Vegetalika Vol. 15 No. Februari 2026: 21Ae32 Available online at https://jurnal. id/jbp DOI: https://doi. org/10. 22146/veg. p-ISSN: 2302-4054 | e-ISSN: 2622-7452 Evaluasi Performa Pertumbuhan Dan Produksi Aksesi Generasi BC2F4 (Inpago 5 dan Inpara . terhadap varietas IR 64 pada Lahan Rawa Lebak Dangkal Evaluation Growth and Production Performance of the BC2F4 (Inpago 5 and Inpara . Generation Accession Group on the IR 64 Variety in Shallow Swamp Land Rujito Agus Suwignyo1. Irmawati1*). Marlin Sefrila1. Muhardianto Cahya2. Fikri Adriansyah1. Habibulloh1 Program Studi Agronomi. Jurusan Budidaya Pertanian. Fakultas Pertanian. Universitas Sriwijaya. Indralaya. Indonesia Program Studi Agroekoteknologi. Jurusan Budidaya Pertanian. Fakultas Pertanian. Universitas Sriwijaya. Indralaya. Indonesia Penulis untuk korespodensi E-mail: irmawati@fp. Diajukan: 13 Desember 2025 Diterima: 18 Februari 2026 Dipublikasi: 28 Februari 2026 ABSTRACT The utilization of swamp land in cultivating rice plants has obstacles, especially the presence of abiotic stress, which are submersion in the vegetative phase and drought in the generative phase which impacts productivity. The use of superior varieties that can withstand submersion and drought stress can be a solution in increasing rice productivity in swamp land. This study aims to evaluate the growth and production performance of BC2F4 generation accessions, in shallow swamp land. This study was conducted in Pelabuhan Dalam Village. Pemulutan District. Ogan Ilir Regency. South Sumatra from June to October 2024. This study used a Randomized Block Design using accessions resulting from BC2F4 crosses, including. T1. TR1. T2. TR2. T3, and TR3, as well as Inpago 5 varieties . ecipient parent. and IR 64 . opular varietie. The results showed that all BC2F4accessions showed better growth and yield performance compared to Inpago 5. The T3 variety showed the highest productivity 25 tons/ha. In addition, the Pearson correlation showed that productivity was influenced by the variables of the number of tillers . , productive tillers . , and grain weight per panicle . Keywords: abiotic stress, swamp. VUB ABSTRAK Pemanfaatan lahan rawa lebak dalam melakukan usaha budidaya tanaman padi memiliki kendala terutama adanya cekaman abiotik yaitu terendam pada fase vegetatif dan kekeringan pada fase generatif yang berdampak pada produktivitas. Penggunaan varietas unggul yang dapat bertahan dalam cekaman terendam maupun kekeringan dapat menjadi solusi dalam peningkatan produktivitas tanaman padi di lahan rawa lebak. Penelitian ini bertujuan untuk menguji performa pertumbuhan dan produksi aksesi generasi BC2F4, di lahan lebak rawa lebak dangkal. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Pelabuhan Dalam Kecamatan Pemulutan. Kabupaten Ogan Ilir. Sumatera Selatan pada bulan Juni sampai dengan Oktober 2024. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan menggunakan aksesi hasil persilangan BC2F4, meliputi. T1. TR1. T2. TR2. T3, dan TR3, serta varietas Inpago 5 . etua resipie. dan IR 64 . arietas popule. Hasil penelitian menunjukan bahwa semua aksesi BC2F4, menunjukkan performa pertumbuhan dan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan Inpago 5. Varietas T3 menunjukan produktivitas tertinggi dengan 3. 