Jurnal Pendidikan Ekonomi (JURKAMI) http://jurnal. id/jurnal/index. php/JPE JURKAMI Volume 10. Nomor 2, 2025 ANALISIS LITERASI KEUANGAN SYARIAH PADA PELAKU UMKM GENERASI MILENIAL DI KOTA PACITAN Alif HaryantonC. Malta Anantyasari2 Program Studi Ekonomi Syariah. Institut Studi Islam Muhammadiyah Pacitan. Indonesia nC Corresponding Author Email: alifhariyanto038@gmail. Author Email: maltaana@isimupacitan. Abstract: The low level of Islamic financial literacy among millennial MSME actors has become an issue that may hinder optimal business management in accordance with Sharia principles. This study aims to analyze the level of Islamic financial literacy among millennial-generation MSME actors in Pacitan City. The research employs a descriptive quantitative approach using a survey method, in which data were collected through questionnaires distributed to respondents who are millennial MSME owners. Islamic financial literacy is measured based on four indicators: knowledge of financial management, credit management, savings and investment management, and risk management. The findings reveal that, in general, the Islamic financial literacy level of MSME actors falls into the less literate category. The credit management indicator recorded the lowest score and is classified as not literate, while the indicators of financial management knowledge, savings and investment management, and risk management are categorized as less literate. These results indicate the urgent need for interventions in the form of education, training, and assistance to improve the understanding and skills of MSME actors in managing finances in accordance with Islamic principles. Article History: Received: April 2025 Revision: June 2025 Accepted: June 2025 Published: August Keywords: Islamic Financial Literacy. MSMEs. Millennials. Financial Management Sejarah Artikel: Diterima: April 2025 Direvisi: Juni 2025 Disetujui: Juni 2025 Diterbitkan: Agustus Kata kunci: Literasi Keuangan Syariah. UMKM. Generasi Milenial. Manajemen Keuangan Abstrak: Rendahnya literasi keuangan syariah di kalangan pelaku UMKM generasi milenial menjadi masalah yang dapat menghambat pengelolaan usaha secara optimal sesuai prinsip syariah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat literasi keuangan syariah pada pelaku UMKM generasi milenial di Kota Pacitan. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan metode survei, di mana data diperoleh melalui penyebaran angket kepada responden yang merupakan pelaku UMKM berusia generasi milenial. Literasi keuangan syariah diukur berdasarkan empat indikator, yaitu pengetahuan pengelolaan keuangan, pengelolaan kredit, pengelolaan tabungan dan investasi, serta manajemen risiko. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum tingkat literasi keuangan syariah pelaku UMKM berada pada kategori less Indikator pengelolaan kredit menunjukkan nilai terendah dan berada pada kategori not literate, sedangkan indikator pengetahuan pengelolaan keuangan, pengelolaan tabungan dan investasi, manajemen resiko berada pada kategori less literate. Temuan ini menunjukkan bahwa masih diperlukan intervensi berupa edukasi, pelatihan, dan pendampingan untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan pelaku UMKM dalam mengelola keuangan berbasis syariah How to Cite: Alif Haryanto. Malta Anantyasari. ANALISIS LITERASI KEUANGAN SYARIAH PADA PELAKU UMKM GENERASI MILENIAL DI KOTA PACITAN. Jurnal Pendidikan Ekonomi (JURKAMI), 10 . DOI : 10. 