OPEN ACCESS JIPSH: Jurnal Ilmu Pendidikan. Sosial dan Humaniora Vol. 1 No. November 2025. Hal. e-ISSN. 3090-028X DOI. https://doi. org/10. 58472/jipsh. Research Article Analisis Penerapan Kurikulum Merdeka dalam Membentuk Karakter Siswa Nurila Azura1. Ryanie Ibti Sania2. Agus Lestari3 Universitas Jambi. Indonesia Universitas Jambi. Indonesia Universitas Jambi. Indonesia Corresponding Author: Nurila Azura. Universitas Jambi. Indonesia Email: nurilaazura@gmail. Abstract This study aims to initiate how the Independent Curriculum is implemented as a strategic effort in shaping the character of students in the school environment. This curriculum is designed as a solution to the previous education system which was considered less flexible, by providing more freedom for students to develop their potential, think critically, and create innovation through diverse and studentcentered learning approaches. One of the main elements of the Independent Curriculum is the use of project-based learning methods aimed at strengthening the Pancasila Student Profile. This profile includes core values such as religiosity, independence, mutual cooperation, global diversity insight, and critical reasoning skills. In its implementation, the Independent Curriculum also emphasizes character formation through three main approaches, namely classroom learning activities, strengthening school culture, and community involvement. Character formation is not only carried out through open materials, but also through various activities outside the classroom such as co-curricular and extracurricular programs that instill moral and social values. The process of character formation of students is designed systematically and continuously by combining cognitive, emotional, and motor aspects, so as to produce graduates who are not only academically intelligent, but also have a strong personality and good morals. Based on the results of this study, the Independent Curriculum has significant potential in creating a more comprehensive and relevant education system to the needs of the Keywords: Synchronization of Independence. Character Building. Strengthening Moral Values Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi bagaimana Kurikulum Merdeka diterapkan sebagai upaya strategis dalam membentuk karakter siswa di lingkungan sekolah. Kurikulum ini dirancang sebagai solusi atas sistem pendidikan sebelumnya yang dinilai kurang fleksibel, dengan memberi kebebasan lebih kepada siswa untuk mengembangkan potensi diri, berpikir secara kritis, dan menciptakan inovasi melalui pendekatan pembelajaran yang beragam dan berpusat pada peserta didik. Salah satu elemen utama dari Kurikulum Merdeka adalah penggunaan metode pembelajaran berbasis proyek yang diarahkan untuk memperkuat Profil Pelajar Pancasila. Profil ini mencakup nilai-nilai inti seperti religiusitas, kemandirian, semangat gotong royong, wawasan kebinekaan global, serta kemampuan bernalar kritis. Dalam pelaksanaannya. Kurikulum Merdeka juga menitikberatkan pada pembinaan karakter melalui tiga pendekatan utama: kegiatan pembelajaran di kelas, penguatan budaya sekolah, dan keterlibatan komunitas. Pembentukan karakter tidak hanya dilakukan lewat materi ajar, tetapi juga melalui berbagai kegiatan di luar kelas seperti program kokurikuler dan ekstrakurikuler yang menanamkan nilai-nilai moral dan sosial. Proses pembentukan karakter siswa dirancang secara sistematis dan berkelanjutan dengan menggabungkan aspek kognitif, emosional, serta keterampilan JIPSH: Jurnal Ilmu Pendidikan. Sosial dan Humaniora. Vol. 1 No. November 2025 | 233 motorik, sehingga menghasilkan