Journal of Maternal and Child Health Sciences (JMCHS) Volume 4. Edition 1. June 2024 DOI 10. 36086/maternalandchild. Original article THE RELATIONSHIP BETWEEN KNOWLEDGE AND ATTITUDES WITH PREMARITAL SEXUAL BEHAVIOR Dwi Agnesia1. Jawiah Jawiah2. Rosyati Pastuty3* Department of Midwifery. Politeknik Kesehatan Palembang. Palembang. Indonesia Department of Nursing. Politeknik Kesehatan Palembang. Palembang. Indonesia Department of Midwifery. Politeknik Kesehatan Palembang. Palembang. Indonesia Corresponding author: Name. Rosyati Pastuty Address. Palembang e-mail. rosyatipastuty@poltek Abstract Low sexual knowledge and an increase in negative sexual attitudes in Indonesia cause risky sexual behavior. This is a serious problem that causes an increase in the incidence of young pregnancies, transmission of sexually transmitted infections, and abortions. The purpose of the study was to determine the relationship between sexual knowledge and attitudes to sexual behavior at the Ar-Rahman Rehabilitation Center. This research method is a quantitative research with a cross-sectional approach. The sample was taken from the total population, namely 30 clients at the Ar-Rahman Rahabilitasi Center in Palembang City. The data analysis used was uni-variate analysis and bi-variate analysis of the chi-square statistical test with <0. 05 and a CI of 95%. The results of the study based on the chi-square statistical test showed that there was a significant relationship between attitudes and premarital sexual behavior with p-value=0. 04 and there was no relationship between knowledge and premarital sexual behavior with p-value=0. It is hoped that there will be cooperation between the Rehabilitation Center and health workers in providing education on premarital sexual prevention. Keywords: attitudes, knowledge, premarital sexual behavior INTRODUCTION Perilaku seksual pranikah adalah segala macam tindakan, seperti bergandengan tangan, berciuman, bercumbu, sampai melakukan senggama karena adanya dorongan hasrat seksual yang dilakukan sebelum adan ikatan pernikahan. Secara nasional, 27,4% siswa sekolah menengah melaporkan aktif secara seksual . =3. Di antara siswa yang aktif secara seksual melaporkan telah melakukan kontak seksual dengan lawan jenis . =2. , 89,7% siswa telah menggunakan kondom pada hubungan seksual terakhir . 42% remaja perempuan dan 44% remaja laki-laki usia 15-19 tahun di Amerika Serikat, pernah melakukan hubungan seksual . Meskipun baru-baru ini terjadi penurunan kehamilan remaja, 75% kehamilan remaja tidak direncanakan pada tahun 2011, artinya seperenam dari seluruh kehamilan tidak direncanakan di Amerika Serikat. Menurut data yang tersedia. Amerika Serikat memiliki angka kehamilan dan kelahiran remaja tertinggi di antara negara-negara maju . , . Berdasarkan data Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) tahun 2017 sebagian besar . ,7%) remaja mulai berpacaran pertama kali pada usia 15-17 tahun. Sedangkan data Survei Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia (SKRRI) didapatkan 29,5% remaja laki-laki dan 6,2% remaja perempuan pernah meraba kemaluan pasangannya, 48,1%. Author: Dwi Agnesia. Jawiah Jawiah. Rosyati Pastuty. Vol. Ed. June, 2024 | 14 Journal of Maternal and Child Health Sciences (JMCHS) Volume 4. Edition 1. June 2024 DOI 10. 