31932/jpe. This is an open-access article under the CC-BY-SA License Copyright A2025. The Author. Jurnal Pendidikan Ekonomi (JURKAMI) | e-ISSN 2541-0938 p-ISSN 2657-1528 458 | Jurnal Pendidikan Ekonomi (JURKAMI) JURKAMI Volume 10. Nomor 2, 2025 http://jurnal. id/jurnal/index. php/JPE PENDAHULUAN Negara Indonesia berada di posisi rendah dalam peringkat tingkat literasi keuangan nasional jika dibanding dengan negara-negara tetangga khususnya negaranegara ASEAN (Gultom et al. , 2. Pada tahun 2022, tingkat literasi keuangan Indonesia baru mencapai sekitar 50% dari total jumlah penduduk yang berjumlah 270 juta jiwa (Otoritas Jasa Keuangan, 2. Sementara itu, literasi keuangan syariah di Indonesia bahkan lebih rendah, belum mencapai 10% (Sugiarti, 2. Kondisi ini menjadi perhatian serius karena rendahnya literasi keuangan berdampak langsung pada perkembangan ekonomi nasional, seperti minimnya pemahaman masyarakat dalam pengelolaan keuangan, maraknya praktik keuangan ilegal, serta hambatan dalam pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) (Hartina et al. , 2. Pentingnya literasi keuangan perlu kemampuan kognitif manusia, termasuk kemampuan dalam memahami dan merespons pengetahuan, akan menurun seiring bertambahnya usia (Anggarani et , 2. Karena itu, literasi keuangan tidak hanya harus diberikan kepada orang dewasa, melainkan harus ditanamkan sejak masa anak-anak agar mereka mampu mengelola keuangan secara bijak dan menjadi individu yang mapan secara finansial di masa depan (Iradianty & Badar, 2. Dengan pembekalan literasi keuangan sejak dini, diharapkan kebiasaan positif dalam mengatur keuangan dapat terbentuk secara berkelanjutan dan menjadi pondasi kuat dalam pengambilan keputusan keuangan yang tepat. Literasi keuangan mencakup beberapa dimensi keuangan yang harus dikuasai yang meliputi pengetahuan umum keuangan, tabungan, dan pinjaman, asuransi, serta investasi (Veriwati. Relita, and Pelipa Persyarikatan Muhammadiyah telah menunjukkan komitmen dalam meningkatkan literasi keuangan syariah. Literasi pengetahuan dan keterampilan dalam mengelola keuangan sesuai dengan prinsip-prinsip syariah yang bersumber dari Al-QurAoan dan Sunnah (Hidayah. Dengan literasi keuangan syariah yang memadai, pelaku UMKM diharapkan mampu menjalankan transaksi jual beli dengan sistem syariah, menciptakan hubungan timbal balik yang saling menguntungkan antara penjual dan pembeli berdasarkan prinsip keadilan dan larangan riba (Ulum 2. Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia pengembangan literasi keuangan syariah. Namun, kenyataannya tingkat literasi tersebut masih sangat rendah, padahal berbagai produk layanan keuangan syariah sudah tersedia. Contohnya di Kota Pacitan, jumlah UMKM tercatat mencapai 25. unit, namun hanya sekitar 5,02% atau 256 UMKM yang sudah dikategorikan mapan (Ariyanto et al. , 2. UMKM mapan ditandai dengan memiliki tempat usaha sendiri, izin lengkap, bertahan UMKM di Pacitan ini beragam, mulai dari kuliner, kerajinan, hingga unit usaha lainnya. Beragamnya jenis dan usia pelaku UMKM di Pacitan, mulai dari remaja, dewasa, hingga manula, menjadi menarik This is an open-access article under the CC-BY-SA License Copyright A2025. The Author. Jurnal Pendidikan Ekonomi (JURKAMI) | e-ISSN 2541-0938 p-ISSN 2657-1528 459 | Alif Haryanto. Malta Anantyasari. ANALISIS LITERASI KEUANGAN SYARIAH PADA PELAKU UMKM GENERASI MILENIAL DI KOTA PACITAN. untuk dikaji lebih dalam, terutama terkait tingkat literasi keuangan syariah mereka, karena literasi keuangan yang baik dapat keberlanjutan usaha UMKM secara Peneliti memilih subjek generasi milenial karena mereka berada pada usia yang memiliki semangat tinggi untuk mengembangkan kemampuan sebagai pelaku UMKM yang berpotensi sukses dan Selain itu, pada usia tersebut. UMKM memahami sistem jual beli, sehingga studi literasi keuangan syariah pada kelompok ini sangat relevan dan strategis. Penelitian terdahulu menunjukkan beberapa temuan penting. Penelitian