Agiornamento: Jurnal Filsafat-Teologi Kontekstual Vol. No. Desember 2022 p-ISSN 2746-4695 e-ISSN 2963-5063 TRANSFORMASI IMAN DALAM KEHIDUPAN GEREJA PERDANA MENUJU GEREJA SINODAL: DALAM BINGKAI TEPAS DAN ARDAS KEUSKUPAN KETAPANG Petrus Riyant1. Gabriel Bala2 Petrusriyant@gmail. Gabrielsimpangk@gmail. Mahasiswa Pascasarjana di Universitas Widya Mandala Surabaya dan Imavi1-2 Abstract: The focus of this research is to highlight the progress of the times that have had a significant impact on the life of the vocation and proclamation of the Church's faith. in Ketapang Diocese. The purpose of this research is to see to what extent the spirit of the unity of the Synodal Church in the Dioceses has become a collective movement. As in the motto of KV II: Ecclesia semper Reformanda, it would be a trumpet for transformation. Therefore, this study seeks to explore and gain access to the spirit of transformation of the faith life of the congregation since the early church until now in its relationship as a synodal church. The methodology used is to collect primary and secondary data. Primary data were obtained through the results of TEPAS (Pastoral Meetin. as well as ARDAS (Basic Direction. of Ketapang Diocese which were promulgated from 2021-2033. On the other hand, secondary data is related to literature that supports the research topic. The results of the research found that the Synodal Church has indeed become a joint movement of the Universal Church which is very relevant with the times. The relevance of the Synodal Church to the Diocese is the transformation of faith that goes together in a spirituality of unity towards salvation. Key Words: Church. Transformation. Faith. Live. Synodal. Abstrak: Fokus dari penelitian ini ialah menyoroti soal kemajuan zaman yang membawa dampak signifikan bagi kehidupan panggilan dan pewartaan iman Gereja. 1 Penelitian ini berorientasi pada pertumbuhan dan perkembangan serta dinamika kehidupan iman umat maupun corak khas beserta terobosan-terobosan pastoral yang dilakukan di Keuskupan Ketapang. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk melihat sejauh mana semangat kesatuan Gereja Sinodal di keuskupankeuskupan menjadi gerak bersama. Sebagaimana dalam semboyan KV II: Ecclesia semper Reformanda kiranya sungguh menjadi nafiri transformasi. Karena itu, penelitian ini berusaha menggali dan mendulang terkait dengan spirit transformasi kehidupan iman jemaat sejak Gereja Perdana hingga saat ini dalam keterkaitannya sebagai Gereja Sinodal. Adapun metodologi yang digunakan ialah mengumpulkan data primer dan sekunder. Data primer diperoleh melalui hasil TEPAS (Temu Pastora. sekaligus ARDAS (Arah Dasa. Keuskupan Ketapang yang dipromulgasikan sejak 2021-2033. Sedangkan data sekunder ialah terkait kepustakaan yang mendukung topik penelitian. Hasil dari penelitian ditemukan bahwa Gereja Sinodal sungguh menjadi gerak bersama Gereja Universal yang sangat relevan seiring perkembangan zaman. Relevansi Gereja Sinodal bagi Keuskupan Ketapang ialah transformasi iman yang berjalan bersama dalam spiritualitas kesatuan menuju keselamatan. Kata Kunci: Gereja. Transformasi. Iman. Kehidupan. Sinodal. PENDAHULUAN Lih. Keuskupan Ketapang. Arah Dasar Keuskupan Ketapang 2021-2033, (Ketapang: Keuskupan Ketapang. Agiornamento: Jurnal Filsafat-Teologi Kontekstual Vol. No. Desember 2022 p-ISSN 2746-4695 e-ISSN 2963-5063 Perjalanan dan perkembangan kehidupan iman Gereja sebagai persekutuan murid-murid Kristus tidak dapat dilepaskan dari kerangka dinamika kehidupan Jemaat Perdana. Segala bentuk tantangan, persoalan dan perselisihan sampai problematika antara umat pun mewarnai kehidupan dan menjadi bingkai iman Gereja. 2 Meskipun demikian ciri khas hidup Jemaat Perdana sebagai komunitas Kristiani sangatlah penting dan menentukan. Di mana pertamatama memberi diri untuk dibaptis, bertekun dalam pengajaran para rasul dan hidup dalam Ciri khas persekutuan sebagai orang Kristiani ini ialah selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa (Kis 2: 41-. Dengan kata lain, ciri khas hidup dalam persekutuan dan perutusan sebagai anggota Tubuh Kristus menjadi tonggak kehidupan, kesehariaan dan keberadaan Gereja masa kini dan mendatang. Menarik bahwa dalam perjalanan dan perkembangan hidup iman Gereja diwarnai dengan ragam tantangan dan tekanan, baik dari dalam maupun dari luar . Kis 4: 1-. Namun dalam semangat persekutuaan sebagai pengikut Kristus dan dalam dorongan Roh