Jurnal Teknologika (Jurnal Teknik-Logika-Matematik. 2024,14. ,539-547,DOI 10. 51132/teknologika. Analisis Total Productive Maintenance (TPM) Dengan Menggunakan Metode Overall Equipment Effectiveness Pada Mesin Drayer Di PT. IJK. ANALYSIS OF TOTAL PRODUCTIVE MAINTENANCE (TPM) USING THE OVERALL EQUIPMENT EFFECTIVENESS METHOD ON DRAYER MACHINES AT PT. IJK Kharis Gunawan1. Muhammad Ali Akbar2. Osep Hijuzaman3 Sekolah Tinggi Teknologi Wastukancana Purwakarta kharisgwn@gmail. com, maliakbar@wastukancana. id, osep@wastukancana. Corresponding author: maliakbar@wastukancana. Abstrak. PT. IJK. telah menerapkan Total Productive Maintenance guna meningkatkan efisiensi dan efektivitas perusahaan manufaktur secara menyeluruh. Namun dalam pelaksanaannya masih belum optimal yang dilihat dari tingginya kejadian kerusakan mesin dan nilai downtime mesin. Adanya persoalan breakdown time tentunya mengurangi nilai availability mesin pada saat proses Hal ini menyebabkan tingginya tingkat menganggur mesin yang menjadi penghambat perusahaan dalam mencapai target produksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur nilai efektivitas peralatan, mencari akar penyebab masalah pada mesin dan memberikan usulan perbaikan guna meningkatkan tingkat keefektivan mesin sehingga perusahaan mampu memenuhi permintaan konsumen sesuai dengan target produksi. Penelitian dilakukan pada mesin drayer yang selama ini memiliki tingkat breakdown yang tertinggi. Penelitian ini dimulai dengan mengukur pencapaian nilai Overall Equipment Efectiveness (OEE), kemudian mengidentifikasi six big losses yang terjadi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata nilai OEE pada mesin drayer sebesar 76,36 %, nilai efektivitas ini tergolong sangat rendah karena standar nilai OEE untuk perusahaan kelas dunia idealnya adalah 85%. Faktor terbesar yang mempengaruhi rendahnya nilai OEE adalah performance rate dengan faktor presentase six big losses pada Reduced speed loss sebesar 18,17 % dari seluruh loss time. Tindakan perbaikan yang diusulkan adalah menyiapkan perlengkapan autonomous maintenance, memberikan training bagi operator dan teknisi maintenance serta melakukan pengawasan terhadap operator tentang faktor lingkungan kerja melalui kebersihan tempat kerja guna mendukung aktivitas kerja yang aman, nyaman, dan Kata kunci: TPM. OEE. Six Big Losses. Fishbone, 5W 1H. Abstract. In order to improve the efficiency and effectiveness of the manufacturing company as a whole. PT. IJK. has implemented Total Productive Maintenance. However, the implementation is still not optimal, as evidenced by the high incidence of machine damage and the value of machine The existence of downtime problems certainly reduces the value of machine availability during the production process. This results in a high level of machine idleness, which is an obstacle for the company to achieve its production goals. The purpose of this study is to measure the value of equipment effectiveness, to find the root cause of problems on the machine, and to provide suggestions for improvements to increase the level of machine effectiveness so that the company is able to meet consumer demand in accordance with production targets. The research was conducted on the drayer machine, which has the highest failure rate. The research began by measuring the achievement of Overall Equipment Effectiveness (OEE) and then identifying the six major losses that occur. The results showed that the average OEE value on the drayer machine 