36086/maternalandchild. remaja laki-laki dan 29,3% remaja perempuan pernah berciuman bibir, serta 79,6% remaja lakilaki dan 71,6% remaja perempuan pernah berpegangan tangan dengan pasangannya . Sekitar 4,5% remaja laki-laki dan 0,7% remaja perempuan usia 15- 19 tahun di Indonesia, mengaku pernah melakukan seksual pranikah. Proporsi terbesar remaja berpacaran pertama kali pada usia 15-17 tahun. Sekitar 33,3% remaja perempuan dan 34,5% remaja laki-laki mulai berpacaran pada saat mereka belum berusia 15 tahun. Pada usia tersebut dikhawatirkan belum memiliki keterampilan hidup . ife skill. yang memadai, sehingga berisiko memiliki perilaku pacaran yang tidak sehat seperti melakukan hubungan seksual pra nikah . Penelitian di SMK Bakti Indonesia Kuningan menunjukkan bahwa sebanyak 54,7% perilaku seksual berisiko pada perempuan, sumber informasi media visual 56,0% dan pengetahuan kurang dengan perilaku seksual berisiko sebanyak 94,5%. Uji statistik menunjukkan ada hubungan antara karakteristik dengan perilaku seksual remaja. Faktor yang mendukung terjadinya perilaku seksual berisiko yaitu kurangnya ketelitian dalam memilih informasi, serta kurangnya pengetahuan sebagai tolok ukur baik buruknya sebuah perilaku . Perilaku seksual pranikah di Indonesia masih banyak terjadi. Hal ini di karenakan kurangnya perhatian dari orang tua, faktor ekonomi, pergaulan bebas, kurangnya pengetahuan tentang kesehatan reproduksi, dan pengaruh lingkungan. Akibat dari perilaku seksual pranikah remaja dapat mengalami cemas, depresi, rendah diri, kehamilan diluar nikah, merasa di kucilkan, tekanan dari keluarga, dan dapat berkembangnya Penyakit Menular Seksual . Berdasarkan latar belakang peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang hubungan pengetahuan dan sikap dengan perilaku seksual pranikah di Pusat Rehabilitasi ArRahman Kota Palembang. METHOD Jenis penelitian ini merupakan penelitian survey analitik dengan pendekatan cross sectional yaitu pengumpulan data variabel independent dan dependent dilakukan dalam waktu Penelitian dilakukan di Pusat Rehabilitasi Ar-Rahman Kota Palembang tahun 2021. Populasi dalam penelitian adalah seluruh klien di Pusat Rehabilitasi Ar-Rahman Kota Palembang. Sampel penelitian adalah total populasi berjumlah 30 orang. Kriteria sampel penelitian adalah responden yang bersedia mengikuti penelitian dan mengisi kuesioner. Analisis data menggunakan analisis univariat dan analisis bivariat. Analisis univariat menggunakan tabel distribusi frekuensi, dan analisis bivariat menggunakan uji statistik chisquare dengan =0,05 dan CI 95%. Author: Dwi Agnesia. Jawiah Jawiah. Rosyati Pastuty. Vol. Ed. June, 2024 | 15 Journal of Maternal and Child Health Sciences (JMCHS) Volume 4. Edition 1. June 2024 DOI 10. 36086/maternalandchild. RESULT Tabel 1 Gambaran Karakteristik Responden Berdasarkan Usia. Jenis Kelamin. Pengetahaun. Sikap dan Perilaku Seksual Pranikah Karakteristik Usia O20 tahun 21-35 tahun Ou36 tahun Jumlah Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Jumlah Pengetahuan Kurang baik Baik Jumlah Sikap Negative Positif Jumlah Perilaku Seksual Pranikah Risiko berat Risiko ringan Tidak berisiko Jumlah Berdasarkan tabel 1 diketahui bahwa dari 30 responden di Pusat Rehabilitasi Ar-Rahman mayoritas berusia 21-35 tahun sebanyak 17 responden . ,7%). Sebagian besar responden dengan jenis kelamin laki-laki sebanyak 24 responden . %). Responden yang memiliki pengetahuan baik sebanyak 17 orang . ,7%). Sebagian besar responden memiliki sikap negative sebanyak 19 orang . ,3%). Sebanyak 19 orang . ,3%) responden memiliki perilaku seksual pranikah risiko berat, hanya 4 orang . ,3%) yang memiliki perilaku seksual pranikah tidak berisiko. Tabel 2 Hubungan Pengetahuan dengan Perilaku Seksual Pranikah Pengetahuan Kurang Baik Baik Perilaku Seksual Pranikah Risiko Risiko Tidak Berat Ringan Jumlah p-value 0,399 Author: Dwi Agnesia. Jawiah Jawiah. Rosyati Pastuty. Vol. Ed. June, 2024 | 16 Journal of Maternal and Child Health Sciences (JMCHS) Volume 4. Edition 1. June 2024 DOI 10. 