Nubuat : Jurnal Pendidikan Agama Kristen dan Katolik Vol. No. 3 September 2024 e-ISSN: x-x. p-ISSN: x-x. Hal 15-32 Pengaruh Internet dan Media Sosial terhadap Pencapaian Kekudusan di Kalangan Muda Katolik Paroki SantoVincent A Paulo. Malang Geraldy Calvin Yulianto Wibowo Abstract. This research focuses on the influence of the Internet and social media on the centralization of chastity among the youth of St. Vincent A Paulo Parish. Malang. The author's observations of several human phenomena experiencing a crisis of faith due to social media. This research uses a qualitative approach and the type of research is a questionnaire. A qualitative approach like this was chosen because the author believes that by using this approach it is possible to describe the problem being studied as a whole. The author distributed fourteen . This question is divided into two parts, the first question is answered directly, the second question is answered with a brief explanation. Research materials were distributed to OMK (Catholic Yout. Parish of St Vincentius A Paulo Malang. The process and analysis used in this research is the interactive data analysis model of Miles and Huberman. The analysis consists of four steps, namely data collection, data reduction, data presentation, as well as drawing conclusions and verification. The Holiness of Catholic Youth, the Identity of Catholic Youth, and the Impact of the Internet on Research Findings of Catholic Youth. Kata Kunci: Internet Influence. Achieving Holiness. Parish Catholicism. Abstrak. Penelitian ini berfokus pada pengaruh Internet dan media sosial terhadap sentralisasi kesucian di kalangan pemuda Paroki Santo Vinsensius A Paulo Malang. Pengamatan penulis terhadap beberapa fenomena manusia yang mengalami krisis iman akibat media sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan jenis penelitiannya adalah kuesioner. Pendekatan kualitatif seperti ini dipilih karena penulis beranggapan bahwa dengan menggunakan pendekatan ini dimungkinkan untuk menggambarkan permasalahan yang diteliti secara Penulis menyebarkan empat belas . Pertanyaan ini terbagi menjadi dua bagian, pertanyaan pertama dijawab langsung, pertanyaan kedua dijawab dengan penjelasan singkat. Materi penelitian disebarkan kepada OMK (Pemuda Katoli. Paroki St Vincentius A Paulo Malang. Proses dan analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data interaktif model Miles dan Huberman. Analisisnya terdiri dari empat langkah, yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan dan verifikasi. Kekudusan Kaum Muda Katolik. Identitas Kaum Muda Katolik, dan Dampak Internet terhadap Temuan Penelitian Kaum Muda Katolik. Keywords: Pengaruh Internet. Pencapaian Kekudusan. Katolik Paroki. PENDAHULUAN Subjeknya adalah pemuda Malang Paroki Santo Vincentius A Paulo dari berbagai kalangan seperti Acolytes. Rekas dan OMK. Kelompok umur remaja yang diteliti adalah 1230 tahun. Perkembangan zaman dan teknologi membawa serta berbagai perubahan dalam kehidupan manusia. Orang yang paham teknologi yang hidup saat ini sering disebut orang Masyarakat digital ini dapat memanfaatkan teknologi untuk mempermudah hidup mereka, seperti komunikasi, pekerjaan, hiburan, dan kreativitas. Perkembangan teknologi ini tentunya dapat membawa dampak baik bagi kehidupan masyarakat. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa internet juga dapat memberikan dampak buruk bagi kehidupan masyarakat Perkembangan teknologi juga membuat masyarakat digital dapat dengan mudah berkomunikasi satu sama lain di media sosial. Ada beberapa media sosial yang populer digunakan di Indonesia sendiri. Media sosial yang paling banyak digunakan di Indonesia adalah Whatsapp. Instagram. Twitter. Line. Telegram. MiChat dan beberapa media sosial lainnya (Simon, 2. Keberagaman penggunaan media sosial ini disebabkan oleh fakta bahwa sebagian besar dari mereka memiliki lebih dari satu platform media sosial. Bahkan dalam kehidupan virtual, anak muda mengembangkan kepribadian yang berbeda-beda melalui media sosial. Pengaruh media sosial terhadap kehidupan anak muda juga merambah ke kehidupan sehari-hari anak muda. Kebanyakan dari mereka lebih memilih berkomunikasi melalui media sosial dibandingkan tatap muka (Card, 2. Mereka juga mengandalkan komunikasi melalui grup WhatsApp atau Instagram untuk bertukar informasi atau menyampaikan informasi kepada kelompok yang lebih besar. Gaya hidup ini telah menjadi budaya remaja digital dan secara tidak langsung mempengaruhi berbagai aspek kehidupan mereka seperti kehidupan sosial dan keagamaan. Kaum muda Katolik merupakan bagian dari generasi digital yang mempunyai permasalahan dalam menggunakan media sosial dalam kehidupan beragama. Umat awam dan kaum muda dipanggil untuk mencapai kekudusan dalam hidupnya sesuai dengan dokumen Konsili Vatikan Kedua (Bhodo, 2. Keberadaan internet dan media sosial ternyata bisa membantu mereka mencapai kesucian melalui berbagai fungsi yang disediakannya. Namun kenyataannya, media sosial