36%, this effectiveness value is classified as very low because the standard OEE value for world-class companies is ideally 85%. The biggest factor affecting the low OEE value is the performance rate with a percentage factor of six major losses on Reduced Speed Loss of 18. of the total loss time. The proposed corrective action is to set up autonomous maintenance equipment to give the equipment a high level of performance. Keywords: TPM. OEE. Six Big Losses. Fishbone, 5W 1H. Jurnal Teknologika (Jurnal Teknik-Logika-Matematik. 2024,14. ,539-547,DOI 10. 51132/teknologika. Pendahuluan Di era berkembangnya dunia industri, perusahaan Ae perusahaan terus bersaing untuk memuaskan kebutuhan konsumen dan meningkatkan keuntungan perusahaan. Berbagai cara dilakukan oleh perusahaan untuk memenuhi kebutuhanAekebutuhan dari konsumen mereka. Kebutuhan konsumen yang beragam menuntut perusahaan untuk pintar dalam mengambil Agar perusahaan selalu produktif, ketersediaan fasilitas industri sangatlah diperlukan. Oleh karena itu, peran perawatan fasilitas tersebut sangatlah diperlukan untuk menunjang performansi pekerjaan. Seiring berkembangnya zaman, kebutuhan akan teknologi mejadi semakin kompleks. Dalam dunia industri manufaktur di butuhkan mesin drayer, sudah banyak sekali perusahaan menggunakan mesin tersebut dan berbagai jenis mesin drayer baik yang masih manual maupun automatic dalam jenis pengoperasiannya. PT. IJK. Salah satu perusahaan yang terletak di daerah purwakarta jawa barat yang bergerak di bidang manufaktur tekstil, dimana dalam proses pembutan produk tekstil benang polyester, biji polyester. dan hollow fiber. Salah satunya yaitu memiliki mesin drayer untuk mengeringkan dan menjaga kontur/kelembaban filamen atau serat kapas sebelum di kemas dan di kirimkan ke konsumen. PT. IJK. Salah satu perusahaan yang terletak di daerah purwakarta jawa barat tepatnya di daerah Jatiluhur yang bergerak di bidang manufaktur tekstil, dimana dalam proses pembutan produk tekstil tersebut pastinya sudah menggunakan mesin, dimana mesin tersebut terkadang mengalami kendala pada saat proses produksi di karenakan kurangnya perawatan mesin tersebut. Ketika menjalankan proses produksinya, sebuah pabrik akan membutuhkan beberapa peralatan dan mesin. Mesin dan peralatan yang digunakan dalam proses produksi memiliki kemampuan yang berbeda Ae beda, sesuai dengan umur pakainya. Kemampuan mesin yang telah menurun dapat menyebabkan kerugian bagi perusahaan dalam jangka waktu tertentu. Guna meningkatkan kembali performa dari mesin tersebut diperlukan adanya perawatan yang tepat. Tindakan perawatan yang dilakukan harus memiliki sebuah parameter dasar yang dapat menggambarkan seberapa baik mesin tersebut dapat bekerja. Perawatan merupakan bagian dari proses bisnis perusahaan dan memainkan peran penting dalam keberhasilan suatu organisasi. Dalam mempertahankan mutu dan meningkatkan produktivitas, salah satu faktor penting yang harus diperhatikan adalah masalah perawatan mesin . dan fasilitas produksi. Berkaitan dengan hal tersebut, maka pihak yang menangani masalah perawatan harus mampu menemukan sistem perawatan yang paling baik untuk dapat meminimasi jumlah breakdown mesin dan biaya perbaikan atau perawatan mesin yang Selain kerugian finansial, terjadinya kerusakan juga dapat mengancam keselamatan para pekerja. Total Productive Maintenance (TPM). Bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas perusahaan manufaktur secara menyeluruh. Dengan kata lain tujuan dari TPM