Kudus, maka segala persoalan, pertikaian bahkan perselisihan dan tantangan-tantangan dapat diatasi. Sebagaimana persoalan mengenai kewajiban untuk melakukan sunat bagi orang non-Yahudi (Kis 15:1-. Semangat persekutuan menjadi cikal bakal terselesaikannya persoalan dan permasalahan untuk menuju karya keselamatan Allah. Belajar dari pengalaman dan perkembangan yang dialami oleh Jemaat Perdana, maka Gereja dengan melihat tanda-tanda zaman4 di tengah mazhab distrupsi dan perubahan zaman ini mengomunikasikan gerak semangat sebagai Gereja Sinodal: Gereja yang berjalan bersama. Adapun persoalan yang dihadapi oleh Gereja Keuskupan Ketapang masa kini ialah minimnya kader-kader Gereja. Berangkat dari keprihatinan itu maka dalam TEPAS maupun ARDAS Keuskupan Ketapang sangat difokuskuan soal membina kader iman Gereja. Sebagaimana hal ini tampak dalam visi-misi ARDAS yaitu. Aupersaudaraan murid-murid Yesus Kristus yang semakin tangguh dalam beriman dan dalam pelayanan kasih. Ay Sejalan dengan itu di mana dalam dokumen Gereja tentang sinodalitas ditegaskan bahwa Gereja hendaknya menjadi Aurumah dan sekolah persekutuan. Dengan demikian jelas bahwa semangat berjalan bersama ini sangat penting bagi Gereja masa kini dan mendatang. Hal ini tampak dalam gerakan-gerakan ARDAS dan pedoman pastoral baik di keuskupan-Keuskupan maupun di Paroki-Paroki. Hal ini mengungkapkan sekaligus mengekspresikan transformasi Gereja sebagai persekutuan murid-murid Kristus di tengah-tengah dunia. Dalam hal ini. Petrus Canisius Edi Laksito menegaskan bahwa nilai penting Keuskupan sebagai kebersamaan sejumlah umat yang membentuk Gereja partikular. Ausungguh-sungguh terwujud dan berkarya Gereja Kristus yang satu, kudus, katolik dan Salah satu persoalan dan problematika para murid yang menjadi titik balik dari perdebatan menuju pewartaan dan kesatuan dalam karya keselamatan akan Yesus Kristus ialah diadakannya sidang di Yerusalam. Sidang ini membahas terkait menjadi keanggotaan Kristus di mana orang-orang bukan Yahudi harus disunat dan diwajibkan untuk menuruti hukum Musa. Lih. Kis 15: 1-21. Sebagaimana ditegaskan oleh Paus Yohanes Paulus II dalam Seruan Apostolik Post-Sinodal tentang panggilan dan perutusan kaum beriman beserta semua elemennya, termasuk kaum awam, harus selalu dipahami dalam rangka keberadaannya yang hakiki sebai persekutuan . dan perutusan . Lih. Petrus Canisius Edi Laksito. Gereja Persekutuan Dalam Bentuknya Yang Kelihatan (Madiun: Wina Press, 2. , 33. Tanda-tanda zaman di era ini ialah soal globalisasi industri. Di mana prubahan in terjadi karena tren global ke arah pola-pola konsumsi yang serupa, munculnya pembeli dan penjual global, perdagangan maya dan tranmisi uang serta informasi secara instan lintas benua. Lih. Yustinus Budi Hermanto dan Ardianus laurens Paulus. Manajemen Strategi: Tinjauan. Perumusan, dan Penerapan Strategi (Yogyakarta: Kanisius, 2. , 21. Lih. Keuskupan Ketapang. Arah Dasar Keuskupan Ketapang 2021-2033, (Ketapang: Keuskupan Ketapang, 2. , 1. Lih. Seri Dokumen Gerejawi. AuSINODLITAS dalam kehidupan dan misi GerejaAy Departemen Dokumentasi Dan Penerangan Konferensi Waligereja Indonesia. KWI: 2022, 77. Agiornamento: Jurnal Filsafat-Teologi Kontekstual Vol. No. Desember 2022 p-ISSN 2746-4695 e-ISSN 2963-5063 Ay7 Sebagaimana dalam ARDAS (Arah Dasa. Keuskupan Ketapang buah dari Sinodal ini dinyatakan dalam visi misi. AuPersaudaraan Murid-murid Yesus Kristus yang semakin tangguh dalam beriman dan dalam pelayanan kasih dengan semangat kasih yang dicurahkan oleh Roh Kudus (Rm 5:. dan seturut teladan St. Gemma Galgani. Ay8 Tujuan dari penulisan ini ialah untuk melihat dan menganalisis sekaligus merefleksikan kembali perjalanan dan peziarahan kehidupan iman Gereja di Keuskupan Ketapang dalam bingkai sinodalitas. 9 Maka dari itu hal yang menjadi sorotan utama analisis tulisan ini ialah soal sejauhmana dan bagaimana Gereja Keuskupan Ketapang menjawab dan menanggapi serta menindaklanjuti Sinode tersebut dalam semangat tugas dan perutusannya. Usaha Gereja Keuskupan Ketapang dalam menjawab persoalan yang dihaapi dan menindaklanjuti Sinodal tersebut tampak dalam TEPAS dan ARDAS Keuskupan. Di mana poin utama dari seruan ARDAS ini ialah soal pembentukan dan pembinaan kader Gereja sekarang dan yang akan Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode kualitatif . Di mana lewat pengumpulan dan pengolahan data primer dan sekunder. Data primer diperoleh melalui hasil TEPAS (Temu