TAAoDIB: Jurnal Pemikiran Pendidikan p-ISSN 2089-4422 e-ISSN 2808-3784 Vol. No. September 2025 hal. 28 - 36 https://journal. id/index. php/tdb/index Strategi Reward-Based Learning dalam Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa Sekolah Dasar Asdiana1. Andika Hariyanto Surbakti2. Suhaini3. Elfi Rahmadhani4* IAIN Takengon. Aceh. Indonesia, asdianaidris@gmail. IAIN Takengon. Aceh. Indonesia, andikahariyanto@gmail. IAIN Takengon. Aceh. Indonesia, suhaini@gmail. IAIN Takengon. Aceh. Indonesia, elfidhaelfa88@gmail. DOI: 10. 54604/tdb. Diajukan: 2/8/2025 Diterima: 12/9/2025 Copyright A 2023 Diterbitkan: 20/9/2025 ABSTRAK Proses pembelajaran di sekolah tidak terlepas dari kegiatan transfer ilmu pengetahuan yang menuntut guru untuk mampu mengelola kelas secara efektif dan memilih metode pembelajaran yang tepat agar tujuan pembelajaran tercapai secara optimal. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan hasil belajar siswa adalah melalui penerapan metode pemberian reward . Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah pemberian reward dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas IV D di MIN 8 Aceh Tengah serta mengidentifikasi kendala yang dihadapi guru dalam penerapannya. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus dengan subjek penelitian sebanyak 39 siswa. Data dikumpulkan melalui observasi, tes hasil belajar, dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode pemberian reward dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada materi penjumlahan dan pengurangan pecahan. Hal ini terlihat dari peningkatan persentase ketuntasan belajar siswa, yaitu dari 20% pada pra-siklus, meningkat menjadi 54% pada siklus I, dan mencapai 85% pada siklus II. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pemberian reward berpengaruh positif terhadap peningkatan hasil belajar siswa, meskipun dalam pelaksanaannya guru masih menghadapi kendala dalam konsistensi pemberian penghargaan dan pengelolaan waktu pembelajaran. Kata Kunci: hasil belajar, matematika, reward. Penelitian Tindakan Kelas ABSTRACT The learning process in schools involves the transfer of knowledge, which requires teachers to effectively manage classrooms and select appropriate teaching methods to achieve optimal learning outcomes. One approach to improving studentsAo learning achievement is through the implementation of a reward system. This study aims to determine whether the use of rewards can enhance mathematics learning outcomes among Grade IVD students at MIN 8 Aceh Tengah and to identify the challenges faced by teachers in its implementation. This research employed a Classroom Action Research (CAR) design conducted in two cycles with a total of 39 students as participants. Data were collected through observation, achievement tests, and interviews. The findings revealed that the use of a reward method improved studentsAo learning outcomes on the topic of addition and subtraction of fractions. The percentage of students achieving mastery increased from 20% in the pre-cycle to 54% in the first cycle, and finally to 85% in the second cycle. Therefore, it can be concluded that the implementation of the reward method positively influences studentsAo learning achievement, although teachers still face challenges related to maintaining consistency in reward distribution and managing instructional time effectively. Keywords: learning achievement, mathematics, reward, classroom action research * Korespondensi Author: Elfi Rahmadhani. IAIN Takengon. Aceh. Indonesia, elfidhaelfa88@gmail. [AUTHOR NAME] Strategi Reward-Based Learning dalam Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa Sekolah Dasar PENDAHULUAN Pendidikan