sebagian besar menghalangi mereka untuk mencapai kesucian. Hal ini tercermin dari cara mereka menggunakan media sosial satu sama lain dan apa yang mereka diskusikan di media sosial. Kehadiran media sosial juga membuat generasi muda memilih komunikasi virtual dibandingkan komunikasi personal. Itulah sebabnya banyak anak muda yang tidak mau mengikuti kegiatan gereja yang melibatkan banyak orang. RUMUSAN MASALAH Menanggapi latar belakang dan keprihatinan terhadap kehidupan kaum muda dan media sosial, kelompok kami mengajukan beberapa rumusan masalah sebagai berikut: Bagaimana dampak media sosial terhadap cara kaum muda dalam mencapai Apakah kekudusan bisa dicapai di zaman yang sudah akrab dengan media sosial ini? Bagaimana cara kaum muda mencapai kekudusan dengan sarana media sosial? METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan di Paroki Santo Vincentius A Paulo. Malang tahun 2023 kurang lebih bulan Mei sampai bulan Juni di Paroki Santo Vincentius A Paulo. Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan tipe penelitian adalah berupa angket . Pendekatan kualitatif ini dipilih karena penulis menganggap dengan memakai pendekatan ini dapat mendeskripsikan permasalahan yang diteliti secara menyeluruh. Penulis menyebarkan kuesioner dengan empat belas pertanyaan . , pertanyaan ini dibagi dua bagian pertanyaan yang bagian pertama dijawab secara langsung, namun pertanyaan yang kedua dijawab menggunakan penjelasan. Data penelitian disebarkan kepada OMK (Orang Muda Katoli. Paroki Santo Vincentius A Paulo. Malang. Adapun proses dan analisis yang digunakan dalam penelitian adalah model analisis data interaktif oleh Miles dan Huberman, kegiatan analisis terdiri dari empat tahap yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan dan verifikasi (Mayestika & Hasmira, 2. Setelah itu, penulis menyimpulkan dan menemukan permasalahan yang terjadi serta memberikan solusi terhadap orang muda yang ada di Paroki Santo Vincentius A Paulo. Malang. KAJIAN PUSTAKA Tantangan besar zaman ini bagi umat beriman dan semua orang yang berkehendak baik adalah mempertahankan komunikasi yang jujur dan bebas, yang membantu memperkuat kemajuan dunia. Setiap orang mesti mengetahui bagaimana memelihara peneguhan rohani yang penuh perhatian dan kesiagaan, dengan mengembangkan kemampuan bersikap kritis yang sehat melalui daya persuasi di media komunikasi (Muni, 2. Anak-anak, orang muda dan orang tua terpengaruh dan dituntut untuk masuk dalam dunia teknologi internet. Diskusi dan keprihatinan tentang perubahan zaman akibat Revolusi 4. 0 juga digaungkan di mana-mana. Gereja pun memberikan perhatian terhadap realitas Revolusi 4. 0 yang didominasi oleh jejaring internet (Simon, 2. Kemajuan pesat teknologi internet, terutama jaringan sosial digital dan perangkat seluler nirkabel secara fundamental telah mengubah cara manusia menjalani kehidupan, baik untuk komunikasi, hubungan, kepemimpinan, otoritas dan membentuk komunitas saat ini. Oleh karena itu, jaringan sosial digital memiliki implikasi mendalam untuk pelayanan di era digital. Seperti halnya dengan pelayanan dalam ruang lingkup gereja, bahwasanya komunitas tidak lagi cukup dipahami bagi umat yang terdapat di dalam gedung gereja (Lumban Gaol & Hutasoit. Media sosial yang memiliki keterbatasan tidak dapat disamakan dengan inkarnasi AuAllah yang menjadi manusia (Goo, 2. Dalam pemikiran inkarnatoris media sosial. Gereja menggunakan media sosial sebagai AusaranaAy penyelamatan manusia. Media sosial yang memiliki keterbatasan dalam perangkat, memiliki fungsi besar dalam Gereja untuk mewartakan Injil (Goo, 2. Karena kaum muda lahir pada era kebangkitan teknologi dan modernisasi, maka generasi milenial terkena dampak digitalisasi, dimanjakan dengan gelombang teknologi informasi dan sistem informasi yang pesat, terkena dampak revolusi berita sehingga membuat generasi milenial memiliki keterlibatan yang intens pada, informasi melalui media sosial dan akses internet. Maka kaum muda cenderung mengikuti perkembangan zaman yang berubah ubah sehingga terbawa dalam arus kenikmatan (Tekwan & Firmanto, 2. Awam pertama-tama harus dipahami sebagai umat beriman, umat Allah lewat Pembaptisan menjadi anggota Tubuh Mistik Kristus, yakni Gereja. Sebagai anggota umat Allah, awam adalah anggota Gereja yang penuh. Awam bukanlah anggota Gereja yang subordinatif dari anggota Gereja atau umat Allah yang lainnya . lerus dan biawan/t. Meski secara fungsional, ia berbeda dari umat Allah yang termasuk dalam kelompok klerus dan biawan/ti, namun sederajat dalam martabat (Manca, 2. Peran Gereja dalam kehidupan masyarakat tidak dapat terelakkan karena menjadi suatu misi tersendiri bagi Gereja. Kehadiran Gereja di tengah masyarakat bukan sekedar pilihan manasuka . , melainkan cita-cita yang harus diperjuangkan. Perjuangan itu, merupakan bagian yang tak terpisahkan dari iman kepada Allah (Taroreh et al. , 2. Tim pastoral berposisi sebagai pemegang otoritas dalam melakukan terobosan yang diperlukan sesuai dengan Firman