Pastora. sekaligus ARDAS (Arah Dasa. Keuskupan Ketapang yang dipromulgasikan sejak 2021-2033. Sedangkan data sekunder ialah terkait kepustakaan yang mendukung topik penelitian. Dalam hal ini pula penulis berusaha menjamin keotentikan dan kevalidan dalam analisis data dan fakta dengan memosisikan diri sebagai bagian dari anggota umat Allah Keuskupan Ketapang sekaligus menjadi pengamat langsung . adir dan terlibat Maka dari itu, jelas bahwa fokus dari penelitian ini ialah mengenai transformasi iman dalam kehidupan Gereja Sinodal Keuskupan Ketapang. Transformasi Iman Transformasi iman orang beriman tidak dapat dilepaskan dari konteks kehidupan dan Transformasi ini bukan sekadar perubahan menuju dan menjadi namun juga menyangkut soal strategi dalam bertransformasi. Sebagaimana transformasi iman yang sangat indah kiranya dialami oleh Rasul Paulus. Rasul Agung. Di mana bentuk transformasi Paulus ini sejatinya mengungkapkan soal strategi terkait penggembaalan dalam tugas perutusan dan karya pewartaannya. 10 Demikian halnya dengan transformasi Gereja sekarang dalam semangat Gereja Sinodal yaitu terkait soal teks ke konteks, pembinaan kader-kader iman, perutusan dan pewartaan yang bercorak eklesial sinodal. 1 Transformasi Iman: Teks ke Konteks Transformasi iman dapat dilihat dalam perjalanan Jemaat Perdana yang memicu adanya sidang di Yerusalem (Kis 15:1-. Sidang ini terjadinya karena adanya perbedaan pendapat antara Paulus dan orang-orang Yahudi-Kristiani di Antiokhia. Di mana orang Yahudi-Kristiani berpegang teguh pada pandangan bahwa untuk menuju keselamatan itu orang harus mentaati Hukum Taurat dan melakukan sunat. Pandangan ini dilatarbelakangi kehidupan dan kebudayaan jemaat sebagai orang Yahudi yang taat akan Hukum Taurat dan tradisi keagaaman termasuk soal sunat. Lih. Petrus Canisius Edi Laksito. Gereja Persekutuan Dalam Bentuknya Yang Kelihatan (Madiun: Wina Press, 2. , 92. Keuskupan Ketapang. Arah Dasar Keuskupan Ketapang 2021-2033, (Ketapang: Keuskupan Ketapang, 2. Bdk. Seri Dokumen Gerejawi. SINODLITAS dalam kehidupan dan misi Gereja. Departemen Dokumentasi Dan Penerangan Konferensi Waligereja Indonesia. KWI: 2022, 14. Bdk. Seto Marsunu. Paulus: Sukacita Rasul Kristus. Yogyakarta: Kanisius, 2012, 18-22. Bdk. Keuskupan Ketapang. Arah Dasar Keuskupan Ketapang 2021-2033, 27-29. Agiornamento: Jurnal Filsafat-Teologi Kontekstual Vol. No. Desember 2022 p-ISSN 2746-4695 e-ISSN 2963-5063 Sebaliknya. Paulus, seorang misioner sejati, berpandangan bahwa karya keselamatan Kristus itu nyata tidak hanya bagi orang Yahudi saja, tetapi juga mereka yang non-Yahudi. Karena itu soal Hukum Taurat dan sunat bukan dalam artian dan pemaknaan secara hurufiah melainkan soal makna baru yaitu, sunat hati. Dengan bimbingan dan tuntunan Roh Kudus Jemaat Yerusalem membuka dan membaharui pemahaman akan iman mereka dalam terang karya keselamatan Kristus bagi semua orang tanpa keterikatan pada perkara sunat dan tidak Mgr. Ignatius Suharyo dengan lugas melihat konteks pelayanan dan pewartaan Paulus kepada jemaat yang dilayaninya di tengah-tengah tantangan dan tekanan zaman (Kis 20:. Mgr. Ignatius Suharyo mengemukakan bahwa dengan kerendahanhati dan banyak tangisan sejatinya Paulus terlibat penuh dalam suka dan duka jemaat di tengah tantangan yang mengancam. Injil berkiprah dalam hidup orang yang melangkah dalam sejarah manusia, yakni tempat Allah melaksanakan karya-Nya. 13 Dalam tantangan dan desakan untuk mempertahankan dan menjaga keutuhan iman jemaat di sana pula Paulus hadir, hidup, bermisi dan bergerak bersama umat di tengah kesukaran-kesukaran hidup dan iman yang dialami Paulus membentuk transformasi iman bagi jemaat yang digembalakannya dalam semangat berjalan bersama Kristus. Penting pula melihat pengalaman perjuangan Gereja pertama kali berkarya dan bermisi di Indonesia di tengah pergolakan dan pergumulannya. Sebagaimana semangat Gereja Transformatif ini dapat dilihat dalam perjalanan Gereja di tengah kepemimpinan Mgr. Albertus Soegijapranata. Indonesia di tengah pergolakan kemerdekaan, kebangsaan dan keimanan. Martasudjita menambahkan bahwa dalam kegembalaan Mgr. Soegijapranata harus menghadapi masa-masa kemerdekaan Indonesia dan masa-masa menjelang pecahnya pemberontakan G30S/PKI. Di tengah persoalan serius itu. Mgr. Albertus Soegijapranata layaknya sosok Paulus hidup dan hadir di tengah-tengah manusia Indonesia dengan semangat berjalan bersama. Berjalan bersama ini terwujud dalam