlakuan. Pada angket penelitian ini terdapat alternatif jawaban berupa sangat setuju. cukup setuju. kurang setuju. dan tidak Perolehan hasil data diolah melalui uji yang dilakukan yakni uji validitas dengan Uji Product Moment dan uji reliabilitas dengan Alpha CronbachAos. Kemudian untuk teknik analisis data melalui pengolahan statistik yakni uji prasayarat seperti uji normalitas dengan Kolmogorov Smirnov, uji homogenitas dengan Levene, uji hipotesis dilakukan dengan uji Independet Sample T-Test, serta Uji NGain Score. HASIL DAN PEMBAHASAN Pelaksanaan pre-test menjadi awal dari penelitian ini. Pre-test dilaksanakan sebelum peserta didik menerima perlakuan yang akan diberikan. Adapun pernyataan angket yang digunakan yakni 24 butir pernyataan yang telah tersortir dari hasil uji validitas terhadap instrumen penelitian yang Hasil pre-test dapat ditunjukkan pada tabel berikut: Tabel 2. Perolehan Nilai Pre-Test Kelas Eksperimen Kontrol Nilai Tertinggi Nilai Terendah Rata-rata Nilai 64,54 63,78 Dialektika Pendidikan IPS. Volume 5 . : 301-315 Berdasarkan data pada tabel, hasil pre-test menunjukkan bahwa nilai rata-rata kelas eksperimen hanya lebih tinggi 0,76 dari nilai rata-rata kelas kontrol. Nilai tertinggi kelas eksperimen adalah 78, nilai terendah sebesar 37, dan nilai rata-rata adalah 64,54. Sedangkan nilai tertinggi kelas kontrol adalah 77, nilai terendah sebesar 42, dan nilai rata-rata adalah 63,78. Perbedaan nilai rata-rata antara kedua kelas tidak terlalu signifikan selama tahap pre-test. Hasil pre-test yang tidak terlalu berbeda ini kemungkinan besar dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut seperti kurikulum pembelajaran yang sama, materi yang serupa, serta latar belakang peserta didik yang relatif setara dalam aspek akademik, karena peserta didik berasal dari sekolah dan lingkungan yang sama, sehingga mereka mendapatkan pengalaman belajar yang sama sebelum penelitian dimulai. Selain faktor lingkungan belajar yang serupa, metode pembelajaran yang digunakan oleh guru sebelum penelitian juga dapat menjadi penyebab utama mengapa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kedua kelas. Dengan demikian, adanya perbedaan rata-rata nilai pre-test yang tidak signifikan dapat dijelaskan oleh kondisi awal peserta didik yang relatif serupa dalam hal pengalaman belajar dan metode pengajaran sebelumnya. Hal ini memastikan bahwa penelitian dapat berjalan secara objektif, karena peningkatan yang terjadi pada kelas eksperimen nantinya dapat lebih valid diatribusikan pada perlakuan yang diberikan, bukan karena perbedaan kondisi awal peserta didik. Tabel 3. Hasil Student Well-Being Sebelum Perlakuan No. Kategori Student Well-Being 0% - 20% (Sangat Renda. 21% - 40% (Renda. 41% - 60% (Sedan. 61% - 80% (Tingg. 81% - 100% (Sangat Tingg. Kelas Eksperimen Kontrol Perolehan tingkat well-being sebelum perlakuan dapat dilihat pada tabel diatas yang menunjukkan peserta didik dikelompokkan menjadi beberapa kategori yaitu sangat tinggi, tinggi, sedang, rendah, dan sangat rendah. Jumlah peserta didik yang memiliki kesejahteraan sangat tinggi pada kelas eksperimen maupun kontrol diperoleh sebanyak 0 anak, pada kategori tinggi berjumlah 14 peserta didik yakni 6 anak pada kelas eksperimen dan 8 anak pada kelas kontrol, pada kategori sedang sebanyak 24 anak di kelas ekseperimen dan 23 anak di kelas kontrol, sedangkan pada kategori rendah terdapat 3 anak kelas eksperimen dan 2 anak kelas kontrol, dan tidak ada peserta didik yang masuk dalam kategori well-being sangat rendah. Data ini menjadi gambaran awal