Manginda et al . menemukan bahwa UMKM yang tergabung dalam inkubator bisnis memiliki literasi keuangan yang lebih baik, khususnya dalam perencanaan anggaran dan identifikasi risiko, meskipun penerapannya belum optimal. Rohmayanti. Samsuri, and Fitrianto . menekankan pentingnya perubahan pola pikir dan pembiasaan perilaku keuangan syariah, bukan hanya aspek kognitif semata, dalam pemberdayaan UMKM binaan Bank Indonesia. Sementara itu, penelitian Surepno and SaAodiyah . secara empiris membuktikan bahwa dimensi financial knowledge, financial behavior, dan financial attitude berpengaruh signifikan terhadap perkembangan usaha UMKM. Penelitian ini berbeda dari studi sebelumnya karena fokus pada pelaku UMKM generasi milenial di Kota Pacitan, yang mengkombinasikan aspek literasi keuangan umum dan literasi keuangan syariah secara spesifik. Studi ini juga mengaitkan literasi keuangan syariah dengan praktik dan perilaku usaha yang berlandaskan pada prinsip-prinsip syariah, yang belum banyak dikaji di konteks lokal Pacitan. METODE PENELITIAN Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode survei. Metode mengumpulkan data dari responden. Populasi penelitian adalah seluruh pelaku UMKM yang ada di Kabupaten Pacitan 033 unit usaha. Sampel yang diambil dalam penelitian ini berjumlah 124 pelaku UMKM yang termasuk dalam generasi milenial di Kabupaten Pacitan. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling, yaitu teknik pengambilan sampel dengan kriteria-kriteria (Sugiyono, 2. Jenis data dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari hasil pengisian angket tentang literasi keuangan syariah sedangkan data sekunder diperoleh berdasarkan hasil review literarur dari berbagai sumber tentang literasi keuangan syariah dan dokumentasi sebagai dukungan data primer. Angket digunakan sebagai pengumpulan data pimer dengan menyebarkannya kepada responden secara langsung. Angket dibuat dengan skala likert yang berisi pernyataan dengan alternatif jawaban AuyaAy dan AutidakAy dengan menurunkannya dari indikator literasi keuangan syariah menurut Chen dan Volpe . yaitu pengetahuan pengelolaan keuangan, pengelolaan kredit, pengelolaan tabungan dan investasi, manajemen resiko. Teknik anlisis data pada penelitian ini yaitu menggunakan statisik deskriptif untuk menggambarkan secara keseluruhan hasil dari tingkat literasi keuangan syariah pada pelaku UMKM. Alat yang digunakan untuk This is an open-access article under the CC-BY-SA License Copyright A2025. The Author. Jurnal Pendidikan Ekonomi (JURKAMI) | e-ISSN 2541-0938 p-ISSN 2657-1528 460 | Jurnal Pendidikan Ekonomi (JURKAMI) JURKAMI Volume 10. Nomor 2, 2025 http://jurnal. id/jurnal/index. php/JPE mengukur tingkat literasi keuangan syariah dibuat persentasenya. Standar yang menggunakan pertanyaan yang sudah digunakan untuk mengukur tingkat literasi disediakan kemudian diberi skor 1 jika keuangan syariah pada mahasiswa jawaban AuyaAy dan skor 0 jika jawaban menggunakan kategori penilaian dari AutidakAy, lalu dijumlahkan untuk masing(Otoritas Jasa Keuangan, 2. masing skor dengan total jawaban yang Tabel 1: Tingkat Literasi Syariah Kategori Skor Penilaian Well literate Sufficient literate Less literate Not literate Sumber: (Chen and Volpe 1. Berikut adalah bentuk pertanyaan yang digunakan untuk mengukur literasi keuangan syariah Tabel 2: Kuesioner Literasi Keuangan Indikator Sub Indikator Pemahaman prinsip dasar keuangan syariah Penyusunan berdasarkan nilai syariah Pengetahuan Pengelolaan Keuangan Pemisahan keuangan pribadi dan usaha Pencatatan transaksi sesuai prinsip syariah Pengetahuan tentang dana darurat usaha Pertanyaan Saya memahami bahwa transaksi keuangan syariah harus bebas dari unsur riba, gharar, dan