LISTRA Jurnal Linguistik Sastra Terapan Vol. No. Bulan Oktober 2025, pp. https://e-jurnal. id/index. php/LISTRA/index || Nilai Sosial dalam Novel Bidadari-Bidadari Surga Karya Tere Liye (Perspektif Filsafat Prof. Dr. Notonegor. Nunik Fatmawati 1. Sutardi 2. Ida Sukowati 3 *1-3 Universitas Islam Darul AoUlum Lamongan. Indonesia 1 nunikfatmawati172@gmail. 2 sutardi@unisda. 3 idasukowati@unisda. ABSTRAK Penelitian ini menganalisis nilai sosial dalam novel "Bidadari-Bidadari Surga" karya Tere Liye melalui pendekatan sosiologi dengan perspektif filsafat Notonegoro. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan nilai material, vital, dan kerohanian yang terkandung dalam novel. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik baca dan catat untuk pengumpulan data. Keabsahan data diperoleh melalui triangulasi dengan teori yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan adanya 16 kutipan nilai material . angan, sandang, papan, kesehatan, ekonom. , 12 kutipan nilai vital . ecerdasan, keterampilan, pendidikan, pekerjaa. , dan 69 kutipan nilai kerohanian . ebenaran, keindahan, moral, relig. Penelitian ini menyimpulkan bahwa novel tersebut kaya akan nilai sosial yang relevan dengan klasifikasi Notonegoro. Kata kunci: Nilai Sosial. Sosiologi Sastra. Filsafat Prof. Dr. Notonegoro. Novel Bidadari-bidadari Surga. ABSTRACT This study analyzes the social values in Tere Liye's novel "Bidadari-Bidadari Surga" using a sociological approach with Notonegoro's philosophical perspective. The purpose of this study is to describe the material, vital, and spiritual values contained in the novel. The research method used is descriptive qualitative with reading and note-taking techniques for data collection. Data validity was obtained through triangulation with relevant theories. The results showed 16 quotations of material values . ood, clothing, shelter, health, econom. , 12 quotations of vital values . ntelligence, skills, education, occupatio. , and 69 quotations of spiritual values . ruth, beauty, morality, religio. This study concludes that the novel is rich in social values relevant to Notonegoro's classification. Kata Kunci: Social Values. Sociology of Literature. Philosophy of Prof. Dr. Notonegoro. Novel Bidadari-bidadari Surga. This is an open-access article under the CCAeBY-SA license. Pendahuluan Menurut Sutresna . sastra adalah suatu karya seni dalam eksistensinya mengungkapkan peristiwa-peristiwa hidup dan kehidupan yang terjadi di masyarakat dengan menggunakan bahasa sebagai mediumnya. Damono . mengungkapkan bahwa sastra menampilkan gambaran kehidupan, dan kehidupan itu sendiri adalah suatu kenyataan sosial. Dari pendapat tersebut dapat diartikan bahwa sastra merupakan cerminan langsung dari kehidupan sosial. Sastra tidak hanya sekadar karya seni, tetapi juga berfungsi sebagai media untuk merefleksikan, mengkritik, dan bahkan mengubah realitas sosial. Salah satu fungsi sastra adalah sebagai pembentuk nilai humaniora. Di dalam sastra itu sendiri sarat akan nilai-nilai kehidupan yang sengaja diciptakan penulis melalui tokoh, perwatakan tokoh, dan perilaku yang ditampilkan oleh tokoh dalam sebuah cerita. Nilai-nilai yang terkandung dalam sastra meliputi berbagai hal mulai dari yang dianggap sesuai dengan harapan pembaca . ilai bai. atau bahkan nilai-nilai yang tidak sesuai dengan harapan pembaca . ilai buru. (Hawa 2017:. Salah satu unsur yang ada dalam novel sebuah novel adalah tema dan amanat. Tema adalah https://e-jurnal. id/index. php/LISTRA/index listra@unisda. ide yang mendasari suatu cerita. Tema berperan sebagai pangkal tolak pengarang dalam memaparkan karya rekaan yang diciptakannya. Tema merupakan kaitan hubungan antara makna dengan tujuan pemaparan prosa rekaan oleh pengarangnya (Aminuddin, 1984:107. Seorang pengarang memahami tema cerita yang akan dipaparkan sebelum melaksanakan proses kreatif penciptaan, sementara pembaca baru dapat memahami tema bila mereka telah selesai memahami unsur-unsur yang menjadi media pemapar tema tersebut, menyimpulkan makna yang dikandungnya serta mampu menghubungkan dengan tujuan penciptaan pengarangnya (Aminuddin, 1984: . Dalam menemukan tema, pembaca sebetulnya juga dapat menemukan nilai-nilai didaktis yang berhubungan dengan masalah manusia dan kemanusiaan serta hidup dan kehidupan (Siswanto, 2008:. Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa tema dalam sebuah novel memiliki peran yang sangat sentral. Tema bukan hanya sekadar ide dasar yang menjadi landasan cerita, tetapi juga berfungsi sebagai jembatan bagi pembaca untuk memahami nilai-nilai didaktis yang ingin disampaikan oleh pengarang. Nilai didaktis adalah pesan moral atau pengajaran yang ingin disampaikan oleh pengarang melalui karya sastranya. Ini seperti sebuah pelajaran hidup yang dikemas dalam bentuk cerita, puisi, atau drama. Nilai-nilai ini bisa berupa ajaran tentang kebaikan, kebenaran, keadilan, cinta, persahabatan, dan masih banyak lagi. Nilai-nilai didaktis membantu pembaca atau penonton untuk mengembangkan nilai-nilai moral dan etika yang baik. Nilai didaktis memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk nilai-nilai sosial. Nilai sosial menurut Koentjaraningrat dalam Kamal . adalah konsepsi yang hidup di dalam alam pikiran sebagian besar warga masyarakat mengenai hal-hal yang harus mereka anggap penting dalam hidup. Nilai sosial yang ada dalam karya sastra dapat dilihat dari cerminan kehidupan masyarakat yang diinterpretasikan (Rosyadi, 1995:. Nilai sosial sangat erat kaitannya Ilmu sosiologi sastra. Sastra dan masyarakat memiliki hubungan yang saling mempengaruhi, di mana sastra menjadi cerminan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat, sekaligus juga membentuk dan memengaruhi nilai-nilai tersebut. Menurut Ratna . sosiologi sastra adalah analisis suatu karya sastra yang berkaitan dengan nilai-nilai dan norma kemasyarakatan. Semi . 4 : . mengatakan Sosiologi sastra merupakan bagian mutlak dari kritik sastra, ia mengkhususkan diri dalam menelaah sastra dengan memperhatikan segi-segi sosial kemasyarakatan. Produk ketelaahan itu dengan sendirinya dapat digolongkan ke dalam produk kritik satra. Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa nilai sosial merupakan elemen yang sangat penting dalam kajian sosiologi sastra. Sastra dan masyarakat memiliki hubungan yang saling mempengaruhi, di mana sastra tidak hanya merefleksikan nilai-nilai sosial yang ada, tetapi juga turut membentuk dan memengaruhi nilai-nilai tersebut. Novel Bidadari-bidadari Surga karya Tere Liye dipilih sebagai objek penelitian karena peneliti memiliki beberapa alasan. Pertama, novel Bidadari-bidadari Surga karya Tere Liye adalah novel yang populer sehingga dijadikan sebuah film. Kedua. Novel ini merupakan cerminan dari realitas sosial masyarakat Indonesia, khususnya di daerah pedesaan. Melalui cerita Laisa dan keluarganya, kita dapat melihat gambaran kehidupan masyarakat yang sederhana, penuh perjuangan, dan nilai-nilai gotong royong. Ketiga. Nilai-nilai sosial yang terkandung dalam novel ini dapat menjadi inspirasi bagi pembaca untuk menghadapi tantangan hidup dan membangun masyarakat yang lebih baik. Berdasarkan kisah dari novel Bidadari-bidadri Surga di atas, maka peneliti menganalisis nilai-nilai sosial yang ada dalam novel Bidadari-bidadari Surga karya Tere Liye dengan pendekatan sosiologi sastra. Peneliti menganalisis nilai-nilai sosial yang ada dalam novel Bidadari-bidadari Surga karya Tere Liye dengan teori menurut Notonagoro . sebagai nilai kehidupan. Konsep nilai menurut Notonagoro . ini merupakan konsep sosial kehidupan para masyarakat yang akan dinilai dengan nilai material, nilai vital, dan nilai Prof. Dr. (H. ) Mr. Drs. Notonogoro Lahir di Sragen. Jawa Tengah, pada 