BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal Volume 4 Nomor 1. January 2025 E-ISSN: 2807-7857. P-ISSN: 2807-9078 Meningkatkan Kemandirian dan Antusiasme Belajar Anak Usia Dini melalui Kegiatan Kolase di PAUD Wafa Humaira Alya Faizah1. Fatimatunnusyaibah2. Rida Jelita Pratama3 Tanaya Putri Anggraini4*. Sri Artati5. Sri Novia Ramadhani6. Siti Zhubaidah7. Wildan Saugi8 1,2,3,4,5,8 Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda, 6,7 PAUD Wafa Humaira Samarinda Received: December 8th, 2024. Revised: December 19th, 2024. Accepted: January 10th, 2025. Published: January 15th, 2025 Abstrak Penelitian ini dilatar belakangi oleh rendahnya kemandirian anak di PAUD Wafa Humaira, yang hanya 5 dari 13 siswa yang menunjukkan kemampuan mandiri. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemandirian dan antusiasme belajar anak usia dini melalui kegiatan kolase. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk menyelidiki dan membuktikan bahwa aktivitas seni kolase dapat meningkatkan kemandirian dan antusiasme belajar pada anak usia dini di PAUD Wafa Humaira Samarinda. Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas (PTK) dengan dua siklus. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan kolase efektif dalam meningkatkan kemandirian dan antusiasme belajar anak usia dini. Terjadi peningkatan yang signifikan pada siklus kedua, yang mengindikasikan bahwa anak dapat mengembangkan kemandirian melalui tugas-tugas yang dirancang secara bertahap. Dapat disimpulkan bahwa aktivitas seni kolase dapat meningkatkan kemandirian dan antusiasme belajar pada anak usia dini di PAUD Wafa Humaira Samarinda. Melalui kegiatan kolase, anak-anak dapat mengembangkan kemampuan kognitif, sosialemosional, dan motorik, serta terlibat dalam pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna. Kata kunci: Kolase. Kemandirian. Antusiasme Belajar. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Abstract This study is motivated by the low independence of children at PAUD Wafa Humaira, where only 5 out of 13 students show independent abilities. This study aims to improve children's independence and enthusiasm for learning through collage activities. The main objective of this study was to investigate and prove that collage art activities can increase independence and enthusiasm for learning in early childhood at PAUD Wafa Humaira Samarinda. This study used a classroom action research (PTK) method with two cycles. Data were collected through observation, interviews, and documentation. The results showed that collage activities are effective in increasing the independence and enthusiasm of learning in early childhood. There was a significant increase in the second cycle, which indicates that children can develop independence through gradually designed tasks. It can be concluded that collage art activities can increase independence and enthusiasm for learning in early childhood at PAUD Wafa Humaira Samarinda. Through collage activities, children can develop cognitive, social-emotional, and motor skills, and engage in fun and meaningful learning. Keywords: Collage. Independence. Enthusiasm for Learning. Classroom Action Research (CAR) Copyright . 