25 ton/ha. Selain itu, korelasi Jurnal Vegetalika. Fakultas Pertanian. Universitas Gadjah Mada pearson menunjukkan bahwa produktivitas dipengaruhi oleh peubah jumlah anakan . , anakan produktif . dan berat gabah per malai . Kata kunci: cekaman abiotik , rawa lebak. VUB PENDAHULUAN Peningkatan produksi padi di Indonesia sangat penting mengingat tingginya tingkat konsumsi beras nasional yang terus meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk (Bashir & Yuliana, 2. Pemanfaatan lahan suboptimal untuk budidaya padi merupakan salah satu solusi terhadap masalah tersebut (Riswani et al. , 2. Akan tetapi, upaya untuk meningkatkan produksi padi di lahan suboptimal disebabkan oleh berbagai faktor (Lakitan et al. Salah satu lahan suboptimal potensial yaitu lahan rawa lebak dengan karakteristik tersendiri yang menjadi tantangan dalam kegiatan budidaya tanaman padi (Irmawati et al. Provinsi Sumatera Selatan memiliki potensi untuk menjadi daerah penghasil beras terbesar di Indonesia melalui pemanfaatan lahan-lahan suboptimal diantaranya adalah agroekosistem rawa dengan luasan total 559,860 ha yang mencakup 285,941 ha rawa lebak dan 273,919 ha rawa pasang surut. Dalam pemanfaatan lahan tersebut warga lokal telah melakukan budidaya tanaman padi dengan menggunakan varietas lokal maupun varietas unggul (Ardi et al. , 2021. Mulyana et al. , 2. Tinggi muka air yang masih tidak dapat diprediksi menjadi masalah utama yang dihadapi petani padi di lahan rawa lebak (Wildayana & Armanto, 2. Faktor penghambat ini juga diperparah dengan kondisi cuaca yang tidak (Wandayantolis et al. , 2. Petani padi umumnya, memulai kegiatan budidaya padi pada akhir musim hujan yaitu ketika air surut (Irmawati et al. , 2. Seringkali, terjadi cekaman terendam pada tanaman padi yang baru dipindahkan . ase vegetati. akibat adanya siklus air meninggi rawa lebak dan juga mengalami cekaman kekeringan pada fase generatif karena memasuki musim kemarau (Irmawati et al, 2015. Lakitan et al. , 2. Salah satu upaya yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan ini yaitu dengan mengembangkan varietas padi yang memiliki kemampuan toleransi terhadap cekaman terendam . ase vegetati. dan kemampuan toleransi terhadap cekaman kekeringan . ase generati. (Mohd Ikmal et al. , 2. Pengembangan varietas dual tolerance ini dilakukan dengan pendekatan Markers Assisted Breeding dan Markers Assisted Backcrossing untuk menyeleksi calon-calon galur yang memiliki potensi yang tinggi (Dixit et al. , 2017. Sandhu et al. , 2. Penelitian ini menggunakan benih padi yang merupakan hasil seleksi dari penelitian sebelumnya dengan menggunakan varietas Inpara 8 yang memiliki kemampuan toleran terhadap cekaman rendaman . nduk dono. dan Inpago 5 . nduk resipie. yang memiliki kemampuan terhadap cekaman Aksesi yang digunakan merupakan hasil backcrossing (BC. pada keturunan 4 (F. Tanaman yang terpilih telah mengalami perlakuan rendaman (TR) dan tidak terendam (T). Penelitian ini bertujuan untuk menguji performa pertumbuhan dan produksi aksesi generasi BC2F4 yang telah mendapatkan perlakuan rendaman dan tidak terendam di lahan rawa lebak dangkal. BAHAN DAN METODE Penelitian ini dilaksanakan di lahan rawa lebak. Desa Pelabuhan Dalam Kecamatan Pemulutan. Kabupaten Ogan Ilir. Sumatera Selatan. Penelitian akan berlangsung pada bulan Juni sampai dengan Oktober 2024. Benih padi yang digunakan merupakan benih padi yang terpilih hasil dari persilangan Inpago 5 dan Inpara 8 (BC2F. , meliputi benih padi aksesi T1. TR1. T2. TR2. T3, aksesi TR3, varietas Inpago 5 . etua resipie. dan IR 64 (Varietas umu. Jurnal Vegetalika. Fakultas Pertanian. Universitas Gadjah Mada Gambar 1. Roadmap persilangan dari tetua resipien dan tetua donor. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok yang mana masing-masing perlakuan diulang sebanyak 3 kali dengan setiap petak ulangan berukuran 2x3 meter sehingga terdapat 24 petak percobaan. Sebelum ditanam, benih direndam terlebih dahulu selama 24 jam, lalu ditiriskan dan kemudian setelah mentis dipindahkan ke baki penyemaian selama 14 hari. Setelah 14 hari, dilakukan pindah tanam ke lahan dengan jarak tanam 25x25cm dengan 1 bibit per lubang tanam sehingga terdapat 96 individu dalam 1 petak ulangan. Selanjutnya dilakukan pemeliharaan dari hama dan penyakit. Pengukuran dilakukan dengan mengambil 10 sampel tanaman secara acak pada tiap perlakuan di masing-masing ulangan. Adapun peubah yang diamati pada penelitian ini adalah tinggi tanaman, jumlah anakan, jumlah anakan produktif, umur berbunga, jumlah gabah per malai, berat 100 bulir, dan produksi per ha. Data yang diperoleh akan dianalisis menggunakan analisis sidik ragam (ANOVA), jika F-hitung lebih besar dari Ftabel, maka akan dilakukan uji lanjut menggunakan Uji Duncan Multiple Range Test (DMRT) pada taraf 5% menggunakan aplikasi SPSS versi 27. HASIL DAN PEMBAHASAN Lahan Rawa Lebak yang berada di Desa Pelabuhan Dalam Kecamatan Pemulutan Ogan Ilir Sumatera Selatan, tergolong ke dalam lahan rawa lebak tadah hujan dimana tidak adanya pengaruh pasang surut air sungai sehingga sumber pengairan untuk melakukan budidaya tanaman hanya berasal dari air hujan. Hal ini masyarakat desa pelabuhan melakukan tanam padi di akhir musim hujan (Jun. sampai Oktober. Pola perubahan iklim yang tidak menentu akan mempengaruhi pola tanam. Pemilihan varietas menjadi faktor penting dalam menentukan produktivitas tanaman padi di lahan rawa lebak. Varietas yang digunakan oleh petani lokal 69% menggunakan varietas Ciherang dan sisanya varietas lokal dengan produktivitas < 4 ton/ha (Lindiana et al. , 2. Peningkatan produktivitas padi dapat dilakukan dengan pemupukan berimbang, penggunaan padi varietas unggul (Kasno et al. , penggunaan varietas padi tahan terhadap Jurnal Vegetalika. Fakultas Pertanian. Universitas Gadjah Mada penyakit dan hama (Syahri et al, 2. , memiliki potensi hasil yang lebih tinggi dan lebih tahan terhadap kondisi lingkungan yang buruk. Varietas toleran cekaman lingkungan dapat menjadi alternatif dalam menghadapi kondisi perubahan lingkungan. Mekanisme alami yang terjadi pada tanaman yang mengalami cekaman lingkungan melibatkan perubahan epigenom, transkriptome, proteom, dan metabolisme saat memberikan memori stres, yang memungkinkan cekaman di masa depan pada tanaman (Kambona et al. , 2. Tabel 1 merupakan hasil analisis sidik ragam (ANOVA) pada beberapa peubah pengamatan yang meliputi tinggi tanaman . , jumlah anakan . , jumlah anakan produktif . , umur berbunga (HST), umur panen (HST), panjang malai . , jumlah gabah per malai . , persentase gabah isi (%), berat 