terkait pengolahan angket pre-test yang digunakan untuk kedua kelas sebelum adanya perlakuan. Setelah adanya perlakuan, pelaksanaan post-test dilaksanakan dengan 24 butir pernyataan yang telah tersortir dari hasil uji validitas terhadap instrumen penelitian yang digunakan. Tabel berikut menunjukkan hasil post-test: Tabel 4. Perolehan Nilai Post-Test Kelas Eksperimen Kontrol Nilai Tertinggi Nilai Terendah Rata-rata Nilai 88,87 77,33 Dialektika Pendidikan IPS. Volume 5 . : 301-315 Berdasarkan data pada tabel, hasil ini menunjukkan peningkatan yang signifikan dibandingkan hasil pre-test sebelumnya. Hal ini mengindikasikan bahwa perlakuan atau intervensi yang diberikan di kelas eksperimen berpengaruh positif dalam meningkatkan well-being peserta didik. Kenaikan nilai ratarata yang signifikan menunjukkan adanya perubahan yang lebih baik dibandingkan dengan kelas kontrol yang tidak menerima perlakuan serupa. Adanya perbedaan hasil nilai dalam post-test ini dapat dijelaskan melalui efektivitas media pembelajaran yang digunakan. Uno Stacko sebagai media pembelajaran berkemungkinan dalam meningkatkan keterlibatan peserta didik dalam proses pembelajaran, memotivasi mereka untuk lebih aktif, serta memberikan pengalaman belajar yang lebih menyenangkan. Hal ini berkontribusi terhadap peningkatan student well-being yang tercermin dalam kenaikan nilai post-test pada kelas eksperimen. Sebaliknya, kelas kontrol yang tidak mendapatkan perlakuan serupa hanya mengalami peningkatan nilai yang lebih kecil karena metode pembelajaran yang digunakan tetap konvensional. Selain itu, perbedaan ini juga dapat dikaitkan dengan tingkat partisipasi dan interaksi yang lebih tinggi di kelas eksperimen dibandingkan kelas kontrol. Metode pembelajaran berbasis permainan seperti penggunaan media pembelajaran Uno Stacko cenderung meningkatkan kolaborasi dan komunikasi antarpeserta didik, yang berkontribusi terhadap peningkatan pemahaman konsep dan kesejahteraan psikologis mereka. Sementara itu, kelas kontrol yang tidak mendapatkan metode inovatif mungkin memiliki pengalaman belajar yang kurang menarik, sehingga peningkatan nilai mereka tidak sebaik kelas eksperimen. Tabel 5. Hasil Student Well-Being Setelah Perlakuan No. Kategori Student Well-Being 0% - 20% (Sangat Renda. 21% - 40% (Renda. 41% - 60% (Sedan. 61% - 80% (Tingg. 81% - 100% (Sangat Tingg. Kelas Eksperimen Kontrol Berdasarkan perolehan angket post-test hasil well-being setelah perlakuan di kelas eksperimen dan kelas Jumlah peserta didik yang memiliki kesejahteraan sangat tinggi didapatkan pada kelas eksperimen sebanyak 8 anak. Pada kategori tinggi berjumlah 48 peserta didik yakni 25 anak pada kelas eksperimen dan 23 anak pada kelas kontrol, kemudian pada kategori sedang sebanyak 10 anak yang hanya berada di kelas kontrol, dan tidak ada peserta didik yang masuk dalam kategori well-being rendah dan sangat rendah setelah adanya perlakuan. Apabila hasil post-test ini dibandingkan dengan hasil pre-test, maka dapat disimpulkan perolehan setelah perlakuan ini menunjukkan bahwa terdapat peningkatan nilai student well-being yang lebih banyak setelah dilakukan treatment pada peserta didik kelas eksperimen dibandingkan kelas kontrol. Setelah melakukan uji valididitas angket dan dilakukan perhitungan nilai pre-test dan post-test tersebut, maka dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas untuk menunjukkan data berdistribusi normal dan memiliki varian seragam, sehingga uji statistik yang dapat dilakukan selanjutnya ialah uji statistik Adapun uji statistik parametrik dalam penelitian ini menggunakan uji Independent Sample T-Test sebagaimana untuk mengetahui akan terdapat perbedaan atau tidaknya pada penggunaan media pembelajaran AuUno StackoAy terhadap Student Well-Being pada peserta didik kelas IX. Dialektika Pendidikan IPS. Volume 5 . : 301-315 Table 6. Hasil Uji Independent Sample T-Test Data Nilai t-hitung Nilai Signifikansi Post-test Student Well-Being kelompok eksperimen dan kontrol 9,438 0,000 Hasil t-test for Equality of Means menunjukkan nilai t sebesar 9. 