maysir. Saya mengetahui bahwa prinsip bagi hasil . udharabah dan musyaraka. digunakan dalam keuangan syariah. Saya pribadi/usaha dengan mempertimbangkan nilai-nilai syariah. Saya memprioritaskan pengeluaran untuk kebutuhan yang sesuai dengan prinsip syariah. Saya memisahkan antara keuangan pribadi dan keuangan usaha dalam pencatatan dan penggunaan dana. Saya memiliki rekening terpisah untuk keperluan pribadi dan usaha. Saya mencatat setiap transaksi keuangan usaha secara rutin dan sesuai dengan prinsip syariah. Saya menggunakan sistem pencatatan yang memudahkan dalam mengidentifikasi transaksi halal dan haram. Saya memahami pentingnya memiliki dana darurat untuk keberlangsungan usaha. Saya telah menyiapkan dana darurat yang This is an open-access article under the CC-BY-SA License Copyright A2025. The Author. Jurnal Pendidikan Ekonomi (JURKAMI) | e-ISSN 2541-0938 p-ISSN 2657-1528 461 | Alif Haryanto. Malta Anantyasari. ANALISIS LITERASI KEUANGAN SYARIAH PADA PELAKU UMKM GENERASI MILENIAL DI KOTA PACITAN di Desa Nanga Dedai Kecamatan Dedai Kabupaten Sintang. Pemahaman kredit konvensional dan Pengetahuan tentang produk pembiayaan syariah Pengelolaan Kredit Evaluasi kemampuan bayar Pemahaman pelanggaran akad syariah Kepatuhan terhadap prinsip syariah dalam pembiayaan Kepemilikan tabungan usaha Pengelolaan Tabungan dan Investasi Pemahaman tabungan konvensional dan Pengetahuan investasi syariah cukup untuk menghadapi risiko usaha. Saya mengetahui perbedaan antara kredit konvensional dan pembiayaan syariah. Saya memahami bahwa pembiayaan syariah menggunakan sistem bagi hasil atau margin Saya mengetahui berbagai produk pembiayaan syariah seperti murabahah, ijarah, dan Saya memahami mekanisme kerja dari masing-masing produk pembiayaan syariah Saya selalu mengevaluasi kemampuan finansial sebelum mengajukan pembiayaan Saya mempertimbangkan risiko dan kewajiban sebelum mengambil keputusan pembiayaan. Saya memahami bahwa pelanggaran terhadap akad syariah dapat menimbulkan konsekuensi hukum dan moral. Saya berusaha untuk selalu mematuhi ketentuan dalam akad pembiayaan syariah. Saya memastikan bahwa seluruh pembiayaan yang saya ambil sesuai dengan prinsip syariah. Saya mengandung unsur riba atau ketidakjelasan . Saya memiliki tabungan khusus untuk keperluan usaha. Saya rutin menyisihkan sebagian pendapatan usaha untuk ditabung. Saya mengetahui perbedaan antara tabungan konvensional dan tabungan syariah. Saya memahami bahwa tabungan syariah menggunakan prinsip bagi hasil, bukan bunga. Saya mengetahui berbagai produk investasi syariah seperti sukuk, reksa dana syariah, dan saham syariah. Saya memahami risiko dan keuntungan dari masing-masing produk investasi syariah 462 | Jurnal Pendidikan Ekonomi (JURKAMI) JURKAMI Volume 10. Nomor 2, 2025 http://jurnal. id/jurnal/index. php/JPE Perencanaan keuangan usaha Pemahaman usaha sesuai syariah Pemahaman potensi imbal hasil investasi Penilaian profil risiko usaha Manajemen Risiko Pengetahuan asuransi syariah . Strategi kerugian usaha Sikap menghindari spekulasi dalam keputusan keuangan Saya memiliki rencana keuangan jangka pendek dan jangka panjang untuk usaha saya. Saya menetapkan tujuan keuangan yang spesifik, terukur, dan sesuai dengan prinsip Saya memahami pentingnya diversifikasi usaha untuk mengurangi risiko. Saya memastikan bahwa diversifikasi usaha yang dilakukan tetap sesuai dengan prinsip Saya memahami bahwa setiap investasi memiliki risiko dan potensi imbal hasil yang Saya mempertimbangkan profil risiko sebelum memilih instrumen investasi syariah. Saya secara berkala menilai risiko yang dihadapi oleh usaha saya. Saya memiliki strategi untuk mengelola risiko usaha yang sesuai dengan prinsip syariah. Saya mengetahui konsep