10 Desember 1905. Beliau menyelesaikan pendidikan tinggi di bidang hukum dan memiliki minat yang mendalam pada filsafat. Mengajar sebagai guru besar di Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada dan menjadi pendiri fakultas tersebut pada tahun 1968. Atas dedikasinya, beliau dianugerahi gelar doktor kehormatan (Doktor Honoris Caus. dalam bidang filsafat oleh Universitas Gadjah Mada. Prof. Dr. (H. ) Mr. Drs. Notonogoro adalah sosok penting dalam sejarah pemikiran Indonesia, khususnya dalam bidang filsafat. Beliau dikenal sebagai pelopor filsafat Pancasila dan memiliki kontribusi yang sangat besar dalam memahami dan mendalami nilai-nilai luhur Pancasila secara filosofis. Melalui pengajaran dan penelitiannya. Notonegoro berhasil mengembangkan pendidikan filsafat di Indonesia. Beliau menanamkan pentingnya memahami filsafat sebagai dasar bagi pengembangan pemikiran kritis dan rasional. Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka dapat dirumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut: . Bagaimana nilai-nilai material yang terkandung dalam novel AuBidadari-Bidadari SurgaAy karya Tere Liye menurut Notonegoro?, . Bagaimana nilainilai vital dalam novel AuBidadari-Bidadari SurgaAy menurut Notonegoro?, . Bagaimana nilainilai kerohanian dalam novel AuBidadari-Bidadari SurgaAy menurut Notonegoro? Nilai sosial Berdasarkan Prof. Dr. Notonegoro: Manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri. Mereka saling membutuhkan dan berinteraksi satu sama lain. Interaksi ini membentuk masyarakat dengan nilai-nilai yang disepakati bersama. Salah satu tokoh yang mengkaji nilai-nilai sosial adalah Prof. DR. Notonegoro. Beliau adalah seorang filsuf Indonesia yang terkenal dengan konsep nilai-nilai Pancasila. Dalam pandangannya, nilai-nilai sosial memiliki peran penting dalam menciptakan harmoni dan kesejahteraan masyarakat. Notonegoro membagi nilai-nilai sosial menjadi tiga kategori utama, yaitu nilai material, nilai vital, dan nilai kerohanian. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Menurut Sugiyono . metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat, yang digunakan untuk meneliti pada kondisi ilmiah . dimana peneliti sebagai instrumen. Sumber data dalam penelitian ini adalah novel Bidadari-bidadari Surga karya Tere Liye yang diterbitkan oleh Republika pada Oktober 2008 dengan jumlah 115 halaman. Data dalam penelitian ini adalah kalimat-kalimat atau ujaran-ujaran yang ada dalam novel ini. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik pustaka dan catat. Pengumpulan data melalui teknik pustaka ini dilakukan dengan membaca, mencatat, dan mengumpulkan data-data dari sumber data tertulis. Teknik analisis data yang digunakan peneliti adalah teknik analisis oleh Bogdan dan Biklen. Langkah-langkah analisis data yang sederhana adalah sebagai berikut: . Membaca/Menelaah Data: Peneliti membaca atau menelaah seluruh data yang terkumpul secara berulang-ulang untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam tentang isinya. Data yang di maksud adalah novel AuBidadaribidadari SurgaAy karya Tere Liye, . Memberi Kode (Codin. : Proses pemberian kode pada data untuk mengidentifikasi tema-tema atau kategori yang relevan dengan penelitian. Kode ini dapat berupa kata, frasa, atau simbol tertentu. Pemberian kode pada kalimat atau dialog yang mengandung nilai sosial, . Menemukan Tema: Setelah data diberi kode, peneliti mencari pola atau tema yang muncul dari kode-kode tersebut. Tema-tema ini kemudian dianalisis lebih lanjut untuk memahami fenomena yang diteliti. Menemukan tema maksudnya menganalisis pengelompokan nilai sosial, . Menulis Laporan: Hasil analisis data kemudian ditulis dalam bentuk laporan penelitian yang sistematis dan mudah dipahami. Menulis laporan maksudnya adalah memberikan deskripsi terhadap nilai sosial yang ada dalam bab IV. Hasil dan Pembahasan