438 dengan derajat kebebasan . 64 pada asumsi varians yang sama. Nilai Sig. -taile. 000, yang berarti lebih kecil dari 0. Ini menunjukkan bahwa kedua kelompok menunjukkan perbedaan yang signifikan. Nilai ini mengindikasikan bahwa kelompok eksperimen memiliki rata-rata well-being yang lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol ditinjau dari pencapaian student well-being. Nilai signifikan 0. 000 < 0,05 tersebut dapat diartikan H0 ditolak dan H1 diterima, yang mana menandakan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan terhadap post-test kelas eksperimen dan kelas kontrol. Dengan kata lain, perlakuan yang diterapkan berhasil mempengaruhi hasil yang diukur. Hasil ini menunjukkan efektivitas dari perlakuan yang telah Tahapan selanjutnya ialah dilakukan perhitungan melalui uji N-Gain Score. Tujuan dari dilakukan perhitungan ini ialah untuk mengetahui apakah penggunaan media pembelajaran AuUno StackoAy ini efektif dalam memperoleh pencapaian student well-being peserta didik. Adapun hasil perolehan perhitungan dapat dilihat pada tabel dibawah ini: Tabel 7. Hasil Perhitungan Uji N-Gain Score Kelompok Mean Kategori Eksperimen 83,7863 Efektif Kontrol 34,3063 Tidak Efektif Berdasarkan hasil uji N-Gain Score pada tabel diatas menunjukkan bahwa pada kelas eksperimen, rata-rata nilai N-Gain Score adalah 83,7863. Nilai ini menunjukkan peningkatan yang signifikan setelah perlakuan diberikan kepada kelas eksperimen. Untuk kelas kontrol, rata-rata nilai N-Gain Score lebih rendah, yaitu 34,3083 dengan standard error 3,59793. Secara keseluruhan, hasil uji N-Gain Score menunjukkan efektivitas media pembelajaran Uno Stacko dalam pembelajaran yang digunakan di kelas eksperimen. Mengacu pada tabel tafsiran kriteria efektivitas N-Gain, perolehan nilai mean pada kelas eksperimen dengan nilai sebesar 83,7863 berada pada kategori AuefektifAy. Pada kelas kontrol perolehan nilai mean sebesar 34,3083 berada pada kategori Autidak efektifAy. Rata-rata skor yang jauh lebih tinggi, distribusi nilai yang lebih runcing, serta rentang yang lebih lebar menunjukkan peningkatan signifikan pada peserta didik kelas eksperimen. Dibandingkan dengan kelas kontrol, perbedaan ini mencerminkan bahwa metode konvensional memiliki keterbatasan dalam mendorong peningkatan well-being peserta didik. Hasil penelitian ini memperkuat temuan dari penelitian serupa yang menunjukkan keunggulan pembelajaran dengan media pembelajaran yang inovatif. Dialektika Pendidikan IPS. Volume 5 . : 301-315 Penerimaan hipotesis tersebut dilandasi oleh teori belajar konstrukvisme Vygotsky terkait dengan penggunaan media pembelajaran. Media pembelajaran dapat diposisikan seperti scaffolding, yakni memjembatani kemampuan aktual dan potensial peserta didik. Scaffolding yang dikembangkan oleh Vygotsky menekankan pada Zona Proximal Development (ZPD). Keadaan tersebut mengindikasikan adanya disparitas antara kompetensi yang telah diperoleh secara otonom oleh peserta didik dengan aspek yang masih memerlukan asistensi. Dengan adanya scaffolding, guru dapat