36086/maternalandchild. Berdasarkan tabel 2 diketahui dari 30 responden yang memiliki pengetahuan baik melakukan perilaku seksual pranikah tidak berisiko sebanyak 3 orang . ,6%) dan 9 orang . ,9%) melakukan perilaku seksual pranikah risiko berat. Responden yang memiliki pengetahuan kurang baik hanya 1 orang . ,7%) melakukan perilaku seksual pranikah tidak berisiko dan 10 orang . ,9%) melakukan perilaku seksual pranikah risiko berat. Hasil uji statistik diperoleh nilai p-value=0,399 . >0,. , maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara pengetahuan dengan perilaku seksual pranikah. Tabel 3 Hubungan Sikap dengan Perilaku Seksual Pranikah Sikap Positif Negatif Perilaku Seksual Pranikah Tidak Risiko Risiko Berat Berisiko Ringan p-value 0,04 Berdasarkan tabel 3 diketahui dari 30 responden yang memiliki sikap positif melakukan perilaku seksual pranikah tidak berisiko sebanyak 2 orang . ,2%), namun sebagian besar responden melakukan perilaku seksual pranikah risiko ringan yaitu 6 orang . ,5%). Responden yang memiliki sikap negative melakukan perilaku seksual pranikah tidak berisiko sebanyak 2 orang . ,3%), namun sebagian besar responden pernah melakukan perilaku seksual pranikah berisiko berat sebanyak 16 orang . ,2%). Hasil uji statistik diperoleh nilai p-value=0,04 . <0,. , maka dapat disimpulkan bahwa ada hubungan bermakna antara sikap dengan perilaku seksual pranikah. DISCUSSION Hasil penelitian menunjukan bahwa sebagian besar responden memiliki pengetahuan Pengetahuan seksual pranikah merupakan pemahaman tentang seksualitas yang dilakukan sebelum menikah yang terdiri dari pengetahuan tentang fungsi hubungan seksual, akibat seksual pranikah, dan faktor yang mendorong seksual pranikah. Pengetahuan yang baik akan melindungi remaja dari perilaku pacaran berisiko. Semakin baik pengetahuan remaja maka semakin menghindari perilaku seksual pranikah . Berdasarkan sikap responden terhadap seksual, sebagian besar responden memiliki sikap Sikap negatif terhadap seksual dapat menyebabkan perilaku seksual pranikah risiko berat, seperti berciuman ataupun melakukan hubungan seksual. Seseorang mempunyai keinginan untuk melakukan aktivitas seksual, dikarenakan mereka beranggapan bahwa perilaku seksual pranikah merupakan hal yang dapat dilakukan sebelum menikah. Risiko remaja melakukan perilaku seks pranikah menurun dengan memiliki sikap yang positif dan niat yang kuat untuk tidak melakukan perilaku seks pranikah . Hubungan pengetahuan dengan perilaku seksual pranikah di Pusat Rehabilitasi ArRahman kota Palembang Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa tidak ada hubungan antara pengetahuan dan perilaku seksual pranikah. Hal ini dapat dilihat dari hasil uji statistik diperoleh nilai p- Author: Dwi Agnesia. Jawiah Jawiah. Rosyati Pastuty. Vol. Ed. June, 2024 | 17 Journal of Maternal and Child Health Sciences (JMCHS) Volume 4. Edition 1. June 2024 DOI 10. 36086/maternalandchild. value=0,399 . >0,. Meskipun mayoritas responden memiliki pengetahuan baik namun sebagian besar responden sudah pernah melakukan perilaku seksual pranikah risiko berat. Berbeda dengan hasil penelitian sebelumnya, yang dilakukan pada siswa SMA Negeri di Kabupaten OKU Selatan. Hasil analisis bivariat menunjukkan ada hubungan antara pengetahuan . -value=0,. dengan perilaku seksual pranikah . Penelitian yang dilakukan di Kotamobagu juga menunjukan bahwa ada hubungan antara pengetahuan . -value=0,. dengan perilaku seksual pranikah . Begitu juga hasil penelitian yang dilakukan di SMK Negeri 2 Sewon Bantul menunjukkan ada hubungan antara pengetahuan dan sikap dengan seks pranikah . Pengetahuan yang baik akan melindungi remaja dari perilaku seksual berisiko. Semakin baik pengetahuan seorang remaja maka remaj tersebut akan semakin menghindari perilaku seksual pranikah . Mengenai perilaku seksual berisiko di antara siswa yang aktif secara seksual 7,0% melakukan hubungan seksual pertama kali sebelum usia 13 tahun, 26,9% melakukan hubungan seksual dengan Ou4 orang, 20,5% melakukan hubungan seksual dengan Ou2 orang, dan 21,2% telah minum alkohol atau menggunakan narkoba sebelum hubungan seksual . Tidak semua remaja yang berpengetahuan