transformasi iman dan kebangsaan yang beliau kemukakan dan menjadi semboyan agung: AuSeratus persen Katolik dan seratus persen IndonesiaAo. Mgr. Soegijapranata mendobrak kesadaran baru bagi Gereja dan bangsa Indonesia untuk bertransformasi di dalam keimanan dan kebangsaan, kehidupan dan keseharian. Sejalan dengan itu. Bernhard Kieser, dalam tulisannya dengan tema AuMelawan Fundamentalisme (Teolog. Katolik: Menemukan Gereja Yang Adalah Peristiswa, mengemukakan peristiwa bahwa Gereja sejatinya merupakan suatu gerak pengharapan, komunikatif dan produktif, berimajinasi dan terbuka-inklusif. Transformasi Keuskupan: Pembinaan Kader-Kader Iman Usaha transformasi iman oleh Gereja itu sangat tampak dalam corak khas kebijakan dan pedoman-pedoman baik dalam surat gembala maupun ARDAS yang diprakarsai oleh Krispurwana Cahyadi, dalam tulisannya mengenai Gereja di Persimpangan Jalan: Refleksi ke depan mengemukakan bahwa Gereja Keuskupan Agung Jakarta mencoba hadir serta berperan terlebih merefleksikan perjalanannya dalam tugas pelayanan. Namun tidaklah mudah bagi Gereja untuk hadir dan berperan terlebih karena Gereja sering berjalan Seto Marsunu. Paulus: Sukacita Rasul Kristus (Yogyakarta: Kanisius, 2. , 25-25. Lih. Catatan Mgr. Ignatius Suharyo. AuKetika Kristianisme Berkembang dalam Dunia Yunani: Pandangan Umum dalam Perjanjian baruAy. Orientasi Baru, 1981, 67. Bdk. Martasudjita. Gereja yang Melayani dengan Rendah Hati: Bersama Mgr. Ignatius Suharyo (Yogyakarta: Kanisius, 2. , 5-6. Ibid. , 21. Bernhard Kieser. Melawan Fundamentalisme, (Teolog. Katolik: Menemukan Gereja yang Adalah Peristiswa, dalam E. Martusudjita. Gereja yang Melayani dengan Rendah Hati (Yogyakarta: Kanisius, 2. , 3. Agiornamento: Jurnal Filsafat-Teologi Kontekstual Vol. No. Desember 2022 p-ISSN 2746-4695 e-ISSN 2963-5063 dalam rutinitas ritual sehari-hari. Transformasi yang dilakukan oleh KAJ ialah menghadapi perubahan dengan semangat pembaruan terlebih pembaruan dalam cara, proses dan metode pelayanan serta kesaksian. 17 Pembaruan tidak dapat terwujud dengan maksimal bilamana tidak adanya kader-kader iman yang dibina sejak dini. Dalam Surat Gembala Uskup bagi umat Katolik khususnya di lingkungan keluarga Besar ABRI 52. Arsip Kardinal Darmaatmadja, dituliskan mengenai pengaruh Globalisasi dan dimensi iman. Sebagaimana dikemukakan bahwa Sebagai orang katolik, tantangan globalisasi perlu kita hadapi sebagai orang beriman. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin canggih menuntut agar manusia menggunakannya secara profesional, bertanggungjawab dan beriman. Orang ditutntut agar memiliki disiplin ilmu dan disiplin moral yang semakin kuat. Pengembangan ilmu pengetahuan harus semakin mendekatkan manusia dengan Tuhan dan semakin memampukan diri untuk menjadi berkat bagi sesama. Di Keuskupan Ketapang usaha transformasi iman itu sangat jelas dalam ARDAS Keuskupan untuk tahun 2021-2033 mendatang. Keuskupan Ketapang menempatkan pembinaan kader iman pada poin nomor satu dari lima poin misi ARDAS. 19 Lebih jauh ditegaskan dalam ARDAS bahwa poin penting dari misi . ialah membina kader iman . Sebagaimana diharapkan para kader ini mampu memberikan transformasi iman bagi umat baik di paroki-paroki maupun di lingkungan-lingkungan. Adapun usaha strategis yang dilakukan ada sepuluh langkah. 20 Poin penting dan mendasar ialah dibentuknya tim pembina kader pengajar dan pembela iman yang militant secara berkelanjutan. Transformasi Panggilan: Perutusan - Pewartaan Panggilan orang Kristiani ialah panggilan untuk kesatuan. 21 Kesatuan ini ialah kesatuan di dalam tugas perutusan dan pewartaan yang mana termuat dalam perutusan para Rasul (Mat 28: 16-. Kardinal Darmaatmadja, dalam bukunya yang berjudul: Umat Katolik Dipanggil Membangun NKRI menungkaskan semoga kita semakin menyadari panggilan hidupnya mewujudkan kesejahteraan umum . onum commun. , dengan memperbaiki tata kehidupan yang semakin bermartabat. Baik pribadi-pribadi maupun komunitas-komunitas Kristiani diharapkan siap menjadi pelopor perubahan untuk membangun peradaban kasih dalam hidup sehari-hari dengan menghidupi dan mengamalkan Pancasila dalam terang iman Katolik. Dengan kata lain, transformasi panggilan orang Kristiani mesti berorientasi pada perutusan dan pewartaan dalam kehidupan dan keseharian. Dalam ARDAS Keuskupan Ketapang dengan jelas ada lima poin penting yang menjadi dasar dan acuan kegembalaan. Salah satu poin itu ialah pelayanan kasih kepada yang menderita, baik itu mereka yang kecil, lemah, miskin, tersingkir dan difabel. 