memberikan dukungan yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik sehingga terpenuhinya kebutuhan peserta didik dalam pembelajaran dan mencapai kemampuan potensial yang lebih tinggi (Ardania et al. Posisi media pembelajaran yang dapat diartikan sebagai alat yang dipakai dalam pembelajaran. Penggunaan media pembelajaran sebagai scaffolding tidak hanya membantu dalam efektivitas pembelajaran, tetapi dapat membantu dalam mencapai well-being peserta didik yang lebih baik. Media pembelajaran sebagai scaffolding sangat dibutuhkan agar peserta didik memiliki pengalaman belajar yang lebih optimal (Etnawati, 2. Konstruktivisme menurut Vygotsky memandang bahwa pengetahuan peserta didik dikonstruksi secara kolaboratif yang disesuaikan oleh setiap individu masing-masing. Proses penyesuaian itu setara dengan pengkonstruksian pengetahuan secara intra individual yakni melalui proses regulasi diri internal (Aulia, 2. Berkaitan dengan hal tersebut, student well-being sebagaimana berfokus pada kondisi emosional positif peserta didik dalam pembelajaran dapat terbentuk dari adanya perlakuan melalui scaffolding yang dalam hal ini melalui penggunaan media pembelajaran Uno Stacko. Pada penelitian yang dilakukan melalui uji Independent Sample T-Test menunjukkan adanya peningkatan dari post-test rata-rata kelas eksperimen dan kelas kontrol. Kelas eksperimen memiliki rata-rata post-test hasil student well-being setelah dilakukan perlakuan sebesar 94,00, sedangkan kelas kontrol memiliki rata-rata post-test hasil student well-being sebesar 77,00. Peningkatan ini terjadi karena adanya perlakuan berupa penggunaan media pembelajaran Uno Stacko yang berfokus pada pendekatan scaffolding. Penelitian ini sesuai dengan teori temuan oleh Vygotsky yang menekankan pentingnya interaksi sosial dan dukungan dalam pembelajaran. Melalui pendekatan tersebut, peserta didik lebih aktif, termotivasi, dan memiliki kondisi emosional yang positif. Tabel 8. Hasil Peningkatan Student Well-Being Berdasarkan N-Gain Score Kategori N-Gain g Ou 0,7 (Tingg. 0,3 O g < 0,7 (Sedan. g < 0,3 (Renda. Jumlah Peserta Didik (Kelas Eksperime. Jumlah Peserta Didik (Kelas Kontro. Pada tabel diatas menunjukkan hasil peningkatan student well-being setelah perlakuan diberikan melalui media pembelajaran Uno Stacko. Peningkatan ini diukur menggunakan N-Gain Score yang kemudian dikategorikan menjadi tinggi (Ou 0,. , sedang . ,3Ae0,. , dan rendah (< 0,. Di kelas eksperimen, sebanyak 25 peserta didik termasuk dalam kategori peningkatan tinggi, yang berarti mengalami perubahan signifikan setelah pembelajaran. Hasil ini menunjukkan keberhasilan media pembelajaran dalam meningkatkan kesejahteraan psikologis peserta didik secara optimal. Pencapaian tinggi dalam N-Gain Score pada mayoritas peserta didik kelas eksperimen menandakan bahwa media pembelajaran berbasis permainan memiliki dampak positif secara menyeluruh. Interaksi sosial yang terbangun dalam permainan Uno Stacko dapat memperkuat dimensi-dimensi Dialektika Pendidikan IPS. Volume 5 . : 301-315 student well-being seperti kepuasan dan ketahanan diri. Hal ini dapat membuktikan bahwa pembelajaran yang menyenangkan meningkatkan keterlibatan emosional peserta didik. Semakin tinggi keterlibatan ini, maka semakin besar pula pengaruh terhadap aspek psikologis mereka. Apabila dibandingkan secara keseluruhan, kelas eksperimen menunjukkan distribusi yang lebih baik dan merata ke arah peningkatan yang tinggi. Sementara itu, kelas kontrol justru menunjukkan kecenderungan stagnan bahkan menurun. Perbedaan mencolok antara dua