dan manfaat dari asuransi syariah . Saya mempertimbangkan untuk menggunakan produk takaful sebagai perlindungan usaha. Saya memiliki rencana cadangan untuk menghadapi kemungkinan kerugian usaha. Saya mencari solusi yang sesuai dengan prinsip syariah dalam mengatasi kerugian Saya menghindari keputusan keuangan yang bersifat spekulatif dan tidak sesuai dengan prinsip syariah. Saya lebih memilih investasi yang transparan dan memiliki dasar hukum syariah yang jelas. Sumber: (Bintari and Mulyani 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Untuk mengetahui tingkat literasi keuangan syariah digunakan empat indikator pembentuk literasi keuangan yakni pengetahuan pengelolaan keuangan, pengelolaan kredit, pengelolaan tabungan This is an open-access article under the CC-BY-SA License Copyright A2025. The Author. Jurnal Pendidikan Ekonomi (JURKAMI) | e-ISSN 2541-0938 p-ISSN 2657-1528 463 | Alif Haryanto. Malta Anantyasari. ANALISIS LITERASI KEUANGAN SYARIAH PADA PELAKU UMKM GENERASI MILENIAL DI KOTA PACITAN di Desa Nanga Dedai Kecamatan Dedai Kabupaten Sintang. Tabel 3: Hasil Tanggapan Responden tentang Literasi Keuangan Syariah Banyaknya Sub Indikator Hasil Tanggapan Responden Butir Pertanyaan Pengetahuan Pengelolaan Keuangan Pemahaman prinsip Sebanyak 58 responden . %) belum memiliki keuangan pemahaman prinsip dasar keuangan syariah yang baik, sedangkan 66 responden . %) sudah memiliki pemahaman prinsip dasar keuangan syariah yang baik. Penyusunan anggaran Sebanyak 57 responden . %) belum bisa menyusun nilai anggaran berdasarkan nilai syariah, sedangkan 67 responden . %) sudah bisa menyusun anggaran berdasarkan nilai syariah. Pemisahan keuangan Sebanyak 56 responden . %) belum bisa pribadi dan usaha memisahkan keuangan pribadi dan usaha, sedangkan 69 responden . %) sudah bisa memisahkan keuangan pribadi dan usaha. Pencatatan transaksi Sebanyak 60 responden . %) belum memahami sesuai prinsip syariah pencatatan transaksi sesuai prinsip syariah, sedangkan 64 responden . %) sudah memahami pencatatan transaksi sesuai prinsip syariah. Pengetahuan tentang Sebanyak 61 responden . %) belum memiliki dana darurat usaha pengetahuan tentang dana darurat usaha yang baik, sedangkan 63 responden . %) sudah memiliki pengetahuan tentang dana darurat usaha yang baik. Pemahaman dan Sebanyak 54 responden . %) belum memiliki zakat pemahaman dan pelaksanaan zakat usaha yang baik, sedangkan 71 responden . %) sudah memiliki pemahaman dan pelaksanaan zakat usaha yang baik. Pengelolaan Kredit Pemahaman Sebanyak 69 responden . %) belum memiliki kredit pemahaman perbedaan kredit konvensional dan dan syariah yang baik, sedangkan 56 responden . %) sudah memiliki pemahaman perbedaan kredit konvensional dan syariah yang baik. Pengetahuan tentang Sebanyak 74 responden . %) belum memiliki produk pembiayaan pengetahuan tentang produk pembiayaan syariah yang baik, sedangkan 50 responden . %) sudah memiliki pengetahuan tentang produk pembiayaan syariah yang Evaluasi kemampuan Sebanyak 81 responden . %) belum mampu sebelum melakukan evaluasi kemampuan bayar sebelum 464 | Jurnal Pendidikan Ekonomi (JURKAMI) JURKAMI Volume 10. Nomor 2, 2025 http://jurnal. id/jurnal/index. php/JPE mengambil pembiayaan, sedangkan 43 responden . %) sudah mampu melakukan evaluasi kemampuan bayar sebelum mengambil pembiayaan. Pemahaman Sebanyak 88 responden . %) belum memiliki pemahaman konsekuensi pelanggaran akad syariah akad yang baik, sedangkan 37 responden . %) sudah memiliki pemahaman konsekuensi pelanggaran akad syariah yang baik. Kepatuhan terhadap Sebanyak 77 responden . %) belum mematuhi prinsip syariah dalam prinsip syariah dalam pembiayaan, sedangkan 48 responden . %) sudah mematuhi prinsip syariah