100 gabah . , berat gabah per rumpun . , dan produktivitas . on/h. Peubah umur berbunga, umur panen, panjang malai, persentase gabah isi menunjukkan hasil yang signifikan antar perlakuan aksesi. Sedangkan, peubah anakan produktif, jumlah gabah per malai, berat 100 gabah, berat gabah per rumpun dan produktivitas menunjukkan hasil yang tidak berpengaruh Tabel 1. Hasil Analisis Sidik Ragam (ANOVA) pada peubah yang diamati. Mean Square F-Value p-value Kelompok Perlakuan Kelompok Perlakuan Kelompok Perlakuan Anakan Produktif Umur Berbunga <0. Umur Panen <0. Panjang Malai Jumlah Gabah/malai Persentase Gabah Isi Berat 100 Gabah Berat Gabah/rumpun Produktivitas . on/h. Tinggi Tanaman Jumlah Anakan Keterangan: * = Berbeda nyata, ** = Berbeda sangat nyata, tn = Tidak berbeda nyata. KK = Koefisien Variable Gambar 1. Curah hujan dan temperatur selama penelitian (Badan Meteorologi. Klimatologi, dan Geofisika [BMKG], 2. Jurnal Vegetalika. Fakultas Pertanian. Universitas Gadjah Mada Lokasi penelitian mengalami fluktuasi curah hujan yang sangat dinamis sepanjang tahun yang mempengaruhi ketersediaan air di lahan rawa lebak. Suhu rata-rata harian relatif stabil pada kisaran 28ACAe30AC, yang merupakan kisaran optimal bagi pertumbuhan padi, sehingga faktor pembatas utama dalam penelitian ini lebih didominasi oleh faktor hidrologi . urah huja. Periode mengalami kekeringan sesaat . ntermittent drough. saat memasuki fase generatif . ertengahan musi. , di mana terjadi penurunan curah hujan yang drastis pada bulan Juli . hingga titik terendah pada bulan Agustus (<10 m. (Gambar . Kondisi ini direspon oleh peubah aksesi dan varietas dengan menunjukan pengaruh sangat nyata . <0. pada peubah Umur Berbunga dan Umur Panen. Peubah Jumlah Gabah/Malai . =0. dan Produktivitas . on/h. =0. menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata antar perlakuan menunjukkan bahwa meskipun terdapat variasi dalam umur panen dan persentase gabah isi galur-galur harapan BC2F4 mampu memulihkan kondisi . saat curah hujan kembali turun di bulan September-Oktober, sehingga hasil akhirnya setara dengan varietas unggul IR 64 maupun tetuanya. Peubah Pertumbuhan Tanaman Padi Peubah tinggi tanaman pada umur padi 21 HST belum menunjukan perbedaan yang signifikan sebagai pertumbuhan awal (Gambar Varietas Inpago 5 yang merupakan tetua resipien menunjukkan peubah tinggi tanaman relatif lebih tinggi tetapi hampir serupa dengan semua aksesi hasil persilangan. Aksesi T2 memiliki tinggi tanaman terendah dengan 51,72 Pertumbuhan tinggi tanaman cenderung meningkat seiring dengan bertambahnya usia Pada usia 84 HST, semua aksesi menunjukkan tinggi tanaman yang hampir menyerupai tetua resipien (Inpago . , yang mana aksesi T1 menunjukkan tinggi tanaman tertinggi dengan 144 cm, dibandingkan Inpago 5 dengan 137,78 cm. Varietas populer IR 64 memiliki tinggi tanaman terendah dengan 124. Menurut Bioversity International . dalam (Andrian et al. , 2. , tanaman dengan tinggi 121-140 cm tergolong kedalam kategori Dalam penelitian Yulina et al. , . tinggi tanaman berbeda setiap genotipe, perbedaan genotipe ini dipengaruhi oleh genetik masing-masing tanaman. Tanaman yang tinggi memiliki kesempatan dalam memanfaatkan sumber cahaya yang baik sehingga dapat meningkatkan hasil fotosintat tetapi tanaman