lulusan yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki kepribadian yang kuat dan akhlak yang baik. Berdasarkan temuan penelitian ini. Kurikulum Merdeka memiliki potensi yang signifikan dalam menciptakan sistem pendidikan yang lebih menyeluruh dan relevan dengan kebutuhan zaman. Kata kunci: Kurikulum Merdeka. Pembentukan Karakter. Penguatan Nilai Moral PENDAHULUAN Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membentuk bangsa yang berdaya saing tinggi di tingkat global. Melalui pendidikan, manusia dibentuk agar memiliki kemampuan berpikir kritis, moralitas, serta tanggung jawab sosial yang kuat. Pendidikan juga bertujuan untuk mengembangkan berbagai aspek penting dalam diri individu, seperti pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak, dan keterampilan yang bermanfaat bagi kepentingan pribadi maupun masyarakat (Slamet. Fitri, & Irawan, 2024. Ulum & Slamet, 2. Dengan demikian, pendidikan memiliki peran yang sangat strategis dalam membentuk sumber daya manusia yang berkarakter dan kompeten. Agar tujuan pendidikan dapat tercapai secara optimal, sistem pendidikan harus dirancang secara terstruktur, adaptif, dan responsif terhadap perubahan Salah satu komponen yang memiliki peran sentral dalam sistem pendidikan adalah Menurut Tyler . , kurikulum merupakan suatu rencana yang mengarahkan pengalaman belajar peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Oleh karena itu, kurikulum tidak hanya berfungsi sebagai kumpulan mata pelajaran yang diajarkan di sekolah, tetapi juga sebagai sarana strategis dalam menanamkan nilai-nilai budaya, sosial, dan karakter kebangsaan kepada peserta didik. Seiring perkembangan zaman dan kebutuhan masyarakat yang semakin kompleks, kurikulum perlu terus diperbarui agar tetap relevan serta mampu mengantisipasi persoalan Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan. Kebudayaan. Riset, dan Teknologi menggulirkan kebijakan Merdeka Belajar yang menjadi dasar lahirnya Kurikulum Merdeka. Kebijakan ini merupakan bentuk penyempurnaan dari kurikulum sebelumnya dengan menekankan fleksibilitas, diferensiasi pembelajaran, serta kebebasan peserta didik dalam mengeksplorasi potensi diri. Kurikulum Merdeka dirancang agar proses belajar lebih berpusat pada siswa . tudent-centered learnin. , di mana guru berperan sebagai fasilitator yang membantu siswa menemukan makna dari proses belajar mereka sendiri. Menurut Nadiem Makarim . Kurikulum Merdeka hadir untuk memberi ruang bagi peserta didik agar belajar sesuai dengan minat, bakat, dan kecepatan belajarnya masing-masing. Pembelajaran tidak lagi berfokus pada pencapaian nilai semata, tetapi pada pengembangan kompetensi dan karakter yang utuh. Hal ini sejalan dengan pendapat Hosnan . yang menyatakan bahwa kurikulum yang baik harus mampu membentuk peserta didik menjadi individu yang beriman, berakhlak mulia, berpengetahuan luas, kreatif, dan mandiri. Sementara Mulyasa . Kurikulum Merdeka merupakan kurikulum yang bersifat fleksibel, berorientasi pada pengembangan karakter dan kompetensi, serta mendorong kreativitas peserta Kurikulum ini hadir sebagai bentuk penyempurnaan dari Kurikulum 2013 dengan menekankan kebebasan belajar yang disesuaikan dengan potensi, minat, dan kebutuhan siswa agar proses pembelajaran menjadi lebih bermakna dan kontekstual. Pendidikan karakter menjadi aspek yang sangat krusial dalam implementasi Kurikulum Merdeka. Menurut Lickona . , pendidikan karakter merupakan usaha yang disengaja JIPSH: Jurnal Ilmu Pendidikan. Sosial dan Humaniora. Vol. 1 No. November 2025 | 234 untuk membantu seseorang memahami, merasakan, dan melakukan hal-hal yang baik. Dalam konteks Kurikulum Merdeka, pembentukan karakter dilakukan melalui pendekatan holistik yang melibatkan seluruh komponen sekolah, mulai dari lingkungan belajar, budaya sekolah, hingga peran masyarakat dan orang tua. Nilai-nilai seperti religiusitas, kejujuran, tanggung jawab, disiplin, kepedulian sosial, dan cinta tanah air dijadikan sebagai fondasi utama yang harus ditanamkan dalam diri peserta didik. Hasil penelitian terdahulu menunjukkan bahwa penerapan Kurikulum Merdeka memberikan dampak positif terhadap pembentukan karakter siswa. Penelitian yang dilakukan oleh Nurwiyati & Yulianto . menyimpulkan bahwa implementasi Kurikulum Merdeka melalui kegiatan Project Based Learning mampu menumbuhkan nilai-nilai tanggung jawab, kerja sama, serta kreativitas peserta didik. Selanjutnya, penelitian yang dilakukan oleh Lestari . menunjukkan bahwa fleksibilitas Kurikulum Merdeka mendorong guru untuk lebih inovatif dalam menanamkan nilai-nilai karakter melalui berbagai kegiatan intrakurikuler maupun ekstrakurikuler. Penelitian yang dilakukan oleh Alimuddin . juga mendukung temuan tersebut. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa SD Negeri Sindangsari 02 telah berhasil mengimplementasikan Kurikulum Merdeka dalam berbagai aspek, seperti asesmen diagnostik kognitif, penyusunan modul ajar, dan pelaksanaan pembelajaran mata pelajaran IPAS (Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosia. Sementara itu, penelitian yang dilakukan oleh Yunita et al. mengungkapkan bahwa penerapan Kurikulum Merdeka telah sejalan dengan esensi Profil Pelajar Pancasila, yang mencakup nilai-nilai akhlak mulia, kebinekaan global, berpikir kritis, gotong royong, kemandirian, dan kreativitas. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Kurikulum Merdeka tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga berperan strategis dalam membentuk karakter peserta didik agar menjadi individu yang berintegritas, adaptif, dan siap menghadapi tantangan kehidupan. Oleh karena itu, penting dilakukan penelitian dengan judul AuAnalisis Penerapan Kurikulum Merdeka dalam Membentuk Karakter SiswaAy untuk mengetahui sejauh mana efektivitas implementasi kurikulum ini dalam mewujudkan tujuan pendidikan nasional yang berkarakter dan berdaya saing global. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif karena dianggap paling relevan untuk mengkaji fenomena sosial secara mendalam, terutama dalam konteks pendidikan. Melalui pendekatan ini, peneliti dapat mengeksplorasi secara intensif pengalaman pribadi, persepsi, serta makna subjektif yang dimiliki oleh individu. Hal ini sejalan dengan pandangan Creswell . yang menyebutkan bahwa pendekatan kualitatif memungkinkan peneliti untuk memahami dinamika kehidupan secara nyata dan kontekstual. Dalam studi ini, pendekatan kualitatif digunakan untuk mengkaji bagaimana implementasi Kurikulum Merdeka berperan dalam proses pembentukan karakter peserta didik di sekolah. Fokus utama dari pendekatan ini bukan pada pencapaian temuan yang bersifat general, melainkan pada upaya memperoleh pemahaman yang komprehensif mengenai suatu fenomena dalam konteks tertentu, dengan mempertimbangkan faktor sosial, budaya, dan struktur kelembagaan yang turut JIPSH: Jurnal Ilmu Pendidikan. Sosial dan Humaniora. Vol. 1 No. November 2025 | 235 HASIL DAN PEMBAHASAN Penerapan Kurikulum Merdeka merupakan salah satu inovasi penting dalam sistem pendidikan Indonesia yang bertujuan menciptakan proses pembelajaran yang lebih bermakna, fleksibel, dan berorientasi pada pengembangan karakter peserta didik. Kurikulum ini menekankan pentingnya kebebasan bagi guru dan siswa dalam menentukan cara belajar yang paling sesuai dengan kebutuhan, potensi, dan kondisi lingkungan masing-masing. Dengan pendekatan yang lebih personal dan humanis. Kurikulum Merdeka diharapkan mampu menumbuhkan semangat belajar yang tinggi, meningkatkan kualitas pembelajaran, serta memperkuat pendidikan karakter secara berkelanjutan. Dalam praktiknya, penerapan Kurikulum Merdeka terbukti memberikan kontribusi positif terhadap peningkatan kualitas pendidikan. Hal ini dapat dilihat dari berbagai penelitian yang menunjukkan efektivitas implementasi kurikulum ini dalam membentuk karakter siswa dan meningkatkan hasil belajar. Penelitian yang dilakukan oleh Nurwiyati dan Yulianto . menemukan bahwa implementasi Kurikulum Merdeka melalui pendekatan Project Based Learning (PBL) mampu menumbuhkan nilai-nilai tanggung jawab, kerja sama, serta kreativitas peserta didik. Melalui kegiatan proyek, siswa tidak hanya memahami konsep akademik, tetapi juga belajar berkolaborasi, berpikir kritis, dan menyelesaikan masalah nyata di lingkungan Temuan ini sejalan dengan pendapat Hattie . yang menekankan bahwa keterlibatan aktif siswa dalam kegiatan belajar menjadi faktor utama yang menentukan keberhasilan proses pembelajaran. Selanjutnya. Lestari . dalam penelitiannya menjelaskan bahwa fleksibilitas Kurikulum Merdeka memberikan ruang bagi guru untuk lebih inovatif dalam menanamkan nilai-nilai karakter. Guru dapat merancang pembelajaran yang relevan dengan konteks kehidupan siswa, baik melalui kegiatan intrakurikuler maupun ekstrakurikuler. Dengan demikian, pendidikan karakter tidak lagi terbatas pada teori di kelas, tetapi terwujud dalam tindakan nyata yang dialami siswa sehari-hari. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa guru memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif untuk pembentukan karakter yang kuat dan berkelanjutan. Penelitian yang dilakukan oleh Alimuddin . turut memperkuat temuan sebelumnya. Dalam studinya di SD Negeri Sindangsari 02, ia menemukan bahwa sekolah tersebut telah berhasil mengimplementasikan Kurikulum Merdeka dalam berbagai aspek, seperti asesmen diagnostik kognitif, penyusunan modul ajar, serta pelaksanaan pembelajaran mata pelajaran IPAS (Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosia. Melalui asesmen diagnostik, guru dapat mengenali kemampuan awal siswa dan menyesuaikan strategi pembelajaran yang tepat, sehingga setiap siswa mendapatkan pengalaman belajar yang optimal sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan mereka. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Kurikulum Merdeka tidak hanya memperbaiki metode pengajaran, tetapi juga memperkuat sistem evaluasi yang berorientasi pada perkembangan individu siswa. Sementara itu. Yunita et al. mengungkapkan bahwa penerapan Kurikulum Merdeka telah sejalan dengan esensi Profil Pelajar Pancasila, yang mencakup enam dimensi utama, yaitu beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia. berkebinekaan global. bergotong royong. bernalar kritis. dan kreatif. Melalui penerapan nilai-nilai tersebut, siswa tidak hanya diarahkan untuk menjadi individu yang cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki karakter moral dan sosial yang kuat. Hal ini JIPSH: Jurnal Ilmu Pendidikan. Sosial dan Humaniora. Vol. 1 No. November 2025 | 236 membuktikan bahwa Kurikulum Merdeka berperan signifikan dalam membentuk generasi yang berintegritas, berkepribadian nasional, dan mampu bersaing di tingkat global tanpa kehilangan jati diri bangsa. Selain penelitian-penelitian tersebut, temuan serupa juga dikemukakan oleh Dewi dan Sujana . yang menegaskan bahwa kegiatan berbasis proyek dalam Kurikulum Merdeka mampu memperkuat nilai-nilai kolaboratif di antara peserta didik. Melalui kegiatan kelompok, siswa belajar menghargai perbedaan pendapat, bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama, serta mengembangkan empati terhadap orang lain. Kegiatan seperti ini secara langsung menumbuhkan kemampuan sosial dan emosional siswa yang merupakan bagian penting dari pendidikan karakter. Namun, meskipun penerapan Kurikulum Merdeka menunjukkan hasil yang menjanjikan, beberapa tantangan masih ditemukan di lapangan. Salah satu kendala utama adalah kesulitan sebagian guru dalam menyelaraskan antara pencapaian akademik dengan pembentukan karakter secara harmonis. Banyak guru yang belum sepenuhnya memahami konsep pembelajaran berdiferensiasi serta cara mengintegrasikan nilai-nilai karakter ke dalam setiap kegiatan belajar. Tantangan ini diperparah oleh keterbatasan sarana pendukung dan kurangnya pelatihan berkelanjutan bagi guru dalam memahami esensi Kurikulum Merdeka secara Sejalan dengan hal tersebut. Shobirin . menegaskan bahwa pelatihan yang memadai sangat penting untuk membantu guru mengatasi berbagai hambatan dalam implementasi Guru perlu diberikan pendampingan intensif agar mampu merancang pembelajaran yang kreatif, reflektif, dan relevan dengan kebutuhan peserta didik. Pelatihan tersebut juga dapat memperkuat pemahaman guru tentang metode evaluasi yang tidak hanya menilai aspek kognitif, tetapi juga menilai sikap, nilai, dan karakter siswa. Berdasarkan berbagai hasil penelitian terdahulu dan analisis pelaksanaan di lapangan, dapat disimpulkan bahwa Kurikulum Merdeka memiliki potensi besar dalam membentuk peserta didik yang unggul secara akademik sekaligus berkarakter kuat. Penerapannya membantu menciptakan proses belajar yang lebih fleksibel, adaptif, dan bermakna. Kurikulum ini tidak hanya menekankan aspek pengetahuan, tetapi juga membangun kesadaran moral, tanggung jawab sosial, serta kemampuan berpikir kritis yang menjadi modal penting dalam menghadapi tantangan abad ke-21. Oleh karena itu, keberhasilan implementasi Kurikulum Merdeka sangat bergantung pada kesiapan guru, dukungan kebijakan, serta keterlibatan seluruh pemangku kepentingan pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional yang berkarakter, inklusif, dan berdaya saing global. KESIMPULAN Kurikulum ini dirancang tidak hanya untuk mendorong keunggulan akademis, tetapi juga untuk membentuk pribadi siswa yang berkarakter kuat dan berintegritas. Melalui pendekatan yang adaptif dan inovatif. Kurikulum Merdeka diyakini mampu menjawab tantangan pendidikan masa kini. Hasil berbagai penelitian menunjukkan bahwa penerapannya di sekolah memiliki potensi besar dalam mendukung perkembangan karakter siswa. Dengan model pembelajaran yang fleksibel dan berpusat pada siswa, kurikulum ini juga terbukti meningkatkan motivasi serta partisipasi aktif siswa dalam proses pembelajaran. Integrasi pendidikan karakter dalam Kurikulum Merdeka terbukti efektif dalam menumbuhkan sikap dan perilaku positif. Melalui berbagai proyek bernilai, seperti kampanye antikorupsi dan kegiatan JIPSH: Jurnal Ilmu Pendidikan. Sosial dan Humaniora. Vol. 1 No. November 2025 | 237 menjaga kebersihan lingkungan, siswa belajar menerapkan nilai-nilai moral dalam kehidupan Namun demikian, guru masih menghadapi tantangan dalam memaksimalkan fleksibilitas kurikulum dan menyelaraskan antara materi akademik dengan penguatan karakter. Oleh karena itu, diperlukan dukungan yang berkelanjutan serta pelatihan yang memadai bagi tenaga pendidik agar implementasi kurikulum dapat berjalan optimal. REFERENSI