Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada. Volume 25 Nomor 2. Agustus 2025 PERBANDINGAN BIAYA DAN EFEKTIVITAS ACEI-CCB DAN ARBCCB PADA PASIEN HIPERTENSI DENGAN DIABETES : TINJAUAN LITERATUR COMPARISON OF COST AND EFFECTIVENESS OF ACEI-CCB AND ARB-CCB IN HYPERTENSIVE PATIENTS WITH DIABETES : A LITERATURE REVIEW Aan Rukmana 1*. Patonah Hasimun Program Studi Magister Ilmu Farmasi. Fakultas Farmasi. Universitas Bhakti Kencana Bandung Jl. Soekarno-Hatta No. Cipadung Kidul. Kec. Panyileukan. Kota Bandung. Jawa Barat 40614 *e-mail korespondensi: aanrukmanafarmasi@gmail. ABSTRAK Hipertensi merupakan salah satu masalah kesehatan global yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah melebihi 140/90 mmHg. Kondisi ini sering disertai komplikasi serius, salah satunya Diabetes Melitus Tipe 2 (DMT. , yang dapat memperburuk tekanan darah dan meningkatkan risiko kematian. Kombinasi kedua penyakit ini umumnya berkaitan dengan gaya hidup yang tidak sehat dan membutuhkan penanganan farmakologis yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas terapi kombinasi obat dalam mengontrol tekanan darah pada pasien hipertensi dengan DMT2, serta mengevaluasi efisiensi biaya pengobatannya. Metode yang digunakan adalah tinjauan pustaka terhadap beberapa studi yang membahas penggunaan kombinasi obat, khususnya ACEI-CCB dan ARB-CCB. Hasil menunjukkan bahwa kombinasi tersebut efektif dalam menurunkan tekanan darah dan angka kematian, namun dapat meningkatkan beban biaya pengobatan. Kesimpulan dari tinjauan ini menunjukkan bahwa terapi kombinasi memiliki manfaat klinis yang signifikan, namun perlu dipertimbangkan dalam konteks efisiensi biaya untuk meningkatkan aksesibilitas dan keberlanjutan pengobatan bagi pasien. Kata Kunci : ACEI-CCB. ARB-CCB. Hipertensi. Diabetes Melitus Tipe 2 ABSTRACT Hypertension is a global health problem characterized by elevated blood pressure exceeding 140/90 mmHg. This condition is often accompanied by serious complications, one of which is Type 2 Diabetes Mellitus (T2DM), which can worsen blood pressure and increase the risk of death. The combination of these two diseases is generally associated with an unhealthy lifestyle and requires appropriate pharmacological treatment. This study aims to analyze the effectiveness of combination drug therapy in controlling blood pressure in hypertensive patients with T2DM, as well as to evaluate the costeffectiveness of treatment. The method used was a literature review of several studies discussing the use of drug combinations, specifically ACEI-CCB and ARB-CCB. The results showed that these combinations are effective in reducing blood pressure and mortality, but can increase the burden of treatment costs. The conclusion of this review indicates that combination therapy has significant clinical benefits, but needs to be considered in the context of cost-effectiveness to improve accessibility and sustainability of treatment for patients. Keywords: ACEI-CCB. ARB-CCB. Hypertension. Type 2 Diabetes Mellitus Diterima: 05 April 2025 Direview: 23 Juni 2025 Diterbitkan: 06 Agustus 2025 Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada. Volume 25 Nomor 2. Agustus 2025 PENDAHULUAN Hipertensi, atau yang lebih dikenal sebagai tekanan darah tinggi, merupakan kelainan kronis pada sistem pembuluh darah yang dapat menghambat pasokan oksigen dan nutrisi ke jaringan tubuh. Kondisi ini