merupakan suatu proses yang dilakukan secara sadar, terencana, dan berkesinambungan untuk mengembangkan seluruh potensi peserta didik agar memiliki kecerdasan intelektual, keterampilan hidup, serta kepribadian yang berakhlak mulia. Hal ini sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang menegaskan bahwa pendidikan memiliki fungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat. Dalam kerangka tersebut, peran guru menjadi sangat strategis sebagai fasilitator dan motivator yang bertugas menciptakan suasana belajar yang kondusif, kreatif, inovatif, serta mampu menumbuhkan motivasi belajar siswa agar mencapai hasil belajar yang optimal. Guru tidak hanya berperan sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai pembimbing dan inspirator bagi peserta didik dalam membangun kemampuan berpikir kritis, kolaboratif, dan reflektif sesuai tuntutan abad ke-21 (OECD. Namun demikian, realitas di lapangan menunjukkan bahwa proses pembelajaran di tingkat sekolah dasar maupun madrasah ibtidaiyah masih sering menghadapi berbagai kendala, terutama yang berkaitan dengan rendahnya motivasi dan capaian hasil belajar siswa. Mata pelajaran matematika menjadi salah satu bidang studi yang paling banyak dianggap sulit dan menantang oleh siswa, sehingga berdampak pada rendahnya tingkat ketuntasan belajar. Kesulitan tersebut disebabkan oleh berbagai faktor, baik dari dalam diri siswa . aktor interna. , seperti rendahnya minat, kepercayaan diri, dan kesiapan mental dalam belajar. maupun dari lingkungan eksternal, seperti penggunaan metode pembelajaran yang monoton, keterbatasan media belajar yang menarik, dan kurangnya variasi strategi pembelajaran yang diterapkan oleh guru (Slameto, 2010. Santrock, 2. Hasil penelitian Utami dan Harahap . juga menunjukkan bahwa kurangnya variasi strategi pembelajaran berimplikasi langsung terhadap menurunnya antusiasme belajar dan keterlibatan siswa di kelas. Salah satu strategi yang terbukti efektif untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa adalah pemberian reward atau penghargaan. Strategi ini memiliki kekuatan psikologis yang besar karena dapat menumbuhkan rasa percaya diri, semangat kompetitif yang sehat, dan dorongan intrinsik untuk belajar lebih Berdasarkan teori penguatan . einforcement theor. yang dikemukakan oleh B. Skinner . dan dikembangkan lebih lanjut dalam pendekatan motivasi belajar modern (Ryan & Deci, 2. , reward berfungsi sebagai bentuk penguatan positif . ositive reinforcemen. yang dapat memperkuat perilaku belajar yang diinginkan. Dengan kata lain, penghargaan berperan tidak hanya sebagai stimulus eksternal, tetapi juga sebagai sarana membangun motivasi intrinsik yang mendorong siswa untuk mencapai keberhasilan akademik. Hal ini menjadi sangat relevan bagi siswa madrasah ibtidaiyah, yang secara psikologis masih berada pada tahap perkembangan di mana pengakuan, perhatian, dan penghargaan memiliki makna emosional yang tinggi terhadap kemajuan belajarnya (Santrock, 2. Berdasarkan hasil observasi awal di MIN 8 Aceh Tengah, ditemukan bahwa capaian hasil belajar matematika siswa kelas IVD masih tergolong rendah. Sebagian besar siswa menganggap matematika sebagai pelajaran yang sulit, abstrak, dan membosankan. Guru masih dominan menggunakan metode konvensional yang berfokus pada penyampaian materi tanpa variasi strategi yang mampu membangkitkan minat belajar siswa. Kondisi tersebut mengakibatkan siswa cenderung pasif, kurang termotivasi, dan tidak fokus dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Oleh karena itu, dibutuhkan inovasi pembelajaran yang dapat menciptakan suasana belajar yang aktif, menyenangkan, dan bermakna, salah satunya melalui penerapan metode pemberian reward yang dilakukan secara terencana, adil, dan konsisten. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana penerapan metode pemberian reward dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas IVD pada mata pelajaran matematika di MIN 8 Aceh Tengah, serta mengidentifikasi faktor pendukung dan kendala yang dihadapi guru dalam penerapannya. Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan kontribusi teoretis terhadap pengembangan strategi pembelajaran berbasis 30 | P a g e Strategi Reward-Based Learning dalam Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa Sekolah Dasar motivasi dan kontribusi praktis bagi guru dalam menciptakan lingkungan belajar yang efektif, partisipatif, serta mampu menumbuhkan semangat belajar yang berkelanjutan pada siswa sekolah dasar. II. METODOLOGI Pendekatan dan Jenis Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Pendekatan ini dipilih karena penelitian berfokus pada perbaikan praktik pembelajaran di kelas melalui tindakan nyata yang dilakukan oleh guru. PTK bertujuan untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar siswa melalui penerapan metode pembelajaran tertentu yang diobservasi dan direfleksikan secara Penelitian tindakan dilaksanakan secara kolaboratif antara peneliti dan guru kelas, di mana guru berperan sebagai pelaksana tindakan dan peneliti bertindak sebagai pengamat. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di MIN 8 Aceh Tengah, yang berlokasi di Simpang IV Bebesen. Kecamatan Bebesen. Kabupaten Aceh Tengah. Kegiatan penelitian berlangsung selama satu semester dengan tahapan meliputi persiapan, perancangan instrumen, pelaksanaan tindakan, pengumpulan data, analisis hasil, serta penyusunan laporan. Subjek Penelitian Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas IVD MIN 8 Aceh Tengah, yang berjumlah 39 orang terdiri dari 17 siswa laki-laki dan 22 siswa perempuan. Kelas ini dipilih karena berdasarkan hasil observasi awal menunjukkan rendahnya hasil belajar matematika siswa pada materi penjumlahan dan pengurangan Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan model spiral dari John Elliot yang terdiri atas empat tahap utama pada setiap siklus, yaitu: Perencanaan (Plannin. Ae merancang Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), menyiapkan instrumen observasi, dan menyusun soal tes. Pelaksanaan (Actin. Ae guru melaksanakan pembelajaran sesuai rencana, dengan menerapkan metode pemberian reward untuk memotivasi siswa dalam memahami materi matematika. Pengamatan (Observin. Ae peneliti mengamati aktivitas guru dan siswa selama pembelajaran berlangsung untuk mencatat perubahan perilaku belajar siswa. Refleksi (Reflectin. Ae hasil pengamatan dianalisis untuk mengevaluasi keberhasilan tindakan dan menentukan perbaikan yang akan dilakukan pada siklus berikutnya. Penelitian dilakukan dalam dua siklus, di mana setiap siklus melibatkan proses perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi secara berkesinambungan hingga diperoleh peningkatan hasil belajar yang signifikan. Kriteria Keberhasilan Tindakan Keberhasilan tindakan ditentukan berdasarkan peningkatan hasil belajar siswa. Kriteria ketuntasan minimal (KKM) ditetapkan sebesar 60, dengan target ketuntasan klasikal minimal 85% dari jumlah keseluruhan siswa yang mencapai nilai tersebut. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan menggunakan beberapa teknik berikut: Tes Ae digunakan untuk mengukur peningkatan hasil belajar siswa sebelum dan sesudah tindakan Tes mencakup soal-soal terkait materi penjumlahan dan pengurangan pecahan. Observasi Ae dilakukan untuk mengamati proses pembelajaran, keterlibatan siswa, dan respons terhadap penerapan reward. [AUTHOR NAME] Strategi Reward-Based Learning dalam Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa Sekolah Dasar Dokumentasi Ae meliputi pengumpulan data berupa foto kegiatan, hasil pekerjaan siswa, serta catatan pelaksanaan pembelajaran. Instrumen yang digunakan meliputi lembar observasi guru dan siswa, lembar tes hasil belajar, serta format dokumentasi kegiatan. Validasi instrumen dilakukan melalui validasi isi . ontent validit. dengan meminta pendapat ahli . osen pembimbin. mengenai kesesuaian indikator dengan tujuan penelitian. Analisis Data Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif kuantitatif. Hasil belajar siswa dianalisis menggunakan rumus persentase untuk melihat tingkat ketuntasan belajar. Peningkatan hasil belajar dilihat dari perbandingan antara nilai pra-siklus, siklus I, dan siklus II. Hasil observasi dianalisis secara deskriptif untuk menggambarkan perubahan perilaku belajar siswa, tingkat motivasi, serta efektivitas penerapan reward dalam meningkatkan hasil belajar matematika. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus dengan tujuan meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas IVD MIN 8 Aceh Tengah melalui penerapan metode pemberian reward. Data diperoleh dari hasil observasi, tes hasil belajar, dan dokumentasi selama proses pembelajaran berlangsung. Kondisi Pra Siklus Pada tahap pra siklus, guru melaksanakan pembelajaran matematika tanpa menggunakan metode yang mampu memotivasi siswa secara aktif. Observasi menunjukkan bahwa sebagian besar siswa kurang antusias dan kesulitan memahami materi penjumlahan dan pengurangan pecahan. Berdasarkan hasil evaluasi awal, dari 39 siswa hanya 8 orang . %) yang mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), sedangkan 31 siswa . %) belum tuntas dengan nilai rata-rata kelas 40. Temuan ini menunjukkan rendahnya motivasi dan pemahaman siswa terhadap materi. Siklus I Pelaksanaan siklus I dilakukan dengan menerapkan metode pemberian reward berupa alat tulis sederhana sebagai bentuk penghargaan atas prestasi siswa dalam menyelesaikan tugas dengan cepat dan Hasil tes formatif menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar dengan rata-rata nilai mencapai 58, dan ketuntasan belajar meningkat menjadi 54% . Meski demikian, masih terdapat 46% siswa yang belum mencapai KKM. Adapun data hasil penelitian pada siklus I adalah sebagai berikut: Tabel 1. Nilai Tes Formatif Pada Siklus I Nama ASM AMQ Nilai Pra Siklus Siklus I Keterangan Tidak Tuntas Tidak Tuntas Tuntas Tidak Tuntas Tidak Tuntas Tuntas Tidak Tuntas Tuntas Tidak Tuntas Tidak Tuntas Tuntas [AUTHOR NAME] Strategi Reward-Based Learning dalam Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa Sekolah Dasar 13 IAT 14 IA 16 KJ 18 MN 19 MI 20 MU 22 MDR 23 NI 25 RP 26 RS 27 RT 28 RA 29 RAF 30 RL 31 RE 32 RH 34 RU 35 TA 36 TA 37 VZ 38 YWR 39 ZF Jumlah Nilai Rata-rata Tuntas Tidak Tuntas Tuntas Tidak Tuntas Tuntas Tuntas Tidak Tuntas Tidak Tuntas Tuntas Tidak Tuntas Tidak Tuntas Tidak Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tidak Tuntas Tuntas Tidak Tuntas Tuntas Tuntas Tidak Tuntas Tuntas Tidak Tuntas Tidak Tuntas Tidak Tuntas Tuntas Tuntas Tidak Tuntas Tidak Tuntas Berdasarkan refleksi, perbaikan diperlukan dalam hal intensitas bimbingan guru dan jumlah reward yang disediakan agar motivasi siswa lebih meningkat pada siklus berikutnya. Siklus II Perbaikan pembelajaran dilakukan dengan meningkatkan variasi dan frekuensi pemberian reward, serta pendampingan lebih intensif terhadap siswa yang mengalami kesulitan. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan signifikan, dengan nilai rata-rata kelas mencapai 74 dan ketuntasan belajar meningkat menjadi 85% . Sementara itu, hanya 15% siswa . yang belum mencapai ketuntasan. Hasil ini menunjukkan bahwa penerapan metode reward berhasil meningkatkan hasil belajar matematika secara signifikan dibandingkan dengan kondisi awal. Adapun hasil penelitian yang dilakukan pada siklus II adalah sebagai berikut: Tabel 2. Nilai tes formatif pada siklus II Nilai Nama Pra Siklus Siklus I Siklus II Keterangan [AUTHOR NAME] Strategi Reward-Based Learning dalam Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa Sekolah Dasar 1 AR 2 AA 3 AM 4 ASM 5 AMQ 6 AS 7 AG 1 DF 1 DW 1 IAT 1 IA 1 KJ 1 MN 1 MI 2 MU 2 MDR 2 NI 2 RP 2 RS 2 RT 2 RA 2 RAF 3 RL 3 RE 3 RH 3 RU 3 TA 3 TA 3 VZ 3 YWR 3 ZF Jumlah Nilai Rata-rata Tuntas Tidak Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tidak Tuntas Tuntas Tuntas Tidak Tuntas Tuntas Tidak Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tidak Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tidak Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tidak Tuntas Kendala yang Dihadapi Beberapa kendala yang dihadapi guru selama pelaksanaan tindakan antara lain: [AUTHOR NAME] Strategi Reward-Based Learning dalam Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa Sekolah Dasar Sebagian siswa mencoba meniru jawaban teman demi memperoleh reward, sehingga menimbulkan gangguan kelas. Siswa yang telah menerima reward sebelumnya cenderung ingin mendapatkannya kembali, menyebabkan ketidakseimbangan motivasi antar siswa. Keterbatasan jumlah reward yang tersedia membuat sebagian siswa merasa kecewa karena tidak mendapatkan penghargaan. Kendala tersebut menjadi bahan refleksi bagi guru dalam mengatur strategi pemberian reward yang lebih adil dan terencana agar tidak menimbulkan efek kompetitif negatif di antara siswa. Pembahasan Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode pemberian reward secara konsisten dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa. Berdasarkan data, ketuntasan belajar siswa meningkat dari 20% pada pra-siklus, menjadi 54% pada siklus I, dan mencapai 85% pada siklus II. Peningkatan ini menunjukkan adanya hubungan positif antara pemberian penghargaan . dengan peningkatan hasil belajar matematika, baik dari segi motivasi maupun performa akademik siswa. Secara teoretis, temuan ini memperkuat teori penguatan . einforcement theor. yang dikemukakan oleh B. Skinner . Menurut teori ini, perilaku seseorang akan cenderung diulang apabila mendapatkan konsekuensi positif seperti pujian, penghargaan, atau bentuk penguatan lainnya. Dalam konteks pembelajaran, pemberian reward berperan sebagai stimulus eksternal yang dapat menumbuhkan perilaku belajar positif seperti keaktifan, ketekunan, dan tanggung jawab siswa terhadap tugas. Temuan ini sejalan dengan penelitian Andriani dan Rasto . yang menyatakan bahwa reward memiliki pengaruh signifikan terhadap peningkatan motivasi belajar siswa di berbagai jenjang pendidikan. Selain itu, peningkatan hasil belajar juga mendukung teori motivasi berprestasi (Need for Achievement Theor. yang dikemukakan oleh David McClelland . Menurut teori ini, individu akan termotivasi untuk berprestasi apabila mendapatkan tantangan dan penghargaan atas upaya yang dilakukan. Reward yang diberikan oleh guru tidak hanya berfungsi sebagai bentuk penguatan eksternal, tetapi juga dapat memicu motivasi intrinsik siswa untuk memperbaiki kinerja akademik mereka. Hal ini diperkuat oleh temuan Putri dan Sari . bahwa siswa yang menerima reward menunjukkan peningkatan rasa percaya diri, semangat kompetitif yang sehat, serta peningkatan nilai akademik secara signifikan. Dari sisi psikologi pendidikan modern, pemberian reward juga berkaitan erat dengan SelfDetermination Theory (Deci & Ryan, 