kelompok ini menginterpretasikan hasil bahwa media pembelajaran Uno Stacko efektif dalam meningkatkan aspek student well-being. Hasil ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menekankan pentingnya pembelajaran yang melibatkan aspek afektif peserta didik. Kelas eksperimen yang menunjukkan hasil lebih tinggi dipengaruhi oleh metode pembelajaran yang lebih inovatif dan interaktif. Pembelajaran yang berfokus pada scaffolding membantu peserta didik memahami materi dengan lebih baik melalui bantuan bertahap dari guru dan media pembelajaran. Hal ini didukung oleh penelitian (Faot et al. , 2. , yang menemukan bahwa media pembelajaran inovatif meningkatkan keterlibatan peserta didik dan student well-being. Sementara itu, kelas kontrol yang menggunakan metode konvensional memiliki peningkatan yang lebih rendah. Perbedaan ini menunjukkan pentingnya inovasi dalam strategi pembelajaran. Kondisi student well-being yang baik juga tercermin dari aspek positivity. Peserta didik pada kelas eksperimen menunjukkan lebih banyak perasaan positif selama proses pembelajaran. Temuan ini didukung oleh penelitian (Sharma, 2. yang menyatakan bahwa suasana belajar yang mendukung akan meningkatkan kesejahteraan emosional peserta didik. Pembelajaran yang interaktif juga memperkuat hubungan antara peserta didik dan guru, yang menjadi faktor penting dalam meningkatkan well-being. Peningkatan positivity ini penting karena emosi positif berkorelasi dengan peningkatan motivasi belajar dan keterlibatan di sekolah. Peningkatan positivity menandakan intervensi berdampak kuat dalam membentuk sikap positif peserta didik. Intervensi yang bersifat reflektif dan berbasis pengalaman positif membantu peserta didik untuk fokus pada aspek menyenangkan dalam kehidupan sekolah mereka. Temuan ini menunjukkan bahwa positivity bukanlah sesuatu yang bersifat bawaan, tetapi dapat dikembangkan melalui strategi yang tepat. Dari segi keterlibatan peserta didik, metode inovatif seperti penggunaan media pembelajaran Uno Stacko membantu menciptakan lingkungan belajar yang lebih menarik. Interaksi peserta didik yang aktif dan dukungan guru melalui scaffolding membuat mereka lebih percaya diri. Kelas eksperimen mencerminkan motivasi dan kepercayaan diri yang lebih baik dibandingkan kelas kontrol. Hal ini menjadi alasan mengapa well-being pada kelas eksperimen lebih tinggi. Perbedaan signifikan antara kedua kelas mengindikasikan efektivitas pendekatan yang digunakan. Penelitian ini relevan dengan studi oleh (Fadillah & Harmanto, 2. yang menyatakan bahwa metode pembelajaran berbasis permainan meningkatkan student well-being. Media pembelajaran seperti Uno Stacko memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan, sehingga peserta didik lebih bersemangat dan antusias. Sementara itu, metode konvensional di kelas kontrol kurang mampu menciptakan pengalaman belajar serupa. Oleh karena itu, inovasi dalam metode pembelajaran harus terus dikembangkan. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa pendekatan interaktif ini meningkatkan resilience atau ketahanan peserta didik dalam menghadapi tantangan belajar. Pada aspek resilience, peserta didik yang mengalami intervensi tampak lebih siap menghadapi tantangan akademik dan sosial. Intervensi yang dilakukan dengan penggunaan media pembelajaran Uno Stacko mencakup kolaborasi, penguatan materi serta refleksi materi tampaknya berhasil memperkuat resilience peserta Dialektika Pendidikan IPS. Volume 5 . : 301-315 didik terhadap tekanan akademik. Peserta didik di kelas eksperimen juga menunjukkan