Tuhan. Gereja terlibat dan bergerak penuh dalam komunitas native digital dengan kualitas Firman Tuhan (Tetelepta et al. Lumen Gentium menegaskan inti panggilan Umat Allah menuju kesucian (Supriyadi. Dokumen Lumen Gentium ayat 39-42. Harus diakui bahwa melalui Seruan Apostolik Gaudete et Exultate ini. Paus Fransiskus tidak bermaksud untuk menguraikan "kekudusan" secara rinci dan ilmiah (GE . , melainkan lebih pada menggemakan kembali tentang panggilan kepada kekudusan, dengan mencoba mewujudkannya dalam konteks masa kini, dengan segala risiko, tantangan dan peluangnya (Supriyadi, 2. Selain itu, ada dokumen lain yang menyerukan tentang hal tersebut. Dokumen Gaudete et Exultate berisi tentang Panggilan Kesucian. Orang Kudus yang memberi semangat dan menemani perjalanan orang Kristen. Bab Dua membahas tentang Dua Musuh Halus Kesucian (Two Subtle Enemies of Holines. Bab ini menyinggung tentang Gnostisisme masa kini (Contemporary Gnosticis. dan Pelagianisme masa kini (Contemporary Pelagianis. Bab Tiga membahas tentang perlunya mencari dasardasar kekudusan yang sejati (Supriyadi 2. Dalam pengertian yang sama dengan Perjanjian Lama, demikian juga dalam Perjanjian Baru kata kudus dalam bahasa Yunani menggunakan kata "agios" . yang artinya memisahkan dan menjadikan milik Allah (Bhodo, 2. Dokumen Christus Vivit (Kristus Hidu. Seruan Apostolik Pasca sinode adalah sebuah dokumen Gereja yang membahas tentang seluruh orang muda Katolik dan umat Allah di dunia. Ditulis oleh Paus Fransiskus pada tahun 2019 (Susanto, 2. Dalam mempertahankan kekudusan dalam pikiran maupun dalam tindakan diperlukan iman dan doa. Sebab AuIman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah matiAy (Yak. Dalam Kitab Ibrani 11:1. Auiman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari sesuatu yang tidak kita lihat (Susanto, 2. Anak muda yang sering menggunakan media sosial, mengalami ketergantungan pada media sosial dan akan menimbulkan masalah dalam kehidupan sosialnya, seperti menghindari pertemuan-pertemuan langsung yang bertatap muka, menghindari untuk bekerja sama, takut kepada pertemuan yang bertatapan mata, dan lain-lain (Farrand & Jeremiah, 2. Pelayanan pastoral seperti ini begitu penting. Fungsi seorang gembala dalam menggembalakan domba-domba sangat dibutuhkan, seperti yang disampaikan oleh Aart van Beek bahwa fungsi dari penggembalaan, yaitu: . isalnya dalam konseling pra nika. , . mendamaikan/memperbaiki hubungan . isalnya konflik antar pribadi, masalah ima. , . menopang/menyokong . alam menolong mereka yang mengatasi krisis kehidupa. , . rang yang terluka, yang berduka hatiny. , dan . endorong ke arah pengembangan, pertumbuhan secara holisti. (Zebua, 2. Gereja perlu untuk mendampingi OMK agar tidak salah membuat keputusan. Penggunaan media sosial yang saat ini sulit untuk dipisahkan dari kehidupan orang muda maka perlu bimbingan agar tidak merusak identitas mereka (Goo, 2. Gereja berkewajiban mewariskan kekayaan iman dan nilai-nilai Kristiani yang dihidupi sampai sekarang ini kepada kaum muda. Generasi muda butuh dibimbing, didampingi, dan diberi pelimpahan tanggung jawab atau delegasi sebagai penerus tongkat estafet Gereja (Widiatna, 2. Sedangkan kaum muda yang disebut OMK atau Orang Muda Katolik adalah mereka yang menganut kepercayaan Katolik dan percaya kepada Yesus Kristus Putra Allah. Dimana di dalam hidup para OMK mengembangkan kemampuannya dengan bimbingan dan arahan dari para pembina, seperti katekis, ketua umat, daikon, suster (Jaya et al. , 2. Perkembangan internet dan teknologi di Indonesia sudah merupakan hal yang wajar. Masyarakat Indonesia dari segala kelompok dan golongan sudah mengenal istilah internet dan media sosial. Sebagian besar dari mereka juga memiliki akses yang mudah dalam menggunakan internet dan media sosial. Menurut Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kemkominf. , setidaknya ada 63 juta, di Indonesia sebagai pengguna internet aktif di tahun 2022 (Djamzuri & Mulyana, 2. Di zaman modern ini, berkembang pesat pengguna teknologi. Teknologi diawali dengan alat-alat sederhana yang dibuat oleh manusia pada zaman dahulu. Teknologi ini dibuat dengan tujuan untuk memudahkan manusia dalam bekerja. Dalam perkembangan teknologi setiap waktu manusia akan mengalami revolusi atau perubahan, produk teknologi yang dirasa canggih saat ini bisa jadi akan tertinggal dengan penemuan teknologi baru. Kemajuan teknologi pada zaman ini yang paling dirasakan adalah kemajuan teknologi informasi dan Munculnya media sosial yang canggih menjadi salah satu polemik besar bagi gaya hidup manusia pada zaman ini terkhusus kaum muda. Maka dalam tulisan ini penulis mencoba untuk melihat beberapa penelitian terdahulu mengenai pengaruh teknologi komunikasi. ISI DAN PEMBAHASAAN Keprihatinan Kaum Muda Katolik Di Paroki Santo Vinsensius A Paulo. Malang Media sosial yang memiliki banyak sekali manfaat untuk berkomunikasi, berpastoral, dan berkatekese. Namun media sosial juga memiliki dampak negatif bagi kaum muda