ditandai dengan peningkatan tekanan darah sistolik Ou140 mmHg dan/atau diastolik Ou90 mmHg, sebagaimana tercantum dalam Joint National Committee 8 (JNC . dan Perhimpunan Hipertensi Indonesia (PERHI). Hipertensi kerap berlangsung tanpa keluhan yang jelas, sehingga dikenal sebagai Ausilent killerAy. Banyak individu tidak menyadari dirinya mengidap hipertensi hingga terjadi komplikasi seperti stroke, penyakit jantung, atau gagal ginjal. Berdasarkan data World Health Organization (WHO) tahun 2021, diperkirakan lebih dari 1,28 miliar orang di seluruh dunia mengalami hipertensi, di mana dua pertiga berada di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Di Indonesia sendiri, menurut data Riskesdas 2018, prevalensi hipertensi mencapai 34,1% pada penduduk usia di atas 18 tahun, dan terus menunjukkan tren peningkatan. (Unger et al. , 2. Hipertensi kerap berkembang tanpa menunjukkan gejala yang nyata. Salah satu faktor risiko utama hipertensi adalah Diabetes Melitus (DM), khususnya tipe 2. tipe 2 menyebabkan resistensi insulin, hiperinsulinemia, dan gangguan metabolisme glukosa. Berdasarkan American Diabetes Association (ADA) tahun 2023. DM tipe 2 merupakan gangguan metabolik yang ditandai oleh kadar gula darah yang tinggi . akibat ketidakmampuan tubuh menggunakan insulin secara efektif. Gangguan ini berkontribusi terhadap peningkatan tekanan darah melalui berbagai mekanisme, termasuk peningkatan tonus vaskular, retensi natrium, dan aktivasi sistem renin-angiotensin-aldosteron. Hiperglikemia kronis juga menyebabkan kerusakan pembuluh darah yang memperparah tekanan darah tinggi dan memicu aterosklerosis. Kedua penyakit ini saling berkaitan erat dan sering kali saling memperburuk satu sama lain, sehingga pasien dengan DM tipe 2 memiliki risiko dua kali lebih besar untuk mengalami hipertensi dibandingkan populasi umum. Diagnosis Diabetes Melitus tipe 2 dilakukan melalui pengukuran kadar glukosa darah puasa Ou126 mg/dL, kadar glukosa darah sewaktu Ou200 mg/dL disertai gejala klasik, hasil tes toleransi glukosa 2 jam Ou200 mg/dL, atau kadar HbA1c Ou6,5% (PERKENI, 2021. ADA, 2. Penderita DM biasanya menunjukkan gejala klasik seperti sering buang air kecil . , rasa haus berlebihan . , peningkatan nafsu makan . , dan penurunan berat badan yang tidak diketahui sebabnya. Sebanyak 90Ae95% kasus DM adalah tipe 2, yang disebabkan oleh resistensi insulin dan disfungsi sel beta pankreas. Di Indonesia, prevalensi DM berdasarkan Riskesdas 2018 naik menjadi 10,9% dari sebelumnya 6,9% pada tahun 2013, menunjukkan perlunya intervensi pencegahan dan pengendalian yang lebih intensif. Manajemen DM mencakup modifikasi gaya hidup sehat seperti pengaturan pola makan, aktivitas fisik teratur, dan pemberian obat antidiabetik oral maupun insulin. (Waris, 2. D Dalam konteks pengobatan hipertensi pada pasien dengan DM tipe 2, kombinasi antihipertensi seperti Angiotensin-Converting Enzyme Inhibitor (ACEI) atau Angiotensin II Receptor Blocker (ARB) dengan Calcium Channel Blocker (CCB) direkomendasikan sebagai terapi lini pertama. Menurut JNC 8 dan ADA 2023. ACEI atau ARB memiliki manfaat protektif terhadap ginjal, yang sangat penting bagi penderita DM. Sementara itu. CCB membantu relaksasi otot pembuluh darah, sehingga meningkatkan efektivitas pengendalian tekanan darah. Kombinasi ACEI-CCB atau ARB-CCB terbukti menurunkan risiko kejadian kardiovaskular dan memperlambat