adalah untuk mencapai kinerja yang ideal dan mencapai zero loss, yang artinya tanpa cacat, tanpa breakdown, tanpa kecelakaan, tanpa kesia-siaan pada proses produksi maupun proses changeover. (Nakajima, 1. Evaluasi penerapan Total Productive Maintenance (TPM) dilakukan dengan menggunakan nilai Overall Equipment Effectiveness (OEE) sebagai indikator serta mencari penyebab ketidakefektifan dari mesin tersebut dengan melakukan perhitungan six big losses untuk mengetahui faktor yang berpengaruh dari keenam faktor six big losses yang ada. Dengan melakukan perhitungan OEE, perusahaan akan mengetahui dimana posisi mereka dan dimana titik kelemahan serta bagaimana cara melakukan perbaikan (Almeanazel, 2. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah melakukan analisis dalam penerapan TPM di PT. IJK, mengetahui nilai Overall Equipment Effectiveness (OEE) yang didasarkan pada faktor availability, performance dan rate of quality. Kedua, mengetahui faktor-faktor yang menjadi penyebab menurunnya efektivitas melalui pengukuran six big losses dan mengidentifikasikan faktor-faktor dominan dari six big losses serta melakukan analisis terhadap faktor yang memberikan kontribusi paling besar menggunakan diagram fishbone. Dan terakhir, memberikan rekomendasi untuk mengatasi permasalahan utama dari keenam faktor six big losses. Jurnal Teknologika (Jurnal Teknik-Logika-Matematik. 2024,14. ,539-547,DOI 10. 51132/teknologika. Kajian Pustaka Total Productive Maintenance (TPM) Total Productive Maintenance (TPM) adalah pendekatan inovatif untuk pemeliharaan peralatan yang melibatkan personel pemeliharaan dan operator yang bekerja dalam tim yang berfokus pada menghilangkan kerusakan peralatan dan cacat terkait peralatan. Ini adalah pendekatan sistematis untuk meningkatkan sistem produksi dan kualitas dengan memasukkan semua karyawan melalui investasi moderat dalam pemeliharaan (Prabowo, 2. Overall Equipment Effectiveness (OEE) Menurut Nakajima . OEE merupakan nilai yang dinyatakan sebagai rasio antara output aktual dibagi output maksimum dari peralatan pada kondisi kinerja yang terbaik. Tujuan dari OEE adalah sebagai alat ukur performa dari suatu sistem maintenance, dengan menggunakan metode ini maka dapat diketahui ketersediaan mesin/peralatan . , efisiensi produksi . , dan kualitas output mesin/peralatan. Untuk itu hubungan antara ketiga elemen produktifitas tersebut dapat dilihat pada rumus dibawah ini. ycCyaya = Avalability y Performance y Quality . Availability merupakan ketersediaan mesin/peralatan merupakan perbandingan antara waktu operasi . peration tim. terhadap waktu persiapan . oading tim. dari suatu mesin/peralatan. Maka availibility dapat dihitung sebagai berikut. Avalability = yaycycaycnycoycaycaycoyce ycNycnycoyceOeyaycuycycuycycnycoyce yaycycaycnycoycaycaycoyce ycNycnycoyce y 100% . Performance adalah tolak ukur dari efisiensi suatu kinerja mesin menjalankan proses Perfomance rate merupakan hasil perkalian dari operating speed rate dengan net operating speed. Net operating speed berguna untuk menghitung menurunnya kecepatan Tiga faktor yang penting untuk menghitung peformance rate adalah ideal cycle time . aktu siklus ideal/waktu standa. , processed amount (Jumlah produk yang diprose. dan operation time . aktu proses mesi. Maka performance dapat dihitung sebagai berikut : ycCycyyceycycaycycnycuyci ycIycyyceyceycc ycIycaycyce ycEyceycyceycuycycoycaycuycayce ycycaycyce = ycAyceyc ycCycyyceycycaycycnycuyci ycIycaycyce y 100% . Quality rate