2. yang menekankan bahwa motivasi belajar yang optimal terjadi ketika siswa merasakan adanya autonomi, kompetensi, dan keterhubungan sosial . Reward yang diberikan secara adil dan proporsional mampu memperkuat ketiga aspek ini karena membuat siswa merasa dihargai, berdaya, dan diakui oleh lingkungannya (Ryan & Deci, 2. Dengan demikian, pemberian reward bukan sekadar alat kontrol perilaku, tetapi juga sarana untuk membangun iklim belajar yang positif dan suportif. Dari sudut pandang empiris, hasil penelitian ini sejalan dengan berbagai studi terdahulu dan Sanjaya . dan Istarani . menunjukkan bahwa pemberian reward dapat meningkatkan partisipasi siswa, terutama dalam mata pelajaran yang dianggap sulit seperti matematika. Lebih lanjut. Rahmawati & Santoso . menemukan bahwa strategi pembelajaran berbasis reward dapat menurunkan kecemasan matematika . ath anxiet. dan meningkatkan keaktifan siswa dalam menyelesaikan soal-soal HOTS. Penelitian Aminah. Wahyudi, & Hidayat . juga menunjukkan bahwa penggunaan reward secara terencana berpengaruh positif terhadap hasil belajar siswa SD, khususnya pada pembelajaran tematik dan matematika dasar. Secara keseluruhan, penerapan metode pembelajaran berbasis reward terbukti efektif dalam meningkatkan hasil belajar dan motivasi belajar siswa sekolah dasar, khususnya pada mata pelajaran matematika yang sering dianggap menantang. Namun, guru perlu memperhatikan beberapa prinsip penting dalam penerapan reward, yaitu keadilan, konsistensi, variasi bentuk penghargaan, dan relevansi terhadap capaian belajar. Pemberian reward yang terlalu sering atau tidak proporsional justru dapat mengurangi nilai intrinsik dari belajar itu sendiri (Deci & Ryan, 2. Oleh karena itu, guru sebaiknya mengombinasikan [AUTHOR NAME] Strategi Reward-Based Learning dalam Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa Sekolah Dasar reward eksternal dengan strategi yang menumbuhkan motivasi internal, seperti refleksi diri dan pembelajaran berbasis tujuan. IV. SIMPULAN DAN SARAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode pemberian reward dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas IVD MIN 8 Aceh Tengah pada materi penjumlahan dan pengurangan Hal ini terbukti dari peningkatan nilai rata-rata siswa dari 40 pada pra-siklus menjadi 58 pada siklus I dan 74 pada siklus II, dengan persentase ketuntasan belajar meningkat dari 20% menjadi 85%. Pemberian reward mampu menumbuhkan motivasi belajar, mendorong partisipasi aktif siswa, serta menciptakan suasana belajar yang lebih menyenangkan dan bermakna. Meskipun demikian, dalam pelaksanaannya guru masih menghadapi beberapa kendala seperti keterbatasan jumlah reward, ketidakseimbangan antarsiswa dalam memperoleh penghargaan, dan munculnya kompetisi yang berlebihan. Oleh karena itu, guru perlu menerapkan strategi pemberian reward secara terencana, adil, dan proporsional agar dapat menumbuhkan motivasi intrinsik siswa serta meningkatkan efektivitas pembelajaran secara berkelanjutan. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan agar guru menerapkan metode pemberian reward secara konsisten dan bervariasi sebagai strategi untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa, khususnya pada mata pelajaran yang dianggap sulit seperti matematika. Guru juga perlu memperhatikan keadilan dan proporsionalitas dalam pemberian reward agar tidak menimbulkan kecemburuan di antara siswa. Selain itu, pihak sekolah diharapkan dapat mendukung pelaksanaan metode ini dengan menyediakan sarana pendukung dan pelatihan bagi guru untuk mengembangkan strategi pembelajaran yang inovatif, sehingga suasana belajar di kelas menjadi lebih interaktif, menyenangkan, dan efektif. REFERENSI