2025 Alya Faizah. Fatimatunnusyaibah. Rida Jelita Pratama. Tanaya Putri Anggraini. Sri Artati. Sri Novia Ramadhani. Siti Zhubaidah. Wildan Saugi * Correspondence Address: Email Address: berleyy5@gmail. BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal. Volume 4 Nomor 1. January 2025 Alya Faizah. Fatimatunnusyaibah. Rida Jelita Pratama. Tanaya Putri Anggraini. Sri Artati. Sri Novia Ramadhani. Siti Zhubaidah, & Wildan Saugi Pendahuluan (Simatupang et al. , 2. Orang tua, kita semua berharap yang terbaik untuk anakanak kita. Kita ingin mereka berkembang menjadi individu yang memiliki akhlak yang berbudi pekerti luhur, dan memiliki moral yang kuat. Pendidikan memegang peranan penting dalam membentuk karakter anak, yang merupakan cerminan dari gaya, sifat, dan ciri khas mereka. Karakter terbentuk melalui pengaruh dan pengalaman yang mereka alami di lingkungan sekitar. Menurutnya (Oktarina et al. , 2. kolase adalah seni menggabungkan berbagai bahan, seperti kertas dan kain, untuk menciptakan gambar atau pola yang menarik. Bahan-bahan ini ditempelkan pada latar belakang menggunakan lem. Nicholson mendefinisikan kolase sebagai gambar yang dibuat dengan potongan-potongan kertas atau bahan lain yang ditempelkan. Di PAUD Wafa Humaira, terdapat permasalahan dalam pembelajaran terkait kemandirian anak. Dari 13 siswa, hanya 5 siswa yang menunjukkan kemampuan mandiri. Sisanya masih memerlukan bantuan dalam berbagai aktivitas seperti makan, berpakaian, dan merapikan mainan. Hal ini mengindikasikan bahwa kemandirian anak menjadi isu yang perlu diperhatikan di PAUD Wafa Humaira. Kemandirian anak di PAUD Wafa Humaira menjadi masalah penting karena memiliki dampak signifikan terhadap perkembangan anak di masa depan. Masalah kemandirian anak di PAUD Wafa Humaira perlu diteliti karena dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang faktor-faktor yang Melalui penelitian, dapat diidentifikasi penyebab rendahnya kemandirian anak, seperti kurangnya stimulasi, kurangnya dukungan orang tua, atau kurangnya metode pembelajaran yang efektif. Temuan dari penelitian ini dapat menjadi landasan untuk mengembangkan program intervensi yang tepat guna meningkatkan kemandirian anak di PAUD Wafa Humaira. Sebelumnya, terdapat penelitian yang telah melakukan tentang kemandirian anak, penelitian umumnya terbagi menjadi lima kategori yang dapat diketahui. Kategori pertama adalah penelitian yang meneliti kemandirian dalam aktivitas sehari-hari (Zahroh & Suyadi, 2. AyMembangun Kemandirian Anak Usia 2-4 Tahun Melalui Toilet Training (Studi kasus di KB Griya Nanda YogyakartaAy. Menunjukkan bahwa program toilet training yang diterapkan berhasil meningkatkan kemandirian anak usia 2-4 tahun. Metode yang digunakan, seperti pembiasaan dan modeling, terbukti efektif dalam membantu anak untuk belajar mandiri. Hasilnya, 90% anak didik di Griya Nanda telah berhasil menyelesaikan toilet training dengan baik. Hal ini menunjukkan bahwa anak-anak dapat belajar mandiri melalui observasi dan peniruan, yang merupakan cara belajar alami mereka pada usia dini. Oleh karena itu, program toilet training tidak hanya mengajarkan kebiasaan menggunakan toilet, tetapi juga memiliki peran krusial dalam mengembangkan kemandirian anak secara Kedua (Silitonga et al. , 2. AyMeningkatkan Kemandirian Anak Usia 3-4 Tahun Melalui Metode PembiasaanAy Menunjukkan bahwa metode pembiasaan efektif dalam memperkuat kemandirian anak berusia 3-4 tahun. Sebelum penerapan metode ini, anakanak menunjukkan beberapa perilaku yang menunjukkan kurangnya kemandirian, seperti kesulitan melepaskan sepatu dan menaruhnya di rak, membuang sampah sembarangan, dan kesulitan merapikan mainan sendiri. Setelah menerapkan secara konsisten, terjadi peningkatan signifikan dalam kemandirian anak. Anak-anak mampu melepaskan sepatu dan menaruhnya di rak dengan rapi, membuang sampah pada tempatnya, dan merapikan mainan mereka sendiri tanpa bantuan