23 Hal ini merupakan gerak transformasi iman yang berpijak pada karya dan misi Kristus (Kis 10: 1. Transformasi iman dari Gereja Sinodal ini dinyatakan sejak awal keberadaan Gereja di Keuskupan lewat karya kesehatan dan pendidikan. Lih. Krispurwana Cahyadi. Gereja Di Tengah Pergumulan Hidup: Catatan Pergumulan Gereja Keuskupan Agung Jakarta (Jakarta: Obor, 2. , 109. Yulius Kardinal Darmaatmadja. Menjadi Katolik. Nasionalis dan Pancasilais Sejati: Bangkit dari Keterpurukan (Yogyakarta: Kanisius, 2. , 228. Lih. ARDAS Keuskupan Ketapang, 10. Lih. ARDAS Keuskupan Ketapang, 28. Bdk. Eko Riyadi. Yohanes: Firman Menjadi Manusia (Yogyakarta: Kanisius, 2. , 92. Yulius Kardinal Darmaatmadja. Umat Katolik Dipanggil Membangun NKRI. Yogyakarta: Kanisius, 2019 ,13. Lih. ARDAS Keuskupan Ketapang, 30-31. Agiornamento: Jurnal Filsafat-Teologi Kontekstual Vol. No. Desember 2022 p-ISSN 2746-4695 e-ISSN 2963-5063 Sejalan dengan itu. Ola Rongan Wihelmus mengemukakan bahwa agama Katolik sebagai suatu institusi agama di tengah masyarakat dunia mempunyai tugas dan tanggungjawab profetik untuk membela dan membebaskan keluarga dan masyarakat yang kurang beruntung dari kemiskinan dan ketertindasan melalui bantuan karitatif maupun pemberdayaan sosial ekonomi, politik, kesehatan, dan lain-lain. 24 Dengan kata lain, panggilan hidup orang Kristiani yang sejati ialah bertumbuh kembang dan hidup dalam semangat transformasi iman dalam tugas perutusan dan pewartaan (Lih. Kis 9: 1-. perutusan ini hendaknya menjadi jiwa dalam semangat kasih kepada sesama dan alam ciptaan. Implementasi Transformasi Gereja Perdana Ae Gereja Sinodal Gerak dan arah Gereja senantiasa diarahkan kepada Kristus. Oleh karena itu, semua orang yang beriman kepada Kristus dipanggil supaya melanjutkannya dari generasi ke generasi, dengan mewartakan iman, dengan menghayatinya dalam persekutuan persaudaraan dan dengan merayakannya dalam liturgi dan doa. 26 Dalam hal ini Gereja perdana pun turut Kita dapat melihat dalam Kisah Para Rasul. AuMereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoaAy (Kis 2:. Dapat dilihat dengan jelas bahwa penghayatan iman mereka tidak hanya secara personal tetapi juga mengarah pada dimensi komunal. 27 Mereka berkumpul bersama sebagai satu saudara dan menjalankan tugas perutusannya bersama-sama. Justru iman personal sekaligus iman yang berdimensi komunal inilah yang membuat iman para murid menjadi lebih kuat. Tugas yang sama seperti halnya yang diemban oleh para murid di Gereja perdana, juga menjadi tugas Gereja saat ini. Salah satu contohnya adalah dengan menjalankan pekerjaan yang diberikan dengan sepenuh hati. Ini merupakan cerminan utama orang yang beriman kepada Kristus. Termasuk pula bagaimana membangun kehidupan iman di zaman sekarang ini. Bila dilihat dari segi tantangan dan hambatan tentu sangat berbeda dengan yang dialami oleh jemaat Gereja Perdana. Gereja perdana memiliki kesulitannya tersendiri terutama bagaimana harus mewartakan iman di tengah bangsa Yahudi yang menolaknya. Bahkan kedua belas rasul ditangkap, diancam, dan dilarang keras memberitakan Yesus sebagai Sang Penebus. Akan tetapi mereka menolak taat dengan argumen bahwa mereka harus lebih taat terhadap Allah daripada terhadap manusia (Kis. Dalam pewartaan iman akan Yesus Kristus di zaman ini tentu memiliki kesulitan dan tantangan tersendiri. Gereja saat ini tidak lagi mengalami penganiayaan seperti yang dialami oleh Gereja perdana. Meskipun demikian tantangan yang dihadapi oleh Gereja di masa ini tidak kecil pula. Gereja harus dihadapkan dengan berbagai kemajuan teknologi informasi yang sangat banyak mengubah pola perilaku manusia. Salah satu budaya yang berkembang adalah dangkalnya pemahaman anak-anak zaman ini akan iman. Tidak heran kalau kemudian isu ini pun diangkat dalam arah dasar keuskupan seperti halnya di Keuskupan Ketapang. Gereja dalam hal ini melihat bahwa isu yang berkembang di tengah masyarakat ini perlu diperhatikan dengan serius. Bila tidak generasi penerus Gereja akan musnah dengan berbagai kemajuan yang ada. Tentu dalam hal ini para pemimpin Gereja tidak bisa berjalan Kehadiran umat sebagai orang yang juga mendapat panggilan untuk mewartakan karya Ola Rongan Wihelmus dan Hipolitus K. Kewuel. Keluarga Kristiani Dalam Badai Globalisasi. Yogyakarta: Kanisius, 2015, 125. Bdk. ARDAS Keuskupan Ketapang, 32-33. Konferensi Waligereja Regio