katolik. Dampak yang dihasilkan dari media sosial juga dapat dirasakan secara langsung dalam pergaulan dan kehidupan spiritual mereka. Kaum muda katolik yang sudah terbiasa dengan adanya media sosial, secara tidak sadar telah masuk ke dalam pengaruh media sosial. Hal ini tampak dalam pergaulan mereka di gereja saat mengikuti kegiatan gereja dan antusiasme mereka dalam mengikuti kegiatan di paroki sangat kurang (Widiatna, 2. Kebanyakan dari orang muda menggunakan smartphone ketika sedang melakukan kegiatan di gereja. Memang penggunaan smartphone sudah bukan menjadi hal yang asing bagi kehidupan kaum muda, tetapi kebanyakan kaum muda masih belum dapat menggunakannya dengan bijak dan benar. Tidak bisa dipungkiri apabila orang muda berkumpul bersama komunikasi itu sulit terjadi karena sibuk dengan smartphone. Adanya smartphone ini orang muda mempunyai dampak positif dan negatif yang bisa merubah perkembangan hidupnya (Ayu & Email, 2. Internet dan media sosial juga menjadi sarana kaum muda untuk berkomunikasi, sehingga waktu untuk berselancar di dunia maya semakin bertambah (Nikodemus, 2. Pertambahan waktu berselancar di dunia maya ini tentu mengurangi waktu produktif orang muda, bahkan mengurangi waktu mereka untuk berelasi dengan Tuhan. Sebagai kaum muda Katolik, relasi dengan Kristus tentu sangat penting karena Kristus adalah pusat kehidupan orang Katolik. Identitas ini hendaknya perlu dipertahankan agar mereka memiliki ciri khas yang berbeda dengan kaum muda lainnya. Tidak hanya itu, panggilan menuju kekudusan juga hendaknya ditanamkan dalam kaum muda sejak dini, sehingga mereka dapat terhindar dari berbagai godaan tidak sehat yang yang muncul dalam internet dan media sosial. Permasalahan Kaum Muda Di Paroki Santo Vincentius A Paulo. Malang Kaum muda di Paroki Santo Vincentius a Paulo. Malang termasuk kaum muda yang hidup dalam pengaruh perkembangan teknologi. Mereka dapat menggunakan teknologi dan media sosial dalam kehidupan sehari-hari. Kaum muda di paroki Santo a Paulo. Malang juga menggunakan teknologi dalam peribadatan di gereja. Beberapa dari mereka juga melibatkan diri dalam kepengurusan Komisi Sosial (Komso. Paroki Santo Vincentius. Dalam kegiatan yang diadakan oleh komsos paroki, mereka sudah terbiasa mengoperasikan berbagai peralatan untuk mendukung berjalannya perayaan ekaristi dan kegiatan secara online. Mereka juga terlibat dalam mengoperasikan akun YouTube paroki dan berbagai platform media sosial milik Beberapa kelompok kaum muda juga memiliki akun media sosial sebagai bentuk promosi dan ajakan kepada para kaum muda lainnya untuk ikut dalam kegiatan kelompokkelompok gereja. Perkembangan teknologi tentu membawa dampak positif bagi kehidupan kaum muda di Paroki Santo Vincentius a Paulo. Malang. Akan tetapi dalam penggunaan media sosial pribadi, terkadang para kaum muda paroki Santo Vincentius a Paulo belum dapat menggunakan teknologi secara bijak. Kebanyakan dari mereka menggunakan smartphone melebihi waktu yang seharusnya. Kegiatan di gereja membuat orang muda memperdalam kehidupan spiritualitas rohaninya. Mereka juga rentan terhadap berbagai konten di media sosial yang dangkal dan tidak senonoh. Perilaku ini menjadi salah satu permasalahan yang dihadapi kaum muda di Paroki Santo Vincentius a Paulo. Malang. Perilaku ini tentu belum dapat menggambarkan kehidupan kaum muda paroki dalam mencapai kekudusan. RUMUSAN PERTANYAAN Berapa rentang usia anda? Berapa lama anda mengakses internet dan media sosial dalam sehari? Menurut anda apa pengaruh internet dan media sosial untuk kehidupan anda? Dalam kehidupan saya, internet membawa dampak positif dan juga dampak negatif. Dampak positifnya saya, bisa mengakses berbagai informasi dengan cepat, bisa berkomunikasi jarak jauh, dan sebagainya. Dampak negatif dari internet bagi saya adalah kecanduan main game dan nonton Tiktok. Internet juga menjadi hiburan saat suntuk, sebagai media mencari ide-ide baru, sebuah kebutuhan utama dalam dunia pembelajaran. Internet sangat berpengaruh, karena zaman semakin maju, jadi saya bisa mengetahui perkembangan zaman dari internet, dari berita positif dan negatifnya. Mendapatkan informasi dari segala kalangan di dalam medsos, dan berkomunikasi dengan teman-teman dimanapun berada. Internet memudahkan saya berkomunikasi dan mencari serta menyebarkan informasi secara cepat. Perkembangan internet sangat berpengaruh, terhadap pola pikir dan kehidupan. Tanpa adanya internet saya tidak bisa tinggal diam, di zaman yang serba modern. Selain media komunikasi hiburan internet juga sangat membantu saya dalam bekerja. Pengaruh internet untuk kehidupan sangat besar apalagi di zaman sekarang serba online. Jadi sekarang kebanyakan tugas dan pekerjaan menggunakan internet untuk mengakses informasi dan mempercepat pekerjaan. Apakah internet dan media sosial membantu anda dalam pertumbuhan iman Katolik? Bila iya, bagaimana media sosial membantu anda dalam pertumbuhan iman Katolik? Beberapa konten dari media sosial seperti aplikasi TikTok yang saya