orang tua. Hasil ini menunjukkan bahwa dengan pembiasaan yang konsisten dan dukungan dari pendidik serta orang tua, anak-anak dapat BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal. Volume 4 Nomor 1. January Meningkatkan Kemandirian dan Antusiasme Belajar Anak Usia Dini melalui Kegiatan Kolase di PAUD Wafa Humaira belajar melaksanakan aktivitas harian secara mandiri. Oleh karena itu, metode pembiasaan terbukti efektif dalam memperkuat kemandirian anak usia dini. Ketiga kemandirian dalam proses pembelajaran (Rohmah & Aprianti, 2. AyMeningkatkan Kemandirian Anak Usia Dini Melalui Metode Pembelajaran MontessoriAy Bahwa metode Montessori secara signifikan meningkatkan kemandirian anak. Sebelum penerapan metode ini, skor rata-rata kemandirian anak adalah 52,13. Setelah penerapan metode Montessori, skor rata-rata meningkat menjadi 94,4, dengan peningkatan sebesar 42,27. Keempat, kemandirian sosial dan emosional (Priyanti, 2. AyUpaya Meningkatkan Kemandirian Anak Melalui Metode Bermain Peran pada Kelompok B di TK Khulafaur RasyidinAy Peningkatan signifikan dalam kemandirian anak dari siklus I ke siklus II. Pada siklus I, anak-anak menunjukkan peningkatan dalam berbagai aspek kemandirian, seperti keberanian, kepercayaan diri, rasa tanggung jawab, kemampuan bekerja sendiri, penguasaan keterampilan, dan pengendalian emosi. Tingkat pencapaian kemandirian anak secara keseluruhan pada siklus I adalah 62,64%. Pada siklus II, terjadi peningkatan yang lebih signifikan dalam semua aspek kemandirian. Anak-anak menunjukkan peningkatan dalam keberanian, kepercayaan diri, rasa tanggung jawab, kemampuan bekerja sendiri, penguasaan keterampilan, dan pengendalian emosi. Tingkat pencapaian kemandirian anak secara keseluruhan pada siklus II adalah 78,66%. Kelima kemandirian pendekatan (Anista et al. , 2. AyPenerapan Token Ekonomi untuk Meningkatkan Kemandirian Anak Usia 5-6 Tahun di Lembag PAUDAy Didapatkan data bahwa penerapan token ekonomi efektif dalam meningkatkan kemandirian anak usia 5-6 tahun di Taman Kanak-kanak di Kecamatan Kwadungan. Kelompok eksperimen yang diberikan perlakuan token ekonomi menunjukkan peningkatan kemandirian yang lebih signifikan, dengan skor kemandirian tertinggi 31 dan terendah 12, rata-rata 22,73, median 22,5, dan modus 16. Hal ini berbeda dengan kelompok kontrol yang tidak diberikan perlakuan token ekonomi, dimana skor kemandirian tertinggi 31 dan terendah 11, rata-rata 21,6, median 20,5, dan modus 16. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini membuktikan bahwa penerapan token ekonomi dapat meningkatkan kemandirian anak usia dini secara Namun belum ada yang secara khusus meneliti tentang kemandirian anak melalui seni kolase, ini merupakan hal baru dalam memperbaharui penelitian tentang kemandirian anak. Menurut peneliti meningkatkan kemandirian anak melalui metode kolase dapat membantu mereka belajar berpikir kreatif, mandiri dalam memilih bahan, dan menyelesaikan tugas hingga akhir, kolase mendorong anak untuk bereksplorasi dengan berbagai bahan dan warna, sehingga memicu imajinasi dan kreativitas mereka. Seperti memotong, menempel, dan menyusun bahan-bahan kolase membantu anak mengembangkan koordinasi tanganmata dan keterampilan motorik halus, proses pembuatan kolase membutuhkan fokus dan konsentrasi untuk menyelesaikan tugas hingga akhir jadi ketika anak berhasil membuat kolase, mereka akan merasa bangga dan percaya diri dengan kemampuan mereka. Dan kolase memberikan kesempatan bagi anak untuk membuat pilihan sendiri, seperti memilih bahan, warna, dan komposisi, sehingga