Nusa Tenggara. Katekismus Gereja Katolik (Flores: Nusa Indah, 2. , 10. Yohanes Witono Anggi Hadi. AuBeriman Personal Sekaligus Komunal: Refleksi Kristis Beriman Untuk Zaman SekarangAy. Jurnal Teologi: usd, (Januari, 2. , 69. Franz Magnis Suseno. Katolik Itu Apa (Yogyakarta: Kanisius, 2. , 29. Lih. Keuskupan Ketapang. Arah Dasar Keuskupan Ketapang (Ketapang: Keuskupan Ketapang, 2. , 30. Agiornamento: Jurnal Filsafat-Teologi Kontekstual Vol. No. Desember 2022 p-ISSN 2746-4695 e-ISSN 2963-5063 Tuhan itu sangatlah dibutuhkan. Dalam menjawab segala kebutuhan tersebut ada banyak cara yang bisa dilakukan. Di bawah ini akan dipaparkan beberapa implementasi dari Gereja perdana yang dapat dihidupi kembali di Gereja zaman ini. 1 Gereja Mengoptimalkan Tugas Perutusan Ae Pewartaan Yesus ketika menjalani misi pewartaan Kerajaan Allah tidak melakukannya sendiri. Allah sungguh-sungguh sedang berkarya di tengah dunia dan di dalam Gereja. laki-laki dan perempuan bekerjasama dengan-Nya melanjutkan karya-Nya. 30 Dia pun lalu memilih para rasul yang akan membantu-Nya. Dalam Injil Matius dikatakan bahwa Yesus memanggil para murid yang sedang bekerja sesuai dengan pekerjaannya masing-masing. Mereka tanpa berpikir panjang langsung meninggalkan pekerjaannya lalu mengikuti Yesus (Mat 4:18-. Kesiapsediaan para murid inilah yang kemudian membuat mereka menjadi rasul yang patut Iman yang mereka hayati tidak sebatas iman personal lagi tetapi sudah menjadi iman yang bersifat komunal. Iman personal mereka sudah dilengkapi dengan iman komunal. Dalam bahasa Lumen Gentium BAB 1 mengenai persekutuan, persekutuan yang dibangun bukan lagi persekutuan ke dalam, communio, tetapi gerakkan keluar . esuai dengan corak perichoresisTritungga. untuk mencapai persekutuan semua orang dalam Allah. 32 Mereka sudah berani keluar dari diri mereka sendiri dan berjalan bersama yang lain terutama untuk mewujudkan Kerajaan Allah. Ketika Yesus memanggil para murid, ada misi yang hendak Dia lakukan. Seperti halnya mereka diminta untuk memberitakan bahwa Kerajaan surga sudah dekat. Mereka pun diminta untuk menyembuhkan orang yang sakit dan membangkitkan orang yang mati. Tidak berhenti di situ saja, mereka pun diminta untuk mengusir setan-setan . Mat 10:7-. Ini merupakan misi yang berat. Mereka memiliki tugas yang tidak biasa. Dalam hal ini tentu Yesus tidak melepas mereka tanpa bekal apa-apa. Bekal yang dimaksudkan adalah mereka pertama-tama sudah Yesus bina terlebih dahulu. Iman mereka pun sudah diperkuat dengan berbagai hal. Yesus dalam hal ini sudah menyiapkan para murid sehingga siap untuk mewartakan Kerajaan Allah. Semangat Yesus ini pulalah yang harus senantiasa dihidupi di zaman ini. Gereja dalam hal ini perlu menyikapi berbagai persoalan yang ada dengan melibatkan umat Allah. Mereka sejak awal mula sudah dipanggil oleh Tuhan untuk ikut ambil bagian dalam karya pewartaan 34 Gereja dalam hal ini punya tugas yang berat terutama untuk menyiapkan kader-kader Seperti halnya Yesus menyiapkan para murid untuk diutus, begitu pula Gereja perlu menyiapkan umat agar siap menjalani perutusannya masing-masing. Ini merupakan panggilan yang sangat mulia. Bahkan katekismus mengatakan bahwa barangsiapa dengan bantuan Allah telah menerima panggilan ini dan telah menyetujuinya dalam kebebasan, ia didorong oleh cinta kepada Kristus supaya mewartakan Kabar Gembira kepada seluruh dunia. Francis X. Clark. Gereja Katolik Di Asia (Judul asli: An Introduction to the catholic church of Asia, terj. Yosef ) (Maumere: LPBAJ, 2. , 218. Iman yang bersifat komunal ini dianggap ideal karena dianggap sesuai dengan ajaran Kitab Suci dan Tradisi Katolik. Yohanes Witono Anggi Hadi. Ibid, 67. Konstantinus Bahang. AuPaus Fransiskus dan Gereja SinodalAy. Jurnal Agama dan Kebudayaan: Limen, vol. No. 1 (April, 2. , 59. Setelah para murid mengalami kebersamaan dan kesatuan hidup dengan Kristus, barulah para murid diutus untuk pergi keluar, menjumpai sesama kita, siapa saja, entah dari suku, budaya, bahasa, dan agama apapun agar mereka semua mengenal, menyaksikan dan mengalami karya keselamatan yang telah terlaksana melalui Yesus Kristus Tuhan kita yang wafat dan bangkit bagi semua orang di seluruh dunia dan segala zaman. Bdk. Martasudjita. Gereja Yang Bersukacita (Yogyakarta: Kanisius, 2. , 188. Tentu pewartaan yang dilakukan oleh awan akan berbeda dengan yang dilakukan oleh para kaum tertahbis. Konferensi Waligereja Regio Nusa Tenggara. Katekismus Gereja