temukan, ada unsur tentang Agama Katolik. Orang Katolik menggunakan aplikasi TikTok sebagai sarana untuk membahas informasi tentang Agama Katolik yang sebelumnya tidak saya ketahui. Di dalam media sosial, saya dipermudah untuk mendapatkan atau mencari tentang ajaran Katolik. Saya bisa mengakses aplikasi e-katolik yang sudah ada. Lewat e-katolik saya bisa membaca Alkitab dimanapun dan kapanpun, dapat mengikuti renungan setiap pagi. Aplikasi instagram juga membantu saya untuk menumbuhkan iman Katolik saya dan saya bisa sharing dengan temanteman omk lainnya, serta berdoa bersama lewat medsos. Konten media sosial yang bertema ajaran Katolik selalu mengingatkan saya untuk mengenal ayat Kitab Suci dan peringatan hari Raya dan orang Kudus. Saya juga sering membaca berbagai ayat Alkitab di berbagai sosial media dan menyentuh perasaan saya. Saya sering mendengarkan serta mendapatkan pelajaran yang baru baik dari romo, biarawan/i dan juga kaum awam. Saya dapat dipermudah juga mencari toko-toko penjualan keperluan rohani. Banyak hal yang bisa saya ketahui dari medsos tentang ajaran Katolik yang tidak saya ketahui. Mendengarkan Injil melalui video dan audio, serta mempelajari kekatolikan yang belum sempat saya ketahui secara langsung. Menyediakan fasilitas untuk mengakses informasi tentang iman katolik. Adanya media sosial menjadi wahana yang tepat dan efektif bagi orang Katolik untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaannya kepada Tuhan. Melalui sosial media saya juga terbantu untuk melihat informasi tentang gereja dan jadwal misa Gereja. Bila tidak, mengapa media sosial tidak membantu anda dalam pertumbuhan iman Katolik? Adanya media sosial saya sering menghabiskan waktu saya untuk bermain game, sehingga waktu yang seharusnya untuk berdoa saya gunakan untuk bermain game. Waktu terus berjalan, karena terlalu sibuk menggunakan gadget sehingga saya lupa dengan waktu yang sudah ada. Sehingga akibat dari media sosial saya sering terlambat mengikuti misa dan bahkan saya jarang berdoa pribadi. Sebagai kaum muda, berapa kali anda melihat atau mengakses konten rohani di media sosial seperti Tik Tok. Instagram, dsb dalam sehari? Menurut anda, apakah konten-konten rohani diminati para kaum muda? Mengapa Pertama, karena konten rohani mengajari saya tentang toleransi, kedua memperkenalkan Agama Katolik kepada dunia khususnya kaum muda, ketiga konten Agama Katolik sering kali disajikan dalam humor yang cukup menggelitik sehingga membuat saya terpengaruh. Konten rohani sangat diminati, karena konten-konten rohani sekarang sudah dalam bentuk variasi sehingga menarik anak muda untuk menonton. Konten-konten rohani sangat menarik, karena cara penyampaiannya berbeda dengan homili ketika misa dan lebih sesuai dengan minat kaum muda yang menonton. Menurut saya, iyaa apalagi jika dikemas dalam bentuk anak muda banget. Kenapa? Karena saya yakin anak muda sangat ingin mengetahui tentang imannya sendiri, dan juga kadang saya mendapatkan pelajaran baru dari platform yang saya tonton. Konten-konten tentang iman Katolik harus dilakukan, karena anak muda zaman sekarang memilih sesuatu yang serba instan dalam mengakses pengetahuan. Dengan menggunakan media sosial, yang sangat digemari kaum muda konten-konten ini juga akan menjadi wadah anak muda zaman modern. Karena banyak sekali dari kaum mudah yang masih banyak belum benar-benar tau tentang iman Katolik. Maka dari itu, konten-konten yang dibuat oleh pengajar iman (Romo atau Pasto. menjadi pemantik iman orang muda yang suka mengakses medsos. Apakah anda pernah merasa terganggu bila ada orang yang menggunakan internet dan media sosial di dalam gereja atau dalam kegiatan menggereja? Mengapa? Iya, internet sangat mengganggu kegiatan saya dalam menggereja karena seharusnya pertemuan tatap muka dimanfaatkan sebaik mungkin untuk meningkatkan keakraban namun menjadi menatap layar HP. Sangat mengganggu, alasan saya karena waktu hanya satu jam atau dua jam untuk bertemu dengan Tuhan, namun tidak dilakukan dengan baik. Pertemuan di gereja setidaknya di pergunakan dengan bijak dan benar, namun ada orang-orang tertentu menggunakan medsos di dalam gereja sehingga mengganggu saya untuk mengikuti misa. Apakah paroki juga menggunakan media sosial untuk kegiatan menggereja? Apa saja kegiatan tersebut? Sejauh yang saya tahu, bahwa gereja mengadakan misa live streaming, kemudian postingan-postingan mengenai kegiatan yang diselenggarakan gereja dan di share melalui media sosial seperti Instagram atau bahkan lewat WhatsApp grup. Paroki juga mengadakan pertemuan-pertemuan biasanya mereka memberi tontonan di media sosial mengenai pendalaman iman sebelum acara dimulai biar tidak membosankan. Paroki mengadakan katekese kepada kaum muda Katolik melalui media sosial. Media sosial digunakan untuk misa online yang disiarkan langsungkan di YouTube. Media sosial lebih mempermudah gereja dalam menjangkau umat yang ingin mengikuti misa online saat terkena wabah Covid-19. Apakah romo paroki, atau anggota paroki