sikap lebih yakin dan percaya diri selama pembelajaran. Adanya dukungan melalui scaffolding, peserta didik dapat menyelesaikan tugas-tugas lebih efektif. Hal ini terlihat bahwa kemampuan peserta didik untuk bertahan di tengah tekanan akademik bukan hanya bisa dibentuk, tetapi juga dapat diukur secara Dengan kata lain, intervensi mampu menumbuhkan sikap tangguh dalam diri peserta didik, yang sangat penting untuk menjaga motivasi belajar jangka panjang. Pada aspek self-optimization, peserta didik akan melihat tugas yang sulit sebagai suatu hal yang dapat membantu mereka untuk memahami pelajaran. Peserta didik menunjukkan kemampuan untuk melihat tugas atau tantangan sebagai peluang untuk belajar dan berkembang. Penelitian ini mendukung bahwa peserta didik dengan kemampuan self-optimization cenderung memiliki motivasi lebih tinggi dan strategi belajar yang lebih efektif. Hal ini menandakan bahwa intervensi berhasil meningkatkan kesadaran diri peserta didik terhadap proses belajar mereka. Adanya hasil ini mendukung konsep bahwa self-optimization dapat dikembangkan melalui intervensi yang melibatkan refleksi tujuan dan strategi pencapaian. Peserta didik dalam penelitian ini mampu memaksimalkan potensi mereka dengan memanfaatkan tugas-tugas sebagai sarana belajar. Mereka tidak lagi memandang kesulitan sebagai hambatan, melainkan sebagai kesempatan untuk meningkatkan Demikian dalam aspek self-optimization ini membantu peserta didik mencapai potensi belajar yang optimal. Aspek yang terakhir ialah satisfaction, atau kepuasan peserta didik terhadap pengalaman belajar Pada aspek ini menunjukkan bahwa intervensi membantu peserta didik melihat sekolah bukan hanya sebagai tempat belajar, tetapi juga sebagai tempat berkembang dan berinteraksi secara Meningkatnya rasa puas terhadap pengalaman belajar, peserta didik cenderung lebih terlibat, lebih termotivasi, dan memiliki pandangan yang lebih positif terhadap pembelajaran IPS yang Hasil student well-being pada kelas eksperimen lebih tinggi karena peserta didik merasa puas karena dihargai dan didukung selama proses belajar. Umpan balik positif dari guru mempengaruhi perasaan nyaman peserta didik dalam belajar. Kelas eksperimen mendapat dukungan lebih intensif melalui pendekatan scaffolding. Hal ini membuat peserta didik lebih fokus dan memiliki motivasi untuk meningkatkan belajar mereka. Kelas kontrol, sebaliknya, menunjukkan kondisi emosional yang cenderung stagnan. Temuan penelitian ini memberikan kontribusi dalam memahami peran media pembelajaran terhadap pencapaian student well-being. Pembelajaran yang mendukung aspek kognitif dan emosional peserta didik akan menciptakan suasana belajar yang lebih kondusif. Emosi positif berperan dalam meningkatkan kreativitas dan pemahaman peserta didik. Hasil well-being yang meningkat di kelas eksperimen mencerminkan adanya keseimbangan antara aspek kognitif dan afektif dalam Berdasarkan hasil penelitian ini, metode pembelajaran inovatif seperti penggunaan media Uno Stacko efektif dalam meningkatkan student well-being. Perbedaan signifikan antara kelas eksperimen dan kontrol menunjukkan pentingnya pendekatan yang berfokus pada dukungan bertahap dan interaktif. Hasil ini konsisten dengan berbagai penelitian sebelumnya yang menekankan pentingnya suasana belajar yang positif dan mendukung. Oleh karena itu, penerapan metode inovatif perlu dipertimbangkan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas Hasil dari penelitian ini juga memperkuat temuan dari berbagai studi terdahulu yang menekankan pentingnya empat aspek well-being dalam pembelajaran. Studi oleh Noble dalam (Pant & Rastogi. Dialektika Pendidikan IPS. Volume 5 . : 301-315 2. menunjukkan bahwa pendekatan pembelajaran yang memperhatikan positivity, resilience, selfoptimization, dan satisfaction berkontribusi signifikan terhadap perkembangan akademik dan emosional peserta. Dalam konteks ini, peserta didik mampu meningkatkan pemahaman dan motivasi belajar melalui metode yang mendukung well-being. Adanya implementasi yang baik, aspekaspek ini dapat menciptakan pengalaman belajar yang positif dan menyenangkan. Oleh karena itu, penguatan keempat aspek ini penting untuk mencapai hasil belajar yang optimal dan holistik. Peserta didik dengan student wellbeing kategori tinggi memiliki aspek positivity yang berarti menunjukkan adanya perasaan positif saat pembelajaran IPS. Perasaan positif yang dirasakan berkaitan dengan hubungan yang dibangun dengan teman sebaya dan guru. Pada aspek resilience, peserta didik selalu yakin dengan dirinya ketika dihadapkan dengan masalah yang sewaktu-waktu dapat terjadi pada saat pembelajaran IPS, mereka mampu untuk tetap tenang dan berpikir positif. Pada aspek self-optimization, peserta didik akan melihat tugas yang sulit sebagai suatu hal yang dapat membantu mereka untuk memahami pelajaran. Pada aspek satisfaction, peserta didik merasa bahwa kebutuhan belajarnya terpenuhi, berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran, dan akibatnya merasakan keadaan psikologis yang menyenangkan. Secara keseluruhan, data yang dikumpulkan dan diolah menunjukkan bahwa keempat aspek student well-being meningkat secara signifikan setelah peserta didik mengalami intervensi terutama pada kelas eksperimen yang menerima perlakuan dengan menggunakan media pembelajaran Uno Stacko. Data kuantitatif dari Independent Sample T-Test dan N-Gain Score mendukung dampak positif dari adanya intervensi tersebut. Intervensi yang diberikan tidak hanya berdampak pada pengetahuan atau perilaku belajar, tetapi juga menyentuh aspek emosional, motivasional, dan sosial peserta didik. Keberhasilan dalam meningkatkan positivity, resilience, self-optimization, dan satisfaction menunjukkan bahwa pendekatan intervensi berbasis psikologi positif dapat diterapkan secara efektif dalam konteks pendidikan. Demikian, pengembangan student well-being seharusnya menjadi bagian integral dari praktik pendidikan. KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis angket yang dilakukan dengan menggunakan uji statistik parametrik uji independent sample t-test yang menunjukkan nilai Asymp yang tinggi Sig. -taile. 0,000, artinya lebih kecil dari alpha < 0,05. Hasilnya H0 ditolak dan H1 diterima, sehingga dapat diinterpretasikan bahwa terdapat perbedaan pencapaian well-being peserta didik antara kelas eksperiman yang merupakan kelas dengan penerapan media pembelajaran dan kelas kontrol yang merupakan kelas yang tidak ada penerapan media pembelajaran pada pembelajaran IPS kelas IX. Penelitian ini diperkuat juga dengan hasil uji N-Gain Score. Pada hasil uji N-Gain, kelas eksperimen menerima nilai rata-rata 83,8, yang menempatkannya dalam kategori "efektif". Di sisi lain, kelas kontrol menerima nilai ratarata 34,3, yang menempatkannya dalam kategori "tidak efektif", sehingga hal ini menunjukkan bahwa media pembelajaran Uno Stacko yang digunakan dalam pembelajaran IPS kelas IX di SMP Negeri 5 Sidoarjo dapat dikatakan efektif dalam meningkatkan pencapaian well-being peserta didik khususnya pada aspek positivity, resilience, self-optimization, dan satisfaction. DAFTAR PUSTAKA