mereka belajar untuk mandiri dan bertanggung jawab atas karya mereka. Meskipun teknik kolase telah diakui secara efektif, tetapi saat ini tidak ada penelitian tindakan kelas yang mengangkat penelitian tindakan kelas melalui metode kolase dalam meningkatkan kemandirian anak. Tujuan peneliti yakni, meningkatkan kemandirian dan antusiasme belajar anak usia dini melalui aktivitas seni kolase, mengkaji efektivitas BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal. Volume 4 Nomor 1. January 2025 Alya Faizah. Fatimatunnusyaibah. Rida Jelita Pratama. Tanaya Putri Anggraini. Sri Artati. Sri Novia Ramadhani. Siti Zhubaidah, & Wildan Saugi penggunaan metode seni kolase dalam meningkatkan kemandirian anak usia dini, yang belum diteliti secara khusus dalam penelitian-penelitian sebelumnya. Dan memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kemandirian anak di PAUD Wafa Humaira, sehingga dapat dikembangkan program intervensi yang tepat untuk meningkatkan kemandirian anak. Jadi tujuan utamanya adalah untuk menyelidiki dan membuktikan bahwa aktivitas seni kolase dapat meningkatkan kemandirian dan antusiasme belajar pada anak usia dini di PAUD Wafa Humaira Samarinda. Secara praktis, penelitian ini memiliki manfaat bagi berbagai pihak. Untuk guru PAUD Wafa Humaira, penelitian ini dapat memberikan wawasan dan inspirasi mengenai metode pembelajaran yang efektif dalam meningkatkan kemandirian dan semangat belajar anakanak. Bagi kepala sekolah PAUD Wafa Humaira, temuan dari penelitian ini dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam merumuskan kebijakan terkait pengembangan program pembelajaran yang fokus pada peningkatan kemandirian dan antusiasme belajar Untuk orang tua, penelitian ini menawarkan pemahaman tentang pentingnya kemandirian dan semangat belajar pada anak usia dini serta strategi yang dapat diterapkan di rumah untuk mendukung perkembangan tersebut. Terakhir, bagi pembaca umum, penelitian ini diharapkan memberikan wawasan dan pengetahuan baru mengenai cara meningkatkan kemandirian dan antusiasme belajar anak usia dini melalui kegiatan kolase. Tinjauan Literatur Perkembangan Anak Usia Dini Berdasarkan teori perkembangan kognitif piaget (Mifroh, 2. , teori ini menjelaskan bahwa anak usia dini berada pada tahap pra-operasional dimana mereka mulai mengembangkan kemampuan berpikir simbolik, bahasa, dan imajinasi. Aktivitas seni kolase dapat membantu anak dalam mengembangkan kemampuan ini melalui manipulasi bahan, eksplorasi warna, dan penciptaan bentuk. Tahapan-tahapan perkembangan kognitif anak yang dimaksud diantaranya, tahap sensori motorik usia 0 Ae 2 tahun, tahap pra operasional 2 Ae 7 tahun, tahap operasional konkrit 7 Ae 11 tahun, dan tahap operasional 11 tahun Ae dewasa. Lalu ada perkembangan sosial emosional erikson (Habsy et al. , 2. , autonomi vs rasa malu dan keraguan, aktivitas seni kolase dapat membantu anak dalam mengembangkan rasa percaya diri dan kamandirian melalui proses penciptaan karya seni mereka sendiri. Erik Erikson lebih menekankan bahwa perkembangan manusia tidak dapat dipisahkan dari rangsangan sosial yang dialami oleh individu. Dan perkembangan motorik yang menyatakan (Achmad Afandi, 2. , keterampilan motorik halus anak usia dini berkembang pesat melalui kegiatan seni kolase, menempel, dan memanipulasi bahan membantu meningkatkan koordinasi tangan, mata ketelitian dan kontrol otot. Secara sederhana pengertian pembelajaran motorik adalah sebagai proses belajar keahlian gerakan dan penghalusan kemampuan motorik, serta variabel yang mendukung atau menghambat