dalam pembiayaan. Pengelolaan Tabungan dan Investasi Kepemilikan Sebanyak 57 responden . %) belum memiliki tabungan usaha tabungan usaha, sedangkan 68 responden . %) sudah memiliki tabungan usaha. Pemahaman Sebanyak 64 responden . %) belum memiliki perbedaan tabungan pemahaman perbedaan tabungan konvensional dan dan syariah yang baik, sedangkan 61 responden . %) sudah memiliki pemahaman perbedaan tabungan konvensional dan syariah yang baik. Pengetahuan produk Sebanyak 55 responden . %) belum memiliki investasi syariah pengetahuan produk investasi syariah yang baik, sedangkan 69 responden . %) sudah memiliki pengetahuan produk investasi syariah yang baik. Perencanaan tujuan Sebanyak 45 responden . %) belum merencanakan keuangan usaha tujuan keuangan usaha, sedangkan 80 responden . %) sudah merencanakan tujuan keuangan usaha. Pemahaman Sebanyak 41 responden . %) belum memiliki usaha pemahaman diversifikasi usaha sesuai syariah yang sesuai syariah baik, sedangkan 84 responden . %) sudah memiliki pemahaman diversifikasi usaha sesuai syariah yang Manajemen Risiko Pemahaman risiko Sebanyak 48 responden . %) belum memiliki dan potensi imbal pemahaman risiko dan potensi imbal hasil investasi hasil investasi yang baik, sedangkan 76 responden . %) sudah memiliki pemahaman risiko dan potensi imbal hasil investasi yang baik. Penilaian profil risiko Sebanyak 60 responden . %) belum memahami penilaian profil risiko usaha, sedangkan 64 responden . %) sudah memahami penilaian profil risiko usaha. Pengetahuan tentang Sebanyak 80 responden . %) belum memiliki This is an open-access article under the CC-BY-SA License Copyright A2025. The Author. Jurnal Pendidikan Ekonomi (JURKAMI) | e-ISSN 2541-0938 p-ISSN 2657-1528 465 | Alif Haryanto. Malta Anantyasari. ANALISIS LITERASI KEUANGAN SYARIAH PADA PELAKU UMKM GENERASI MILENIAL DI KOTA PACITAN di Desa Nanga Dedai Kecamatan Dedai Kabupaten Sintang. syariah pengetahuan tentang asuransi syariah . , sedangkan 45 responden . %) sudah memiliki pengetahuan tentang asuransi syariah . Strategi menghadapi Sebanyak 72 responden . %) belum memiliki kerugian usaha strategi menghadapi kerugian usaha, sedangkan 52 responden . %) sudah memiliki strategi menghadapi kerugian usaha. Sikap menghindari Sebanyak 61 responden . %) belum memahami dalam sikap menghindari spekulasi dalam keputusan keputusan keuangan keuangan, sedangkan 63 responden . %) sudah memahami sikap menghindari spekulasi dalam keputusan keuangan. Sumber : Data Primer Diolah, 2025 Berdasarkan tabel 3 di atas, diketahui bahwa rata-rata responden sudah memahami prinsip dasar keuangan syariah pemisahan keuangan pribadi dan usaha, pencatatan transaksi, dana darurat, serta zakat usaha. Meski begitu, rata-rata persentasenya masih berkisar 50-an persen, yang menunjukkan bahwa masih banyak pelaku UMKM milenial yang belum memiliki fondasi kuat dalam aspekaspek dasar pengelolaan keuangan syariah. Hal ini menjadi perhatian penting karena pengelolaan yang tepat sangat berpengaruh pada keberlanjutan usaha. Pada indikator pengelolaan kredit, literasi para pelaku UMKM tergolong cukup rendah. Sebagian besar responden belum memahami perbedaan antara kredit konvensional dan syariah, belum mengetahui produk pembiayaan syariah, dan belum memiliki kemampuan mengevaluasi kemampuan bayar sebelum mengambil pembiayaan. Juga, banyak yang belum memahami konsekuensi pelanggaran akad dan belum Hal ini menunjukkan pentingnya edukasi menyeluruh terkait pembiayaan syariah agar pelaku UMKM tidak terjebak dalam transaksi yang tidak sesuai syariah. Pada indikator pengelolaan tabungan dan investasi diketahui bahwa mayoritas responden sudah memiliki merencanakan tujuan keuangan, dan memahami diversifikasi usaha secara