JURNAL CAKRAWARTI. Vol. 3 No. Pebruari-Juli 2020 ISSN: 2620-5173 ACARA BEDAH RUMAH: REDUKSI ORIENTASI HIDUP AuMENJADIAy KE HIDUP AuMEMILIKIAy Ida Bagus Made Satya Wira Dananjaya Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Mahendradatta - Denpasare-mail: gus_danajaya@yahoo. Abstrak- Miskin atau pra sejahtera . elanjutnya akan disebut miskin untuk lawan dari kata kaya atau sejahter. jelas bukan sebuah cita-cita terlebih tujuan hidup, melihat guncangan iklan serta sinema elektronik yang menampilkan sekat tebal antara kaya-miskin tentu kaya lebih menggoda serta menggiurkan. Fantasi kehidupan Pria kaya jatuh cinta kepada wanita miskin terlepas dari alur cerita yang sudah dapat ditebak menyiratkan suatu hasrat untuk kaya lebih ditonjolkan di Begitu juga si kaya yang baik hati ataupun jahat juga melawan karakter si miskin hampir menjadi hiasan di televisi. Karakter kaya berarti memiliki sedangkan miskin tidak memiliki. Singkatnya di dalam televisi Indonesia, kedua identitas sosio-ekonomi ini selalu dibenturkan, digesekkansekaligus pemicu keributan mikro. Memiliki berbagai fasilitas koefisien dengan merumahkan kemudahan, termasyur, elit, itulah gambaran menjadi kaya di Televisi, namun tidak berarti lawan dari kaya menjadi liyan atau bukan tokoh utama. Film Keluarga Cemara, paling tidak dapat mengusik kemapanan alur cerita konfrontasi si kaya dan si miskin. Tokoh miskin yang diperankan Abah dan keluarga mendapat sorotan kamera terbanyak tentang pernak-pernik Kesederhanaan bahkan lebih kepada kekurangan,menjual makanan ringan sembari sekolah, tukang becak adalah gambaran kehidupan Abah dan keluarga. Pertanyannya kemudian begitu menjualkan kemiskinan di Televisi? atau pertanyaan yang memerlukan jawaban yang lebih teknis bagaimana miskin dapat dijual di televisi? Kata Kunci: Bedah Rumah. Orientasi Hidup. Memiliki? Abstract - Poor or pre-prosperous . enceforth will be called poor for the opposite of the word rich or prosperou. is clearly not an ideal especially the purpose of life, seeing the shock of advertisements and electronic cinema that displays thick boundaries between rich-poor certainly rich more tempting and tantalizing. Fantasy of life Rich men fall in love with poor women apart from predictable story lines implying a desire for rich is more highlighted on television. Likewise, the rich who are kind or evil, also against the character of the poor, almost become decoration on television. Rich character means to have while poor does not have. In short, in Indonesian television, these two socio-economic identities are always clashed, swiped at the same time triggering micro commotion. Having various coefficient facilities by laying off convenience, fame, elite, that is the picture of being rich on television, but it does not mean that the opponents of the rich are liable or not figures. The film Cemara Family, at least can disturb the established storyline of the confrontation of the rich and the poor. The poor figure played by Abah and his family gets the most camera shots about the trinkets of his life. Simplicity is even more to the disadvantages, selling snacks while schooling, a pedicab driver is a picture of Abah's life and family. The question then is to sell poverty on television? or a question that requires a more technical answer to how poor can be sold on television? Keywords: Home Surgery. Life Orientation. Owning? Ida Bagus Made Satya Wira Dananjaya JURNAL CAKRAWARTI. Vol. 3 No. Pebruari-Juli 2020 Pendahuluan Menjual Kemiskinan Sebagai Tontonan Acara reality show AuBedah RumahAy menegaskan pandangan dari Prasetyo . telah tergambar pada judul bukunya, yaitu Miskin itu dapat Dijual. Kita tidak akan sampai kepada kesimpulan tentang menjual kemiskinan, seandainya meninggalkan cara pandang kajian budaya kontemporer yang dirintis oleh filsufkontemporer Perancis dan Jermanatau yang ada di Indonesia ada Ariel Heryanto. Piliang, beserta pakar semiotika Program Bedah Rumah itu memiliki pakem yaitu upaya apresiasi atau perkenalan mengunjungi warga miskin . ang mayoritas oranglanjut usi. Klimaksnya yaitu warga mempunyai rumah yang ternyata dianggap sudah tidak layak huni, kemudian keluarga tersebutdiajak menginap seharian di hotel, makan, mandi, istirahat. Sembari menginap dihotel, rumah mereka lalu dibedah menjadi hunian yang layak huni, diberikan bantuan berupapembuatan warungkecil atau berupa ternak jenis kambing atausapi. Singkatnya, setelahmenjelang malam keluarga penerima bantuan lalu diajak pulang. Puncaknya atau antiklimaksnyaketika warga miskin tersebut kembali dan tiba di rumah, ternyata melihat rumah yang awalnya tidak layak, akhirnya menjadi amat berbeda pasca diberi bantuan. Keadaan selanjutnya tentu dapat ditebak, parade psikologis mulai menghiasi acara ini yang merupakan jualan yang utama dalam menggugah atau membius penonton, yaitu menangis haru, ucapan terima kasih sambil tersedu-sedu, sujud syukur, bahkan pingsan ini dilakukan oleh si miskin. Begitu jugasang pembawa acara yang seakan-akan merupakan tokohsuper hero atau pahlawan, dipeluk, dicium, dan diucapkan terima kasih Ida Bagus Made Satya Wira Dananjaya ISSN: 2620-5173 dengan berlinang air mata. Membedah acara bedah rumah dengan gagasan kajian budaya akan kita temukan sebuah kekerasanbersifat subtil . terhadap kalangan masyarakat pra sejahtera dan adanya suatu reduksi atau peralihan cara pandang hidup yang diadopsi gagasan Fromm, yaitu dari hidup AumenjadiAy ke Hidup AumemilikiAy. Kita pun dapat menyimak bagaimana warga kurang mampu yang mendapat bedah rumah,diidentitaskan sebagai warga yang berada di tempat tinggal yang kumuh, kotor, tidak sehat. Warga tersebut memiliki sakit yangdideritabertahun-tahun, dari itu pula mereka hanya bekerjasebagai tenaga buruh, beternak, bertani, atau berkebun. Konstruksi AuPetaniMiskinAy. Auburuh miskinAy dengan cerita-cerita dari empunya rumah bagaimana sehari-harinya menjalani hidup, segera dapat dilabelkanpada tokoh utama yang rumahnya akan dibantu dibedah. Konstruksi awal yang dibangunyakni rumahnya kumuh, pekerjaan dimiliki tidak tetap, upah rendah, kesehatan hidup rendah, dan hidup susah dibenturkan dengan pembawa acara yang datang untuk memberi bedah rumah dengan mengendarai mobil,pakaian mewah, sekaligus membawa ajudan semuanya serba dilayani. Si miskin mulai dihadapkan dengan Aupahlawan kayaAy Pahlawan bedah rumah dengan penampilan mentereng serta memiliki kuasa untuk melabelkan AumiskinAyserta membedah rumahyang tidak layak huni. Di saat dilakukan bedah rumah tanpa ada pemberitahuan kepada empunya, seperti pakem dari acara Bedah Rumah, kita akan disuguhkanAukekerasan halusAy lainnya dari si Seorang yang hidup di desa ditempat tinggal yang sederhana dengan sehari-hari makan dengan tangan lauk tahu dan tempe JURNAL CAKRAWARTI. Vol. 3 No. Pebruari-Juli 2020 ISSN: 2620-5173 diajak