progresivitas nefropati diabetik. Dalam praktik klinis, penggunaan kombinasi ini sering kali diperlukan karena monoterapi tidak cukup untuk mencapai target tekanan darah yang direkomendasikan, yaitu <140/90 mmHg atau bahkan <130/80 mmHg untuk pasien DM dengan risiko tinggi (Marathe et al. , 2017. Chan, 2. Kombinasi obat antihipertensi seperti Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor Ae Calcium Channel Blocker (ACEI-CCB) dan Angiotensin II Receptor Blocker Ae Calcium Channel Blocker (ARBCCB) pada pasien hipertensi dengan DM tipe 2 bertujuan untuk menurunkan tekanan darah serta mencegah komplikasi. Penanganan hipertensi bersifat jangka panjang dan menimbulkan risiko komplikasi lanjutan yang memerlukan biaya pengobatan cukup besar. Tingginya prevalensi dan sifat kronis penyakit ini dapat membebani sistem kesehatan dan finansial pasien. Oleh karena itu, melalui tinjauan ini, dikaji efektivitas dan efisiensi terapi kombinasi ACEI-CCB dan ARB-CCB dalam menurunkan tekanan darah pada pasien hipertensi yang juga menderita DM tipe 2. METODE PENELITIAN Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada. Volume 25 Nomor 2. Agustus 2025 Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan tinjauan pustaka . iterature revie. yang menitikberatkan pada evaluasi rasionalitas penggunaan obat dan analisis efektivitas biaya dari kombinasi terapi Angiotensin-Converting Enzyme InhibitorAeCalcium Channel Blocker (ACEI-CCB) serta Angiotensin II Receptor BlockerAeCalcium Channel Blocker (ARB-CCB) pada pasien hipertensi yang juga menderita diabetes melitus tipe 2 di lingkungan rumah sakit. Sumber literatur diperoleh dari berbagai basis data elektronik seperti Sinta. PubMed. Google Scholar, dan Scopus menggunakan kata kunci: AuACEI-CCBAy. AuARB-CCBAy. AuHipertensiAy, dan AuDiabetes Melitus Tipe 2Ay. Kajian ini hanya mencakup artikel yang secara spesifik membahas penerapan kombinasi terapi pada pasien dengan kondisi hipertensi yang disertai diabetes melitus tipe 2 Adapun artikel yang tidak sesuai, seperti yang hanya membahas salah satu kondisi atau merupakan tinjauan yang tidak relevan, dikecualikan dari proses analisis. Strategi pencarian dilakukan secara sistematis untuk menjamin ketepatan dan kesesuaian literatur yang digunakan. Hanya artikel yang diterbitkan dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir . 4Ae2. dan berbahasa Indonesia atau Inggris yang dimasukkan dalam kajian ini. Studi dengan desain eksperimental atau observasional diberikan prioritas, sedangkan artikel berupa laporan studi kasus dengan jumlah sampel terbatas, tidak tersedia dalam bentuk full-text, atau diterbitkan sebelum tahun 2014, dikeluarkan dari seleksi. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Setiap artikel yang lolos seleksi dianalisis berdasarkan aspek efektivitas pengobatan, kesesuaian pemilihan obat, serta efisiensi dalam hal biaya. Hasil dari setiap studi kemudian dibandingkan untuk mengidentifikasi terapi kombinasi yang paling optimal dalam menangani pasien hipertensi dengan komplikasi diabetes melitus tipe 2 secara menyeluruh. HASIL DAN PEMBAHASAN Tinjauan literatur ini dilakukan untuk mendapatkan informasi tambahan terkait perbandingan biaya dan efektivitas ACEI-CCB dan ARB-CCB pada Pasien Hipertensi dengan Diabetes. Hasil tinjauan literatur yang diperoleh terdapat pada tabel 1 Tabel 1 Penelitian Mengenai Kombinasi Obat Antihipertensi Dengan Komorbid DMT2 Penulis Tahun Sampel Metode Hasil Yulinda Pristi 90 pasien Studi analitik Kombinasi ACEI-CCB Dwi Hapysari, menunjukkan efektivitas sebesar et al. 44,74%, dengan nilai efisiensi biaya ACER Rp14. 