lainnya pernah memberi seminar atau pengarahan cara menggunakan internet dan media sosial bagi kaum muda? Apakah kegiatan menggereja juga perlu menggunakan sarana internet dan media sosial? Jelaskan pendapatmu! Sangat perlu, apabila kegiatan menggereja khususnya bagi kaum muda tidak dilengkapi dengan sarana internet pasti akan dianggap membosankan. Perlu, karena di zaman sekarang internet atau media sosial sangat membantu dalam berkomunikasi. Sarana internet juga memberikan informasi kepada umat Katolik tentang kegiatan rohani di gereja dan meningkatkan iman katolik umat paroki. Menurut pendapat saya penggunaan media sosial sangat diperlukan, bukan hanya untuk mengikuti era modern saja, namun sangat membantu untuk memberikan informasi secara instan tanpa menunggu lama sehingga informasi sangat mudah dah cepat tersampaikan. Sangat perlu, dikarenakan medsos sekarang hampir semua orang menggunakan internet, untuk berbabgi informasi dan menambah pengetahuannya tanpa harus menunggu lama. Sangat perlu, karena dari media sosial dapat mengakses berbagai sumber-sumber yang dapat membantu kaum muda untuk kelancaran dalam kegiatan menggereja yang dilakukan. Apa yang bisa anda lakukan untuk hidup secara lebih kudus di zaman internet dan media sosial? Di zaman internet kaum muda bisa menyebarkan ajaran Kristus melalui media sosial dan bisa berbagi konten rohani lewat media sosial yang dibuat. Adanya media sosial saya bisa novena Santa perawan Maria. Rosario, dan doa malam bersama teman-teman saya. Saya berusaha menggunakan internet dengan baik dan benar agar apa yang saya lakukan menjadi sarana untuk memuji Tuhan. Menjaga sikap dan menjaga diri agar tidak menjadikan sosial media dan internet sebagai media untuk menyalurkan kebencian atau sikap buruk terhadap orang lain, namun saya berusaha menjadikan sosial media untuk menyebarkan cinta kasih. Mendengarkan sabda sabda Tuhan dan tetap menguatkan hati agar tidak terpengaruh hal-hal buruk dan selalu mendoakan sesama. Berikan saranmu bagi kaum muda Katolik di tengah perkembangan internet dan media sosial! Saran saya agar kaum muda Katolik lebih memanfaatkan media sosial untuk menonton atau mengakses ajaran Katolik yang berhubungan dengan pedalaman iman dan rohani. Agar kaum muda bisa memilah dan mengakses, mana konten yang baik dan konten yang menumbuhkan iman katolik kaum muda. Gunakanlah sosial media secukupnya karena hidupmu itu yang ada di hadapanmu, bukan di layar ponselmu yang menjadi hidup utama dan gunakan sosial media dengan bijak. Sebagai kaum muda Katolik seharusnya bisa menggunakan media sosial untuk pelajaran iman Katolik. Sebagai kaum Katolik sebaiknya menata waktu dan porsi kapan harus mengakses internet dan media sosial dan memanfaatkan media sosial untuk keimanan demi menumbuhkan jiwa yang kudus. Perlunya ada refleksi serta pendalaman iman dan katekese tentang penggunaan medsos. Supaya sedikit demi sedikit orang muda akan memahami walaupun tidak semuanya, namun dengan saran yang saya sampaikan bisa membantu orang muda. Pada zamannya teknologi semakin canggih dan berkembang pesat, maka semakin banyak tantangan yang datang. Saran saya gunakan internet sebaik mungkin dan gunakan internet untuk menunjang belajar dan informasi serta aktif juga dalam kegiatan pengembangan iman Katolik baik secara online maupun offline. Pergunakan sosial media dengan baik, dengan melakukan berbagai hal yang dapat memberikan manfaat seperti konten rohani yang dapat mengembangkan pertumbuhan iman di dalam diri dan sesama. TEMUAN PENELITIAN Kekudusan Kaum Muda Katolik Permasalahan tentang kekudusan dari seseorang memang sering menjadi pertanyaan yang diajukan oleh orang beriman. Orang beriman berusaha untuk mencapai kekudusan dengan berbagai cara yang mereka anggap berguna untuk mendekatkan diri, mereka kepada Tuhan. Cara-cara tersebut terkadang dapat membawa mereka kepada rasa damai dan tenang, sembari membayangkan Tuhan sendiri yang menyentuh mereka. Pengalaman tersebut ternyata tidak hanya dirasakan oleh orang yang sudah dewasa atau lansia, namun juga dirasakan oleh orangorang muda yang mulai mencari kedamaian dan ketenangan. Proses pencarian kedamaian dan ketenangan ini merupakan langkah awal yang baik untuk mencapai kekudusan orang beriman dan orang yang mau menyesali dosanya. Kekudusan tersebut hendaknya juga menjadi motivasi setiap orang beriman untuk merubah hidupnya agar lebih baik. Gereja Katolik memiliki ajaran yang indah mengenai kekudusan orang beriman. Setiap orang memiliki panggilan untuk mencapai kekudusan. Pernyataan tersebut muncul dalam ajaran Konsili Vatikan II yang menjadi ajakan bagi setiap orang beriman untuk mencapai kekudusan dalam kesempurnaan kasih (LG, . Panggilan ini bukan semata-mata karena manusia bisa mencapai kekudusan dengan perjuangannya sendiri, melainkan manusia diajak untuk menghidupi kekudusan karena Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada manusia sehingga ia dapat mencapai kekudusan. Kekudusan itu sendiri juga dapat dicapai oleh