kemahiran maupun keahlian Pembelajaran Berbasis Seni Pertama pembelajaran permainan (Hermawati, 2. , menurut nya seni kolase merupakan bentuk permainan yang kreatif dan menyenangkan bagi anak. Melalui bermain anak dapat belajar sambil mengeksplorasi, bereksperimen, dan mengembangkan kreastivitas mereka. Dalam perspektif peneliti, kolase diartikan sebagai metode menempelkan unsur-unsur dari lingkungan sekitar siswa atau sekolah, baik berupa kertas maupun daun-daun, ke dalam satu bingkai sehingga menghasilkan BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal. Volume 4 Nomor 1. January Meningkatkan Kemandirian dan Antusiasme Belajar Anak Usia Dini melalui Kegiatan Kolase di PAUD Wafa Humaira karya seni yang baru. Kedua Pembelajaran Konstruktivisme (Suparlan, 2. , menekankan pentingnya peran aktif anak dalam proses belajar, aktivitas seni kolase mendorong anak untuk membangun pengetahuan dan pemahaman melalui pengalaman langsung dan interaksi dengan bahan-bahan. Penjelasan di atas menunjukkan bahwa konstruktivisme adalah sebuah teori yang bersifat membangun, baik dari segi kemampuan maupun pemahaman dalam proses pembelajaran. Dengan sifat yang membangun ini, diharapkan keaktifan siswa akan meningkat, sehingga kecerdasan mereka juga bertambah. Ketiga pembelajaran berdiferensi (Andajani, 2. , dapat digunakan sebagai media pembelajaran yang berdiferensi, dengan memberikan tantangan yang sesuai dengan kemampuan dan minat masing-masing anak. Pembelajaran berdiferensiasi memberikan fleksibilitas dan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan peserta didik, sehingga dapat meningkatkan potensi mereka sesuai dengan kesiapan belajar, minat, dan profil belajar yang beragam. Kemandirian dan Antusiasme Belajar Pada bagian ini terdapat inti didalamnya pertama motivasi intrinsik (Lutfi & Winata, 2. , yaitu keinginan untuk belajar yang muncul dari dalam diri anak. Aktivitas seni kolase yang menyenangkan dan menantang dapat meningkatkan motivasi intrinsik anak. Terbentuknya motivasi intrinsik itu sendiri terjadi karena adanya keinginan yang timbul secara alamiah dari dalam yang membangkitkan semangat menggerakkan seseorang untuk melakukan sesuatu untuk mencapai kepuasan atau tujuan, karena manusia selalu mempunyai naluri untuk mencapai sesuatu maka melalui motivasi intrinsik inilah dapat mendorong seseorang untuk terlibat dalam sebuah aktivitas dalam rangka merasakan kenikmatan sensasional. Kedua pembelajaran bermakna (Baharuddin, 2. , anak lebih antusias belajar jika materi pembelajaran memiliki makna bagi mereka. Seni kolase dapat dihubungkan dengan tema-tema pembelajaran yang relevan dengan kehidupan anak, sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna. Inti dari pembelajaran bermakna ketika guru mampu mengaitkan pengetahuan baru dengan apa yang siswa telah ketahui sebelumnya sehingga proses pembelajaran lebih mudah dipahami oleh siswa. Seni Kolase Menurut (Hasanah, 2. Kolase menjadi prosedur yang teratur mulai dari pemotongan, pembebasan, pembentukan dan penempelan. Bagi anak usia dini, kolase dapat membuat subjek menjadi pengambil keputusan tertinggi dalam mengambil tindakan yang menyenangkan dan bermakna bagi diri mereka sendiri daripada pengakuan instan dari orang lain. Manfaat kolase bagi anak usia dini di antaranya meningkatkan kemampuan motorik halus anak dilihat dari berbagai aspek kemampuan motorik halus anak yaitu gerakan koordinasi antara mata dan tangan, koordinasi bilateral, kemampuan manipulasi tangan dan tripod grasp. Berdasarkan pemaparan teori para ahli, peneliti