berisiko mengalami rebah (Suprayogi et al. Aksesi BC2F4 yang merupakan persilangan antara Inpara 8 dan Inpago 5 memiliki karakteristik morfologi tinggi tanaman yang serupa dengan Inpago 5 sebagai tetua Tanaman meningkatkan survival rate ketika mengalami cekaman terendam melalui mekanisme escape Gambar 2. Tinggi tanaman pada usia 21 HST, 42 HST, 64 HST dan 83 HST. Jurnal Vegetalika. Fakultas Pertanian. Universitas Gadjah Mada Secara menunjukkan pola kurva pertumbuhan yang seragam pada peubah jumlah anakan, yakni mengalami peningkatan signifikan pada fase awal pertumbuhan dan mencapai puncaknya pada 42 HST, sebelum akhirnya mengalami penurunan secara bertahap hingga pengamatan terakhir di 84 HST (Gambar . Peningkatan jumlah anakan yang tajam terjadi pada rentang 21 hingga 42 HST, yang mengindikasikan fase vegetatif maksimum tanaman padi. Pada titik puncak ini . HST), varietas pembanding IR 64 mencatatkan jumlah anakan tertinggi secara nyata dibandingkan perlakuan lainnya, dengan rata-rata mencapai 26,18 anakan. Diikuti oleh varietas Inpago 5 dengan 21,17 anakan dan perlakuan T3 yang mencapai 19,20 anakan. Sebaliknya, perlakuan T1 mencatatkan jumlah anakan terendah pada fase puncak ini, yaitu sebesar 13,93 anakan. Pasca 42 HST, terlihat tren penurunan jumlah anakan pada seluruh unit Penurunan ini merupakan fenomena fisiologis yang wajar, dimana tanaman mulai memasuki fase generatif dan menyeleksi anakan anakan yang tidak produktif akan mati atau terdegradasi. Meskipun terjadi penurunan. IR64 tetap konsisten mempertahankan jumlah anakan terbanyak hingga akhir pengamatan . HST) dengan angka 20,40. Sementara itu, perlakuan T3 dan TR3 menunjukkan performa yang cukup kompetitif dibandingkan varietas unggul Inpago 5, dengan jumlah anakan akhir masing-masing sebesar 16,20 dan 13,50. Jumlah anakan ini sejalan dengan hasil (Andrian et al. , 2. yang mana karakter padi gogo yang memiliki kategori dimana 10-16 jumlah anakan yang dihasilkan maka tergolong Berbanding terbalik dengan varietas IR64 yang tergolong ke dalam high yield variety serta dianggap sebagai kultivar tipe indica dengan anakan tinggi (Mackill & Khush, 2. Anakan tanaman padi akan bertambah sampai usia 40-50 hst dan akan berkurang seiring dengan bertambahnya usia tanaman. Penurunan ini disebabkan oleh pertumbuhan anakan yang muncul terlambat akan kalah saing dengan anakan lebih awal. Hal ini dikarenakan anakan mengalami perebutan sumber daya . otosintat, unsur hara, air dan cahaya matahar. , sistem perakaran yang lemah, serta terlambatnya dalam pengisian dan pematangan gabah (Kalaitzidis et al, 2. Jumlah anakan yang banyak adalah ciri pertumbuhan tanaman padi terbaik. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa organ-organ seperti akar, batang, dan daun bekerja dengan (Marlina et al. , 2. Menurut Rahmawati et al. , varietas yang mampu beradaptasi dengan baik pada kondisi lahan suboptimal umumnya menunjukkan keunggulan pada karakteristik vegetatifnya. Selanjutnya. Anusha et al. menyebutkan bahwa peningkatan jumlah anakan memiliki hubungan positif dengan produktivitas hasil panen. Gambar 3. Pertumbuhan jumlah anakan pada usia 21 HST, 42 HST, 63 HST dan 84 HST Jurnal Vegetalika. Fakultas Pertanian. Universitas Gadjah Mada Peubah Hasil Tanaman Padi Pada fase generatif tanaman