Peristiwa di dalam novel Bidadari-bidadari Surga karya Tere Liye telah ditemukan oleh penulis fakta-fakta cerita yang berkaitan dengan nilai sosial berdasarkan perspektif Filsafat Prof. Dr. Notonegoro yakni sebagai berikut: Hasil Nilai Sosial Material Nilai Sosial Material Pangan Pangan termasuk nilai material karena termasuk kebutuhan jasmani. Nilai ini terdapat dalam novel Bidadari-bidadari surga karya Tere Liye. Nilai ini terdapat dalam kutipan berikut: AuKak Laisa setiba di rumah panggung langsung menyiapkan bekal makanan seadanya, kemudian menyusul Mamak Lainuri di ladang Ay (Liye, 2008:27/M-Pg. Menyiapkan Bekal Makanan: Tindakan ini secara langsung berkaitan dengan penyediaan makanan sebagai kebutuhan hidup. Makanan Seadanya, menunjukkan bahwa makanan yang disiapkan mungkin sederhana dan tidak berlimpah, namun tetap memenuhi kebutuhan dasar untuk hidup. Berdasarkan analisis di atas, dapat disimpulkan bahwa kalimat tersebut mengandung nilai "pangan" menurut Notonegoro. Tindakan menyiapkan bekal makanan dan aktivitas di ladang menunjukkan bahwa nilai pangan merupakan salah satu kebutuhan material yang penting bagi manusia. Nilai Sosial Material Sandang Menurut Prof. Dr. Notonegoro, nilai sandang sebagai bagian dari nilai material memiliki arti penting dalam memenuhi kebutuhan jasmani manusia. Pakaian yang layak dan sesuai memungkinkan manusia untuk beraktivitas dengan nyaman dan aman, sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup. Nilai sandang dalam novel ini terdapat dalam kutipan berikut. AuLihat. Ayo lihat. Yash pagi ini mengenakan seragam merah-putih. Mamak membelikan dari kota kecamatan. Sebenarnya baju itu dibeli di pasar loak, baju bekas, tapi itu tidak penting. Yash juga tahu, kok. Hatinya sedang senang. Semalam berkali-kali terbangun. Pukul sepuluh, sebelas, dua belas, satu, dua, tiga, sampai Kak Laisa mendengus jengkel, karena setiap kali Yashinta terbangun, ia menarik-narik baju gombyor Kak Laisa, berisik bertanya jam berapa sekarang. Ay (Liye, 2008:60/M-Sd. Seragam adalah pakaian yang memiliki fungsi penting sebagai identitas dan penanda status. Dalam konteks ini, seragam merah-putih menandakan bahwa Yash adalah seorang siswa. adalah kebutuhan yang diusahakan oleh Orang tua (Mama. berperan dalam memenuhi kebutuhan sandang anak. Nilai Sosial Material Papan Nilai papan termasuk nilai material karena berguna untuk memnuhi kebutuhan Fungsi Fisik papan atau tempat tinggal memiliki wujud fisik yang nyata. terbuat dari bahan-bahan tertentu seperti kayu, beton, batu bata, dan lain sebagainya. Keberadaannya secara fisik ini memenuhi kriteria nilai material, yaitu sesuatu yang berwujud dan dapat dirasakan. Manfaat praktis bagi manusia adalah sebagai tempat berlindung, beristirahat, dan menjalankan aktivitas sehari-hari. Adapun kalimat atau kutipan dalam novel ini yang mengandung nilai papan adalah sebagai berikut. AuAtap seng yang sudah karatan dari rumah-rumaah panggung penduduk terlihat Seadanya. Yang paling ujung, yang paling tua, dan yang paling kecil, itulah rumah mereka. Ay (Liye,2008:25/M-Pn. Kalimat tersebut mengandung nilai "papan" menurut Notonegoro. Kondisi rumah yang digambarkan dalam kalimat tersebut menunjukkan bahwa tempat tinggal merupakan salah satu kebutuhan material yang penting bagi manusia. Namun, dalam kasus ini, kondisi rumah yang "seadanya" menunjukkan adanya keterbatasan Nilai Kesehatan Dalam konteks yang lebih luas, kutipan ini menunjukkan bahwa nilai material kesehatan sangat penting bagi manusia. Kesehatan adalah aset yang tak ternilai Ketika kesehatan terancam, segala upaya akan dilakukan untuk Berikut kutipan yang mengandung nilai material kesehatan AuPULANGLAH. Sakit kakak kalian semakin parah. Dokter bilang mungkin minggu depan, mungkin besok pagi, boleh jadi pula nanti malam. Benar-benar tidak ada waktu lagi. Anak-anakku, sebelum semuanya terlambat, pulanglahA. Ay (Liye, 2008:2/M-Kes. Kutipan ini dengan kuat menggambarkan nilai material kesehatan melalui kondisi kesehatan kakak yang memburuk dan ancaman kematian yang nyata. Kesehatan adalah aset penting bagi manusia, dan keluarga memiliki peran penting dalam memberikan dukungan saat seseorang sakit. Kutipan ini mengajak kita untuk merenungkan betapa berharganya kesehatan dan pentingnya menjaga hubungan baik dengan keluarga. Nilai Ekonomi Nilai material ekonomi adalah konsep yang mengacu pada nilai atau manfaat yang diberikan oleh benda-benda terial atau jasa dalam konteks ekonomi. Nilai ini tidak hanya terbatas pada nilai guna suatu benda atau jasa, tetapi juga mencakup nilai tukar yang CAAIA dalam harga pasar. Adapun nilai material ekonomi dalam novel ini terdapat dalam kutipan-kutipan berikut: AuUntuk menuruni dinding cadasnya saja sudah sulit bukan main. Maka tidak seperti desa- desa yang lazimnya dekat dengan hutan . ang otomatis berarti dekat dengan sunga. , disini penduduk menanam sawah tadah hujan, bukan bercocok-tanam dengan sawah irigasi. Ay (Liye, 2008:16/M-Eko. Kondisi desa yang sulit dijangkau dan mengandalkan sawah tadah hujan memiliki implikasi terhadap nilai material masyarakatnya. Aksesibilitas yang terbatas dapat menghambat perkembangan ekonomi desa. Masyarakat mungkin kesulitan untuk memasarkan hasil pertanian mereka atau mendapatkan barang-barang yang mereka butuhkan. nKetergantungan pada sawah tadah hujan membuat masyarakat rentan terhadap kekurangan pangan jika terjadi kekeringan atau gagal panen. Ketersediaan sumber daya alam seperti air dan lahan juga mempengaruhi nilai material masyarakat. Nilai Sosial Vital Nilai Kecerdasan Nilai kecerdasan adalah nilai atau manfaat yang diberikan oleh kemampuan kognitif manusia dalam memecahkan masalah, berpikir logis, belajar, dan beradaptasi dengan lingkungan. Kecerdasan bukan hanya tentang kemampuan akademis, tetapi juga mencakup kemampuan praktis, sosial, dan emosional. Nilai ini ada dalam kutipan: AuSiapapun di lembah itu tahu persis, di sekolah Dalimunte dikenal sebagai anak yang paling pintar, meski sekolah ini benar-benar seadanya. Dan satu bakat besar milik Dalimunte . eski untuk yang ini tidak semua penduduk lembah tah. , dia suka sekali mengutak-atik sesuatu. Ay (Lye, 2008:31/V-Kec. Kalimat "di sekolah Dalimunte dikenal sebagai anak yang paling pintar" dengan jelas menunjukkan bahwa Dalimunte memiliki kecerdasan intelektual yang Kecerdasan ini merupakan nilai vital karena sangat penting bagi seseorang untuk meraih kesuksesan dalam pendidikan dan kehidupan. Bakat Mengutak-atik. Bakat Dalimunte yang suka "mengutak-atik sesuatu" menunjukkan bahwa ia memiliki kecerdasan kinestetik atau kecerdasan praktikal. Kecerdasan ini juga merupakan nilai vital karena memungkinkan seseorang untuk menciptakan sesuatu yang baru, memperbaiki masalah, dan beradaptasi dengan Potensi untuk Berkembang. Kecerdasan dan bakat yang dimiliki Dalimunte merupakan potensi besar yang perlu dikembangkan. Potensi ini merupakan nilai vital karena dapat menjadi modal bagi Dalimunte untuk meraih kesuksesan di masa depan. Nilai Keterampilan Keterampilan adalah kemampuan untuk melakukan sesuatu dengan baik dan Keterampilan ini dapat berupa keterampilan teknis . eperti mengoperasikan komputer atau memperbaiki mesi. maupun keterampilan non-teknis . eperti berkomunikasi, bekerja dalam tim, atau memimpin, keterampilan menganyam atau membuat suatu kary. Dalam novel ini ada 3 kutipan yang mengandung nilai keterampilan, yaitu: AuANAK KECIL berumur dua belas tahun itu sedang sibuk menyusun balok-balok bambu di pinggir sungai yang mengalir deras. Mukanya serius. Mulutnya sedikit terbuka. Kepalanya terus berpikir. Sekali, dua kali, tiga kali, berkali-kali, dia menyusun ulang balok-balok itu. Jatuh, disusun kembali. Gesit. Terampil tangannya mengikatkan tali rotan. Memukul ujung bambu