menyimpulkan bahwa metode seni kolase merupakan pendekatan yang efektif untuk meningkatkan kemandirian dan antusiasme belajar anak usia dini. Hal ini dikarenakan kolase dapat membantu anak dalam mengembangkan kemampuan kognitif, sosial-emosional, dan motorik. Selain itu, kolase juga dapat menjadi media pembelajaran yang bermakna, menyenangkan, dan BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal. Volume 4 Nomor 1. January 2025 Alya Faizah. Fatimatunnusyaibah. Rida Jelita Pratama. Tanaya Putri Anggraini. Sri Artati. Sri Novia Ramadhani. Siti Zhubaidah, & Wildan Saugi Metode Penelitian ini merupakan jenis penelitian tindakan kelas. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah proses berfikir yang sistematik. Penelitian Tindakan Kelas (PTK), yaitu penelitian tindakan kelas yang mempunyai tujuan untuk memperbaiki pembelajaran yang dilakukan secara bertahap dan terus-menerus selama kegiatan penelitian Menurut Suharjono dalam (Sativa & Buahana, 2. terdapat empat tahapan yang dilakukan dalam penelitian tindakan kelas yaitu: perencanaan, pelaksanaan, tindakan, pengamatan dan refleksi. Penelitian ini terdiri dari dua siklus yang masing-masing siklus terdiri dari empat fase yakni perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Penelitian ini di laksanakan di PAUD Wafa Humaira sekolah ini menjadi lokasi penelitian karena memiliki anak-anak yang sesuai untuk penerapan media pembelajaran dalam pengembangan kemandirian dan antusias peserta didik. Subjek penelitian ini adalah anak-anak di PAUD Wafa Humairah, yang berusia 3-5 tahun. Penelitian ini melibatkan 13 anak sebagai partisipan, yang memiliki tingkat kemandirian dan antusias yang beragam. Metode yang diterapkan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif, yang menggambarkan kondisi sebenarnya berdasarkan fakta-fakta yang ada di lapangan saat penelitian dilaksanakan. Untuk memperoleh data yang akurat dan dapat dipertanggung jawabkan, maka pengumpulan data dengan metode dokumentasi, observasi, dan wawancara agar diperoleh data yang tepat, relevan dan akurat untuk mendapatkan data tentang penilaian perkembangan anak, daftar nama dan jumlah siswa. Teknik wawancara digunakan untuk mengetahui data awal dan menyusun rencana tindakan. Metode dokumentasi dimaksudkan dengan perekaman video dan pengambilan gambar saat praktek, sehingga dapat di analisis secara mendalam. Menyusun dan mengevaluasi temuan dari tiap siklus tindakan, untuk melihat perkembangan kemandirian dan antusias anak dari siklus ke siklus (Sativa & Buahana, 2. Analisis ini bertujuan untuk mengidentifikasi perubahan dalam kemandirian dan antusias anak secara bertahap, sehingga dapat memberikan gambaran tentang efektivitas media Seni Kolase dalam meningkatkan kemandirian dan antusias anak usia dini. Hasil dan Pembahasan (Rozi et al. , 2022. Siti Nurma et al. , 2. , menurutnya langkah awal penelitian ini diawali dengan mengidentifikasi lembaga pendidikan anak usia dini yang memiliki permasalahan dalam proses pembelajaran. Berdasarkan informasi yang diperoleh. PAUD Wafa Humaira di samarinda menghadapi permasalahan terkait kurangnya kemandirian dan antusiasme anak selama proses belajar. Anak-anak cenderung bergantung pada guru dalam menyelesaikan tugas, yang menghambat pengembangan kemampuan mandiri mereka. Dibuatlah kesimpulan berdasarkan masalah-masalah tersebut, sehingga penulis memilih melakukan penelitian tindakan kelas (PTK) melalui kegiatan seni kolase. Pemilihan kegiatan kolase (Ismaniar et al. , 2023. Nurjanah et al. , 2. , didasarkan pada keunggulan aktivitas ini