209 dan ICER Rp7. 970,96. Putri. , & 19 pasien Cost Ef Kombinasi CCB ARB digunakan Dyahariesti. ectivenessAnalysis sebesar 14%, sedangkan kombinasi (CEA) ACEI CCB digunakan sebesar 6%. Kombinasi CCB ARB juga tergolong terapi dominan terhadap efektivitas yang lebih tinggi dengan dibandingkan ACEI CCB. Aida. 60 Pasien Cost Ef Kombinasi ARB CCB lebih costHasan. , & ectivenessAnalysis effective dibandingkan ACEI Hidayat. (CEA) CCB, berdasarkan hasil analisis pada 60 pasien hipertensi rawat jalan di RSUD Gunung Jati Cirebon. Sebanyak 29 pasien . ,3%) menggunakan kombinasi ARB CCB, sementara 31 pasien . ,7%) menggunakan ACEI CCB. Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada. Volume 25 Nomor 2. Agustus 2025 Penulis Rahayuni. Pambudi. & Khusna. Tahun Sampel Asmal. , & Gisman. Metode Hasil Studi deskriptif Kombinasi ARB-CCB menunjukkan tingkat efektivitas sebesar 82,35%, lebih tinggi dibandingkan kombinasi ACEI-CCB 75,49%. Kombinasi ARB-CCB dinilai lebih efektif dalam menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik selama perawatan di ruang rawat inap. Studi retrospektif Kombinasi ARB-CCB digunakan 48,33% menunjukkan efektivitas terapi sebesar 85%, sedangkan kombinasi ACEI-CCB digunakan pada 35% pasien dengan efektivitas 78%. Kombinasi ARB-CCB lebih banyak digunakan dan dinilai lebih efektif dalam pengendalian tekanan darah pasien rawat inap. Kombinasi antihipertensi ACEI-CCB telah dikaji oleh Yulinda Pristi Dwi Hapysari dan rekanrekannya . dalam studi analitik observasional terhadap 90 pasien hipertensi. Penelitian ini mengukur efektivitas dan efisiensi biaya dari kombinasi tersebut, dengan hasil menunjukkan bahwa kombinasi ACEI-CCB memiliki efektivitas sebesar 44,74%. Dari sisi ekonomi, nilai Average Cost Effectiveness Ratio (ACER) mencapai Rp14. 209, sedangkan nilai Incremental Cost Effectiveness Ratio (ICER) sebesar Rp7. 970,96. Nilai-nilai ini mengindikasikan bahwa meskipun terapi ini efektif dalam menurunkan tekanan darah, namun efisiensinya masih perlu diperbandingkan dengan regimen terapi Studi ini memberikan kontribusi penting dalam memahami perimbangan antara manfaat klinis dan biaya terapi antihipertensi, khususnya kombinasi ACEI-CCB di kalangan pasien hipertensi. Selanjutnya, menurut penelitian dari Putri dan Dyahariesti . melakukan analisis Cost Effectiveness Analysis (CEA) pada 19 pasien untuk membandingkan kombinasi CCB ARB dan ACEI CCB. Hasilnya menunjukkan bahwa kombinasi CCB ARB digunakan oleh 14% pasien, sedangkan kombinasi ACEI CCB hanya digunakan oleh 6%. Kombinasi CCB ARB dikategorikan sebagai terapi dominan karena menunjukkan efektivitas yang lebih tinggi dan biaya yang lebih efisien dibandingkan kombinasi ACEI CCB. Studi ini menggarisbawahi keunggulan kombinasi CCB ARB dalam aspek efisiensi ekonomi dan efektivitas klinis, menjadikannya alternatif terapi yang lebih menjanjikan dalam pengelolaan hipertensi. Temuan ini penting bagi pengambilan keputusan terapi yang berbasis bukti, terutama dalam konteks efisiensi sumber daya kesehatan. Kemudian, penelitian Aida. Hasan, dan Hidayat . menilai cost-effectiveness kombinasi ARB CCB dibandingkan dengan ACEI CCB pada 60 pasien hipertensi rawat jalan di RSUD