Namun, pemahaman terhadap perbedaan antara tabungan konvensional dan syariah serta produk investasi syariah Artinya, walaupun ada semangat menabung dan berinvestasi, pemilihan instrumen yang sesuai prinsip syariah belum sepenuhnya Sedangkan, pada indikator manajemen risiko, mayoritas responden belum memiliki pengetahuan yang baik. Banyak yang belum memahami asuransi syariah . , strategi menghadapi kerugian, dan masih kurang dalam penilaian profil risiko. Meskipun ada kemajuan dalam pemahaman risiko investasi dan sikap menghindari spekulasi, namun pemahaman menyeluruh terkait manajemen risiko usaha masih lemah. Padahal, risiko merupakan bagian yang tak terpisahkan dari dunia usaha, dan pemahaman ini sangat penting untuk menjaga keberlangsungan bisnis. 466 | Jurnal Pendidikan Ekonomi (JURKAMI) JURKAMI Volume 10. Nomor 2, 2025 http://jurnal. id/jurnal/index. php/JPE Tabel 4: Tingkat Literasi Keuangan Syariah Indikator Literasi Keuangan Syariah Pengetahuan Pengelolaan Keuangan Pengelolaan Kredit Pengelolaan Tabungan dan Investasi Manajemen Risiko Sumber : Data Primer Diolah, 2025 Pengetahuan Pengelolaan Keuangan Berdasarkan tabel di atas, diketahui bahwa pada indikator pengetahuan pengelolaan keuangan tingkat literasi UMKM generasi milenial di Pacitan berada dalam kategori less literate. Hal ini ditunjukkan dari hasil rata-rata pengetahuan pengelolaan keuangan sebesar 54%. Artinya, sebagian besar pelaku UMKM generasi milenial di Pacitan belum sepenuhnya menguasai prinsip dasar pengelolaan keuangan syariah, termasuk berdasarkan nilai-nilai syariah, pemisahan keuangan pribadi dan usaha, pencatatan transaksi syariah, serta pengelolaan dana darurat dan zakat usaha. Kondisi ini sejalan dengan temuan Hidayah . yang menyatakan bahwa keterbatasan literasi implementasi prinsip syariah dalam praktik keuangan harian pelaku usaha. Selain itu, studi Manginda et al. menunjukkan bahwa literasi finansial yang baik UMKM menyusun anggaran dan melakukan pencatatan transaksi sesuai syariah. Tingkat pemahaman yang masih tergolong rendah ini berpotensi menghambat pengambilan keputusan keuangan yang bijak dan sesuai prinsip syariah, serta dapat memengaruhi keberlangsungan usaha mereka. Hasil Tanggapan Responden Not Less Sufficient Well Literate Literate Literate Literate Pengelolaan Kredit Pada indikator pengelolaan kredit, tingkat literasi UMKM generasi milenial di Pacitan berada dalam kategori not literate. Hal ini ditunjukkan dari hasil rata-rata pengelolaan kredit sebesar 37%. Artinya, mayoritas responden belum memahami secara memadai perbedaan antara kredit konvensional dan pembiayaan syariah, belum mengenal produk pembiayaan syariah, serta belum memiliki kemampuan dalam mengevaluasi kemampuan bayar Rendahnya pemahaman terhadap prinsip konsekuensi pelanggaran akad syariah menjadi perhatian penting. Kondisi ini mencerminkan lemahnya kesiapan pelaku UMKM pembiayaan syariah secara bijak dan Hal UMKM Rohmayanti et al. menekankan pentingnya pemberdayaan UMKM melalui edukasi pembiayaan syariah yang tidak hanya menekankan pada produk, tetapi juga Sementara itu, penelitian Surepno dan SaAodiyah . membuktikan bahwa rendahnya literasi pada aspek This is an open-access article under the CC-BY-SA License Copyright A2025. The Author. Jurnal Pendidikan Ekonomi (JURKAMI) | e-ISSN 2541-0938 p-ISSN 2657-1528 467 | Alif Haryanto. Malta Anantyasari. ANALISIS LITERASI KEUANGAN SYARIAH PADA PELAKU UMKM GENERASI MILENIAL DI KOTA PACITAN di Desa Nanga Dedai Kecamatan Dedai Kabupaten Sintang. pembiayaan syariah berpengaruh langsung terhadap pertumbuhan dan stabilitas usaha. Pengelolaan Tabungan dan Investasi Pada tabungan dan investasi, tingkat literasi UMKM generasi milenial di Pacitan berada dalam