dalam mendukung perkembangan anak usia dini. Secara teori, kegiatan kolase mampu melatih keterampilan motorik halus, meningkatkan fokus, melibatkan kreativitas, dan memberikan tantangan yang bertahap untuk meningkatkan BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal. Volume 4 Nomor 1. January Meningkatkan Kemandirian dan Antusiasme Belajar Anak Usia Dini melalui Kegiatan Kolase di PAUD Wafa Humaira Persentase Kemandirian (%) Persentase Kemandirian Anak Berdasarkan Siklus dan Pertemuan Siklus IPertemuan 2 Siklus IIPertemuan 1 Siklus IPertemuan 1 Siklus IIPertemuan 2 Pertemuan Gambar I: Rekapitulasi kemandirian anak setiap siklus Diagram ini mengilustrasikan peningkatan bertahap kemandirian anak dari siklus pertama hingga kedua, dengan peningkatan yang signifikan pada pertemuan terakhir. Pada siklus I pertemuan pertama, tugas kolase berupa menempel kapas berbentuk awan. Persentase kemandirian anak sebesar 56%, dengan sebagian besar anak membutuhkan bantuan guru, terutama dalam aspek teknis seperti mengoleskan lem. Pada pertemuan kedua, anak-anak diberikan tugas membuat kolase berbentuk labu menggunakan robekan Kemandirian meningkat menjadi 66%, menunjukkan bahwa anak mulai beradaptasi dengan aktivitas kolase. Pada siklus II pertemuan pertama, tugas kolase berbentuk biji kacang tupai dengan bahan daun kering yang dirobek. Persentase kemandirian anak naik sedikit menjadi 68%, namun antusiasme tetap tinggi. Pada pertemuan kedua, tugas kolase berbentuk jagung menggunakan biji-bijian kecil seperti jagung kering dan kacang hijau. Persentase kemandirian mencapai 97%, dengan sebagian besar anak mampu menyelesaikan tugas tanpa bantuan guru, meskipun tingkat kesulitannya lebih tinggi. Pertemuan Siklus I (%) Siklus II (%) Gambar II: Diagram persentase hasil penelitian Temuan penelitian mengindikasikan bahwa kegiatan kolase efektif dalam meningkatkan kemandirian dan antusiasme anak-anak usia dini. Peningkatan yang signifikan pada siklus kedua mengindikasikan bahwa anak dapat mengembangkan kemandirian melalui tugas-tugas yang dirancang secara bertahap dengan tingkat kesulitan yang meningkat. Keterlibatan guru yang mendukung, terutama pada tahap awal, memainkan peran penting dalam membangun rasa percaya diri anak untuk menyelesaikan tugas secara mandiri. (Kamisykatin & Sobarna, 2022. Marlina et al. , 2. , keterlibatan guru yang mendukung, terutama pada tahap awal, memainkan peran penting dalam membangun rasa percaya diri anak untuk menyelesaikan tugas secara mandiri. Temuan ini menunjukkan bahwa pengalaman belajar yang menantang dapat mendorong kemandirian dan motivasi intrinsik anak. (Arnott, 2023. Guo Nyuhuan, 2. Kegiatan kolase memberi kesempatan bagi anak untuk bereksplorasi, berkreasi, dan BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal. Volume 4 Nomor 1. January 2025 Alya Faizah. Fatimatunnusyaibah. Rida Jelita Pratama. Tanaya Putri Anggraini. Sri Artati. Sri Novia Ramadhani. Siti Zhubaidah, & Wildan Saugi menyelesaikan tugas sesuai kemampuan mereka, sehingga kemandirian tumbuh secara Gambar i: Dokumentasi peserta didik dalam kegiatan kolase Kegiatan seni kolase terbukti menjadi strategi pembelajaran yang efektif dalam mendukung kemandirian anak usia dini melalui pendekatan yang berfokus pada tugastugas kreatif dan bertahap (Sunia Susilawati & Kurnia Akbar, 2. (Sapaat, 2. , dengan menggunakan bahan-bahan yang mudah diakses dan variatif, seni kolase memotivasi anak untuk mengambil keputusan, mengeksplorasi kreativitas, dan menyelesaikan tantangan secara mandiri. Selain itu, metode ini melibatkan