adalah perbandingan jumlah produk yang baik terhadap jumlah produk yang Jadi quality merupakan hasil perhitungan dengan faktor processed amount dan defect Formula ini sangat membantu untuk mengungkapkan masalah kualitas proses produksi. ycEycycaycoycnycyc ycycaycyce = ycEycycuycayceycycyceycc ycaycoycuycycuycOeyayceyceyceycayc ycaycoycuycycuyc ycEycycuycayceycycyceycc ycaycoycuycycuyc y 100% . Six Big Lossess Proses produksi tentunya mempunyai losses yang mempengaruhi keberhasilannya, losses tersebut oleh Nakajima . di kelompokkan menjadi 6 besar yaitu: Downtime Losses Jika output produksinya nol dan sistem tidak memproduksi apapun, segmen waktu yang tidak berguna dinamakan downtime losses. Downtime losses terdiri dari : Breakdown losses, kerugian ini terjadi dikarenakan peralatan mengalami kerusakan, tidak dapat digunakan dan memerlukan perbaikan atau penggantian. Kerugian ini diukur dengan seberapa lama waktu selama mengalami kerusakan hingga selesai diperbaiki. Set up and adjustment time, kerugian ini diakibatkan perubahan kondisi operasi, seperti dimulainya produksi atau dimulainya shift yang berbeda, perubahan produk dan perubahan kondisi operasi. Contohnya seperti pergantian peralatan, pergantian cetakan dan pergantian jig. Speed Losses. Ketika output lebih kecil dibandingkan output pada kecepatan referensi, kondisi ini dinamakan speed lossess. Pada speed lossess belum dipertimbangkan mengenai output yang sesuai dengan spesifikasi kualitas. Idling and minor stoppages losses, merupakan kerugian yang disebabkan oleh berhentinya peralatan karena ada permasalahan sementara, seperti mesin terputus-putus . , macet . serta mesin menganggur . Jurnal Teknologika (Jurnal Teknik-Logika-Matematik. 2024,14. ,539-547,DOI 10. 51132/teknologika. Reduce speed losses, yaitu pengurangan kecepatan produksi dari kecepatan desain peralatan tersebut. Pengukuran kerugian ini dengan membandingkan kapasitas ideal dengan beban kerja aktual. Rework and quality defect, kerugian ini terjadi karena terjadi kecacatan produk selama Produk yang tidak sesuai spesifikasi perlu dirework atau dibuat scrap. Diperlukan tenaga kerja untuk melakukan proses rework dan material yang diubah menjadi scrap juga merupakan kerugian bagi perusahaan. Yield lossess, terjadi dikarenakan bahan baku terbuang. Kerugian ini dibagi menjadi dua, yaitu kerugian bahan baku akibat desain produk dan metode manufakturing serta kerugian penyesuaian karena cacat kualitas produk yang diproduksi pada awal proses produksi dan saat terjadi pergantian. Fishbone Diagram Diagram ini disebut juga diagram tulang ikan (Fishbone Char. dan berguna untuk memperlihatkan faktor Ae faktor utama yang berpengaruh pada kualitas dan mempunyai akibat pada masalah yang dipelajari. Selain itu diagram ini dapat melihat faktor Ae faktor yang lebih terperinci yang berpengaruh dan mempunyai akibat pada faktor utama tersebut yang dapat dilihat dari panah Ae panah yang berbentuk tulang ikan pada diagram fishbone tersebut. Diagram sebab akibat ini pertama kali dikembangkan pada tahun 1950 oleh seorang pakar kualitas dari Jepang yaitu Ishikawa yang menggunakan uraian grafis dan unsur Ae unsur proses. 