Katolik, 10. Agiornamento: Jurnal Filsafat-Teologi Kontekstual Vol. No. Desember 2022 p-ISSN 2746-4695 e-ISSN 2963-5063 Berbagai tindakan sederhana dapat dilakukan oleh Gereja lokal seperti halnya di keuskupan-keuskupan. Keuskupan pertama-tama perlu menyiapkan tim pengajar iman yang mumpuni di bidangnya. Mereka ini kemudian dikader untuk memberikan pengajaran kepada umat di berbagai paroki yang ada di suatu keuskupan. Sebelum mereka memberikan pengajaran kepada umat, mereka perlu dibekali dengan ilmu cukup tentang iman. Dengan demikian mereka sungguh mampu memberikan pengajaran yang benar kepada umat yang dipercayakan kepada mereka. Keuskupan dalam hal ini perlu mengadakan berbagai kursus teologi yang akan mempermudah tugas ini. Dengan adanya kursus ini, maka akan semakin mempermudah mencetak kader-kader iman yang militan dan mumpuni dalam hal pengetahuan imannya. Katekis-katekis yang ada di setiap keuskupan pun perlu kemudian dilibatkan dalam pewartaan iman ini. Mereka sudah dibekali pula dengan ilmu yang mereka peroleh di kampus-kampus Katolik. Dari kader-kader iman inilah diharapkan dapat memberikan warna bagi perkembangan iman umat yang sangat membutuhkannya. Inilah bentuk Gereja sinodal yang digaungkan oleh Paus Fransiskus. Gereja perlu berjalan bersama dan saling memperhatikan satu dengan yang lainnya. Dengan adanya gerak bersama ini kemudian akan membuat Kerajaan Allah sungguh terjadi di bumi ini. 2 Gereja Membina Sekaligus Menjamin Gerak Kesatuan Iman Ketika Yesus mengutus para murid-Nya. Dia pertama-tama membekali mereka dengan berbagai pengajaran. Tidak hanya itu saja. Yesus pun memberikan mereka tugas apa-apa saja yang harus mereka lakukan. 36 Dengan adanya pembagian tugas ini, para murid pun dapat mengerti apa yang harus mereka lakukan. Mereka pun menjadi tahu arah yang harus mereka Cara yang dilakukan Yesus ini pun kemudian berkembang. Hal ini dapat kita lihat ketika Yesus menunjuk Petrus untuk menjadi pemimpin Gereja. AuEngkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainyaAy (Mat 16:. Dalam hal pewartaan Yesus sangat pandai dalam mengkoordinirnya. Dia melakukan strategi-strategi yang sangat berguna untuk perkembangan jemaat. Perutusan demi perutusan yang dipercayakan kepada para murid tidaklah dilakukan tanpa tujuan yang jelas. Selalu ada maksud dan tujuan yang hendak dicapai oleh Tuhan. Gereja saat ini pun perlu mencontoh dari apa yang telah dilakukan oleh Yesus. Dalam Gereja perlu dipikirkan secara matang tentang model penggembalaan yang berdaya guna dan membawa umat semakin menghayati imannya. Berbagai strategi pastoral pun perlu dibangun berdasarkan kenyataan umatnya. Gereja dalam hal ini perlu melakukan riset untuk mengetahui apa yang menjadi permasalahan umat dan apa yang menjadi kebutuhannya. Dalam tugas pewartaan ini yang sangat penting adalah keterlibatan umat dalam ikut mewartakan Kerajaan Allah. Konsili sendiri berharap bisa membawa kaum awam secara lebih penuh ke dalam kehidupan Gereja, sebab semua orang Katolik yang telah dibaptis pada hakikatnya sama dan semartabat. 37 Gereja tidak bisa hanya mengandalkan kaum tertahbis saja, sebab jumlahnya sangat sedikit sedangkan umat yang dilayani sangatlah banyak. Keterlibatan awam dalam pewartaan pun perlu ditingkatkan lagi, tidak hanya mereka bergender laki-laki, tetapi juga yang bergender perempuan. Perempuan pun memiliki peran tersendiri untuk membantu pewartaan dalam Gereja. 38 Maka perlulah pengkaderan awam yang kira-kira bisa diandalkan untuk melakukan pewartaan atau pun kesaksian iman di tengah masyarakat lainnya. Lih. Mat. 10:2-9. Francis X. Clark. Gereja Katolik Di Asia, 219. Bdk. Eduardus Sepryanto Nadur dan Ady Bintoro. AyKeterlibatan Kaum Perempuan Dalam Kehidupan Menggereja Di Paroki Katedral Keuskupan Raja SorongAy. Jurnal Jumpa. Vol. Vi No. 2 (Oktober, 2. , 62. Agiornamento: Jurnal Filsafat-Teologi Kontekstual Vol. No. Desember 2022 p-ISSN 2746-4695 e-ISSN 2963-5063 3 Gereja Sinodal: Kebijakan Keuskupan-Keuskupan dan Kader Iman Dalam menanggapi berbagai persoalan yang terjadi di tengah umat. Gereja Indonesia melakukan suatu refleksi mengenai imannya. Dalam proses refleksi itu. Gereja berusaha melihat perjalanan imannya apakah sudah seperti yang diharapkan atau masih jauh dari citacita. Dari refleksi ini dapat dilihat bahwa dalam Gereja perlu banyak berbenah. Banyak aspekaspek dalam kehidupan menggereja masih jauh dari yang diharapkan. Berbagai persoalan yang timbul seperti