padi, terdapat beberapa peubah yang diamati meliputi: Jumlah anakan produktif, umur berbunga, jumlah malai, jumlah gabah per malai dan persentase gabah isi (Tabel . Jumlah anakan produktif merupakan jumlah anakan yang menghasilkan malai pada satu rumpun tanaman padi. Pada peubah jumlah anakan produktif varietas IR64 menghasilkan jumlah anakan produktif terbanyak dengan 17,67 anakan dan yang terendah didapat pada perlakuan TR 2 dengan 11,43 anakan. Aksesi T3 menghasilkan anakan tertinggi dibandingkan dengan aksesi lainnya dengan 15,77 anakan. Jumlah anakan yang dihasilkan akan menentukan banyaknya jumlah anakan produktif yang akan dihasilkan per rumpun tanaman. Jumlah anakan produktif akan menyatakan jumlah malai yang dihasilkan per rumpun. Semakin banyak jumlah malai akan menentukan jumlah bulir yang dihasilkan oleh Jumlah anakan produktif ini juga ditentukan oleh jumlah anakan yang terbentuk sebelum fase priodial (Cahya et al. , 2. Salah satu peubah lainnya yang diamati yaitu umur berbunga. Umur berbunga dihitung ketika 50% dari populasi telah mengeluarkan Pada peubah ini, varietas IR64 memiliki umur berbunga yang lebih cepat yaitu 57,63 hari. Aksesi TR3 memiliki umur berbunga lebih panjang dibandingkan dengan varietas lainnya dengan kedua dengan 67,23 HST, varietas TR1 menunjukan waktu berbunga lebih cepat dengan 61,43 HST lebih cepat dari tetua resipien Inpago 5 dan aksesi lainnya Jika umur berbunga cepat, umur panen juga akan cepat. Sitinjak dan Idwar . menyatakan bahwa umur berbunga terkait erat dengan umur panen, dimana tanaman yang mengeluarkan malai dengan cepat akan mengalami panen yang lebih cepat. Varietas IR 64 menghasilkan waktu panen lebih cepat dengan 92,33 HST dan aksesi T3 menunjukan umur panen yang lebih lama dengan 121 HST. Semua aksesi memiliki umur panen yang lebih lama dibandingkan dengan tutua resipien Inpago 5 . HST). Waktu panen yang lebih cepat menandakan varietas padi tersebut merupakan varietas berumur genjah. Waktu panen, dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan serta fase vegetatif dan generatif yang baik selama siklus hidup tanaman padi. Penanaman varietas genjah dapat meningkatkan indeks pertanaman (IP) (Jaenuristy et al, 2. Pada peubah panjang malai, aksesi T3 memiliki panjang malai yang paling panjang dengan 28,6cm, varietas IR64 memiliki panjang malai terpendek dengan 25,24cm. Panjang malai ini juga menentukan jumlah gabah per malai. Seperti yang terlihat pada tabel 2. Varietas IR64 yang memiliki malai terpendek menghasilkan jumlah gabah per malai terendah dengan 35,7 bulir, sedangkan aksesi T1 yang memiliki menghasilkan jumlah gabah per malai terbanyak dengan 57,7 bulir. Tabel 2. Peubah hasil tanaman padi Peubah Pengamatan Umur Panen Panjang Malai Jumlah Gabah Persentase (HST) (C. Per Malai Gabah Isi (%) 13A1. 43A1. 17A 1. TR1 57A1. 3A2. 13A 0. 7A3. 4A4. 93 A 0. TR2 43A2. 67A1. 57A 1. 77A2. 73A0. 6A 0. 1A 1. TR3 87A1. 23A0. 67A 0. 63A 6. INPAGO 57A1. 47A0. 0A 0. 8A 4. IR64 67A2. 63A0. 24A 0. 