5W 1H Perbaikan merupakan salah satu tahap peningkatan kualitas, berdasarkan tahap Ae tahap pengendalian kualitas yang telah dilakukan sebelumnya maka telah diketahui sumber Ae sumber dan akar penyebab produk cacat, maka dalam tahapan ini akan diberikan usulan perbaikan yang direkomendasikan untuk dilakukan dan diharapkan dapat mengurangi produk cacat dengan menggunakan metode 5W 1H (What. Why. Who. When. Where. Ho. What, apa yang terjadi pada proses tersebut. Where, dimana tempat atau sumber terjadinya kecacatan proses. Why, mengapa perlu dilakukan perbaikan. Who. Siapa yang akan bertanggung jawab terhadap tindakan perbaikan untuk mengawasi, mengatur, dan menghilangkan kecacatan yang dilakukan. When, kapan harus diperbaiki. How, bagaimana cara perbaikan yang dilakukan untuk mengoptimalkan setiap tahan Metode Pengumpulan Data Data informasi yang dibutuhkan dalam proses ini diperoleh berdasarkan teknik pengumpulan data yang dibedakan menurut jenisnya, yaitu : Data Primer Data primer merupakan data yang diperoleh dari pengamatan langsung di lapangan yang dilakukan dengan : Observasi pada beberapa operator lapangan secara langsung di PT. IJK. Studi Dokumentasi pengambilan data yang diperlukan, foto proses produksi secara langsung di PT. IJK. Data Sekunder Data sekunder merupakan data yang diperoleh melalui studi kepustakaan yang memiliki hubungan dengan topik yang dibahas dalampenelitian. Tahap Pengolahan Data Teknik pengolahan data dalam penelitian ini dengan cara pengamatan langsung . wawancara mandalam dan studi dokumen. Data yang dikumpulkan adalah dalam bentuk katakata, gambar, dan laporan hasil jumlah produksi, total waktu produksi, dan jumlah downtime pada bulan September 2023 Ae Februari 2024. Jurnal Teknologika (Jurnal Teknik-Logika-Matematik. 2024,14. ,539-547,DOI 10. 51132/teknologika. Hasil dan Pembahasan 1 Hasil OEE Nilai OEE dari mesin Drayer selama 6 bulan yakni sejak September 2023 hingga Februari 2024 ditunjukkan pada Tabel 1. Secara rata-rata pencapaian OEE hanya sebesar 76,36 %, bahkan pada bulan kelima nilai OEE hanya mencapai nilai terendah yakni sebesar 74,66 %. Pencapaian ini masih sangat kecil jika dibandingkan dengan nilai OEE dari peralatan dalam kondisi ideal yang merupakan standar dari perusahaan kelas dunia yaitu sebesar 85 % (Dal, 2. Nilai tersebut dengan komposisi ketiga rasio sebagai berikut: Tabel 1. Nilai OEE Bulan Availability (%) September Oktober November Desember Januari Februari Rata-rata Performance Effeciency (%) Rate Of Quality Product (%) OEE (%) Analisis Six Big Losses Setelah diperoleh nilai OEE, selanjutnya dilakukan proses identifikasi six big lossess selama 6 Dari data-data yang diperoleh, six big losses yang terjadi ditunjukkan pada Tabel 2. Tabel 2. Hasil analisa six big losses Six Big Losses Speed Loss Defect Loss Idiling Bulan Reduced Equipment Set Up and Reject Scrap Speed Failures (%) Adjusment September Oktober November Desember Januari Februari Rata-rata Dengan melakukan analisis pareto terhadap seluruh jenis losses, akar permasalahan yang sesungguhnya dapat ditemui. Dari six big losses diatas dapat digambarkan diagram pareto (Gambar 2. ) yang memperlihatkan dengan jelas pengaruh six big losses tersebut terhadap efektivitas mesin Drayer. Pada Gambar 2. terlihat bahwa Reduced Speed Losses merupakan faktor dominan yang menyebabkan rendahnya nilai OEE. Downtime Loss Jurnal Teknologika (Jurnal Teknik-Logika-Matematik. 2024,14. ,539-547,DOI 10. 51132/teknologika. Fishbone Diagram Fishbone Diagram Reduced Speed Losses Manusia Kurangnya teliti dan Kurangnya pemahaman setingan mesin Reduced Speed Sering breakdown mesin Autonomus maintenance tidak berjalan Kurang Mesin kotor Usia mesin sudah tua Metode Kebersihan mesin tidak terjaga Mesin Gambar 1. Fishbone diagram Reduced speed loss Manusia Kurangnya ketelitian dan kurangnya konsentrasi dapat mengakibatkan kelalaian apabila terjadi kerusakan mesin. Apabila konsentrasi operator berkurang akan mengakibatkan ketidaksesuaian saat melakukan pekerjaan atau pada saat proses pemasangan komponen mesin. Kurangnya pemahaman setingan mesin karena berbeda dengan controler mesin yang Mesin Mesin sering breakdown. Hal ini menyebabkan kurang optimalnya kecepatan proses produksi dari mesin tersebut. Penyebab lain yaitu umur mesin yang sudah tua. Hal ini menyebabkan kecepatan yang dimiliki mesin berbeda pada saat awal digunakan dengan pertengahan atau akhir pemakaian. Oleh karena itu, munculnya reduced speed losses dapat terjadi. Kondisi mesin yang kotor diakibatkan terjadinya kerak dalam plat drayer yang menjadikan penyaluran suhu terhadap produk terhambat oleh kerak tersebut. Metode Autonomus maintenance tidak dilakukan sehingga setingaan tidak dilakukan dengan baik terhadap mesin drayer. Yang mengakibatkan turunnya speed mesin. 5W 1H Faktor Penyebab Manusia Kurangnya dan motivasi Mesin mesin sering Why . Agar operator lebih teliti produksi/kerja Menghidari What . Where . Memberikan Departemen Produksi Pengecekan Departemen Produksi When . Ketika Sebelum akan di Who . How . Operator PT. IJK. Memberikan Operator Membuatkan Jurnal Teknologika (Jurnal Teknik-Logika-Matematik. 2024,14. ,539-547,DOI 10. 51132/teknologika. Faktor Penyebab Where . When . Who . Why . What . Metode Tidak adanya Agar tidak ada kendala saat Melakukan Departemen Produksi Sesuai yang telah Operator Mekanik Lingkungan Area kerja Proses kerja terganggu dan Pembersihan area kerja Departemen Dilakukan pada saat awal shift Operator How . Membuat Check Sheet agar dapat di kontrol operator dan Membuatkan area kerja Kesimpulan Setelah dilakukan pembahasan-pembahasan sebelumnya pada penelitian ini, dapat diambil suatu kesimpulan, yaitu: Perawatan hanya dilakukan dengan cara corrective maintenance. Besarnya rata-rata nilai OEE (Overall Equipment Effectivenes. mesin drayer untuk periode September 2023 - Februari 2024 yaitu sebesar 76,36 %. Sehingga dari hasil tersebut dapat dimasukkan dalam kategori sedang. Oleh karena itu, perlu adanya suatu upaya perbaikan agar meningkatnya nilai OEE. Jenis Six Big Losses yang dominan pada mesin drayer yaitu Reduced speed losses. Persentase terhadap losses lain yaitu sebesar 18,17 %. Sedangkan reduced speed losses memiliki nilai sebesar 75,49 % dari nilai komulatif seluruh losses yang ada. Usulan perbaikan yang dapat dilakukan dengan pendekatan 5w 1H dalam upaya menekan tingkat downtime mesin. Dengan cara Melakukan pelatihan/training operator secara bersekala tidak hanya pada saat awal masuk kerja sebagai upaya untuk meningkatkan keterampilan operator, dilakukan pengawasan oleh SPV terhadap operator dan mesin untuk memastikan setingan mesin selalu sesuai SOP, operator harus selalu membersihkan plat drayer setiap finish lot agar suhu yang tersampaikan ke filamen bersirkulasi secara maksimal, membuat jadwal untuk operator supaya selalu membersihkan area mesin setiap pergantian shift/setiap hari agar kondisi lingkungan kerja selalu bersih dan rapi, operator harus selalu memastikan setingan mesin setiap start lot, agar setingan selalu dalam standar setingan mesin, membuat checksheet baru inspeksi maintenance yang di dalamnya tercantum kategori berdasarkan komponen kritis mesin drayer, membuat SOP untuk memastikan pengecekan setiap komponen mesin untuk mempermudah mekanik dan operator dalam melakukan perawatan Referensi