dangkalnya iman orang-orang muda. Tidak heran kalau kemudian mereka dengan mudahnya pindah agama. Ketika melihat realitas ini kemudian Gereja terketuk untuk berpikir dan merefleksikan apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi persoalan ini. Dalam hal ini Gereja Keuskupan Ketapang yang secara khusus mengalami masalah ini pun kemudian melakukan terobosan yang akan berguna untuk kehidupan iman umat. Hal yang dilakukan adalah dengan membuat arah dasar keuskupan. Di dalam arah dasar keuskupan ini secara khusus diangkat mengenai pentingnya tangguh dalam hidup beriman. Ketika orang atau umat tangguh dalam hidup beriman, maka dia tidak akan mudah melepaskan imannya ketika dihadapkan pada suatu persoalan seperti halnya ketika akan menikah dengan pasangan yang berbeda keyakinan. Berbagai langkah yang sudah dimulai adalah dengan pertama-tama membina kaderkader iman yang ada di paroki-paroki. Dalam hal ini paroki mengutus 3 sampai 4 orang untuk diberikan bekal bagaimana supaya menjadi orang Katolik yang militan. Berbagai jenis pembinaan pun dilakukan mulai dari seminar-seminar, character building, rekoleksi dan bagaimana membangun kerja sama yang baik dalam kehidupan menggereja. Ketika kaderkader ini selesai menjalani pembinaannya, maka mereka pun kembali ke paroki masingmasing. Ketika sampai di paroki, kader-kader iman ini kemudian menularkan apa yang sudah mereka terima dalam pelatihan dan pembinaan kepada para umat. Berbagai hal pun mereka lakukan pula di paroki seperti halnya rekoleksi dan seminar-seminar yang mendukung semangat umat untuk semakin beriman. Semua kegiatan yang dilakukan ini bertujuan pertamatama supaya umat semakin dalam tangguh dalam hidup beriman. Tidak berhenti di situ saja, umat pun diharapkan mampu menjadi garam dan terang dunia di mana pun mereka berada . Mat. 5:13-. Wujud konkritnya adalah mereka pun mau terlibat dalam kehidupan Bila mereka ditunjuk menjadi memimpin ibadat entah waktu paskah atau natal, mereka pun dengan berani menjalankan tugas tersebut dengan sepenuh hati. 40 Tindakan ini senada dengan apa yang dikatakan oleh Paus Fransiskus bahwa AuUmat Allah yang kudus mengambil bagian juga dalam tugas kenabian Kristus, dengan menyebarluaskan kesaksian hidup tentang-Nya terutama melalui hidup iman dan cinta kasih, pun pula dengan mempersembahkan kepada Allah korban pujian, buah-hasil bibir yang mengakui namaNya . Ibr. KESIMPULAN Hidup dalam persekutuan merupakan hakikat sekaligus menjadi identitas jati diri Gereja perdana (Bdk. Kis 2: 41-. Hidup dan gerak bersama sebagai persekutuan ini merupakan kekhasan ajaran maupun pola relasi Yesus bersama para murid-Nya. Pola relasi yang dibentuk oleh Yesus ini ialah relasi di dalam kasih. 42 Sebagaimana hal ini dipertegas oleh Yesus sendiri Lih. Keuskupan Ketapang. Arah Dasar Keuskupan Ketapang. Ibid. Bdk. Tandroyato. Silvester Adinuhgra dan Paulina Maria. AuPeran Katekis Dalam Kaderisasi Pemimpin Ibadat Sabda Hari Minggu Di Stasi Santa Theresia Talekoi Paroki Santo Paulus BuntokAy. Jurnal Pastoral Kateketik. Vol. 5 No. 2 (September, 2. , 94. Konstantinus Bahang. Ibid. , 57. Dodd. The Interpretation of The Fourth Gospel, dalam pembahasan mengenai tema Union with God (Cambridge: University Press, 2. , 187- 200. Agiornamento: Jurnal Filsafat-Teologi Kontekstual Vol. No. Desember 2022 p-ISSN 2746-4695 e-ISSN 2963-5063 bahwa Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku (Yoh 17:. Dengan demikian tepatlah bila mana wajah Gereja di zaman sekarang menampilkan wajah Gereja Sinodal, yang artinya berjalan bersama. Berjalan bersama merupakan wujud dan misi terealisasinya Kerajaan Allah di bumi. Misi luhur Kristus inilah yang dihidupi oleh Gereja sampai saat ini. Misi itu ialah menanggapi panggilan, menjalankan perutusan, memberikan pewartaan dalam kesatuan iman sampai pada karya keselamatan. Misi ini tercermin dan terpantul pada wajah-wajah Gereja di keuskupan, khususnya di Keuskupan Ketapang. Sebagaimana kesadaran akan wajah dan gerak Gereja Sinodal itu tertuang dalam visi misi keuskupan yaitu. Aupersaudaraan murid-murid Yesus Kristus yang semakin tangguh dalam beriman dan dalam pelayanan kasih dengan semangat kasih yang dicurahkan oleh Roh Kudus (Rm 5:. dan seturut teladan St. Gemma Galgani. Ao43 Dengan demikian jelas bahwa gerak persekutuan menjadi gerak perubahan. Gerak perubahan ini merupakan gerak transformasi iman yang semakin matang dan hidup di dalam semangat kasih (Yoh 3:. DAFTAR PUSTAKA