orang beriman yang tidak dikhususkan hidupnya untuk mengikuti Tuhan seperti para biarawan dan Karena panggilan orang beriman adalah hidup dalam kekudusan. Paus Fransiskus juga mengeluarkan Seruan Apostolik Gaudete et Exultate pada tahun 2018 silam. Dalam seruan tersebut. Paus Fransiskus tidak bermaksud untuk menguraikan "kekudusan" secara rinci dan Ia mengungkapkan bahwa kekudusan dapat dicapai dalam dunia dewasa ini. Kekudusan tersebut memiliki berbagai persoalan di dunia dewasa ini, sehingga gambaran tentang kekudusan menjadi tantangan tersendiri. Persoalan tersebut disebabkan oleh adanya perubahan zaman yang semakin maju dan berkembang (GE, . Kaum muda juga dipanggil ke dalam kekudusan dengan situasi zaman yang berubah ini. Panggilan tersebut dibentuk dalam situasi kaum muda beriman yang hidup dalam zaman modern. Kekudusan kaum muda tersebut hadir secara konkret dalam situasi yang, secara nyata dialami oleh kaum muda. Ada dokumen lain yang menyerukan tentang situasi yang harus dialami oleh kaum muda di dalam Dokumen Gaudete et Exultate. Dokumen Gaudete et Exultate berisi tentang Panggilan Kesucian. Orang Kudus yang memberi semangat dan menemani perjalanan orang Kristen. Bab Dua membahas tentang Dua Musuh Halus Kesucian (Two Subtle Enemies of Holines. Hal ini dialami oleh kaum muda katolik dalam kehidupan mereka karena mereka hidup dalam dua situasi dunia yang membangun kekudusan dan meruntuhkan kekudusan. Maka dari itu, kekudusan kaum muda adalah upaya kaum muda untuk mencapai kehidupan yang sesuai dengan kehidupan orang yang beriman kepada Kristus. Jati Diri Orang Muda Katolik OMK (Orang Muda Katoli. merupakan sebuah wadah yang dapat menghimpun para pemuda Katolik untuk terus melayani Tuhan dan sesama, sebagai sebuah komunitas keagamaan (Jaya et al. , 2. Pelayanan itu diwujudkan lewat berbagai program sosial dan keagamaan yang diadakan. Secara struktural. Orang Muda Katolik berada di bawah naungan Komisi Kepemudaan. Itu adalah perangkat Gereja yang ditugaskan secara khusus untuk memberikan pembinaan dan pendampingan secara penuh kepada kaum muda. Menurut Komisi Kepemudaan KWI, anggota Orang Muda Katolik adalah pemuda Katolik yang tinggal di daerah tertentu dengan rentang usia 13 sampai 35 tahun dan telah dibaptis. Rentang usia tersebut dikelompokkan menjadi usia remaja . -15 tahu. , usia taruna . -19 tahu. , usia madya . -24 tahu. , dan usia karya . -25 tahu. Orang Muda Katolik juga bisa dijumpai di lingkungan kampus, di kalangan mahasiswa, komunitas ini lebih dikenal dengan nama Keluarga Mahasiswa Katolik (KMK). Untuk memperkuat kerohanian. KMK biasanya mengadakan berbagai kegiatan seperti retret dan doa bersama. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, tujuan utama Orang Muda katolik adalah melayani Tuhan dan sesama umat yang ada disekitar mereka. Orang Muda Katolik adalah pelaku utama dari berbagai aktivitas gereja yang membawa dampak positif bagi para umat. Melalui komunitas OMK, umat muda dapat mengisi waktu luangnya dengan berbagai hal positif, misalnya menjaga kerukunan antar sesama anggota, membentuk berbagai pengalaman iman melalui program sosial dan keagamaan, dan sebagainya. Bukan hanya itu Dengan mengangkat tema sosial-keagamaan, program-program komunitas OMK juga turut menanamkan nilai-nilai Gereja. Nilai-nilai hidup mengajarkan anggota OMK untuk bisa terus berkembang, mengasihi diri sendiri dan orang lain (Priyani, 2. Dengan demikian Orang Muda Katolik (OMK) tidak hanya hadir dalam kehidupan umat, tetapi juga dipercaya untuk melibatkan diri dalam kegiatan Gereja. Mereka hidup dalam persekutuan iman yang utuh dan berperan penting dalam membangun Gereja. Gereja Menempatkan Kaum muda Katolik tidak sebatas kelompok kategorial dan teritorial yang sudah ada, tetapi menjangkau semua orang muda dengan berbagai latar Mereka adalah sebuah komunitas yang memiliki banyak keunggulan. Mereka memiliki banyak potensi dan kemampuan, energik, punya mimpi dan cita-cita masa depan, punya pengetahuan yang memadai (Perkawinan et al. , 1. Mencermati hal ini, kaum muda Katolik hendaknya diberi kemungkinan, kepercayaan dan tanggung jawab sebagai subjek dan pelaku dalam proses dan dinamika tugas perutusan Gereja, yaitu mewartakan Injil Kerajaan Allah. Karena orang muda inilah yang menjadi jantung dan harapan gereja masa depan. Berdasarkan Injil Mat 28:19-20, kaum muda Katolik dipanggil untuk menjadi pewarta Injil Kerajaan Allah. Mereka dipanggil untuk memberi kesaksian serta mewartakan Kabar Gembira kepada semua orang. Panggilan ini jelas bukan merupakan tanggung jawab yang ringan, melainkan tanggung jawab yang sangat berat. Karena orang muda diajak menjadi garam dan terang dunia untuk semua orang. Di satu sisi, secara hakiki tugas mewartakan Kerajaan Allah sendiri sudah merupakan tugas yang besar dan luhur, dan di sisi lain tidak sedikit kaum muda Katolik yang masih rentan dalam mempertanggungjawabkan imannya. Gereja, berdasarkan perutusan Yesus Kristus (Mat 28:19-. , mengajak kaum muda Katolik untuk