untuk hidup di hotel. Kita disajikan suatu pemandangan kebingungan orang desa pertama kalinya datang ke kota dan masuk hotel, bingung nama makan, bingung dengan makanan, bagaimana cara danmenggunakan alat-alat makan. Kebingungan ketika melihat dan menggunakan fasilitasyang disuguhkan kamar hotel, penggunaan alat pemanas air, kasur yang empuk, televisi besar. AC serta Petani miskin, buruh miskin masuk ke hotel serta kebingungan menjadi paradoks yang mana dianggap lucu dan menghibur, lucu karena tingkah bingungnya, menghibur karena menghadirkan suatu pemandangan kontras orang tua berpakaian lusuh masuk ke hotel mewah dengan pelayanan kelas atas danterakhir mereka diajak belanja kemall. Penegasan tentang menjadi Auorang miskinAy diperlihatkandan membandingkan dengan gaya hidup Auorang kayaAy, suatu kekerasan identitas ini secara halus yang laku di jual di Pada intinya makin dipertontonkan kemiskinan itu, semakin menjual atau paling tidak memiliki energi hiburan yang menarik bagi para penontonnya. II. Hidup AumenjadiAy ke Hidup Aumemiliki Bagi Miles konsumerisme merupakan kultur konsumsi yang tidak disadari. Kita tidak sadar telah masuk ke konsumerisme, kita tidak sadar karena telah mengkonsumsi sebuah komoditi yang diinginkan bukan yang dibutuhkan. Warga yang rumahnya di bedah diajak menginap di hotel yang dengan catatan milik masyarakat kelas atas. Suatu pola yang menunjukkan di mana seseorang harus mengkonsumsi suatu citra menginap di tempat cukup mewah kendati diri sendiri sesungguhnya tidak dapat menjangkaunya. Kita juga tidak diajari untuk merefleksikan kehidupanyang tengah dijalani, namun kita pun diajak menghirup udara AC kelas atas, istirahat di Springbed empuk dengan sofa Makan steak, burger, di hotel atau restoran, bagi warga yang rumahnya dibedah mengajarkantentang kepemilikan modal akan mendapatkan apa yang diinginkan Belanaja di mall tidak hanya mempertontonkan kemiskinan, tetapi mencicipi simbol kelas atas yang bahkan tidak mungkin masyarakat miskin jamah. Gagasan lain yang dapat dicerna dari pakem program acara Bedah Rumah adalah bagaimana memaknai hidup. Esensi hidup dan kehidupan bagi manusia memang tidak mudah untuk diketahui. Kehidupan yang makin hari makin kompleks menjadikan arti hidup dan kehidupan yang dijalani sendiri membingungkan, namun dalam acara Bedah Rumahjustru telah dibangun suatu gagasan tentang hidup, yaitu hidup adalah tentang AumemilikiAy. Gagasan diambil dari pemikiran Marxtentang kapital dan borjuis sebagai suatu kesadaran hidup manusia yang dapat Terdapatslogansegaris dengan gagasan Marx, yang telah dikembangkan oleh teoritis lain. AuSaya belanja maka saya itu adaAy (Emo Ergo Su. Jadidiri manusia saat ini dilihat dari kepemilikanatas kapitalnya, dengan adanya kapital atau modal kita dapat mengkonsumsi barang atau jasa. Konsumsi barang atau jasa juga merupakan mengkonsumsi identitas, bahwa dengan konsumsi kita membentuk Ida Bagus Made Satya Wira Dananjaya JURNAL CAKRAWARTI. Vol. 3 No. Pebruari-Juli 2020 Selain itu, pandangan dari Bourdieu menegaskan bahwa kelas yang dominan menunjukkan superioritasnya melalui akses kepada budaya dan konsumsi yang tinggi. kaya ingin menunjukkan kepada si miskin tentang mengkonsumsi tanda, simbol, citra, dan keinginan. Konsumsi makan kelas atas, tempat tinggal layak, fasilitas mewah akan membuat pembentukan jati diri seseorang. Jadi hidup tentang memiliki, sehingga dapat i. DAFTAR PUSTAKA