7A 6. Keterangan:Angka rata-rata yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata menurut uji DMRT pada taraf 5% Perlakuan Jumlah Anakan Umur Berbunga Produktif (HST) Jurnal Vegetalika. Fakultas Pertanian. Universitas Gadjah Mada Salah satu karakteristik yang berperan penting dalam meningkatkan hasil gabah pada padi adalah panjang malai (Tefera et al. , 2. Malai diklasifikasikan menjadi tiga kategori panjang malai pendek kurang dari dua puluh sentimeter, malai sedang antara dua puluh hingga tiga puluh sentimeter, dan malai panjang lebih dari tiga puluh sentimeter (Wendi et al. , 2. Berdasarkan hal ini, aksesi semua aksesi (T1. TR1. T2. TR2. T3. TR. Inpago dan IR64 termasuk dalam kategori malai sedang. Selanjutnya pada peubah fase generatif tanaman padi, peubah jumlah gabah per malai, aksesi T3 dan TR3 menghasilkan jumlah gabah per malai lebih banyak dengan 52,1 bulir dan 49,63 bulir dibandingkan dengan tetua resipien Inpago 5 dengan 44,8 bulir per malai. Varietas IR64 menghasilkan jumlah gabah per malai lebih sedikit dengan 35,7 bulir per malai. Sitinjak & Idwar . menemukan bahwa sifat genetik tanaman memengaruhi produksi gabah dalam satu malai, terutama panjang malai, cabang malai, dan proses fotosintesis yang Mahmud & Purnomo . menegaskan bahwa karakteristik panjang malai dan ketersediaan hara adalah dua komponen yang mempengaruhi kemampuan tanaman untuk menghasilkan jumlah gabah per malai. Jika proses pengisian gabah tidak diimbangi dengan ketersediaan hara yang mencukupi, maka akan terbentuk gabah hampa. Pada peubah persentase gabah isi, aksesi TR2 memiliki persentase gabah isi terbesar dengan 90,97%. sedangkan T3 menunjukkan persentase gabah isi terendah dengan 82,4%. Komponen persentase gabah isi, berkaitan erat dengan jumlah gabah per malai. Tinggi rendahnya persentase gabah isi berkaitan dengan jumlah gabah per malai. Semakin banyak jumlah gabah per malai maka beban tanaman dalam proses pengisian gabah akan Hasil fotosintat yang diangkut ke malai untuk pengisian gabah yang cukup akan meningkatkan persentase gabah isi. (Sugiono & Saputro, 2. Jumlah gabah per malai dan jaminan hara yang tersedia sangat memengaruhi persentase gabah isi per malai. Kondisi tumbuh yang sesuai cenderung merangsang proses inisiasi malai menjadi sempurna, meningkatkan peluang pembentukan bakal gabah. Namun, beban tanaman untuk menghasilkan gabah bernas meningkat dengan jumlah gabah yang dihasilkan (Mahmud, 2. Peubah berat 100 bulir per malai berdasarkan uji lanjut aksesi T2 menghasilkan berat 100 bulir tertinggi dengan 2. 89gr dan varietas TR3 menghasilkan berat 100 bulir terendah dengan 2,56g namun tidak berbeda nyata antara semua varietas tersebut (Tabel . Komponen hasil meliputi yang meliputi berat 100 bulir, berat gabah per rumpun dan produktivitas Berat 100 bulir padi yang tinggi menunjukkan kualitas biji dan hasil asimilat yang disimpan, sedangkan berat 100 bulir padi yang rendah menunjukkan kualitas biji yang lebih Bobot biji dipengaruhi oleh hasil asimilat yang tersedia selama perkembangan biji (Widiana et al. , 2. Maisura dan Jamidi . menunjukkan bahwa berat 100 biji tanaman padi memiliki pengaruh yang signifikan, sehingga berat 100 biji ini digunakan sebagai referensi untuk berat biji lainnya. Masa biji yang tinggi atau rendah dipengaruhi oleh kandungan bahan kering dalam biji, bahan kering ini berasal dari fotosintesis yang digunakan untuk mengisi biji Tabel 3. Berat 100 Bulir. Berat Gabah per Rumpun, dan Produktivitas Perlakuan Hasil Berat 100 Bulir . Berat Gabah per rumpun . Produktivitas . on/h. 76A0. 42A2. 