menerima panggilan misi, hidup sebagai saksi Kristus yang bangkit. Kaum muda Katolik diajak untuk menjadi misionaris bagi setiap orang yang membutuhkan kasih Tuhan (Zebua. Pengaruh Internet Terhadap Orang Muda Katolik Media sosial sebagai sarana pewartaan Injil di era digital tentu saja internet menjadi hal yang baik dalam Gereja Katolik. Hal ini berarti Gereja mengikuti perkembangan zaman untuk mewartakan Sabda Allah di tengah dunia yang semakin modern. Namun yang menjadi permasalahannya adalah apakah sudah optimal internet digunakan sebagai sarana pewartaan di era digital oleh orang muda Katolik. Kalangan orang muda adalah kelompok yang paling banyak menggunakan media sosial, maka sudah tanggung jawab orang muda untuk mewartakan iman. Orang muda Katolik sekarang merupakan generasi informasi dan komunikasi sebagai jantung kehidupannya. Sekarang ini orang muda Katolik menghadapi sebuah persoalan yang cukup serius. Pengaruh internet terhadap orang muda Katolik membuat kualitas hidup yang menurun, terjadi individu-individu modern dan tata hidup anak muda sudah diatur oleh Disisi lain teknologi membantu orang muda Katolik untuk menjalin persahabatan yang luas dan bisa berkomunikasi secara cepat. (Puji Hartanti, 2. Orang Muda Katolik menginginkan otonomi dalam merencanakan masa depannya, menciptakan gaya hidupnya dan membuat keputusan-keputusan hidupnya dan menentukan dengan siapa mereka membangun ikatan sosial. Pengaruh dari internet tidak hanya pada sektor bermedia sosial tapi pada gaya hidup yang melampaui. Perubahan globalisasi yang mendorong orang muda Katolik untuk berubah di semua aspek kehidupan manusia modern sekarang ini. Media internet menciptakan resosialisasi terhadap orang muda Katolik yang benar-benar menggunakan internet. Dampak seperti ini kurang disadari oleh orang muda Katolik dan menganggapnya biasa-biasa saja. Namun jika ini dilakukan terus menerus akan merusak nilai hidup dan moral orang muda Katolik dan berdampak pada Gereja. Dimana orang muda Katolik tidak mempunyai kesadaran terhadap situasi perkembangan Gereja. Pengaruh ini bisa diatasi apabila orang muda Katolik menyadari keberadaannya sebagai citra Allah. Maka Gereja berusaha memberikan pemahaman iman terhadap orang muda agar apa yang mereka lakukan sungguh mengarah pada kebenaran iman. Fondasi pengetahuan orang muda Katolik harus ditanamkan secara benar kepada generasi muda, agar orang muda dapat menerima kebenaran itu dalam dirinya. Generasi muda membutuhkan kebenaran yang final bukan membangun opini baru dalam dunia digital. Media bagi Gereja bukan sekadar alat, melainkan proses terlibat dalam sejarah keselamatan (Goo. Hal ini menjadi sarana keterlibatan iman orang muda dalam AumenangkapAy kehadiran Allah di dalam seluruh hidupnya dari masa ke masa. Di zaman sekarang telah tersedia berbagai media dalam mengakses informasi. Tugas kita adalah menggunakan media tersebut secara benar dan konsisten untuk karya pewartaan bagi Kerajaan Allah, dimana damai dan sukacita, kegembiraan dan harapan dunia adalah damai dan suka cita para murid Kristus (Maria Pulo Muda, 2. KESIMPULAN Bagaimana dampak media sosial terhadap cara kaum muda dalam mencapai Dari hasil penelitian kaum muda Paroki Santo Vincentius a Paulo. Malang mengalami kegoncangan semenjak internet berkembang, namun internet ini juga dijadikan sebagai sarana untuk mencapai kekudusan. Dampak yang dialami cukup besar dan bahkan membuat anak muda candu. Namun dampak itu bisa terjadi karena, kurang pendampingan orang tua terhadap pertumbuhan iman anak-anaknya. Dapat ditegaskan bahwa media sosial sebagai sarana orang muda untuk mencapai kekudusan. Hal ini bisa terjadi karena orang muda dipermudah oleh internet dan bisa berdamai dengan perkembangan zaman yang serba modern. Apakah kekudusan bisa dicapai di zaman yang sudah akrab dengan media sosial ini. Kekudusan bisa dicapai karena kekudusan ini menyangkut keintiman dan relasi manusia dengan Tuhan. Media sosial bukan tantangan namun sarana untuk mencapai kekudusan. Hal ini bisa terjadi karena orang muda menggunakan internet sebagai wadah untuk mencari informasi tentang keagamaan. Zaman yang berubah tidak menjadi masalah karena iman yang sesungguhnya adalah relasi personal dengan Tuhan. Dapat ditegaskan yang berubah adalah cara orang muda untuk mengekspresikan imannya kepada Tuhan. Namun kekudusan tetap dicapai di zaman yang serba modern ini. Bagaimana cara kaum muda mencapai kekudusan dengan sarana media sosial. Orang muda dapat mencapai kekudusan lewat media sosial, dengan cara menonton konten yang bernuansa agama Katolik. Media sosial sebagai sarana komunikasi dan informasi yang cepat untuk menyebarkan ajaran Yesus dan jadwal Ekaristi Kudus. Media sosial menjadi alat orang muda untuk menyebarkan ajaran iman lewat konten Whatsapp. Instagram. Twitter. Line. Telegram Tiktok dan Youtube. Lewat sarana inilah kaum muda mampu mencapai kekudusan, karena aplikasi yang ada dijadikan sarana untuk menyebarkan cinta kasih dan ajaran Yesus DAFTAR PUSTAKA