proses yang mengintegrasikan berbagai aspek perkembangan anak, seperti keterampilan motorik halus, kemampuan dalam memecahkan masalah, dan perkembangan emosional. Guru dapat memanfaatkan kegiatan ini dengan merancang tugas yang menantang tetapi sesuai dengan tingkat perkembangan masing-masing anak, sehingga mereka tetap merasa termotivasi dan berhasil dalam proses belajarnya. Pendekatan bertahap yang digunakan dalam seni kolase juga memperkaya pengalaman belajar anak dengan memberikan ruang bagi eksplorasi dan inovasi, yang pada akhirnya meningkatkan rasa percaya diri dan kemampuan bekerja Dari perspektif perkembangan holistik, seni kolase mendukung pencapaian tujuan kognitif, seperti pengenalan pola dan bentuk. tujuan sosial, seperti kolaborasi dengan teman sebaya, serta tujuan emosional, seperti regulasi diri dan ekspresi emosi positif, menjadikannya pendekatan yang seimbang dan menyeluruh. Simpulan Penelitian ini menunjukkan bahwa kegiatan kolase efektif dalam meningkatkan kemandirian dan antusiasme belajar anak usia dini di PAUD Wafa Humaira. Terjadi peningkatan yang signifikan pada siklus kedua, mengindikasikan bahwa anak dapat mengembangkan kemandirian melalui tugas-tugas yang dirancang secara bertahap. Kegiatan kolase dapat meningkatkan kemandirian dan antusiasme belajar anak usia dini. Melalui proses pembuatan kolase yang melibatkan aktivitas memilih bahan, menyusun, dan menempel, anak belajar untuk mandiri, fokus, dan bangga dengan hasil karyanya. Pendekatan pembelajaran yang bertahap dan terstruktur efektif dalam mengembangkan kemandirian anak. Dengan memberikan tugas-tugas yang semakin kompleks secara bertahap, anak dapat belajar dan menguasai kemandirian mereka. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemandirian dan antusiasme belajar anak usia dini melalui kegiatan kolase di PAUD Wafa Humaira. Argumen dan klaim di atas menjawab tujuan penelitian dengan menunjukkan bahwa kegiatan kolase efektif dalam meningkatkan kemandirian dan BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal. Volume 4 Nomor 1. January Meningkatkan Kemandirian dan Antusiasme Belajar Anak Usia Dini melalui Kegiatan Kolase di PAUD Wafa Humaira antusiasme belajar. Temuan ini menunjukkan implikasi teoretis yang memperkaya literatur tentang peran seni kolase dalam perkembangan anak usia dini, khususnya dalam aspek kemandirian dan antusiasme belajar, secara metodologis terdapat penggunaan metode penelitian tindakan kelas terbukti efektif dalam mengevaluasi dan meningkatkan praktik pembelajaran di PAUD Wafa Humaira. Implikasi praktisnya menghasilkan penelitian yang dapat digunakan sebagai referensi bagi guru PAUD dalam merancang kegiatan pembelajaran yang dapat meningkatkan kemandirian dan antusiasme belajar anak. Penelitian ini memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kemandirian anak di PAUD Wafa Humaira. Hasil penelitian ini dapat menjadi landasan untuk mengembangkan program intervensi yang tepat dalam rangka meningkatkan kemandirian anak di PAUD Wafa Humaira. Sebagai rekomendasi, disarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut untuk menginvestigasi faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi kemandirian anak, selain metode kolase. Studi longitudinal dapat dilakukan untuk mengamati dampak jangka panjang dari peningkatan kemandirian anak melalui kegiatan kolase. Serta penelitian komparatif dapat dilakukan untuk membandingkan efektivitas metode kolase dengan metode pembelajaran lain dalam meningkatkan kemandirian dan antusiasme belajar anak usia dini. Referensi