baik akan memiliki perilaku seksual tidak berisiko, hal ini kemungkinan disebabkan karena sifat remaja yang ingin tahu . dan ingin coba-coba, kurang perhatian dari orang tua, pengaruh teman sebaya dan lingkungan, serta status ekonomi. Sumber informasi yang didapat juga berpengaruh terhadap perilaku seksual pranikah, terkadang informasi yang diperoleh justru menyesatkan dan tidak lengkap. Pengetahuan yang setengah-setengah dan tidak lengkap, tidak hanya mendorong remaja untuk mencoba melakukan perilaku seksual berisiko, tetapi juga menimbulkan kesalahan persepsi. Hubungan sikap dengan perilaku seksual pranikah di Pusat Rehabilitasi Ar-Rahman Kota Palembang Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan antara sikap dengan perilaku seksual pranikah di Pusat Rehabilitasi Ar-Rahman Kota Palembang. Hal ini dapat dilihat dari p-value= 0,04 . <0,. Hasil penelitian ini sesuai dengan apa yang dikemukan beberapa peneliti Penelitian yang dilakukan di Desa Kampung Jawa Lama Kota Lhokseumawe menunjukkan ada hubungan antara sikap . -value=0,. dengan perilaku seks pranikah . Penelitian yang dilakukan di SMPN 10 Batam tahun 2018, hasil uji chi-square didapatkan pvalue=0,00 . <0,. Hal ini dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara sikap dengan perilaku seksual pranikah . Begitu juga penelitian di SMA Negeri 1 Jamblang Kabupaten Cirebon didapatkan hasil ada hubungan antara sikap dengan perilaku seksual pra nikah (Avalue=0,. Menurut Lawrence Green, salah satu faktor yang mempermudah atau mendasari tindakan seseorang ialah sikap. Sikap merupakan determinan dari perilaku yang merupakan reaksi atau respon tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus. Adanya hubungan sikap dengan perilaku seksual pranikah, karena dengan adanya sikap positif tentang seksualitas, maka seseorang akan berperilaku baik atau perilaku seksual tidak berisiko yaitu perilaku yang sesuai dengan norma, moral, agama, sosial budaya dan kesusilaan, sehingga dapat mengendalikan diri dari perilaku seksual pranikah. Namun sebaliknya, seseorang yang memiliki sikap negatif akan memiliki perilaku seksual pranikah risiko berat, seperti berciuman, berpelukan, petting, berhubungan badan . , martubasi dan oral seks. Sikap positif dapat dikembangkan dengan mengikuti berbagai kegiatan seperti kegiatan keagamaan ataupun kegiatan sosial sehingga kepedulian terhadap sesama lebih meningkat. Author: Dwi Agnesia. Jawiah Jawiah. Rosyati Pastuty. Vol. Ed. June, 2024 | 18 Journal of Maternal and Child Health Sciences (JMCHS) Volume 4. Edition 1. June 2024 DOI 10. 36086/maternalandchild. Sikap positif juga dapat dimunculkan dengan mengikuti berbagai kegiatan olah raga, selain menyehatkan fisik, juga mampu melatih sikap positif seperti disiplin, sportifitas dan kepedulian terhadap teman sebaya. Proses terjadinya perilaku seksual pranikah memiliki beberapa faktor penyebab, baik secara internal maupun eksternal. Faktor internal dapat terjadi karena perubahan hormonal remaja, sedangkan faktor eksternal dapat terjadi karena kurangnya informasi serta pergaulan di lingkungan luar. Sumber informasi yang didapat baik secara auditif, visual maupun audiovisual saat ini sangat mudah didapatkan. Ketidakterbatasan sumber informasi khususnya perilaku seksual dapat merangsang remaja dan akhirnya diaplikasikan dalam bentuk perilaku seksual berisiko, mulai dari berimajinasi, membicarakan tentang seks sampai ketahap yang lebih berisiko seperti bersentuhan, berciuman, berpelukan, petting, berhubungan badan . , martubasi dan oral seks. CONCLUSION . PT) Pengetahuan seseorang terhadap seksual tidak berhubungan dengan perilaku seksual Ada hubungan sikap seseorang terhadap perilaku seksual Diharapkan adanya kerjasama pengurus yayasan dengan pimpinan puskesmas dalam memberikan edukasi mengenai risiko perilaku seksual pranikah. REFERENCES