95A0. TR1 74A0. 82A2. 85A0. 89A0. 98A2. 87A0. TR2 67A0. 81A2. 37A0. 70A0. 34A1. 25A0. TR3 56A0. 89A2. 22A0. INPAGO 75A0. 21A1. 75A0. IR64 83A0. 36A3. 82A0. Keterangan: Angka rata-rata yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata menurut DMRT pada taraf 5% Jurnal Vegetalika. Fakultas Pertanian. Universitas Gadjah Mada Tabel 4. Analisis Korelasi Pearson terhadap peubah peubah yang diamati Pearson Correlation JGPM PGI B100 BGPR 579** . 678** -0. JAP 288 -. 520** -0. 317 -. 716** -. 406* -0. 527** -. 413* -0. 444* -0. 529** -0. JGPM 038 -. 611** 0. PGI B100 897** 0. BGPR **. Korelasi signifikan pada tingkat 0,01. ua eko. Korelasi signifikan pada tingkat 0,05 . ua eko. Keterangan: JAP (Jumlah anakan produkti. UB . mur berbung. UP. mur pane. PM (Panjang Mala. JGPM (Jumlah Gabah per Mala. PGI (Persen Gabah Is. B100 (Berat 100 buli. PR (Produktivita. TT (Tinggi Tanama. JA (Jumlah Anaka. Peubah hasil tanaman padi yang diukur meliputi berat gabah per rumpun, berat 100 bulir dan produktivita tanaman. Berdasarkan uji DMRT taraf 5% pada peubah berat gabah per rumpun, aksesi T3 menghasilkan berat gabah tertinggi dengan 22,75g dengan terendah pada T2 dengan 15,02g. Produksi padi perumpun akan sejalan dengan produktivitas yang Pada komponen hasil lainnya yaitu produktivitas tanaman . on/h. , yang mana aksesi T3 dengan 3,64 ton /ha memiliki potensi hasil yang lebih tinggi diantara varietas lainnya, namun aksesi T2 menunjukkan potensi hasil yang paling rendah dengan 2,5 ton/ha. Dengan jumlah anakan produktif, jumlah gabah per malai, dan persentase gabah isi yang lebih tinggi, serta berat 100 bulir yang tinggi, berat gabah per rumpun akan meningkat. Pada peubah berat gabah per rumpun, berat gabah per rumpun tertinggi diperoleh oleh varietas IR64 dengan 77,9g tidak berbeda nyata dengan varietas Inpago 5. Sementara aksesi TR3 memiliki berat gabah paling rendah per rumpun dengan 53,05g. Selain itu, pada uji korelasi person, menunjukkan bahwa, produktivitas dipengaruhi oleh faktor jumlah anakan, jumlah anakan produktif, dan berat gabah per malai dengan R masing masing . ,58, 0,68, dan 0,. (Tabel . Faktor genetik dan daya adaptasi terhadap lingkungan memiliki peran penting dalam peningkatan produktivitas tanaman padi. Salah satu gen seperti Gen OsGS3 dapat berperan dalam untuk ukuran butir dan gen (NAL. yang meningkatkan hasil gabah (Mackill & Khush, 2. Namun Susanto et al. , . menambahkan hasil tanaman sebagian besar dipengaruhi oleh sifat-sifat yang berhubungan dengan malai, seperti jumlah malai/tanaman, jumlah gabah isi/malai, dan set benih. KESIMPULAN Pada penelitian ini dapatkan bahwa aksesiaksesi hasil persilangan Inpago 5 . , dan Inpara 8 . pada generasi BC2F4 menunjukkan performance pertumbuhan dan hasil yang yang cenderung lebih baik dari Inpago 5 . etua dono. dan IR 64 . arietas popule. Aksesi T3 menunjukkan performance yang lebih baik pada variable jumlah anakan, umur Secara umum, produktivitas gabah yang dihasilkan dipengaruhi oleh jumlah anakan, jumlah anakan produktif and berat gabah per UCAPAN TERIMA KASIH Penulis menyampaikan terima kasih kepada Lembaga Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Sriwijaya 0484/UN9. 1/PL/2024 atas dukungannya untuk melaksanakan penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA