BARAKATI: Journal of Community Service Volume 04 Nomor 1 | Agustus 2025: 8-15 e-ISSN: 2961-8207 __________________________________________________________________________________ Edukasi Pariwisata Berkelanjutan Bagi Pelaku Bisnis di Pantai Kastela. Pulau Ternate Marwan Man Soleman . * . Jeri Cahyadi Saputra . Nikita Astria . Adysabzan Tomario Krois . 1,2,3,4 Program Studi Manajemen. Fakultas Ilmu Ekonomi dan Bisnis. Universitas Khairun. Indonesia *e-mail: marwan. s@unkhair. id1, jericahyadi@unkhair. id2, nikita. astria@unkhair. adysabzantk@gmail. ABSTRAK Pariwisata di Pulau Ternate menghadapi tantangan dalam menjaga keberlanjutan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat lokal, terutama dalam aspek pengelolaan limbah dan keterlibatan pelaku Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan kapasitas pelaku pariwisata di Pantai Kastela melalui edukasi pariwisata berkelanjutan. Kegiatan dilaksanakan oleh Tim Pengabdian kepada Masyarakat Program Studi Manajemen. Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Universitas Khairun, dengan melibatkan 74 peserta yang terdiri dari pelaku usaha kuliner, pengelola homestay, komunitas pemuda, dan mahasiswa. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan partisipatif, melalui diskusi kelompok, simulasi praktik ramah lingkungan, dan pertunjukan budaya lokal. Materi yang disampaikan mencakup prinsip-prinsip pariwisata berkelanjutan, pengelolaan limbah berbasis lingkungan, pemberdayaan masyarakat, serta strategi pemasaran berbasis budaya dan potensi alam. Evaluasi dilakukan melalui observasi, wawancara, diskusi, dan dokumentasi kegiatan. Hasil menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta terhadap praktik pariwisata berkelanjutan dan komitmen untuk mengimplementasikannya dalam aktivitas usaha. Kegiatan ini memberikan kontribusi sebagai model edukatif yang mendukung pengelolaan pariwisata yang bertanggung jawab dan berkelanjutan di wilayah pesisir. Kata kunci : Pariwisata_Berkelanjutan. Edukasi. Pengelolaan_Limbah. ABSTRACT Tourism in Ternate Island faces significant challenges in maintaining environmental sustainability and empowering local communities, particularly in waste management and the involvement of tourism This community service activity aimed to enhance the understanding and capacity of tourism actors in Kastela Beach through sustainable tourism education. The program was carried out by the Community Service Team of the Management Study Program. Faculty of Economics and Business. Khairun University, involving 74 participants, including culinary business owners, homestay managers, youth communities, and students. The implementation method adopted a participatory approach through group discussions, environmentally friendly practice simulations, and local cultural performances. The materials presented covered the principles of sustainable tourism, environmentally based waste management, community empowerment, and marketing strategies rooted in culture and natural Evaluation was conducted through observation, interviews, discussions, and activity The results indicated an increase in participantsAo understanding of sustainable tourism practices and their commitment to applying these principles in their business activities. This program contributes as an educational model that supports responsible and sustainable tourism management in coastal areas. Keywords: Sustainable_Tourism. Education. Waste_Management. Copyright . 2025 Marwan Man Soleman. Jeri Cahyadi Saputra. Nikita Astria. Adysabzan Tomario Krois This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. BARAKATI: Journal of Community Service Volume 04 Nomor 1 | Agustus 2025: 8-15 e-ISSN: 2961-8207 __________________________________________________________________________________ PENDAHULUAN Pulau Ternate, yang terletak di Provinsi Maluku Utara, merupakan salah satu destinasi wisata unggulan di Indonesia dengan kekayaan alam, budaya, dan sejarah yang sangat Keindahan lanskap seperti gunung api aktif, pantai eksotis, dan warisan budaya yang masih terjaga menjadikan Ternate sebagai salah satu daya tarik pariwisata yang kuat. Namun demikian, laju pertumbuhan aktivitas pariwisata yang tidak diimbangi dengan pendekatan berkelanjutan telah menimbulkan berbagai tantangan, termasuk degradasi lingkungan, kurangnya keterlibatan masyarakat lokal, serta eksploitasi sumber daya alam tanpa perencanaan jangka panjang. Wibowo & Belia . Beberapa studi sebelumnya telah menyoroti urgensi integrasi prinsip keberlanjutan dalam pembangunan pariwisata. Mowforth dan Munt . serta Jauhar . menyatakan bahwa pendidikan mengenai pariwisata berkelanjutan memegang peranan penting bagi pelaku usaha pariwisata agar dapat menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, konservasi lingkungan, dan keberlanjutan sosial. Penelitian oleh Hannan dan Rahmawati . juga menegaskan bahwa pelatihan memiliki peran strategis dalam mendorong implementasi prinsip pariwisata berkelanjutan, baik di tingkat lokal maupun global. Selanjutnya. Andjanie et al. dan Ramadhani dan Rafee . menekankan pentingnya kolaborasi multiaktor dan responsivitas kebijakan lokal sebagai faktor utama keberhasilan pembangunan pariwisata berkelanjutan. Pendekatan Community-Based Tourism (CBT) terbukti efektif dalam meningkatkan partisipasi masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan dan budaya lokal (Hariyadi et al. , 2024. Purnomo et , 2. Islahuddin et al. menambahkan bahwa pelatihan yang disesuaikan dengan kebutuhan lokal mampu meningkatkan kompetensi pelaku pariwisata secara Studi Saputro et al. yang menggunakan metode Multidimensional Scaling (MDS) dan Analytic Network Process (ANP) juga menunjukkan bahwa integrasi antara pelatihan, perencanaan partisipatif, dan keterlibatan masyarakat merupakan elemen kunci dalam menciptakan destinasi wisata berkelanjutan. Afifah et al. menambahkan bahwa pendidikan berbasis lingkungan efektif dalam meningkatkan kesadaran pelaku wisata terhadap konservasi sumber daya alam. Menurut Yatmaja . , pengembangan pariwisata berkelanjutan seharusnya memperhatikan aspek lingkungan, pemberdayaan masyarakat, pelestarian budaya lokal, dan peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat sekitar. Konsep ini sejalan dengan pandangan Qodriyatun . dan definisi pariwisata berkelanjutan oleh UNWTO, yaitu bentuk pariwisata yang menghormati kelestarian alam dan nilai-nilai sosial budaya, serta menciptakan interaksi timbal balik antara wisatawan dan masyarakat lokal. Wibowo & Belia . menyatakan bahwa masyarakat lokal merupakan aktor utama dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan dan harus mendapatkan manfaat langsung dari aktivitas pariwisata. Wulandari et al. menegaskan bahwa BARAKATI: Journal of Community Service Volume 04 Nomor 1 | Agustus 2025: 8-15 e-ISSN: 2961-8207 __________________________________________________________________________________ partisipasi masyarakat mampu mendorong perubahan sosial dan meningkatkan kapasitas dalam pembangunan ekonomi berbasis pariwisata. Artikel ini menawarkan kebaruan ilmiah berupa pendekatan praktis edukasi berkelanjutan yang dirancang secara kontekstual berdasarkan kebutuhan lokal, melalui pelatihan intensif dan pendampingan langsung kepada pelaku usaha wisata. Berbeda dengan pendekatan terdahulu yang cenderung bersifat normatif, kajian ini menitikberatkan pada transformasi pengetahuan menjadi tindakan konkret di lapangan melalui simulasi, studi kasus, dan penerapan teknologi tepat guna. Berdasarkan observasi awal, ditemukan bahwa pelaku bisnis pariwisata di Ternate cenderung hanya berorientasi pada keuntungan ekonomi semata. Rendahnya kesadaran terhadap dampak lingkungan dan sosial dari aktivitas pariwisata menjadi akar masalah Permasalahan seperti pengelolaan limbah yang belum optimal serta kurangnya pemberdayaan masyarakat lokal menghambat terciptanya ekosistem pariwisata yang Dengan latar belakang tersebut, maka diperlukan intervensi dalam bentuk pelatihan dan pendampingan untuk meningkatkan kapasitas pelaku bisnis dalam mengimplementasikan praktik pariwisata berkelanjutan. Tujuan dari kajian ini adalah untuk mengkaji efektivitas pelatihan pariwisata berkelanjutan dalam meningkatkan kesadaran dan keterampilan pelaku bisnis wisata di Pulau Ternate. Selain itu, artikel ini juga bertujuan untuk merumuskan model pemberdayaan melalui pelatihan berkelanjutan yang dapat direplikasi di daerah wisata lainnya guna mendukung pembangunan pariwisata yang lebih bertanggung jawab, inklusif, dan ramah lingkungan. METODE Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan pada tanggal 12 Mei 2025 di Pantai Kastela. Kecamatan Pulau Ternate, oleh Tim Pengabdian kepada Masyarakat Program Studi Manajemen. Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Universitas Khairun. Kegiatan ini diikuti oleh 74 peserta yang terdiri dari pelaku usaha kuliner, pengelola homestay, anggota komunitas pemuda, mahasiswa, serta narasumber dari institusi pendidikan dan lembaga konservasi lokal. Peserta merupakan representasi pelaku wisata dan komunitas yang aktif di wilayah Pantai Kastela dan sekitarnya. Tahapan Kegiatan Kegiatan pengabdian dilaksanakan melalui pendekatan partisipatif, yang terdiri dari beberapa tahapan sebagai berikut: Identifikasi Kebutuhan: Observasi lapangan dan wawancara langsung dilakukan untuk menggali permasalahan dan kebutuhan pelaku usaha setempat terkait praktik pariwisata berkelanjutan. Penyampaian Materi Edukasi: Materi diberikan melalui diskusi kelompok yang Prinsip dasar pariwisata berkelanjutan. Teknik pengelolaan limbah ramah lingkungan. BARAKATI: Journal of Community Service Volume 04 Nomor 1 | Agustus 2025: 8-15 e-ISSN: 2961-8207 __________________________________________________________________________________ Pemberdayaan masyarakat melalui sektor pariwisata. Strategi pemasaran destinasi berbasis budaya dan alam. Penggunaan produk lokal dalam operasional usaha pariwisata. Simulasi Praktik Ramah Lingkungan: Peserta mengikuti praktik langsung berupa penggunaan tumbler dan tempat makan pribadi, pengurangan plastik sekali pakai, serta pemilahan sampah. Pelestarian Kearifan Lokal: Mahasiswa menampilkan pertunjukan budaya daerah untuk memperkuat nuansa edukatif dan membangun semangat kebersamaan. Seluruh materi disusun secara kolaboratif oleh tim dosen dan mahasiswa, serta didukung oleh infografik edukatif yang dicetak sebanyak 100 lembar menggunakan dana kegiatan. Metode Evaluasi dan Teknik Analisis Data Evaluasi dilakukan dengan beberapa metode berikut: Observasi langsung terhadap perilaku peserta selama kegiatan berlangsung. Diskusi evaluatif pada akhir sesi untuk mengukur tingkat pemahaman peserta terhadap materi yang disampaikan. Wawancara singkat secara acak kepada 20 peserta untuk menggali respons dan umpan balik terhadap kegiatan. Dokumentasi dan pelaporan tertulis oleh mahasiswa, yang digunakan sebagai data pendukung dalam proses evaluasi dan refleksi kegiatan. Data hasil evaluasi dianalisis secara deskriptif kualitatif untuk mengidentifikasi perubahan pemahaman dan komitmen peserta terhadap implementasi praktik pariwisata HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan pengabdian masyarakat ini berhasil mencapai tujuan utamanya yaitu meningkatkan pemahaman dan keterampilan pelaku bisnis wisata di Pantai Kastela terkait prinsip pariwisata berkelanjutan. Hal ini ditunjukkan oleh partisipasi aktif peserta dalam setiap sesi pelatihan, termasuk diskusi, simulasi, dan praktik langsung. Hasil observasi lapangan dan diskusi evaluatif menunjukkan bahwa 87% peserta mampu menjelaskan kembali prinsip dasar pariwisata berkelanjutan, dan 73% peserta menunjukkan komitmen untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dalam operasional bisnis mereka. Ini selaras dengan temuan sebelumnya oleh Hariyadi et al. yang menekankan pentingnya keterlibatan langsung komunitas dalam meningkatkan kesadaran dan kapasitas pengelolaan pariwisata yang berkelanjutan. Indikator utama yang digunakan untuk mengukur keberhasilan program adalah keterlibatan peserta . artisipasi akti. , peningkatan pemahaman . valuasi diskusi dan wawancar. , dan komitmen penerapan praktik berkelanjutan . asil diskusi akhir dan dokumentasi praktik langsun. Tolak ukur ini relevan sebagaimana dikemukakan oleh Islahuddin et al. bahwa pelatihan yang melibatkan pendekatan kolaboratifpartisipatif memiliki potensi lebih besar untuk mendorong perubahan perilaku nyata di tingkat lokal. BARAKATI: Journal of Community Service Volume 04 Nomor 1 | Agustus 2025: 8-15 e-ISSN: 2961-8207 __________________________________________________________________________________ Keunggulan utama luaran kegiatan ini adalah terciptanya kesadaran kolektif mengenai urgensi pengelolaan limbah yang ramah lingkungan dan penerapan prinsip green Selain itu, penggunaan metode praktik langsung seperti penggunaan tumbler dan tempat makan pribadi meningkatkan pemahaman peserta melalui pengalaman nyata, yang juga tercermin pada evaluasi lapangan. Di sisi lain, kelemahan yang dihadapi adalah keterbatasan waktu pelaksanaan pelatihan yang relatif singkat . atu hari penu. sehingga belum semua materi dapat disampaikan secara mendalam. Kendala lainnya adalah kurangnya infrastruktur pendukung seperti tempat sampah terpisah yang memadai di lokasi wisata. Tingkat kesulitan pelaksanaan kegiatan relatif sedang karena antusiasme dan keterbukaan peserta untuk menerima materi sangat tinggi. Namun, tantangan muncul dalam proses adaptasi peserta terhadap praktik ramah lingkungan, terutama pada pengurangan penggunaan plastik dan penerapan manajemen limbah yang masih Hal ini sesuai dengan temuan Saputro et al. yang menggarisbawahi bahwa keterbatasan infrastruktur sering menjadi hambatan utama dalam implementasi konsep pariwisata berkelanjutan. Peluang pengembangan program di masa depan sangat besar. Kegiatan ini dapat direplikasi dan diperluas ke lokasi wisata lainnya di Ternate atau wilayah pesisir lainnya. Selain itu, integrasi dengan program sertifikasi green hospitality atau pelatihan lanjutan mengenai digital marketing pariwisata berbasis budaya dan alam setempat menjadi langkah strategis untuk memperkuat keberlanjutan program ini (Purnomo et al. , 2. Hal ini penting untuk mendorong keberlanjutan pariwisata yang tidak hanya berfokus pada aspek lingkungan, tetapi juga pada kesejahteraan ekonomi masyarakat lokal. Selain indikator keberhasilan berupa peningkatan pemahaman dan komitmen, metode pengumpulan data hasil kegiatan dilakukan melalui kombinasi observasi langsung, diskusi evaluatif, dan wawancara semi-terstruktur. Penilaian terhadap pemahaman peserta dilakukan dengan meminta mereka menjelaskan ulang konsep utama yang disampaikan, serta mengamati keterlibatan peserta selama simulasi praktik. Wawancara dengan 20 peserta juga menggali persepsi terhadap kebermanfaatan materi dan kemungkinan implementasinya dalam kegiatan usaha sehari-hari. Dari hasil evaluasi tersebut, ditemukan bahwa mayoritas peserta menunjukkan peningkatan pemahaman yang signifikan, yang diperkuat dengan komitmen nyata untuk menerapkan praktik ramah lingkungan, seperti pemakaian ulang botol minum, penggunaan produk lokal, dan pengurangan limbah plastik. Hasil ini sejalan dengan literatur yang dibahas pada bagian pendahuluan, khususnya temuan dari Islahuddin et . dan Hariyadi et al. , yang menekankan bahwa edukasi yang berbasis pada simulasi praktik dan pendekatan partisipatif efektif dalam membangun kesadaran dan keterampilan pengelolaan pariwisata berkelanjutan. Dokumentasi kegiatan juga memperlihatkan keterlibatan aktif dari narasumber. Gambar 1 menunjukkan Bapak Jeri Cahyadi Saputra sedang menyampaikan materi mengenai konsep dan prinsip pariwisata berkelanjutan kepada peserta dengan gaya komunikasi yang interaktif. Sesi ini menjadi salah satu momen penting karena BARAKATI: Journal of Community Service Volume 04 Nomor 1 | Agustus 2025: 8-15 e-ISSN: 2961-8207 __________________________________________________________________________________ membentuk pemahaman dasar peserta terhadap konsep triple bottom lineAi lingkungan, sosial, dan ekonomiAidalam konteks wisata lokal. Sementara itu. Gambar 2 memperlihatkan Bapak Syam Ardhy Dabi Dabi mempresentasikan topik AuDesa Wisata Berbasis Kesejahteraan Psikologis,Ay yang menekankan pentingnya memperhatikan kesejahteraan emosional masyarakat dalam membangun pariwisata inklusif. Kedua sesi ini memberikan nuansa pembelajaran yang kontekstual dan aplikatif bagi para peserta. Gambar 1. Bapak Jeri Cahyadi Saputra Gambar 2. Bapak Syam Ardhy Pawisata Dabi dabi menyampaikan materi Berkelanjutan tentang Desa Wisata Berbasis Kesejahteraan Psikologis Rencana Tindak Lanjut Sebagai kelanjutan dari kegiatan ini, dirumuskan beberapa rencana tindak lanjut untuk menjamin keberlanjutan dampak dan memperluas jangkauan intervensi. Pertama, pengembangan modul pelatihan daring . akan dilakukan untuk memberikan akses pembelajaran yang lebih luas bagi pelaku wisata di wilayah lainnya. Kedua, akan dilaksanakan kegiatan Training of Trainers (ToT) untuk melatih peserta terpilih agar menjadi fasilitator lokal yang mampu menyebarluaskan materi kepada komunitasnya masing-masing. Ketiga, untuk menjaga keberlanjutan, dilakukan sistem monitoring triwulan berbasis community reporting, yang dikawal oleh mahasiswa magang dari Universitas Khairun. Dalam jangka panjang, program ini diharapkan dapat menjadi model best practice bagi daerah lain dan menjadi bagian dari kerangka kebijakan pengembangan pariwisata Selain itu, potensi kemitraan dengan pemerintah daerah, lembaga donor, atau Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dapat menjadi jalan untuk mendukung replikasi dan pendanaan berkelanjutan. KESIMPULAN Kegiatan pengabdian masyarakat yang dilaksanakan oleh Program Studi Manajemen. Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Khairun di Pantai Kastela berhasil memberikan dampak positif terhadap peningkatan pemahaman dan kesadaran pelaku usaha pariwisata mengenai pentingnya penerapan prinsip-prinsip keberlanjutan. Melalui BARAKATI: Journal of Community Service Volume 04 Nomor 1 | Agustus 2025: 8-15 e-ISSN: 2961-8207 __________________________________________________________________________________ pendekatan edukatif yang holistikAimelibatkan ceramah, diskusi interaktif, simulasi, hingga praktik langsungAisebanyak 74 peserta yang terdiri dari pelaku usaha kuliner, pengelola homestay, komunitas pemuda, dan mahasiswa memperoleh wawasan baru tentang pengelolaan sampah, strategi ramah lingkungan, dan pemetaan potensi wisata Respons antusias peserta serta munculnya komitmen untuk mengurangi penggunaan plastik, membentuk komunitas peduli lingkungan, dan mengadopsi praktik green hospitality menunjukkan bahwa edukasi berbasis kolaboratif mampu menjadi motor Kegiatan ini tidak hanya menjembatani kesenjangan antara teori dan praktik, tetapi juga menanamkan kesadaran kolektif tentang pentingnya keberlanjutan sebagai nilai inti dalam pengembangan destinasi wisata di Pulau Ternate. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat ini, khususnya kepada para pelaku usaha di Pantai Kastela, komunitas pemuda setempat, para mahasiswa Program Studi Manajemen FEB Universitas Khairun, serta para narasumber dari lembaga pendidikan dan konservasi yang telah berbagi pengetahuan dan pengalaman. Apresiasi juga disampaikan kepada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Khairun atas dukungan penuh dalam mendukung kegiatan ini. Ucapan terima kasih secara khusus diberikan kepada Dodoku Dive Center atas partisipasi aktif dan dukungannya dalam mengedukasi peserta mengenai pentingnya konservasi lingkungan dalam pengelolaan pariwisata REFERENSI