kategori less literate. Hal ini ditunjukkan dari hasil rata-rata pengelolaan tabungan dan investasi sebesar 58%. Meskipun sebagian besar sudah mulai merencanakan tujuan keuangan usaha dan memahami pentingnya diversifikasi usaha, pemahaman terhadap perbedaan produk tabungan konvensional dan syariah, serta produk investasi berbasis syariah masih Ini menunjukkan bahwa meskipun ada kesadaran untuk menabung dan berinvestasi, namun belum diiringi dengan pemahaman yang kuat terhadap prinsip syariah yang mendasari aktivitas keuangan Hal ini sesuai dengan hasil Sugiarti . , menyatakan bahwa generasi muda masih bingung membedakan prinsip dasar bunga dan bagi hasil dalam produk keuangan. Hasil ini juga diperkuat oleh Gultom et al. yang menemukan bahwa rendahnya pemahaman produk investasi syariah memperluas partisipasi keuangan syariah di sektor UMKM. Pengelolaan Manajemen Risiko Pada indikator manajemen risiko tingkat literasi UMKM generasi milenial di Pacitan berada dalam kategori less literate. Hal ini ditunjukkan dari hasil rata-rata pengelolaan tabungan dan investasi sebesar Artinya, lebih dari separuh responden belum memahami secara menyeluruh tentang risiko usaha, asuransi syariah . , serta strategi untuk menghadapi kerugian usaha. Rendahnya tingkat literasi ini dapat berimplikasi pada ketidaksiapan pelaku UMKM dalam menghadapi potensi kerugian dan dinamika pasar yang fluktuatif, serta kurangnya perlindungan usaha yang sejalan dengan prinsip syariah. Penelitian Hartina keputusan finansial tanpa pertimbangan risiko berpotensi menyebabkan kegagalan Hal senada juga dikemukakan oleh Ulum . , yang menyatakan pentingnya etika dan kehati-hatian dalam pengambilan keputusan bisnis, terutama pada sistem ekonomi Islam yang mengedepankan keseimbangan dan keadilan. Rata-rata Tingkat Literasi Keuangan Syariah UMKM Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat literasi keuangan syariah pelaku UMKM generasi milenial di Kota Pacitan berada pada kategori less literate dengan nilai rata-rata sebesar 49,25%. Hal ini menjadi sinyal penting bagi pemerintah daerah dan lembaga pendidikan untuk melakukan intervensi strategis. Gultom et al. menegaskan bahwa peningkatan literasi keuangan harus menjadi agenda utama pembangunan ekonomi lokal. Selain itu. Iradianty & Badar . mendorong pentingnya literasi keuangan sejak usia produktif agar tercipta pola pikir finansial yang mapan dan berkelanjutan. Penguatan literasi keuangan syariah tidak hanya berfokus pada pengetahuan, tetapi juga sikap dan keterampilan dalam pengelolaan Melalui edukasi berkelanjutan dan pendampingan praktis, pelaku UMKM dapat lebih siap menghadapi tantangan usaha dengan tetap berlandaskan pada prinsip-prinsip Islam. 468 | Jurnal Pendidikan Ekonomi (JURKAMI) JURKAMI Volume 10. Nomor 2, 2025 http://jurnal. id/jurnal/index. php/JPE PENUTUP Berdasarkan hasil penelitian, dapat keuangan syariah pelaku UMKM generasi milenial di Kota Pacitan berada pada kategori less literate dengan rata-rata skor 49,25%, yang ditunjukkan dari rendahnya pemahaman dalam aspek pengelolaan keuangan, kredit, tabungan dan investasi, serta manajemen risiko berbasis syariah. Kondisi terbatasnya pengetahuan dan keterampilan pelaku UMKM dalam mengelola keuangan sesuai prinsip-prinsip syariah, yang keputusan keuangan secara bijak dan berdampak pada keberlangsungan usaha. Oleh karena itu, diperlukan adanya upaya strategis dari pemerintah daerah, lembaga pendidikan, serta institusi keuangan syariah untuk menyelenggarakan program edukasi, pelatihan, dan pendampingan secara berkelanjutan guna meningkatkan literasi keuangan syariah, agar pelaku UMKM mampu mengelola usahanya secara profesional, mandiri, dan sesuai nilai-nilai Islam. DAFTAR PUSTAKA