Gunung Jati Cirebon. Hasilnya menunjukkan bahwa 48,3% pasien menggunakan kombinasi ARB CCB, sementara 51,7% pasien menggunakan ACEI CCB. Dari analisis ekonomi, kombinasi ARB CCB terbukti lebih cost-effective. Temuan ini memperkuat bukti bahwa penggunaan ARB CCB tidak hanya memberikan hasil klinis yang baik, tetapi juga lebih menguntungkan secara finansial dibandingkan regimen ACEI CCB. Penelitian ini memberikan perspektif tambahan tentang pentingnya mempertimbangkan kombinasi terapi yang tidak hanya efektif, namun juga efisien dalam konteks pelayanan kesehatan yang berkelanjutan. Selain itu, penelitian dari Rahayuni. Pambudi, dan Khusna . melakukan studi deskriptif kuantitatif terhadap 102 pasien untuk mengevaluasi efektivitas kombinasi antihipertensi ARB-CCB dan ACEI-CCB. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi ARB-CCB memiliki efektivitas sebesar 82,35%, lebih tinggi dibandingkan ACEI-CCB yang hanya 75,49%. Kombinasi ARB-CCB dinilai lebih efektif dalam menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik selama masa perawatan pasien rawat Penelitian ini mengonfirmasi bahwa pemilihan kombinasi obat yang tepat dapat berkontribusi signifikan dalam mencapai target pengendalian tekanan darah, terutama pada pasien rawat inap yang Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada. Volume 25 Nomor 2. Agustus 2025 memerlukan stabilisasi tekanan darah secara cepat dan berkelanjutan. Efektivitas tinggi dari kombinasi ARB-CCB juga menandakan potensi besar regimen ini sebagai pilihan utama dalam pengelolaan hipertensi yang kompleks. Penelitian terakhir oleh Asmal dan Gisman . menggunakan desain retrospektif observasional terhadap 120 pasien rawat inap di RSUD Lakipadada selama periode 2023Ae2024. Kombinasi ARB-CCB digunakan pada 48,33% pasien dan menunjukkan efektivitas sebesar 85%, sedangkan kombinasi ACEI-CCB digunakan pada 35% pasien dengan efektivitas 78%. Kombinasi ARB-CCB tidak hanya lebih sering digunakan, tetapi juga terbukti lebih efektif dalam mengendalikan tekanan darah pada pasien rawat inap. Temuan ini sejalan dengan hasil studi sebelumnya yang menunjukkan keunggulan kombinasi ARB-CCB dalam aspek klinis. Selain itu, studi ini memperlihatkan pola penggunaan terapi antihipertensi yang lebih berpihak pada kombinasi yang telah terbukti lebih efektif, menandakan adanya penerapan praktik berbasis bukti di lingkungan rumah sakit. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil tinjauan terhadap berbagai literatur yang telah dianalisis, dapat disimpulkan bahwa kombinasi terapi antihipertensi paling efektif untuk pasien dengan komorbid Diabetes Mellitus Tipe 2 adalah kombinasi dari golongan Angiotensin Receptor Blocker dan Calcium Channel Blocker (ARB-CCB), khususnya candesartanAeamlodipin. Terapi ini tidak hanya memberikan hasil yang signifikan dalam menurunkan tekanan darah, tetapi juga menunjukkan efisiensi biaya yang lebih baik dibandingkan dengan kombinasi ACEI-CCB (Angiotensin Converting Enzyme InhibitorAeCalcium Channel Blocke. Mengingat bahwa pengobatan hipertensi dengan penyerta DMT2 bersifat jangka panjang dan memerlukan strategi terapi yang tepat guna menghindari komplikasi serta beban biaya yang tinggi, maka hasil tinjauan ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi tenaga medis dalam menyusun rencana terapi yang lebih efektif dan efisien, baik dari aspek klinis maupun ekonomi. DAFTAR PUSTAKA