dengan batu agar melesak lebih dalam ke tepi sungai. Cahaya matahari pagi yang meninggi menyinari Wajahnya. Au (Liye, 2008:23/V-Ket. Menyusun Balok-balok bambu untuk dijadikan sesuatu yang berguna membutuhkan keterampilan. Pinggir sungai yang mengalir deras adalah kondisi lingkungan yang sulit dalam menyususn balok-balok bamboo, sehingga membutuhkan keterampilan khusus agar tidak terjadi kesalahan. Tindakan berkali-kali menyusun ulang menunjukkan bahwa anak tersebut tidak mudah menyerah dan terus berusaha hingga berhasil. Jatuh dan disusun kembali adalah bagian dari pembelajaran dan pengembangan keterampilan. Gesit, terampil tangannya mengikatkan tali rotan, katakata ini secara eksplisit menunjukkan bahwa anak tersebut memiliki keterampilan dalam menggunakan tangannya. memukul ujung bambu dengan batu, tindakan ini membutuhkan keterampilan dan kekuatan yang tepat. Berdasarkan analisis di atas, dapat disimpulkan bahwa kalimat tersebut mengandung nilai keterampilan menurut Notonegoro. Anak kecil tersebut menunjukkan berbagai keterampilan, seperti keterampilan motorik halus, keterampilan memecahkan masalah, keterampilan adaptasi, dan keterampilan menggunakan alat. Keterampilan-keterampilan ini sangat penting untuk kelangsungan hidup dan pengembangan diri anak tersebut Nilai Pendidikan Nilai vital pendidikan adalah nilai atau manfaat yang diberikan oleh pendidikan dalam meningkatkan kualitas hidup manusia dan memajukan masyarakat. Pendidikan bukan hanya sekadar transfer pengetahuan, tetapi juga merupakan proses pengembangan potensi diri, pembentukan karakter, dan peningkatan keterampilan yang dibutuhkan untuk meraih kesuksesan. Adapun nilai pendidikan terdapat pada kutipa berikut ini: "BUKANNYA kau seharusnya ada di sekolah. Dali? Apa yang kau lakukan di sini?" (Liye, 2008:24/V-Pend. Pendidikan dapat dianggap sebagai salah satu bentuk investasi untuk masa Dengan tidak bersekolah. Dali berpotensi kehilangan kesempatan untuk meningkatkan kualitas hidupnya di kemudian hari. Nilai Pekerjaan Nilai pekerjaan adalah nilai atau manfaat yang diberikan oleh pekerjaan dalam kehidupan manusia. Nilai ini tidak hanya terbatas pada aspek ekonomi, yaitu pendapatan yang dihasilkan, tetapi juga mencakup aspek-aspek lain yang lebih luas, seperti pengembangan diri, aktualisasi diri, kontribusi sosial, dan makna hidup. Adapun nilai pekerjaan yang ada dalam novel ini terdapat pada kutipan berikut: AuProfesor Dalimunte dengan muka serius menunjuk slide gambar bulan terbelah dua di layar LCD raksasa depan ruangan. Ay (Liye, 2008:3/V-Pek. Gelar "Profesor" menunjukkan bahwa pekerjaan utama orang ini adalah di bidang akademik, kemungkinan besar sebagai dosen atau peneliti. Nilai Sosial Kerohanian Nilai Kebenaran Nilai kebenaran adalah salah satu dari empat nilai kerohanian yang dikemukakan oleh Notonegoro. Nilai ini bersumber pada akal manusia . atio, budi, cipt. Artinya, kebenaran dapat diperoleh melalui pemikiran dan penalaran yang logis. Kebenaran adalah kesesuaian antara pengetahuan dengan kenyataan. Suatu pernyataan atau keyakinan dapat dikatakan benar jika sesuai dengan fakta atau realitas yang ada. "PULANGLAH. Sakit kakak kalian semakin parah. Dokter bilang mungkin minggu depan, mungkin besok pagi, boleh jadi pula nanti malam. Benar-benar tidak ada waktu lagi. Anak anakku, sebelum semuanya terlambat, pulanglah. " (Liye, 2008:2/K-Keb. Kalimat "Sakit kakak kalian semakin parah. " Ini adalah kebenaran faktual mengenai kondisi kesehatan si kakak. Tingkat kebenarannya bergantung pada diagnosis medis dan perkembangan penyakit. Kalimat "Benar-benar tidak ada waktu lagi. " Ini adalah kebenaran subjektif berdasarkan penilaian dokter dan keluarga. Seberapa mendesak situasi ini adalah interpretasi dari orang-orang yang terlibat. Nilai Keindahan Nilai keindahan adalah nilai atau kualitas yang memberikan pengalaman estetis yang menyenangkan bagi manusia. Keindahan dapat ditemukan dalam berbagai bentuk, baik dalam karya seni, alam, maupun dalam kehidupan sehari-hari. Nilai keindahan dalam novel Bidadari-bidadari Surga karya Tere Liye terdapat dalam kutipan=kutipan berikut: AuEmbun menggelayut di dedaunan strowberry. Buahnya yang beranjak ranum nan memerah. Hamparan perkebunan strowberry terlihat indah terbungkus selimut putih sejauh mata memandang. Ay (Liye, 2008:2/K-Ind. Kutipan ini dengan jelas menggambarkan keindahan alam, dengan embun yang menggelayut di dedaunan stroberi dan buahnya yang ranum berwarna merah. Hamparan perkebunan stroberi yang luas juga menambah keindahan pemandangan Nilai Kebaikan/Moral Nilai kebaikan atau moral merupakan salah satu dari nilai-nilai kerohanian yang penting bagi manusia. Nilai ini bersumber dari kehendak atau kemauan manusia. Menurut Notonegoro, nilai moral adalah nilai yang berkaitan dengan baik atau buruknya tindakan manusia. Nilai ini menjadi ukuran bagi manusia dalam berperilaku dan bertindak. Notonegoro membagi nilai moral menjadi dua, yaitu nilai moral yang bersifat pribadi dan nilai moral yang bersifat sosial. Nilai moral yang bersifat pribadi adalah nilai moral yang berkaitan dengan diri sendiri, seperti kejujuran, keadilan, dan tanggung jawab. Sedangkan nilai moral yang bersifat sosial adalah nilai moral yang berkaitan dengan orang lain, seperti tolong-menolong, menghormati, dan menghargai. Dalam novel Bidadari-bidadari Surga Karya Tere Liye ini mengandung banyak sekali nilai moral. Berikut kutipan dan penjelasannya. 1 AuMelepas genggaman mesra, berbisik lembut ke istrinya. Berdiri. Lantas melangkah sigap menuju podium. Ay (Liye, 2008:4/K-Mo. Melepas genggaman mesra, berbisik lembut ke istrinya: Tindakan ini menunjukkan kasih sayang, perhatian, dan kelembutan terhadap pasangan. Ini adalah nilai moral yang sangat penting dalam hubungan suami istri. Berdiri. Tindakan ini menunjukkan kesigapan dan kesiapan untuk melakukan sesuatu. Ini bisa jadi mencerminkan tanggung jawab dan inisiatif. Melangkah sigap menuju podium. Tindakan ini menunjukkan keberanian, kepercayaan diri, dan fokus pada tujuan. Ini bisa jadi merupakan nilai moral yang terkait dengan profesionalisme atau tanggung jawab terhadap tugas yang diemban. Nilai Keaagamaan "Lais berangkat. Mak. AssalammualaikumAi" "Waalaikumsalam. Ay (Liye, 2008:18/K-Rel. Assalamualaikum adalah salam yang umum diucapkan oleh umat Muslim. Arti dari "Assalamualaikum" adalah "Semoga keselamatan terlimpah atasmu. " Ucapan ini mengandung doa dan harapan agar orang yang diberi salam selalu dalam lindungan dan rahmat Allah SWT. Waalaikumsalam adalah jawaban dari salam "Assalamualaikum". Arti dari "Waalaikumsalam" adalah "Dan semoga keselamatan terlimpah juga atasmu. Jawaban ini juga mengandung doa dan harapan yang sama. Ucapan salam ini tidak hanya sekadar tradisi, tetapi juga memiliki nilai spiritual yang mendalam. Ucapan ini mengingatkan kita akan pentingnya saling mendoakan kebaikan dan keselamatan bagi sesama Muslim. Pembahasan Sesuai dengan tujuan penelitian yang telah ditetapkan, peneliti akan menguraikan dan mendiskusikan hasil analisis data untuk memberikan pemahaman yang komprehensif mengenai hasil penelitian. Hasil analisis data menunjukkan bahwan novel "Bidadari-Bidadari Surga" karya Tere Liye menyajikan berbagai nilai sosial dalam perspektif filsafat Prof. Dr. Notonegoro yang tercermin dalam interaksi antar tokohnya. Hasil penelitian ini ditemukan: Nilai sosial material Nilai material menurut Notonegoro adalah segala sesuatu yang berguna bagi unsur jasmani manusia atau benda-benda nyata yang dapat dimanfaatkan sebagai kebutuhan fisik manusia. Nilai ini berkaitan dengan kebutuhan dasar manusia seperti makanan, pakaian, tempat tinggal, dan benda-benda lain yang diperlukan untuk mempertahankan Novel ini terdapat 16 kutipan yang mengandung nilai sosial material yaitu: 3 nilai pangan, 3 nilai sandang, 3 nilai papan, 3 nilai kesehatan dan 4 nilai ekonomi. Nilai sosial vital Nilai vital menurut Notonegoro adalah segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk dapat mengadakan kegiatan atau aktivitas. Nilai ini berbeda dengan nilai material yang lebih menekankan pada pemenuhan kebutuhan fisik. Nilai vital lebih berfokus pada halhal yang memungkinkan manusia untuk berfungsi dan berpartisipasi dalam kehidupan. Novel ini terdapat 12 kutipan yang mengadung nilai vital yaitu: 3 nilai kecerdasan. 3 nilai keterampilan, 3 nilai pendidikan, 3 nilai pekerjaan. Nilai sosial kerohanian Nilai kerohanian menurut Notonegoro adalah segala sesuatu yang berguna bagi rohani Nilai ini berkaitan dengan aspek non-fisik manusia, seperti perasaan, pikiran, dan Nilai kerohanian tidak dapat diukur secara materi, tetapi sangat penting bagi kebahagiaan dan kesejahteraan manusia. Novel ini terdapat 69 kutipan yang mengandung nilai kerohanian yaitu: 3 nilai kebenaran, 6 nilai keindahan, 47 nilai kebikan/moral, 13 nilai keagamaan/religi. Simpulan Penelitian ini berhasil mengidentifikasi dan menganalisis nilai sosial yang direpresentasikan dalam novel "Bidadari-Bidadari Surga" karya Tere Liye melalui pendekatan sosiologi sastra berdasarkan perspektif filsafat Prof. Dr. Notonegoro. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Nilai pangan dalam novel ini menunjukkan akan makanan sebagai kebutuhan dan juga sebagai bagian dari suatu tradisi di Lahambay. Makanan yang penuh kesederhanaan menunjukkan tingkat ekonomi menengah ke bawah. Nilai sandang juga menunjukkan suatu kebutuhan yang vital namun karena keadaan ekonomi yang kurang sehingga seragam yang dipakai Yashinta saja dibeli dengan harga murah karena seragam bekas. Nilai papan disebutkan tempat tinggal seadanya untuk berteduh dan sebagai tempat tinggal. Nilai kesehatan yang tadinya kurang memadai namun akhirnya menjadi canggih seiring kemajuan teknologi di Lahambay. Nilai ekonomi yang ditunjukkan adalah kak Laisa yang selalu bekerja keras memenuhi kebutuhan keluarga. Nilai kecerdasan, nilai keterampilan, nilai pendidikan dan nilai pekerjaan dalam novel Bidadari-bidadari Surga karya Tere Liye secara keseluruhan menggambarkan nilai-nilai tersebut dapat membentuk karakter seseorang dan membantu mereka mengatasi berbagai kesulitan hidup. Karakter Dalimunte yang selalu rajin belajar menjadikannya seorang profesor. Karakter Yashinta yang selalu ingin tahu akan kehidupan berang-berang dan alam sekitar menjadikannya seorang wanita yang cerdas dan tangguh dalam pekerjaanya di konversasi. Kak Laisa sendiri sebagai tokoh utama yang pandai dan terampil menjadikannya petani strowberry yang sukses. Nilai kerohanian dalam novel "Bidadari-Bidadari Surga" karya Tere Liye terdiri dari 69 Nilai kerohanian tersebut adalah 3 nilai kebenaran, 6 nilai keindahan, 47 nilai moral atau kebaikan dan 13 nilai keagamaan atau religi. Novel "Bidadari-Bidadari Surga" karya Tere Liye mengandung nilai-nilai kerohanian yang kuat, yang tercermin dalam karakter dan tindakan tokoh-tokohnya, terutama Laisa. Laisa digambarkan sebagai sosok yang sangat taat Ia selalu mengandalkan Tuhan dalam menghadapi berbagai cobaan hidup. Nilai keimanan ini juga tercermin dalam kesabaran dan keikhlasannya dalam menerima Laisa rela berkorban demi kebahagiaan adik-adiknya. Ia mengutamakan kepentingan mereka di atas kepentingannya sendiri. Meskipun hidup dalam keterbatasan. Laisa selalu bersyukur atas apa yang dimilikinya. Secara keseluruhan, novel ini mengajarkan tentang pentingnya nilai-nilai kerohanian dalam menjalani kehidupan. Nilai-nilai seperti ketakwaan, kesabaran, pengorbanan, syukur, dan kasih sayang menjadi landasan bagi tokoh-tokohnya dalam menghadapi berbagai tantangan. Ia mengajarkan adik-adiknya untuk selalu bersyukur dan menghargai nikmat Tuhan. Daftar Pustaka